Beranda > fanfiction, oneshot, whyenda_arinka > [Oneshot] Stop it, please

[Oneshot] Stop it, please

Length : Oneshot [2696 words]
Genre : Romantic
Rating : PG-15
Cast : Cho Kyuhyun, Song ____(YOU), Cho Ahra

Disclaimer : I don’t own Cho Kyuhyun either Cho Ahra, they belongs to their self and their parents. I do own this story, so please dont sue me.

===========
(Your POV’s)

TENG.. TENG.. TENG..
Bel berbunyi tiga kali pertanda waktunya istirahat.

“baiklah haeksaengdeul, saya sudahi pelajaran hari ini. Selamat siang,”

“siang, seenim,”

Kim songsaenim pun berjalan meninggalkan kelas. Beberapa murid terlihat menghembuskan nafas lega. Kututup bukuku dan membereskan mejaku. Aku menghela nafas dan berpaling ke pintu kelas. Di sana telah berdiri Cho Kyuhyun, ui namjachingu.

Aku tersenyum manis dan segera bangkit dari bangkuku. Kulangkahkan kakiku menghampirinya yang juga melempar senyum padaku.

“bagaimana pelajarannya?” tanyanya lembut.

“biasa saja,” jawabku sekenannya.

Kami berjalan ke kantin sambil mengobrol. Banyak pasang mata yang melihat kami dengan tatapan iri atau kagum. Aku sudah biasa dengan tatapan itu, karena setiap kali aku berangkat ke sekolah atau istirahat dan bahkan ketika pulang sekolah. Tak hanya yeoja, tetapi juga namja. Dan hal itu telah berlangsung selama setahun ini.

Mereka menatap kami iri dan kagum karena menurut mereka kami adalah pasangan yang serasi. Cho Kyuhyun adalah anak terpintar seangkatanku, tampan dan memiliki suara emas, sedangkan aku adalah anak terpintar seangkatan setelah Kyuhyun serta violinist. Jadi mereka menganggap kami adalah pasangan yang serasi.

Walaupun begitu, ada satu hal yang kurang kusukai dari Kyuhyun, yaitu hobinya yang suka balapan motor. Tak jarang ia memintaku untuk menemaninya sekaligus mendukungnya. Sudah berkali-kali aku mengingatkannya, tapi ia hanya menganggapnya sebagai angin lalu.

“jagi, nanti dukung aku ya!?” pintanya. Aku menghela nafas.

“mau sampai kapan kamu balapan, Kyu?” tanyaku.

Hening. Selalu begitu bila kulontar kan pertanyaan seperti itu.

“sampai aku mati,” jawabnya kemudian yang membuatku kaget.

“apa!? Kau gila, Kyu!” seruku kaget. Ia menatapku.

“pokoknya nanti aku jemput jam 8,” ucapnya datar, tapi bagiku itu terkesan mengancam.
*
Sesuai ucapan Kyuhyun tadi siang, ia menjemputku pukul 8 tepat dan kami pergi ke arena balapan liar. Keadaan sudah ramai dan Kyuhyun pun tengah bersiap-siap. Entah kenapa aku jantungku berdegup sangat kencang. Aku berusaha menenangkan diriku namun tak bisa. Kyuhyun menatapku  dan berjalan menghampiriku. Ia tersenyum manis dan aku membalasnya.

“kenapa, jagi?” tanyanya. Aku menggeleng dan ia menghela nafas.

“Kyu, tak bisa kah kau tak ikut balapan?” tanyaku memohon. Ia menghela nafas panjang.

“jagi, kau tau aku tak mungkin tak mengikuti balapan ini,” jawabnya.

“jagi, jebal..” mohonku. Sedetik kemudian ia tersenyum cerah.

“apa? Kau memanggilku apa? Jagi? Jarang sekali kau memanggilku seperti itu. Ayo ulang sekali lagi, aku mau dengar,” ucapnya berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia kepalanya kearahku, tepatnya telinganya, ke arah bibirku.

“tidak sampai kau berjanji untuk tidak balapan motor lagi,” ucapku pelan, terdengar seperti bisikan.

Kyu pun kembali berdiri tegak. Ia menatapku dengan tatapan yang tak dapat kuartikan, yang jelas ia tak mungkin berjanji seperti yang kuucapanku tadi. Aku menghela nafas. Kyu memang sangat keras kepala.

Tiba-tiba ia mendorongku ke dalam pelukannya. Ia memelukku dengan sangat erat, seolah tak ingin melepaskanku. Aku pun membalas pelukannya erat. Sangat erat.

“mian jagi, aku tak bisa berjanji sekarang,” ucapnya pelan di telingaku. Hatiku mencelos mendengarnya.

Kyu melepas pelukannya dan menatapku dalam. Ia meraih wajahku dan mengelus pipiku lembut.

“mian, jagi,” ucapnya lagi.

Ia mendekatkan wajahnya ke wajahku dan mengecup bibirku lembut. Ia terus mengecup bibirku, seolah ia tak ingin melepaskanku. Aku diam saja, tak mampu membalas kecupannya. Hatiku terasa sakit dan perih.

Kyu melepas kecupannya dan memandangku lagi. Kedua jempolnya mengusap air mata yang turun membasahi pipiku.

“tapi aku janji, jagi, setelah balapan ini berakhir, aku tak kan mengikuti balapan motor lagi,” ucapnya sambil tersenyum.

“jinja?” tanyaku parau.

“jinja,” jawabnya pasti.

“Kyu! Balapan akan segera mulai!” teriak salah seorang temannya.

Kyu menatapku dan tersenyum.

“jangan menangis, oke? Cukup dukung aku saja,” ucapnya. Aku mengangguk dan berjinjit mengecup pipinya.

“hati-hati,” ujarku.

Ia mengangguk dan berjalan mundur meninggalkanku. Entah mengapa hatiku terasa perih melihat punggungnya yang pergi menjauhiku. Perlahan air mata kembali turun membasahi pipiku. Aku menggeleng kuat, berharap rasa perih itu pergi dari hatiku.

Kulangkahkan kakiku menuju pinggir trek balapan, bergabung dengan para pendukung Kyuhyun. Malam ini balapannya sampai 5 putaran, begitu yang kudengar. Aku menghela nafas berat dan berdoa demi keselamatan Kyuhyun. Aku tak peduli ia juara seperti biasa atau tidak, asal ia bisa menyelesaikan putaran dengan selamat, itu sudah lebih dari cukup bagiku.

Empat motor telah berjejer rapi dibelakang garis start, begitu pula dengan Kyuhyun. Suara penonton yang mendukung masing-masing pembalap terdengar sangat keras di samping kanan kiriku. Seorang gadis berdiri diantara keempat motor, ia mengangkat sebuah bendera hitam-putih dan menyentakkannya. Balapan dimulai.

Empat motor itu melaju dengan kencangnya saling mengejar satu sama lain memperebutkan posisi pertama. Teriakan para penonton pun semakin keras, mendukung pembalap mereka. Jantungku kini berpacu semakin cepat, hatiku was-was memperhatikan laju keempat motor itu, terlebih motor yang dikendarai Kyuhyun.

Keempat pembalap tersebut telah mengitari trek balapan sebanyak 3 kali, dan hatik semakin was-was mengawasi laju motor Kyuhyun. Bibirku tak berhenti menggumamkan doa untuk keselamatannya. Dan benar saja, ketika motor yang dikendarai Kyuhyun melewati garis start, pengemudi motor yang menempel terus di samping Kyu menjulurkan kakinya menendang Kyu dan membuat Kyu kehilangan keseimbangan. Motor yang dikendarai Kyu oleng dan menabrak ban yang digunakan untuk memagari trek balapan, membuatnya terhempas dari motornya. Seluruh penonton menjerit histeris temasuk aku.

Tanpa pikir panjang, aku berlari memasuki trek menghampiri Kyu diikuti teman-teman Kyu. Kulihat tangannya berdarah begitu pula lututnya serta erangan kesakitan Kyu dibalik helmnya. Segera kubuka helmnya dan membuangnya kesembarang arah. Wajahnya meringis menahan sakit disekujur tubuhnya.

“Kyu,” panggilku dengan suara parau. Cairan hangat kembali turun membasahi pipiku.

Kyu menatapku dalam, jarinya terulur menghapus air mataku. Kupeluk tubuhnya yang masih terbaring di tanah, air mataku tak dapat berhenti mengalir. Ia menepuk-nepuk punggungku pelan.

“uljima,” ucapnya pelan. Bukannya mereda, air mataku justru semakin mengalir deras.
*
Aku duduk di ruang tunggu sendirian. Air mata masih mengalir di pipiku. Aku takut terjadi sesuatu pada Kyuhyun. Aku takut kehilangan Kyuhyun. Aku takut.

“KAU!” jerit seorang wanita.

Aku mendongak dan mendapati Cho ahjumma, ibu Kyuhyun telah berdiri di hadapanku dengan Ahra onnie, kakak Kyuhyun.

“APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI, HUH!?” teriaknya histeris dan tangisku semakin hebat sekarang.

“KENAPA KAU TAK MENCEGAHNYA!? YEOJACHINGU MACAM APA KAU, HUH!?” jerit ahjumma menggoncang-goncangkan bahuku.

Aku semakin terisak mendengar ucapan Cho ahjumma. Ya, salahku yang tak dapat menahan Kyu. Ahra onnie berusaha melepaskan tangan Cho ahjumma di bahuku.

“omma, tenanglah.. ini bukan kesalahannya,” ucap Ahra onnie.

“jadi kau menyalahkan Kyuhyun, Ahra!?” bentak ahjumma.

“anni omma, bukan begitu,” elak Ahra onnie.

Tiba-tiba pintu ruang UGD terbuka dan seorang dokter keluar dari dalam. Aku segera berdiri dan mengusap air mata. Cho ahjumma dan Ahra onnie pun segera menghampiri dokter.

“bagaimana keadaan anak saya, dok?” tanya Cho ahjumma.

“jwosong hamnida, nyonya. Anak mengalami retak tulang pada kaki kirinya dan kondisinya koma saat ini,” jawab dokter.

Seketika aku terduduk lemas sedangkan Cho ahjumma menjerit histeris dan pingsan, membuat kami panik.
*
Sudah tiga hari Kyuhyun terbaring koma di rumah sakit. Dan selama itu aku tak diijinkan oleh Cho ahjumma untuk masuk menjenguk Kyu. Aku hanya dapat melihatnya terbaring di kasur dari balik kaca kecil yang berada di pintu, begitu pula denga hari ini.

Kyuhyun masih terbaring di kasur itu dengan banyak selang yang menempel di tubuhnya untuk membantunya hidup. Air mataku mengalir membasahi pipi melihat keadaannya. Hatiku mencelos melihat wajahnya yang pucat. Bahkan untuk bernafas saja ia dibantu dengan alat pernafasan.

“____?” panggil seseorang.

Aku menoleh dan mendapati Ahra onnie menepuk bahuku. Segera aku memeluknya dan menangis di bahunya. Ia mengelus-elus punggungku pelan.

“sabar, onnie tahu ini pasti berat untukmu,” ucap Ahra onnie berusaha menenangkanku. Aku mengangguk.

“mau masuk?” tawar Ahra onnie.

Segera aku melepaskan pelukanku dari Ahra onnie dan menatapnya gembira. Namun sedetik kemudian, aku kembali murung mengingat Cho ahjumma tak mengijinkanku masuk.

“tenang saja, omma sedang ada urusan, ayo,” ujar Ahra onnie sambil mendorong pintu dan mempersilahkanku masuk.

Aku melangkahkan kakiku ragu-ragu memasuki ruangan Kyuhyun diikuti Ahra onnie. Ahra onnie mendekati kasur Kyuhyun dan meletakkan tasnya di nakas samping kasur Kyuhyun.

“Kyu, kau kedatangan tamu istimewa,” ucap Ahra onnie di kuping Kyuhyun.

Matanya terlihat sayu ketika mengucapkan itu dan tangisku pecah seketika. Ahra onnie memelukku.

“uljima. Kyuhyun akan sedih bila mengetahui kau menangis,” ucap Ahra onnie.

Aku mengangguk dan melepaskan pelukan Ahra onnie. Kulangkahkan kakiku mendekati kasur Kyuhyun dan duduk di kursi yang berada di samping kasurnya. Kuraih tangan kanan Kyuhyun yang bebas dari lilitan selang infus dan menggenggamnya erat. Kekecup tangan itu. Tangan yang selalu menggenggamku, memelukku, serta menghapus air mataku.

Cairan bening kembali turun dari mataku dan membasahi tangan Kyuhyun. Tangisanku tak dapat kubendung lagi. Air mata semakin deras mengalir membasahi pipiku dan tangan Kyuhyun yang kuletakkan dipipi kiriku.

Aku masih menangis ketika kurasakan jari tangan Kyuhyun bergerak di pipiku. Aku mendongak dan menatap wajah Kyu. Matanya perlahan terbuka dan menatapku. Ia tersenyum, senyuman yang kurindukan, senyuman yang selalu menghiasi hariku.

Air mata mengalir semakin deras dipipiku, air mata bahagia. Jari Kyu kembali bergerak di pipiku, menghapus air mataku.

“uljima.. kan aku sudah berjanji tak kan ikut balapan motor lagi,” ucapnya yang membuat senyumku mengembang seketika.

“Kyuhyun?” panggil Ahra onnie kaget. Ahra onnie tersenyum dengan air mata menggenang di matanya.

“hei, ada apa ini? Kenapa 2 gadis yang paling kusayangi menangis semua?” tanya Kyuhyun.

“kami menangis karena bahagia Kyu, kau tahu kalau kau koma selama 3 hari ini!?” ucap Ahra onnie dengan air mata membanjiri pipinya. Aku mengangguk menyetujui ucapan Ahra onnie.

“koma? 3 hari? Tapi kok aku hanya merasa seperti tidur selama beberapa jam saja ya!?” ujar Kyu sambil tersenyum jahil.

“Cho Kyuhyun,” ucapku dan Ahra onnie dengan nada mengancam.

“hhahaha. Oke, oke. Kurasa aku perlu berkonsultasi dengan dokter sekarang,” ucap Kyuhyun.

“ah iya! Akan kupanggilkan dokter sekarang juga,” ujar Ahra onnie segera pergi memanggil dokter.

Aku tersenyum menatap Kyuhyun, begitu pula dengan Kyuhyun.

“nggak kangen?” tanya Kyuhyun sambil mengedipkan sebelah matanya.

“ya! Kau baru sadar saja sudah seperti ini,” ucapku sambil menggembungkan pipiku.

Kyuhyun tertawa melihatku dan mencubit pipi kiriku dengan gemasnya.

“aa~ lepasin.. Yuhyun-ah, afuu~(aa~ lepasin.. Kyuhyun-ah, apeu..)” ucapku sambil berusaha melepaskan cubitan Kyuhyun.

Bukannya melepas cubitannya, ia justru tertawa semakin keras.

“wah, sepertinya Kyuhyun chuin sudah benar-benar sembuh,” ujar dokter yang ternyata sudah berdiri di ambang pintu bersama Ahra onnie.

Kyuhyun melepas cubitannya dan tersenyum lebar sementara aku segera menyingkir. Kurasakan wajahku panas seketika. Ahra onnie menyenggol lenganku dan senyum-senyum tak jelas yang membuatku tambah malu.

“Kyuhyun chuin, kondisi anda sudah membaik sekarang. Masa kritis sudah anda lewati, selamat. Dan juga, perbanyaklah istirahat serta jangan lupa makan dan minum obat secara teratur,” ucap dokter.

“lalu kaki kiriku, dok? Rasanya sakit bila kugerakkan,” keluh Kyuhyun yang membuatku murung seketika.

“ah iya, kaki kiri anda hanya retak tulang saja. Terapi selama seminggu pasti sudah sembuh,” jawab dokter.

Aku tersenyum lega begitupula dengan Ahra onnie. Kulihat Kyuhyun nyengir lebar mendengarnya.

“kapan saya bisa pulang, dok?” tanya Kyuhyun kemudian.

“besok atau mungkin lusa,” jawab dokter tersenyum.

“baiklah, saya kembali dulu. Nanti saya akan menyuruh suster untuk mengantarkan makan serta obat, dihabiskan ya, Kyuhyun chuin,” pesan dokter sambil beranjak.

“ne, dokter. Kamsahamnida,” ucap Kyuhyun tersenyum puas.

Setelah itu kami berbincang apa saja yang terjadi selama Kyuhyun koma. Tak terkecuali kemarahan ommanya padaku yang menyebabkanku tak diijinkan menjenguknya dan baru hari ini lah aku menjenguknya.

“apa!? Pantas saja aku tak mau bangun dari komaku,” komentar Kyuhyun sambil nyengir lebar sementara pipiku merona merah.

“ah iya, kau benar Kyu! Untung saja aku yang sedang jaga. Hhahaha~” sambung Ahra onnie yang membuat pipiku semerah tomat sekarang.

Tiba-tiba pintu kamar rawat Kyuhyun diketuk dan masuklah seorang suster membawa nampan berisi makanan dan obat untuk Kyuhyun. Ia berjalan masuk dan meletakkan nampan tersebut di nakas samping kasur Kyuhyun.

“dihabiskan ya, Kyuhyun chuin,” ucap suster itu lalu berbalik keluar kamar.

Kyuhyun menyeringai lebar menatapku.

“apa!?” tanyaku galak yang justru membuat seringaian Kyuhyun makin lebar.ia menunjuk-nunjuk makanan lalu menunjuk mulutnya yang terbuka lebar.

“suapin,” ucapnya kemudian dengun senyum yang kekanak-kanakan. Aku mendengus kesal namun mengambil makanan itu dan menyuapi Kyuhyun.

“wah, Kyuhyun punya suster pribadi rupanya,” celetuk Ahra onnie yang membuatku merona dan Kyuhyun tersenyum lebar sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

Baru saja suapan ketiga, pintu kamar rawat Kyuhyun menjeblak terbuka dan seorang wanita paruh baya menghambur kedalam mendekati Kyu dan memeluknya erat, Cho ahjumma. Beliau memeluk Kyuhyun sambil terisak. Aku pun menjauh secara perlahan, berusaha menggapai pintu dan keluar tanpa ada yang menyadarinya.

“ttonajima, jebal(don’t go, please)..” pinta Ahra onnie sambil menahan lenganku. Dengan pasrah aku menghentikan aksiku untuk keluar ruangan.

Cho ahjumma melepas pelukan Kyuhyun dan berbalik menghadapku dan Ahra onnie. Aku menghela nafas pelan seakan ini adalah akhir hidupku.

“KAU! APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI, HUH!? BUKANKAH SUDAH KUPERINGATKAN KAU UNTUK TIDAK MENJENGUK KYUHYUN!?” teriak Cho ahjumm yang membuatku menunduk.

“OMMA!” teriak Kyuhyun dan Ahra onnie bersamaan.

“aku yang mengajaknya masuk, omma. Ia sudah menolak, tapi kupaksa ia masuk,” ujar Ahra onnie.

“buat apa, huh!?” dengus Cho ahjumma.

“omma, aku tak kan bangun kalau ____ tak kunjung menjengukku! Buktinya setelah ____ datang, aku segera siuman, omma.” ujar Kyuhyun.

“alasan yang tak logis! Keluar kau, yeoja tak berguna!” usir Cho ahjumma.

Aku hendak melangkah pergi meninggalkan ruangan ketika Kyuhyun mengeluarkan ancaman yang membuatku mematung seketika.

“Song ____, kalau kau melangkahkan kakimu satu saja meninggalkan ruangan ini, kupastikan aku tak kan pernah sembuh!” ancam Kyuhyun.

“Cho Kyuhyun!” jerit Cho ahjumma.

Hatiku mencelos, aku tak ingin membuat Cho ahjumma semakin membenciku. Tapi aku juga tak mau jika Kyuhyun tak kunjung sembuh. Hatiku bimbang diantara dua pilihan yang sungguh mmembuatku dilema.

“omma, ijinkanlah ____ tetap di sini dan merawat Kyuhyun,” bujuk Ahra onnie.

“untuk apa!? Yeoja inilah yang membuat Kyuhyun koma!” bentak Cho ahjumma.

Aku mencelos mendengar bentakkan Cho ahjumma. Benar ucapan ahjumma. Andai saja aku dapat membuat Kyuhyun tak mengikuti balapan itu. Andai saja aku dapat menahannya. Mungkin akan lain ceritanya. Kyuhyun tak perlu berbaring di rumah sakit seperti ini. Aku memang yeoja yang bodoh. Neomu pabboya yeoja.

“omma salah,” ucap Kyuhyun memecah keheningan.

“ia sudah menahanku, ia bahkan memintaku berkali-kali untuk menghentikan hobi gilaku. Hanya saja aku terlalu keras kepala omma. Asal omma tahu saja, ____ lah yang telah membuatku berjanji untuk tidak mengikuti balapan motor lagi. Harusnya omma berterima kasih padanya, bukannya menyalahkannya. Dan satu lagi omma, aku tak mau minum obat, terapi untuk kesembuhan tulangku, dan bahkan makan sekalipun. Kecuali ____ menemaniku,” ucap Kyuhyun.

“sudahlah Kyu, kau tak perlu seperti itu. Ini semua memang salahku. Pokoknya kau harus makan teratur, minum obat dan terapi tulang tanpaku. Annyeong,” ucapku kemudian sambil membungkuk pada Cho ahjumma dan melangkah pergi meninggalkan kamar rawat Kyu.

“omma,” panggil Kyuhyhun dengan nada mengancam yang terdengar hingga luar.

Tiba-tiba langkahku terhenti ketika lenganku ditahan seseorang. Aku berbalik dan terkejut mendapati Cho ahjumma menahan lenganku.

“____, ttonajima. Maafkan saya yang telah menyalahkanmu dan mengusirmu. Saya.. saya sangat kalut saat itu,” ucap Cho ahjumma dengan tatapan memohon.

“tak apa ahjumma, saya juga salah-”

“tidak, saya yang salah. Satu lagi, mulai sekarang, jangan panggil saya ahjumma lagi, tapi omma. Ara!?” ujar Cho ahjumma.

“a-ahj-”

“omma,” koreksi ahjumma, uhm, omma.

“ne, omma. Arasso,” ucapku.

“kemarilah nak,” titah omma lalu meraihku dan memelukku.

“ehem, jwosong hamnida. Sepertinya Kyuhyun lapar dan ia menolak kusuapi,” ucap Ahra onnie dengan kepala tersembul keluar.

Omma melepaskan pelukannya dan menatapku penuh arti.

“kurasa Kyuhyun hanya mau kau yang merawatnya, kupercayakan padamu, ____,” ucap omma sambil tersenyum lembut.

“ne, omma,” ujarku mengangguk dan tersenyum.

~EPILOG~
“ya, Cho Kyuhyun! Ayo belajar! Jangan bermain game terus!” teriakku sambil menarik lengannya.

“sebentar lagi selesai koookk~” rajuknya.

Aku terduduk di sampingnya dengan cemberut. Dulu hobinya balapan motor hingga koma. Setelah kapok, sekarang ia justru beralih menjadi hobi main game. Benar-benar menyebalkan!

“ah! Membosankan!” teriak Kyuhyun kesal.

Aku menatapnya dengan wajah sumringah. Semoga setelah ini ia mau belajar.

“jadi?” tanyaku penuh harap.

“jadi? Jadi aku akan ganti main starcraft! Hhahaha~” jawabnya sambil tertawa.

Aku menggembungkan pipiku. Benar-benar menyebalkan! Kyuhyun menoleh padaku, tersenyum lalu ia mencubit kedua pipiku gemas.

“aaaa~ Yuhyun~ afuyu~(aaaa~ Kyuhyun~ appoyo~)” rintihku yang justru membuatnya tertawa.

“akan kulepaskan tapi kau harus memanggilku ‘ja-gi-ya’” ujarnya mengeja kata terakhir.

“ne~ ne~ jagiyaaa~” ucapku kewalahan. Ia melepas cubitannya dan tersenyum lebar.

“sekali lagi!” perintahnya.

“jagiya~ ayo kita belajar~” ajakku.

“belajar apa, jagi?” tanyanya sambil tersenyum jahil.

“belajar matematika?” saranku.

“bosan!” tolaknya.

“trus belajar apa?” tanyaku sibuk berpikir.

“bagaimana kalau kita belajar…” ia memutuskan kata-katanya sambil tersenyum jahil dan meraih wajahku.

Ia mendekatkan wajahnya ke wajahku, hingga aku bisa merasakan hembusan nafasnya. Ia masih tersenyum jahil lalu memiringkan kepalanya. Tanpa sadar aku menutup kedua mataku, membiarkannya mencium bibirku lembut.

“oke, stop! Sekarang waktunya belajar!” ucapku setelah melepas ciuman Kyuhyun dan mendorongnya hingga terjengkang ke belakang.

“aish!” dengus Kyuhyun dan kini ganti aku yang tertawa.
=FIN=

.geje yah ? =.=a
.aq nulisnya juga asal-asalan ,
.mian .
.silahkan protes ,
.but no bashing please .

.leave comments or not ,
.I still say thanks for reading .😀

  1. 11 Juli 2010 pukul 12:58 pm

    Kunjungan sesama blogger nih…
    Nice blog and good post sob!
    Ditunggu kunjungan baliknya nih di blog baru ane,
    dan jangan lupa tinggalin jejak di postingan terbaru ane ya sob…🙂

  2. 12 Juli 2010 pukul 1:06 am

    Postingan yang bagus dan asyik buat para koreamania dan pecinta drama korea…..teruskan berkarya dan salam dari Kalimantan…..

    • 14 Juli 2010 pukul 8:23 am

      .thanks .🙂

      .salam balik juga buat kalimantan .😀

      .thanks juga udah mau baca FF di blog ini .🙂

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: