Beranda > fanfiction, oneshot, whyenda_arinka > [Oneshot] A Wish

[Oneshot] A Wish

Length : Oneshot [2120 words]
Genre : Family, Friendship
Rating : G
Cast : Super Junior Lee Donghae, Kim Jong Woon(Yesung), Kim Heechul, Cho Kyuhyun, Lee Donghae’s father, Kim Jongjin(Yesung’s sibling), and YOU as the genie.

Disclaimer: I don’t own all the casts, they belongs to their self and God. But I do own the story. So please, don’t sue me.

===========
(Donghae’s POV)

If I have a wish..
I’d wish for my father to come to my concert..
Even if it’s just once..

*
Tepuk tangan riuh dari penonton di bawah dan tribun atas membahana. Bisa kurasakan kegembiraan mereka. Serta rasa puas yang bergejolak. Walau begitu, mereka masih menginginkan kami bernyanyi dan menari. Sorak sorai mereka yang meminta kami untuk kembali menyanyikan sebuah lagu terus saja mengalir. Sorry, ELFs.. our time has end.

Aku turun dari panggung bersama member lain, menuju belakang panggung. Membiarkan sang MC menutup acara malam hari ini. Kami berkumpul dan saling berhigh-five ria. Merasakan kepuasan setelah manggung dan menghibur para penggemar tadi. Sedikit lelah memang, tapi melihat semangat penggemar kami, rasa lelah itu menguap begitu saja.

“ Donghae-ah, kau mau ikut? ” tanya Heechul hyung menepuk bahuku.

“ Ke mana, hyung? ” tanyaku bingung.

“ Biasa, bersama Kyuhyun, Ryewook, dan yang lain, ” jawab Heechul hyung dengan jempolnya yang menunjuk ke belakang, ke arah Kyuhyun yang tengah memegang gagang pintu, hendak keluar.

Gomawo, hyung, tapi aku lelah. Kurasa aku tidak ikut. Aku langsung ke dorm saja dan istirahat, ” tolakku halus.

“ Baiklah, hati-hati di jalan, ” ujar Heechul hyung sambil berlalu.

Ne, kau juga, hyung, ” balasku yang hanya ditanggapi dengan lambaian tangannya.

Hampir semua member pergi. Kurasa, mereka akan merayakan keberhasilan kami. Aku juga ingin ikut, sebenarnya. Hanya saja, aku malas bila acara tersebut berakhir dengan.. yah, kurasa hampir semua orang tahu apa kebiasaan Heechul hyung, Kyuhyun, Ryewook, serta yang lainnya bila selesai mengadakan konser. Terlebih, bila konser tersebut sukses. Yang jelas, hal itu telah menjadi slogan bagi seorang Kim Heechul.

“ Donghae-ah, ayo kita pulang, ” ajak sebuah suara bariton di belakangku. Aku menoleh dan hampir saja terjengkang dari kursiku mendapati Yesung hyung telah berdiri di belakangku.

H-hyung.. k-kau.. tidak ikut? ” tanyaku sedikit tergagap karena kaget.

Anni, aku juga lelah. Ayo pulang, ” jawabnya lalu mengajakku pulang.

Aku mengangguk dan beranjak mengikuti Yesung hyung yang berjalan keluar ruang ganti. Kami berjalan menyusuri lorong menuju tempat parkir. Tapi, bukankah mobil van kami di bawa oleh Heechul hyung dengan yang lain? Lalu, aku pulang naik apa? Ah ya, aku dan Yesung hyung.

Hyung, kita pulang naik apa? ” tanyaku bingung.

“ Tentu saja naik mobil. Kau mau jalan kaki? ” tawarnya. Aku menggeleng cepat.

Anni hyung. Memang, masih ada mobil yang tersisa? ” tanyaku lagi setelah menolak tawaran Yesung hyung.

“ ada Jongjin, ” jawab Yesung hyung singkat.

Ia berjalan menuju sebuah mobil yang berada di mulut tempat parkir, seolah menunggu seseorang. Dengan ragu-ragu, aku melangkahkan kakiku mengikuti Yesung hyung yang memang berhenti di sisi mobil tersebut. Ia membuka pintunya dan masuk. Aku pun membuka pintu mobil di bagian belakang dan memasukinya. Sesuai ucapan Yesung hyung, Jongjin telah berada di balik kemudi dan mulai melajukan mobil meninggalkan gedung konser.
*
“ Donghae-ah, ayo bangun, kita sudah sampai, ” panggil seseorang samar.

“ Donghae, iroena, ppaliwa, ” panggil suara itu lagi.

Dengan perlahan aku membuka mataku, mengerjapkannya beberapa kali, mencoba memperjelas penglihatanku. Setelah cukup jelas, bisa kulihat Yesung hyung berdiri di sampingku yang sedang terduduk. Wajahnya terlihat memancarkan kehangatan. Dengan rasa malas luar biasa, aku duduk tegak sambil berusaha mengingat apa yang telah terjadi.

“ Ayo bangun, pindah ke dalam. Kau bisa sakit tidur di jok mobil, ” ucap Yesung hyung membuatku teringat bahwa aku tadi berada di perjalanan pulang ke dorm.

Aku bangkit keluar dari mobil dengan sedikit sempoyongan. Hampir saja aku ambruk bila Yesung hyung tidak menahan tubuhku. Dengan telaten, Yesung hyung memapahku menuju pintu dorm. Ia menyandarkanku pada pintu dorm dan berbalik.

Gomawo, Jongjin-ah. Maaf merepotkan. Hati-hati ya, ” ucap Yesung hyung pada adiknya lalu kembali meraihku dan memapahku.

Entah kenapa, kesadaranku enggan pulih. Aku masih saja jalan terhuyung walaupun telah dipapah oleh Yesung hyung. Seingatku, aku tidak selelah ini, tadi.

Yesung hyung memapahku memasuki dorm ke kamarku lalu membaringkanku di atas kasurku. Ia menarik selimut dan menutupi tubuhku hingga ke leher. Bisa kulihat, ia menatapku dengan cemas. Tangannya terjulur ke arah keningku, meletakkannya sebentar lalu mengusap puncak kepalaku lembut.

“ Tidurlah, Hae. Kau pasti sangat lelah, ” ucapnya dengan nada cemas.

Bagai sebuah sihir, setelah mendengar ucapan Yesung hyung, aku mengangguk kecil dan memejamkan mataku kembali ke alam mimpi.
*
Aku memegang sebuah botol kaca yang menggembung di bagian bawahnya. Di bagian yang menggembung itu, terdapat sebuah kabut yang memenuhi botol itu. Terlihat seperti asap, tapi entah kenapa, menurutku itu adalah kabut. Ah, kenapa aku jadi mendebatkan apakah itu kabut atau asap? Seharusnya ‘kan aku mendebatkan, dari mana aku mendapatkannya? Mengapa tiba-tiba bisa berada di tanganku? Apa maksud dari kabut yang menyelimuti bagian yang menggembung dari botol kaca ini?

Karena rasa penasaran yang terus menggelitikku, kuraih tutup botol kaca itu dan membukanya dengan perlahan. Siapa tahu akan terjadi sesuatu seperti adanya jin yang keluar dari dalam botol kaca ini, mungkin? Too childish, eh? But, yeah, this is me. Full of imagination. And I believe that there’s alien or ghost or everything that.

Dan setelah botol itu terbuka, kabut itu menyelusup keluar melalui lehernya yang jenjang. Terus hingga akhirnya keluar, bergabung dengan udara di sekitarku. Membuat ruangan ini dipenuhi kabut yang mengaburkan pandanganku. Aku tak tahu bahwa efek dari kabut yang berada dalam botol tadi bisa seperti ini. Padahal menurutku, kabut tadi hanya sedikit.

DUAR!

Sebuah suara yang cukup memekakan telinga tiba-tiba terdengar. Membuatku hampir terlonjak dari dudukku. Hampir saja aku akan meloncat dari kursiku saking kagetnya akibat suara tadi. Tapi, suara apa itu tadi? Dari mana asalnya?

Perlahan, kabut yang memenuhi ruangan ini menipis. Samar kulihat, sebuah sosok berdiri di hadapanku. Kabut yang semakin lama semakin tipis memperjelas pandanganku akan sosok itu. Seorang gadis. Berambut panjang. Wajahnya asing di mataku, tapi itu tidak penting sama sekali. Yang terpenting adalah, siapa dia? Bagaimana caranya ia bisa berada di hadapanku? Dari mana asalnya?

“ Akhirnya aku bisa keluar, ” ucapnya riang. Ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan perasaan senang.

“ Siapa kau? ” tanyaku tanpa basa-basi. Ia menoleh menatapku. Mengamatiku sebentar dan tersenyum.

“ Kau yang mengeluarkanku? Kamsahamnida! ” ujarnya sambil membungkuk.

“ Mengeluarkan.. mu? ” ulangku dan ia mengangguk cepat.

“ Err, bisa kau jelaskan sesuatu? ” tanyaku bingung.

“ Dengan senang hati. Apa yang perlu kujelaskan? ” tanyanya setelah menjawab pertanyaanku tadi.

“ Siapa kau dan dari mana kau berasal? Kenapa kau bisa tiba-tiba berada di hadapanku? ” tanyaku runtut.

“ Whoa~ slow down, boy. I’m genie, and I came from the bottle that you hold, ” jawabnya tenang. Aku membelalakkan mataku, menatapnya kaget lalu beralih pada botol kecil di tanganku. Dia.. dari botol ini?

“ Tapi.. bagaimana bisa? Kau.. tidak bercanda, kan? ” tanyaku bingung dan ia tertawa renyah.

I was said, I’m genie, boy, ” ucapnya santai.

You are.. genie? ” ulangku.

“ Uh-uh. I’m genie. And because of you has dig me out from that bottle, you may ask a wish to me, ”

A wish? ”

“ Yup, a wish, ”

Whatever that? ”

“ Yeah, whatever your wish, I’m gonna make it true. Just ask it, ”

If I have a wish, I’d wish for my father to come to my concert, ”

“ Huh? Your.. father? ”

“ Uh-um.. may I? ”

Well, yeah, you may. But.. ”

Please, genie.. ”

But, did you know that your father has.. ”

I know he’s been watching me, but I want to sing in front of him.. ”

Sing? In front of him? ”

Yeah.. sing in front of him.. I wanna know his expression, ”

Err, okay. Let’s see, ”

Thanks, ”

Dan setelah itu, tiba-tiba ruangan di sekitarku berputar dengan sangat cepat. Aku seperti masuk dalam sebuah pusaran air yang sangat kuat. Membuatku sedikit pusing dan hampir memuntahkan isi perutku. Tapi aku berusaha menahannya, mengingat perutku kosong. Tanpa isi sama sekali.

Sedetik kemudian, pusaran itu berhenti dan aku tengah berdiri di ujung sebuah panggung kosong. Beberapa kursi berjejer rapi di hadapan panggung tempatku berpijak ini. Hampir semuanya kosong. Hampir. Kecuali sebuah bangku yang berada di tengah dan tepat berada di depan panggung, diduduki oleh seorang pria paruh baya. Garis-garis tua mulai menghiasi wajahnya. Walaupun begitu, ia tetap terlihat muda dengan senyum lebar yang penuh kelembutan. Senyum seorang ayah. Senyum yang kurindukan. Senyum yang selalu ingin kulihat lagi. Ayah.

Aku mematung diam. Menatap lurus pada sosok yang duduk di depan panggung. Sosok itu balik menatapku dengan senyumnya. Ayah. Benarkah itu ayah? Bisa kurasakan mataku memanas. Ingin sekali aku menghambur dalam pelukan beliau yang hangat. Pelukan beliau yang damai. Pelukan beliau yang selalu kurindukan.

“ Pssstt, boy.. go walk to the center and sing for your father, ” bisik seseorang di ujung ruangan.

Aku menoleh dan mendapati genie tadi berdiri di sana. Ia menyuruhku untuk segera ke tengah panggung dan menyanyi. Dikepalkan tangannya ke atas untuk memberiku semangat. Aku tersenyum dan mengangguk kecil lalu mulai melangkahkan kakiku ke tengah panggung. Menarik nafasku dalam dan mengambil microphone.

This is a song that I really wanted to sing in front of you, dad, ” ucapku pada ayah yang disambut tepuk tangannya.

The loneliness of nights alone.. the search for strength to carry on.. my every hope has seemed to die.. my eyes had no more tears to cry.. then like the sun shining up above.. ” nyanyianku terhenti. Suaraku seolah tercekat melihat air mata beliau mengalir, membasahi pipinya. Senyumnya masih mengembang.

Dan tak bisa kutahan lagi, kutaruh microphone kembali ke tempatnya dan menghambur memeluk beliau. Membiarkan air mataku turun membasahi pipiku. Menganak sungai tanpa bisa kuhentikan. Kurasakan tangan beliau merengkuhku. Mengelus punggungku pelan lalu menepuknya. Air mataku mengalir semakin deras. Aku merindukan saat-saat ini. Merindukan saat aku berada dalam dekapannya. Merindukan beliau. Sangat merindukannya.

Appa bangga padamu, nak, ” ucapnya dengan suara beratnya yang khas. Suara yang sangat kurindukan.

Appa.. ” isakku lirih.

“ Teruslah berusaha, nak. Appa akan selalu mendukungmu. Tetaplah menjadi Donghae yang ceria, Donghae yang bersemangat. Doa appa selalu menyertaimu, nak, ” ucapnya lagi.

Appa, bogoshipoyo~ ” isakku lagi.

Na do bogoshipo, nae Donghae, ” balasnya. Beliau melepas pelukannya dan menatapku lembut.

Saengil chukkae, Donghae-ah. Tetaplah berkarya di atas panggung. Ayah selalu melihatmu dari surga, ” lanjutnya sambil menepuk bahuku pelan.

Aku mengangguk pelan, masih dengan sesenggukan. Beliau mengelus puncak kepalaku pelan dan mengecup keningku. Kupejamkan mataku, merasakan kehangatan seorang ayah yang kurindukan. Lama beliau mengecup keningku hingga akhirnya, aku merasa tangan hangat yang tadi merengkuh bahuku, menghilang. Perlahan kubuka mataku dan mendapati ayah telah menghilang dari hadapanku. Begitu pula dengan panggung tadi, tergantikan oleh ruangan di mana aku mengeluarkan genie itu. Di mana ayah?

Genie itu kembali muncul di hadapanku. Ia terlihat murung. Aku tidak peduli. Sekarang, ke mana ayahku? Masih banyak yang ingin kusampaikan padanya.

“ Mana ayah? ” tanyaku langsung.

Sorry boy, your time has end, ” ucapnya murung.

“ Habis? Apa maksudmu? ” tukasku tak sabar.

“ Aku tidak bisa memunculkan orang yang telah tiada lama-lama, boy, ” gumamnya.

“ Tapi aku belum selesai, ” ucapku lirih.

Sorry, ”

“ Masih banyak yang ingin kusampaikan pada beliau, ” lirihku. Air mata kembali membanjiri pipiku.

Sorry boy, but, you only have a very short time, ”

“ Aku belum puas memeluknya, ” ucapku kasar.

Boy.. ”

“ Tidak bisakah aku meminta bertemu dengan beliau lagi? ” tanyaku cepat.

No, you can’t, ”

“ Tapi.. ”

Sorry boy, I have to go. You only had one wish, remember? ”

But, wait.. hey! I want to meet my dad again! Hey wait! ”

Namun terlambat, ia sudah menghilang. Lenyap seketika seolah tersapu angin.

“ Tunggu! Aku masih ingin bertemu ayah! Ayaah! ” teriakku.
*
“ Donghae? Bangunlah. Kau tak apa? ” panggil seseorang samar.

Kubuka mataku perlahan dan menemukan Yesung hyung terduduk di tepi ranjangku. Tangannya megelus puncak kepalaku lembut. Tersirat kekhawatiran serta kecemasan di matanya.

Hyung? ” panggilku lirih.

“ Kau kenapa, Donghae-ah? ” tanyanya cemas.

“ Memang aku kenapa, hyung? ” tanyaku balik, bingung. Aku berusaha bangkit tapi tubuhku terasa sakit. Lalu sebuah kompres terjatuh dari keningku.

“ Ini apa, hyung? ” tanyaku lagi.

“ Badanmu panas, Hae, sejak sepulang konser tadi. Aku mengompresmu, ” jawabnya dengan nada cemas. Aku menunduk.

“ Kau kenapa? Sedari tadi, kau mengigau. Kau rindu pada ayahmu? ” tanya Yesung hyung hati-hati. Aku mengangguk kecil.

“ Aku bermimpi, hyung. Aku bermimpi, menyanyi untuknya, lalu memeluknya, ” jawabku parau.

Air mata kembali turun membasahi pipiku. Aku menangis terisak mengingat tadi hanyalah sebuah mimpi. Entah kenapa, bagiku itu terasa sangat nyata. Tiba-tiba, Yesung hyung memelukku. Ia mengusap punggungku pelan, membuat tangisku semakin pecah. Kubenamkan wajahku di balik bahu Yesung hyung.

“ Tenanglah, Hae. Ayahmu akan sedih bila melihatmu seperti ini, ” ucapnya berusaha menenangkanku.

“ Tapi aku rindu pada ayah, hyung, ” isakku.

“ Aku tahu, Donghae-ah, ” ucapnya.

Appa.. ” isakku.

“ Sudahlah, Donghae, ayahmu juga pasti sedih kalau melihatmu seperti ini, ” ucapnya lagi berusaha menenangkanku.

Aku mengangguk kecil dan melepas pelukannya. Kuusap air mata yang tersisa di pipiku serta genangan air di mataku. Yesung hyung tersenyum.

“ Kau harus tetap tegar. Jadilah seorang Donghae kuat, demi ayahmu, ” tambahnya. Aku mengangguk dan tersenyum lemah.

Saengil chukkae, Donghae-ah. Hyung yakin, ayahmu sangat bangga padamu, ” ucap Yesung hyung sembari menyodorkan tangan kanannya. Kusambut tangannya dan menggenggamnya erat.

Gomawo, hyung, ” dan air mata kembali menggenang.

Aigo, uri cry baby Donghae can’t stop his tears, ” ucapnya lalu mengusap air mataku. Aku meringis kecil mendengarnya.

“ Baiklah, sekarang waktunya kau istirahat. Tidurlah yang nyenyak, Donghae-ah, agar kau cepat sembuh, ” titahnya lembut.

Ne. Uhm, hyung..? ” panggilku.

“ Hmmh? ”

“ Jangan tinggalkan aku sendiri, ” pintaku menahan tangannya.

“ Baiklah, aku akan tetap di sini, ” ucapnya.

Gomawo, ”

“ Sekarang, tidurlah yang nyenyak. Good night, ”

Good night, hyung… ”

Dan setelah itu, aku kembali memejamkan mataku. Kembali ke alam mimpi.
=FIN=

ini juga seharusnya dipost tanggal 15 oktober ==”
well, aku ingin berterima kasih pada orang tua Hae yang melahirkan Donghae (walaupun sebenernya atas kehendak Tuhan, bagaimana pun, orang tua Hae adalah perantara dan yang merawat Hae hingga seperti sekarang)🙂

thx for reading😀

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: