Beranda > drabble, fanfiction, whyenda_arinka > [Drabble] When It’s Tomorrow

[Drabble] When It’s Tomorrow

Length : Drabble [690 words]
Genre : Romantic, Angst(a little)
Rating : G
Cast : Henry Lau Super Junior M, Ella(OCs), Ibu Ella(OCs)

Disclaimer : I don’t own Henry Lau, he’s belongs to himself. Ella and Ella’s mother are belongs to my imagination. I DO own this story.

A/N : terinspirasi dari lagu Super Junior M-Blue Tomorrow, jadi lagu pendukungnya ya itu. sambil didengarkan ya.😉

============
(Author POV’s)

Henry terduduk diam di sudut taman yang terlihat teduh karena terlindungi pohon yang rindang. Ia yang berperawakan tegap dengan wajah oriental menatap hamparan tanah yang dipijaknya. Sendu, itu yang terpancar dari matanya serta raut wajahnya.

“when it’s tomorrow, you will leave my side. When it’s tomorrow, I will wish upon a shooting star alone. Just like the ending of a movie..” senandungnya lirih. Suaranya yang indah mengalunkan lagu bernada sedih. Pikirannya melayang pada kejadian 5 hari yang lalu

Henry mendaratkan pukulannya di pipi kiri pria yang menahan lengannya hingga tersungkur. Namun 2 pria lain segera membalasnya dengan pukulan di perut dan pipi kanannya hingga ia terhuyung. Pria yang tadi terhuyung dengan sigap menangkap tubuh Henry yang tehuyung. 2 pria tadi segera memukulinya hingga babak belur.

“hentikaaaaann..!!” seru seseorang dari ujung lorong diikuti derap langkah mendekati mereka. Ternyata seorang gadis yang dengan segera berdiri diantara Henry dan 2 pria dan merentangkan tangannya.
“Ella..” panggil Henry lirih. Gadis bernama Ella itu menolehkan kepalanya kebelakang dan menyunggingkan senyuman untuk Henry.

“cih! Ada gadis tengil sok ikut campur..” ucap salah seorang pria. Ella menolehkan kepalanya menghadap 2 pria di hadapannya.

“membunuhnya berarti membunuhku!” seru Ella menantang.

“kau ini hanya mengganggu saja!” bentak pria yang lain lalu mengangkat tangannya tinggi dan menampar Ella dan membuat gadis itu tersungkur. Sikunya lecet dan berdarah. Lebih dari itu, ia tak mampu berdiri.

“Ella~ !” seru Henry ketika melihat Ella tersungkur.

Dengan segera ia menginjak kaki pria yang menahannya dan menyodok perut pria itu dengan sikunya. Ella berusaha merangkak dan menyandarkan punggungnya di dinding yang dingin. Henry melihat sebuah balok kayu di tempat Ella terjatuh tadi. Tanpa pikir panjang, segera diambilnya balok kayu itu dan memukuli pria-pria itu hingga mereka babak belur. Pria itu lari tunggang langgang. Henry membuang balok kayu tersebut dan menghampiri Ella.

“Ella, kau tak apa?”tanya Henry khawatir.

Ella menggelengkan kepalanya dan menyunggingkan senyuman. Ia berusaha berdiri namun kaki kanannya tak mampu menopang berat tubuhnya dan membuatnya ambruk. Henry segera menangkap tubuh Ella sebelum menyentuh tanah.

“duduklah dulu!” perintah Henry yang langsung dituruti Ella.

Henry meraba kaki Ella dan menekannya di beberapa bagian. Ella meringis ketika jemari Henry menekan lembut kakinya.

“E..Ella.. ka..kakimu..” ucap Henry tak mampu melanjutkan ucapannya. Ella hanya tersenyum pahit mendengar ucapan Henry.

“andai saat itu aku tak melewati gang itu. Andai saat itu aku mampu melindungimu, mungkin kejadiannya lain. Mungkin aku akan berada di gedung itu, melihatmu dengan gerakan indahmu dan kau tak perlu meninggalkanku..” ucap Henry lirih. Air mata kini menggenang di pelupuk matanya dan perlahan turun, menganak sungai di pipinya. Ia kembali teringat ketika ia akan menjenguk Ella di rumah sakit.

“kau! Apa yang kau lakukan di sini, hah!?” bentak seorang wanita paruh baya ketika melihat Henry di sebuah lorong rumah sakit. Henry kaget melihat wanita itu, ibu Ella.

“sa..saya ingin menjenguk Ella, tante..” ucap Henry lirih, nyalinya ciut seketika.

“buat apa kau menjenguk anakku, hah!? Tak tahukah kau bahwa kaulah penyebab anakku menderita seperti sekarang!? Ia terbaring lemah saat ini! Kakinya tak mampu menopang tubuhnya! Bahkan digerakkan pun tak bisa! Bagaimana ia melanjutkan cita-cita menarinya!?” bentak wanita itu mulai kehilangan kendalinya.

“ma..maafkan saya, tante..” mohon Henry.

“sudahlah! Kau meminta maafpun, keadaannya takkan berubah! Sebaiknya kau tak perlu menemuinya.. dan jangan harap kau akan menemuinya lagi, karena aku akan membawanya ke Amerika,” ucap wanita itu dan berlalu meninggalkan Henry sendiri.

Henry menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Air mata masih mengalir deras membanjiri pipinya yang chubby. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha mencerna segalanya. Hari ini adalah hari keberangkatan Ella ke Amerika. Salah seorang temannya yang diijinkan menjenguk Ella yang memberitahukannya. Ia ingin sekali berlari ke bandara menemui Ella untuk yang terakhir kalinya dan mengucapkan salam perpisahan. Namun hal itu tak mungkin ia lakukan. Ia yakin ibu Ella akan berusaha membuatnya tak menemukan Ella, ataupun sebaliknya.

“around me, loneliness is spreading. This vision, is being blurred by tears. A sentence ‘I love you’, I left it deep in the bottom of my heart and put it on the tip of my lips. When it’s tomorrow, you will leave my side. When it’s tomorrow, I will wish upon a shooting star alone. Just like the ending of a movie..” senandungnya lagi, semakin terasa kesedihan dalam suaranya yang bergetar.
=FIN=

.membingungkan ?
.atau justru aneh ?
.kalo nggak salah ,
.aku buat ini untuk nilai bahasa Indonesia ,
.tapi liriknya aku trans ke Indo ,
.hhahaha~ XDD

.thanks for reading🙂

  1. nie_1811
    10 Agustus 2010 pukul 6:34 pm

    Ohohoh yg ini keanya aku udah prnah baca
    cerita’a sedih & nggantung t.t
    ga tega bayanginnya~

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: