Beranda > fanfiction, ficlet > [Ficlet] Cooking..?

[Ficlet] Cooking..?

Length : Ficlet [920 words]
Genre : Romantic
Rating : PG-13
Cast : Wu Chun and YOU

Disclaimer : I don’t own the casts, they belongs their self, but this story are mine.😀

=========
(Your POV)

“Ini, cobalah,” ujarku sembari menyodorkan sekotak makanan buatanku.

Pria dihadapanku itu menatapku lalu menatap kotak makanan yang kusodorkan. Alisnya naik sebelah, sebuah seringai kecil tersungging di wajahnya yang tampan. Aku menatapnya lekat.

“Kau yakin ini enak?” tanyanya dengan nada sedikit meremehkan.

Aku menyeringai dan mengangguk cepat. Memberikannya tatapan tentu-saja-sangat-enak padanya dengan sedikit membanggakan diriku sendiri.

“Baiklah, mari kita coba,” ucapnya lalu mengambil sendok dan mencobanya.

Aku menatapnya tajam dengan pandangan was-was. Sebenarnya, aku sangat yakin makanan buatanku kali ini enak, tapi tetap saja, pria di hadapanku ini adalah seorang tester dan koki terbaik di Taiwan. Dia mengerti dengan sangat baik segala seluk-beluk tentang hal masak-memasak. Bahkan makanan dimasak dengan suhu berapapun, ia dapat mengetahuinya hanya dengan merasakan masakan tersebut.

Ia menyuapkan sesendok makanan buatanku. Mengunyahnya sebentar dan menimang-nimang. Alisnya kembali naik sebelah. Membuatku semakin was-was akan penilaiannya.

“Ck! Ini yang kau bilang enak!?” decaknya sambil menaruh sendok dan mendorong kotak makanan itu kembali ke hadapanku. Ia melipat kedua tangannya di depan. Matanya menatapku tajam.

Aku menatapnya tak percaya. Yang benar saja!? Seisi rumah bahkan mengakui bahwa keahlian masakku telah meningkat. Mereka mengacungi jempol untuk setiap makanan yang akhir-akhir ini kubuat. Dan pria ini? Dengan santainya mengatakan bahwa makananku tidak enak! Manusia macam apa dia? Lidahnya terbuat dari apa hingga masakanku tidaklah enak, huh!?

“Kalau begitu, untuk apa kau menantangku, huh!? Bukankah kau seorang tester dan koki terbaik se-Taiwan!? Kenapa kau tidak memasak sendiri, tuan Goh Kiat Chun!?” bentakku dan langsung pergi dari hadapannya.

Aku muak! Aku muak dengan segala tantangannya! Aku muak dengan gayanya setiap kali menolak masakanku. Ia bilang tidak enak, masakanku terlalu asam, tidak gurih, dan sebagai macamnya. Kalau begitu, kenapa ia tidak mengajarkanku saja cara memasak yang baik dan benar sehingga menghasilkan makanan yang sempurna dengan kualitas baik serta menggugah selera orang? Cih!
*
Aku membolak-balikkan majalah masakan dengan sedikit frustasi hingga membuat halamannya hampir tak berbentuk lagi. Beberapa lekukan tertoreh di sana, tapi tak kupedulikan sama sekali. Aku membenarkan letak kacamata yang bertengger di hidungku, tatapanku masih tertuju pada resep yang terpampang di majalah ini.

Kucermati setiap kata di dalamnya. Nama bahan. Alat-alat yang digunakan. Steb by stepnya. Hingga ke tips yang di beri kotak kecil terpisah. Tidak ada yang salah. Aku memasak makananku sesuai dengan petunjuk majalah ini, lalu apa yang salah? Lalu, kenapa tester dan koki terbaik se-Taiwan itu, Wu Chun, bisa-bisanya mengklaim bahwa masakanku tidak enak? Apa yang sebenarnya kurang dari masakanku?

Dengan sebal, kubuang majalah itu ke segala arah. Aku benar-benar sangat frustasi. Kenapa masakanku masih saja dianggap tidak enak olehnya? Masakan seperti apa yang sebenarnya cocok bagi lidahnya!?

Drrt.. Drrt.. Handphoneku bergetar di nakas samping kasurku. Dengan malas kuhampiri kasurku lalu duduk di tepinya. Kuraih handphoneku dan melihat siapa yang memanggilku.

Bao bei calling.

“Wei,”

“Bagaimana? Sudah kau temukan letak kesalahanmu?”

“Sudah kukatakan, aku tidak melakukan kesalahan satu pun. Aku membuatnya dengan cermat,”

“Oh ya?”

“Ya. Aku mengikuti petunjuk dari majalah itu dengan sempurna, Chun. Tak ada satu pun yang salah,”

“Kau mengikuti petunjuk di majalah?”

“Uh-hum,”

“Dengan sempurna?”

“Yeah.. Dan kau justru berkata tidak enak,”

“Hahaha! Mau belajar dariku?”

“Tentu saja mau! Kenapa tidak kau tawarkan saja sejak awal?”

“Aku ingin kau berusaha terlebih dahulu, bao bei. Baiklah, aku akan menjemputmu besok pagi. Kita masak bersama, oke?”

“Oke,”

“Bye, bao bei. Wo ai ni,”

“Bye.. Wo ye ai ni,”
*
Pagi ini aku dan Chun tengah berada di dapur rumahnya. Dengan celemek putih yang melindungi baju, kami sibuk mempersiapkan bahan-bahan serta alat yang akan kami gunakan untuk memasak.

“Baiklah, semuanya sudah siap?” tanya Chun. Ia mengusap kedua telapak tangannya.

“Sudah. Bahan-bahan, juga perlatan memasaknya. Sekarang, ayo kita segera mulai,” tukasku tidak sabar dan mulai mengambil salah satu bahan untuk dipotong.

“Tunggu dulu, bao bei,” tahannya. Aku menoleh, menatapnya heran.

“Wei shen me?” tanyaku bingung.

“Ada satu yang harus dipersiapkan sebelum mulai memasak,” jawabnya sambil tersenyum manis. Aku mengangkat sebelah alisku.

“Shen me?” tanyaku penasaran.

“Kau harus mempersiapkan hatimu,” jawabnya.

“Huh? Hatiku?” bingungku.

“Yup. Kau tidak bisa memasak dengan rasa marah, kesal, atau pun sedih,” jelasnya.

“Kalau tidak, masakanmu akan terasa hambar. Kau harus memasak dengan sepenuh hati dan memberi bumbu cinta dalam setiap masakanmu, bao bei, agar terasa enak bagi yang mencicipinya,” lanjutnya.

“Tapi, orang di rumah mengatakan masakanku enak kemarin, tanpa harus kuberi cinta,” ujarku polos. Ia tersenyum.

“Akan terasa berbeda bila kau tambah bumbu cinta. Cobalah,” ucapnya. Aku mengangguk kecil.

Setelah itu, aku mulai memasak dengan ditemani Chun. Dan aku, berusaha menambahkan bumbu cinta, sesuai kata-katanya. Memasak dengan sepenuh hati. Merasakan rasa senang ketika memasak.

“Jadi!” seruku riang dan meletakkan piring berisi makanan buatanku di meja.

Chun tersenyum menatapku. Ia mengambil sendok dan menarik piring tadi ke hadapannya. Menyendokkan masakanku lalu melahapnya. Mengunyahnya dan menimang-nimang. Aku kembali melayangkan tatapan was-was.

Chun tersenyum cerah setelah menelan makanan buatanku. Membuatku lega dan ikut tersenyum lebar melihat reaksinya.

“Perfect!” ucapnya sambil mengacungkan jempolnya.

Ia menarikku hingga membuatku terduduk di atas pangkuannya. Tangan kirinya merengkuh pinggangku sedang tangan kanannya menyendokkan makanan buatanku.

“Kau harus mencobanya. Rasakan sendiri perbedaannya,” ucapnya lalu menyuapkanku sesendok makananku.

Aku mengunyahnya dan merasakan rasa yang lain dari masakanku terdahulu. Hampir sama enak memang, hanya saja, yang ini lebih terasa menentramkan hati. Jadi, ini yang diinginkan oleh Chun?

“Can you taste it, bao bei?” tanyanya lembut di telingaku.

“Yes, I can,” gumamku.

“Delicious, eh?” tanyanya dan kubalas anggukan kecil.

“Xie xie, bao bei,” ucapku menolehkan kepalaku ke belakang, menatapnya.

“Hanya itu?” tanyanya.

“Huh? Memang apa lagi?” tanyaku bingung.

“Hadiah kecil, mungkin?” pintanya sambil mengerling nakal. Dan tiba-tiba ia sudah mencium pipiku.

“Aish! Kau nakal!” seruku dan mencubit pinggangnya, membuatnya mengerang kesakitan.
=FIN=

harusnya ini dipost tanggal 10 oktober. apalah daya tak ada waktu ==”
mana aneh lagi =o=a

btw, thanks for reading😀

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: