Beranda > fanfiction, ficlet, whyenda_arinka > [Ficlet] Second Chance

[Ficlet] Second Chance

Length : Ficlet [1355 words]
Genre : Romantic, Angst
Rating : G
Cast : Lee Hyuk Jae (Eunhyuk) Super Junior, Kim Yoonri

Disclaimer : I don’t own Lee Hyuk Jae, he’s belongs to himself. Also Kim Yoonri, she’s my friend and she belongs to herself. But I do own this story, so please don’t sue me.

===========
(Yoonri’s POV)

Aku berlari di lorong yang gelap ini, seolah lorong ini tanpa ujung. Aku terus berlari tanpa kutahu untuk apa dan untuk mengejar siapa. Yang ada di pikiranku hanyalah lari. Lari, lari, dan lari.

Tak jauh dari posisiku saat ini, muncul sesosok namja dengan setelan putih-putih. Kulitnya putih pucat. Aku tahu sosok itu. Eunhyuk.

“Eunhyuk!” teriakku memanggilnya.

Ia menoleh. Matanya nyalang, wajahnya pucat. Aku berhenti seketika, bergelut dengan pikiranku sendiri. Apakah aku menghampirinya, atau justru menjauh?

Baru saja aku hendak menghampirinya, ia telah berbalik dan pergi. Tunggu, ia tak berjalan. Melainkan, melayang? Kakinya bahkan tak menapak tanah sama sekali! Aku menatapnya ngeri. Apakah aku masih mau menghampirinya?

Namun aku takkan bisa keluar dari sini bila aku tak menghampirinya. Aku pun berlari lagi, mencoba mengejar Eunhyuk.

“Eunhyuk!” panggilku lagi.

Ia tak merespon dan tetap menjauh dariku. Semakin lama ia semakin menjauh hingga akhirnya menghilang dari pandanganku.

“Eunhyuk!” panggilku lagi, berharap ia tiba-tiba muncul di hadapanku.

“Eunhyuuuuk~!!!” teriakku.
*
“Eunhyuuuuk~!!!” teriakku.

Aku bangun dan segera terduduk. Aku menoleh kesekitarku. Ruangan dengan nuansa putih pink. Langit-langit putih. Cahaya lampu yang terang. Kamarku.

Aku menghela nafas panjang dan mengusap wajahku. Menyeka keringat yang mengucur di dahi dan leherku.

Mimpi. Itu cuma mimpi. Pikirku lega.

“gwenchana?” tanya sebuah suara.

Aku menoleh dan mendapati Eunhyuk telah duduk di sampingku, di tepi ranjangku. Aku mengangguk dan tersenyum tipis.

“kau mengigau namaku sedari tadi,” ucapnya. Aku terdiam.

“mimpi buruk?” tanyanya. Aku mengangguk.

“emm.. Tentangku?” tanyanya lagi. Aku menghela nafas panjang.

“ceritakan!” pintanya.

Aku menarik nafas sebentar dan membuangnya perlahan kemudian menceritakan mimpi burukku tadi dengan sangat rinci.

“suatu saat aku juga akan pergi, Yoonri-ah. Cepat atau lambat,” ucapnya.

Hening. Aku tahu ia akan pergi secepatnya dariku. Dan aku tak kan pernah bisa mencegahnya, sampai kapan pun.

Eunhyuk adalah roh. Ia terpisah dari tubuhnya ketika kecelakaan. Ia koma saat ini. Belum tentu apakah ia hidup atau mati.

“tapi ada kemungkinan kau masih bisa hidup kan?” tanyaku cemas.

“sekalinya ada, aku tak janji masih mengingatmu. Ingatanku selama menjadi roh akan dihapus,” jawabnya lesu.

Hening kembali menyelimuti. Aku dan Eunhyuk tenggelam dalam pikiran masing-masing.

“masih jam 2, kau tidurlah lagi,” ucapnya kemudian.

Aku mengangguk dan membaringkan diriku di kasur. Kutarik selimut menutupi tubuhku.

“annyeonghi jumuseyo,” ucap Eunhyuk sambil tersenyum.

“annyeong,” balasku lalu memejamkan mataku.
*
“Eunhyuk-ah, kau tahu di mana tubuhmu sekarang?” tanyaku padanya ketika di bus saat berangkat sekolah.

“kalau aku tahu pun, tak kan kuijinkan kau melihatku,” jawabnya.

Aku menggembungkan pipiku kesal. Dasar Eunhyuk! Kan kalau aku tahu tubuhnya berada di mana, aku bisa menemuinya bila rohnya ini sudah kembali ke tubuhnya. Gerutuku dalam hati.

“kau jelek kalau cemberut! Hhaha!” celetuk Eunhyuk diiringi tawa yang membuatku semakin menggembungkan pipiku sebal.

“kau jahat!” ucapku sebal.

“ssst! Kau bisa dikira orang gila karena berbicara sendiri! Hhahaha,” desisnya.

Aku memalingkan pandanganku ke jalanan. Eunhyuk selalu saja begini, membuatku sebal. Ingin rasanya aku melayangkan pukulan ke kepalanya atau sekedar menyubitnya. Tapi itu percuma, karena ia hanyalah roh. Tak dapat disentuh tapi bisa dilihat dan dirasakan kehadirannya. Walaupun hanya beberapa orang saja yang bisa merasakan kehadirannya.

“sampai, kau mau turun atau tidak?” tanya Eunhyuk yang membuatku menoleh ke arah pintu bus yang terbuka lebar.

Aku mengangguk dan beranjak dari dudukku diikuti Eunhyuk. Ketika aku akan berjalan menduluinya, bahuku menyenggol bahunya dan membuatku terjatuh.

Beberapa penumpang menahan tawanya, tapi tidak denganku. Aku meringis kecil dan berdiri. Aku mendelik pada Eunhyuk dan berjalan keluar sementara ia mematung. Seolah ada yang menahannya. Aku menatapnya dengan penuh tanda tanya dari halte hingga akhirnya ia buru-buru keluar melewati pintu bus.

Aneh. Biasanya ia memilih melewati deretan orang dan menembus dinding bus untuk keluar. Lebih mudah, begitu katanya. Tapi kenapa sekarang melewati pintu bus?

“Yoonri,” panggil Eunhyuk.

Aku menoleh, menatapnya aneh. Entah kenapa, di mataku ia tak seperti roh seperti hari-hari kemarin. Hari ini ia terlihat agak.. Padat? Entahlah.

“Ya! Yoonri! Aku memanggilmu!” teriaknya membuyarkan lamunanku.

“eh, ne?” tanyaku yang membuat beberapa orang menoleh padaku.

Buru-buru aku berjalan diikuti Eunhyuk. Berusaha tak menghiraukan tatapan aneh orang-orang.

“Yoonri-ah, apa kau merasa ada yang aneh padaku?” tanya Eunhyuk.

“entahlah, tapi aku merasa kau sedikit beda,” jawabku seadanya sambil lalu.

Jujur saja, aku merasa tak yakin dengan apa yang kupikirkan tadi. Tapi apabila itu semua benar, apa yang akan terjadi pada Eunhyuk? Apa ia akan hidup kembali?

Membayangkannya membuatku senang. Tentu karena aku dapat bertemu dengan Eunhyuk dalam versi manusia hidup. Tapi entah mengapa, sebagian hatiku merasa sedikit sedih dan.. Kehilangan?

Lamunanku terbuyar kembali ketika kurasakan sebuah tangan menahan bahuku, membuatku berhenti. Aku menoleh ke belakang dan mendapati Eunhyuk tengah meletakkan tangannya di bahuku. Mataku membulat, jantungku berpacu cepat.

“E-Eunhyuk?” panggilku kaget.

“kau lihat?” tanyanya. Aku mengangguk kecil.

“apa maksudnya ini?” tanyaku.

Ia melepaskan tangannya dari bahuku. Ia menunduk membuatku merasakan sesuatu yang tak enak.

“Eunhyuk, katakan,” desakku.

Ia menghela nafas panjang sebelum akhirnya berbicara, “aku akan pergi,” ia berhenti sejenak. Seolah susah untuk mengatakannya.

“sebentar lagi,” lanjutnya lesu.

Aku membulatkan mataku, tak percaya akan apa yang ia ucapkan. Sebentar lagi, ia akan.. Pergi?

“apa itu artinya kau akan hidup kembali?” tanyaku lirih. Ia mengangguk.

Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Perlahan bibirku tertarik, menyunggingkan sebuah senyuman. Senyuman terpaksa.

“chukkae,” ucapku. Ia hanya diam.

“aku akan pergi, Yoonri,” ucapnya lagi.

“sekarang?” tanyaku dan ia mengangguk. Perlahan tubuhnya seakan tertarik kebelakang. Aku terkejut.

“tunggu dulu! Kau belum memberitahuku di mana tubuhmu dirawat!” teriakku berusaha mengejarnya.

“selamat tinggal, Yoonri-ah. Saranghae,” ucapnya.

Aku terus mengejarnya namun sia-sia. Ia seakan menghilang bersama hembusan angin. Aku memelankan lajuku dan terduduk di trotoar. Tak kupedulikan tatapan orang yang sedari tadi melihatku dengan tatapan aneh.

‘saranghae,’ ucapannya tadi seakan terngiang di telingaku.

Kurasakan jantungku berdetak cepat mengingatnya. Apakah aku juga menyukainya? Pabbo! Kenapa baru sekarang aku merasakannya? Kenapa baru sekarang aku menyadarinya? Eunhyuk pabbo! Kenapa baru mengatakannya di saat-saat seperti ini!? Rutukku dalam hati.

Bulir air mata turun dari kedua mataku, membasahi seragamku. Aku menunduk, masih merutuki diriku sendiri. Kuseka air mataku dan bangkit.

“na do saranghae, Eunhyuk-ah. Semoga kita dapat bertemu kembali,” ucapku lirih.
*
Seminggu setelah kepergian Eunhyuk, aku merasa sangat hampa. Rasanya tak pernah ada lagi senyum ceria di wajahku. Aku selalu merasa kesepian, padahal aku memiliki banyak sekali teman di sini.

Teeeet.. Teeet..
Bel berbunyi 2 kali, pertanda sudah waktunya jam pelajaran di mulai. Aku menghela nafas. Rasanya semangatku hilang semua, menguap terbang bersama angin.

Teman-teman sekelasku mulai berdesakkan masuk ke kelas dan duduk di bangkunya masing-masing. Diikuti oleh wanita paruh baya dengan setelan rapi, Kim songsaenim.

“annyeong haseyo, haeksaengdeul,” sapa Kim songsaenim.

“annyeong, seenim,” balas kami serempak.

“pagi ini, kalian mendapatkan teman baru. Pindahan dari Busan,” ucap seenim.

Hampir seluruh murid di kelasku ini ribut mempermasalahkan anak baru itu. Tentu saja kecuali aku, diam tak bergeming.

“ya, haeksaeng, diam sebentar. Biarkan ia masuk dan memperkenalkan diri,” ujar seenim sambil menepuk-nepukkan tangannya membuat seluruh murid terdiam.

“baiklah, ayo masuk, nak,” tambah seenim mempersilahkan anak baru itu masuk ke kelas.

Seorang namja berjalan memasuki kelas dengan senyum mengembang. Wajahnya imut, hidungnya mancung, bibirnya mungil dan merah. Seluruh siswi di kelasku kini menatapnya dengan kagum, termasuk aku. Bukan karena ketampanannya, tapi wajahnya, postur tubuhnya, segalanya, sangat familiar di mataku.

Mataku terus mengikuti langkahnya. Ia berdiri di depan kelas dengan senyum manisnya. Tanpa sadar, aku menyunggingkan senyuman di bibirku. Senyuman itu senyuman yang dulu mewarnai hariku, senyuman yang dulu menghiasi mimpiku, membingkainya menjadi mimipi yang indah, juga senyuman yang sangat kurindukan.

“annyeong haseyo, joneun irumun Lee Hyuk Jae imnida. Panggil saja Eunhyuk, bangapseumnida,” ucapnya lalu membungkuk.

Benar. Dialah Eunhyuk-ku. Eunhyuk yang kurindukan. Ia kembali. Kembali dalam hidupku.

“baikalah, Eunhyuk-haeksaeng, kau bisa duduk di samping Yoonri-haeksaeng,” ucap seenim sambil merentangkan sebelah tangannya ke arahku.

Aku tersenyum lebar dan mengangguk. Eunhyuk juga tersenyum dan berjalan ke arahku lalu mengenyakkan dirinya di sampingku.

“annyeong Yoonri-ssi,” sapanya pelan.

“annyeong,” balasku sambil tersenyum dan kembali memperhatikan Kim songsaenim.

“emm, Yoonri-ssi?” panggilnya.

“ne?” tanyaku menolehkan kepalaku padanya.

“emm, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” tanyanya ragu.

Aku tersenyum senang. Setidaknya, ia mengingat wajahku. Ingin sekali aku berkata ‘ya’ tapi kuurungkan niatku, takut membuatnya bingung.

“uhm, entahlah.. Tapi kurasa aku pernah melihatmu,” jawabku seadanya. Ia hanya mengangguk.

“senang berkenalan denganmu, Yoonri-ssi,” ucapnya sambil tersenyum.

“na do,” ucapku membalas senyumannya.

Dalam hati aku berjanji akan membuatnya mengingatku, setidaknya rasa yang pernah ia rasakan padaku.
=FIN=

.ini FF request temenq ,
.bgaimana chingu ?
.jelek yah ?
.jeongmal manhaeyo~

  1. 29 Agustus 2010 pukul 4:19 pm

    annyeong, reader baru di sini. seneng deh ada unyuknya hehe
    ceritanya bagus, rapi. berarti hyuk ma yoonri mulai dari awal dong ya? kereeen~

    • 7 September 2010 pukul 11:52 am

      selamat datang~😀
      yup begitulah, yoonri sama eunhyuk mulai lagi dari awal.😀
      .makasih udah mau baca and comment😀

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: