Beranda > fanfiction, ficlet, whyenda_arinka > [Ficlet] The Difference

[Ficlet] The Difference

Length : Ficlet [1969 words]
Genre : Romantic, Angst
Rating : PG-15
Cast : Choi Sooyoung SNSD, Cho Kyuhyun Super Junior

Disclaimer : I don’t own the cast, but I do own this story. This is just a fanfiction made by me, so please don’t sue me. And DO NOT bashing here, please! If you don’t like, just DON’T read!

============
(Sooyoung’s POV)

Perbedaan..
Sebagian besar orang berkata perbedaan itu indah
Perbedaan itu bisa saling melengkapi
Namun tidak bagiku
Perbedaan itu
Seperti hitam dan putih
Seperti minyak dan air
Tak dapat disatukan

*
“sekali appa bilang tidak, tetap tidak!”

“tapi, appa..”

“TIDAK! Atau kau harus menerima akibatnya!”

“uh!”

Segera aku berbalik dan meninggalkan ruang kerja appaku, membanting dengan keras pintunya. Aku tak peduli lagi dengan teriakan appa yang mencaci makiku dari ruang kerjanya. Kenapa appa selalu melarangku? Demi kebaikanku. Cih! Kebaikan macam apa itu?

Aku melangkahkan kakiku memasuki kamar lalu menutup pintu dan menguncinya. Kurebahkan diriku di atas kasur. Aku menghela nafas panjang. Melarikan tanganku ke keningku dan memijitnya pelan. Kepalaku terasa sakit mengingat kenyataan yang kuterima. Namun sakitanya kepalaku tak dapat menandingi sakitnya hatiku.

Cho Kyuhyun. Nama itu muncul di otakku. Seseorang yang baik dan pengertian. Seseorang yang selalu ada saat aku senang dan sedih. Seseorang yang membuatku jatuh hati akan parasnya, suaranya, tingkah lakunya, serta kebaikan hatinya. Seseorang yang telah mengisi hari-hariku belakangan ini. Mengisinya dengan kenangan manis.

“Sooyoung,”

Aku yakin itu omma. Ia mengetuk pintu kamarku, memintaku membukanya. Huh, buat apa? Toh omma akan membujukku untuk menuruti kemauan appa dan menerima keputusannya. Tentunya dengan embel-embel ‘demi kebaikanku’. Cih! Kebaikan macam apa?

Tak kuhiraukan ketukan serta panggilan omma. Aku berbalik menghadap tembok dan memejamkan mataku. Aku tak ingin mendengar hal-hal yang lain. Air mataku mengalir membasahi pipiku. Aku benci ketika segala keputusanku ditentang appa. Aku benci ketika omma pun menentang keputusanku. Selama ini aku tak pernah meminta sesuatu dari appa atau pun omma. Mereka yang selalu memintaku menjadi ini dan itu. Mereka yang selalu memaksaku untuk menuruti mereka. Dan aku? Aku selalu memenuhinya.

Ketika aku tak dapat melakukan pekerjaan rumah dengan baik, omma akan memarahiku. Mengatakan aku tak pernah becus sebagai seorang perempuan. Dan aku hanya diam, berusaha melakukan yang terbaik. Tapi nyatanya, selalu saja ada yang salah dalam pekerjaanku.

Begitu pula dengan appa. Ketika nilai matematikaku memburuk, appa akan memarahiku. Menghinaku yang tak mampu mendapatkan nilai maksimal untuk mata pelajaran semudah itu. Sekali lagi, aku diam. Aku berusaha semampuku, namun aku juga memiliki batas. Nilaiku tetap saja tak bisa mendekati maksimal, paling baik hanya angka nol yang ditumpuk dua.

Aku terus dan terus berusaha tanpa menuntut apapun, mengingat aku tak bisa menjadi yang mereka inginkan. Walaupun begitu, mereka selalu memberiku fasilitas lebih. Kupikir mereka memberikannya secara percuma, namun kenyataannya tak seperti pikiranku. Mereka memberikanku fasilitas lebih agar aku mau menuruti keinginan mereka. Mereka memperlakukanku seperti aku budak mereka, walaupun mereka tak bermaksud seperti itu.

Hidupku selalu dituntut untuk menjadi seperti ini dan seperti itu. Mereka sering berkata bahwa tak ada manusia yang sempurna dalam setiap bidang, lalu mengapa mereka selalu menuntutku untuk sempurna dalam hal ini dan itu? Mereka bilang, setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan. Lalu kenapa mereka tak bisa menerima kekurangan dalam diriku? Semakin lama aku semakin muak mendengar kata-kata itu.

Aku hanya ingin menari dan menyanyi. Kenapa mereka menentangku? Aku selalu merasa menjadi orang lain. Aku ingin menjadi diriku sendiri, tapi apa? Mereka justru menghinaku. Aku tak pernah bisa menjadi diriku sendiri.

Hingga suatu hari aku menemukannya, menemukan Cho Kyuhyun. Seseorang yang bisa membuatku menjadi diriku sendiri. Seseorang yang mau menerima aku apa adanya. Seseorang yang menerima kekuranganku dan mengagumi kelebihanku. Seseorang yang menyayangiku dengan segala yang ada dalam diriku.

Aku mengenalnya saat pesta dansa dua bulan lalu. Awalnya aku menolak untuk datang, namun appa dan omma memaksaku. Dan lagi-lagi, aku hanya bisa menurutinya, datang ke pesta itu walau akhirnya aku hanya diam saja.

Di tengah-tengah pesta itu, aku memilih menyendiri di taman yang terletak di belakang ruang pesta. Dan di sanalah aku bertemu dengannya, dengan Cho Kyuhyun. Kami hanya berkenalan singkat dan berjanji untuk bertemu lagi di lain waktu.

Dan setelah pertemuan singkat itu, kami sering bertemu. Saling mengisi hari satu dengan yang lain. Berbagi cerita, berbagi pengalaman, serta berbagi impian. Hingga akhirnya kami mengetahui sebuah ‘pertentangan’ pada kami. Pada kondisi keluargaku dan keluarganya yang selalu menjadi rival.

Walau begitu, itu tak membuat pertemanan kami hancur. Kami justru semakin dekat dan berusaha menutupi hubungan kami. Hingga akhirnya aku menyadari sesuatu yang beda ketika aku bersamanya. Rasa nyaman yang selalu kurasakan, rasa tenang, aman, dan damai yang tak pernah kudapatkan. Juga rasa untuk memilikinya.

Namun suatu hari, keluarga kami mengetahui hubungan kami. Mereka menentang keras walaupun hubungan kami hanyalah sebatas teman. Aku berusaha membujuk appa dan omma, namun nihil. Aku terus meminta dan memohon agar kami tetap berteman. Ini adalah pertama kalinya dalam hidupku meminta sesuatu pada appa dan omma. Namun nihil.

Drrrt.. drrt..
Handphoneku bergetar berulang-kali. Sebuah panggilan masuk. Kyuhyun. Segera kuraih handphoneku dan menempelkannya ke telingaku.

“Sooyoung-ah, gwenchanayo?”

Terdengar suaranya yang khawatir di seberang sana. Entah kenapa, ia selalu tahu akan keadaanku yang tengah senang maupun sedih tanpa harus bertatap muka ataupun mendengar suaraku. Seperti ikatan batin, memang. Dan itu membuatku bahagia, sangat bahagia.

“mwo? Memang aku kenapa?” tanyaku bingung.

“kau menangis,”

Sesaat air mataku kembali tumpah. Bagaimana mungkin seseorang seperti Kyuhyun yang jelas-jelas bukan keluargaku, bukan temanku sejak kecil, mengetahui tentang keadaanku melebihi siapapun. Bahkan baru belakangan ini aku mengenalnya.

“uljima,”

Ucapannya benar-benar membuatku merasa semakin perih. Saat bersamanya aku selalu bisa merasakan sebuah perhatian yang tulus. Perhatian yang selalu kuinginkan dan kuharapkan. Perhatian yang tak pernah bisa kudapatkan selain darinya.

“a-aniyo,” elakku.

“jangan berbohong, Sooyoung-ah,”

Aku menggigit bibir bagian bawah. Aku tak pernah bisa bohong padanya. Ia selalu mengetahui bila aku menyembunyikan sesuatu darinya. Ia seperti bisa membaca pikiranku. Atau mungkin mengetahui jalan pikiranku.

“kutunggu di tempat biasa,”

Ucapnya kemudian lalu memutuskan sambungan telepon. Ia tahu aku membutuhkan seseorang di sampingku untuk menangis. Ia hampir mengetahui segala kebiasaanku. Dan hanya padanyalah aku bisa terbuka, menceritakan perasaanku.

Segera aku bangkit dari tidurku dan bersiap-siap. Mengambil hoodie hitamku dan topi hitam polos kesayanganku. Aku selalu membawa kedua barang itu ketika menemui Kyuhyun untuk menutupi identitasku. Appa memiliki banyak mata-mata, setidaknya dengan begini akan memperkecil kemungkinan aku tertangkap ketika menemui Kyuhyun.

Setelah kurasa semua siap, aku melangkah menuju jendela kamarku dan melongokkan kepalaku keluar. Memastikan keadaan aman lalu melompat keluar dengan hati-hati. Aku berhasil mendarat dengan sempurna tanpa menimbulkan suara yang mencurigakan. Dengan langkah mengenda-endap, aku mencapai pintu belakang dan berlari sekencang-kencangnya meninggalkan rumahku menuju sebuah taman sepi di belakang komplek perumahanku. Tempat aku dan Kyuhyun biasa bertemu.

Semakin mendekati taman, bisa kulihat punggungnya yang tengah duduk memeluk lututnya membelakangi jalan setapak menuju taman ini. Ia memakai hoodie yang sama denganku serta topinya.

Tiba-tiba pikiran jahil melintas di otakku. Aku pun berjalan mengendap-endap di belakangnya. Mendekatinya dengan hati-hati untuk mengagetkannya. Belum genap lima langkah, ia sudah mengeluarkan suaranya yang indah.

“aku tahu kau ada di belakangku, Sooyoung,” ucapnya santai.

Aku langsung terdiam di tempatku dengan sebuah senyuman mengembang. Sekali lagi ia mengetahui apa yang akan kuperbuat. Ia memutar punggungnya menatapku dengan senyumannya. Aku segera menghambur padanya. Mencium bau tubuhnya yang sudah menjadi candu bagiku. Merasakan kehangatan yang selalu kurindukan, sekalipun baru lima menit kami berpisah. Aku melepas dekapanku dan menatapnya.

“dari mana kau tahu aku berada di belakangmu?” tanyaku sebal.

“aku selalu tahu apapun tentangmu, ingat?” jawabnya.

Aku menggembungkan pipiku kesal mendengar jawabannya, walaupun sebenarnya aku sangat senang masih memiliki seseorang yang benar-benar mengertiku. Ia tergelak melihatku menggembungkan pipiku. Dengan gemasnya ia mencubit kedua pipiku membuatku meringis kesakitan. Namun sedetik kemudian tawa kami lepas begitu saja. Bahkan hanya dengan hal sekecil ini, kami bisa tertawa lepas.

Namun kemudian, ia terdiam menatapku. Membuatku menghentikan tawaku dan salah tingkah. Ia menatapku dengan tatapan menyelidik. Aku mengerti arti tatapan ini. Ia berusaha menelusuri mataku, mencari kesedihan di dalamnya. Dan aku selalu tak bisa menghindari tatapan itu. Tatapan itu selalu membuatku lemah dan menumpahkan air yang selalu kupendam.

Ia meraihku dalam dekapannya. Menenggelamkan kepalaku dalam dadanya yang bidang. Membiarkanku menangis dalam diam, membiarkan emosiku keluar bersama air yang terus mengalir dari mataku. Ia mengelus punggungku lembut, berusaha menenangkanku. Namun hal itu justru membuatku semakin terisak.

“sudahlah, Sooyong,” ucapnya lirih.

Aku menggeleng. Apa maksudnya dengan ‘sudahlah’? Ia memintaku untuk menerima keputusan yang ada? Aku tak mau. Aku tak mau kehilangan seseorang sepertinya. Aku tak ingin kehilangannya, hanya ia satu-satunya yang berharga yang kumiliki.

“Sooyoung-ah, kau tahu kan kalau air dan minyak tak dapat disatukan?” tanyanya.

“tapi kita bukan air dan minyak!” sanggahku.

“Sooyoung..”

“sirho!”

Ia menghela nafas sementara aku semakin terisak. Dadaku sesak membayangkan hariku tanpanya, tanpa perhatiannya, tanpa suaranya. Pastilah hampa dan kosong. Membayangkannya membuatku semakin takut, takut bila aku kehilangannya. Aku tak ingin kehilangannya, sekalipun nyawaku taruhannya.

Ia melepas dekapannya dan meraih wajahku. Mengusap air mataku dengan kedua jempolnya. Memegang wajahku dengan erat, seolah tak ingin kehilangan diriku. Sama sepertiku yang tak ingin kehilangannya.

“Kyuhyun-ah, aku tetap tak bisa menerima keputusan ini!” ucapku kukuh.

Ia kembali menarikku dan memelukku erat, seolah menahanku untuk tak pergi. Begitu pula denganku yang memeluknya erat, seolah tak ingin ia pergi dariku. Jika boleh, aku ingin sekali waktu berhenti saat ini juga. Membiarkan kami tetap bersama seperti ini. Namun aku tahu, itu hanyalah sebuah keinginan. Keinginan yang tak mungkin menjadi nyata.

Sekilas kulihat bayangan bersembunyi di balik pohon yang berjarak lima meter dari kami. Aku memicingkan mataku untuk melihat lebih jelas. Seseorang tengah berdiri dari balik pohon dengan setelan jas hitam serta kacamata hitam bertengger di hidungnya. Ia terlihat mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Benda berwarna hitam, pistol, dan mengarahkan moncongnya pada kami. Tepatnya pada Kyuhyun. Dan ia tak menyadari aku tengah memperhatikannya karena mataku tertutup topi.

Aku menggigit bibirku, bingung dengan keadaan yang seperti ini. Apa yang harus kulakukan? Tubuhku kaku seketika sementara mataku terus mengawasinya. Ia menarik pelatuk pistolnya lalu melepasnya. Dengan segera aku berbalik, membuat posisiku dan Kyuhyun tertukar.

Sebuah timah panas menyentuhku, membakar kulit tubuhku dan merobek paru-paruku. Membuatku tak sanggup bernafas karena paru-paruku telah bocor. Bisa kurasakan darah mengalir dari sudut bibirku. Aku berusaha mengambil nafas sebanyak yang kubisa. Setidaknya untuk mengucapkan salam perpisahan.

“K-Kyuhyun,” panggilku.

Dengan segera Kyuhyun melepas pelukannya, membuat kakiku yang lemas tak dapat menopang tubuhku yang terjatuh. Namun Kyuhyun menahan tubuhku dengan tatapan kaget. Aku berusaha tersenyum.

“Sooyoung-ah! Ada apa denganmu?” tanyanya panik.

Aku menyentuh bibirnya dengan telunjukku. Memintanya diam untuk sesaat.

“s-saranghaeyo.. a-and g-g-good b-bye,” ucapku untuk terakhir kalinya.

Kututup mataku perlahan. Samar-samar kudengar Kyuhyun meneriakkan namaku berkali-kali dan membalas ucapanku. Hingga akhirnya suara itu menghilang dari pendengaranku. Satu yang kutahu, aku tak pernah tersadar lagi setelah itu.
*
(Aouthor’s POV)

Sooyoung segera berbalik, membuat posisinya dan Kyuhyun tertukar. Tepat setelah itu, sebuah timah panas menembus tubuhnya, mebocorkan paru-parunya. Ia terlihat kesusahan bernafas, mencoba mengambil oksigen sebanyak-banyaknya sementara darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Kyuhyun merasa aneh mendengar Sooyoun yang kesusahan bernafas.

“K-Kyuhyun,” panggil Sooyoung terbata.

Segera Kyuhyun melepas dekapannya dan membuat Sooyoung kehilangan keseimbangan. Beruntung Kyuhyun sempai meraih pinggang gadis itu. Wajahnya panik ketika melihat darah mengalir dari sudut bibir Sooyoung. Namun gadis itu justru berusaha tersenyum.

“Sooyoung-ah! Ada apa denganmu?” tanya Kyuhyun panik.

Namun Sooyoung menjulurkan telunjuknya hingga menyentuh bibir Kyuhyun. Memintanya diam sebentar.

“s-saranghaeyo.. a-and g-g-good b-bye,” ucap Sooyoung dengan susah payah.

Dan setelah itu, Sooyoung menutup matanya perlahan. Membuat Kyuhyun panik dan mengguncangkan tubuh gadis itu.

“Sooyoung-ah! Bertahanlah! Sooyoung! Na do saranghae! Tolong jangan tinggalkan aku! Sooyoung!” panggil Kyuhyun putus asa.

Namun usahanya untuk membangunkan Sooyoung gagal. Gadis itu sudah tak bernyawa. Gadis itu telah meninggalkannya untuk selamanya. Kyuhyun mengecup kening Sooyoung lalu mengecup matanya.

“selamat tinggal, Sooyoung. Semoga kau damai di sana,” ucap Kyuhyun.

Ia meletakkan tubuh Sooyoung di tanah dengan hati-hati dan menyadari tangannya di penuhi darah Sooyoung. Ia terkejut dan menyadari bahwa Sooyoung telah di tembak. Kyuhyun juga menyadari bahwa Sooyoung berusaha menyelamatkan dirinya.

Ia hendak berbalik untuk mencari orang yang telah menembak Sooyoung ketika sesuatu menyentuh pelipisnya. Dingin. Ia menengok dan mendapati seseorang menempelkan moncong pistolnya tepat di pelipis kirinya. Orang itu sama dengan orang yang dilihat Sooyoung. Senyuman licik mengembang di bibirnya.

“say good bye,” ucapnya.

Sedetik kemudian, Kyuhyun roboh dan tergeletak tanpa nyawa tepat di samping jasad Sooyoung. Orang itu tersenyum penuh kemenangan. Dengan santainya, ia melenggang pergi meninggalkan jasad Kyuhyun dan Sooyoung di sana.
=FIN=

.di sini aq bermain-main dengan perasaannya Sooyoung onnie(?) ,
*plak*
.ga tau dapet inspirasi dari mana , =.=”
.asal ketik ,
.setelah dibaca ulang ,
.ternyata nyerempet cerita apa gitu~
*author pelupa parah* =.=”
.maaf kalo gada yg suka ,
.ini juga keisengan semata . =.=”
.kalo ga suka ama castnya ,
.jangan bashing ya .

.thanks for reading .🙂

  1. coco_kyuhyun
    31 Desember 2010 pukul 6:56 pm

    Annyeong ^^ *lambai2 tangan*

    Omma Appa nya Soo jahat bgt T.T
    Kyu Punya Indra ke 6 ya ?? bisa tau apa aja tentang soo ._.
    Wihh.. Kyu n Soo Mati bareng2 (?)

    Nice FF😀

    • 4 Januari 2011 pukul 2:05 pm

      annyeong~😀

      hehehe. iyah. jahatnya ga ketolong(?) .__.

      Kyu? entahlah, coba tanyakan pada si empunya(?) *senggol2Kyu(?)* XDD

      thanks for reading and comment😀

    • 9 Januari 2011 pukul 12:08 am

      annyeong~😀

      iya nih~ jaaaaaaahat banget! /kicked😄
      Kyu? tanyakan pada yg punya nama .__. /seret Kyu😄

      thanks~😀

  2. 16 Juli 2011 pukul 3:57 am

    wuuuuaaahhh kyuyoung meninggal’a brg…

    so sweet bgt…kyk romeo juliet…

    jd terharu aku bca’a…..

    nice…. eon… *sok akrab
    kamsayo~

    • 22 Juli 2011 pukul 1:05 pm

      ehehe. kayak Romeo Juliet? masa sih? /ganyadar😄
      nde. makasih juga ya udah baca dan komen ^^

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: