Beranda > fanfiction, twoshot, whyenda_arinka > [2S] The Way Of Life

[2S] The Way Of Life

Length : 1/2 Shot
Genre : Romance, Angst, Thriller, Humor, Family, Friendship
Rating : G
Cast : Han Song Hyun/ Park Song Hyun, SHINee, SS501

Disclaimer : I don’t own SHINee and SS501 members, they are belongs to their self! and Han/Park Song Hyun are belongs to my imagination. I DO own this story.

A/N : setting berada di Seoul. tapi beberapa berada di Jeonju, Joellabuk-do seperti Flashback dan tempat anggota SHINee.

=========
-=Song Hyun’s POV=-

‘haaah~ ne! Aku memang membawa petaka untukmu!’ pikirku kesal. Aku menggerutu pelan ketika ia berjalan keluar dapur. Aku menopang tubuhku dengan tangan kiriku di atas meja sementara tangan kananku mengambil gelas berisi air putih dan meneguknya sampai habis. Kuseka mulutku dengan punggung tanganku.

“Song Hyuuuunn~ mana makanankuu?” teriak seorang namja. Aish ! Namja kekanakan ini!

“tentu saja ada di meja makan!” teriakku.

“habiiiiiss~” balasnya.

Hah!? Aku bahkan belum makan! Orang rakus macam apalagi yang menghabiskan makananku!? Kulangkahkan kakiku menuju ruang makan dan mendapati piring-piring kotor berserakan di atas meja.

“ini yang kau bilang makanan, eh?” tanyanya polos.

“akan kubuatkan ramen!” ucapku lalu berjalan kembali ke dapur untuk membuatkan namja itu ramen. Sayup-sayup kudengar ia menggerutu. Namun tak kuhiraukan.

-=Jung Min’s POV=-

‘Song Hyun-a, mianhe’ batinku ketika kulangkahkan kakiku keluar rumah. Kuhirup udara segar dalam-dalam. ‘pabboya namja! Dia itu yeodongsaengmu! Aish! Mian appa, omma,’ mohonku.

“arrgh!” erangku meremas-remas rambutku lalu merapikannya kembali. Kulangkahkan kakiku menuju mobilku dan menyalakannya. Kukendarai mobilku dengan kecepatan 85 km/h. Aku tahu ini diluar batas, tapi.. biarlah!

===FLASHBACK===
“Jung Min-a, kau ingin seorang yeodongsaeng kan!?” tanya appa tiba-tiba.
“ne, tapi kan omma..” jawabku tak melanjutkan.
“apa harus dari omma?” tanya ommaku angkat bicara.
“maksud omma?” aku balik bertanya, bingung dengan pertanyaan-bukan, pernyataan- ommaku.
“kalau appa dan omma adopsi adik untukmu, bagaimana?” tanya appa tersenyum.
“ne! Tentu saja aku mau appa! Kamsahamnida appa! Omma!” ucapku dengan senang. Memiliki seorang yeodongsaeng adalah keinginanku sejak berumur 5 tahun. Dan 8 tahun kemudian baru akan menjadi nyata! Walaupun akan sih^^
***
“a-annyeong..” sapa seorang yeoja berumur 5 tahun sambil membungkukkan badannya. Tangan kanannya digandeng omma sedang tangan kirinya sibuk memeluk boneka teddy bear berwarna coklat kumuh. Aku tersenyum.
“annyeong~” balasku riang.
“Jung Min-a, dia yeodongsaengmu sekarang! Namanya Han Song Hyun, tapi sekarang adalah Park Song Hyun,” ujar omma mengenalkannya padaku.
“ne, omma! Ayo masuk Song Hyun-a!” ajakku menarik tangan kanannya. “kkaja!” tambahku, yeodongsaengku tersenyum manis.
“Song Hyun-a, mulai sekarang aku oppamu! Aku akan menjagamu! Aku akan melindungimu! Arasso!?” ujarku.
“a-alasso.. o-oppa..” jawabnya terlihat sangat imut. Kusap kepalanya lembut.

===END OF FLASHBACK===

Bayangan itu melekat dengan jelas di otakku. Kenangan 10 tahun yang lalu. Yeah, sangat lama. Tapi kenangan itu yang paling kuingat. Han Song Hyun, ah bukan, Park Song Hyun, harusnya aku menjagamu, melindungimu, dan menyayangimu. Mianhe Song Hyun-a.

-=Kyu Jong’s POV=-

“Song Hyun-a, gwenchanayo?” tanyaku.

Rumah ini begitu kelam sejak sebulan yang lalu. Hari berkabung sudah lewat, tapi tetap saja terasa kelam.

“gwenchana oppa,” jawabnya singkat dan menyunggingkan senyum tipis.

Aku tahu keadaanmu tak baik, kau selalu menutupinya. Aku jadi merasa tak enak hati dan egois. Semua masalahku dia ketahui, tapi masalahnya? Aku bahkan hampir tidak tahu sama sekali. Dia benar-benar yeoja yang tertutup. Bahkan pada Jung Min sekalipun.

“hyung, kau sudah makan?” tanya seorang namja dari ambang pintu dapur memecah keheningan. Hyung Jun.

“belum, waeyo?” tanyaku. Kulihat Song Hyun terperangah kaget.

“oppa belum makan?” tanyanya memastikan. Aku menggeleng.

“Hyun Joong oppa..” desahnya pelan. Aku mengangkat sebelah alisku.

“lalu siapa yang menghabiskan makanan di meja makan?” tanya Hyung Jun polos. Kini aku mengerti maksud desahan Song Hyun.

“hmm, kurasa Hyun Joong hyung dan Young Saeng hyung,” jawabku asal tebak.

“oo..” ucap Hyung Jun membulatkan mulutnya lalu meninggalkan dapur begitu saja.

“kau yakin tak ingin kembali ke Jeonju, Song Hyun-a?” tanyaku sekali lagi.

Aku merasa sangat khawatir dengan keadaannya dan juga Jung Min. Song Hyun tersenyum tipis.

“anni oppa, aku ingin di Seoul saja. Aku akan menyusahkan banyak orang di sana,” jawabnya. Gadis ini, selalu memikirkan orang lain.
“baiklah kalau itu maumu,” ujarku akhirnya.

-=Song Hyun’s POV=-

“kau yakin tak ingin kembali ke Jeonju, Song Hyun-a?” tanya Kyu Jong oppa untuk kesekian kalinya.

Tentu saja aku ingin ke sana, tapi aku takut. Aku tahu di sana tempat tinggal Kyu Jong oppa, tapi justru itulah yang membuatku takut. Tak mungkin kan aku mencelakakan orang yang kucintai?

“anni oppa, aku ingin di Seoul saja. Aku akan menyusahkan banyak orang di sana,” jawabku sekenannya.

Kulihat wajahnya lesu. Mianhe oppa, tapi aku tak mau melihatmu tak bernyawa karenaku. Cukup appa dan omma.

“baiklah kalau itu maumu,” ujarnya kemudian dan melangkahkan kakinya pergi. Aku menatap punggungnya yang semakin menjauh.

Menghilangkan nyawa appa dan omma angkatku saja menguras air mataku selama sebulan, bagaimana bila nyawanya yang menghilang karnaku?

=======FLASHBACK=======
“DORR! DORR!” aku tak tahu benda apa yang berwarna hitam itu, tapi yang kutahu sesuatu telah ditembakkan ke dada appaku. Appaku bilang itu pistol, kalau terkena ke beberapa bagian tubuh bisa menyebabkan kematian dan sebagian masih bisa disembuhkan. Apa appaku bisa disembuhkan? Aku bertanya-tanya melihat kejadian itu. Kulihat seorang pria bertubuh tegap berdiri menghadapku. Ia menggunakan jaket hitam serta kaos dan jeans hitam. Dilengkapi syal hitam, kacamata hitam, serta topi seperti koboi-tapi bukan itu, topi yang berbentuk bundar, aku tak tahu apa namanya-. Pria itu menyeringai kearahku. Aku yang ketakutan, merapatkan tubuhku pada tembok. “kau menikmati tontonan itu? Suatu hari, kau akan merasakannya, gadis kecil,” ucapnya mengusap kepalaku dan pergi. Aku hanya memeluk boneka teddy bearku erat menunggu pria itu pergi menjauh. Aku menghampiri appa dan mengguncang tubuhnya.
“appaa..” panggilku lirih. Hening. Tak ada jawaban apapun. Aku terisak.
***
Aku terbangun, mengucek mataku dan menyadari aku telah tertidur di atas sebuah kasur.
“aah, kau sudah bangun rupanya! Annyeong!” sapa seorang namja sekitar berumur 7 tahun dengan sebuah senyum manis.
“a-annyeong,” balasku.
“ini rumah barumu! Jangan sungkan ya!?” ucapnya masih tersenyum ramah.
“a-appa?” tanyaku. Namja itu terdiam, terlihat bingung harus berkata apa.
“eh, a-appamu pergi, maksudku, sedang kerja,” jawabnya salah tingkah.
“kapan akan kembali?” tanyaku lagi.
“eeh, a-aku tak tahu,” jawabnya masih salah tingkah.
“se-sebaiknya kau cepat bersihkan dirimu adik kecil, lalu kita sarapan dan bermain!” ajaknya menarik tanganku. Aku mengangguk.
“ayo, kuantar kau ke kamar mandi!” ajaknya riang masih menarikku menuju sebuah ruangan.
“ini kamar mandinya, segeralah mandi. Tunggu, teddy bearnya akan kubawa sampai kau selesai mandi,” ucapnya lalu mendorong tubuh kecilku ke kamar mandi dan mengambil boneka teddy bear yang kupeluk sejak semalam.
“go-gomawoyo…”
“Key, panggil aku Key, adik manis,” jawabnya mengusap kepalaku lembut. Aku tersenyum lalu masuk kamar mandi dan menutupnya.

===END OF FLASHBACK===

‘entah apa yang ada pada diriku, kurasa orang itu mengincarku. Ia membunuh appa, satu-satunya yang tersisa di hidupku dan meninggalkanku di panti asuhan ketika umurku 3 tahun. Dan ketika umurku 15 tahun, ia kembali merenggut appa dan omma angkatku. Apa Jung Min oppa juga?’ pikirku.

-=Jung Min’s POV=-

“aku pulang,” ucapku ketika memasuki rumah.

Kulihat Hyung Jun dan Young Saeng hyung sedang bermain game. Hyun Joong hyung dan Kyu Jong hanya menonton sambil memberi semangat sesekali. Hyun Joong hyung dan Hyung Jun adalah kakak beradik, sepupu jauhku. Sedangkan Kyu Jong adalah temanku sejak kecil di Jeonju begitu pulang dengan Young Saeng hyung. Tak kulihat tanda-tanda Song Hyun di sana, biasanya dia akan ikut bermain.

“Song Hyun mana?” tanyaku pada mereka, hanya Kyu yang menoleh.

“di kamarnya,” jawabnya lalu mendekatiku.

“kau yakin tak ingin kembali ke Jeonju?” tanyanya, entah mengapa ia selalu bertanya seperti itu. Aku menggeleng.

“ini kemauan Song Hyun, kau tahu sendirikan Kyu Jong-a?” jawabku pasrah. Ia terlihat kecewa.

“kurasa aku akan menetap di sini beberapa waktu untuk mengurus program S2-ku, bolehkan?” tanyanya.

“tentu saja, kau mau pindah di sini pun aku tak masalah,” jawabku tersenyum.

“gomawo,” ucapnya.

“cheonmaneyo, aku ke kamar dulu,” ucapku dan berlalu begitu saja.

Sebelum kumasuki kamarku, terlebih dulu aku melongok ke dalam kamar Song Hyun.

“Song Hyun-a?” panggilku.

“ne oppa?” tanyanya yang sedang rebahan di kasurnya. Aku melangkahkan kakiku masuk.

“mianhe..” ucapku. Song Hyun segera bangun dan membulatkan matanya.

“mwo? Untuk apa?” tanyanya bingung.

“tadi..” ucapku tak melanjutkannya, aku tahu aku salah. Aku menyalahkannya telah..

“gwenchana oppa. 12 tahun yang lalu juga begitu,” ujarnya dengan mata menerawang jauh mengingat masa lalu, kenangan ketika ia berumur 3 tahun. Aku tahu itu. Ia tersenyum pahit.

“kurasa orang itu mengejarku oppa, mian melibatkan appa dan omma. Harusnya aku langsung menyerahkan diriku kemarin,” ujarnya lagi tersenyum getir. Aku memeluknya.

“tidak! Kalau kau pergi, aku tak akan punya siapapun!” ucapku mencegahnya.

“oppa masih punya Hyun Joong oppa dan Hyung Jun oppa. Young Saeng oppa, dan.. Kyu Jong oppa..” lirihnya. Kueratkan pelukanku.

“tapi tak akan ada dongsaeng..”

“masih ada Hyung Jun oppa yang jauh lebih muda dari oppa..” potongnya. Aku menggeleng.

“aku inginnya yeodongsaeng..” ucapku. Kudengar ia menghela nafasnya.

-=Kyu Jong’s POV=-

Well, aku tahu aku salah. Tapi aku hanya tak sengaja lewat dan mengintip. Kudengar percakapan kakak-adik angkat itu. Walaupun mereka saudara angkat, tapi kadang aku merasa mereka seperti sepasang kakak-beradik kandung. Aku miris mendengar percakapan mereka. Aku ingat dengan jelas cerita dari seorang hoobaeku yang bernama Lee Jinki. Ia menceritakan padaku tentang apa yang terjadi pada Song Hyun ketika berumur 3 tahun hingga 5 tahun, ketika diadopsi oleh Park ahjussi untuk menjadi yeodongsaeng Jung Min. Jinki adalah salah seorang penghuni panti asuhan yang sempat merawat Song Hyun.

-=Key’s POV=-

“kau bercanda!” bentakku pada Minho. Ia hanya menatapku dingin.
“tanyakan Jinki hyung kalau kau tak percaya, hyung,” tambahnya sambil berlalu.

‘Pria itu beraksi lagi! Apa maunya!?’ tanpa kusadari, kakiku melangkah meninggalkan panti asuhan yang sudah lama sepi dan kuanggap rumah, menuju sebuah taman di dekat rumah. Tanganku meremas rambutku dan menjambaknya.

“aaarghh!” erangku.

“kau kenapa, Key-a?” tanya seseorang, suara yang ku kenal. Suara yang sebenarnya ku rindukan serta ku benci. Ralat SANGAT ku BENCI! Aku menoleh ke belakang.

“apa maumu!? Sudah kubilang, jangan sentuh kehidupannya lagi!” bentakku padanya.

“wah, wah, Key, kau tak apa?” tanyanya dengan nada sok cemas, padahal jelas-jelas ia tengah menyeringai menanggapiku. Shit!

“harusnya aku yang menanyakannya padamu!” bentakku lagi, aku muak dengan tingkahnya.

“Yoon Mi-a, uri Key berani membentakku,” ejeknya menengadahkan kepalanya ke langit.

“jangan bawa-bawa ommaku! Dia akan menangis melihat tingkahmu!” bentakku lagi. Tanganku mulai terkepal, sudah gatal untuk mendaratkan sebuah pukulan.

“melihat tingkahku? Bukannya tingkamu? Key-a?” tanyanya tersenyum licik. Kubuang mukaku, aku muak, SANGAT muak!

“tentu saja tingkahmu, pabbo! Kau berusaha membunuh anak omma, darah daging omma, yeodongsaengku! Bahkan kau membunuh nampyon omma!” teriakku dengan penuh amarah. Kulihat matanya berkilat memandangku.

“anak Yoon Mi!? Anak macam apa itu yang membunuh ommanya sendiri hah!? Membunuh ommanya di hari lahirnya!? Ommamu meninggal karena melahirkan anak itu! Dan pria itu! Pria itu juga penyebab ommamu mati!” teriaknya. Aku benci dengan alasannya.

“tapi tak bisa kau pungkiri kan kalau anak itu mirip dengan omma!? Iya kan!? Sampai kapanpun, dia tetaplah anak omma! Dia masihlah yeodongsaengku!” teriakku sengit.

“aku malas berdebat denganmu. Tujuanku kemari untuk mengatakan bahwa, kau harus melihatnya terbunuh ditanganku! Ingatlah! Dia yang membunuh ommamu! Adik macam apa dia!?” ucapnya sambil berlalu.

“tak akan pernaaaah~” teriakku padanya yang berjalan menjauh. Sial! Apa maksudnya!? Aku benci dia! Aku BENCI!

“AAAAAARRGHHHH!” erangku terduduk lemas lalu meninju tanah.

“aku harus menemuinya sekarang!” segera kurogoh saku celanaku untuk mencari handphoneku. Kutekan beberapa tombol lalu mendekatkannya ke kupingku. Tak ada jawaban. Berulang kali kutelpon tapi tak ada jawaban.

“sial!” umpatku kesal. Tiba-tiba sesuatu terlintas diotakku. SMS. Aish pabbo! Kenapa tak dari tadi saja! Mungkin ia sedang tidur. Pikirku lalu mulai mengetik SMS. Send. Bagus, tinggal menungu jawaban darinya. Batinku lalu berjalan kembali menuju rumah.

-=Song Hyun’s POV=-

“hah~ hah~ hah~”

Apa itu tadi? Aku mimpi apa? Aku mimpi pria itu datang! Aku meremas rambutku dan menjambaknya. Pria itu datang untuk apa? Membunuhku kah? Lalu.. kenapa ada Key oppa? Aku menundukkan kepalaku.

Kurasakan cairan hangat meleleh. Key oppa, apa kabarnya? Aku rindu. Dia sudah kuanggap oppaku sendiri..

“tok..tok..tok” pintu kamarku diketuk.

“Song Hyun-a, kau sudah bangun belum? Segeralah banguun~” teriak Hyung Jun oppa.

“n-ne~” jawabku lalu mengusap air mataku.

“kalau begitu, cepat mandi dan makan malam! Young Saeng hyung dan Hyun Joong hyung memasakkan kita makanan lezat! Cepat! Sebelum habis oleh yang lain!” ucapnya. Aku segera turun dan beranjak menuju kamar mandi.
***
“selamat makaaaaaann~” ucap kami semua dengan senang.

Kami mulai makan dengan tenang. Tiba-tiba terjadi keributan. Hyung Jun oppa dan Jung Min oppa berebut ikan, sementara Hyun Joong oppa sibuk menuang sambal hingga menimbulkan dentingan berkali-kali. Sedangkan Young Saeng oppa dan Kyu Jong oppa, makan dengan santainya seperti tak ada keributan sama sekali, sama sepertiku. Akhirnya makan malam selesai. Aku dan Kyu Jong oppa bertugas mencuci piring, dan tentu saja dengan senang hati kulakukan. Hhehe~😄

“hei kalian! Segera selesaikan acara mencuci piringnya! Kita akan menonton tv bersama!” teriak Hyun Joong oppa dari ruang tv.

“nee~” jawabku dan Kyu Jong oppa berbarengan.
***
Backsound pun terputar, mengalun lembut mengakhiri film yang baru saja kami tonton. Terdengar hembusan nafas lega dari oppaku, Hyun Joong oppa, dan Young Saeng oppa. Kutolehkan kepalaku ke samping kanan dan kulihat mata kiri Kyu Jong oppa menyembul dari balik bantal yang menutupi wajahnya.

“eeh, su-sudah selesai ya!?” tanyanya penuh harap. Aku terkekeh.

“sudah oppa..” jawabku tersenyum. Kini kedua matanya muncul menatapku, tapi sebagian wajahnya masih tertutup oleh bantal.

“hhe.. syukurlah kalau begitu,” ucapnya lega dan menyingkirkan bantal itu dari wajahnya, aku terkikik geli. Kutolehkan kepalaku ke kiri dan menatap Hyung Jun oppa menangis, kukerutkan keningku.

“oppa kenapa?” tanyaku. Yang lain pun menoleh menatap Hyung Jun oppa.

“kenapa kalian tega menonton film horor sementara aku dan Kyu Jong begitu ketakutan begini!?” tuntutnya lalu menggembungkan pipi dan mengerucutkan bibirnya. Kyaa~ neomu kyopta, oppa!😄 *author sedeng mode : on XD*

“ya~ memangnya Cuma kau yang ketakutan!? Kami juga! Kyu Jong saja sampai menutup wajahnya dengan bantal, tapi dia tidak protes!” sahut Jung Min oppa.

“hanya satu yang kuyakini tidak ketakutan,” ucap Hyun Joong oppa tiba-tiba lalu melirikku. Kurasakan yang lain pun melirik padaku. Err~ trus kenapa? ==a

“hhehehe~ suruh siapa penakut!? Bwee~” ucapku sambil menjulurkan lidah. Kurasakan sebuah bantal mendarat di atas kepalaku. Kukira Kyu Jong oppa, ternyata Hyung Jun oppa. ==”

“ya~ siapa yang membolehkanmu melempar yeodongsaengku dengan bantal!?” teriak Jung Min oppa menggelegar, kulihat wajah Hyung Jun oppa yang ketakutan. Hhahaha~

“hwahahahahaaa~” tawa yang lain pecah, aku pun ikut tertawa dengan yang lain. Lagi-lagi Hyung Jun oppa mengerucutkan bibirnya.

“oppa~ bagaimana kalau besok kita pergi jalan-jalan seharian? Toh besok hari minggu,” usulku menatap oppaku dan yang lain satu-persatu. Mereka menatapku balik, heran. Kulihat Kyu Jong oppa tersenyum senang.

“mengapa tidak!? Pasti akan menyenangkan sekali!” ucapnya lalu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kutatap wajah Jung Min oppa, Hyun Joong oppa, Young Saeng oppa, dan Hyung Jun oppa. Tatapan memelas. Mereka tersenyum dan mengangguk, aku pun tersenyum gembira.

“yeeey! ThanKYU oppa!” teriakku memeluk Jung Min oppa, ia membalas pelukanku dan menepuk-nepuk punggungku.

“aku juga pengen~” ujar Hyung Jun oppa, aku melepas pelukanku dan menatap Hyung Jun oppa sementara Jung Min oppa melayangkan tatapan membunuh padanya. Hyun Joong oppa mendekatinya dan tersenyum. BLETAKKK! Aku membulatkan mataku begitu pula yang lain.

“sebelum Jung Min yang melayangkan tangannya ke kepalamu,” ujar Hyun Joong oppa asal, namun terkesan santai. Kami tertawa lepas kecuali Hyung Jun oppa yang sibuk mengelus-elus kepalanya, tentu saja!

“baiklah, hhihihi~ kurasa aku harus tidur sekarang juga. Agar aku bisa bangun pagi untuk menyiapkan yang kita butuhkan besok,” ujarku sambil berusaha tidak tertawa. “selamat malam,” tambahku.

“oke, selamat malam,” ucap Jung Min oppa, lalu aku melangkah menuju kamarku.

Kuraih handphoneku dan kulihat ada SMS masuk. Key oppa? Batinku bertanya. Wow! Key oppa mengajakku bertemu! Sekalian saja di taman bermain besok! Pikirku lalu mengetik balasan untuknya dan segera tidur.

-=Kyu Jong’s POV=-

“oppa~ bagaimana kalau besok kita pergi jalan-jalan seharian? Toh besok hari minggu,” usul Song Hyun menatapku, Jung Min, Hyun Joong hyung, Young Saeng hyung, dan Hyung Jun. Akhirnya ia akan kembali, pikirku senang. Kulayangkan senyuman manis padanya.

“mengapa tidak!? Pasti akan menyenangkan sekali!” ucapku menyetujuinya dan mengangguk-anggukkan kepalaku. Ia kembali melayangkan tatapannya pada Jung Min, Hyun Joong hyung, Young Saeng hyung, dan Hyung Jun dengan tatapan memelas. Mereka tersenyum mengangguk, kulihat wajahnya memancarkan kegembiraan.

“yeeey! ThanKYU oppa!” teriaknya memeluk Jung Min yang membalas pelukannya dan menepuk-nepuk punggungnya.

“aku juga pengen~” ujar Hyung Jun menatap kakak-beradik itu. Song Hyun melepas pelukannya dan menoleh menatap Hyung Jun sementara Jung Min melayangkan tatapan membunuh padanya. Lalu Hyun Joong hyung mendekatinya dan tersenyum. BLETAKKK! Aku, Song Hyun, Jung Min, dan Young Saeng hyung membulatkan mata kami.

“sebelum Jung Min yang melayangkan tangannya ke kepalamu,” ujar Hyun Joong hyung santai. Kami tertawa lepas kecuali Hyung Jun yang sibuk mengelus-elus kepalanya.

“baiklah, hhihihi~ kurasa aku harus tidur sekarang juga. Agar aku bisa bangun pagi untuk menyiapkan yang kita butuhkan besok,” ujar Song Hyun menahan tawanya. “selamat malam,” tambahnya.

“oke, selamat malam,” ucap Jung Min, lalu Song Hyun melangkah menuju kamarnya.

“aku juga mengantuk, selamat malam,” ujar Jung Min lalu beranjak menuju kamarnya. Tinggallah kami berempat, saling menatap satu sama lain.

“aku ngantuk hyung..” ucap Hyung Jun menggantungkan kalimatnya.

“tapi takut..” tambah Hyun Joong hyung, aku dan Young Saeng hyung terkekeh.

“aku tidur denganmu ya hyung!?” pinta Hyung Jun pada Hyun Joong hyung.

“asal kau tak mengganggu tidurku,” jawab Hyun Joong hyung sambil berlalu menuju kamarnya. Hyung Jun terlihat senang dan segera berdiri membuntuti Hyun Joong hyung.

“selamat malam, hyung!” ucapnya padaku dan Young Saeng hyung sebelum memasuki kamar Hyun Joong hyung.

Aku menoleh menatap Young Saeng hyung, melayangkan tatapan memelas. Sepertinya Young Saeng hyung mengerti arti tatapanku dan mengangguk sambil menyunggingkan senyum. Aku terkekeh dan kami berjalan menuju kamar lalu tidur.
=TBC=

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: