Beranda > fanfiction, oneshot, whyenda_arinka > [Oneshot] Guardian Angel

[Oneshot] Guardian Angel

Title : Guardian Angel
Length : Oneshot [3285 words]
Genre : Romantic, Angst, Fantasy
Rating : G
Cast : Super Junior Kim Jong Woon(Yesung), Yun Hee.

Disclaimer : I don’t own Yesung, he’s belongs to my friend*plaakkk* kidding~ I mean, he’s belongs to God.😄 and Yun He is belongs to my friend. Kkk~ XDD

===========
(Yesung’s POV)

Aku melempar tubuhku ke atas ranjang. Mencoba merilekskan tubuhku setelah hanya terduduk diam di depan layar monitor selama hampir seharian penuh. Punggungku terasa sedikit sakit. Jari-jari tanganku pun sangat pegal karena menari-nari di atas keyboard komputer. Tenagaku terkuras habis hanya untuk meneliti dan membenahi laporan keuangan perusahaan tadi.

Setelah kurasa tenagaku telah kembali, yah, setidaknya cukup untuk membersihkan diri dan memasak makanan, aku bangkit menuju kamar mandi yang terletak di dekat ruang TV apartementku. Baru beberapa langkah meninggalkan kamarku, mataku membelalak kaget. Tubuhku terasa lemas sekali. Bagaimana tidak? Ruang TVku berantakan. Lantainya kotor. Terdapat bekas tumpahan susu di beberapa tempat di lantai. Debu melapisi layar TV dan beberapa foto yang terpajang.

Dang! Aku lupa kalau belum membersihkan apartementku sama sekali semenjak hari minggu kemarin. Itu berarti, sudah empat hari lantai apartementku ini kotor tanpa pernah di sapu sekalipun. Gah! Aku terlalu lelah untuk membereskan apartementku setelah pulang kantor. Bahkan sejak hari senin kemarin, aku langsung terdampar di alam mimpi begitu merebahkan diriku di ranjang sepulangku dari kantor. Beruntung hari ini aku masih memiliki sedikit tenaga untuk membersihkan diri dan memasak makanan. Tapi aku tak yakin bila tenagaku ini cukup untuk membersihkan kekacauan di apartementku.

Geez, ini baru ruang TV, bagaimana dengan dapurku? Sial! Seingatku, terakhir aku berusaha membuat nasi goreng namun gagal. Dan nasi goreng itu, kubuang begitu saja. Tapi wajannya? Oh Tuhan, sekarang aku benar-benar berharap ada sebuah keajaiban yang terjadi sehingga hanya dalam kerjapan mata, apartementku kembali bersih. Well, tapi aku yakin, itu tidak mungkin.

Aku pun melangkah dengan gontai menuju kamar mandi dan segera membersihkan tubuhku. Setelah itu, aku memberanikan diri mengecek dapur. And oh, shit! Wajannya menghitam dan.. bau. Err~ ini parah. Kuangkat wajan itu dengan serbet dan meletakkannya di bak cuci piring. Menyalakan keran air, membiarkannya terbenam air. Apakah ini lebih baik? Kucuci tanganku dan berjalan menuju rak dapur, mencari ramen instant. Kurasa, keadaan dapurku tak memungkinkan untukku memasak makanan.

Hanya membutuhkan waktu 5 menit untuk membuat ramen instant, sangat mudah dan praktis. Kubawa ramen dan segelas air putih ke ruang TV. Meletakkannya di meja yang tersedia lalu membersihkan layar TV dan menyalakannya. Mencari channel yang menarik, setelah itu menghempaskan diriku di atas sofa yang terletak di depan meja. Menikmati ramen instant sambil menonton berita.
*
Sebuah sinar menyusup di balik celah kelopak mataku, membuatku merasa silau. Kuangkat tanganku untuk menghalangi sinar itu. Perlahan kubuka mataku dan mengerjapkannya sebentar. Aku menatap sekelilingku. Mencoba mengumpulkan nyawaku yang masih melayang-layang serta mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi.

Kulirik jam di dinding. Pukul 7 tepat. Aku melompat dari sofaku dengan mata terbelalak kaget. Jam 7 pagi! Oh dang! Semalam aku ketiduran setelah makan ramen. TV yang sejak semalam menyala, kini menayangkan berita pagi. Segera kumatikan TV yang masih menyala dan berlari dengan tergesa-gesa menuju kamar mandi.

Dengan masih tergesa-gesa, aku bersiap-siap berangkat ke kantor. Sebelum meninggalkan apartementku, aku sempat melirik ruang TV yang masih dalam keadaan berantakan. Mangkuk bekas ramenku semalam masih berdiri anteng di atas meja dengan beberapa semut mengerubunginya. Membuatku mengernyitkan keningku. Namun akhirnya, kutinggalkan apartementku dalam keadaan hancur berantakan.

Apa boleh buat? Pekerjaanku benar-benar menguras tenaga, pikiran, serta waktuku. Aku hanya memiliki waktu libur ketika hari sabtu dan minggu. Tapi, apalah arti hari libur kalau harus kuhabiskan untuk membereskan apartementku yang selalu berantakan bak kapal pecah tiap minggunya? Aku menghela nafas panjang mengingat diriku hampir tidak memiliki waktu untuk bersantai barang hanya sehari atau mungkin setengah hari saja. Apa aku menyewa house keeper saja ya? Tapi, apa aku bisa mempercayainya?
*
Kudorong pintu apartementku setelah sebelumnya membuka kuncinya. Gelap. Kuraba dinding di samping pintu apartement untuk menyalakan lampu. Aku menghela nafas berat mengingat keadaan apartement ketika tadi pagi kutinggal ke kantor. Berantakan. Dan ini hari jumat, yang artinya besok dan lusa waktuku untuk membereskan apartementku. Kapan waktu untukku istirahat?

Klik. Seketika ruangan terang benderang karena lampu yang menyala. Kulangkahkan kakiku semakin memasuki apartementku dan menyalakan lampu yang lain. Klik. Lampu ruang TV menyala, menerangi keadaan ruang TV yang.. what!? Aku membulatkan kedua mataku seketika, takjub akan pemandangan ruang TVku sekarang. Bersih. Rapi. Indah.

Dengan langkah cepat, aku berlari mencapai dapur apartementku. Menyalakan lampunya dan kembali membulatkan kedua mataku. Sama seperti keadaan ruang TVku. Bersih. Rapi. Wajan hitam yang kemarin telah berganti menjadi wajan yang bersih. Bahkan mangkuk yang kemarin kubuat makan ramen pun, telah bertengger rapi di rak samping bak cucian.

Ini.. benar-benar terjadi, kan? Maksudku, aku sedang tidak berhalusinasi, kan? Atau mungkin aku masih berada di alam mimpi? Well, ini tak bisa kuterima dengan akal sehatku. Apartementku telah kembali bersih, rapi, indah tanpa kubereskan sendiri? Bahkan lantainya bersih, seolah tak pernah ada bekas tumpahan susu sebelumnya.

Kutepuk-tepuk kedua pipiku dengan kedua telapak tanganku. Sakit. Dan keadaan dapur pun masih sama. Kucubit pipiku hingga membiru. Tapi aku tidak segera terbangun juga. Jadi.. ini nyata? Apartementku bersih? Siapa yang melakukannya? Tapi, benar aku sedang tidak bermimpi? Bagaimana bisa? Dan ini..

“kau tidak suka ya?” tanya sebuah suara dibelakangku.

Aku berbalik dan mendapati seorang gadis berumur awal dua puluh tahun berdiri di hadapanku. Ia mengenakan terusan berwarna putih selutut. Rambutnya yang panjang dibiarkannya tergerai. Cantik. Itu yang terlintas di otakku.

“hello~ are you there?” panggilnya sambil melambaikan tangannya di depan wajahku, membuatku terbangun dari lamunanku.

“oh, ne,” gagapku.

“kau belum menjawab pertanyaaku, tuan. Apakah kau tidak suka aku membereskan apartementmu? Kalau tidak, aku akan meminta dewan atas untuk menggantikanku dengan yang lain yang lebih baik pekerjaannya,” ucapnya panjang lebar.

Tunggu dulu. Jadi, dia yang membereskan apartementku? Tapi, bagaimana caranya? Maksudku, bagaimana ia bisa masuk ke dalam apartementku? Seingatku, aku tak memiliki kunci cadangan. Dan lagi, apa itu dewan atas? Sebenarnya, siapa dia?

“err~ sebenarnya, ada apa ini? Siapa kau?” tanyaku bingung. Ia melongo kaget lalu menepuk keningnya pelan.

“astaga, aku lupa sesuatu,” gumamnya.

“baiklah, kau tanya siapa aku, tadi. Aku adalah seorang malaikat,” jelasnya membuatku terbelalak seketika.

“kau.. malaikat?” ulangku memastikan pendengaranku.

“uh-hum, aku malaikat. Malaikat pelindungmu,” tambahnya.

“malaikat.. pelindungku?”

“yup, that’s right,”

“am I dreaming?”

“no, you aren’t,”

“tapi, bagaimana bisa?”

“err, bisa saja. Dengar, setiap manusia memiliki malaikat pelindungnya sendiri-sendiri,”

“huh?”

“uh-hum. Setiap manusia memiliki malaikat pelindungnya sendiri, tapi mereka kasat mata,”

“dan kau?”

“aku? Well, aku meminta ijin pada dewan atas untuk menampakkan diriku,”

“kenapa?”

“err, apartementmu.. membuatku tak nyaman,”

“sorry.. and thanks,”

“no problem,”
*
Semenjak saat itu, aku tidak bisa dibilang tinggal sendiri lagi di apartementku ini. Karena seorang malaikat pelindung kini berada di sekitarku. Ia yang membantuku membereskan apartementku. Dia juga yang menyiapkan makanan untukku. Tentu saja, hal ini membuatku senang. Tapi ada sesuatu yang mengganjal hatiku. Aku merasa sedikit.. canggung..

“err, apa kau punya nama?” tanyaku.

“nama?” ulangnya.

“yah, mana mungkin aku memanggilmu ‘malaikat’, atau ‘kau’, dan ‘hey’, kan?” terangku.

“uhm, aku punya nama, tapi itu sudah lama sekali. Dan aku.. lupa,” gumamnya.

“huh? Lupa?” kagetku.

“yeah, aku memiliki sebuah nama sekitar 500 tahun yang lalu,” jelasnya.

“uh, wow,” gumamku, “bagaimana kalau aku memberimu nama?” tanyaku kemudian.

“memberiku.. nama?” ulangnya.

“yup! Would you?” tawarku.

“as your wish,” jawabnya menyetujui.

“good. How if Yun Hee?”

“Yun Hee?”

“uh-huh. Yun Hee.. not bad, eh?”

“well, no, but it’s great,”

“so, from now on, your name is Yun Hee,”

“yeah.. Yun Hee,” gumamnya.

Kulihat ia menggumamkan namanya berkali-kali. Seolah ia berusaha terbiasa dengan namanya yang baru. Membuatku geli melihatnya seperti itu. Dan hatiku sendiri? Mengulang-ulang namanya dalam hati. Ada apa denganku?
*
Sudah sebulan ini aku hidup dengan malaikat pelindungku itu. Dan entah mengapa, aku senang melihatnya berada di sekitarku. Melihatnya tertawa ketika menonton acara yang lucu. Melihatnya menggerutu sebal ketika aku melempar dasiku sembarangan sepulang dari kantor. Melihatnya mengadu pada Ddangkoma akan tingkahku yang benar-benar membuatnya sebal. Serta senyum polosnya ketika terakhir kali aku mengajaknya mencoba beberapa makanan manusia.

And don’t know why, I love the way she’s laugh. I love the way she’s grumbled. I love her face when she’s help me clean up my apartement. I love her solemness. Oh dang! What’s wrong with me? I even love her face! It’s wrong! Dammit! I ought not to fell for her. She’s angel and I? I am human.

Maybe there’s nothing wrong. But, do you know that guardian angle had rules? First, they must help their ‘human’. Second, they must be invisble by anyone else, unless their ‘human’ ask it. Third, they may not fallin for their ‘human’. And also conversely, the ‘human’ may not fallin for guardian angel. See? I did wrong. I break the third rules. Damn!

“aku pulang,” seruku.

Hening. Gelap. Tak ada tanda-tanda seorang pun berada di apartementku. Kulangkahkan kakiku memasuki apartementku. Menyalakan lampunya sambil melongokkan kepalaku, mencoba mencari Yun Hee.

“Yun Hee?” panggilku. Tak ada sahutan.

Aku melangkahkan kakiku menuju balkon. Pintunya tertutup. Terkunci lebih tepatnya. Aku beranjak menuju ruang TV. Rapi, seperti biasa. Aku pun beranjak menuju dapur. Di meja makan telah tertata makanan dengan rapi. Aku mengernyitkan keningku heran. Ke mana Yun Hee? Tidak biasanya ia tak ada di apartement.

Aku menyeret kakiku mendekati kulkas untuk menegak air mineral. Belum sampai tanganku menggapai kulkas, sebuah notes kecil tertempel di sana. Membuatku menghentikan aktivitasku sejenak dan memandang aneh pada notes itu. Tulisan kecil-kecil khas Yun Hee tertoreh di sana.

Aku ada urusan sebentar. Dewan atas memanggilku. Makanan sudah kusiapkan. Ddangkoma sudah kuberi makan. Mungkin besok aku baru kembali. Jangan membuat kekacauan sampai aku kembali.

-Yun Hee-

Aku meraihnya dan tersenyum kecil. Kualihkan pandanganku ke arah meja makan. Nasi goreng beijing kesukaanku telah tersaji di sana. Aku melangkah ke westafel untuk mencuci tanganku sebelum akhirnya menyantap makan malamku yang semakin membangkitkan nafsu makanku.

Aku menikmati makan malamku dalam keheningan. Dan entah mengapa, ini terasa aneh. Ada yang ganjil dalam suasana hening ini. Atau mungkin karena aku terbiasa makan malam –tidak hanya makan malam saja, sebenarnya- diiringi suara Yun Hee. Entah itu senandung dari bibir mungilnya, gerutuannya, omelannya, atau pun suara manjanya ketika mengadu pada Ddangkoma –yang justru membuat Ddangkoma bersembunyi dalam cangkangnya.

But, hey! Wait.. am I miss her voices? Or maybe I miss when she is around me? Oh dang! Yang benar saja! Ini bahkan baru makan malam, atau lebih tepatnya, malam ini saja ia pergi atas panggilan dewan atas, masa aku sudah merindukannya? Err, baiklah, aku akui, aku merindukan senyumnya yang penuh kelegaan ketika melihatku melahap masakannya.
*
“Yesung-ah, iroena~ palliwa~” panggil seseorang membuatku terbangun dari alam mimpiku.

Suara siapa ini? Suara Yun Hee, kah? Segera kubuka mataku dan mengerjapkannya sebentar, mencoba terbiasa dengan sinar matahari yang terasa silau untuk mataku.

“hei! Ayo bangun, jangan hanya mengerjapkan matamu saja,” gerutu suara itu lagi.

Aku menoleh dan mendapati Yun Hee berdiri di samping jendela kamarku dengan berkacak pinggang. Sepertinya ia baru saja membuka jendela kamarku. Aku tersenyum lebar melihatnya lagi.

“cepat bangun dan bersiap-siap. Ada hal penting yang harus aku bicarakan,” ucapnya cepat.

Hal penting? Apakah ada masalah? Dari rautnya yang serius, sepertinya ada sedikit masalah. Err~ sedikit? Kurasa tidak. Besar. Mungkin saja. Atau.. dang! Jangan bilang kalau..

“Yesung-ah! Segeralah bersiap-siap! Sarapanmu sudah siap!” teriaknya lagi, kuarasa dari dapur.

Aku segera terbangun dan meraih handukku, membersihkan diriku secepat yang kubisa dan bersiap-siap. Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam otakku. Tak sedikit pikiran buruk hinggap. Walaupun sudah kutepis, tapi tetap saja pikiran buruk itu hinggap. Bagaimana tidak? Dalam keadaan cemas seperti ini, siapa yang dapat berpikiran jernih?

Dan sekarang, walaupun sedikit cemas, aku tetap berusaha menikmati sarapanku seperti sebelumnya. Yah, pagi ini diiringi dengan tatapan Yun Hee yang aneh, bukan senyum leganya. Ia terlihat bingung, cemas, takut, bingung, dan.. sedih? Entahlah, aku masih tidak mengerti. Dan tatapannya justru membuatku semakin bertanya-tanya. Apa yang telah terjadi? Apa ada hubungannya dengan dewan atas? Apa yang dikatakan dewan atas?

“jadi, hal penting apa yang perlu dibicarakan?” tanyaku setelah menelan suapan terakhir sarapanku. Kudorong piringku menjauh lalu melipat kedua tanganku di atas meja, memperhatikannya dengan saksama.

“err, salah satu dari kita, melanggar salah satu peraturan yang ada,” jawabnya. Aku menaikkan sebelah alisku.

“peraturan? Sejauh ini, tak ada peraturan yang kulanggar, jika memang peraturan ketiga tidak dikhususkan untukku,” ucapku.

“huh?” bingungnya. Aku menghela nafas panjang.

“aku.. melanggarnya..”

“melanggarnya?”

“uh-uhum, sorry,”

“kau.. menyukaiku?”

“bisa dibilang begitu,”

“tapi.. kukira.. lupakan,”

“kau kira..?”

“well, kukira.. aku yang melanggarnya,”

“tunggu, jadi.. kita melanggarnya?” tanyaku memastikan. Ia mengangguk kecil.

Rasa senang memenuhi seluruh hatiku. Terasa meluap dan meluber ke mana-mana, hingga dapat kurasakan, bukan hanya hatiku saja yang tengah merasakannya. Tapi tubuhku juga. Tubuhku pun merasakan luapan kesenangan yang ada dalam hatiku. Luapan rasa senang yang berlebihan. Dan tanpa kusadari, aku tertawa. Tertawa frustasi. Satu hal yang kutahu. Setiap ada peraturan, pasti ada sanksi bagi yang melanggar. Dan aku? Aku akui takut akan sanksi itu. Pengecut? Memang. Tapi, apa salahnya aku merasa takut?

“ini tidak lucu, Yesung-ah,” desahnya.

“apa caraku tertawa tadi terlihat seperti seseorang yang tertawa terpingkal-pingkal melihat ikan berjalan di daratan hingga lupa caranya berenang?” tanyaku. Ia terdiam, begitu pula denganku.

“Yesung-ah,” panggilnya.

“hmmh?” gumamku.

“kau tahu, kalau setiap peraturan.. selalu ada sanksi bagi yang melanggarnya?” tanyanya lirih.

“yeah, setiap peraturan selalu seperti itu,” jawabku pelan. Hening sejenak.

“jadi.. apa sanksinya?” tanyaku kemudian. Ia menghela nafas berat.

“aku.. aku akan dicabut dari tugasku sebagai.. malaikat pelindungmu,” jawabnya lirih, terkesan seperti bisikan. Aku menatapya tajam.

“kau akan.. pergi..?” tanyaku memastikan.

“uh-hum. Tugasku sebagai malaikat pelindungmu telah dicabut,” jawabnya.

“lalu aku? Apa aku akan mendapat malaikat pelindung yang baru?”

“entahlah.. aku tidak tahu soal yang satu itu,”

“dan aku harus terbiasa hidup sendiri.. lagi?”

“yah, mau tidak mau,”

Hening. Kami sama-sama tenggelam dalam pikiran kami masing-masing. Kenyataan ini bagaikan sebuah godam besar yang menghantam kepalaku berkali-kali. Membuatku sulit berpikir dengan jernih. Semuanya terasa buntu. Tak ada jalan keluar. Dan kenyataannya.. memang tidak ada jalan keluar, bukan?

“lalu kau..?” tanyaku kemudian.

“aku?” ia tersenyum kecut dan melanjutkan, “aku.. aku mungkin tidak bisa menjadi malaikat lagi,”

“lalu?”

“entahlah, yang jelas, aku bukan malaikat lagi.. setelah ini,”

“setelah ini?”

“aku masih punya tugas sebagai malaikat pelindungmu hingga hari ini,”

“tapi aku.. tidak bisa kehilanganmu..”

“Yesung-ah, dengarkan aku. Segala yang pergi dari kita, suatu saat akan kembali dengan caranya sendiri,”

“apa kau bisa menjaminnya?”

“entahlah,”

Hening kembali melanda kami. Entah mengapa, pagi ini penuh dengan keheningan. Dan mau tak mau, aku harus mulai membiasakan kembali diriku dalam keheningan ini. Keheningan yang tak kusukai. Keheningan yang kubenci. Keheningan yang kutakutkan, semenjak ia berada di sini. Tepatnya, keheningan yang terjadi karena tak ada dirinya. Dengan kata lain, aku takut kehilangannya.

“Yesung,”

“hmm?”

“kau.. tidak berangkat ke kantor?”

“entahlah. Aku.. takut..”

“takut?”

“takut kau akan meninggalkanku,”

“tapi..”

“biarkan aku tetap di sini. Toh tidak berangkat sehari, bukanlah masalah besar,”

“terserahmu saja,”

Dan akhirnya, aku menghabiskan hari ini dengan tetap berada di sampingnya. Merengkuhnya dalam dekapanku. Mengecup keningnya. Mencium harum rambutnya. Merasakan detak jantungnya yang seirama denganku. Mencoba mengingat hal-hal yang telah kami lalui. Walaupun singkat, tapi itu memberi kesan yang mendalam di hatiku. Kisah cinta antara seorang manusia dengan malaikat pelindungnya. Kisah cinta yang terlarang.
*
Pagi ini aku terbangun dengan rasa malas yang luar biasa. Kusapu pandanganku kesegala arah. Berharap menemukan sosoknya. Menemukan sosok Yun Hee yang berdiri dengan berkacak pinggang dan tatapan hendak membunuhku bila aku tak segera bangun. Tapi nyatanya? Nihil. Hanya keheningan yang kudapat. Bahkan sinar matahari yang biasanya menyusup dari celah jendela kamarku pun tak ada. Apa aku terlalu menutup diriku? Kurasa, ya.

Perlahan kuangkat tanganku ke arah keningku. Entah kenapa, kepalaku terasa sangat sakit. Pusing. Segalanya seolah berputar. Namun aku berusaha memaksakan diriku bangun dan segera bersiap-siap ke kantor. Dan seperti sebelum kedatangan Yun Hee, aku tidak sarapan.

Yah, mau tidak mau, aku harus mulai terbiasa hidup sendiri lagi. Hidup tanpa seorang Yun Hee yang selalu ada di sampingku. Hidup tanpa seorang Yun Hee yang mengurusku. Kembali menjadi seorang yang berantakan. Kembali menjadi orang yang paling sibuk. Kembali menjadi orang yang tidak teratur. Dan yang paling terasa adalah, kembali merasakan kesepian.
*
Aku keluar dari supermarket yang terletak tidak jauh dari apartementku dengan satu tangan membawa tas berisi persediaan makanku. Ketika ada Yun Hee, aku pasti pergi bersamanya. Dengan tangan membawa satu cup es krim serta canda tawa mengiringi langkah kami. Tapi sekarang? Semua tinggallah kenangan.

Aku tersenyum pahit dan melempar pandanganku ke arah taman yang berada di samping supermarket tadi. Melihat beberapa anak kecil tengah bermain riang dengan segumpal salju di tangan mereka, melemparkannya satu sama lain. Terlukis kegembiraaan di wajah polos mereka.

Setelah itu, pandanganku tertumbuk pada seorang gadis yang tengah terduduk diam di sebuah bangku yang tak jauh dari anak-anak kecil tadi. Ia memeluk tubuhnya sendiri, seolah kedinginan. Badannya menggigil. Kulihat, hanya sebuah sweater yang menghangatkan tubuhnya. Rambutnya tergerai menutupi sebagian wajahnya, membuatku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas.

Dengan hati-hati, kudekati gadis itu. Entah angin apa yang membuatku ingin menghampirinya. Apa mungkin karena kasihan? Atau keanehan gadis ini yang hanya menggunakan sweater untuk menghangatkan tubuhnya ditengah cuaca sedingin ini? Entahlah, yang jelas, aku baru menyadari bahwa sekarang aku telah mengenyakkan diri di bangku taman dekat anak kecil yang tengah bermain. Tepat di samping gadis itu.

“annyeong haseyo,” sapaku.

Diam. Tak ada jawaban darinya. Bahkan tanda-tanda bahwa ia menyadari kehadiranku pun tak ada. Apa gadis ini baik-baik saja? Kuangkat tanganku hingga telapak tanganku berada tepat di depan wajahnya. Kukibaskan tanganku, berharap ia menyadari kedatanganku. Tapi nihil. Atas rasa ingin tahuku serta keheranan, kebingungan, sedikit takut yang bercampur jadi satu, kuberanikan meletakkan telapak tanganku di bahunya dan menggoncangkannya pelan.

Perlahan, gadis itu bergerak, membuatku sedikit lega. Setidaknya, tak ada hal buruk yang terjadi padanya. Ia mendongak lalu menoleh ke arahku. Membuatku bisa melihat wajahnya, serta membuatku kaget. Wajahnya.. tidak asing di mataku. Bukan hanya di mataku, tapi juga otakku, pikiranku. Dan dalam sekejap, sebuah kenangan menyeruak keluar dari otakku. Memenuhi rongga hatiku.

“a-annyeong haseyo,” sapanya membuatku kembali dari masa kehilangan-nyawa-sesaatku. Aku mengerjap dan menatapnya.

“annyeong. Nan gwenchana?” tanyaku setelah membalas sapaannya.

“mollaso,” jawabnya lirih.

“huh?” kagetku. Ia mengangguk kecil.

“bagaimana kau bisa.. err, tertidur di taman sedingin ini? Belum lagi, kau.. hanya.. menggunakan sweater?” tanyaku.

“aku.. tidak tahu,”

“huh?” kagetku lagi. Bagaimana bisa ia tidak tahu?

“aku.. aku hanya ingat di suruh seseorang ke sini dan tiba-tiba aku tertidur,” ucapnya berusaha mengingat sesuatu.

“sudah berapa lama kau di sini?” tanyaku lagi.

“Emm, entahlah. Aku.. tidak membawa jam tangan,”

“baiklah, kalau begitu, siapa namamu?”

“na.. nama?”

“iya, nama. Kau punya nama, kan?”

“e-entahlah,”

“kau.. tidak punya nama, atau.. tidak tahu namamu?”

“aku.. aku tidak tahu apa-apa. Aku.. aku lupa siapa namaku,” lirihnya. Aku menghela nafas panjang.

“apa kau tahu.. siapa aku?” tanyanya kemudian.

“aku.. hanya tahu.. aku pernah memiliki seseorang yang mirip.. denganmu..”

“oh ya? Siapa namanya? Boleh aku bertemu dengannya?” tanyanya lagi. Ia terlihat bersemangat sekarang. Aku tersenyum pahit.

“namanya Yun He. Dan dia.. sudah pergi,” jawabku lirih.

“uhmm, sorry,” pintanya.

“it’s ok,”

“kau boleh menganggapku Yun Hee, kalau kau mau,” ucapnya kemudian membuatku kaget.

“maaf, kalau aku lancang. Tapi aku.. tidak mengingat satu pun yang ada dalam diriku.. dan aku.. bingung aku harus ke mana,” gumamnya dengan kepala tertunduk.

“kau punya keluarga?” tanyaku kemudian.

“entahlah. Aku bahkan tidak tahu siapa diriku,” jawabnya lirih.

“baiklah, mulai sekarang, kau adalah Yun Hee,” ucapku kemudian.

Ia mendongak dan menatapku gembira. Matanya berbinar menunjukkan kebahagiaan. Mirip. Mirip sekali. Seolah tanpa perbedaan. Seperti melihatnya kembali.

“benarkah?” tanyanya memastikan. Aku mengangguk kecil.

“kamsahamnida,” ucapnya.

“cheonmaneyo,” jawabku sambil mengusap puncak kepalanya lembut.

“ayo, ke apartementku. Aku punya persediaan baju hangat untukmu. Itu milik Yun Hee, karena sekarang kau Yun Hee, kau bisa memakainya,” ajakku dan ia mengangguk.

Aku beranjak dari dudukku diikuti olehnya. Kuraih tangannya yang sedingin es, menggenggamnya erat dan menariknya berjalan menuju apartementku. Membuat ia berjalan sejajar denganku. Kutarik tangannya memasuki sakuku yang hangat untuk memberi kehangatan bagi tangannya.

“segala yang pergi dari kita, suatu saat akan kembali dengan caranya sendiri,”

Dan tiba-tiba, kata-kata Yun Hee terngiang kembali di telingaku. Apakah dengan cara ini dia kembali bersamaku? Kembali dalam pelukku? Jika memang benar, aku berjanji, aku takkan melepaskannya lagi, apapun yang terjadi. Karena aku meyakini satu hal, tak ada lagi hal yang mampu memisahkan kami. Tak ada rintangan bagi kami untuk bersama kembali.
=FIN=

.yah~
.daripada banyak bacot ,
.ini ff utk merayakan ultahnya Yesung ,
.sama temen yg kebetulan ultah tanggal 6 kmaren ,
.dan kebetulan lagi ,
.dia mengaku sebagai istrinya Yesung ,
.ya udh deh sekalian~ XDD
.dan sialnya ,
.bikin ff satu buat mereka ampe ganti ide 4 kali !
.harap maklum ,
.ide saya nongolnya seliweran ,
.kalo ga cepet2 ditangkep ,
.ude kabur ke luar angkasa~ lol XDD

.wookie(?)lah~
.saengil chukkae buat couple geje YUNSU(?)
.semoga langgeng terooooss~
.saya mengalah ke Donge ya gara2 si Yun Hee ini ,
.jadi ,
.di awet2in ya lu ama Yesung, non !?
*ngancem critana* XDD

.thanks for reading😀

  1. 7 September 2010 pukul 1:29 pm

    bwakakakaakkkkkkk~~~
    critaN aye jadi 2 nie???
    mana jdi pembantu daadakan
    =___=:
    tapi tak apalahhh…
    kan dirumah suami sendiri,.
    XDDD~

    Guardian Angel yahhh???
    tu judul lguN cinta laura yg q suka,.
    heheheeeee~~

    Sankyu whiendaaaaaaa…
    *hug whienda*😄

  2. nie_wonnie18
    7 September 2010 pukul 11:22 pm

    cieeee~
    yunsu(ng) couple ni yeee
    prikitieww!!!
    hwahahahahaha XDDDD”

    jd cerita’a Yun Hee itu malaikat ato pembokat sih?😄 *dibakar yg punya nama*

    waaah secepat itu kah mereka dipertemukan lg~
    hebat!
    akhrnya Yun Hee jd manusia…

    Share more!!!

  3. Linn
    12 September 2010 pukul 8:10 am

    Guardian angel !!
    Kerennn. . xDD
    yesung yg tiap ari rus liad apartemen ny yg brantakan kedatengan seorang malaikat yg ngebantuin dia ,
    pling ska pas yun hee dah jd manusia. .🙂

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: