Beranda > fanfiction, oneshot, whyenda_arinka > [OS] The First and Last Time

[OS] The First and Last Time

Length : Oneshot
Genre : Friendship, Angst
Rating : G
Cast : Kim Song Hyun, Kim Kyu Jong, another SS501 member

Disclaimer : I don’t own Kim Kyu Jong and another member! they are belongs to SS501! and Kim Song Hyun are belongs to my imagination. this story are made by me.

==========
(Kyu Jong’s POV)

Sinar matahari masuk melalui celah tirai jendelaku. Aku terbangun dan mengingat-ingat hari ini, aku tersenyum pahit. Aku duduk dan melihat jam dinding, jam setengah enam. Aku menoleh pada meja sudut di samping ranjangku, ada sebuah figura berisi fotoku dan seorang gadis manis di sana. Aku meraih figura tersebut dan tersenyum pahit lagi.

“Song Hyun a, kau ingat ini tanggal berapa?” tanyaku lirih pada foto itu, aku tau takkan ada jawaban dari figura itu.

“ini tanggal 21 April, hari ulang tahunmu. Hari di mana kita pertama bertemu… dan juga terakhir..” ucapku dengan sebuah senyum pahit.

“serta hari kematianmu…” tambahku terenyuh. Aku ingat dengan jelas saat bersama Song Hyun setahun yang lalu.

[18 April 2009]

Baru saja kami,SS501, menyelesaikan latihan hari itu ketika manager datang membawa sebuah surat untukku.

“Kyu Jong-sshi, ada undangan untukmu tanggal 21 April nanti. Bacalah dan rundingkan dengan member yang lain,” ujar manager seraya menyerahkan sebuah amplop untukku.

Aku hanya kebingungan dan menatap 4 member SS501 yang lain dengan penuh tanda tanya. Ternyata merekapun menatapku dengan penuh tanya pula.

“sebaiknya kita duduk dulu dan membacanya bersama, baru kita rundingkan. Lagipula, sepertinya tanggal 21 nanti kita tak ada acara selain latihan, kau bisa menyusul atau kita ganti dengan hari lain kalau kau mau,” saran Hyun Joong hyung, leader kami, dengan tenang.

Kami menuruti sarannya dan duduk di sofa terdekat, kami duduk berdempetan dengan aku di tengah. Aku membuka amplop itu lalu mengeluarkan surat di dalamnya dengan perlahan dan member lain saling melongokkan kepala mereka untuk membacanya. Kami membacanya dalam diam.

“hyung, datanglah.. kami tak apa, urusan jadwal itu mudah diatur..” ucap maknae Hyung Jun dengan mata berkaca.

“Hyung Jun a! Kau tak perlu nangis seperti itu! Untung saja yang diundang itu Kyu Jong, andaikata yang diundang kau, aku yakin kau akan terus menangis,” sergah Jung Min pada Hyung Jun lalu mendesakku, “Kyu, penuhi saja,”

“bagaimana Kyu, apakah kau akan datang?” tanya Young Saeng hyung. Aku terdiam.

“jangan kecewakan gadis ini, kalau kau masih memikirkan jadwal kita, itu masih bisa diatur ulang. Datang saja..” tambah Hyun Joong hyung.

Aku menatap keempat member SS501 satu persatu dan mereka menganggukkan kepala seakan meyakinkanku. Aku mengangguk dan tersenyum, mereka pun tersenyum.
***
[21 April 2009]

Aku telah sampai di pelataran parkir DSP Entertainment. Aku keluar dari mobil dan menguncinya lalu memasuki lobby gedung itu. Satpam dan 2 resepsionis membungkuk, memberiku salam serta senyuman. Aku membalasnya lalu melangkah menuju meja resepsionis.

“annyong Kyu Jong sajangnim, ada yang bisa kami bantu?” sapa salah satu dari mereka dengan senyuman.

“annyong, ne, tolong. Aku hari ini ada janji dengan keluarga dari Kim Song Hyun-sshi, bisa beritahu di mana tempatnya?” tanyaku sopan.

“ooh, keluarga Kim, mereka menunggu di lantai 3 ruang manager SS501, sajangnim,” jawab mereka masih tersenyum.

“aah, kamsahamnida,” ucapku tersenyum dan segera berlalu menuju lift.

Aku menunggu beberapa saat dan pintu lift bergeser terbuka, aku segera masuk. Kutekan tombol nomor 3, pintu lift bergeser menutup. DING. Angka di atas pintu lift menunjukkan angka 3, pintu lift bergeser terbuka dan aku segera keluar. Aku menyusuri lorong melewati 5 ruangan besar dan berhenti di ruangan keenam di sebelah kanan. Aku mengetuk pintu dan membukanya, menyembulkan kepalaku terlebih dahulu untuk memastikan managerku ada di dalam.

“annyong,” sapaku lalu masuk dan tersenyum manis pada semua yang ada di ruangan itu.

Di sana telah duduk sepasang suami istri-menurutku- dan seorang gadis manis yang kurasa anak mereka dengan senyum manis. Pandanganku tertumbuk pada gadis manis yang mengenakan terusan berwarna biru cerah polos dengan bolero putih dan tersenyum pucat. Aku membungkukkan badanku pada mereka.

“annyong,” sapaku sekali lagi masih dengan senyum manisku.

“annyong,” balas mereka serempak.

“choneun irumun Kim Kyu Jong imnida,” ucapku memperkenalkan diri. Gadis itu tersenyum lebar-wajahnya masih pucat- dan berdiri.

“Kim Song Hyun imnida, Kyu Jong sajangnim,” balasnya dengan membungkuk.

“aigo, jangan panggil aku songsaenim, oppa saja, ara!?” kataku dengan senyum jahil. Gadis itu tersenyum.

“ara, Kyu Jong oppa,” ucapnya setuju lalu kembali duduk.

“baiklah Kyu Jong-sshi, silahkan duduk,” ujar managerku akhirnya. Aku duduk di kursi samping manager.

“Kyu Jong-sshi, mereka adalah keluarga Kim seperti yang kuberitahu. Ini adalah Kim Song Hyun-sshi dan mereka adalah omma dan appa Song Hyun-sshi,” ucap manager memperkenalkan ahjumma dan ahjussi Kim.

“annyong,” sapa mereka.

“annyong Kim sajangnim,” balasku tersenyum.

“Song Hyun-sshi, bisa ikut denganku sebentar?” tanya manager pada Song Hyun-sshi. Ia mengangguk dan mengikuti manager maninggalkan ruangan ini.

“maaf sebelumnya bila kami merepotkan anda, Kyu Jong sajangnim,” buka Kim ahjussi.

“ah, tidak apa songsaenim,” elakku.

“begini, Song Hyun baru-baru ini divonis dokter mengidap kanker otak stadium 4. Umurnya sudah tak lama lagi, sewaktu-waktu Tuhan akan mengambilnya dari kami,” jelas Kim ahjussi.

‘Huh? Bagaimana bisa baru-baru ini divonis sudah langsung stadium 4?’ Batinku terkejut. Sepertinya Kim ahjussi mengerti keterkejutanku, bukan karena penyakitnya, tapi waktu.

“ya, kami tahu anda pasti bingung, baru saja divonis sudah stadium 4,” aku mengangguk dan mendengarkannya dengan serius, “selama ini Song Hyun selalu menyembunyikan rasa sakitnya, tanpa ada satupun yang tahu, hingga belakangan ini ia sering pingsan tiba-tiba. Kami yang khawatir pun membawanya ke rumah sakit dan dokter memvonisnya seperti itu.” Jelas Kim ahjussi lagi dengan nada bergetar, dan mata Kim ahjumma mulai berkaca-kaca. Aku tersentak kaget, ‘bagaimana mungkin ia bisa menahan segala sakitnya seperti itu?’ hatiku miris mendengarnya.

“di.. dia mengetahui akan hal ini, dan meminta satu hal terakhir sebelum akhirnya pergi.. di.. dia meminta kami untuk mempertemukannya dengan anda, Kyu Jong sajangnim,” tambah Kim ahjumma dengan terbata dan derai air mata,”ja.. jadi.. kami.. membuat ja.. janji dengan manager anda.. untuk hadiah ulang tahunnya, ha.. hari ini..” tambahnya lagi.

“begitu kami mendengar dari manager bahwa anda mau memenuhi permintaan kami, Song Hyun sangat senang sekali. 2 hari ini ia selalu tersenyum seakan memiliki harapan hidup lagi,” ujar Kim ahjussi berusaha tergar, “oleh karena itu, kami sangat berterima kasih sekali pada anda, Kyu Jong sajangnim, yang telah meluangkan waktu anda untuk anak kami,” tambahnya.

“gwenchana songsaenim, saya juga senang bisa menemani Song Hyun-sshi sebelum Tuhan mengambilnya,” ujarku dengan senyum pahit.

“maaf sajangnim, saya minta tolong untuk menganggap Song Hyun seperti masih memiliki umur panjang, anggaplah ia sedang tidak sekarat,” pinta Kim ahjumma.

“pasti, sajangnim,” ujarku penuh keyakinan.
***
“baiklah, sekarang kita akan ke mana, Song Hyun-sshi?” tanyaku berusaha seceria mungkin dan tersenyum lebar.

“aigo, jangan panggil aku dengan tambahan –sshi oppa, Song Hyun saja biasa,” ucapnya lalu menggembungkan pipinya. Aku tertawa kecil melihat tingkahnya.

“arasso, Song Hyun a, kau mau ke mana sekarang?” ulangku masih dengan senyum lebarku.

“mmm…” ia terlihat berpikir sebentar sambil menggigiti ujung kukunya yang lentik, “ke taman bermain saja oppa, aku ingin sekali ke sana!” ucapnya bersemangat.

“baiklah, sudah diputuskan! Kita akan ke taman bermain! Kencangkan sabuk pengamanmu, noona!” teriakku pelan diiringi tawanya yang renyah.

Aku menjalankan mobil dengan santai meninggalkan pelataran parkir gedung DSP Entertainment menuju sebuah taman bermain di kota Seoul. Melewati keramaian kota, gadis itu terlihat tersenyum riang walaupun wajahnya masih pucat.

“jadi, ada apa dengan hari ini? Sepertinya spesial sekali ya, Song Hyun?” bukaku dengan kedipan mata jahil.

“aah, oppa~” ujarnya terlihat malu, wajahnya bersemu merah tapi tetap saja terlihat pucat.

“hhaha~ Song Hyun a, saengil chukkaeyo..” ucapku padanya lalu mengelus kepalanya lembut. Matanya berbinar dan terlihat wajahnya semakin bersemu merah.

“jeongmal gomawoyo, oppa,” ucapnya malu-malu.

“cheonmaneyo, wajahmu lucu sekali,” ujarku lagi dan terkikik geli.

“yaa~ oppa!” ujarnya mengerucutkan bibirnya, tawaku kini meledak dan ia pun ikut tertawa.
***
“Song Hyun ya~ sekarang kau mau main apa?” tanyaku ketika sampai di taman bermain.

“hmm, kita ke sana yuk oppa!?” tanyanya lalu tanpa menunggu jawabanku, ia segera menarik tanganku menuju sebuah tempat bernama “Haunted House”.

Aku hanya pasrah ditarik Song Hyun. Walaupun takut, demi anak ini, mau tak mau harus masuk . >~< Sempat kulihat beberapa orang memicingkan matanya untuk melihatku, berusaha mempercayainya. Beberapa lagi berbisik-bisik. Yaah, kalian tak salah lihat, ini aku, SS501 Kim Kyu Jong. Tapi aku tetap berjalan memasuki antrian “Haunted House”.

Kami hanya perlu menunggu sekitar 5 menit untuk dapat memasuki “Haunted House”. Song Hyun mengencangkan pegangannya pada lenganku, terlihat sedikit takut, aku tersenyum simpul.

“kalau takut, sebaiknya tak usah,” ujarku jahil. Ia mengerucutkan bibirnya dan menggeleng.

“tidak, aku mau mencobanya oppa,” ucapnya seakan berusaha menguatkan diri untuk tidak takut. Aku tersenyum lalu mengikutinya memasuki “Haunted House”.
***
“oppa! Ayo kita naik roller coaster!” ajak Song Hyun penuh semangat dan menarikku menuju wahana roller coaster.

Baru saja aku menghela nafas lega bisa keluar dari ruangan penderitaan itu, sekarang gadis ini justru mengajakku naik roller coaster. Bener-bener bikin jantungan. Sepertinya aku harus membuat janji dengan dokter jantung setelah ini.

Kami memasuki antrian roller coaster yang lumayan panjang, Song Hyun tetap tersenyum senang menunggu antrian. Wajahnya terlihat semakin pucat saja, tapi ia tetap tersenyum seakan tak merasakan sakit apapun. Hatiku menjerit melihatnya, bagaimana bisa gadis belia ini menahan sakitnya tanpa ada yang tahu? Tiba-tiba ia meringis kecil lalu berusaha tersenyum lagi dan menatapku.

“ada apa oppa?” tanyanya.

“ah tidak,” elakku.

“Song Hyun a, apa kau haus? Mau kubelikan minum?” tawarku.

“ah, tak usah oppa, aku tidak haus koq,” tolaknya dengan senyum manis.

“tunggu di sini, aku mau beli minum dulu,” pintaku tanpa mendengar penolakkannya, ia hanya mengangguk.

Aku berjalan menuju sebuah counter dan membeli 2 kaleng jus lalu membayarnya. Aku segera kembali menuju antrian roller coaster dan menyerahkan sekaleng jus untuk Song Hyun. Ia menoleh melihatku dan mengambilnya.

“gomawo oppa,” ucapnya sambil tersenyum.

“cheonmaneyo,”

“seharusnya oppa tak perlu membelikanku,” katanya kemudian.

“tak apa, kau pasti haus kan!?” ujarku lalu tersenyum. Ia tersenyum dan mengangguk. Kami meneguk jus itu.

“oppa, setelah ini, kita photo box yuk!? Untuk kenang-kenanganku,” ajaknya dengan nada pelan. Hatiku bagai tertusuk pisau, gadis ini..

“ne, kita akan foto sebanyak-banyaknya!” ucapku begitu saja, Song Hyun tersenyum senang mendengarnya.

Akhirnya, giliran kami menaiki roller coaster itu. Ia menarikku untuk duduk di seat depan, benar-benar gadis nekat.
***
‘Gosh! Akhirnya selesai juga roller coaster ini! Bener-bener aku harus ke dokter jantung setelah ini!’ pikirku dengan jantung yang berdegup kencang.

Aku yakin kini wajahku berubah pucat-walau tak sepucat Song Hyun-. Aku melirik Song Hyun yang terlihat menikmati wahana barusan. Dia tertawa melihat wajahku.

“hhahaha! Mianhe oppa, kau pasti tak suka ketika berada di ketinggian tadi,” mohonnya masih terkikik. Aku menggembungkan pipiku namun dia justru terpingkal-pingkal.

“Song Hyun a, kau tahu kenapa kau terus menarikku?” tuntutku masih menggembungkan pipiku.

Ia berusaha menahan tawanya tapi tak bisa. Aku mengacak rambutnya lembut dan tersenyum. Ia pun berhenti tertawa dan membalas senyumanku.

“oppa, ayo kita photo box!” ajaknya.

“ne, ayo,” jawabku menariknya menuju box photo terdekat. Kami memasuki box photo lalu aku merogoh sakuku untuk mencari koin dan memasukkannya ke lubang dengan tulisan 'insert coin here'.
***
“aku yang ini ya oppa!?” pinta Song Hyun saat kami keluar dari box photo.

Kami sedang melihat hasil photo box tadi. Aku tersenyum dan mengangguk.

“ambil saja foto yang kau inginkan, Song Hyun,” tambahku.

“kalau aku sih, ingin semuanya oppa, tapi nanti oppa jadi tak punya kenangan denganku lagi. Aku tak mau oppa melupakanku,” ucapnya tersenyum jahil. Aku mengacak rambutnya lembut.
“kau lapar?” tanyaku lembut. Ia menggeleng.

“sebaiknya kita makan dulu, entah kau lapar atau tidak,” ucapku lalu menariknya ke sebuah restoran. Ia menurut ketika kutarik menuju sebuah restoran.

Kami memasuki restoran dan mengambil tempat duduk di dekat jendela yang menghadap wahana permainan air. Seorang waitress mendatangi kami dengan daftar menu.

“selamat siang sajangnim, silahkan menulis pesanan anda di sini,” kata waitress itu sambil memberikan daftar menu dan sebuah kertas beserta bolpoin lalu pergi meninggalkan kami dengan sebuah senyuman.

“Song Hyun a, kau pesan dulu ya!? Oppa mau ke toilet sebentar,” kataku pada Song Hyun yang dibalas dengan anggukan kecil dan sebuah senyum.

Aku segera menuju toilet yang kebetulan berada di dekat meja counter dan pintu keluar. Aku berhenti di meja counter dan disambut dengan senyum oleh seorang waitress.

“selamat siang, ada yang bisa kami bantu?” sapa seorang waitress ramah.

“ah siang. Begini, apa tadi ada yang menitipkan sebuah kue tart kecil untuk Kim Kyu Jong?” tanyaku.

“benar sajangnim. Apa anda Kim Kyu Jong sajangnim?” tanya mereka ramah.

“ne, Kim Kyu Jong imnida,” jawabku.

“bisa tanda tangani ini terlebih dahulu?” pintanya sambil menyodorkan kertas dan bolpoin. Segera kutanda tangani kertas tersebut dan menyerahkannya.

“ini kue tart anda, sajangnim” ucap waitress itu sembari menyerahkan kue tart berdiameter 30 cm yang kubeli kemarin sore. Kubuka kotak kue tesebut lalu menyematkan lilin angka 1 dan 5 yang tersedia.

“maaf, boleh pinjam pemantik api?” tanyaku pada waitress.

“ne, ini sajangnim,” jawabnya sembari memberikanku pemantik api.

“kamsahamnida” ucapku lalu mengambil pemantik itu dan menyulutkan lilin diatas kue tart.

Api menyala kecil di lilin itu, aku tersenyum kecil lalu mengembalikan pemantik api pada waitress. Kuangkat kue tart itu dan berjalan perlahan menuju mejaku dan Song Hyun. Aku berdiri di belakangnya yang sibuk melihat wahana permainan air.

“saengil chukkae hamnida.. Saengil chukkae hamnida.. Saranghaneun dear Song Hyun.. Saengil chukkae hamnida..” nyanyiku.

Song Hyun menoleh kebelakang dan terbelalak. Ia membekap mulutnya dan matanya membulat, kaget. Aku tersenyum manis padanya.

“ayo berdoa dan tiup lilinnya,” ucapku. Aku duduk kembali di bangkuku yang berhadapan dengannya, kepalanya bergerak mengikutiku.

Aku meletakkan kue itu dihadapannya. Ia melihatku dan tersenyum. Sejenak ia memejamkan matanya, berdoa. Ia membuka matanya dan meniup lilinnya, aku bertepuk tangan kecil diiringi tawanya.

“ayo potong kuenya,” ujarku lalu menyerahkan pisau kue padanya.

Ia meraih pisau itu dan memotong kuenya perlahan. Ia menaruh potongan kue itu di sebuah piring kecil dan memberikannya padaku.

“untuk oppa..” ucapnya menggemaskan sambil menyerahkan piring berisi kue. Aku menerimanya sambil tersenyum.

“gomawoyo,” ucapku.

“cheonmaneyo oppa,” balasnya tersipu, semakin menggemaskan.

Kamipun menghabiskan siang itu dengan berjalan-jalan di sekitar taman bermain.
***
“oppa~” panggil Song Hyun, ia terlihat semakin pucat. Berulang kali aku mengajaknya pulang, tapi ia tak mau.

“ne?” tanyaku.

“ke pantai yuk!?” ajaknya. Pantai?

“ini sudah sore, kau yakin mau ke pantai, Song Hyun a?” tanyaku. Jujur saja, aku khawatir dengan keadaannya saat ini.

“ya, oppa. Aku sudah lama tak ke pantai, aku ingin melihatnya sekali lagi…” ucapnya lirih, aku mendesah.

“baiklah,” ucapku akhirnya menyetujui ajakan Song Hyun. Gadis itu menatapku dengan binar mata yang indah, walaupun matanya sipit. Aku tersenyum. Segera kami meninggalkan taman bermain itu.
***
“huaaaah! Segarnya udara pantai!” teriaknya girang ketika kami sampai di pantai.

“oppa~ kamsahamnida! Jeongmal kamsahamnida!” lanjutnya menoleh padaku.

“ne, cheonmaneyo,” ucapku tersenyum padanya. Kami berjalan menyusuri pesisir pantai, membiarkan ombak menerjang kami. Sesekali kami berkecipak dengan air, saling membasahi.

Setelah kami lelah bermain di pantai, kami memutuskan untuk duduk di pasir yang lembut. Kami memandang matahari yang hampir terbenam. Song Hyun meletakkan kepalanya di pundakku, aku merangkulnya. Dapat kurasakan angin pantai berhembus cukup dingin.

“oppa..” panggil Song Hyun.

“ne?” tanyaku.

“kamsahamnida oppa,” ucapnya, dapat kurasakan bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman.

“cheonmaneyo,” balasku tersenyum menatapnya.

“oppa tau apa doaku tadi?” tanyanya lagi, masih menyandarkan kepalanya di pundakku. Aku menggeleng.

“aku berdoa untuk orang tuaku. Aku juga berdoa untuk SS5O1 dan untuk oppa..” tambahnya. Aku menatapnya.

“aku berdoa supaya orang tuaku sehat selalu, dan aku berharap akan ada orang yang bisa menjaga mereka. Karna aku sebentar lagi akan pergi..” ucapnya. Hatiku terenyuh.

“lalu aku berdoa agar SS5O1 selalu sukses, mampu menjadi idola dunia dan semakin banyak Triple S yang mendukung SS5O1..” tambahnya.

“aku juga berdoa untuk kebahagiaan oppa. Aku berdoa agar oppa bisa menjadi seorang yang berani..” lanjutnya. Bisa kurasakan aku hampir menangis.

“dan oppa berdoa, kau bahagia selalu,” ucapku kemudian. Ia menggeleng.

“aku sudah bahagia oppa,” katanya.

“mungkin ini saat terakhirku menghirup udara di dunia. Aku senang disaat terakhir aku di sini, ada seorang namja yang selama ini aku idolakan,” lanjutnya, hatiku teriris mendengarnya. “gomawo oppa untuk hari ini.. Maaf aku merepotkan oppa,” lanjutnya.

“gwenchana,” elakku.

“oppa, maukah kau berjanji sesuatu padaku?” tanya Song Hyun kemudian.

“ne, apa itu?” tanyaku ingin tahu.
“mulai tahun depan, pada tanggal ini, datanglah ke tempatku berbaring. Bawalah sebuah bunga untukku, bunga Azalea,” pintanya.

Hatiku tertohok mendengarnya. ‘Azalea? Bunga yang memiliki arti, jagalah dirimu untukku? Ia masih sempat memikirkan orang lain di saat kondisinya seperti ini?’ Batinku menjerit.

“oppa? Waeyo?” tanyanya mengangkat wajahnya dan menatapku lekat. “oppa tak mau? Kalau tak mau, aku tak memaksa,” tambahnya tersenyum tipis. Aku menggeleng.

“molla. Tentu oppa mau, Song Hyun a. Oppa janji, oppa akan datang setiap tahunnya,” ujarku dengan hati perih.

“jinja?” tanyanya, meminta kepastian.

“ne, jinja,” ucapku meyakinkannya. Ia tersenyum senang.

“jangan lupa bunganya ya, oppa,” tambahnya lalu kembali menyandarkan kepalanya di pundakku.

Lama kami memandang matahari yang terbenam dalam diam. Entah sejak kapan, namun tiba-tiba aku merasa kepala Song Hyun merosot dari pundakku secara perlahan. Dengan sigap kutangkap tubuhnya yang lemah dan hampir terjatuh ke pasir. Matanya tertutup, wajahnya pucat pasi. Dapat kurasakan tubuhnya mendingin. Aku cemas mengetahuinya tak sadarkan diri. Aku memeriksa denyut nadinya. Nihil. Tak ada satupun denyutan yang kurasakan.

“aaaaaaaaarrghhhhhh!” aku berteriak kencang.

Air mata mengalir deras di pipiku. Aku memeluk mayat Song Hyun. Sejenak terputar ulang saat-saat aku bersamanya tadi. Kini ia telah tiada.

Air mataku meleleh mengingatnya. Kupeluk figura itu. Dia seorang gadis yang hebat. Tiba-tiba pintu terbuka dan Jung Min melongokkan kepalanya.

“Kyu Jong a, cepatlah bangun..” kata-kata Jung Min terhenti begitu melihatku.

Aku menatapnya nanar. Jung Min memasuki kamarku lalu menutup pintu kembali dan menghampiriku.

“Kyu Jong a, aku tahu kau pasti sedih sekali. Aku pun juga sedih,” ucapnya memelukku.

“aku ingat jawabannya ketika aku bertanya bagaimana ia bisa menahan sakitnya tanpa ada yang tahu..” kataku terisak.

“apa yang dikatakannya?” tanya Jung Min dengan suara bergetar, kurasa ia juga teringat ceritaku.

“ia bilang ketika rasa sakitnya muncul, ia selalu teringat aku,” jawabku parau.

“bagaimana bisa?” tanyanya.

“karena ia tahu bahwa aku akan tetap tersenyum walaupun aku sedih dan sakit..” jawabku lagi. Jung Min memelukku erat.

“Kyu Jong a, menangislah. Gadis itu memang sangat kuat. Tapi dia pasti akan merasa lemah bila melihat orang yang disayanginya sedih. Menangislah, tapi jangan pernah menangis di makamnya,” ujar Jung Min.

Aku menangis semakin terisak. Jung Min benar, kalau aku menangis, dia pasti ikut menangis. Aku mengusap air mataku.

“kau sudah selesai?” tanya Jung Min. Aku mengangguk.

“ne,” jawabku.

“ayo segera mandi! Kau tak mungkin tidak mandi ke makamnya Song Hyun-sshi kan!?” omel Jung Min melepas pelukannya. Keluar lagi sifat disiplinnya.

“arasso!” ujarku beranjak menuju kamar mandi.
***
Di sinilah aku berdiri, di hadapan sebuah gundukan tanah yang terlihat masih baru. Beberapa bunga diletakkan di atasnya. Aku berjongkok menghadap nisan itu, tertera nama ‘Kim Song Hyun’ di sana. Aku mengelusnya dan tersenyum.

“Song Hyun a, oppa datang. Mulai tahun ini dan seterusnya,” ucapku.

“saengil chukkaeyo, Song Hyun. Ini oppa bawakan bunga yang kau inginkan,” lanjutku sambil menaruh bunga putih itu di depan nisannya. Aku tersenyum.

“kau menyukainya, Song Hyun?” tanyaku tersenyum manis.

“annyonghashimnikka? Lama kita tak bertemu, Song Hyun a..” tanyaku penuh dengan nada rindu.

“kau tahu Song Hyun? Sebentar lagi,kami, SS5O1, akan merilis album baru. Kau pasti ingin mendengarnya kan? Oppa janji akan ke sini setelah peluncurannya. Akan oppa bawakan untukmu, Song Hyun,” ucapku tersenyum.

“Song Hyun a, bagi oppa, kau adalah seorang Triple S sejati. Triple S yang setia, hingga akhir hayatmu.” lanjutku. Setelah itu aku memeluk nisan itu dan pamit padanya.

“Song Hyun, oppa harus pergi. Setelah ini ada acara fanmeeting. Semoga kau bisa melihat oppa dari sana. Oppa janji akan ke sini lagi. Tto poepkessumnida.” pamitku lalu berjalan meninggalkan pemakaman itu.
=FIN=

.salah satu FF geje BGT jaman purbakala *LOL* XDD

.thanks for reading🙂

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: