Beranda > fanfiction, ficlet, whyenda_arinka > [Ficlet] Jaejoong-ui?

[Ficlet] Jaejoong-ui?

Title : Jaejoong-ui?
Length : Ficlet [1117 words]
Genre : Romantic, Yaoi
Rating : PG-13
Cast : Yun<3Jae couple

Disclaimer : I don’t own YunJae, they belongs to SM Ent and their self. I do own this story. If you don’t like it, just don’t read. And please, don’t sue me.

========
(JaeJoong POV’s)

“Jaejoong-ui!” teriak seseorang.

Tanpa menoleh pun aku sudah dapat memastikan siapa yang memanggilku, karena hanya dia yang memanggilku dengan panggilan itu. Yunho, Jung Yunho.

Kupercepat langkahku, pura-pura tak mendengar ada yang memanggilku. Namun langkahku harus melambat saat sebuah tangan menepuk pundakku dari belakang. Sudah pasti itu Yunho.

“Jaejoong-ui, kenapa terlihat terburu-buru sekali sih?” tanyanya.

Aku mendengus kesal. Dimana-mana, umurku lebih tua darinya dan ia tak pernah memanggilku dengan sebutan ‘hyung’ melainkan ‘Jaejoong-ui’. Apa-apaan itu!?

“Jaejoong-ui, kau kenapa?” tanyanya merasa tak kuacuhkan.

Dan aku pun masih tak mengacuhkannya. Seolah aku hanya berjalan sendiri, tanpa ada seorangpun yang tengah berjalan sejajar denganku.

“Jaejoong-ui, kau marah ya?” tanyanya lagi.

Iya! Dan itu karena kau! Pikirku kesal. Aku tetap diam saja tak mengacuhkannya. Buat apa aku jawab? Toh itu tak kan membuatnya menjauhiku.

“Jaejoong-ah~” panggilnya meraih tanganku membuatku berhenti.

Ia menarik tanganku. Mau tak mau membuat tubuhku berbalik menghadapnya. Aku melengos, memalingkan wajahku. Berusaha tak menatapnya.

“wae geurae?” tanyanya meraih daguku.

Ia menarik daguku hati-hati, membuatku menatapnya. Jujur, aku selalu merasa jatuh ke dalam sorot matanya yang teduh dan penuh kasih sayang. Ia selalu menatapku dengan lembut, seolah aku adalah porselen dari China yang rapuh dan mudah hancur hanya karena tatapan tajamnya.

“Jaejoong-ah?” panggilnya lagi.

Sedetik kemudian aku tersadar dan menyentakkan tangannya dari daguku. Membuatnya kaget atas sikapku. Seteduh apapun tatapannya, tetap saja aku hyungnya! Camkan baik-baik, aku adalah ‘HYUNG’nya!

“lepaskan!” bentakku menyentakkan tangannya yang masih menggenggam tanganku. Ia membulatkan matanya, kaget.

“dengar, bisa kah kau berhenti memanggilku ‘Jaejoong-ui’? Kau kira aku apa, huh!? Dan lagi, aku lebih tua dibanding kau! Tidak kah kau tau sopan santun untuk memanggil orang yang lebih tua darimu terlebih lagi namja!?” cerocosku tak karuan.

Akhirnya aku bisa mengeluarkan unek-unek dalam hatiku. Biar ia tau rasa! Jelas-jelas aku lebih tua darinya, bisa-bisanya ia memanggilku dengan sebutan yang menjijikkan seperti itu!

Ia menunduk, kurasa ia merasa bersalah. Baguslah, berarti ia masih memiliki rasa hormat. Walaupun mungkin hanya sedikit.

“mi-mian hyung,” ucapnya akhirnya sambil mengangkat wajahnya.

Sorot matanya memancarkan penyesalan yang mendalam. Duh, kok aku jadi merasa agak bersalah ya? Apa aku agak keterlaluan? Atau justru aku sangat keterlaluan tadi?

“uhm, sudahlah, gwenchana,” ujarku akhirnya.

Sorot matanya berubah seketika menjadi cerah. Secerah anak kecil yang diberi permen satu pak. Kyopta! Pikirku. Loh!? Kok aku jadi gini sih!? Aish!

“jinja, hyung!? Gomawooo~” ujarnya memelukku.

Ia memelukku erat sekali. Deg. Aduuuh, kenapa lagi dengan jantungku? Kenapa berdetak secepat ini sih!?

“aish kau ini! Lepaskan aku! Aku harus buru-buru!” ujarku sambil melepaskan pelukannya.

“kemana hyung? Perlu kutemani?” tanyanya. Aku memutar bola mataku.

“penting untukmu? Lagi pula aku bisa pergi sendiri,” jawabku ketus. Memangnya aku ini apa pakai acara ditemani segala!?

“anni hyung.. Hanya saja, ini sudah malam,” ucapnya.

“tak perlu!” ujarku ketus dan berlalu begitu saja dari hadapannya.

Aku tau ia kecewa, tapi yang benar saja!? Memang aku anak kecil? Ditemani? Sudah malam? Dia kira aku yeoja apa!? Sinting!

Kupercepat langkahku menuju mini market terdekat. Seperti kata Yunho, sudah malam dan udara di luar sangat dingin. Maka aku harus sesegera mungkin membeli keperluanku di mini market dan kembali ke apartementku.

Aku berhenti sejenak, menimbang-nimbang hendak memilih jalan yang mana. Jalanan Seoul yang cukup padat akan pejalan kaki dan harus memutar jauh, atau melewati lorong yang sepi dan terlihat gelap namun lebih cepat sampai di mini market.

Setelah cukup lama menimbang, akhirnya aku memutuskan untuk melewati lorong yang sepi dan gelap. Yah, udara Seoul di malam hari ini sangat dingin sekali. Membuatku ingin segera kembali ke apartement untuk menghangatkan diri. Toh aku namja, tak mungkin ada yang macam-macam, kan!?

Kupercepat langkahku ketika kulihat ada 2 atau 3 pria berjalan sempoyongan di depanku. Kutundukkan kepalaku dan merapatkan mantelku serta menyembunyikan tanganku dibalik saku mantel. Aku harus siap-siap bila mereka berniat memerasku.

“hei, yeoja manis! Sini temani kami!” ujar salah seorang dari mereka membuatku sedikit terkejut.

Well, berarti ada orang lain selain aku yang lewat sini? Yeoja? Apa dia yeoja gila? Tapi tak kupedulikan pria mabuk itu dan semakin mempercepat langkahku.

“hei manis! Jangan berusaha menghindari kami! Kami cuma ingin main-main,” sahut yang lain.

Kasihan sekali yeoja itu. Ia pasti berusaha mempercepat langkahnya. Tapi tunggu, kenapa aku hanya mendengar langkahku sendiri, ya!?

Dengan takut-takut kutolehkan kepalaku kebelakang dan tak menemukan seorang yeoja pun. Tunggu, apa yang mereka maksud dengan yeoja itu aku? Mwo!? Sial!

Saat aku kembali memutar kepalaku ke depan dan hendak berlari, aku mendapati seseorang telah berdiri di hadapanku dan membuatku terjatuh karena saking kagetnya.

“akhirnya kau berhenti juga, manis,” ucapnya dengan tampang yang tak dapat kuartikan.

Tunggu dulu.. Manis? Dia memanggilku manis? Aniyoo!

“aku bukan manis!” umpatku kesal. Kenapa semua orang menganggapku cantik sih!?

“ah, kau ingin bermain-main juga rupanya,” ucapnya lagi kini menarik daguku kasar.

“lepaskan dia!” teriak seseorang dari belakangku. Yunho.

Entah kenapa hatiku bersorak gembira ketika mendengar suaranya. Kuharap ia bisa membantuku. Aku benar-benar terpojok saat ini.

“anak kecil pulang saja! Ommamu menunggu di rumah!” sahut yang lain.

Dan setelah itu aku hanya mendengar suara pukulan dan erangan kesakitan karena Yunho sempat melempar jaketnya ke wajahku.

Aku mendengus kesal. Apa maksudnya dengan menutupi wajahku dengan jaketnya? Baru saja aku akan melempar jaketnya dari wajahku ketika aku mendengar langkah kaki mendekatiku. Bisa kurasakan langkah itu berhenti dihadapanku saat ini.

Matilah aku! Siapa ini? Yunho? Atau jangan-jangan salah satu dari pria mabuk tadi? Ke mana Yunho? Apa dia baik-baik saja?

Aku bergetar dan menutup mataku kuat-kuat berusaha melawan pikiran burukku bahwa Yunho mungkin sudah babak belur akibat pria-pria mabuk tadi. Orang di hadapanku yang-tak-kutahui-siapa kini berjongkok di hadapanku. Bisa kurasakan gerak-geriknya.

Aku masih bergetar hebat dan menutup mataku ketika sebuah tangan mengambil jaket Yunho dari wajahku. Hal itu justru membuatku semakin bergetar hebat hingga gigiku bergemelutuk.

“hei, kau tak apa?” tanya sebuah suara yang sangat kukenal. Yunho.

Aku membuka mataku perlahan dan menghela nafas lega mendapatinya tak apa-apa di hadapanku. Wajahnya dekat sekali dengan wajahku. Matanya menatapku dengan penuh kekhawatiran.

“aku.. Aku tak apa..” jawabku bergetar.

“syukurlah kau tak apa,” ujarnya dan memelukku.

Ia mengelus kepalaku lembut dan meletakkan dagunya di puncak kepalaku. Entah apa yang sedang kupikirkan, aku justru membalas pelukannya. Memeluknya erat seolah tak ingin kehilangannya. Ada apa denganku?

“sudahlah, tak apa.. Mereka sudah pergi,” ucapnya mengelus punggungku.

Aku mengangguk pelan dalam dekapannya. Aku masih memeluknya erat, seakan sulit melepaskannya.

*

“jadi kau membuntutiku?” tanyaku padanya saat kami berjalan pulang. Ia hanya mengangguk menjawab pertanyaanku.

“kenapa?” tanyaku lagi.

“kau terlalu cantik untuk dikatakan sebagai seorang namja, Jaejoong-ui,” jawabnya. Kurasakan wajahku memanas.

“lagipula, aku tak ingin ada seorang pria pun yang menyentuhmu kecuali aku, okay!?” tambahnya mengedipkan sebelah matanya padaku.

“aish! Kau ini!” ucapku memukul lengannya pelan.

Ia justru tertawa dan merangkulku erat. Kali ini aku tak mengelaknya sama sekali. Kubiarkan tubuhku merasakan kehangatan tubuhnya. Dan juga, akhirnya kubiarkan ia kembali memanggilku ‘Jaejoong-ui’. Karena baginya, aku hanya miliknya seorang.

=FIN=

.setelah diracuni ,
.akhirnya saya coba juga buat FF yaoi ,
.dan ini adalah FF yaoi perdana saya ,
.wakakaka~
.buat ini bener2 bikin saya sedeng ,
.tengah malem bukannya tidur malah gelimbungan di kasur Cuma bikin ini doang !😄
.sejam penuh saya bayangin YunJae couple ,
.bikin saya gila setengah mati ! LOL XDD

.anyway ,
.leave comments or not ,
.I still say thank you for reading .😀

  1. nie_wonnie18
    8 Juli 2010 pukul 4:00 am

    1st reply
    LOL
    wakakak nak akhirny dirimu terbujuk jg oleh racunq
    *lemparinkuncisekarung* XDDD
    wkwk
    *kabur baca dulu*

  2. nie_wonnie18
    8 Juli 2010 pukul 4:12 am

    komen >>
    *bentar ngakak dulu*
    lolololol~
    jeje sok galak ih
    pdhl dlm ati demen jg xDD
    papi yun top bgt dah
    jd superhero bwt hero
    lolz
    endingny krg greget
    *dilempar*
    tp overall udah oke
    tengkyuuu udah mao nyoba bkn yaoi
    *terharu* :)))
    DO SHARE MORE!!

    • 8 Juli 2010 pukul 6:42 pm

      .iya nih si jejung ,
      .sok galak pdhal dlem ati pengen .😄
      *ditendang jejung*

      .wahahaha~
      .endingnya kurang greget ?
      .abs aq udh stengah tepar mba bayangin YunJae . lol XDD

      .oke mba ,
      .tengkyu juga udh mampir blogku .😀

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: