Beranda > fanfiction, oneshot, whyenda_arinka > [Oneshot] Only Love You

[Oneshot] Only Love You

Author : Whyenda Arinka
Length : Oneshot [3010 words]
Genre : Romantic, Friendship
Rating : PG-13
Cast : Super Junior Lee Donghae, SNSD Im Yoona, Hwang ______(YOU).

Disclaimer : I don’t own the casts, but this story are mine!

a/N : berusaha membuat sad ending.. T_T

=================
(Your POV)

Aku menatap pria yang tengah merebahkan kepalanya di pangkuanku sayang. Tangannya memencet tombol remot berulang kali, sibuk mencari channel yang diinginkannya. Kuulurkan tanganku mengelus puncak kepalanya lembut. Ia menoleh menatapku lalu tersenyum lebar. Diraihnya tanganku dengan tangannya yang bebas. Ia mengecup punggung tanganku lalu meletakkannya di pipinya yang halus. Memintaku melakukan hal yang sama di pipinya. Aku tertawa kecil namun mengikuti keinginannya dan ia kembali pada televisi yang menyala.

Drrt.. Drrrt.. Getaran ponselnya yang berada di meja kecil samping kursi mengagetkan kami. Aku meraihnya lalu melihat layarnya. Yoona calling. Aku menghela nafas pendek samar lalu menyerahkannya pada pria yang tetap sibuk pada televisi, Lee Donghae.

Donghae menoleh lagi padaku lalu menatap ponselnya. Ia meraih ponselnya dan menekan tombol hijau. Ia menempelkan ponselnya di telinganya. Aku kembali mengelus puncak kepalanya dalam diam. Samar kudengar, Yoona memintanya untuk mengantarkannya pergi. Kembali aku menghela nafas pendek samar.

Im Yoona adalah kekasih dari Lee Donghae. Dan Lee Donghae adalah sahabatku semenjak kecil. Tapi sekarang, ia bukan hanya sahabatku. Hubungan kami lebih dari pada sahabat. Namun, hubungan kami tak bisa dikatakan sebagai sepasang kekasih. Well, kami sama-sama mencintai namun kami tidak menjalin hubungan apapun mengingat Donghae telah memiliki Yoona. Walau begitu, ia pun tak bisa melepasku.

Donghae bangkit dari pangkuanku. Ia menyimpan ponselnya di saku celana jeansnya lalu berdiri. Aku menatapnya penuh tanya walau pun aku sendiri sudah tahu ke mana ia akan pergi.

“ Yoona memintaku mengatarnya ke mall. ” ucap Donghae setelah melihatku. Aku mengangguk kecil.

“ Hati-hati di jalan, ” wantiku.

“ Ne, aku pergi dulu. Jalja, ” ucapnya lalu mengecup keningku dan pergi meninggalkan apartementku.

Aku menghela nafas pendek. Yah, aku sangat mengerti posisinya saat ini. Di satu sisi, ia sangat menyukai Yoona semenjak kami duduk di bangku sekolah dasar. Mencintai, mungkin. Di sisi lain, ia sangat menyayangiku. Sangat-sangat menyayangiku. Dan ia, tidak pernah bisa memilih salah satu diantara kami. Ia tetap menjadi kekasih seorang Im Yoona walau pun ia memperlakukanku layaknya akulah kekasihnya, sama seperti ia memperlakukan Yoona. Dan Yoona, ia tidak mengetahui hubungan kami ini, kecuali sebatas sahabat. Keterlaluan, mungkin, tapi aku tidak tega bila harus melihat Donghae yang sudah menganggapku sebagai nafasnya walau ia menganggap Yoona sebagai detak jantungnya. Selain itu, tak dapat kupungkiri bahwa aku pun mencintai Donghae, sangat mencintainya. Dan aku, kuakui aku masih belum bisa bila menerima kenyataan bahwa aku harus merelakannya untuk gadis lain.
*
Baru saja aku akan pergi ke alam mimpi ketika kudengar pintu kamarku terbuka. Aku membuka sebelah mataku kecil dan mendapati Donghae menutup pintu kamarku. Ia berjalan mendekatiku lalu ikut merebahkan dirinya di atas kasur, di sampingku. Ia menghadap padaku lalu meraih pinggangku, mendekapku dalam pelukannya. Ia mengecup pipiku manja dan aku tersenyum kecil.

“ Aigo~ kukira kau tadi tidur, ” ucap Donghae lalu mencubit ujung hidungku. Aku tertawa kecil lalu membuka kedua mataku menatapnya.

“ Aku hampir tertidur tadi kalau kau tidak membuka pintu kamarku, ” gumamku kecil.

“ Baiklah, sekarang kau bisa tidur. Aku akan menjaga tidurmu, ” ucapnya.

“ Dengan posisi seperti ini? ” tanyaku dan ia mengangguk.

“ Atau kau ingin lebih? ” godanya. Dengan segera aku mencubit pinggangnya dan membuatnya menggeliat geli.

“ Jangan minta yang aneh-aneh, ” ancamku dan ia tertawa.

“ Baiklah, ayo tidur, ” titahnya lembut.

“ Anni. Rasa kantukku menguap begitu saja, ” tolakku lalu melepas tangannya dan bangkit duduk. Donghae ikut bangkit lalu kembali meraih pinggangku dan meletakkan dagunya di bahuku.

“ Baiklah, kau tidak ingin tidur. Sekarang, apa yang akan kau lakukan? ” tanyanya sambil menatapku.

“ Entahlah. ” gumamku kecil.

“ Kau lapar? ” tanyaku kemudian dan ia mengangguk cepat.

“ Ayo masak lalu kita makan! ” serunya antusias. Aku tersenyum kecil, ia berhasil membaca pikiranku.

“ Ne, kkaja, ” ajakku lalu berdiri. Ia ikut berdiri.

Donghae mengamit lenganku manja lalu menarikku menuju dapur. Dan selama aku sibuk memasak, ia memelukku dari belakang. Meletakkan dagunya di bahuku sambil bersenandung kecil. Dan aku, tanpa bisa protes, membiarkannya sambil menikmati senandungnya.

“ Yeobo~ ” panggilnya manja.

“ Hmm? ” gumamku kecil.

“ Setelah ini jalan-jalan yuk!? ” ajaknya.

“ Ke mana? ” tanyaku.

“ Ya~ ke mana saja. Yang penting jalan-jalan. Aku bosan di apartement, Yeobo, ” rengeknya manja. Aku tersenyum kecil.

“ Baiklah, ” ucapku akhirnya.

“ Yippie! Gomawo, yeobo~ ” ujarnya lalu mengecup pipiku. Ia kembali bersenandung kecil di telingaku, membuatku sedikit geli.

“ Ayo lepaskan aku, makanan sudah siap, ” pintaku.

“ Anni. Aku nyaman seperti ini. ” elaknya kemudian meletakkan kepalanya di bahuku manja.

“ Yah! Kau ini, ” decakku.

Akhirnya, dengan susah payah aku menghidangkan makanan di meja makan walau Donghae masih memelukku dari belakang. Sedikit susah memang, tapi jujur, aku menikmatinya. Menikmati hangat dekapannya. Terkadang aku merutuki diriku yang tidak bisa memilikinya seutuhnya. Jujur, aku cemburu pada Yoona. Sangat. Bila Yoona meminta sesuatu pada Donghae, aku akan menjadi nomor dua.

“ Ayo kita makan, ”

“ Suapin~ ”

“ Huh? O_O ”
*
“ Donghae? ” panggil sebuah suara ketika aku dan Donghae tengah bermain di taman hiburan. Kami menoleh dan mendapati Yoona berdiri di belakang kami.

“ Jagiii~ ” panggil Donghae manja. Jujur, aku cemburu melihatnya memanggil Yoona dengan sebutan ‘jagiya’.

“ A-annyeong Yoona-ssi, ” sapaku gugup.

“ Annyeong. Apa yang kalian lakukan di sini? ” tembak Yoona membuatku hampir kesulitan bernafas.

“ Aku mengantarnya ke sini, jagi. Dia ada janji dengan temannya, ” jawab Donghae membuatku sedikit lega.

“ Teman? Mana temanmu, ______-ssi? ” tanya Yoona kemudian membuatku kembali gugup.

“ Sayang teman ______ membatalkan janjinya. Karena ______ sudah membeli tiketnya, daripada terbuang sia-sia, kami memutuskan untuk menggunakannya, ” jawab Donghae lancar. Dasar playboy! Batinku geli.

“ Jinja? ” Tanya Yoona memastikan. Ia menatap kami tajam, membuatku kembali gugup. Aigo!

“ Yah, jagi.. kau tidak percaya padaku? ” rajuk Donghae manja. Dan itu membuatku kembali cemburu namun berusaha kutahan.

Yoona melunak. Ia menatap Donghae sayang, sedangkan aku kembali bernafas lega. Setidaknya ia tidak mencurigai ada sesuatu diantara aku dan Donghae. Ia tersenyum lembut yang menandakan bahwa ia percaya pada Donghae.

“ Baiklah, aku percaya kok, jagi, ” ucap Yoona. Jujur, aku merasa mual ketika Yoona pun memanggil Donghae dengan sebutan ‘jagiya’. Hell, yeah. I’m jealous. Jealous to the max, maybe.

“ Err, ______-ah. Aku pergi dengan Yoona tak apa kan? Kau mau pulang atau mau main dulu? ” Tanya Donghae padaku. Ia mengedipkan sebelah matanya tanpa disadari Yoona.

“ Uhm, kurasa aku mau pulang saja, ” jawabku pendek.

“ Kuantar pulang? ” tawar Donghae.

“ Tidak usah, aku bisa pulang sendiri. Bye, ” tolakku dan segera berlalu diiringi tatapan khawatir Donghae serta tatapan tajam Yoona.

Aku yakin, Yoona pun masih belum seratus persen percaya pada Donghae. Sejak tadi, ia terus menatapku tajam seolah aku adalah musuhnya. Geez, Yoona pasti mulai mencurigai ada sesuatu antara aku dan Donghae. Itu kenapa aku memilih pulang sendiri daripada menambah kecurigaan Yoona. Aku menghela nafas panjang merasakan firasat buruk tiba-tiba menghinggapi hatiku.
*
Aku menyapu seluruh sudut café, mencoba mencari sosok Im Yoona. Ya, aku ada janji dengannya hari ini. Kemarin setelah insiden hampir-ketahuan-jalan-bersama-Donghae, ia segera mengirim sms padaku dan mengajak bertemu. Firasat buruk yang kemarin menghinggapiku kini semakin menjadi saja.

Aku menoleh ketika seseorang melambaikan tangan di sudut ruangan. Dia seorang gadis, Im Yoona. Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan sebelum berjalan mendekatinya. Jantungku berdegup kencang. Ketika aku telah duduk di hadapannya dengan tatapan tajamnya yang sedari tadi mengikuti gerak-gerikku.

“ Annyeong, Yoona-ssi, ” sapaku berusaha beramah-tamah.

“ Annyeong, kau mau pesan apa? ” tanya Yoona lalu menyodorkan buku menu. Aku membuka beberapa halaman lalu kembali menutupnya.

“ Aku pesan cappuccino, ” jawabku pendek. Yoona melambai pada seorang waitress yang segera menghampiri kami.

“ Cappuccino dua, ” ucap Yoona cepat. Waitress itu mengangguk dan segera berlalu.

“ Baiklah, aku langsung saja, ” ujarnya lalu menarik nafas sebentar. “ ______-ssi, aku tahu kalau hubunganmu dengan Donghae lebih dari sebatas sahabat, bukan!? ” tebaknya tepat sasaran. Hampir saja aku lupa bernafas mendengarnya.

“ Kau tahu bagaimana perasaanku ketika menyadarinya, ______-ssi? Sakit. Sangat sakit. Aku merasa dikhianati oleh dua orang yang sangat kupercaya. ” tambahnya membuatku mencelos. Kuakui, ini salahku sepenuhnya.

Seorang waitress datang membawa nampan berisi dua cappuccino pesanan kami. Kami berhenti sejenak menunggu waitress itu selesai mmenaruh pesanan kami di meja.

“ Mian, Yoona-ssi, ” ucapku pelan setelah waitress itu pergi.

“ Tapi kalau Donghae lebih senang bersamamu, ______-ssi, kurasa aku siap melepas Donghae untukmu. Lagipula, aku yakin kau pasti lebih mengetahui Donghae daripada aku, ” aku terbelalak mendengarnya. Senang? Tentu saja. Tapi..

“ Sirho, Yoona-ssi! Kau harus tahu, Donghae menyukaimu semenjak duduk di sekolah dasar sampai sekarang. Bahkan ketika mendengar kau akan kuliah di Seoul, dia segera pindah kemari dan memintaku menemaninya. Aku tahu persis Donghae tidak bisa hidup tanpamu, ” tolakku.

“ Tapi menurutku, Donghae lebih membutuhkanmu, ” protesnya.

“ Aniyo. Donghae lebih membutuhkan dirimu daripada aku, Yoona-ssi. Aku janji aku akan pergi dari kehidupan kalian. ” ucapku mantap.

“ Mwo? Jangan, ______-ssi! Biar aku saja yang pergi. ” tolak Yoona.

“ Sudahlah, Yoona-ssi, aku juga sudah memutuskannya sejak lama. Mungkin memang ini waktu untukku pergi, ” gumamku.

“ Annyeong, Yoona-ssi, ” pamitku sambil bangkit dari dudukku.

“ Uhm, ______-ssi? ” panggil Yoona menghentikan langkahku.

“ Ne? ”

“ Gomawo, ”

“ Ne, cheonmaneyo. Tolong jaga Donghae untukku, dia sangat manja, ” pesanku lalu segera pergi meninggalkan Yoona menuju apartementku.
*
Aku mulai mengepak barang-barangku. Baju-bajuku, buku, serta beberapa perabotan lainnya. Aku harus kembali ke Mokpo untuk memulai hidupku yang baru. Aku harus meninggalkan Seoul. Meninggalkan beberapa temanku di sini, serta Donghae.

Mungkin terlalu banyak kenangan tentangku dengan Donghae semenjak kecil hingga sekarang. Aku tahu pasti akan susah untuk melupakannya, tapi, buat apa aku melupakannya? Biarlah semua menjadi sebuah kenangan. Kenangan yang indah dalam hidupku. Kenangan paling indah.

Cklek. Pintu apartementku terbuka. Sosok Donghae muncul di balik pintu. Ia terbelalak melihat keadaan apartementku yang sudah setengah kosong. Keningnya berkerut menatap beberapa dus yang ditumpuk di beberapa tempat. Ia mengalihkan pandangannya padaku dengan penuh tanda tanya. Ia berjalan pelan mendekatiku.

“ Ada apa, ______-ah? Kenapa kau mengepak barang-barangmu? ” tanyanya heran. Aku tersenyum tipis.

“ Aku mau pulang, Donghae-ya, ” jawabku pendek.

“ Kau mau pulang? Bagaimana dengan kuliahmu? ” tanyanya lagi.

“ Aku ‘kan tinggal skripsi, Donghae, sebentar lagi juga selesai, ” jawabku tenang.

“ Dan kau mau meninggalkanku? ” tanyanya lirih. Aku tersenyum sebentar.

“ Kan ada Yoona, ” ujarku kecil. Jujur, hatiku perih harus mengucapkannya.

“ Tapi aku inginnya kau tetap di sini. Bersamaku. ” katanya.

“ Yeobo, aku hanya pulang ke Mokpo. Kita masih bisa bertemu kalau kau pulang, ” bujukku lembut.

“ Apa ini karena Yoona? ” selidiknya tiba-tiba.

“ Huh? ” kagetku. Apa Donghae.. mengetahuinya?

“ Aku tahu kalian tadi bertemu. Aku dengar semua pembicaraan kalian. ” gumamnya. Aku terbelalak kaget,

“ D-Donghae.. ” kagetku.

“ Mianhae. Ini semua salahku, ” ucapnya lirih.

“ Gwenchana, Donghae-ya. Lagipula aku sudah mengalah. ” ucapku getir.

“ Tapi aku tidak ingin kau pergi dariku, ” cetusnya.

“ Dan kau juga tidak bisa melepaskan Yoona, ‘kan!? ” tebakku. Aku ingin ia bilang ‘tidak, aku bisa’.

Ia menunduk. Hening. Aku tahu ia pun tidak bisa melepas Yoona. Aku tersenyum pahit. Aku yakin ia tidak akan pernah bisa melakukannya. Tidak mungkin ia akan melakukannya. Aku menghela nafas panjang.

“ Sampai kapan pun, kau harus tetap memilih, Donghae. Aku tahu kau pasti akan lebih memilih Yoona dari pada aku. Itu kenapa aku lebih memilih untuk mmundur dan kembali ke Mokpo, ” ucapku kemudian.

Aku kembali sibuk dengan barang-barangku. Mengepaknya dalam dus-dus yang masih kosong. Kulihat, Donghae hanya menatapku dalam diam. Matanya menatapku sayu, membuatku tidak tega. Tapi aku harus tegas. Kalau aku bersikeras tetap di sampingnya, masalah ini tidak akan pernah selesai. Mau tidak mau, harus ada yang tersakiti di sini. Dan yang tersakiti adalah aku.

Baru saja aku akan mengambil dus kosong ketika Donghae tiba-tiba mencengkram tanganku. Ia menarikku keluar apartement dengan kasar. Aku berusaha melepaskan diriku. Meronta-ronta memintanya melepaskanku.

“ Donghae-ya, kita mau ke mana? Do- ah! Sakiiit! Lepaskan! Donghae-ya! ” pintaku.

“ Ikut aku, ” ucapnya dengan nada mengancam. Ia membanting pintu apartementku hingga tertutup sempurna sedangkan tangannya masih mencengkramku.

Ia terus menarikku menuju motornya yang diparkir di basement. Disodorkannya helm di tanganku dan ia segera menaiki motornya. Walau sedikit bingung, aku tetap memakai helm lalu duduk di belakang Donghae. Aku tidak mau kena semprot Donghae. Terkadang ia jadi sangat mengerikan ketika marah. Donghae meraih kedua tanganku dan menaruhnya di pinggangnya, menyuruhku memeluknya.

“ Pegangan. Aku tidak mau terjadi apa-apa padamu. ” ucapnya dingin membuatku semakin ciut.

Ia menyalakan mesin motornya lalu melesat meninggalkan gedung apartement dengan kecepatan tinggi. Membuatku memeluknya dengan sangat erat. Mungkin ini terakhir kalinya aku bisa memeluk hangat tubuhnya.
*
“ Donghae-ya, kenapa kita ke sini? ” tanyaku sambil melepas helm di kepalaku. Donghae membawaku ke sebuah café. Tidak biasanya, batinku.

“ Ayo masuk. ” ucapnya yang terkesan memerintah.

Ia kembali menarikku memasuki café lalu membawaku ke sudut café. Seorang gadis telah duduk di sudut café ini. Dari postur tubuhnya, kurasa.. ini Yoona.

Dan sesuai dugaanku, benar gadis itu Yoona. Donghae duduk di bangku yang berhadapan dengan Yoona. Ia menarikku untuk dudukdi sampingnya. Seorang pelayan datang membawa tiga buah cangkir cappuccino. Apa Yoona yang memesannya?

“ Maaf mengganggu waktumu, Yoona. ” ucap Donghae datar.

“ Tidak masalah, ” balas Yoona enteng.

“ Sebenarnya, ada apa kau membawaku ke sini, Donghae-ya? ” tanyaku kemudian.

“ Ada sesuatu yang ingin kukatakan pada kalian berdua, ” jawabnya.

“ Mianhae.. aku membuat kalian dalam keadaan yang seperti ini. Aku tahu aku egois. Aku kekanak-kanakan. Tapi aku tidak sanggup bila harus kehilangan salah satu dari kalian. ”

“ Tapi akhirnya kau harus kehilangan salah satu dari kami. Tepatnya aku.” Tukasku pelan.

“ Kau tidak bisa langsung menentukannya, ______-ssi. Semua keputusan ada di tangan Donghae, ” ucap Yoona bijak. Ia berusaha membesarkan hatiku. Aku menghela nafas.

“ Bukankah aku sudah bilang, Yoona-ssi, Donghae tidak mungkin bisa melepasmu, ” sergahku pelan.

“ Aku bahkan belum mengatakan apa-apa, ______, ” Donghae angkat bicara. Aku diam.

“ Baiklah, sekarang, siapa yang kau pilih, Donghae-ya? Aku atau ______-ssi?” tanya Yoona kemudian. Aku hanya diam menunggu jawaban Donghae. Jantungku berdegup kencang. Aku masih yakin Donghae pasti lebih memilih Yoona.

“ Aku.. ” ucap Donghae. “ Mianhae, aku lebih memilih.. ”
*
Aku menatap matahari yang mulai tenggelam seolah dimakan oleh laut. Aku tersenyum kecil menatap keindahan alam di hadapanku. Laut yang berwarna biru berkilau karena sinar matahari. Langit yang berwarna jingga. Burung-burung yang mulai kembali ke sarang mereka. Hamparan pasir putih di sekitarku. Indah sekali. Aku memeluk lututku sendiri. Angin malam mulai berhebus menerbangkan sebagian rambutku.

Tiba-tiba pandanganku berubah gelap. Seseorang menutup mataku dengan kedua telapak tangannya. Aku menyentuh tangan yang menutupi mataku. Merabanya hingga ke lengannya yang kekar, berusaha mengetahui siapa pemilik tangan ini.

“ Aigo~ kau curang. Kau harus menebakku tanpa harus menyentuh wajahku, ” protesnya ketika aku tanganku sampai di wajahnya.

Aku tersenyum kecil mendengarnya. Ia, Lee Donghae, melepas tangannya dari kedua mataku lalu menghempaskan dirinya di sampingku. Ia menaruh kepalanya di bahuku. Membuatku menghirup wangi rambutnya.

“ Aku sudah tahu itu kau. Aku hanya ingin menyentuh wajahmu. ” ucapku. Ia mengangkat kepalanya lalu menatapku.

“ Kalau begitu, sentuhlah sekarang, ” tawarnya lalu menarik tanganku menyentuh wajahnya.

Aku tersenyum simpul. Kuelus kedua pipinya lalu beralih keujung hidungnya yang mancung. Mencubitnya pelan dan membuatnya tersenyum. Ia menutup matanya menikmati sentuhanku. Tanganku terus kebawah, menyusuri bibir tipisnya lalu ke dagunya. Akhirnya, aku melepas tanganku dari wajahnya. Ia mengernyitkan keningnya lalu membuka kedua matanya.

“ Kenapa berhenti? ” tanya Donghae. Aku tersenyum.

“ Sudah selesai, ” jawabku pendek.

“ Aku mau lagi, ” rajuknya. Aku tertawa kecil mendengarnya.

“ Aku mau kau terus menyentuh wajahku.. selamanya, ” tambahnya. Tawaku terhenti seketika.

“ Huh? ” bingungku. Donghae meraih tanganku, menggenggamnya erat. Ia menatapku dalam.

“ Saranghae, ” ucapnya.

“ Arraseo, na do saranghae, ” balasku. Ia tersenyum lebar.

“ Would you marry me? ” tanyanya membuatku membulatkan kedua mataku.

“ Uh? ” kagetku.

“ Hwang ______, I love you. I love you just like you love me. So, would you marry me and always be beside me? ” tanyanya. Aku tersenyum.

“ Yes, I do. I wanna marry you and always be beside you. ” jawabku mantap.

Donghae menarikku dalam dekapannya. Dalam dadanya yang bidang. Memelukku erat. Membuatku mendengarkan detak jantungnya. Detang jantungnya yang berpacu dengan cepat. Seirama dengan detak jantungku.

“ Thank you. I will always love you. Only love you. ” gumamnya lalu mengecup puncak kepalaku.
***
(Author’s POV)

“ Aku.. ” ucap Donghae. “ Mianhae, aku lebih memilih.. ” Donghae memutus kata-katanya sebentar. Membuat dua gadis yang berada di hadapannya menahan nafas menunggu kelanjutan kata-kata Donghae.

“ ______, ” lanjutnya, “ Hwang ______. ” tambahnya lalu menoleh ke samping di mana gadis pilihannya duduk.

Gadis yang duduk di samping Donghae itu terbelalak kaget. Matanya membulat besar, tatapannya kosong. Perasaannya bercampur aduk sekarang. Antara senang, bahagia, gembira, sedih, canggung. Semua bercampur dalam hatinya. Sedang gadis yang duduk di hadapan Donghae, gadis bernama Yoona, tersenyum lembut seolah ia memang telah mengetahui ucapan Donghae sejak awal.

“ Chukkae, ” gumam gadis itu masih dengan senyum lembutnya. ______ menatap Yoona. Ia telah kembali sepenuhnya dari lamunan yang berkecamuk dalam hatinya.

“ Gomawo, ” balas Donghae tersenyum kecil. Ia meraih tangan gadis yang duduk di sampingnya. Digenggamnya dengan erat seolah tak ingin kehilangannya.

“ Donghae-ya, aku sudah tahu kau pasti akan memilih ______-ssi. ” cetus Yoona kemudian. Donghae menaikkan sebelah alisnya menatap Yoona.

“ Jeongmal? ” tanya Donghae tak percaya yang dibalas anggukan mantap dari Yoona.

“ Matamu, tak pernah bisa berbohong, Hae. Matamu selalu tertuju padanya, selalu. Bahkan bila kau menatapku, kau tidak benar-benar menatapku. Ekor matamu masih saja mengawasi ______-ssi, ” jelas Yoona kemudian. Donghae nyengir lebar mendengarnya.

“ ______-ssi, sudah kukatakan bukan? Sebaiknya aku yang pergi, karena Donghae lebih membutuhkan seseorang sepertimu yang bernar-benar memahaminya, ” lanjut Yoona pada ______. Gadis itu mengangguk kecil.

“ Baiklah, semua sudah selesai, bukan? Sebaiknya aku segera pergi. Tidak baik aku menganggu pasangan baru, ” ucap Yoona kemudian sambil bangkit. Ia tersenyum menggoda sepasang namja dan yeoja di hadapannya.

“ Annyeong, ” pamit Yoona sambil berlalu.

“ A-annyeong, ” balas mereka canggung.

Dan semenjak itu, Yoona benar-benar pergi dari mereka. Kabar terakhir yang mereka terima, ia berada di Spanyol untuk melanjutkan bisnis keluarganya.
=FIN=

Nyahahah. Sepertinya saya tidaklah berbakat membuat FF dengan sad ending. -___-”
Buat SONE, saya minta maaf. Maaf yang sebesar2nya. Awalnya saya bener2 pengen buat pairing YoonHae. Tapi apalah daya, saya ternyata tidak bisa membuat yang sad end. =o=”

Thanks for reading🙂

  1. gracesally
    17 November 2010 pukul 2:02 pm

    aku sukaa ffmu..
    keennn^^
    kapan”bikin ff yg ____ n ank”suju iaa
    aq demen baca yg kyk gitu cuz aq ngerasa aq didlm itu cerita
    udpate soon

    • 8 Desember 2010 pukul 1:52 pm

      thanks😀 oke deh. kapan2 aku bikin lagi ^^ thanks ya udah mampir n baca ff di sini😀

  2. 22 November 2010 pukul 4:43 pm

    nangis onn baca ini T.T
    mauuu dong bikinin FF sama minho :3
    terserah alurnya deh😄

    • 8 Desember 2010 pukul 1:53 pm

      omo~ nangis? cup cup cup~ *sodorin tisu setruk*😄
      hehehe. siip laah~😀

  3. 21 Oktober 2011 pukul 11:56 am

    <<< antis yoona ._. gak baca FF nya sih xD
    tapi bagus kok, waktu baca., cuma nih ya author ..
    itu , cast yoong nya aku ganti jessica xD

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: