Beranda > fanfiction, oneshot, whyenda_arinka > [Oneshot] Memories

[Oneshot] Memories

Title : Memories
Leght : Oneshot [2242 words]
Genre : Romantic, Angst, Friendship
Rating : G
Cast : Super Junior Lee Hyuk Jae(Eunhyuk), SHINee Choi Minho, Kim Yoonri

Disclaimer : I don’t own Eunhyuk and Minho. They are belongs to their self. And Kim Yoonri is belongs to my friend.

A/N : cerita ini sepenuhnya terinspirasi dari MVnya Ariel Lin yang Fireflies dengan guest star Donghae sama Siwon. Menurutku, ceritanya sih sama, bahkan mungkin ini bisa dibilang, adaptasinya dengan pergantian pemain? lol. Pokoknya, selamat membaca.😀

===========
Sesak dadaku ketika mengingatmu..
Seakan paru-paruku menyempit..
Seakan oksigen disekitarku menghilang..
Jantungku berdebar kencang mengenangmu..
Seakan berpacu mengejarmu..
Perih hatiku ketika bayangmu memenuhi otakku..
Seakan air panas mengguyurnya..
Membuatnya hancur secara perlahan..
Bayangan ketika kau bersamaku..
Masih kuingat dengan sangat jelas..
Seakan kaset yang terus terputar tanpa bisa kuhentikan..

*
Aku memainkan boneka bola sepak. Memutar-mutarnya dengan kedua telapak tanganku. Melempar-lemparkannya ke atas lalu menangkapnya. Melemparkannya ke dinding kamarku dan menangkapnya lagi. Begitu seterusnya.

Di otakku terputar sebuah kenangan. Kenangan tentangnya. Kenangan ketika aku masih dengannya. Kenangan akan orang yang telah pergi dariku. Dialah yang memberiku boneka bola sepak ini. Dan boneka ini, mengingatkanku akan segala tentangnya. Tentang kegilaannya akan sepak bola. Segala tentangnya. Hanya dirinya.

Bahkan ketika ia meninggalkanku. Tanpa sebuah penjelasan yang bisa kuterima satu pun. Meninggalkan luka yang mendalam di hatiku. Membawa perih yang tiada habisnya. Membuatku terpuruk dalam lubang kekosongan. Sepi. Hampa. Sakit. Perih.

“Yoonri-ya~” teriak seseorang.

Tiba-tiba pintu kamarku menjeblak terbuka. Membuatku segera melempar boneka bola sepak tersebut hingga terjatuh dan menggelinding ke arah pintu kamar. Ke arah seseorang yang tengah berdiri di abang pintu. Orang yang tadi membuka pintu kamarku secara tiba-tiba. Orang yang juga tengah mengarahkan pandangannya pada boneka bola itu. Lee Hyuk Jae, atau akrab di sapa Eunhyuk.

“Ehm, hai, Eunhyuk,” sapaku gugup.

“Yoonri, kau..”

“Ah iya, ada apa memanggilku, Eunhyuk-ah?” potongku cepat.

“Kau masih mengingatnya?” tanyanya balik sambil memungut boneka bola sepak itu.

“Mengingat.. nya? Siapa yang kau maksud dengan ‘nya’, Eunhyuk-ah?” tanyaku pura-pura tidak mengerti. Ia menghela nafas panjang.

Maafkan aku, Eunhyuk-ah. Aku tahu arah pembicaraan ini. Aku hanya berpura-pura tidak mengerti. Hanya saja.. aku masih belum siap berdebat lagi tentang‘nya’. Terutama denganmu. Aku.. merasa bersalah bila mengungkitnya dihadapanmu, Eunhyuk-ah. Mianhae. Jeongmal mianhae.

“Oh, ayolah, Yoonri-ah. Aku yakin kau tau siapa yang kumaksud dengan ‘nya’,” ucapnya. Aku menunduk dan menghela nafas pasrah.

“Sorry,” ucapku lirih.

“Untuk apa? Itu hakmu untuk mengingatnya, bukan?” katanya. Entah sejak kapan, ia telah berdiri di sampingku dan mengelus puncak kepalaku lembut. Aku tersenyum tipis.

“Ngomong-ngomong, kau belum pernah memberitahuku siapa nama pemberi boneka bola ini,” gumamnya.

“Emm, Eunhyuk.. kurasa..”

“Oh, baiklah kalau kau tak mau mengungkitnya sama sekali. Aku akan berhenti bertanya tentang pria itu dan menutup mulutku dengan sangat rapat,” ucapnya kemudian memotong kata-kataku sambil memperagakan gaya mengunci mulut.

“Gomawo,” ucapku.

“Ayo pergi,” ajaknya tiba-tiba.

“Huh? Ke mana?” tanyaku.

“Kau sendiri mau ke mana? Taman hiburan, café, atau pantai?” tawarnya ceria.

“Taman hiburan lalu ke café yang ada di pantai!” jawabku antusias. Dengan segera ia menaikkan sebelah alisnya.

“Ya! Kau tak boleh begitu. Harus pilih salah satu,” decaknya tidak terima.

“Tapi aku ingin semuanya. Lagipula, kalau salah satu, nanti nilainya sembilan. Kan aku maunya nilai sepuluh,” elakku berusaha melucu.

“Ckckck. Kau ini. Baiklah, kkaja!” ujarnya. Akhirnya dia pasrah dan menuruti keinginanku. Yey!

“Ne, kkaja!” balasku antusias dan segera menariknya keluar kamarku.
*
“Ck, Yoonri-ah, hati-hati makan es krimya. Lihatlah, bibirmu belepotan es krim,” ucap Eunhyuk lembut sambil menyeka ujung bibirku menggunakan jempolnya.

“Go-gomawo,” gugupku. Aku yakin, wajahku pasti memerah sekarang.

“Aigo! Neomu kyopta, Yoonri-ah!” serunya lalu mencubit pipiku gemas. Aku meringis kecil, berusaha menutupi kegugupanku.

Aku kembali menikmati es krimku walau kutahu bahwa Eunhyuk memperhatikanku. Dan itu justru membuatku semakin gugup. Aigo, Eunhyuk-ah. Wae geurae? Kenapa kau terus memperhatikanku seperti itu? Kau benar-benar membuatku semakin gugup, Eunhyuk-ah. Erangku dalam hati.

“Yoonri,” panggilnya kemudian.

“Hmm?”

“Ada temanku yang datang dari Daegu, boleh ia menginap di rumah?” tanyanya hati-hati. Aku menatapnya.

“Oh ya? Bagus dong. Silahkan, aku tak masalah. Rumah pasti akan ramai. Kapan ia datang?” tanyaku antusias.

“Besok, ottokhae?”

“Gwenchana. Kita masih bisa menyiapkan kamarnya nanti malam, kan!?” ucapku riang.

“Ne. Gomawo, Yoonri-ah,”

“Cheonmaneyo,”
*
Eunhyuk tengah menyetir mobil sambil sesekali bersandung kecil. Aku menggerakkan kepalaku seiring lagu yang disenandungkan Eunhyuk. Siang ini aku dan Eunhyuk akan menjemput temannya yang datang dari Daegu setelah semalaman kami sibuk membereskan kamar kosong yang tersisa di rumah. Sebenarnya itu pekerjaan mudah. Dalam waktu yang singkat, kamar tersebut sudah rapi karena aku memang sering merapikannya. Tapi karena ada Eunhyuk, pekerjaan yang seharusnya sebentar, memakan waktu dua kali lipatnya. Atau bahkan berlipat-lipat lebih lama, seperti semalam.

“Yoonri-ah, ayo kau juga menyanyi,” ajaknya tiba-tiba.

“Apa yang harus kunyanyikan?” tanyaku dan ia tertawa renyah.

“Baiklah aku akan menyanyi, sorry sorry sorry sorry naega naega,” nanyiku yang langsung terputus oleh tawaku sendiri yang tak kuat kubendung. Begitu pula dengan Eunhyuk.

“Ah, itu dia stasiunnya. Kau tunggulah di sini. Di luar ramai, oke!? Nanti akan kukenalkan padanya,” ucap Eunhyuk yang kubalas anggukan kecil.

Eunhyuk menepi, memasuki pelataran parkir lalu memarkir mobil di dekat pintu masuk stasiun. Setelah memastikan mobil dalam keadaan netral, ia keluar meninggalkanku sendiri di dalam mobil. Aku menyetel salah satu kaset yang ada di dashboard mobil. Eunhyuk memang belum mematikan mesin mobil. Kurasa sengaja.

Lagu It’s You dari Super Junior mengalun di seluruh mobil. Aku merenggangkan tangan dan kakiku yang sedikit pegal setelah hanya duduk diam selama perjalanan tadi sambil sesekali mengikuti alunan lagu yang kuputar.
**
(Author’s POV)

Eunhyuk menenteng sebuah koper kecil milik teman lamanya yang baru datang dari Daegu. Ia menentengnya menuju tempat di mana ia memarkirkan mobilnya. Senyum lebar terkembang di bibir mungilnya. Ia tak sabar mengenalkan temannya pada orang special yang menunggunya di dalam mobil yang terparkir rapi itu.

Eunhyuk meletakkan koper kecil tersebut di samping kursi penumpang di bagian depan. Ia tersenyum pada gadis yang tengah duduk manis di dalam mobil sambil memandangnya dengan tatapan ingin tahu. Eunhyuk tersenyum misterius lalu membuka pintunya, dan sang gadis segera menjulurkan kepalanya keluar untuk memberi sambutan pada teman lama Eunhyuk.

Pandangan gadis itu bertemu dengan teman lama Eunhyuk. Mereka saling berpandangan cukup lama. Dan tiba-tiba, kecanggungan tercipta di antara mereka, tanpa Eunhyuk sadari. Pikiran mereka melayang jauh, menatap satu sama lain dengan tatapan kaget, gembira, senang, sedih, dan perih.

“Yoonri-ah, kenalkan, ini Minho. Choi Minho,” ucap Eunhyuk riang pada gadis bernama Yoonri.

“Dan Minho-ya, ini Yoonri, Kim Yoonri,” ucap Eunhyuk pada teman lamanya, Minho.

“Dia calon istriku,” tambah Eunhyuk berbisik, membuat Minho membulatkan matanya.

Dan setelah itu, selama perjalanan menuju rumah di mana Yoonri dan Eunhyuk tinggal, menjadi canggung. Hanya Eunhyuk yang sibuk menyetir sambil sesekali bersenandung mengikuti kaset yang tadi sempat diputar oleh Yoonri.

“Yoonri-ah, ini adalah teman baikku ketika SMA,” ucap Eunhyuk memecah keheningan.

Yoonri memperhatikan Eunhyuk sebentar lalu beralih pada Minho. Ia menyunggingkan senyum kecil. Senyum frustasi yang samar.

“Kau datang di waktu yang tepat, Minho-ah! Ayo pergi surfing nanti, oke!?” ajak Eunhyuk pada Minho sambil menepuk-nepuk bahunya pelan.

Eunhyuk lalu menunjuk ke arah kanan jalan di mana lautan lepas menghiasinya. Minho menoleh mengikuti arah jari Eunhyuk tertuju, begitu pula dengan Yoonri. Dan setelah itu, keheningan kembali mencekam. Eunhyuk kembali sibuk menyetir sambil sesekali bersenandung mengikuti lagu yang terputar.

Yoonri yang duduk di belakang, menunduk dalam. Tatapannya menerawang. Di otaknya, terbayang kembali kenangan ketika ia bersama Minho. Ya, Choi Minho yang ternyata teman dari seorang Lee Hyuk Jae yang notabene adalah kekasihnya. Calon suaminya. Kenangan ketika seorang Minho pergi meninggalkannya. Kenangan ketika ia berusaha mengejar Minho, berusaha menahannya, namun itu hanyalah suatu kesia-siaan belaka.

Dan setelah itu, kenangannya beralih ketika seorang Lee Hyuk Jae datang. Mencoba mengetuk hatinya yang sudah ia tutup rapat-rapat karena berharap Minho kembali. Berulang kali ia berusaha mengelak akan rasa yang tiba-tiba menghinggapinya pada Eunhyuk. Namun sifat Eunhyuk yang dewasa, pengertian, baik, serta ceria, mau tak mau membuatnya tak bisa terus menerus membohongi perasaannya.

Begitu pula dengan Minho. Bayangan ketika ia masih bersama dengan Yoonri terputar kembali. Ketika ia melawati hari-harinya bersama Yoonri. Saling berbagi cerita. Tertawa bersama. Serta hari ketika ia memberi boneka bola sepak pada Yoonri. Apakah Yoonri masih menyimpannya? Batin Minho bertanya penuh rasa ingin tahu.
*
Sore menjelang. Eunhyuk mengajak Minho pergi surfing dan Yoonri menunggui mereka. Ia ingin sekali calon istrinya, Yoonri, mengenal Minho, teman lamanya sekaligus sahabat karibnya selama ini. Tanpa ia ketahui, bahwa Yoonri dan Minho telah mengenal satu sama lain, bahkan jauh sebelum Yoonri mengenal Eunhyuk. Dan hubungan Yoonri dengan Minho saat itu sangat dekat. Mereka pernah menjadi sepasang kekasih.

Eunhyuk dan Minho sibuk mencari ombak di tengah lautan lepas sambil sesekali berkecipak air. Membuat Yoonri tersenyum kecil melihat tingkah mereka. Dan mau tak mau, kenangan demi kenangan yang terjadi dalam hidupnya belakangan ini, terputar dalam otaknya. Bagaikan kaset rusak yang terus berputar tanpa bisa dihentikan.

Kenangan ketika ia bersama Eunhyuk. Ketika Eunhyuk berusaha menggodanya. Merayunya, bahkan memohon kepadanya untuk menerima cintanya. Dan setelah itu, terganti dengan kenangannya ketika bersama Minho. Waktu yang sempat ia habiskan dengan Minho. Kenangan ketika Minho memberinya boneka bola sepak.

Dan semua kenangan itu membuatnya dilema. Dilema antara cinta lama yang telah ia kubur jauh di dalam hatinya, dan kini kembali muncul, serta cinta sejatinya, cintanya pada Eunhyuk. Di mana ia merasa ia sudah tidak mengharapkan cinta lama itu kembali, walau masih sering mengingatnya. Dan sekarang, tiba-tiba Minho kembali, membuatnya bimbang dengan perasaannya sendiri. Benarkah ia telah mengubur cinta lamanya?
*
Sudah dua hari ini Minho menginap di rumah Yoonri dan Eunhyuk. Rumah yang juga menjadi saksi kisah yang sempat ia jalin dengan Yoonri, sebelum Eunhyuk datang. Sebelum ia pergi meninggalkan Yoonri dalam sebuah ketidakpastian.

Dan mau tak mau, ia harus menerima sebuah pemandangan yang menyakiti hatinya. Kemesraan Yoonri dengan Eunhyuk. Ingin sekali ia memisahkan Yoonri dari Eunhyuk lalu memeluknya. Merengkuhnya. Namun ia teringat, ini semua salahnya. Seharusnya ia sadar, ini lah konsekuensi yang harus ia terima akibat meninggalkan Yoonri. Terlebih, Eunhyuk adalah sahabat karibnya, dan sebentar lagi, mereka akan menikah.

Malam itu, ketika ia, Eunhyuk dan Yoonri tengah duduk santai di teras belakang rumah untuk melihat bintang. Lagi-lagi, ia harus membesarkan hatinya melihat kemesraan yang terjadi antara Eunhyuk dan Yoonri. Mereka bagaikan magnet dengan dua kutub yang berbeda. Saling menarik satu sama lain. Tak dapat dipisahkan. Dan Minho, menyadari hal itu.

Yoonri duduk di sebelah Eunhyuk. Mereka saling bergenggaman erat, membuat Minho mengalihkan tatapannya pada api unggun yang dinyalakan di halaman yang cukup luas. Walau begitu, ujung matanya tetap mengawasi mereka berdua. Tepatnya, Yoonri.

Dari sudut matanya, ia melihat Yoonri menyandarkan kepalanya di bahu Eunhyuk. Matanya terpejam. Ia terlelap. Minho tahu hal itu. Wajah polos Yoonri ketika terlelap terekam jelas di otaknya. Bahkan hampir setiap waktu membayangi dirinya.

Ia menepuk bahu Eunhyuk yang bebas dengan pelan, membuat Eunhyuk menoleh padanya. Ia menunjuk Yoonri dengan dagunya. Berusaha terlihat wajar di hadapan Eunhyuk. Eunhyuk menoleh ke arah Yoonri yang tengah bersandar di bahunya lalu tersenyum lebar. Ia mengusap tangan Yoonri dengan tangannya yang bebas.

“Aku benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengannya,” ucap Eunhyuk sambil menerawang, mengingat awal pertemuannya dengan Yoonri.

“Walaupun dia memiliki beberapa karakter dan tidak bisa terbuka, tapi dia menawarkanku sebuah cinta,” lanjut Eunhyuk sambil menatap Minho sebentar lalu kembali menatap Yoonri dengan senyum lembut.

“Aku berencana untuk berada di sisinya, selamanya,” tambah Eunhyuk lalu menoleh pada Minho.

Dan Minho, yang sedari tadi memberhatikan Eunhyuk, berusaha menutupi kekecewaannya. Ia tersenyum lebar. Sebuah senyum kepahitan yang ia paksakan. Ia menepuk bahu Eunhyuk pelan lalu menghembuskan nafas panjang. Berusaha menenangkan hatinya.

“Chukkae,” ucap Minho.

Eunhyuk tersenyum lebar lalu menepuk lengan Minho. Ia menengadahkan kepalanya ke atas, menatap bintang yang bersinar terang. Dan Minho.. ia menunduk, berusaha menerima kenyataan yang ada.
**
(Minho’s POV)

Yah, seharusnya aku sadar semenjak pertama bertemu dengannya kembali. Ketika Eunhyuk mengatakan bahwa ia adalah calon istrinya. Namun entah kenapa, aku justu berusaha mengabaikannya. Dan kini.. aku tak bisa mengelak lagi. Aku tak bisa menghancurkan kebahagiaan Eunhyuk.

Dan tiba-tiba, Eunhyuk membangunkan Yoonri, membuatku menoleh. Yoonri yang terbangun, menatap Eunhyuk bingung. Eunhyuk hanya menunjuk ke arah langit malam. Aku dan Yoonri mengikuti arah Eunhyuk memandang. Sebuah bintang jatuh membelah langit malam. Menambah keindahan malam ini. Yah, setidaknya, memberi sedikit keindahan untuk hatiku serta harapan.
*
Pagi ini, aku memutuskan untuk kembali ke Daegu. Kurasa, semuanya sudah jelas. Aku tidak bisa mendapatkan Yoonri kembali. Ia akan segera menjadi milik Eunhyuk. Dan aku tak mungkin menghancurkan kebahagiaan sahabatku sendiri.

Eunhyuk mengantarku hingga ke dalam stasiun bersama Yoonri. Ia menemaniku menunggu kereta menuju Daegu tiba.

“Bukankah kamu datang kemari untuk menemukan cintamu yang hilang? Kenapa kamu justru pergi sekarang?” tanya Eunhyuk.

“Aku.. menemukannya,” jawabku lalu duduk di kursi yang tersedia diikuti Eunhyuk dan Yoonri.

“Tapi aku tak bisa mendapatkannya kembail,” tambaku.

Dan tepat setelah aku menyelesaikan kata-kataku, kereta yang akan membawaku ke Daegu datang. Aku segera bangkit sambil membawa koperku dan meletakkannya di dekat pintu kereta yang masih sepi akan penumpang.

Aku berbalik lalu menjabat tangan Eunhyuk dan memeluknya. Memberikan salam perpisahan. Setelah itu, mau tidak mau aku pun memberi pelukan perpisahan pada Yoonri. Aku berusaha mengontrol emosiku untuk tidak terus menahannya dalam pelukanku. Lalu kuraih koperku dan menaiki kereta yang akan membawaku kembali ke Daegu.

Setiap pertemuan adalah jenis dari kebahagiaan. Tidak peduli kapan atau di mana, serta siapa yang kau temui. Bagaimanapun berakhirnya.. itu semua adalah jenis dari kebahagiaan. Dan, aku masih bersyukur sempat mengenal Yoonri. Serta sempat menjadi kekasihnya, walaupun itu hanyalah sebuah kenangan.
**
(Author’s POV)

Minho menaiki keretanya dan melambai pada Eunhyuk dan Yoonri ketika kereta tersebut beranjak meninggalkan Seoul. Meninggalkan kota di mana ia bertemu dan meninggalkan cintanya.

Eunhyuk menoleh pada Yoonri yang masih menatap kepergian Minho dengan senyum lebar. Dan ia kembali menatap kepergian kereta yang membawa sahabatnya itu.

Dalam otak Yoonri berkecamuk segala hal. Ia sedih melihat Minho pergi darinya untuk yang kedua kalinya. Tapi di sisi lain, bila ia mengejar Minho lagi dan meninggalkan Eunhyuk. Ia pun tak sanggup harus melakukannya. Dan ia memilih untuk mencoba melepas Minho. Mencoba menerima Eunhyuk seutuhnya tanpa harus mengingat Minho lagi. Ia berusaha meyakinkan dirinya, bahwa Eunhyuk memanglah untuknya.

Perlahan, tangan Yoonri meraih tangan Eunhyuk dan menggenggamnya erat. Eunhyuk pun membalas genggaman tangan Yoonri sama eratnya. Dalam hati Yoonri, ia tak ingin kehilangan Eunhyuk seperti ia kehilangan Minho.
=FIN=

.bagaimana ?
.bagus versi MVnya ya !?
.hyuuu~
.saya nekaat~
*garuk2 lantai*

.dan FF ini ,
.kubuat atas pesanan temanku yang bernama Kim Yoonri .
.err~
.maaf jelek ,
.karena saya masih amatir .
*kabur*😄

.thx for reading~😀

  1. Linn
    12 September 2010 pukul 11:09 am

    Kerenn. . XDD
    + knp dlu ciy Minho ninggalin Yoonri ??
    + Trnyta boneka bola sepak it bkinan Minho tohh. .
    + Yoonri setia ya ma Eunhyuk wlaupun pas dia ktmu ma Minho lg n smpet bkin dia bimbang ma perasaanny . .

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: