Beranda > fanfiction, oneshot, whyenda_arinka > [Oneshot] Vision

[Oneshot] Vision

Title : Vision
Length : Oneshot [3181 words]
Genre : Romantic, Friendship, Angst
Rating : G
Cast : Jiro Wang Dong Cheng, Huang ______(Your Chinese name)/ Kurosaki ______(Your Japanese name)

Cameo : Aaron Yan Ya Lun

Disclaimer : I don’t own Jiro Wang and Aaron Yan(whenever I want XD), he’s belongs to their self and their parents. And this story belongs to my imagination.

A/N: kalau bingung dengan tanda ‘______’, mending copas di ms.word aja trus diganti nama kalian biar ga bingung. Satu lagi, ini hanya sebuah FANFICTION. FIKSI. Jangan terlalu dipikirkan. Serta maaf kalau kalian tidak suka dengan jalan cerita/part-part tertentu.

==============
(Jiro’s POV)

Masa depan. Apa yang ada dipikiranmu ketika menyadari bahwa kau mampu melihat masa depan? Entah itu masa depanmu sendiri atau orang-orang di sekitarmu. Menyenangkan? Mungkin. Hebat? Yeah, that’s right. Keren? Cool? Fantastis? Great? Amazing?

Yah, yah, yah.. Semuanya benar, memang. Tapi, pernahkah terlintas dibenakmu bahwa terkadang, mampu melihat masa depan itu tidaklah selalu menyenangkan atau hebat? Atau cool? Atau keren? Whatever that.

Tahu kah kau bahwa mampu melihat masa depan justru membuatmu takut? Membuatmu sedih? Membuatmu kaget? Dan terkadang, membuatmu sangat-sangat paranoid? Well, I had a story. You might be interest, listen guys.

Huang ______. Atau yang lebih dikenal dengan nama Kurosaki ______, adalah temanku dari Jepang. Well, dia selalu menganggapku temannya hingga akhir hayatnya, setidaknya begitu. Kurasa.

Aku mengenalnya sekitar 5 tahun yang lalu ketika penerimaan mahasiswa baru di universitasku. Saat itu aku dan ia sama-sama mahasiswa baru. Namun ia membuatku sangat tercengang karena kefasihannya dalam berbahasa Mandarin, padahal ia adalah orang Jepang asli yang baru pindah ke Taiwan 1 bulan sebelumnya.

Selain ia mampu berbahasa Mandarin dengan fasih, ia pun memahami budaya Taiwan dengan cukup baik. Padahal seingatku, tak ada darah Taiwan mengalir dalam nadinya. Ia bahkan mengaku, baru sebulan ini ia mempelajari segala sesuatu tentang Taiwan. What an amazing girl, eh?

Semenjak saat itu kami dekat satu sama lain. Selama ia di Taiwan, ia tinggal di sebuah apartement kecil dekat kampus. Hal ini memudahkanku yang memang senang mencari inspirasi untuk hobiku, melukis. Well, aku lupa menambahkan, kami sama-sama jurusan seni lukis. Dengan apartementnya yang berada di dekat kampus yang notabene berada di pinggir kota, tentu saja terdapat banyak inspirasi yang tercipta ditengah kesunyian dan ketenangan.

Kami sering pergi bersama hanya sekedar untuk mencari inspirasi. Di pinggir kolam ikan yang terletak di sebuah rumah makan. Di sebuah taman kanak-kanak yang dipenuhi kecerian anak kecil. Di sepanjang jalur perbatasan kota. Dan tempat-tempat lain yang terbilang sepi.

Namun, semakin ke sini, aku semakin merasakan sesuatu yang berbeda. Ketika memandangnya, aku merasa sangat senang. Pandanganku tak bisa berpaling walaupun hanya sedetik saja. Seolah hal yang paling indah yang pernah tercipta di bumi, hanyalah wajahnya. Dan selama kami pergi berdua mencari inspirasi, tak sedikit kain kanvasku yang dipenuhi oleh wajahnya.

Semakin lama, rasa itu semakin bergelora dalam hatiku. Jantungku berdegup sangat kencang, bahkan mungkin, melebihi kencangnya kuda-kuda yang tengah dipacu pada festival balap kuda. Ya, aku menyukainya. Bahkan mungkin, aku mencintainya.

Kukira, aku mampu menyembunyikan perasaanku dengan baik. Kukira ia tak mampu mengetahui segala yang kurasakan ketika aku bersamanya. Mengingat orang-orang di sekitarku pun tak menyadarinya.
*
“Da Dong, sampai kapan kau mau melukis wajahku?” tanyanya di suatu sore saat kami mencari inspirasi.

Aku menatapnya bingung. Dari mana ia mengetahui aku tengah melukis wajahnya? Seingatku, ia bahkan sibuk dengan kanvasnya sendiri sedari tadi.

“huh?” bingungku.

“Da Dong, jangan kira aku tak mengetahui segalanya. Aku tahu belakangan ini kau selalu melukisku. Aku bahkan bisa menghitung seberapa banyak kanvasmu yang terlukiskan wajahku,” jelasnya.

“bagaimana bisa kau mengetahuinya?” tanyaku. Ia menghela nafas berat.

“dui bu qi, Da Dong, tapi aku bisa mengetahui segalanya. Tentang kanvasmu yang hampir selalu di penuhi wajahku, ke mana saja kau akan pergi, serta.. Rasa yang selalu kau sembunyikan padaku,” gumamnya.

“huh? Kau.. Mengetahuinya?” tanyaku tak percaya. Ia mengangguk kecil.

“t-tapi-”

“dari mana aku mengetahuinya?” tanyanya memotong ucapanku, membuatku tertegun seketika. Dia.. Bagaimana.. Apa dia..

“aku bisa, Da Dong. Aku.. Bisa melihat masa depan, dan.. Membaca pikiran orang lain,” jelasnya seolah bisa membaca pikiranku. Ralat. Dia memang bisa membaca pikiranku.

“b-bu hui ba,” cengangku.

“mungkin saja, Da Dong,” desahnya.

“dui bu qi, Da Dong. Tapi, memang seperti itu kenyataannya. Melihat masa depan, melihat masa lalu, serta membaca pikiran orang.. Itu.. Aku bisa melakukannya,” jelasnya lagi.

Aku tercengang mendengar penjelasannya. Jadi.. Selama ini, dia.. Melihat segalanya dalam diriku? Dia.. Mampu melakukan semua hal itu? Hebat? Keren? Aneh? Takut? Entahlah. Aku bingung menjelaskan apa yang tengah berkecamuk dalam hati serta pikiranku kini.
*
Sejak saat itu, ia seolah berusaha menjauhiku. Setiap aku berusaha mendekatinya, semakin ia berusaha menjauh. Aku tak mengerti mengapa ia menjauhiku.

Kumohon, jangan jauhi aku, _____. Tahu kah kau bahwa aku tak suka dengan keadaan ini? Kau membuatku selalu terbayang akan dirimu. _____, aku tahu kau bisa membaca pikiranku saat ini, jadi, kumohon.. Jangan hindari aku seperti ini. Kau membuatku frustasi akan sikapmu yang menjauhiku. Aku tak mampu berada dalam jarak yang jauh darimu.

Aku tahu kau bisa membaca pikiranku, _____. Jadi kumohon, ijinkan aku tetap di sampingmu. Aku tak peduli apakah kau bisa membaca masa depan, masa lalu, atau apapun itu. Bahkan kau bisa mengubah dunia pun, aku tak kan peduli asal kau tetap ada di sampingku. Hanya itu.

“dui bu qi, Da Dong. Aku.. Aku hanya benar-benar tidak bisa selalu berada di sampingmu,” ucap sebuah suara dari belakangku.

Aku berbalik dan mendapati _____ telah berdiri di hadapanku. Matanya kosong, hampa. Seakan tak ada kehidupan di dalamnya.

“_____?”

“keadaanku sangat buruk, ya?”

“ni hai hao ma?” tanyaku khawatir.

“bu zhi dao,” lirihnya.

“wei shen me?”

“aku.. Da Dong, kau harus belajar melupakanku,”

“huh? Bu hui!”

“Da Dong..”

“______, kurasa kau tahu segalanya tentangku. Kumohon,”

“tapi.. Da Dong.. Kau tak tahu..”

“apa?”

“a-aku.. Kau tahu aku bisa.. Bisa melihat masa depan, bukan?”

“uh-hum,”

“dan.. Penglihatan itu.. Tidak terbatas,”

“huh? Maksudmu?”

“penglihatan itu.. Tidak terbatas siapa, kapan, dan di mana,”

_____ berhenti sebentar untuk menarik nafas dan membuangnya perlahan.

“penglihatan itu, tidak hanya tentang yang berada di sekitarku,”

“then?”

“selain melihat masa depan orang lain, aku juga bisa melihat.. Masa depanku sendiri,”

“jadi, kau melihat masa depanmu sendiri?” tukasku. Dan ia mengangguk kecil.

“cool,” gumamku.

“Da Dong.. Itu sama sekali tidak keren,” dengusnya.

“oke, lalu, apa yang kau lihat?” tanyaku penasaran.

Ia kembali menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.

“aku.. Aku melihat.. K-kematianku,” lirihnya.

“hmm,” gumamku.

“huh!? Apa!?” teriakku kemudian setelah mencerna ucapannya.

Ia mengangguk singkat. Aku menatapnya tak percaya.

“kau.. B-bu hui ba!” sentakku.

“karena itu, Da Dong, mulai sekarang, lupakan aku..”

“shen me!? Bu hui! Aku tak mungkin melupakanmu! Kalau perlu, kita mati bersama!”

“Da Dong!” bentaknya.

Aku terdiam. Mematung seketika. Segalanya berkecamuk dalam pikiranku. Hatiku serasa terkoyak. Apa yang akan kau lakukan bila mengetahui orang yang kau cintai akan pergi, meninggalkanmu? Sakit? Terpukul? Sedih? Ingin menahannya? Yah, betul semua. Dan aku akan berusaha mempertahankannya. Menahannya agar tidak pergi dariku.

“Da Dong.. Jangan berpikiran untuk menahanku, ” gumamnya.

“kalau aku bisa, kenapa tidak?” tantangku.

“Da Dong.. Seberusaha apapun, kita tak bisa mengelaknya,” desahnya pasrah.

“kau hanya melihat! Bagaimana kalau itu hanya sebatas bayangan atau imajinasi? Atau mungkin hanya sebuah mimpi?”

“Da Dong.. Kalau bisa.. Aku pun ingin menganggapnya seperti itu, tapi nyatanya? Setiap kali aku melihat suatu kejadian, pasti itu terjadi, Da Dong..” ucapnya.

“setidaknya, aku akan berada di sampingmu, sampai saat itu tiba,” gumamku.

“Da Dong..”

“jangan paksa aku melakukan hal yang tidak mungkin bisa kulakukan,” tukasku. Dan ia hanya menghela nafas pasrah.
*
Dan setelah itu, aku selalu meluangkan waktu untuk selalu berada di sampingnya. Well, bukan melungkan lagi mungkin, tapi menghabiskan hampir seluruh waktu untuk bersamanya.

“Da Dong.. Bisa kah kau hentikan tingkah lakumu ini!?” protesnya ketika aku lagi-lagi memeriksa kamarnya sebelum ia tidur.

“Da Dong.. Berhentilah mengkhawatirkanku! Kau memeriksa kamarku sebelum tidur, memeriksa kamar mandi sebelum aku mandi, kau menggantikanku masak, bahkan kau yang membereskan apartementku. Aku tak bisa hanya berdiam diri saja, Da Dong!” protesnya.

“Huang ______, aku yakin kau tahu bagaimana rasanya kehilangan. Aku yakin kau tahu betul apa yang kutakutkan,” ucapku.

“tapi tidak begini, Da Dong! Aku tertekan melihatmu seperti ini! Aku merasa bersalah melihatmu seperti ini. Aku bahkan merasa seperti bayi yang tidak bisa apa-apa!” bentaknya.

“aku hanya tak ingin kehilanganmu! Aku pernah kehilangan seseorang yang berharga! Dan aku tak ingin mengalami untuk yang kedua kalinya!” bentakku.

Setelah itu aku berbalik pergi meninggalkannya. Membanting pintu apartementnya dan menghampiri motorku yang terparkir di luar. Menyalakan mesinnya lalu melesat pergi.

Aku memacu motorku dengan kecepatan tinggi membelah jalanan Taiwan tengah malam ini. Melepaskan emosiku bersama dengan motorku yang melaju semakin cepat. Jalanan yang lenggang membuatku justru semakin cepat memacu motorku.

Aku tak peduli lagi akan keselamatanku. Mungkin lebih baik aku mati saja agar ia tahu bagaimana rasanya kehilangan. Bagaimana rasanya ketika tahu waktu akan memisahkan seseorang dari orang yang disayanginya. Sakit. Hancur.

Mungkin dengan aku mati, aku bisa bertemu dengannya nanti di surga. Hhahaha. Bodoh? Yeah, otakku sudah tidak bisa berpikir secara waras lagi sekarang. Otakku hanya dipenuhi akan bayangnya. Dirinya. Waktu yang kami lewati bersama. Kalau boleh, aku ingin memutar waktu. Mengulang masa yang telah terjadi. Memanfaatkan waktuku bersamanya.

Dan tiba-tiba, rasa bersalah menyergapku karena telah membentaknya tadi. Apa aku terlalu kasar? Apa bentakanku tadi menyakiti hatinya? Apa aku memang terlalu berlebihan? Dan sekarang aku benar-benar merasa bersalah telah bersikap kasar dan membentaknya.

Tidak seharusnya aku keterlaluan seperti itu. Tidak seharusnya aku membentaknya lalu meninggalkannya begitu saja. Kini bayangan akan wajahnya yang tengah dirundung kesedihan terbayang seketika dalam benakku. Membuatku semakin merasa bersalah. Tuhan, maafkanlah aku.

Aku mulai memelankan laju motorku ketika sampai di daerah perumahanku. Bagaimanapun juga, aku masih sayang akan nyawaku mengingat mama yang tinggal sendiri saja denganku karena daerah perumahanku terdapat banyak polisi tidur(eh, di Taiwan ada polisi tidur ga sih? lol). Selain itu juga, suara berisik motorku pasti akan mengganggu tetangga yang lain. Jadi, aku lebih memilih memelankan laju motorku.

Bicara soal mama, aku pernah mengenalkan ______ pada mama. Mereka terlihat cepat akrab. Hmm, senang juga melihat mereka akrab seperti itu. Yah, mengingat mereka sesama perempuan, dan tinggal sendiri, tentu saja mereka bisa akrab secepat itu. Dan juga, ______ juga menganggap mama seperti ibunya sendiri.

Ah iya! ______ sangat menyukai masakan mama! Bagaimana kalau aku mengundangnya ke rumah saja untuk sarapan besok? Baiklah! Aku akan menjemputnya besok. Lagipula, sejak kemarin mama selalu menanyakan keadaan _____ terus. Jadi, apa salahnya, ‘kan!?

Aku berhenti di carport rumahku. Mematikan mesin motor, lalu mengunci stang. Setelah mencabut kunci serta memastikan motorku aman, aku pun melangkah memasuki rumah dengan hati-hati. Namun sial, karena keadaan yang gelap, tanpa sengaja aku menendang sebuah kaleng kosong yang dibuang sembarangan.

Aku mengumpat pelan saat melihat lampu dari kamar mama menyala. Jelas mama terbangun dengan suara berisik yang kubuat tadi. Aku menghela nafas kecil. Zhen de pentan, Wang Dong Cheng! Rutukku dalam hati.

Detik berikutnya, terdengar derap langkah diikuti terbukanya pintu. Sosok wanita separuh baya mengenakan gaun tidur muncul dari balik pintu, mama. Aku nyengir kecil melihat mama menemukan sosokku dalam kegelapan.

“Da Dong? Dari mana saja?” tanya mama dengan nada khawatir.

Aku segera mendekati mama, merangkulnya manja lalu mencium pipinya. Melihat kelakuanku, mama hanya menggeleng-gelengkan kepalanya kecil.

“ya sudah, ayo masuk! Sudah malam, kau pasti lelah,” ucap mama. Aku menggeleng.

“mei you la, ma. Mama pasti lebih lelah dari pada aku,” ujarku.

Mama hanya menepuk punggungku pelan sambil mendorongku masuk ke rumah. Beliau menutup pintu dan menguncinya lalu berbalik padaku, tersenyum lembut.

“kenapa masih berdiam diri di sana? Ayo segera masuk kamarmu dan istirahat,” titahnya lembut.

“hao, wan an ma,” pamitku sambil kembali mengecup pipinya dan berlalu menuju kamarku.

“wan an,” balas mama yang masih bisa kudengar sebelum menutup pintu kamarku.

Kulempar tubuhku ke atas kasur dan menghela nafas panjang. Sedikit teringat saat aku membentak ______ tadi serta rasa bersalah yang masih menghinggapi hatiku. Well, sudahlah. Toh besok aku sudah mempersiapkan sesuatu yang spesial untuknya.

Aku tersenyum kecil membayangkan wajahnya yang akan kembali cerah ketika aku mengajaknya kemari untuk bertemu mama. Membayangkan senyumnya saja sudah membuatku senang, bagaimana bila aku melihatnya langsung besok? Aish! Sudahlah! Sebaiknya aku segera tidur!

Aku mengambil gulingku, memeluknya erat lalu berbalik menghadap tembok. Berusaha memejamkan mataku dan menjelajahi alam mimpi dengan senyum yang masih tersungging di bibirku.
*
“zao an, mama,” sapaku saat melihat mama tengah menata sarapan di meja makan.

“zao an, Da Dong. Tumben jam segini sudah bangun. Ada janji dengan ______, ya?” tebak mama setelah membalas sapaanku. Aku nyengir mendengar pertanyaan mama.

“bukan janji sih ma,” elakku.

“lalu, kenapa sepagi ini sudah rapi?” selidik mama.

“ehmm, itu.. aku mau minta maaf pada ______,” jawabku gugup.

“minta maaf? Da Dong, apa yang telah kau lakukan hingga membuatnya marah? Kau tega sekali,”

“dui bu qi mama, aku tak sengaja membentaknya dan meninggalkannya semalam,”

“ck! Cepat kembali ke apartementnya dan minta maaf!” titah mama.

“hao hao, ini aku mau ke sana, ma,”

“bagus, sekalian ajak dia ke sini. Kasian dia sendirian,” tambah mama.

“hao. Aku berangkat dulu ma,”

“hati-hati,”

Dan setelah itu aku segera menghampiri motorku, mengenakan helm, menyalakan mesinnya dan melesat pergi meninggalkan rumahku menuju apartement ______. Entah kenapa tiba-tiba aku mendapat firasat buruk, tapi aku berusaha membuang jauh-jauh pikiran itu. Aku pun menambah kecepatan motorku agar segera sampai.

Aku menghentikan motorku di depan apartement ______, melepas perlengkapan berkendaraku, mengunci motor dan merapikan penampilanku sebentar. Setelah itu, dengan sedikit tergesa-gesa aku berjalan memasuki apartement ______. Jantungku bedetak kencang, firasat buruk kembali menghinggapi pikiranku. Lagi-lagi aku berusaha menepis firasat buruk itu.

Akhirnya aku sampai di depan pintu apartement ______. Kurapikan sebentar pakaianku lalu mengetuk pintunya sebanyak tiga kali. Semenit menunggu, tidak ada tanda-tanda bahwa ada orang di dalamnya. Membuatku cemas serta firasat burukku semakin menjadi saja. Kembali kuketuk pintu apartement itu sembari memanggil sang pemilik apartement, “______? ______ kau di dalam? ______?”

Namun nihil. Tak ada sahutan dari dalam. Kucek kotak kecil yang biasa digunakan untuk kotak surat di bawah plakat namanya. Kosong. Tak biasanya ______ seperti ini. Kalau pun ia sedang tak ada di apartement, ia akan meninggalkan sebuah notes kecil di kotak surat kecil itu. Dan lagi-lagi, firasat buruk merayapi hatiku. Kugedor pintu apartementnya dengan tidak sabar.

“______! Kau di dalam? Ni hai hao ma?” teriakku. Lagi-lagi tak ada sahutan.

“______, dalam hitungan ketiga kau tak menyahut, aku akan mendobrak pintu apartementmu!” teriakku lagi.

“satu..” teriakku mulai menghitung.

“dua..” aku mulai mengambil ancang-ancang.

“ti-”

“hiya, gege! Apa yang kau lakukan!?” teriak seseorang mengagetkanku.

Aku menoleh dan mendapati sesosok pria muda hampir sepantaran denganku, hanya saja ia terlihat lebih muda. Ia menatapku dengan tatapan menyelidik.

“eh? Aku? Aku mau mendobrak pintu apartement ini,” jawabku jujur sambil menunjuk pintu apartement ______.

“huh? Ck! Apa gege mau ganti rugi setelah mendobrak pintu itu?” dengusnya kesal. Sepertinya ia pemilik apartement ini. Tapi, apa semuda ini?

“err, dui bu qi. Habis penghuninya tidak menjawab panggilanku. Aku takut terjadi apa-apa padanya,” terangku.

“gege teman ______ jie?” tanyanya yang kubalas anggukan.

“apa dia mengontak gege sebelumnya?” tanyanya lagi dan aku hanya menggeleng.

“hmm, tadi juga ada temannya ______ jie yang datang, tapi tak ada sahutan. Kupikir ______ jie terburu-buru pergi pagi-pagi sekali,” gumamnya.

“kalau dia tak ada di apartementnya, dia pasti meninggalkan notes kecil di sana,” ucapku sambil menunjuk kotak surat kecil di bawah plakat nama ______.

“shen me? Jadi, kemungkinan ______ jie ada di dalam?” tanyanya kaget dan aku mengangguk lagi.

“aish! Ada apa lagi dengan orang Jepang ini!?” gerutunya.

“sebentar ge, aku akan meminta kunci duplikat pada baba!” serunya sambil berlalu meninggalkanku.

Jadi, dia anak pemilik apartement ini? Aku menghela nafas berat. Firasat buruk kini semakin merajalela di hatiku. Aku bersandar pada dinding apartement, mencoba mengatur detak jantungku yang sedari tadi berpacu tak beraturan. ______, ni zhen me la?

Tak lama, terdengar derap langkah yang terburu-buru mendekatiku. Aku menoleh dan mendapati pemuda itu, anak pemilik apartement tadi. Ia terlihat membawa sebuah kunci.

“ge! Ini kuncinya!” serunya.

“ah, zhen de xie xie..”

“Ya Lun, Yan Ya Lun,” potongnya.

“hao, xie xie, Ya Lun,” ulangku.

“bu ke qi, ge. Segera buka pintunya, ge,” ucapnya terlihat sama pucatnya denganku.

Dengan segera aku memasukkan kunci itu pada lubangnya dan memutarnya. Kudorong pintu setelah yakin pintu ini sudah tak terkunci.

Kosong. Aku menoleh ke belakang dan mendapati Ya Lun tengah menjulurkan lehernya, berusaha menilik ke dalam. Ia menatapku dan mengangguk, menyuruhku masuk. Aku pun melangkahkan kakiku memasuki apartement ______.

“______?” panggilku.

Ya Lun menoleh ke kanan dan kiri, memastikan keberadaan ______. Aku berjalan semakin masuk ke dalam menuju kamarnya, meninggalkan Ya Lun di ruang tamu. Namun belum sampai di kamar ______, sebuah pemadangan membuatku terkaget. Huang ______ tergeletak tak berdaya di lantai dapur!

“______!” seruku dan menghambur ke arahnya.

“wei shen me, ge?” tanya Ya Lun yang langsung menghampiriku. Ia melotot kaget ketika melihatku bersimpuh di samping tubuh ______.

Tubuhnya dingin dan.. kaku. Aku mengguncangkan bahunya, namun tak ada gerakan berarti. Kutepuk-tepuk pipinya, berharap ia akan terbangun. Nihil. Tubuhnya benar-benar kaku. A-apa ini..

“Ya Lun! Telpon ambulans! Kuai dian!” seruku.

“h-hao, ge,” gagapnya yang langsung meraih handphonenya dari saku dan menekan lincah tombol-tombolnya.

“______, dui bu qi. Gomenasai,” ucapku bergetar.
*
Rintik air hujan turun membasahi bumi. Aku berdiri diam, menatap gundukan tanah yang masih basah di hadapanku dengan sendu. Beberapa orang telah beranjak pergi, tapi tidak denganku. Aku masih terpaku menatap batu nisan yang tertera nama ‘Huang ______’ dengan tatapan tak percaya.

Aku kehilangan seseorang lagi. Seseorang yang berharga dalam hidupku. Tanpa sempat mengucapkan salam perpisahan. Bodohnya lagi, dalam keadaan kami bertengkar. Aku benar-benar merasa menjadi orang paling bodoh sedunia.

Aku tahu hari ini akan datang. Hari ketika ia pergi dari hidupku selamanya. Dan aku tak mungkin bisa menahannya pergi. Tapi mengapa dengan bodohnya aku justru membentaknya semalam? Zhen de pentan! Rutukku.

Kemarin, setelah ambulans datang dan melarikan ______ ke rumah sakit, dokter menyatakannya telah meninggal sejak pukul 2 malam karena meminum susu kadaluarsa. Dan aku merutuki diriku yang memang jarang mengecek persediaan makanannya di kulkas. Andai saja aku masih di sana malam itu, mungkin aku tak akan berdiri di sini dengan hati yang hancur seperti ini.

Dan sekarang, untuk kedua kalinya, aku merasakan kehilangan. Kehilangan akan orang yang kusayangi. Kehilangan akan orang yang berharga dalam hidupku. Merasakan lagi sakit akan kehilangan seseorang yang pernah kualami sebelumnya.

Selamat tinggal, ______. Semoga kau damai di sana. Maaf aku tak bisa memenuhi permintaanmu untuk melupakanmu. Kau tahu hal itu adalah hal yang paling tidak mungkin kulakan. Ijinkan aku tetap mengingatmu, walau hanyalah sebuah kenangan.

Dan setelah itu aku beranjak meninggalkan pelataran pemakaman. Berusaha merelakan hatiku meninggalkannya. Membiarkannya berbaring tenang dalam kedamaian.
*
Aku bingung mendapati diriku telah berada di tengah lapangan rumput yang hijau. Sejauh mataku memandang, hanya ada rumput kehijauan yang melambai-lambai tertiup angin serta langit yang berwarna biru cerah.

Sekilas mataku mengkap sosok seseorang dengan terusan berwarna putih. Rambutnya yang panjang berkibar diterpa angin. Aku tersenyum kecil mendapatinya berdiri menatap cerahnya biru langit di atas sana.

Ia menoleh dan menatapku. Kulambaikan tanganku lalu berjalan menghampirinya. Ia menatapku dengan senyuman manisnya. Kuhenyakkan diriku di sampingnya, menengadahkan kepalaku menatap birunya langit.

“Da Dong, dui bu qi,” ucapnya.

“wo ye, dui bu qi, ______,”

“Da Dong, maukah kau berjanji sesuatu padaku?” tanyanya kemudian. Aku menoleh menatapnya.

“shen me?”

“berjanjilah, jangan menangis karenaku,”

“akan kucoba,”

“Da Dong..”

“hmm?”

“satu lagi.. tolong lupakan aku,”

“______, aku yakin kau tahu aku tak akan pernah bisa melakukannya. Aku bisa hidup tanpamu, aku bisa merelakanmu pergi, aku bisa menerima kenyataan yang ada. Tapi tolong, jangan paksa aku untuk melupakanmu,”

“tapi, Da Dong..”

“______, ijinkan aku tetap mengingatmu walau dalam bentuk kenangan,” mohonku.

Ia terdiam sejenak kemudian menghela nafas berat dan bergumam, “baiklah,”. Aku tersenyum kecil lalu mengusap puncak kepalanya. Kami kembali menatap birunya langit dalam diam. Hanya desiran angin yang terdengar.

“Da Dong..”

“hmmh?”

“aku harus pergi sekarang,”

“secepat itu kah?” tanyaku dan ia mengangguk kecil.

“selamat tinggal, Da Dong. Jaga dirimu baik-baik,”

“selamat tinggal, ______. Aku akan selalu mengingatmu,”

Dan setelah itu, bayangnya perlahan menghilang dari pandanganku bersama dengan angin yang berhembus. Seolah ia terbang tertiup angin. Aku menghela nafas panjang, merasakan nyeri dalam hatiku.

Selamat tinggal, ______. Semoga kau selalu tenang dalam kedamaian.
=FIN=

.err~
.pada bingung ga sih baca nih FF ? O.o
.ceritanya jelek ya ?
.hhh~
.dui bu qi ,
.masih amatir soalnya .😄

.FF ini kubuat demi menyambut #jiroday~
.sheng ri kuai le gege~
.wish you all the best !😀

.thanks for reading .😀

  1. nie_wonnie18
    25 Agustus 2010 pukul 12:11 pm

    HUAAA!!!
    window~
    ini ff bwt ultah kok sedih gini sih ceritany T____T

    tp jujur ini KEREN, ku liat kemampuan menulismu makin meningkat, say
    *sokngamatin*

    si DD baik bgt, perhatian .. aissh syg si cwe trlalu pesimis, harusny kan masi ada bnyk waktu bwt sama2 kalo dy mau:/

    eh, si yalun nongolny cm bntar ye~

    diending’a si jiro kea setengah sadar gt kah?

    baguss!!
    ditunggu karyamu yg slanjutny ^^

    bwt gege ku sayang *jiah*
    “Zhu ni shengri kuai le, Da Dong Ge”
    moga makin keren, sukses, n ROCK!!! LOL

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: