Beranda > drabble, fanfiction, whyenda_arinka > [Drabble] Losing You

[Drabble] Losing You

Length : Drabble [602 words]
Genre : Romantic, Angst
Rating : G
Cast : Kim Ryewook, YOU

Disclaimer : I don’t own Kim Ryewook but I do own this story, so please don’t sue me. Happy reading.🙂

===========
(Ryewook POV’s)

Aku memandang langit kelabu yang baru saja memuntahkan ribuan air ke bumi. Begitu hitam, gelap, dan pekat. Seolah langit itu bersedih, menangisi sesuatu. Sama sepertiku yang tengah menangisi kepergiannya dari hidupku.

Ya, ia telah pergi dariku. Meninggalkanku sendiri dalam kesedihan dan keterpurukan. Meninggalkanku untuk selamanya. Meninggalkanku ke alam lain yang berbeda denganku. Alam yang penuh akan kedamaian.

DUARR!

Petir menyambar-nyambar, seolah saling berkejaran. Menyambar pohon yang menjulang tinggi hingga terbakar dan hangus. Sama seperti hatiku yang terbakar. Ya, terbakar amarah. Mengapa ia meninggalkanku secepat ini?

Rintik-rintik hujan perlahan kembali turun membasahi bumi, semakin lama semakin deras. Sederas air yang mengalir dari mataku, membasahi pipiku. Entah sudah keberapa kalinya aku mengeluarkan air mata hari ini sejak dari pemakamannya. Tak kupedulikan perkataan orang bahwa namja tak boleh menangis. Memang seorang namja tak punya hati apa?

Kuremas kepalan tangan kananku, sekedar untuk menenangkan hatiku juga tanganku yang gatal ingin melayangkan pukulan ke benda di sekitarku. Aku harus kuat, aku harus tabah. Aku yakin ia akan menangis melihatku seperti ini. Aku harus bangkit.

Perlahan kuhapus air mataku dan menenangkan hatiku. Ya, aku berjanji aku akan bangun dari semua keterpurukan ini. Aku harus kuat. Aku harus bahagia, agar ia pun bahagia di sana.
*
(Your POV’s)

Kepala malaikat masih mengijinkanku turun ke bumi ini. Aku bukan malaikat. Aku hanya sebuah roh yang belum lah jelas akan jadi apa aku nantinya. Apakah aku hanya akan menjadi malaikat dengan tugas-tugas di bumi, atau hanya menjadi penghuni dunia atas.

Mengapa aku bisa menjadi roh? Karena jasadku sudah mati, sehingga rohku tak mungkin berada di jasadku. Dan kini rohku ini masih berkeliaran bebas tanpa status, jadi aku diijinkan berkeliaran di bumi atau di dunia atas. Namun bila aku diutus menjadi malaikat, aku akan lebih sering berada di bumi. Begitu pula sebaliknya, bila aku tak diutus menjadi malaikat, maka aku akan berada di dunia atas.

Aku pergi ke rumahku ketika rohku masih menempel pada jasadku. Susana duka masih menyelimuti rumahku. Sepertinya baru saja mereka pulang dari pemakamanku. Ibu tak dapat menghentikan tangisnya hingga beliau terkapar di atas kasurnya.  Hatiku mencelos melihatnya, ingin rasanya aku menghampiri beliau dan memeluknya. Tapi, apalah dayaku?

Aku pun memutuskan pergi meninggalkan rumahku yang masih diselimuti duka. Namun sekarang aku bingung, aku harus ke mana? Tiba-tiba saja sebuah nama terlintas di otakku. Ryewook, namja chinguku. Kuputuskan untuk pergi ke rumahnya dan melihat kondisinya. Apakah ia sama sedihnya dengan ibuku?

Kulihat ia tengah menatap langit kelabu yang baru saja menjatuhkan rintik hujan, membasahi bumi. Hitam dan pekat. Ia menatap nanar langit itu, seolah langit itu baru saja menangis seperti dirinya. Seolah menangisi hal yang sama dengan dirinya.

Matanya sembab, hidungnya merah. Apakah ia menangis sedari tadi? Hatiku mencelos melihat keadaannya, tak jauh berbeda dengan keadaan ibuku. “apakah ia nenangisiku? Kumohon, jangan tangisi kepergianku,” jeritku tak karuan. Namun jeritanku seolah tak dapat didengarnya. Aku terduduk lemas.

DUARR!

Tiba-tiba petir menyambar, membuat keributan kecil diluar sana. Mengapa suaraku tak dapat sekeras petir itu? Ratapku dalam hati. Kulihat petir itu berhasil menyambar pohon yang menjukang tinggi membuatnya terbakar dan hangus. Sama seperti hatiku yang dibakar amarah akan keadaanku yang menyedihkan ini.

Suara rintik hujan turun kembali membasahi bumi semakin lama semakin terdengar deras. Kutengadahkan wajahku menatapnya yang masih tak bergeming di depan jendela kamarnya. Air mata kembali menuruni pipinya dengan deras, sederas hujan di luar sana.

Kumohon jangan tangisi aku, rintihku pelan. Entah ikatan batin atau apa, ia mengelap air matanya dan perlahan mulai tersenyum kecil. Aku menghela nafas lega. Samar-samar kudengar ia berucap.

“aku akan tersenyum untukmu di sana agar kau bahagia juga. Aku harap kau akan cepat menemui kebahagianmu di sana, karena aku pun akan mencari kebahagiaanku yang lain di sini. Saranghae,”
=FIN=

.huaaaaaa~
.apa iniii !?
*mencak2 geje*
.lagi2 geje yah ?
.segeje yang bikin kan ?
.hhhh~
.maklumkan saja ya~😄

.okay ,
.leave comments or not ,
.I still say thanks for reading .😀

  1. 31 Agustus 2010 pukul 1:48 pm

    ini sama sekali ga geje! justru ini menyentuh!! aaah keren…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: