[OS] Surprise

Length : Oneshot
Genre : Friendship
Rating : G
Cast : Park Jungmin SS501, Heo Young Saeng SS501, Kim Hyung Joon SS501, Kim Hyun Joong SS501, Kim Kyu Jong SS501

Disclaimer : I DON’T own the cast! they are belongs to SS501. I do own this story.

===========
(Jungmin POV’s)

Love, naege wa. neon, like this.
So Love, gidarin neoran girl.
True love, dagawa neon like this.
One Love, neon naege neon naegero.

Love, naege wa. neon, like this.
So Love, gidarin neoran girl.
True love, dagawa neon like this.
One Love, neon naege neon naegero.

‘huh! Siapa sih!? Dari tadi cuma berani misscal doang!? Sadar ga sih dia kalo ganggu!?’ Dengan sebal kutekan tombol hijau di handphone.

“yoboseo!?” sapaku dengan nada jengkel untuk kesekian kalinya. Dan lagi-lagi, tak ada jawaban dari seberang. Detik berikutnya, terdengar suara ‘tut.. Tut.. Tut..’

“sialaaaann! Siapa sih!? Ga tau aturan banget!” erangku lalu membanting handphoneku ke kasur. Tiba-tiba pintu diketuk dan terdengar suara Hyun Joong hyung.

“hei Mal! Kau kenapa sih!? Bisa ga untuk ga ribut!?” pinta hyung terdengar sedikit jengkel.

“ah, mian hyung,” ucapku sambil membuka pintu kamar.

“ada nomor yang dari kemarin menelponku, namun begitu kuangkat, segera dimatikan begitu saja,” terangku.

“tapi kau tak perlu sampai segitunya kan!?” tuntut hyung.

“ne, jeongmal mianhe, hyung” ucapku memohon.

Hyung tak memberi respon dan segera berlalu menuju dapur, aku pun masuk ke kamar dan merebahkan diriku di kasur. Baru saja aku memejamkan mata, handphoneku bergetar lagi dan reffrain lagu ‘If You Can Not’ mengalun memenuhi kamarku, pertanda ada sms masuk.

Chepal meolli kajima
Chepal meolli kajima
Naega ch’ajeul su ittke
Neomu meolli kajima
Neomu meolli kajima
Niga poiji anha
Chepal nal tteonaji mallago
Tteonaji mallago~
Yaksokhaejweo naege chepal…

Segera kuraih handphoneku dan membuka sms tersebut. Dari nomor yang tadi..

‘Annyeong Jung Min oppa! Apa oppa sudah makan siang? Semoga hari oppa menyenangkan! :))’

Begitulah isi sms yang mengganggu tidur siangku. ‘hah! Buat apa kubalas!? Mengganggu sekali!’ Dengan segera ku non-aktifkan handphoneku dan memejamkan mata. Aku harus tidur siang untuk persiapan besok malam.
*
(Author POV’s)

Jari Hyung Jun menari lincah di atas keyboard handphonenya lalu memencet tombol hijau dan menempelkannya di kuping. Kyu Jong, Young Saeng, dan Hyun Joong terdiam menatap Hyung Jun. Siang itu seluruh anak SS5O1 sedang tidak ada kegiatan jadi mereka beristirahat di dorm SS5O1.

‘nomor yang anda tuju sedang tidak aktif…’

Hyung Jun segera memencet tombol merah dan menggeleng murung.

“nggak aktif,” ucapnya lirih.

Mendengarnya, Kyu Jong, Young Saeng, dan Hyun Joong terduduk lemas. Terlihat mereka sedang berpikir keras. Tiba-tiba Kyu Jong tersenyum cerah dan berdiri. Ia menghampiri Hyun Joong dan menariknya untuk berdiri.

“ayo hyung,” ajaknya dengan senyum cerah.

“kemana?” tanya Hyun Joong bingung lalu menatap Hyung Jun dan Young Saeng, berharap mereka mengerti sesuatu. Namun hanya sebuah kedikan bahu yang diterimanya.

“tentu saja melakukan sesuatu,” jawab Kyu Jong penuh misteri.

Dengan malas-malasan, Hyun Joong bangkit dari duduknya dan mengikuti Kyu Jong keluar dapur. Hyung Jun dan Young Saeng saling bertatapan, mencoba menebak apa yang ada di pikiran Kyu Jong.

“bagaimana kalau kita ikuti mereka, hyung?” usul Hyung Jun. Young Saeng mengangguk, lalu mereka beranjak membuntuti Kyu Jong dan Hyun Joong.

Ternyata Kyu mengajak Hyun Joong ke kamar Jung Min sementara Hyung Jun dan Young Saeng memperhatikan mereka dari jauh. Kyu mengetuk pintu kamar Jung Min dan memanggilnya.

“Jung Min!” panggilnya.

Namun tak ada jawaban dari dalam. Hyun Joong berinisiatif untuk membuka langsung pintu kamar Jung Min yang ternyata tidak dikunci dan masuk ke dalam. Terlihat Jung Min terlelap di atas kasurnya dengan bantal, guling, dan selimut yang berhamburan entah ke mana. Kyu menggelengkan kepalanya melihat kasur Jung Min sudah seperti kapal pecah. Hyun Joong berjalan mengambil helm yang berada di meja kamar Jung Min lalu memakainya menuju kasur Jung Min dan berusaha membangunkannya. Sebuah pukulan dari Jung Min melayang dan mendarat tepat di helm yang digunakan Hyun Joong.

“aaaaaaaww~” teriak Jung Min lalu terduduk bangun.

Jung Min mengerjapkan matanya melihat sekeliling dan dilihatnya Hyun Joong telah berdiri dengan menggunakan helm dan Kyu berdiri tak jauh dari Hyun Joong. Segera Jung Min tahu bahwa Hyun Joong berusaha membangunkannya.

“ada apa sih hyung?” tanya Jung Min dengan nada malas.

“ayo latihan koreografi! Kyu masih bingung menentukan gerakan untukmu!” perintah Hyun Joong dibarengi anggukan Kyu Jong.

“aaah, nanti saja deh hyung. Aku tidur dulu, aku capek,” elak Jung Min lalu mulai membaringkan tubuhnya.

Dengan cepat Hyun Joong mengambil bantal Jung Min. Jung Min tak sempat menahan kepalanya yang jatuh begitu saja di kasur tanpa bantal itu. Ia mengerang lagi dan merasakan kepalanya pusing.

“ah hyung, kembalikan bantalku,” pinta Jung Min sambil tangan kirinya memegang keningnya dan tangan kanannya berusaha meraih bantal yang diambil Hyun Joong.

“tidak sebelum kau mau latihan koreografi,” tegas Hyun Joong menjauhkan bantal Jung Min.

“aaaah, gerakanku terserah Kyu Jong aja deh. Mau jungkir balik, guling-guling ga jelas, atau pun ngesot, ga masalah,” ucap Jung Min pasrah.

“nggak bisa! Kau harus latihan sekarang!” bentak Hyun Joong.

“aku bilang enggak ya enggak, hyung!” balas Jung Min langsung terduduk.

Kini Hyun Joong dan Jung Min saling bertatap muka dengan penuh amarah. Kyu Jong bingung harus bagaimana, ia tak tahu kalau idenya akan menjadi seperti ini. Jung Min berdiri mengambil bantalnya dari tangan Hyun Joong lalu mendorong Hyun Joong serta Kyu Jong keluar kamarnya.

“ga ada boleh menggangguku tidur siang!” teriak Jung Min lalu membanting pintu kamarnya dan menguncinya.

Kyu Jong bergeming kaget mendapat perlakuan seperti itu dari Jung Min sementara Hyun Joong masih menatap pintu dengan penuh amarah. Kyu Jong segera meraih lengan Hyun Joong dan menyeretnya menuju dapur diikuti Young Saeng serta Hyung Jun.

Sesampainya di dapur, Young Saeng segera mengambil segelas air putih dingin dan memberikannya pada Hyun Joong. Hyun Joong menegak habis air putihnya. Sedetik kemudian, raut wajah Hyun Joong berubah senang dan ia tertawa terbahak-bahak. Kyu Jong, Young Saeng, dan Hyung Jun menatap Hyun Joong bengong, tak mengerti dengan apa yang terjadi.

“ada apa, hyung?” tanya Hyung Jun bingung.

“hhahaha! Ternyata wajah Jung Min kalau marah lucu juga! Ahahahaha!” jawab Hyun Joong dengan tertawa.

“hah?” ujar Kyu Jong, Young Saeng, dan Hyung Jun kompak.

Melihat raut kaget di wajah ketiga temannya, tawa Hyun Joong meledak semakin keras membuat matanya hampir tak terlihat.

“hhahahahaha! Ekspresi kalian benar-benar aneh! Hhahahaha!” ucap Hyun Joong masih dengan tawa berderai.

Mendengarnya, reflek mereka melempar bantal duduk di kursi yang mereka duduki tepat ke wajah Hyun Joong. Tawa Hyun Joong justru semakin keras menerima 3 buah bantal mendarat tepat di wajahnya, hingga air matanya mengalir keluar.
*
Jung Min terbangun dan menguap lebar. Rasanya tidur siangnya hari itu tidaklah tenang. Tiba-tiba ia teringat akan handphonenya yang ia matikan agar tidak mengganggu tidur siangnya. Ia segera mengaktifkannya. Sebuah sms masuk. ‘anda telah dihubungi nomor 082135463xxx’.

Jung Min tak menggubrisnya dan berjalan keluar kamarnya. Sekali lagi ia menguap lebar. Hyung Jun yang tegah duduk di ruang tv kaget mendengar seseorang tengah menguap dan menoleh ke belakang. ‘ah, ternyata hyung sudah bangun,’ batin Hyung Jun.

Ia segera meraih handphonenya lalu memencet sebuah nomor serta tombol hijau dan menempelkannya di kuping. ‘tuuut… tuuuut… tuuuutt’ suara tanda tersambung. Segera Hyung Jun mematikan sambungan dan tersenyum gembira.

Sementara Jung Min yang baru setengah jalan menuju dapur untuk mengambil minum, kembali menuju kamarnya mendengar handphonenya berbunyi.

‘ah, sudah aktif rupanya,’ batin Hyung Jun gembira.

Segera jarinya menari di atas keypad handphonenya dengan sebuah senyuman jahil terukir di bibirnya. Sementara Jung Min yang baru saja mengecek handphonenya hampir membating benda itu lagi di atas kasur ketika ada sebuah sms masuk.

‘annyeong oppa! Bagaimana tidur siangnya? Apa tidur siang oppa nyenyak? Semoga besok malam sukses, oppa! Hwaiting!’

Begitulah isi sms yang masuk ke handphone Jung Min. ‘dia lagi.. dia lagi.. siapa sih dia!? Miscall doang. Udah gitu, tau dari mana dia kalo aku barusan tidur siang?’ batin Jung Min penasaran.

Hampir ia akan membalas sms itu ketika Kyu Jong datang mengetuk pintu kamarnya.

“Jung Min ah~ ayo kita segera latihan koreografi untuk dancemu,” ajak Kyu Jong.

“ne, ayo latihan!” sambut Jung Min yang langsung meninggalkan handphonenya begitu saja di atas napkin.

Jung Min berjalan menikuti Kyu Jong menuju ruang koreografi.
“Kyu, apakah Hyun Joong hyung masih marah dengan kejadian tadi siang?” tanya Jung Min.

“ehm, entahlah, mungkin saja,” jawab Kyu Jong bingung.

“apakah hyung masih latihan?” tanya Jung Min lagi.

“eh, uhm, iya,” jawab Kyu Jong sedikit gugup. Jung Min menghela nafas panjang. ‘kurasa akan terjadi masalah besar. Yah, mau bagaimana lagi.’ Batin Jung Min.

Kyu Jong membuka pintu ruang koreografi dan masuk diikuti Jung Min. Terlihat di dalam hanya ada Hyun Joong dan Young Saeng. Hyun Joong menoleh menatap Kyu Jong dan Jung Min. Kyu Jong segera bergabung dengan Young Saeng yang sibuk berlatih dance sementara Jung Min berusaha tidak memperdulikan Hyun Joong yang nenatapnya tajam. Tak lama pintu ruang koreografi terbuka dan masuklah Hyung Jun.

“dari mana? Lama amat,” komentar Hyun Joong.

“ah, maaf hyung, aku baru saja buang air besar,” ucap Hyung Jun meminta maaf dengan sebuah senyuman manis. “ah, Jung Min hyung telah bangun rupanya,” ujar Hyung Jun, lagi-lagi dengan sebuah senyuman manis. Jung Min hanya mengangguk kecil menanggapi ucapan Hyung Jun.

“hyung, bisakah ulangi gerakan yang di bagian reffrain awal? Aku masih kurang pas dengan lagunya,” pinta Hyung Jun pada Kyu Jong.

“oh ya, baiklah.”

Lalu Kyu Jong, Young Saeng, Hyung Jun dan Hyun Joong segera ambil posisi untuk mengulang dance sementara Jung Min memperhatikan dengan saksama.

“di bagian ini aku dan Young Saeng hyung akan merentangkan tangan ke kanan, lalu Hyun Joong hyung dan Hyung Jun merentangkan tangan ke kiri.” Terang Kyu Jong.

“lalu aku ngapain?” tanya Jung Min yang memperhatikan mereka.

“bukankah kau bilang tadi mau jungkir balik? Jadi kami sengaja membuat kau berada di tengah dan membiarkan kau jungkir balik,” jawab Hyun Joong dingin.

Hyung Jun bergidik ngeri mendengar jawaban dari Hyun Joong sementara Kyu Jong dan Jung Min melongo kaget.

“Joongie, apakah itu tidak berlebihan? Maksudku, kau hanya bercanda kan?” tanya Young Saeng memastikan.

“tidak Saengie, aku serius. Jung Min sendiri tadi yang bilang begitu.” Jawab Hyun Joong datar.

“baiklah, lalu aku harus jungkir balik seperti apa?” tanya Jung Min pasrah.

“terserah kau mau jungkir balik seperti apa, kan kau yang minta.” jawab Hyun Joong dingin dan segera keluar ruang koreografi. Hyung Jun berjalan mendekati Jung Min.

“sudah hyung, jangan dimasukkan dalam hati, oke!? Gerakanmu sudah disiapkan Kyu Jong hyung kok,” hibur Hyung Jun.

“tadi kami hanya menambahkan beberapa gerakan tambahan kok, Cuma sedikit. Santai saja,” ucap Young Saeng.

“ayo kita ulang lagi bagian reffrain awalnya,” ajak Kyu Jong lalu menyetel ulang bagian reffrain dan mereka segera mengambil posisi. Jung Min dengan mudahnya mampu mengikuti dance mereka.

“baiklah, pada bagian ini, nanti kau merentangkan tangan kanan ke depan seperti ini,” terang Kyu Jong sambil memperagakan.

“seperti ini?” tanya Jung Min memperagakannya. Kyu Jong mengangguk dan mengacungkan jempolnya.

“ayo kita ulang lagi” ajak Kyu Jong.
Merekapun mengulang lagi gerakan tersebut.
*
Hyun Joong menghampiri pintu ruang koreografi dan membukanya kasar, membuat Kyu Jong, Hyung Jun, Jung Min, dan Young Saeng menghentikan latihannya. Mereka menoleh kaget ke arah pintu dan melihat Hyun Joong telah berdiri di ambang pintu.

“Jung Min ah~ handphonemu bunyi! Berisik sekali!” protes Hyun Joong.

“ah, jeongmal mianhe, hyung.” Ucap Jung Min. Hyun Joong segera pergi dengan dengusan sebal sementara Jung Min keluar ruang kereografi menuju kamarnya untuk mengambil handphonenya.

‘5 missed call. Dari nomor ini lagi? Kenapa sih dia miscall terus? Apa dia kurang kerjaan!?’ batin Jung Min kesal. Lalu ia melihat ada sebuah pesan masuk.

Annyeong oppa! Bagaimana latihannya? Hyun Joong oppa marah ya sama oppa? Oppa jangan berkecil hati ya!? Joongie oppa melakukannya karena sayang pada oppa. Hwaiting oppa!! ^^

‘APAAA!? Dari mana dia tahu? Siapa dia!?’ Jung Min memandang sekelilingnya.

Tak ada yang aneh di sana. Semua tak ada yang ganjil. Namun Jung Min tetap melihat sekelilingnya, ia menajamkan penglihatannya, mencoba mencari sesuatu yang ganjil.

‘ga ada apa-apa di sini. Kamera, alat sadap, ga ada satupun! Tapi dari mana dia tahu!? Siapa dia?’ tanya Jung Min dalam hati.

“Jung Min ah~ kau kenapa? Ayo kita latihan lagi! Jangan biarkan Kyu Jong dan Hyung Jun sibuk bercanda karena kita tak ada!” ujar Young Saeng sambil menepuk bahu Jung Min dan membalikkan badannya. “eh, Jung Min, kau kenapa? Apa kau tidak apa-apa?” tanya Young Saeng khawatir melihat wajah Jung Min yang pucat.

“i… ini… hyung…” ucap Jung Min bergetar sambil menunjukkan handphonenya.

Young Saeng memperhatikan handphone Jung Min yang lampunya telah mati. Ia meraih handphone tersebut dan memencet sebuah tombol. Lampu display menyala dan memperlihatkan sebuah pesan.

“Annyeong oppa! Bagaimana latihannya? Hyun Joong oppa marah ya sama oppa? Oppa jangan berkecil hati ya!? Joongie oppa melakukannya karena sayang pada oppa. Hwaiting.. oppa..?” baca Young Saeng pelan, ia menyadari sesuatu. “tahu dari mana orang ini kalau Hyun Joong tengah marah padamu?” tanya Young Saeng bingung. Jung Min menggeleng tanda tak tahu.

“Jung Min, orang ini tahu dari mana kalau ini nomormu?” tanya Young Saeng lagi. Lagi-lagi Jung Min menggeleng.

“kamu merasa kenal ga dengan orang ini?” lagi-lagi Young Saeng bertanya pada Jung Min yang dijawab dengan gelengan kepala lagi. Young Saeng menghela nafas panjang. Ia menggeleng pelan, memikirkan sesuatu.

“sudahlah hyung, ayo kita latihan lagi.” Ajak Jung Min sambil melangkahkan kakinya keluar kamar diikuti Young Saeng.

Mereka berjalan menuju ruang koreografi dengan langkah lambat, tenggelam dalam pikirannya masing-masing.

“bisakah kalian jalan lebih cepat lagi? Kita harus latihan sekali lagi.” Ucap Hyun Joong lalu menyeruak di antara Jung Min dan Young Saeng.

Ia melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ruang koreografi dan memasukinya. Jung Min dan Young Saeng mengikuti Hyun Joong memasuki ruang koreografi.

“ayo Kyu Jong, baby! Segera ambil posisi! Kita latihan sekali lagi! Young Saeng, Jung Min! Cepat ambil posisi!” perintah Hyun Joong.

(Author POV’s)

Latihan sore ini cukup melelahkan. Hyun Joong hyung benar-benar ingin kami siap untuk besok. Bahkan Hyung Jun sampai memohon untuk istirahat yang kelima kalinya.

“kalau kau minta istirahat terus, kapan selesainya, Hyung Jun? Ayo sekali lagi,” ucap Hyun Joong.

“hyung, tapi aku juga merasa cape, mengapa kita tak istirahat dulu? Nanti malam atau besok pagi kan masih bisa kita lanjutkan,” ujarku membela Hyung Jun, jujur saja, aku pun ingin sekali istirahat.

“Jung Min ah~, kau ini baru bangun tidur saja bawel! Harusnya kau yang paling semangat latihan! Ehh, ini malah loyo. Kalau begitu, percuma kau tadi tidur!” bentak Hyun Joong hyung menggema di ruang koreografi.

“tapi hyung..”

“ga ada tapi lagi! Kita lanjutkan latihannya!” potong hyung membuatku ingin membalasnya, namun kuurungkan niatku.

Akhirnya kami latihan kembali hingga benar-benar hampir kehilangan tenaga. Bahkan latihan baru dihentikan ketika Kyu Jong hampir ambruk.

“hyuuungg~” teriak baby yang langsung berlari ke arah Kyu dan menyangganya.

Aku segera menghampiri mereka dengan wajah cemas begitupula dengan Hyun Joong hyung dan Saengie hyung. Baby bahkan terlihat mulai menangis.

“hyung, kau tak apa-apa? Apa kau… perlu istirahat? Semenjak tadi… kau sibuk latihan dan… membuat gerakan baru…” ujar Baby terbata dengan mata berkaca-kaca.

“Hyung Jun ah~ aku tak apa koq,” ucap Kyu Jong tersenyum kecil.

“tak apa-apa? Kau hampir ambruk bilang tak apa-apa? Hyung, hentikan latihan ini!” pintaku setengah memaksa pada Hyun Joong hyung.

“Jung Min ah~ tak sadarkah kau dia begini karena kau? Dia semenjak tadi sibuk memikirkan gerakan untukmu! Dia mencoba membayangkanmu menari dengan gerakan yang ia buat, berulang kali ia merasa tak yakin. Maka ia ganti terus dan memikirkan gerakan yang pas untukmu,” ucap Hyun Joong datar, membuatku terbelalak kaget.

Aku menoleh pada Kyu Jong yang terlihat sangat lelah. Ia menegak habis botol minumnya.

“benarkah?” tanyaku tak percaya. Namun Kyu Jong hanya menggeleng lemah dan tersenyum.

“yaa… pernahkah kau temukan maling yang mau mengaku?” tanya Hyun Joong hyung yang lebih tepatnya menyindirku.

Ah, tentu saja, sampai kapanpun tak akan ada maling yang mau mengaku. Apalagi Kyu Jong, ia tak mungkin mengatakan bahwa ia memang cape karena aku. Kyu Jong selalu begitu, bodohnya aku.

“sudahlah, sebaiknya kita papah Kyu Jong ke kamarnya. Kita ga mungkin membiarkannya begini terus,” ucap Saengie hyung akhirnya.

“aku akan temani hyung!” ujar Baby memaksa.

“sudahlah Hyung Jun, aku tak apa-apa. Tak perlu seperti itu,” tolak Kyu Jong.

“ga mau! Aku mau temani hyung!” Baby benar-benar keras kepala kalau sudah menyangkut Kyu Jong.

Aku pun ingin menemani Kyu Jong. Baby lalu mengalungkan tangan kanan Kyu Jong di lehernya untuk memapah Kyu Jong. Aku segera mengambil tangan kiri Kyu Jong dan mengalungkannya di leherku. Saengie hyung pun membuka pintu ruang koreografi untuk kami.

“Kyu, apa kau yakin tak apa-apa?” tanya Saengie hyung setelah keluar dari ruang koreografi.

“iya hyung, mungkin hanya perlu istirahat sebentar,” jawab Kyu dengan tersenyum kecil. Bahkan disaat seperti ini pun ia masih bisa tersenyum untuk menyatakan ia tak apa-apa.

“hyuung, kau.. mau.. kubuatkan sesuatu..?” tanya Hyung Jun dengan suara serak, jelas ia hampir menangis.

“Hyung Jun ah~ apakah kau menangis? Aku benar-benar tidak apa-apa, kau tak perlu seperti itu,” ujar Kyu sembari menepuk bahu Hyung Jun. Hyung Jun mulai meneteskan air matanya. Hah! Di saat seperti ini justru menangis! Apa gunanya?

“Hyung Jun ah~ kau tak perlu menangis seperti ini,” ucap Kyu lalu melepas kalungan tangannya di leherku serta melepas tanganku yang memeluk pinggangnya. Ia lalu merangkul Hyung Jun yang terisak.

Melihat mereka seperti ini, membuatku tak tahan! Kulihat Saengie hyung pun mulai berkaca-kaca dan memeluk Kyu Jong dan Hyung Jun. Aku mengikutinya memeluk Kyu Jong, Hyung Jun dan Saengie hyung.

“hei.. hei.. ada apa ini? Mengapa kita berpelukan seperti ini dan menangis?” tanya Kyu Jong polos.

(Author POV’s)

Kyu Jong melepas pelukannya lalu mengedarkan pandangannya pada teman-temannya dan tersenyum. Ia melihat air mata mengalir deras di pipi Hyung Jun dan Young Saeng, sementara mata Jung Min tampak berkaca-kaca.

“jangan menangis, nanti aku jadi ingin menangis,” ucap Kyu Jong lalu mengusap pipi Hyung Jun dan Young Saeng, namun air mata Hyung Jun justru semakin mengalir dengan derasnya. Jung Min menggeplak Hyung Jun.

“baboo! Kyu Jong sudah bilang jangan menangis! Mengapa kau justru semakin terisak!?” ujar Jung Min sambil menghapus air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Hyung Jun perlahan mulai mengontrol tangisnya dan terdiam.

“Kyu Jong, aku minta maaf. Aku tahu aku salah,” ucap Jung Min.

“percuma kau minta maaf, toh semua sudah terjadi,” ucap Hyun Joong tiba-tiba datang. Jung Min merasakan kupingnya memanas menahan amarah.

“sudahlah hyung, tak apa, semua orang juga pasti ingin istirahat,” ucap Kyu Jong berusaha menengahi Jung Min dan Hyun Joong.

Hyun Joong seolah tak memperdulikan perkataan Kyu Jong dan melenggang pergi begitu saja.

“ah, Kyu, kau mau kuambilkan jus wortel? Sangat baik untuk kesehatan. Kuambilkan yah!?” ujar Jung Min yang langsung berlari ke arah dapur berusaha mengalihkan amarahnya.

Ia menghampiri kulkas dan mencari botol jusnya. Namun jusnya telah habis. Amarahnya pun kembali memuncak, tetapi ia coba menahannya lagi.

“Jung Min ah~ handphonemu bunyi~” teriak Young Saeng.

Jung Min segera menutup pintu kulkas dan berjalan menuju kamarnya. Ia melihat layar handphone itu berkedip-kedip tanpa henti, sebuah telepon masuk. Handphone mungil itu menampilkan sebuah nomor yang tak ia kenali.

“yoboseyo…” sapa Jung Min seramah mungkin. Namun tak ada jawaban sama sekali.

“yoboseyo…” ulang Jung Min, namun tak ada jawaban lagi.

“yoboseyo… choneun irumun Park Jung Min…” ujar Jung Min memperkenalkan diri, namun usahanya sia-sia belaka.

Telepon itu justru diputus begitu saja. Jung Min berusaha menganggap orang itu salah nomor. Lalu ia membawa handphonenya menuju dapur. Ia teringat bahwa telah janji dengan Kyu Jong untuk membuatkannya jus wortel.

Ia berjalan membuka kulkas dan mencari wortelnya, namun tak ada satupun. Ia mencoba mencarinya di lemari bahkan meja makan, namun hasilnya nihil. Tiba-tiba handphonenya berbunyi lagi. Layar mungil itu menampilkan nomor yang menghubunginya tadi.

“yoboseyo…” sapa Jung Min. Sedetik.. dua detik.. tak balasan.

“yoboseyooo….” sapa Jung Min mulai jengah. Masih tak ada jawaban.

“heiii… kau kalau mau menghubungi orang yang sopan dong! Disapa malah diam saja! Kau mau cari siapa?” tanya Jung Min dengan nada jengkel.

“tuuuutt… tuuuutt… tuuutt..” sambungan terputus.

“kurang ajar! Siapa sih!? Ganggu!” ujar Jung Min sebal. Lagi-lagi handphonenya berbunyi, kali ini layar mungil handphone itu menunjukkan sebuah pesan singkat masuk.

Annyeong oppa, maaf mengganggu. Bukan maksudku seperti itu, hanya saja aku bingung harus bilang apa. Mian oppa.

Begitu isi dari pesan tersebut. Jung Min tak menggubrisnya, ia memilih mencari wortelnya lagi. Ia hampir mengobrak-abrik setiap sudut dapur, tapi hasilnya tetap NIHIL.

“Hyung Juuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuunn!!!” teriak Jung Min memanggil Hyung Jun.

“iya hyung?” tanya Hyung Jun yang tiba-tiba muncul di dapur dan hampir membuat Jung Min meloncat kaget.

“kau! Bikin kaget! Dari mana!?” tanya Jung Min dengan nada jengkel.

“ah, mian hyung, aku baru saja dari toilet,” jawab Hyung Jun sembari meminta maaf dan membungkuk.

“kau tahu siapa yang menghabiskan jus wortelku?” tanya Jung Min tanpa basa-basi.

Hyung Jun terdiam,wajahnya terlihat panik. Jung Min menunggu jawaban dari Hyung Jun sambil mengutak-atik handphonenya.

“jawab Hyung Jun!” ucap Jung Min tanpa mengalihkan pandangannya dari hadphonenya.

Ia membuka daftar recent call di handphonenya dan melihat nomor yang menghubunginya tadi adalah nomor yang sama dengan yang kemarin miscall dan mengirim sms. Iseng, ia memencet tombol hijau dan menempelkan di telinganya. Matanya menatap Hyung Jun tajam.

“hei, kau menjawab pertanyaan dariku saja lamanya minta ampun!” ujar Jung Min, Hyung Jun hanya menundukkan kepalanya.

Tiba-tiba dering lagu ‘I Am’ membahana di dapur itu. Jung Min melirik saku celana Hyung Jun. Hyung Jun terlihat gelisah merasakan getaran di saku celananya.

“hei, kau ada telepon mengapa tak kau angkat?” tanya Jung Min yang masih menempelkan handphonenya di telinga walaupun masih tak diangkat.

Hyung Jun semakin tegang, ia memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Ia mengeluarkan handphonenya dengan tangan yang gemetar hebat. Ia memencet tombol hijau dan menempelkannya di kuping tanpa bersuara.

Jung Min yang merasa telponnya telah diangkat segera membalikkan badannya.

“yoboseyo…” sapa Jung Min, namun ia terkejut ketika mendengar suaranya dari seberang.

Dia menoleh menatap Hyung Jun dan mendekatinya. Wajah Hyung Jun terlihat semakin ketakutan. Jung Min meraih handphone Hyung Jun dan melihat layar mungilnya. Sebuah nama ‘Jung Min hyung’ tertera di sana.

“Hyung Jun ah~ kau.. apa maksudmu?” tanya Jung Min tajam. Hyung Jun menundukkan wajahnya dalam-dalam. Ia diam sementara tubuhnya bergetar hebat. Ia merasa air matanya akan keluar.

“Hyung Jun..” panggil Jung Min dengan nada penuh penekanan.

“jawab aku! Apa maksudmu hah!?” bentak Jung Min kehilangan kesabarannya. Hyung Jun hanya terdiam sementara ia semakin bergetar hebat.

“kau.. menggangguku tempo hari dengan memiscallku terus, mengirim pesan singkat yang ga jelas.. maksudmu apa!?” bentak Jung Min lagi.

“aku.. aku..” jawab Hyung Jun terbata.

“kamu apa!?” sahut Jung Min, “jangan bilang kau juga yang menghilangkan semua jus wortel beserta wortelnya!” tambah Jung Min.

“wo.. wortel itu.. bu.. bukan aku.. hyung..” jawab Hyung Jun terbata.

“lalu siapa!?” bentak Jung Min lagi.

“aku.. ada masalah?” jawab Hyun Joong dari pintu dapur. Jung Min menoleh menatap Hyun Joong.

“hyung.. kau tahu kan kalau aku begitu menyukai wortel!?” tanya Jung Min berusaha mengontrol amarahnya.

“Aku tahu, tapi jusmu sudah berbau busuk tadi, jadi kubuang. Waktu aku akan membuat jus wortel untukmu lagi, wortelnya jatuh dan terinjak olehku jadi kubuang,” jelas Hyun Joong datar.

“apa!? Hyung.. kenapa kau tak hati-hati!?” ujar Jung Min lepas kontrol.

“kau kan bisa membelinya lagi,” tambah Hyun Joong asal.

“tapi hyung! Kau tak bisa begitu!” ujar Jung Min lagi dengan nada meninggi.

“tentu bisa, mengapa tidak!?” ucap Hyun Joong.

“aaaaaarrghh! Kaliaaaaaaaaaaann! Tak bisakah tak membuatku marah!? Dan.. Hyung Jun ah! Apa maksudmu dengan ini!?” tanya Jung Min beralih pada Hyung Jun. Hyung Jun mulai terisak.

“Jung Min ah~ jangan membuat Hyung Jun menangis!” bentak Hyun Joong.

“tapi hyung, dia tak sopan!” balas Jung Min.

“tak sopan? Apakah kelakuanmu sopan?” tanya Hyun Joong.

“apa!? Hyung.. tapi dia benar-benar keterlaluan!” elak Jung Min.

“lebih keterlaluan siapa? Kau atau Hyung Jun?” tanya Hyun Joong.

“maksudmu hyung?” tanya Jung Min tak paham.
“hari sespesial ini bahkan kau lupakan begitu saja,” jawab Hyun Joong, Jung Min terdiam.

“hyungg…” panggil Hyung Jun ditengah isakannya.

“ne, waeyo?” tanya Jung Min kasar.

“mi.. mianhe.. hyung..” ucap Hyung Jun masih dengan isakannya.

Tiba-tiba lampu dorm mati, terdengar Hyung Jun semakin terisak.

“Hyung Jun ah~ sssshh!” ujar Jung Min menyuruh Hyung Jun diam.
Tak lama terdengar langkah seseorang membuka pintu dapur.

“Young Saeng hyung, kaukah itu?” tanya Jung Min. Tak ada balasan.

Lalu terdengar langkah seseorang lagi yang memasuki dapur dengan langkah perlahan diiringi sebuah cahaya yang redup. Cahaya lilin yang menancap di atas sebuah kue bertuliskan “SAENGIL CHUKKAE, PARK JUNG MIN”.

“saengil chukkae hamnida… saengil chukkae hamnidaa… saengil chukkae hamnida.. saengil chukkae hamnida…” lampu menyala dibarengi nyanyian Young Saeng, Kyu Jong, Hyun Joong, serta Hyung Jun yang masih sedikit terisak. Jung Min menganga melihat semua itu, ia berusaha mencerna apa yang tengah terjadi.

“Jung Min, saengil chukkae. Maaf membuatmu sebal seharian ini,” ucap Kyu Jong yang membawa kue dengan senyuman manis.

Jung Min menatap wajah temannya satu persatu yang tersenyum manis padanya. Rasanya kakinya ingin sekali melangkah pergi. Ketika Jung Min akan membalikkan badannya, Hyun Joong sempat menahan tangannya.

“jangan pergi disaat seperti ini, kita adalah satu. Kalau kau merasa sedih, datanglah pada kami,” ucap Hyun Joong.
Jung Min tak dapat membendung air matanya lalu memeluk Hyun Joong dan menangis.

‘aku.. bodoh.. memarahi dua orang yang begitu kusayang..’ batin Jung Min. Ia menjulurkan tangannya ke arah Hyung Jun yang kini mulai terisak lagi. Hyung Jun meraih tangan Jung Min lalu memeluknya dengan isakan yang semakin menjadi.

“mi..mianhe..” mohon Jung Min. Hyung Jun menggeleng.

“sa.. salahku juga hyung.. mianhe…” ujar Hyung Jun.

“senangnya melihat Tom and Jerry kita seperti ini,” ujar Kyu Jong akhirnya dengan sebuah senyum yang sangat manis.

Cepat-cepat Jung Min melepas pelukannya sementara Hyun Joong, Young Saeng, dan Kyu Jong tertawa. Hyung Jun menghapus air matanya dan Jung Min pura-pura ngambek.

“Jung Min ah~ sebaiknya kau cepat-cepat berdoa dan tiup lilinmu,” ujar Hyun Joong.

“aah, arasso!” Jung Min lalu memejamkan matanya untuk berdoa.

Setelah selesai berdoa, ia membuka matanya lalu tersenyum dan meniup lilinnya diiringi tepuk tangan Young Saeng, Hyun Joong, dan Hyung Jun. Kyu Jong membawa kue itu ke meja makan lalu mengambil pisau kue.

“ini pisaunya, ayo potong kuemu dan berikan potongan pertama pada salah satu dari kami,” ucap Kyu Jong tersenyum.

“ne,” kata Jung Min lalu mengambil pisau dan memotong kuenya menjadi 5 potongan.

“potongan pertama untuk Kyu Jong,” ucap Jung Min sembari memberikan potongan pertama pada Kyu Jong.

“gomawoyo Jung Min,” ujar Kyu Jong tersenyum.

“lalu yang kedua untuk Young Saeng hyung,” Jung Min mengangsurkan potongan ke 2 pada Young Saeng.

“gomawo..” ucap Young Saeng.

“dan yang ketiga untuk Hyun Joong hyung,” dan Jung Min mengangsurkannya pada Hyun Joong. Lalu Jung Min mengambil sepotong dan sebuah sendok kecil.

“selamat makaan~” ucap Jung Min dengan senyuman lebar.

“lhooo~ untukku mana hyung?” rengek Hyung Jun.

“kau ambil sendiri! Kkekeke,” ucap Jung Min terkekeh melihat Hyung Jun cemberut.

“tentu saja aku bercanda! Ini untukmu,” ujar Jung Min akhirnya memberikan potongan kue di tangannya pada Hyung Jun, Hyung Jun tersenyum senang.

“gomawoyo hyung,” ucap Hyung Jun. Lalu mereka melahap kue tersebut dengan lahap.
~EPILOG~
Jung Min : “oh ya hyung, wortelku kau taruh mana?”
Hyun Joong : “entahlah, aku lupa, mungkin digudang.”
JM+YS+KJ+HJB : =.=”
Kyu Jong : “apakah rotinya enak?” o.O
Hyung Jun : “sangat enak hyung!” ^^
Jung Min : “enak, tapi lebih enak lagi kalau ada yang rasa wortel! Hhahaha..”
HJL,HJB,YS,KJ : =.=a
Hyun Joong : “emang ada?” *mencolekkan krim ke wajah Jung Min*
Jung Min : “gyaaahh~ hyuuung!” *berteriak*
HJL,HJB,YS,KJ : “hhahahhaa!”
=FIN=

.FF yg waktu itu aq buat untuk Park Jungmin birthday ,
.tpi geje =o=”
.sorry . m(__)m

.thanks for reading guys🙂

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: