Beranda > fanfiction, ficlet, whyenda_arinka > [Ficlet] Jealous, eh?

[Ficlet] Jealous, eh?

Length : Ficlet [1528 words]
Genre : Romace, Friendship
Rating : PG-13
Cast : Super Junior Lee Donghae, Lee Hyukjae(Eunhyuk), Park Jungsoo(Leeteuk), Kim Yongwoon(Kangin), Kim Heechul, Park Erri, and a girl whom Donghae’s girlfriend.

Disclaimer : I don’t own all of Super Junior members that involved on this story. They are belongs to their self, their parents, and SM Ent. Park Erri is my imagination, if you want, you may imagination that she was you or a girl whom being Donghae’s girlfriend was you. I do own this story and I don’t make money from this story, so please don’t sue me.

===========
(Donghae POV’s)

BRAAAAKK!

Kubanting pintu kamarku dengan keras.

“hoooi Donghae! Kau mau menghancurkan pintu dormku ya!?” teriak Leeteuk.

Kuhiraukan teriakan Leeteuk yang membahana di seisi dorm.

Kulempar tubuhku ke atas ranjangku yang empuk. Aku menghela nafas panjang.

Bayangan ketika Eunhyuk menggenggam gadisku, ehm.. Calon gadisku, menyebrangi jalan dan membisikkan sesuatu yang membuat gadisku terkikik, terputar ulang di otakku. Aku mendengus kesal.

“AAAAAAARRGH!” teriakku kesal lalu melempar gulingku.

“ya Lee Donghae! Kau kenapa?” teriak Leeteuk lagi.

“gwenchana!” teriakku cepat.

Kutolehkan kepalaku ke arah kiri. Aku menggeram pelan. Kasur Eunhyuk. Kini rasa menyesal menghinggap di hatiku secara tiba-tiba.

Aku menyesal pernah mengenal Eunhyuk. Aku menyesal mau berbagi kamar dengannya. Aku menyesal pernah bercerita segalanya padanya, bercerita rasa sukaku pada seorang gadis. Dan kini, ia dibelakangku justru mengambil gadis yang kusukai. Licik!
*
“Donghae-ya! Aku mau cerita sesuatu padamu!” teriak Eunhyuk lalu mendorong pintu kamar.

BUG!

“adaaw!” sepertinya Eunhyuk terjatuh.

Huh! Apa peduliku!? Batinku kesal.

“Donghae-ya, kenapa pintunya kamu kunci? Bukaaa~” rengeknya.

Sebodo amat! Aku berusaha tak peduli mendengar rengekkannya.

“Donghaeeee~” ia semakin merengek.

Huh! Baiklah! Baiklah! Aku menyerah, bangkit dari posisi tidurku dan menyeret kakiku membuka pintu.

“Dong~ kyaaa! Aku senang sekali, Donghae-ya!” jerit Eunhyuk segera memelukku.

Aku diam saja, tak bergeming. Bisa-bisanya ia bahagia di atas kesedihanku! Ini yang dia bilang sahabat!? Makiku dalam hati.

“Donghae-ya, gwenchanayo?” tanyanya menengadahkan kepalanya menatapku.

Aku menggeleng, menyentaknya dan berjalan kembali ke kasurku. Kubanting diriku di atas kasur.

“ada apa, Donghae-ah? Ada masalah? Cerita saja!” ujarnya menutup pintu lalu mendekati kasurku.

“lupakan!” ucapku ketus.

Aku membalik posisi tidurku jadi menghadap tembok, membelakangi Eunhyuk.

“kau kenapa sih!?” ia kini memegang bahuku.

Aku menyentaknya dan menoleh.

“menurutmu, apakah kau takkan marah bila melihat gadis yang kau sukai digandeng pria lain? Dan parahnya, pria itu adalah SAHABATMU SENDIRI!” semburku memberi penekanan pada 2 kata terakhir.

Ia menganga lebar, terkejut. Entah melihatku menyemburnya, atau kaget belangnya telah kuketahui.

Aku kembali menghadap tembok. Aku benar-benar muak melihat wajahnya yang pura-pura kaget itu. Cih!

“Donghae-ya, kau salah paham..” ujarnya lirih.

Aku terduduk lalu beranjak meninggalkan kamar. Tak kupedulikan ucapannya, aku lebih percaya dengan apa yang KULIHAT SENDIRI!

Kubanting lagi pintu yang berada di belakangku.

“Lee Donghae! A..”

“tenang saja, kalau rusak akan kuganti,” ucapku cuek ketika Leeteuk hendak menceramahiku. Ia terdiam.

Kulangkahkan kakiku menuju kamar yang berada di belakang, dekat ruang TV. Kuketuk pintunya pelan.

“Heechul, aku tidur di kamarmu ya!?” tanyaku sambil membuka pintunya.

Heechul menoleh, ia menatapku penuh tanda tanya.

“terserah sih,” jawabnya akhirnya.

Aku beranjak ke kasur yang berada di samping kasurnya. Kasur ini kosong tak ada yang menempatinya, setidaknya untuk saat ini. Hangeng, teman satu kamar Heechul, telah kembali ke negaranya.

Kurebahkan tubuhku di atas kasur. Aku menghela nafas panjang. Menutup mataku. Kuangkat tanganku menyentuh dahiku, memijatnya perlahan.

“marah pada Eunhyuk?” tanya Heechul.

Aku membuka mataku dan menoleh padanya. Ia mengangkat sebelah alisnya. Aku mengangguk lemah.

“setidaknya, dengarkan ia terlebih dahulu.. Tidak selamanya yang kau ketahui adalah hal yang benar.. Terkadang kau perlu mendengarkan pendapat orang lain..” ucapnya.

Aku memandanganya tak percaya. Ia menghela nafas.

“aneh mungkin aku berbicara seperti itu, tapi.. Percayalah.. Sebelum penyesalan menghampirimu,” tambahnya. Aku mendengus.

“terlambat.. Penyesalan telah menghampiriku,” ujarku dan berbalik.
*
“Donghae!” sapa seorang gadis padaku.

Aku tersenyum kecut melihatnya lalu merubah senyum kecutku menjadi senyum lebar. Terpaksa. Ia berjalan mendekatiku.

“tumben sendiri,” aku mendengus. Ia mengerutkan dahinya.

Eunhyuk.. Pikirku sebal.

“aku kan bukan kembaran dempetnya Eunhyuk,” jawabku ketus.

Ia terkejut dan tiba-tiba tergelak. Kini giliranku yang mengerutkan dahiku, bingung.

“bukan begitu, Donghae. Maksudku, biasanya, bila tidak dengan Eunhyuk, pasti ada salah seorang teman bersamamu,” ucapnya berusaha menahan tawa.

Aku melongo mendengar jawabnnya dan sedikit salah tingkah. Aku salah sangka.

“ehm, lagi pengen sendiri,” kataku gugup.

“apa aku mengganggu?” tanyanya takut.

“eh? A-anni.. Tak apa koq, sendiri juga tak terlalu enak.. menurutku,” jawabku masih gugup. Ia tersenyum lebar.

“jadi?” tanyanya. Aku bingung.

“emm, ke cafe?” ajakku setelah menyadari maksudnya.

“cafe biasa,”  tambahnya menyetujui dan tersenyum manis.

Ukh.. Senyumnya benar-benar membuatku tak bisa berlama-lama marah padanya.. Batinku.

Kuraih tangannya, menggemgamnya erat seolah tak ingin melepaskan tangan itu. Pandanganku pun rasanya susah untuk terlepas dari wajahnya yang cantik.

Ia tersipu ketika aku menggenggam tangannya. Ia menoleh menatapku. Wajahnya kini memerah, membuatku tersenyum manis.

“eh.. A-ada apa menatapku seperti itu?” tanyanya gugup.

“anni.. Kau cantik,” jawabku sekenannya.

Wajahnya semakin berwarna merah mendengar ucapanku. Membuatku lupa kalau aku sempat marah padanya dan Eunhyuk atas kejadian kemarin.
*
“Donghae-ah, kau mau ikut ga?” tanya Kangin.

“kemana?” tanyaku mengalihkan tatapanku dari TV ke arah Kangin. Ia tengah merapikan bajunya.

“loh, Eunhyuk belum cerita?” tanya Kangin.

Aku mendengus mendengar nama Eunhyuk disebut. Aku menggeleng menjawab pertanyaan Kangin.

“heh? Eunhyuk udah jadian lho~” kata Kangin menatapku heran.

Mataku membelalak lebar menatap Kangin. Aku kaget mendengarnya.

“o-ottokhae?” tanyaku. Kangin mengangguk.

“lalu, apa hubungannya denganmu yang mau pergi?” tanyaku setelah mengatur perasaanku.

Jujur, aku takut yang menjadi kekasih Eunhyuk saat ini adalah.. Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat. Berharap dengan begitu, pikiran itu akan terlontar keluar dari otakku.

“eh? Kau ga mau ikut?” tanya Kangin. Aku menoleh, bingung.

“mian, kau bilang apa tadi?” tanyaku balik. Kangin mendecak.

“apa sih yang kau pikirkan!? Eunhyuk mau mentraktir kita karena pacarnya baru sekarang! Dia juga ngundang itu tuh, gadis yang kau suka!” jawab Kangin.

Gadis yang kusuka? Seisi dorm hanya tau satu gadis yang kusuka, gadis yang tadi siang bersamaku.. Pikiranku berusaha mencernanya.

“hei Donghae, kau mau ikut nggak!? Kutinggal lho!” ujar Kangin membuyarkan lamunanku.

“a-aku ikut! Tunggu aku!” ucapku tergagap dan melesat ke kamar, menukar pakainanku.

Dengan semrawut aku berganti pakaian dan membenahi penampilanku. Aku keluar kamar setengah berlari menghampiri Kangin.

“kkaja!” ajakku menarik tangannya ketika ia membuka mulut hendak berbicara sesuatu.
*
“Eunhyuk-ah, chukkae!” ucapan bertubi-tubi mengalir dari mulut teman-teman Eunhyuk dan teman-teman kekasihnya.

Aku berjalan pelan menghampirinya dengan kepala tertunduk. Jujur saja, aku jadi merasa tak enak kemarin sempat membentaknya dan menjauhinya.

Aku berhenti ketika melihat sepasang sepatu yang sangat kukenal. Sepatu Eunhyuk. Aku menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Berusaha mengumpulkan keberanianku.

Kuangkat kepalaku perlahan, menatap wajah Eunhyuk yang menyunggingkan senyuman manis.

“Eunhyuk, chukkaeyo.. Mian..”

“gwenchana, Donghae-ah. Gomawo,” ujarnya memotong ucapanku. Aku menatapnya heran.

“ah iya! Donghae-ya, kau harus kenal dengan gadisku ini! Karena mau tak mau, aku akan lebih sibuk pada gadisku!” tambahnya.

Aku mengangguk dan tersenyum.

“annyeong, joneun Donghae, Lee Donghae imnida,” ucapku memperkenalkan diri.

“annyeong, joneun Park Erri imnida,” ucapnya.

Aku tak bergeming. Setahuku, Erri adalah sahabat gadis pujaanku. Jangan-jangan..

“hoi, Donghae! Jangan bilang kau sedang menatap gadisku!” ujar Eunhyuk menatapku garang, membuyarkan lamunanku.

Aku nyengir mendengarnya.

“sudah sana! Kau hampiri gadismu itu! Daripada kau hanya melototi gadisku dan membuatnya takut!” tambahnya sambil mengibas-ngibaskan tangannya, mengusirku.

“kenapa harus takut?” tanyaku polos. Ia mendecak dan gadisnya terkikik geli.

“sudah kukatakan, kau memelototinya, babbo! Dia kira kita ada apa-apa! Pergi sana! Daripada gadismu sendirian!” kini Eunhyuk mendorongku pergi.

Sialan! Kirain dia takut gadisnya kurebut.. Ga taunya! Gerutu sebal.

Aku berjalan menghampiri gadis pujaanku yang tengah menengadahkan kepalanya, menatap bintang. Angin malam berhembus menerbangkan sebagian rambutnya. Cantik.

Sesaat aku terdiam membeku melihatnya. Tiba-tiba kegugupan melandaku. Dia benar-benar cantik malam ini. Ia bersinar terang sekali di mataku, mengalahkan sinar bintang di langit.

Tiba-tiba ia menoleh kepadaku, sepertinya ia sadar kuperhatikan dari tadi. Ia tersenyum menatapku. Deg. Jantungku berpacu cepat, tak dapat kukendalikan. Ia melambai padaku.

“hai, Donghae!” sapanya.

Aku tersenyum gugup dan membalas lambaiannya.

“em, hai!” balasku berjalan mendekatinya.

Ia kembali menatap langit. Tersenyum.

“aku dengar dari Eunhyuk, kau kemarin marah padanya ya!?” tanyanya kembali menoleh padaku.

Aku semakin gugup. Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal.

“eh.. Itu.. Ehm, iya sih..” jawabku tak mampu menutupi rasa gugupku.

“kenapa?” tanyanya heran.

Aku bingung. Haruskah kujawab? Tapi.. Batinku kini sibuk berperang.

“ehm.. Kemarin.. Aku.. Aku marah pada Eunhyuk karena ia jalan denganmu, dan.. Menggandeng tanganmu,” jawabku lirih.

Ia menatapku bingung. Ia pasti merasa aneh dengan jawabanku.

“hmmh? Lalu, kenapa hanya begitu saja kau marah? Bahkan menjauhinya..” tanyanya lagi.

Hhh~ mungkin memang ini saatnya.. Batinku sambil menghela nafas.

“karena aku merasa Eunhyuk menghianatiku..” jawabku lagi, sama lirihnya.

Ia menaikkan sebelah alisnya, semakin heran dan mencoba mencerna sesuatu. Aigo~ jangan-jangan ia salah sangka.. Pikirku kalut.

“ma-maksudku Eunhyuk menghianatiku karena ia mendekatimu di belakangku,” tambahku tergagap. Ia makin menaikkan alisnya. Aish!

“ehm, aku takut kalau.. Kalau Eunhyuk juga menyukaimu,” lanjutku.

“juga menyukaiku? Memang ada yang menyukaiku?” tanyanya lagi. Aku mengangguk kuat-kuat.

“siapa?” tanyanya.

“aku,” jawabku polos. Oops!

Ia menatapku. Pipinya memerah. Ia jadi salah tingkah, begitu pula denganku.

“emm, jj-johahae,” ucapku memberanikan diri.

“would you be mine?” tanyaku kemudian.

Aku menundukkan kepalaku. Yes! Akhirnya kuutarakan juga! Batinku bersorak girang. Tapi bukan berarti lega seutuhnya. Aku masih menunggu jawabannya.

“na do, yes I want..” jawabnya.

Kuangkat kepalaku perlahan dan menatapnya. Pipinya bersemu merah, semerah tomat. Kyopta! Batinku bersorak girang. Aku tersenyum.

Kuraih dirinya dan mendekapnya erat. Aku tak ingin melepasnya sekarang, bahkan sampai kapanpun, mungkin.

Ia balas memelukku. Erat. Sama sepertiku. Kuharap ia pun tak ingin melepasku.

~EPILOG~

“lalu kemarin kau ngapain dengan Eunhyuk?”
“kenapa? Kau cemburu ya?”
“mwo!? A-anni..”
“kemarin aku Cuma sengaja dengan Eunhyuk,”
“sengaja?”
“uh-hum, sengaja bikin Erri cemburu,”
“jadi kemarin ada Erri juga?”
“yup! Tapi aku nggak tau kalau ada kau juga,  maaf ya,”
“lalu?”
“Erri marah tiba-tiba, trus Eunhyuk godain dia,”
“trus, trus?”
“Erri ngaku deh kalo dia suka Eunhyuk,”
“haaah!”
“kenapa?”
“bikin aku juga marah,”
“berarti kau juga cemburu ya!?”
“eh..?”
“ayo ngaku!”
=FIN=

.so ,
.what do you think guys ?
.bored, maybe ?
.uhm ,
.I made this story as apologize to Donghae ,
.cause I had broke his motor cycle (read my drabble titled Iroena, jebal..) ,
.kkekekek~
.mianhada Donghae~ XDD

.as before ,
.leave comments or not ,
.I still say thank you for reading this fiction, guys .😀

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: