Beranda > fanfiction, oneshot, whyenda_arinka > [Oneshot] my robots

[Oneshot] my robots

Length : Oneshot [2577 words]
Genre : angst, romantic
Rating : G
Cast : Kim Hyung Jun, YOU, Jun Hyung.

Disclaimer : I don’t own the casts but I do own this story, so please don’t sue me.

A/N : bayangkan Jun Hyung mirip dengan Hyung Jun ya!?😉

=============
(Your POV’s)

Robot..
Is a machine..
A machine that has been programed..
Programed to do something automatically..
They can do everything what you want..
They can look after you..
But they made by iron..
They’re cold..
They can’t give you warmness..
They can’t give you affectiom..
That just a little things you know about robots..
But how if a robot can give a warm smile to you?
How if a robot can make you comfort to them?
How if a robot can fall in love?
And how if a robot has fallen for you?
Just like you has fallen for it?

*
Aku terbangun dari mimpi burukku. Mimpi buruk tentang keluargaku. Tentang kehancuran keluargaku. Pembantaian tanpa ampun keluarga Young. Tembakan peluru. Sayatan pisau. Jeritan kesakitan. Tangisan. Semua bercampur jadi satu dalam otakku. Kenangan tersebut seakan menguak keluar dari dalam folder yang selalu kusimpan dengan rapi di otakku.

Perlahan butiran hangat dari kedua mataku turun membasahi pipi. Membuat sebuah garis aliran di kedua pipiku. Membasahi gaun tidurku. Aku terisak dalam keheningan pagi. Tenggelam dalam kesedihanku.

“sudah bangun?” tanya sebuah suara dari ambang pintu.

Aku mendongak dan mendapati seseorang berdiri di ambang pintu kamar kecil ini. Sebenarnya aku masih bingung harus memanggil apa terhadap seonggok besi didepan mataku ini. Ia tidak bisa dikatakan manusia. Ia hanyalah sebuah besi yang dirakit dan diprogram hingga menyerupai manusia. Namun terkadang aku tak rela menganggapnya hanyalah sebuah besi. Karena ia lah yang membantuku selamat dari kawanan pembunuh itu. Memberiku tempat berlindung. Membantuku berdiri dari keterpurukanku.

“mimpi buruk lagi?” tanyanya lagi.

Aku hanya mengangguk pasrah. Selama kurang lebih sebulan bersamanya, membuatnya tahu akan kerapuhanku. Bahkan, mungkin hanya ia yang mengetahui keberadaanku saat ini. Ia membantuku bersembunyi dari kawanan pembunuh itu.

“cepatlah bangun, sarapan sudah siap,” ucapnya.

“kau akan pergi lagi hari ini?” tanyaku.

“kau tahu jawabannya. Aku harus mencari keberadaan kawanan pembunuh itu,”

Hening. Memang setiap hari kerjanya hanya mencari data dan keberadaan kawanan pembunuh itu. Serta memastikan keadaanku aman. Entah siapa yang memprogramnya, yang kutahu hanyalah ia disuruh datang kepadaku dan menjagaku. Setiap kali kutanya, ia hanya diam saja seolah menutup rapat akan perihal ini.

“Jun Hyung, boleh aku ikut?” tanyaku hati-hati.

Ia menelengkan kepalanya dan menatapku tajam. Well, aku yakin sekali jawabannya adalah tidak. Tapi entah kenapa, aku bosan sendirian di sini tanpa siapapun. Aku ingin keluar, aku ingin melihat dunia luar setelah selama sebulan aku terasingkan di tempat ini. Walaupun ada Jun Hyung, tapi ia hanya berada di rumah ketika pagi hari aku terbangun dan setelah itu ia menghilang.

“jebal. Aku bosan sendirian di sini. Kau ingin aku mati saking bosannya menunggumu?” mohonku.

Ia terlihat menghela nafas panjang. Kadang aku sedikit merasa aneh melihatnya melakukan hal itu mengingat ia adalah sebuat robot. Tapi ia selalu berkata, untuk penyamaran. Well, ada benarnya juga. Kalau orang-orang diluar sana mengetahui ia adalah sebuah robot, mereka akan terkagum-kagum dan mengerumuninya terus. Yang lebih parah, kemungkinan ada yang pingsan.

“baiklah, kau boleh ikut,” ucapnya terlihat sedikit tidak rela.

Aku melonjak kegirangan di kasurku dan melompat kearahnya, menghambur dalam pelukannya. Dingin memang, namun bagiku justru terasa sangat nyaman. Ia selalu bisa membuatku merasa aman berada di sampingnya, berada dalam pelukannya.

“hei, tenanglah. Kau boleh ikut tentu saja dengan syarat,” ujarnya menenangkanku.

Aku tak peduli, syarat apapun itu akan kupenuhi asal aku bisa keluar dari apartemen kecil ini. Tentu saja dengannya. Kulepas pelukanku dan menatapnya senang.

“apapun syaratnya, aku terima!” seruku girang.

“bagus, menyamarlah sehingga tak ada yang mengetahui identitasmu,”

“siap laksanakan!” seruku lalu memberi hormat padanya.

Ia mengusap puncak kepalaku dan tersenyum. Aku membeku. Ini pertama kalinya ia tersenyum dihadapanku. Senyumnya manis dan hangat. Membuatku tanpa sadar ikut menyunggingkan senyuman dibibirku. Ia berlalu meninggalkanku yang masih terpaku akan senyumannya.

Dengan senyum simpul yang masih tersungging di bibirku, aku berbalik dan menutup pintu, menguncinya. Aku berjalan menuju kamar mandi yang terletak di dalam kamarku dan segera bersiap-siap.
*
“kita berangkat sekarang?” tanyaku setelah keluar dari kamarku dengan topi serta kacamata.

Ia menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki, membuatku cemas apakah penyamaranku ini berhasil atau tidak. Namun sedetik kemudian, sebuah senyuman tersungging membuatku ikut tersenyum senang.

“kkaja,” ajaknya lalu menarik tanganku meninggalkan apartement pengap ini.

Aku berjalan sejajar dengannya. Tangan kiriku mengapit lengannya yang dingin. Kami berjalan menyusuri keramaian kota, mataku tak berhenti memandangi keindahan kota ini. Aku tak tahu aku berada di mana sekarang. Asalkan aku dengan Jun Hyung, aku merasa sangat aman.

Kami hanya jalan mengitari pusat kota yang tidak terlalu ramai. Memasuki beberapa toko yang terdapat barang-barang lucu dan menarik perhatianku. Tentu saja, ia robot yang tidak memiliki rasa ketertarikan terhadap sesuatu, bukan?

“kau lapar?” tanya Jun Hyung.

Aku terdiam sejenak, mencoba merasakan apakah aku benar-benar dalam keadaan lapar atau tidak. Sebulan berada di apartement kecil nan pengap, ditambah Jun Hyung yang selalu meninggalkanku sendiri, membuatku jarang menghiraukan rasa laparku karena ditinggal dalam kesepian dan kekosongan.

Aku mengangguk kecil mengetahui perutku juga merasakan kelaparan. Lagi pula, aku belum sarapan tadi pagi.

Jun Hyung menarik tanganku menuju sebuah kedai ttokboki. Ia memesankan ttokboki serta sebuah minuman untukku. Aku hanya diam memperhatikannya berinteraksi dengan penjual ttokboki. Ia benar-benar terlihat seperti manusia. Entah apa yang akan dilakukan ahjussi penjual ttokboki itu bila mengetahui ia tengah berinteraksi dengan sebuah robot.

Aku tersenyum simpul membayangkannya. Hanya aku yang mengetahui bahwa ia hanyalah sebuah robot. Uhm, tentu saja sang penciptanya mengetahui hal itu. Tapi aku heran, mengapa ia terkesan menyembunyikan identitasnya? Apa salahnya aku mengetahui pencipta Jun Hyung? Apa salahnya aku mengetahui siapa orang yang telah menyelamatkan hidupku secara tak langsung? Jun Hyung kembali dengan sepiring ttokboki dan segelas teh hangat.

“makanlah,” ucapnya sambil mendorong piring dan gelas berisi makanan serta minuman.

Aku menatap menu dihadapanku dengan bingung. Bagaimana tidak? Hanya aku yang makan? Lalu ia?

“kau tak makan?” tanyaku bingung. Ia memejamkan matanya lalu menatapku tajam.

“aku bisa mati memakan makananmu. Aku beda denganmu, ingat?” ujarnya sedikit frustasi.

Aku nyengir mendengarnya. Aku lupa ia robot. Dan tentu saja makanan robot adalah aliran listrik, bukannya makanan seperti ini. Makanan ini justru membuatnya rusak. Aku berusaha menghabiskan makananku. Entah kenapa selera makanku hilang begitu saja.

Tiba-tiba aku merasa ingin membuang hajat. Kepalaku sibuk menoleh ke kanan dan ke kiri, berusaha mencari pintu dengan tulisan ‘toilet’. Satu lagi syarat agar aku bisa jalan-jalan dengannya hari ini, dilarang berinteraksi dengan siapapun kecuali ia, Jun Hyung. Dan dengan bodohnya aku menyetujuinya begitu saja. Sekarang baru kutahu akan susahnya tidak bisa berinteraksi dengan orang lain.

“toilet ada di belakang gedung,” ucap Jun Hyung membuatku menoleh padanya.

Aku tersenyum senang dan segera beranjak meninggalkannya menuju belakang gedung. Entah perasaanku saja atau memang benar, beberapa pasang mata seolah menatapku. Aku menundukkan kepalaku, berusaha menghindari kontak mata dengan salah satu dari mereka.

Tiba-tiba sebuah tangan menepuk bahuku pelan, membuatku menghentikan langkahku dan berbalik. Jun Hyung. Lega sekali mengetahui Jun Hyunglah yang menepuk bahuku. Aku tersenyum penuh kelegaan melihatnya.

“ayo kuantar,” ucap Jun Hyung singkat lalu menarik tanganku mengikutinya ke belakang gedung.

“Jun Hyung, menurutmu, apakah kita sedang diperhatikan?” tanyaku takut-takut.

Seketika Jun Hyung menghentikan langkahnya, membuatku menabrak punggungnya yang kokoh. Aku merintih dan mengusap keningku yang terasa memar. Benar-benar besi yang kokoh, batinku sambil terus mengusap keningku.

“Jun Hyung-ah, waeyo?” tanyaku bingung.

“lari,” ucapnya lirih.

“huh?”

“lari!” perintahnya mendorongku.

Ia mendorongku untuk berlari, namun otakku seolah tak mengerti jalan pikirannya yang terprogram untuk berpikir dengan cepat. Entah ia merasa tak sabar akan sikapku yang lambat, ia menarikku mengikutinya. Mau tak mau, aku harus ikut berlari mengikuti langkahnya yang panjang dan cepat.

Ia menarikku meninggalkan kedai makanan tadi, membawaku menembus keramaian kota. Ia berlari seolah dikejar sesuatu, membuatku ketakutan. Tapi aku tak mau kehilangannya, jadi aku terus berlari mengikutinya bak orang kesetanan.

Samar kulihat beberapa orang juga tengah berlari mengejar sesuatu di belakang kami. Mata mereka tertuju pada satu arah, aku dan Jun Hyung. Berbagai pertanyaan muncul di otakku. Apa yang tengah terjadi? Siapa mereka? Mengapa aku harus berlari? Mengapa Jun Hyung seolah menghindari mereka? Mengapa mereka menatapku dengan tatapan seolah ingin menerkamku? Ada apa ini?

“J-Jun Hyung-ah, w-waeyo?” tanyaku sambil berlari.

Jujur saja, aku capai berlari terus seperti ini. Nafasku telah memburu sekarang, jantungku berpacu cepat. Belum lagi otakku yang penuh akan pertanyaan tiada habisnya dan tanpa jawaban apapun. Hal ini membuatku sedikit frustasi.

“mereka pembunuh itu! Mereka menyadari identitasmu!” jawabnya.

Seketika kakiku berhenti berlari, membuat Jun Hyung ikut berhenti. Ia menatapku aneh, namun tak kuhiraukan. Kakiku terasa sangat lemas sekarang. Bukan hanya karena lelah, tetapi juga mendengar jawaban Jun Hyung barusan. Aku, aku tak pernah menyangka bahwa suatu saat nanti aku akan bertemu dengan mereka lagi. Dan sialnya, saat itu adalah sekarang.

“aish!” gerutu Jun Hyung melihatku seperti ini.

Jelas sekali bahwa wajahku sekarang memerah menahan air mataku. Jun Hyung sendiri terlihat frustasi melihat keadaanku. Jun Hyung segera menarikku untuk berlari lagi dan membuatku mau tak mau mengikutinya berlari menghindari kawanan itu.

Ia terus berlari dengan cepatnya, hingga aku kewalahan mengikuti langkahnya yang cepat. Ia terus berlari sambil menarikku mengikutinya. Genggaman tangannya sangat erat, seolah tak ingin kehilanganku. Ia terus menarikku mengikutinya berlari hingga sebuah stasiun kereta api.

“dengarkan aku. Kau harus ke Seoul secepatnya. Seseorang akan menjemputmu dengan nama Kim Hyung Jun, ingat Kim Hyung Jun! Dia berwajah sama denganku,” ucapnya cepat.

Aku mengangguk berulang kali mendengar ucapannya yang terdengar seperti perintah. Air mata masih membanjiri pipiku, memburamkan pandanganku.

“sudahlah, jangan menangis,” lirihnya lalu meraihku dalam dekapannya.

Aku semakin terisak dalam dekapannya. Ia mendekapku dengan erat seolah tak ingin melepasku. Seolah setelah ini, ia tak mungkin menemuiku lagi. Tunggu, dia menyuruhku apa?

“Jun Hyung, kau tak ikut?” tanyaku sambil melepas pelukannya.

Ia menggeleng pelan, membuatku mencelos. Kenapa ia tak ikut? Kenapa ia tak menemaniku? Bagaimana bila dalam perjalanan nanti aku bertemu dengan kawanan itu? Tangisku kini semakin hebat saja.

“uljima,” lirihnya mengusap air mata di pipiku.

“kenapa kau tak ikut?” tanyaku.

“aku akan mengecoh mereka,” jawabnya.

“bagaimana bila aku bertemu dengan kawanan itu di dalam kereta?” tanyaku khawatir.

“tak akan. Mereka tak tahu apa-apa tentang hubunganku dengan Hyung Jun,” jawabnya.

Aku diam saja menatapnya. Dalam beberapa saat lagi, aku akan pergi meninggalkannya. Meninggalkannya di saat aku mulai terbiasa akan dirinya. Di saat aku mulai nyaman berada di sampingnya. Di saat aku mulai menyayanginya.

Ia menggerakkan tangannya ke pelipis kanannya, seperti menekan sesuatu dan keluarlah sebuah microchip kecil dari sana. Ia menariknya keluar dan menyerahkannya padaku.

“berikan ini pada Hyung Jun. Sampaikan salamku padanya,” ucapnya.

“ta-tapi.. bagaimana denganmu, Jun Hyung-ah?” tanyaku panik.

“tak apa, biarlah mereka kesal hanya menemukan seonggok besi tak berguna,” jawabnya sambil menyunggingkan senyuman hangatnya tadi pagi.

Air mata kembali mengalir dari kedua bola mataku. Namun ia tersenyum menatapku. Senyuman yang hangat. Senyuman yang indah. Tepat setelah itu sebuah kereta melintas dibelakangku yang kebetulan rel kereta.

Aku masih terpaku sementara orang-orang di belakangku berebut masuk ke dalam kereta. Kakiku seolah tak ingin digerakkan. Hatiku menolak pergi meninggalkannya di sini.

“pergilah,” ucap Jun Hyung lalu membalikkan badanku.

“saranghae,” ucapnya lalu mendorongku memasuki gerbong kereta.

Aku terkejut akan ucapan terakhirnya. Aku berbalik tepat saat kereta mulai berjalan. Aku berpegangan kuat pada sisi kereta, mencoba menopong tubuhku. Aku melihatnya yang melambai padaku, melepas kepergianku dengan senyuman manis.

Berbanding terbalik denganku yang justru menangis sedih. Membuat pandanganku buram. Samar kulihat ia berlutut dan terjatuh. Aku menggenggam erat microchip pemberian Jun Hyung. Aku tahu, ini adalah nyawanya. Bila microchip ini diambil dari tubuhnya, maka ia tak dapat hidup layaknya manusia. Ia tak lebih dari sebuah besi.

Aku semakin terisak. Kini stasiun itu sudah tak terlihat lagi dari pandanganku, begitu pula dengan Jun Hyung. Aku menyandarkan punggungku dan merosot. Kakiku tak sanggup menopang berat tubuhku lagi. Air mata mengalir semakin deras dari kedua mataku.

Aku terus menangis di pinggir pintu kereta hingga seorang masinis menyuruhku masuk. Ia membantuku duduk di salah satu kursi dan memberiku air mineral untuk menenangkanku. Aku tahu hampir setiap pasang mata kini menatapku. Aku tak peduli. Apa yang tengah kurasakan serasa de ja vu. De ja vu kehilangan seseorang.
*
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam yang kuhabiskan dengan menangis, akhirnya kereta ini berhenti di salah satu stasiun di Seoul. Aku hanya diam saja di kursiku hingga gerbongku kosong, barulah aku beranjak meninggalkan kereta.

Aku berusaha keras menata hatiku untuk memulai hari baru lagi. Memulai kembali sebuah lembaran baru di ibukota Korea Selatan, Seoul. Yang kutahu, kali ini tak akan mudah seperti sebelumnya. Mengingat aku telah kehilangan satu-satunya penyelamat hidupku. Kini aku benar-benar sebatang kara, tanpa siapapun.

Aku menuruni gerbong dengan pandangan berkeliling, menyusuri setiap sudut stasiun yang bersih ini. Aku tersenyum kecut. Tak yakin akan diriku yang lemah ini, mampu memulai sebuah lembaran baru di kota semewah dan secanggih ini.

Saking asiknya aku memperhatikan setiap sudut dari stasiun ini, aku sampai tak sadar seseorang berjalan mendekatiku dan menungguku selesai menikmati keindahan stasiun ini.

“kau akan melihat yang lebih hebat dari ini bila kau keluar dari stasiun ini nantinya,” ucap seseorang di telingaku membuatku menoleh.

Aku melonjak mundur ketika telah berhadapan dengan seorang pria disertai senyuman manis tersungging di bibirnya. Aku melonjak bukan hanya karena mengetahui jarak antara wajahku dengan wajahnya begitu dekat, tapi juga wajahnya. Wajahnya sangat familiar di mataku, Jun Hyung.

“J-Jun Hyung?” tanyaku tak percaya.

Ia hanya tersenyum lebar mendengar panggilanku namun ia menggeleng kecil. Caranya tersenyum, caranya menggeleng, caranya menatapku, sama seperti Jun Hyung. Siapa dia? Kenapa ia begitu persis dengan Jun Hyung?

“annyeong haseyo, joneun irumun Kim Hyung Jun imnida. Aku lah pencipta dari Hyung Jun,” ucapnya menjawab segala pertanyaan di otakku.

Aku terdiam tak bergeming. Perlahan, tanganku terulur meraih wajahnya. Menatapnya nanar. Aku tahu mungkin aku terlihat sangat cengeng, tapi siapa yang tak menangis dalam keadaan sepertiku ini?

“uljima,” ucapnya.

Aku menjatuhkan tanganku dari wajahnya. Bahkan suara dan caranya berbicara pun sama seperti Hyung Jun. Apa ini hanya halusinasiku saja? Atau memang robot yang dibuat menyerupai itu selalu persis dengan sang pembuatnya?

Hyung Jun menarikku dalam dekapannya. Hangat, tidak seperti dekapan Jun Hyung yang dingin. Walau begitu, entah mengapa, hal ini justru membuatku nyaman. Seolah aku menemukan sesuatu yang telah lama hilang dari kehidupanku.

“apakah kau mengingatku?” tanyanya.

Aku terdiam, berusaha memutar otakku mengingat siapa saja yang pernah berada dalam kehidupanku. Namun tak satu pun kutemukan bernama Kim Hyung Jun. Namun hatiku berkata lain, hatiku mengatakan bahwa ia pernah menjadi bagian dalam hidupku.

“bayi kura-kura mungkin lemah, tapi suatu saat nanti, bayi kura-kura akan tumbuh menjadi seekor ninja kura-kura lalu melindungi setangkai bunga matahari,” ucapnya ditelingaku.

Sebuah film seakan terputar dalam otakku. Memutarkan adegan sekelompok anak kecil yang tengah bermain bersama. Namun tiba-tiba, seorang gadis kecil dijahili oleh segerombolan anak nakal. Ketika gerombolan itu pergi, seorang anak laki-laki menghampiri gadis kecil itu dan membantunya mengahpus air matanya.

‘uljima. Maafkan bayi kura-kura yang lemah ini. Bayi kura-kura mungkin lemah, tapi suatu saat nanti, bayi kura-kura akan tumbuh menjadi seekor ninja kura-kura lalu melindungi setangkai bunga matahari,’ ucap anak kecil itu.

“sekarang, bayi kura-kura itu telah menjelma menjadi ninja kura-kura dan berjanji akan selalu melindungi setangkai bunga matahari. Do you remember?” tanyanya.

“my baby turtle,” panggilku lirih dan ia mengeratkan dekapannya padaku.

“my beauty sunflower, would you mary me?” tanya Hyung Jun lalu melepas dekapannya dan berlutut di hadapanku dengan menyodorkan sebuah kotak beludru kecil berwarna merah berisikan sebuah cincin.

Aku tersenyum bahagia, air mata kembali mengalir dari kedua bola mataku. Air mata kebahagian. Bisa kurasakan beberapa pasang mata memperhatikan kami. Namun Hyung Jun tak bergeming, pandangannya tertuju padaku. Dan seolah hanya tertuju padaku.

“yes, I do,” jawabku.

Hyung Jun berdiri lalu meraih tanganku dan memasangkan cincin tersebut di jari manisku. Ia meraihku lagi dalam dekapannya dan membiarkan tangis bahagia mengalir dari kedua mataku. Orang –orang yang sedari tadi memperhatikan kami bertepuk tangan, membuat Hyung Jun melepaskan pelukannya dan membungkuk pada mereka begitu pula diriku.
=FIN=

.okay ,
.ini FF paling geje buatan saya ,
.padahal niatan buat bebih oppa ,
.hhh~
.mian oppa kalo jelek~ X(

.thanks for reading .🙂

  1. nie_1811
    10 Agustus 2010 pukul 6:28 pm

    Oh my God!!
    my turtle boy ><
    lucu bgd abis pelok2an dikereta lgsung nunduk2 saking malu xixi

    tadinya aku pikir ini POV nya si bebi, eh pas ditengah2 bru ngeh ==" dan pas aq liat k atas trnyta ada tlsn'a your PoV *dudulbangetz*

    keren ini mah ..
    daku suka crta model2 bgini, beda aja gt bacanya xDDD
    thx for share this
    bebii met ultah yah🙂
    *telatdeh*

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: