Beranda > fanfiction, oneshot, whyenda_arinka > [Oneshot] Destiny

[Oneshot] Destiny

Length: Oneshot [2983 words]
Genre: Romantic, Friendship, Humour
Rating: PG-13
Cast: Lee Mugung Hwa, Kim Ryewook, Kim Jong Woon(Yesung), Park JungSoo(Leeteuk), Park Hye Yeon.

Disclaimer: I don’t own the casts, but I do own this story. Lee Mugung Hwa belongs to my friend and Park Hye Yeon belongs to my imagination.

===========
(Mugung’s POV)

“aku suka padamu,” ucap Ryewook dan Yesung bersamaan.

Aku membulatkan mataku. Jantungku berpacu dengan cepat. Mereka.. apa? Hampir saja aku lupa bernafas mendengar ucapan mereka ini. Mereka bercanda, kan?

“ka-kalian pasti bercanda kan? I-ini tidak lucu,” ucapku gugup.

“aniyo!” sergah Wookie.

“aku tidak bercanda sama sekali, Mugung-ah,” kata Yesung.

“t-tapi bagaimana mungkin?” tanyaku bingung.

“mungkin saja,” jawab Wookie.

Aku menghela nafas berat. Apa yang harus aku lakukan? Di satu sisi, mereka sahabatku. Terutama Wookie. Di sisi lain, jujur, aku menyukai mereka. Uhm, well, not a good situation.

“kau tak perlu menjawabnya sekarang, Mugung-ah,” gumam Yesung.

Wookie mengangguk membenarkan gumaman Yesung. Sedikit lega, tapi tetap saja membuatku bingung setengah mati. Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku memilih salah satu dari mereka? God please help me. It’s hard to choose one of them.
*
“jadi Mugung-ah, kau akan memilih siapa?” tanya Hye Yeon ketika aku menceritakan kejadian tadi siang.

Aku menggeleng lemah. Ini adalah sebuah pilihan sulit dimana aku harus memilih salah satu di antara 2 orang yang kusuka. Kukira hanya aku yang memiliki rasa pada mereka, namun sayangnya hal itu tak sesuai dengan perkiraanku.

“waeyo?” tanyanya lagi.

“aku.. aku tak mungkin menyakiti salah satu dari mereka, Hye Yeon-ah,” jawabku lemah.

Hye Yeon menatapku lekat. Matanya seolah menyusuri sesuatu dalam diriku. Entah lah, pikirannya memang susah ditebak.

“tapi sampai kapanpun, kau tetap harus menyakiti salah satu dari mereka, Mugung-ah. Atau mungkin keduanya, serta.. dirimu sendiri,” ucapnya.

Aku menghela nafas berat. Yah, apa yang diucapkan Hye Yeon itu benar. Apapun pilihanku, akibatnya hanya ada dua. Menyakiti hati salah satu dari mereka, atau justru menyakiti hati kami bertiga.

Hye Yeon mengelus bahuku lembut. Ia tersenyum lembut, seolah berusaha memberiku semangat.

“aku yakin, apapun itu jawabanmu, mereka pasti sanggup untuk menerimanya. Aku kenal mereka berdua, Mugung-ah. Walaupun aku tak mengenal Ryewook-ssi seperti kau mengenalnya,” ucapnya lagi menyemangatiku.

Aku tersenyum dan mengangguk lemah. Entah lah, di pikiranku bingung, aku harus memilih siapa dari mereka. Tapi ucapan Hye Yeon barusan, seolah obat penenang untukku.

“Mugung-ah,” panggil Hye Yeon kemudian.

“ne?”

“pulang yuk?”

“huh?”

“pulang. Mendung nih, sebentar lagi hujan lho~”

“oh, ne. Kkaja,”

Aku dan Hye Yeon beranjak meninggalkan cafe. Benar juga kata Hye Yeon, langit telah berwarna hitam pekat seolah menahan ribuan air menjatuhi bumi.

Tik. Setetes air jatuh di ujung hidungku. Aku kaget merasakan dinginnya air itu. Ternyata rintik-rintik air mulai jatuh membasahi bumi.

Aku menoleh menatap Hye Yeon yang ternyata tengah menatapku sambil terenyum penuh arti. Kuusap tetes hujan itu dari hidungku.

“waeyo?” tanyaku.

“pernah dengar filosofi tentang hujan?” tanyanya balik. Aku menggeleng sebagai balasannya.

“katanya, bila tetes pertama air hujan jatuh di ujung hidungmu, kau akan menemui takdirmu secepatnya,” jelasnya.

Aku hanya tersenyum kecil menanggapinya. Filosofi hujan.. menarik..

“Mugung-ah!” panggil seseorang dari kejauhan.

Aku menoleh ke arah sumber suara itu, begitu pula dengan Hye Yeon. Seorang namja berlari ke arah kami yang tengah berteduh di bawah halte bus. Tangannya berusaha melindungi kepalanya dari hantaman air hujan yang mulai melebat.

“annyeong Mugung-ah, Hye Yeon-ssi,” sapanya ketika telah berada di dekat kami.

“annyeong, Wookie-ah,” balasku.

“annyeong, Ryewook-ssi,” balas Hye Yeon.

“kalian dari mana?” tanyanya.

“cafe seberang sana,” jawabku apa adanya.

“uhm, Mugung-ah, Ryewook-ssi, busku sudah datang. Aku duluan ya!? Annyeong,” pamit Hye Yeon.

Rumahku dan Hye Yeon memang berbeda arah, sehingga biasanya aku pulang sendiri. Beruntung ada Wookie di sini, rumahnya dengan rumahku bersebelahan, jadi hari ini ada teman yang searah denganku.

“ne, hati-hati Hye Yeon-ah,” wantiku.

Hye Yeon hanya mengangguk dan melempar senyuman padaku. Tapi aku menangkap sesuatu yang aneh dari senyumnya, seolah senyum penuh arti. Entahlah.

“ehem, Wookie-ah,” panggilku mencoba membuka percakapan.

“ne?”

“umm, itu.. soal yang tadi..”

“tak perlu kau jawab sekarang, Mugung-ah. Kau bisa jawab besok atau pun lusa. Asal kau sudah siap,” potongnya.

Aku mengangguk-angguk kecil. Hening. Seolah kami tenggelam dalam pikiran masing-masing, membuat kami terlihat canggung satu sama lain, padahal kami sudah bersahabat sejak kecil.

Tiba-tiba di otakku terputar kenangan masa kecilku ketika bersama Wookie. Ketika kami berangkat ke sekolah bersama. Ketika kami bermain di taman lalu bermain di tengah derasnya hujan seperti ini. Aku tersenyum kecil ketika mengingatnya.

Entah kenapa, aku merasa sayang bila semua hal itu harus pergi hanya karena sebuah masalah sepele. Aku menghela nafas panjang. Sebuah pencerahan melintas di otakku. Aku tersenyum. Aku yakin ini adalah pilihan yang tepat.

“Mugung-ah,”

“ne?”

“bus kita sudah datang, ayo naik,”

“oh, ne. Kkaja,”

Aku dan Wookie pun menaiki bus itu. Entah kenapa, aku semakin yakin akan keputusanku ini.
*
“Hye Yeon-ya!” teriakku memanggilnya ketika baru sampai di kelas.

Hye Yeon yang tengah berkutat dengan majalahnya mendongak menatapku dengan tatapan penuh tanya. Aku hanya tersenyum dan segera menghampirinya, membuatnya mengerti arti dari senyumanku.

“jadi?” tanyanya.

“aku sudah memutuskan untuk memilih salah satu dari mereka,” jawabku mantap.

“mau dengar pendapatku?” tanyanya kemudian.

“apa?”

“menurutku, takdirmu Ryewook-ssi,”

“huh?”

“uh-uh. Dia takdirmu,”

“kenapa bisa?”

“filosofi hujan,”

“filosofi.. hujan?”

“aku belum selesai soal filosofi hujan yang kemarin,”

“ada kelanjutannya?”

“yup,”

“apa?”

“bila setelah itu ada namja yang memanggilmu, dialah takdirmu,”

“benarkah?”

“uh-hum,”

“kau yakin, Hye Yeon-ah?”

“tidak seratus persen memang, tapi tiga dari lima kejadian, semuanya tepat,”

“lalu dua kejadian yang lain?”

“uhm, lebih memilih berbaring dalam kedamaian?”

“err, jangan menakutiku,”

“sorry, hanya kenyataan,”

“jadi, menurutmu, Wookie adalah.. takdirku?”

“exactly,”

Aku menghela nafas mendengar ucapan Hye Yeon.

“well, kuharap, keputusanmu tepat,” ucap Hye Yeon kemudian.

Aku hanya mengedikkan bahuku. Kini, di otakku semuanya bercampur aduk. Entahlah, aku hanya.. merasa bingung.
*
Aku duduk di bangku kayu yang berada di taman kampus. Membiarkan angin yang berhembus bermain-main dengan rambutku, menerpa wajahku. Berharap segala beban pikiranku akan lepas seolah terbawa angin setelah aku mengatakan pilihanku ini.

“menunggu lama?” tanya sebuah suara bariton di belakangku.

Aku menoleh dan mendapati Yesung telah berdiri di belakangku dengan senyum manisnya. Aigo~ neomu kyopta~ ><

“uhm, anni, aku baru saja datang kok, oppa,” jawabku.

“mianhada aku terlambat,” ucap Wookie dari belakang Yesung.

“gwenchana, aku juga baru datang kok,” elakku.

“jadi?” tanya Wookie.

Aku menghembuskan nafas berat. Saat–saat seperti ini lah yang kutakutkan. Aku memejamkan mataku sebentar, mencoba menenangkan diriku sekaligus mencari kata-kata yang tepat.

“sebelumnya, mianhamnida, jeongmal mianhaeyo. Mungkin pilihanku ini akan menyakiti salah satu dari kalian,” ucapku kemudian.

“tapi dengan aku memilih salah satu dari kalian, aku harap hubungan yang sebelumnya telah terjadi diantara kita, tidak merenggang,” lanjutku.

“aku.. aku memilih..”

Hening. Aku berhenti sejenak dan mengambil nafas dalam seolah aku hampir tenggelam di lautan lepas.

“aku telah memutuskan untuk memilih.. Yesung oppa,” lanjutku kemudian.

Bisa kulihat Yesung menyunggingkan sebuah senyuman manis. Senyuman yang membuatku meleleh sejak pertama melihatnya. Sedangkan Wookie, ia terlihat sedih.

Aku menggigit bibir bagian bawahku. Aku tahu ia kecewa dengan keputusanku. Aku tahu hatinya hancur akan keputusan ini, hanya saja.. aku lebih tak ingin hubungan persahabatanku dengan Wookie yang telah kami bangun semenjak kecil, hancur hanya untuk hal semacam ini.

“mianhada, Wookie-ah. Aku.. aku menganggapmu sahabat selama ini, oleh karena itu, aku tak ingin persahabatan kita hancur hanya karena masalah seperti ini. Kumohon, Wookie-ah,” pintaku berusaha menjelaskan segalanya.

“gwenchana, Mugung-ah. Seharusnya aku menyadarinya. Chukkaeyo. Aku.. pergi dulu,” pamitnya dan segera berlalu.

Aku menghela nafas panjang. Entah kenapa, hatiku menangis melihat Wookie seperti itu. Kupandangi punggungnya yang semakin menjauh dariku hingga akhirnya menghilang dari pandanganku. Hatiku serasa terkoyak melihatnya seperti itu.

Sebuah tangan merangkul bahuku. Yesung oppa. Ia menatap ke arah di mana Wookie meninggalkan kami. Ia memelukku erat, seolah tahu apa yang tengah kurasakan saat ini.

“gwenchana, Mugung-ah. Wookie hanya membutuhkan waktu untuk menenangkan diri,” ucapnya menenangkanku.

Aku mengangguk kecil. Yesung oppa menarikku duduk di bangku kayu tempatku menunggu mereka tadi. Membenamkan wajahku dalam dadanya yang bidang. Membiarkanku membasahi kaos putihnya dengan air mataku.

Hanya dalam waktu sekejap saja, aku merasa persahabatan yang telah kubangun bersama Wookie semenjak kecil, hancur begitu saja. Bagai istana pasir yang hancur dihempas ombak besar dalam sekali terjang.

Yesung oppa memelukku erat, mengelus punggungku lembut lalu mengecup puncak kepalaku. Membuatku semakin merasa bersalah pada Wookie. God, am I choseed the right one?
*
Hari ini hari minggu. Aku tengah sibuk bersiap-siap untuk pergi dengan Yesung oppa. Kami berjanji untuk jalan-jalan pagi ini.

Bisa dibilang, ini adalah kencan pertama kami. Jujur, aku gugup harus mengenakan apa. Aku takut salah kostum. ><

“Mugung-ah~ Yesung-ssi sudah menunggumu,” teriak omma dari balik pintu kamarku.

“ye, omma~”

Segera aku meraih tasku dan mematut sebentar di depan kaca. Memastikan penampilanku sudah oke.

Dengan malu-malu, aku berjalan memasuki ruang tamu. Bisa kurasakan, mata Yesung oppa tak lepas menatapku. Membuatku semakin gugup.

“uhm, oppa,” panggilku lirih

“ne?”

“apa.. apa aku salah pakaian?” tanyaku takut.

“anni,” sergahnya.

“eh?”

“neomu yeppo, Mugung-ah,”

Mendegarnya, kupingku memanas. Aku yakin pipiku sudah semerah tomat sekarang mendengar ucapan Yesung oppa barusan.

“ayo kita berangkat, kkaja,” ajak Yesung oppa menarik tanganku menuju mobilnya.

Ia membukakan pintu untukku yang membuatku semakin tersipu. Ia tersenyum kecil lalu mengambil posisi di balik kemudi dan menjalankan mobil meninggalkan rumahku.
*
Yesung oppa memarkirkan mobilnya di sebuah taman bermain. Aku menhela nafas panjang. Dadaku terasa sesak. Jantungku berpacu dengan cepat.

Bagaimana tidak? Dulu, aku dan Wookie sering kemari ketika hari minggu. Kami bermain bersama. Kalau tidak, kami memilih ke toko kaset atau ke toko buku.

Kenangan ketika aku bersama Wookie seolah terputar ulang di otakku. Membuat bendunganku hampir pecah mengingat segalanya seakan berakhir walaupun Wookie tak pernah mengucapkannya.

“Mugung-ah, gwenchanayo?” tanya Yesung oppa membuyarkan lamunanku.

“uh? Uhm, g-gwenchana, oppa,” jawabku.

“wajahmu terlihat pucat, Mugung-ah,” ucap Yesung oppa.

“mwo? Jinja?” tanyaku memastikan.

“kau tak enak badan?” tanya Yesung oppa kemudian.

“a-aniyo, aku baik-baik saja oppa,” elakku.

“kau tak ingin ke taman bermain ya?” tanyanya lagi.

“m-mwo?”

“harusnya kau bilang saja, Mugung-ah,” ucapnya lagi sambil tersenyum simpul.

Ia kembali ke posisi mengemudi, menyalakan mesin mobil, dan melaju meninggalkan pelataran parkir. Membuatku bertanya-tanya ke mana tujuannya kali ini?

Tak lama, mobil yang kami tumpangi keluar dari tempat parkir dan melewati gerbang taman bermain. Aku melihat beberapa wahana dan stand-stand yang menjual ice cream, boneka, dan beberapa makanan.

Aku ingat sekali, dulu aku dan Wookie sering membeli ice cream dalam wadah dengan ukuran besar lalu memakannya bersama. Terakhir kali aku ke sini bersama Wookie, kami menaiki komidi putar lalu membeli gulali. Dan lagi-lagi, kami memakannya bersama.

Kenangan itu, baru saja minggu lalu terjadi. Namun hatiku merasa rindu akan kenanganku bersama Wookie. Rasanya, ada sesuatu yang hilang.

“sampai,” teriakan riang Yesung oppa mengagetkanku dari lamunanku.

Aku mendongak dan mendapati mobil Yesung oppa telah terparkir dengan sempurna di pelataran parkir sebuah toko musik. Aku membulatkan mataku ketika menyadari toko musik tujuan kami ini.

“kkaja,” ajak Yesung oppa lalu keluar dari mobilnya.

Aku mengikutinya yang memasuki toko musik ini. Toko musik ini, sering aku dan Wookie kunjungi. Mengingat toko ini tak jauh dari rumah, kami terbiasa berjalan kaki.

Tak ada yang berubah. Dekorasinya tetap saja sama. Hanya saja beberapa kaset telah digantikan dengan kaset-kaset keluaran terbaru.

Aku menyentuh salah satu album Super Junior. Album ini adalah album kesukaan Wookie. Dua minggu yang lalu, kami baru saja mengunjungi toko ini karena Wookie benar-benar ingin membeli album Super Junior yang ini.

“kau ingin yang itu, Mugung-ah?” pertanyaan Yesung oppa hampir membuat jantungku meloncat dari tempatnya.

Bisa kurasakan Yesung oppa meletakkan dagunya di bahuku sedangkan tangan kanannya menyentuh tangan kananku yang tengah memegang album Super Junior. Ia membalikkan album itu menggunakan tanganku, membuat jantung berdegup kencang.

“kalau mau, ambil saja,” ucapnya tepat di telingaku, membuatku membeku seketika.

Yesung oppa melepas tangannya dan berdiri tegak lalu mengambil album itu dari tanganku dan berjalan menjauh. Aku masih mematung di tempatku. Nafasku memburu seolah baru saja selesai lari maraton.

“Mugung-ah, masih ada yang ingin kau beli?” tanya Yesung oppa.

“a-anni, oppa,” jawabku tergagap.

“baiklah, kkaja!” ajaknya menarikku meninggalkan toko kaset ini.

Yesung oppa menarikku menuju sebuah kedai yang terletak di samping toko musik tadi. Aku tahu kedai ini, bahkan bisa dibilang, aku cukup hafal dengan kedai ini. Kedai ini, biasa aku kunjungi bersama Wookie setelah membeli kaset di toko sebelah.

Aku melempar pandangan ke segala penjuru hingga berhenti di sudut ruangan. Di sudut ruangan itu terdapat sebuah meja dengan sepasang bangku yang diatur berhadapan. Biasanya aku dan Wookie duduk di sana sambil memakan ice cream atau sekedar menyeruput kopi ketika cuaca dingin.

Aku tersenyum simpul. Namun sayang, tempat tersebut telah ditempati seseorang. Aku tak dapat melihat wajahnya, karena ia duduk membelakangiku.

“Mugung-ah, ayo duduk,” ajak Yesung oppa.

“uh? Um, ye, oppa,” gumamku kaget.

Aku duduk di kursi yang menghadap Yesung oppa, di mana aku juga bisa melihat bangku di sudut ruangan sana.

“jwosong hamnida, mau pesan apa?” tanya seorang pelayan ramah.

“saya pesan mocachino,” jawab Yesung oppa yang membuatku terperangah kaget.

“agassi?” tanya pelayan tersebut padaku.

“eh, uhm, aku pesan coffe latte,” jawabku setengah kaget.

Mocachino. Coffe latte. Dulu aku dan Wookie selalu memesan itu. Terkadang Wookie yang memesan mocachino sedangkan aku memesan coffe latte. Pada kunjungan berikutnya, ganti ia yang memesan coffe latte dan aku memesan mocachino.

“pelayan,” panggil orang yang tengah duduk di sudut ruangan itu sambil mengangkat tangan kanannya.

Ia menoleh ke belakang dan pandangan kami bertemu. Aku membulatkan mataku kaget, begitu pula dengannya. Untuk sesaat, aku hampir lupa bernafas. Kulihat sebuah headphone terpasang di telinganya, sedangkan tangan kirinya memegang album Super Junior yang tadi kulihat di toko musik.

Ia segera tersadar ketika seorang pelayan menghampirinya. Ia terlihat menambah pesanannya lagi. Ketika pelayan tersebut pergi, ia kembali menatapku. Ia menyunggingkan senyuman canggung lalu kembali berbalik sebelum sempat aku membalas senyumannya.

Aku menunduk. Hatiku terasa sakit. Seolah ribuan pisau telah menancap di hatiku. Aku berusaha menahan air mataku. Menahannya agar tidak terjatuh. Setidaknya, jangan sekarang.

“datangi dia, Mugung-ah,” ucap Yesung oppa membuatku mendongak menatapnya bingung.

“kejarlah dia,”

“huh?”

“dia, Wookie, Kim Ryewook, pria yang tengah duduk di sudut ruangan ini,”

“t-tapi,”

“jangan sia-siakan kesempatan keduamu, Mugung-ah,”

“bagaimana dengan oppa?”

“aku sudah menyadarinya sejak awal. Jangan berpura-pura demi persahabatan kalian, Mugung-ah. Hal ini justru membuat persahabatan kalian hancur,”

Hening. Apa yang Yesung oppa katakan benar. Aku hanya mementingkan rasa persahabatan, tanpa memedulikan kenyataannya, tanpa memedulikan hatiku yang sebenarnya juga merasa sakit akan keputusan bodohku ini. Terlebih Wookie.

“Mugung-ah, kejar dia sekarang juga. Kereta tak kan pernah berhenti lama di suatu stasiun, kecuali memang stasiun itu adalah tujuannya. Kejarlah ia sebelum ia menemukan tujuannya yang baru,”

Aku segera beranjak dan berjalan mendekati Wookie, seolah tubuhku tersihir dengan kata-kata Yesung oppa barusan. Aku terus mendekatinya hingga akhirnya aku berdiri di belakangnya.

“Wookie-ah,” panggilku memberanikan diri.

Wookie menoleh dan segera berdiri melihatku. Ia menatapku kaget, seolah tak percaya aku berada di hadapannya. Ia menatap kebelakangku lalu menatapku lagi dan mengembangkan senyuman manisnya. Senyuman yang kurindukan. Senyuman yang menghiasi hariku.

Aku memeluknya erat. Aku tak ingin melakukan hal bodoh seperti melepaskannya dari hidupku lagi. Wookie balas memelukku erat. Air mataku kembali mengalir. Tapi air mata kali ini bukanlah air mata kesedihan, melainkan air mata kebahagiaan.

“Wookie-ah, mianhae. Aku tahu aku bodoh, aku.. aku takkan mengulanginya lagi,” ucapku meminta maaf.

“ssshh.. tak apa Mugung-ah. Itu sudah berlalu, semuanya telah berlalu,” elaknya lalu melepas pelukannya.

Ia meraih wajahku dengan hati-hati. Mengusap lembut air mata yang mengair di pipiku. Mengecup keningku.

“saranghae, Mugung-ah,” ucapnya pelan.

“na do saranghae,” balasku.

Ia menarik wajahku mendekati wajahnya. Reflek, aku menutup kedua mataku. Bisa kurasakan hembusan nafasnya yang hangat menerpa wajahku.

“EHEM!” deheman seseorang membuat kami melepaskan diri satu sama lain.

“tahu kalian akan begini, sebaiknya tadi aku menahan Mugung,” ucap suara bariton itu.

Aku tersipu malu. Wajahku terasa sangat panas sekarang sedangkan Wookie terkekeh kecil menanggapinya.

“aish, hyung, kau iri bukan!?” celetuk Wookie.

“ck! Aku tak iri, tapi tahu tempat dong, Wookie-ah! Ini tempat umum!” seru Yesung oppa.
**
(Author’s POV)

Seorang gadis bernama Hye Yeon tengah berbaring di atas ranjang empuk berwarna hijau. Ia baru saja mendengarkan cerita dari sepupunya, Yesung, yang tengah duduk di bingkai jendela. Ia membuka lebar jendela kamarnya, membiarkan angin dingin memasuki kamarnya. Cuaca di luar memang sedang mendung, awan seolah bersiap-siap menumpahkan jutaan air ke bumi.

“well, oppa, kau tak menyesal ‘kan?” tanya Hye Yeon

“anni. Memang ini kan rencanaku sejak awal? Jadi, buat apa aku menyesal?” jawab Yesung mantap.

“kukira, oppa sedang mencari takdir oppa,” celetuk Hye Yeon asal.

“tak perlu dicari, pasti datang dengan sendirinya,” ucap Yesung asal.

“narsis!” dengus Hye Yeon yang ditanggapi ledakan tawa oleh Yesung.

Tik. Sebuah air jatuh tepat di ujung hidung mancung Yesung. Pria itu mematung sejenak lalu mengusap air di ujung hidungnya itu.

“titik pertama air hujan jatuh di ujung hidungku,” gumam Yesung.

“filosofi hujan,” ucap Hye Yeon. Yesung memutar kedua bola matanya.

“bila tetes pertama air hujan jatuh di ujung hidungmu, kau akan menemui takdirmu secepatnya. Lalu, jika setelah itu seorang yeoja memanggilmu, dialah takdirmu,” ucap Yesung meniru dengan sempurna kata-kata sepupunya.

Hye Yeon sedikit kagum melihat Yesung menirukannya dengan sempurna lalu nyengir lebar sementara Yesung mendengus sebal.

“yang benar saja! Hanya orang bodoh yang mempercayai filosofi macam itu!” gerutu Yesung.

“ya! Oppa, kau tak boleh seperti itu,” ucap Hye Yeon tergelak.

“sudah dua kali tetes hujan pertama jatuh di ujung hidungku, tapi nyatanya? Yang barusan saja yang KETIGA kalinya,” dumal Yesung memberi penekanan pada kata ‘ketiga’.

“mungkin khusus untuk oppa, diganti menjadi: ‘bila tetes pertama air hujan jatuh di ujung hidungmu, kau akan menemui takdirmu secepatnya. Lalu, jika setelah itu seorang NAMJA memanggilmu, dialah takdirmu’,” ucap Hye Yeon memberi penekanan pada kata ‘namja’ yang langsung disambut bantal melayang dari Yesung.

Hye Yeon semakin tergelak sementara Yesung semakin sebal dijahili oleh sepupunya yang notabene jauh lebih muda darinya. Perlu dicatat, JAUH LEBIH muda darinya.

“Yesung-ah!” teriak sebuah suara membuat Hye Yeon dan Yesung kaku dan saling berpandangan.

Tak lama kemudian, pintu kamar Yesung menjeblak terbuka dan masuklah seorang namja dengan rambut diblonde dan mata sipit. Hye Yeon dan Yesung menelan ludah dengan susah payah.

“LEETEUK HYUNG!?”

"OPPA!?”

Teriak kedua sepupu itu bersamaan hampir memekakan telinga namja yang dipanggil Leeteuk itu. Ia menutupi kupingnya dengan kedua telapak tangannya dan melotot pada kedua dongsaengnya itu.

“kalian mau membuatku tuli, ya!? Aku tahu aku tampan, tapi kalian tak perlu berlebihan seperti itu!” omel Leeteuk.

Yesung lemas dan merosot sedangkan tawa Hye Yeon meledak. Ia tertawa dengan puas sambil berguling-guling di kasur, membuat sepreinya kusut seketika.

Yesung menatap nanar ke arah hyungnya yang masih berdiri di ambang pintu dengan tatapan kebingungan. Diotaknya muncul berbagai pertanyaan. Mungkinkah..?
=FIN=

.kkkk~
.mohon jangan hiraukan bagian akhirnya~
.author lagi kumat pas nulis yg itu~
*digetok* XDD
.daripda banyak bacot ,
.ini ff pesenan teman saya~
.bagaimana jie ?
.jelek yah ?
.maklum ,
.masih amatir~
*ngacir* XDD

.thanks for reading🙂

  1. may
    15 Agustus 2010 pukul 9:36 am

    huaaaaaaaaaaaaaa.. Whyenda ><
    *kapan2 request lagi*
    *disate Whyenda*

    XDD

    *hugz2*

  2. alend
    17 Agustus 2010 pukul 6:13 pm

    whyenda jie,,
    kereen critanyaa..
    >v<

    • 22 Agustus 2010 pukul 3:46 pm

      .thanks mei~
      .jie jdi gede kepala nih~😄

  3. Linn
    22 Agustus 2010 pukul 4:23 pm

    Kerenn. .🙂
    trnyata mugung it suka ma wookie , tpi kuq pas di suruh milih mugung mlah mlih yesung. . Ckckck. .

    • 23 Agustus 2010 pukul 11:42 pm

      .makasih jie~😀

      .hhihihi~
      .coba dicermati lagi~
      .emg sengaja dibuat samar sih jie~
      .tpi emg sempet ada peperangan di batin Mugung koq~ XDD

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: