Beranda > fanfiction, ficlet, whyenda_arinka > [Ficlet] The Last Time

[Ficlet] The Last Time

Length : Ficlet [1111words]
Genre : Romantic, Angst
Rating : PG-15
Cast : Kim Kyu Jong, YOU, Kim Hyun Joong

Disclaimer : I don’t own KyuJong, but I DO own this story. so please don’t sue me.

========
(Kyu Jong POV’s)

Aku menatapnya dari kejauhan. Ia tengah duduk di bangku kayu yang berada di bawah pohon taman kota. Ia menopang tubuhnya dengan kedua tangannya yang menumpu pada dudukan kursi sambil menggoyang-goyangkan kakinya. Ia menengadahkan kepalanya menatap langit seolah di atas langit itu ada sebuah dunia lain. Dunia di mana orang yang tengah dirindukannya berada.

Aku menghela nafas panjang. Ingin aku menghampirinya dan menghiburnya. Mengisi kekosongan dalam hatinya. Namun itu tak mungkin kulakukan. Bila aku nekat, itu akan berakibat fatal. Aku tak ingin kehidupannya yang sekarang terganggu lagi hanya karena ulahku. Ulahku yang membuatnya kehilangan segalanya dalam kehidupannya. Itu semua salahku.

Ia beranjak dari kursinya dan menghampiri seorang anak kecil yang sepertinya menangis. Ia berusaha menenangkannya. Aku tersenyum. Ia masih seperti yang dulu. Ramah, baik hati, lembut, peduli, dan penuh kasih sayang. Hanya satu yang berubah darinya, keceriaannya. Keceriannya yang dulu sirna, seolah ia tak pernah mengenal kata ceria.

Aku kembali menghela nafas. Ia kehilangan keceriaannya itu semua karenaku. Aku membuatnya kehilangan kedua orang tuanya juga anak yang sempat dikandungnya. Tidak, tidak. Aku tidak dengan sengaja melakukannya. Semua itu kecelakaan. Ya, kecelakaan yang membuat kehidupannya berubah 180 derajat. Dan setelah kecelakaan itu, aku memilih menghilang dari kehidupannya sebelum kehidupannya semakin hancur.
*
“bagaimana, Kyu Jong-ah? Kau sanggup kan?” tanya Hyun Joong hyung.

Aku menggigit bibir bagian bawah. Hyun Joong hyung berniat menjalin kerjasama dengan mafia di Jepang dan aku diutus ke sana untuk mewakilinya sehubungan dengan kemampuan bahasa Jepangku yang memang fasih sejak sekolah menengah. Ini pilihan sulit bagiku, kemungkinan aku akan berada di Jepang selama setahun dan itu berarti aku tak bisa menemuinya.

Walaupun itu adalah jalan yang terbaik dan aku memang menginginkan diriku benar-benar hilang dari kehidupannya, tapi bukan menghilang sepenuhnya seperti itu. Bila aku menghilang sepenuhnya, siapa yang akan menjaga dirinya nanti? Bagaimana bila kelompok mafia selatan masih mengincarnya?

“Kyu Jong?” panggil Hyun Joong hyung membuyarkan lamunanku.

Hyun Joong hyung menatapku lurus-lurus seolah mengancamku. Aku membeku di tempatku, tak sanggup mengatakan ‘ya’ atau ‘tidak’. Aku ingin sekali menolaknya, namun..

“ye, hyung. Aku bisa,” jawabku.

Hyun Joong hyung tersenyum puas mendengar jawabanku. Ia segera mengambil gagang telepon di mejanya dan menghubungi tangan kanannya, Young Saeng hyung untuk mengatur segala kepindahanku ke Jepang. Aku hanya menghela nafas panjang, berharap aku tak salah mengambil jalan kali ini. Semoga dengan aku pindah ke Jepang, mafia selatan akan mengejarku ke Jepang. Itu terdengar lebih baik walaupun aku tak dapat memastikan keadaannya aman atau tidak.

“jadi, Kyu Jong-ah, kau akan berangkat seminggu lagi. Kemasi baju-bajumu saja. Barang-barang sudah disediakan oleh pihak sana. Kau tinggal mengurusi kerjasama kita, mengerti?” ujar Hyun Joong hyung memberiku pengarahan.

“ye, hyung,” jawabku sambil mengangguk patuh.

Kadang aku merasa terpaksa menjalankan semua ini. Namun aku merasa sangat berhutang budi dengan keluarga Kim, kelurga Hyun Joong hyung yang mau menerima dan merawatku sejak kecil serta mengajariku banyak hal. Jadi menurutku, hanya dengan ikut bekerja dalam lingkup inilah aku mampu membalas hutang budi pada keluarga mereka.
*
Aku berjalan menyusuri jalanan sepi di pinggir kota Seoul lalu berhenti di sebuah emperan toko. Kusandarkan punggungku pada dinding dan menatap ke seberang jalan. Tampak gadisku tengah terduduk lagi di atas bangku yang berada di bawah pohon. Ia masih menengadah ke langit sambil sesekali menatap anak-anak kecil yang tengah bermain-main dengan riangnya.

‘apa ia menganggapku telah berada di langit itu bersama kedua orang tuanya? Apakah ia masih mengharapkan bayinya?’ tanyaku dalam hati. Perih rasanya ketika pikiran itu tiba-tiba hinggap di otakku. Salahku yang membawanya masuk dalam kehidupanku yang dipenuhi oleh rasa balas dendam antara dua mafia terbesar di Korea. Ya, salahku yang membiarkannya mencintaiku dan mau menerima segala keadaanku seperti ini hingga menghilangkan nyawa kedua orang tuanya.

Ia kembali beranjak dari duduknya dan menghampiri anak-anak yang tengah bermain. Ia bermain bersama anak-anak itu. Ia tertawa lepas bersama anak-anak itu. Tawa yang tulus dari dalam hatinya. Tawa yang dulu menghiasi hariku, menjadi bunga tidur di malam yang dingin. Tanpa sadar, bibirku menyunggingkan seulas senyuman lebar melihatnya tertawa lebar. Ingin rasanya kuhentikan waktu agar aku bisa melihat tawanya terus.

Namun keadaan itu tak berlangsung lama ketika terdengar sebuah tembakan tepat diujung gang gelap yang berada tak jauh dari bangku tempatnya duduk tadi. Terlihat semua orang berhamburan ke segala arah untuk melindungi diri. Beberapa memilih tiarap seperti yang dilakukan gadisku. Ia merunduk sambil melindung beberapa anak dalam dekapannya.

Kulihat sebuah pantulan cahaya matahari yang menyilaukan mataku dari ujung gang gelap itu. Aku memicingkan mataku untuk melihat benda apa itu. Jantungku berpacu cepat dan berlari menghampiri gadisku ketika mengetahui benda itu adalah sebuah pistol. Sialnya, moncong pistol itu terarah pada gadisku.

Aku meraihnya dalam dekapanku dan menyeretnya menjauhi taman itu. Menariknya untuk berlari bersamaku menghindari sniper itu. Terus berlari mencari tempat bersembunyi yang aman hingga akhirnya kami menyusup ke dalam gang-gang kecil dan gelap.

Kami berhenti di sebuah gang sempit dan gelap, berusaha mengatur nafas yang memburu agar tak terdengar oleh sniper tadi. Aku menopang tubuhku dengan tanganku yang bertumpu pada lututku. Dadaku naik turun seirama dengan jantungku yang berpacu sangat cepat. Aku berusaha mengatur nafasku sebentar dan menoleh padanya.

Ia menatapku lekat seolah tak mempercayai penglihatannya sendiri. Aku menyunggingkan sebuah senyuman untuknya. Akhirnya setelah sekian lama, aku bisa kembali berada sedekat ini dengannya. Menatap ke dalam kedua bola matanya yang berwarna coklat nan indah.

“K-Kyu Jongie?” panggilnya.

“ne, ini aku, Kyu Jong,” jawabku.

Air mata menggenang di pelupuk matanya dan perlahan turun membasahi pipinya. Aku mencelos. Salahku tiba-tiba muncul dihadapannya. Ini semua gara-gara sniper sialan itu! Pikirku kesal. Kuraih wajahnya dan mengusap air matanya.

“uljima. Aku di sini,” ucapku lalu menariknya ke dalam dekapanku.

Ia membenamkan wajahnya dalam dadaku yang bidang, menumpahkan segala yang berkecamuk dalam hatinya. Hatiku miris melihatnya. Sebegitu rindunya kah dia akan diriku? Sebegitu kehilangannya kah dia akan diriku? Pikirku merasa bersalah.

Kukecup ujung kepalanya dan meletakkan daguku di sana untuk membuatnya tenang, kebiasaanku dengannya dulu. Kunikmati kembali sensasi ketika aku bersamanya dulu, tak ingin melepaskannya lagi. Begitu pula dengannya yang memelukku erat.

Sekilas aku mataku menangkap pantulan cahanya di ujung gang. Sebuah moncong pistol mengarah pada kami, pada gadisku. Sial! Sniper itu telah menarik pelatuk pistolnya. Tanpa pikir panjang aku segera memutar posisi sehingga peluru itu menembus tubuhku.

DOOR!

Dapat kurasakan timah panas itu merobek jantungku. Darahku keluar dari dada dan mulutku. Sesak. Jantungku terasa panas dan sakit. Kakiku lemas, aku berlutut dan membuatnya melepaskan pelukannya padaku. Ia menjerit histeris melihat keadaanku. Ia menangis dan berteriak meminta pertolongan.

‘kumohon jangan menangis,’ batinku.

“tteonajima, jebal~” pintanya. Aku tersenyum tipis dan menggeleng.

“j-jaga d-dirimu b-b-baik-b-baik..” ucapku dengan tenaga terakhir.

Aku memejamkan mataku perlahan. Inilah saatnya. Semoga dengan ini tak ada lagi yang mengancam keselamatannya. Mianhada, Hyun Joong hyung, aku tak dapat memenuhi permintaanmu. Samar-samar kudengar ia meraung-raung memanggilku, namun semakin lama suaranya menghilang dari pendengaranku. Gelap, sunyi, dan kosong.
=FIN=

.entah apa yg ada di otakku hingga tega melakukan pembunuhan karakter~
.pada oppa tercintaku pula~
.huwaa~ T__T
*nulis2 sndiri, nangis2 sndiri ==”*

.yeah ,
.as usual ,
.leave comments or not ,
.I still say thanks for reading .🙂

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: