Beranda > fanfiction, ficlet, whyenda_arinka > [Ficlet] I promise

[Ficlet] I promise

Title : I promise..
Author : Whyenda Arinka
Length : Ficlet [1822 words]
Genre : Romantis
Cast :

  • Lee Donghae Super Junior
  • YOU
  • Lee Hyuk Jae(Eunhyuk) Super Junior

 
Disclaimer : I don’t own Lee Donghae, he’s belong to himself and SM Ent. I do own this story, so please don’t sue me.

===========
(Donghae POV’s)

Aku menatapnya lekat. Entah kenapa, baru kali ini aku melihatnya. Apa dia anak baru di sekolah ini? Kurasa, aku kenal hampir setiap murid beserta namanya di sekolah ini. Tapi, kenapa aku tak kenal padanya? Apa dia anak baru di sini?

Aku terkejut seketika terdengar sebuah gebrakan di meja. Aku mengelus dadaku, menenangkan jantungku yang berdetak cepat karena meja yang digebrak adalah meja tempatku bertopang dagu.

Sesosok namja yang kukenal tengah cengengesan melihat sikapku barusan, Eunhyuk.

“sorry, kau ngelamun terus sih! Hhaha,” ucapnya.

Aku mendengus kesal dan menatap gadis itu lagi. Ia tak bergeming, padahal hampir seisi kelas memperhatikan tingkahku dan Eunhyuk barusan.

“kau ngeliatin siapa sih!?” tanya Eunhyuk membuyarkan pikiranku.

Ia mengibas-ibaskan tangannya dihadapanku. Aku dengan kikuk menatapnya. Kini ia justru melihat ke arah aku memandang sebelumnya.

“tak ada siapa-siapa tuh, kau melamun ya, Donghae?” tanyanya lagi.

Aku terkejut dan mengedarkan pandanganku ke sekeliling kelas tapi nihil. Gadis yang tadi kulihat menghilang, lenyap begitu saja seolah ia memang tak pernah berada di bangku itu sebelumnya.

“aku tau! Kau sedang memikirkan Jessica anak kelas sebelah kan!?” godanya.

Aku mendecak dan memutar bola mataku. Buat apa aku memikirkan gadis itu?

“eh? Bukan? Hmm.. Aku tau! Adiknya kan!? Krystal? Adik kelas kita!?” lanjutnya.

“aish! Kau ini! Aku tak memikirkan mereka!” ucapku kesal.

“kalau begitu, Sunye! Iya kan Sunye!? Ayo.. Mengaku sajalah!” ujarnya semakin menjadi.

Aku tak menggubrisnya dan berjalan keluar kelas. Tepat ketika bel tanda istirahat telah berakhir, berbunyi nyaring di seluruh penjuru sekolah.

“hei, Donghae! Kau mau ke mana?” tanya Eunhyuk setengah berteriak.

“toilet!” jawabku setengah berteriak tanpa menoleh sedikit pun.

Awalnya aku benar-benar akan ke toilet ketika aku melihat gadis itu melintas di depanku. Ia berjalan menjauhiku namun tidak kembali ke kelas, melainkan ke arah lain.

Aku yang penasaran pun mengikutinya diam-diam. Berusaha menjaga jarak agar ia tak mengetahui kalau aku tengah membuntutinya.

Aku terus mengikutinya hingga akhirnya ia menaiki sebuah tangga. Tangga yang akan membawanya ke atap sekolah. Dan aku tengah dilema antara mengikutinya ke atap atau kembali ke kelas.

Namun rasa penasaranku akan gadis itu mengalahkan pilihan kedua. Akhirnya aku pun membuntutinya yang telah duluan sampai di atap.

Ketika aku telah berada di atap, aku melihatnya tengah duduk mendekap lututnya. Pandangannya menatap langit luas. Matanya seolah tak ingin lepas dari langit di atas sana.

“ehem,” dehemku kecil membuatnya berpaling menatapku kaget.

“membolos, eh?” tanyaku memulai pembicaraan.

“yah, bisa dibilang begitu. Kau sendiri, tuan Lee Donghae?” tanyanya balik dan menyebutkan namaku lengkap, membuatku sedikit terkejut.

“seluruh sekolah tau kau siapa, Donghae. Tak perlu terkejut begitu,” ucapnya kembali menatap langit.

Bodohnya aku, tentu saja ia tau namaku. Seorang pianis handal di sekolah ini. Calon pewaris perusahaan otomotif terkenal di Seoul bahkan seluruh Korea, serta salah satu daftar namja paling tampan sesekolah. Begitu kata mereka. Ck!

“hei, duduklah! Kau tak mungkin berdiri terus di sana kan!?” serunya mengagetkanku.

Ia menepuk-nepuk lantai di sampingnya, mempersilahkanku duduk. Aku berjalan mendekatinya dan menghempaskan diriku di lantai itu. Ia kembali menatap langit.

“kenapa kau membolos?” tanyaku kemudian.

Ia menghela nafas panjang seolah itu cerita yang membosankan, lalu berpaling menatapku.

“hari ini, tepat 13 tahun kedua orang tuaku meninggal. Aku mengasingkan diri di sini untuk mengenang mereka, dan berdoa,” jawabnya tersenyum pahit.

“sorry,” ucapku merasa bersalah.

“tak apa, aku selalu begini selama 3 tahun belakangan ini,” ucapnya santai.

“eh?” kagetku.

“bahkan ini adalah tahun ke 3 aku sekelas denganmu, Donghae,” tambahnya kembali menatap langit, seolah ia berbicara pada langit.

“kok aku tak tau kalau kau sekelas terus denganku?” tanyaku bingung.

“tak apa, hampir semua orang tak kenal padaku. Mereka hanya kenal denganku sehari, mungkin besok kau akan lupa kalau kau bertemu denganku hari ini,” jawabnya santai menatapku lalu tersenyum kecil.

Ia kembali menatap hamparan langit yang berwarna biru sedangkan aku kembali tenggelam dalam pikiranku sendiri. Bagaimana bisa semua orang tak kenal padanya? Bahkan aku sendiri tak tau kalau ia sekelas denganku selama 2 tahun ini dan ini adalah tahun ke 3 aku sekelas dengannya?

“kau sendiri, kenapa membolos?” tanyanya mengagetkanku.

Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal. Well, tak mungkin kan aku menjawabnya dengan mengatakan bahwa aku memperhatikannya sejak tadi lalu mengikutinya ke atap?

“uhm, hanya malas saja,” jawabku asal.

“seorang Lee Donghae membolos pelajaran musik hanya karena malas? Apalagi aku, hhaha,” ujarnya setengah tertawa.

Aku pun ikut tertawa garing mendengarnya. Benar-benar alasan yang bodoh. Pelajaran musik, aku selalu semangat menyambutnya. Sigh!

“uhm, kau tadi bilang hari ini tepat 13 kedua orang tuamu meninggal, berarti orang tuamu meninggal ketika kau berumur sekitar 5 tahun?” tanyaku hati-hati. Damn! Benar-benar mulut babo!

“yah, tepat hari pertama aku berumur 5 tahun,” jawabnya.

“berarti, ini hari ulang tahunmu?” tanyaku.

Ia hanya mengangguk kecil mengiyakannya.

“chukkae,” ucapku pelan.

“thanks,” ujarnya tersenyum kecil.

“apa yang membuat kedua orang tuamu meninggal?” tanyaku lagi. Aish! Aku perlu memplester mulutku, kurasa. Ia menghela nafas panjang.

“mereka meninggal karenaku. Aku merengek ingin ke puncak dan mereka menurutinya begitu saja. Selama di perjalanan aku rewel dan membuat ayahku yang sibuk menyetir pun ikut menenangkanku. Hingga akhirnya ayah menambah kecepatan agar cepat sampai. Namun sayang, di tikungan kami bertemu truk besar dan ayahku tak sempat mengerem. Beliau membanting setir ke kiri, membuat mobil kami terperosok ke jurang. Ayahku meninggal seketika dan ibuku sempat keluar dari mobil dan menyelamatkanku, tapi beliau meninggal setelah menyelamatkanku,” jawabnya menceritakan secara detail peristiwa yang menimpanya.

Wajahnya terlihat datar ketika menceritakan itu, seolah itu hanya dongeng anak-anak yang membosankan.

“lalu?” ceplosku tiba-tiba. Ia menatapku.

“sorry.. Lupakan kalau ka..”

“tak apa, akan kulanjutkan,” potongnya.

“saat itu aku berusaha membangunkan ibuku, tapi nihil, tentu saja. Aku menangis kencang karena ibu tak kunjung sadar hingga salah seorang penduduk di daerah sekitar menemukanku. Mereka membawaku ke desanya dan mengasuhku,” lanjutnya.

“dulu aku akan ke tempat kecelakaan itu terjadi tepat pada tanggal ini, tapi sekarang aku tak mungkin ke sana,” tambahnya.

“kenapa?” tanyaku.

“karena kecelakaan itu di Yunhanam, tempat aku besar juga,” jawabnya penuh nada rindu.

Aku terdiam mendengar ceritanya. Aku tak bisa membayangkan bila itu terjadi padaku, terlebih dalam umur yang terbilang sangat kecil. Tapi ia justru biasa saja menceritakannya, seolah tanpa beban. Seakan ia hanya menceritakan dongeng dengan tokoh utamanya ia.

“masih ingin di sini? Sebentar lagi jam ganti pelajaran,” tanyanya kemudian.

“kau sendiri?” tanyaku balik.

“aku tetap di sini, sampai pulang sekolah mungkin,” jawabnya.

“uhm, baiklah. Kurasa kau ingin sendiri dan aku tak mungkin membolos selama itu. Uhm, bye,” pamitku lalu bangkit.

Ia hanya menganggukkan kepalanya tanpa menoleh padaku. Namun bisa kulihat, sesuatu yang bening telah turun dari matanya. Ia.. Menangis?

Aku menggigit bibir bagian bawahku dan berbalik meninggalkannya. Kurasa aku benar-benar tak tau diri mengingatkannya akan masa lalunya yang pahit.

Aku berjalan kembali ke kelas dengan gontai dan perasaan berkecamuk tak jelas. Antara merasa bersalah, sedih, tak tega dan.. Ingin bersamanya.. Mengobati lukanya..
*
Hari terus berganti dan semua murid angkatanku tengah sibuk mempersiapkan ujian kelulusan, begitu pula denganku dan gadis itu.

Namun terkadang, aku masih sering menjumpainya di atap sekolah ketika istirahat atau jam pulang sekolah. Aku pun sering ke sana hanya untuk mengunjunginya atau sekedar belajar bersama.

Setiap kutanya mengapa ia senang sekali berada di atap, ia hanya menjawab ia senang sendiri. Tak heran banyak yang tak mengenalnya, karena ia benar-benar suka sendirian. Bahkan kursinya berada di pojok kelas.

Bila bertemu di kelas pun, ia hanya melempar senyum kecil padaku dan selesai. Ia juga pernah bilang bahwa hanya aku satu-satunya teman yang mau menemaninya. Sebegitu menyendirinya kah ia?
*
Hari ini adalah hari terakhir ujian kelulusan sekolah. Aku benar-benar merasa takut karena aku tak pernah bisa pada mata pelajaran ini.

Aku duduk tak tenang di bangkuku. Sebentar lagi soal akan di bagikan. Keringatku mengucur deras ketika melihat pengawas telah membagikan kertas soal di deretan depan.

Aku menoleh kebelakang, melihat gadis itu hanya menatap datar pada soal-soal yang tengah di bawa pengawas. Ia mengalihkan tatapannya padaku dan tersenyum kecil.

Aku hanya membalasnya dengan tersenyum gugup dan ia tertawa kecil mengetahui kegugupanku. Ia mengepalkan tangannya ke atas seolah memberi semangat padaku dan aku mengangguk kecil.
*
Hari pengumuman kelulusan tiba. Aku lulus dengan nilai bagus untuk setiap mata pelajaran dan membuatku berjingkrak-jingkrak senang bersama Eunhyuk.

Ekor mataku menangkapnya tersenyum melihat tingkahku dan aku sendiri cengengesan tak jelas membalasnya. Membuatnya tertawa.

Namun ia segera menghentikan tawanya dan pergi meninggalkan kelas yang dipenuhi tawa bahagia murid-murid yang lulus, termasuk aku.
*
Aku yakin ia berada di atap, itu sebabnya aku melangkahkan kakiku ke atap sehabis bersenang-senang bersama temanku yang lain.

Aku meloncati beberapa anak tangga sekaligus. Aku tau ia akan membagi kebahagiaannya denganku. Well, terkesan terlalu percaya diri mungkin. Tapi memang hanya aku yang menjadi tempatnya berbagi belakangan ini, bukan?

Pelan-pelan kubuka pintu atap dan mendapatinya tengah menenggelamkan kepalanya diantara kedua lututnya. Aku berjalan mendekatinya dengan sangat pelan-pelan lalu menghempaskan diriku di sampingnya.

Ia mengangkat kepalanya dan menoleh padaku. Cairan bening mengalir di pipinya. Ia menangis.

Seketika hatiku perih melihatnya menangis sendirian. Kuraih ia dalam pelukanku dan ia melanjutkan tangisannya. Kuelus punggungnya pelan, berharap itu membantunya lebih tenang.

“aku.. Lu-lulus, Donghae..” ucapnya disela-sela isakannya.

Suaranya parau. Walaupun itu seharusnya diucapkan dengan nada bahagia, tapi ia mengucapkannya dengan nada tercekat. Membuat hatiku pilu mendengarnya.

“aku tau,” ucapku mengelus kepalanya.

Tangisannya semakin menjadi, kini isakan mulai terdengar dari bibirnya. Aku semakin mengeratkan pelukanku, mencoba menenangkannya.

“dan.. Ha-hanya.. K-kau y-yang tau,” isaknya lagi.

Aku mencelos. Hanya aku yang tau ia lulus, bukan kedua orang tuanya. Sampai kapanpun, seorang anak pasti ingin hanya kedua orang tuanya yang mengetahui berita bahagia seperti ini. Setidaknya, mereka lah yang pertama mengetahui berita ini. Bukannya seorang teman bodoh yang tak mengerti apa-apa sepertiku.

Kelulusan seperti ini pasti membuatnya selalu sedih.. Terlebih lagi, ini adalah yang ketiga kalinya.

Aku menghela nafas panjang, merasakan dadaku ikut sesak atas apa yang dialami gadis dalam pelukanku ini.

“aku janji, aku tak kan meninggalkanmu.. Sampai kapan pun,” ucapku.

Ia melepas pelukannya dan mendongak menatapku. Tatapannya tak bisa kuartikan dengan jelas. Entah sedih, kecewa, sakit, atau marah?

“kau hanya kasihan padaku, Donghae..” ujarnya parau.

Aku menggeleng, tak membenarkan ucapannya.

“aku kasihan setelah mengetahui jalan hidupmu, itu pasti. Tapi apa kau tau apa yang membuatku ingin mengetahui segala tentangmu? Itu adalah karena aku menyukaimu, dan rasa suka itu membuatku mendekatimu,” ucapku. Ia terdiam.

“ingat pertama kali aku mengenalmu?” tanyaku, ia mengangguk ragu-ragu.

“aku membuntutimu hingga ke atap dan sengaja membolos agar aku mengenalmu,” tambahku mengakui kejadian tempo hari.

Ia menatapku tak percaya. Seolah apa yang kukatakan barusan adalah sesuatu yang tak mungkin dan itu adalah keajaiban dalam hidupnya.

“saranghae, would you be mine?” tanyaku.

Ia terdiam, menatapku. Berusaha menelisik kedalamnya, mencari kebenaran itu di mataku.

“I swear, I wouldn’t go from you. I will always be beside you, no matter what will be happen to you, to us. And I will never let you go from me,” janjiku.

Air mata kembali mengalir di pipinya. Tatapannya terlihat bahagia mendengar jawabanku. Aku meraih wajahnya, menumpukkan dahiku di atas dahinya.

“please, trust me.. We will always together and there’s nothing can apart us.. I promise,” tambahku dan ia mengangguk.

Kuraih dirinya dalam pelukanku. Aku tau ia kembali menangis dalam pelukanku. Tapi tangisannya kali ini bukan tangis kesedihan, tapi tangis kebahagiaan.
=FIN=

.comments or not ,
.I still say thank you for reding .🙂

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: