Beranda > fanfiction, ficlet, whyenda_arinka > [Ficlet] It’s Not Love

[Ficlet] It’s Not Love

Length : Ficlet [1145 words]
Genre : Romantic, Friendship
Rating : G
Cast : SS501 Heo Young Saeng, YOU

Disclaimer : I don’t own Heo Young Saeng, but I do own this story. So please don’t sue me.

==========
(Young Saeng’s POV)

“ya, Young Saeng-ah!”

Tangannya melambai-lambai di depanku, membuatku terbangun dari pikiranku.

ne?”

“kau melamun?”

Aku hanya tersenyum tipis menanggapinya. Kalau memikirkan sesuatu bisa dianggap melamun, kurasa benar pertanyaannya itu.

“apa yang kau lamunkan? Ada masalah? Ceritakan padaku, seperti biasa,” desaknya.

“tak apa, aku tak ada masalah. Hanya memikirkan pelajaran dari seenim tadi,” jawabku berbohong.

“oh, kenapa? Ada tugas? Kau mau pulang sekarang?” tanyanya beruntun.

“uhm, kurasa,” jawabku pendek.

“baiklah, kkaja!”

Ia menarik tanganku meninggalkan cafe dan berjalan menyusuri pinggiran kota Seoul menuju rumah kami. Gadis di sampingku ini adalah teman satu sekolahku, tetanggaku, dan juga teman sejak kecil. Hampir setiap saat kami selalu bersama.

Hal ini sudah seperti rutinitas kami. Berangkat sekolah bersama, pulang sekolah bersama, mampir ke cafe dekat sekolah sekedar mengobrol. Well, bahkan hubungan kami tak bisa dikatakan sebagai sebatas sahabat. Lebih, hubungan kami lebih dari itu. Gadis ini, yeoja chinguku sejak 2 bulan yang lalu.

“sampai, gomawo, Young Saeng,” ucapnya.

Aku mengangguk dan tersenyum kecil. Ia berbalik dan memasuki rumahnya, aku menunggu hingga pintu rumahnya tertutup barulah aku memasuki rumahku yang tepat berada di samping rumahnya.

“aku pulang,” sapaku.

Segera kulepas sepatuku dan menaruhnya di rak sepatu lalu berjalan melewati ruang tengah serta ruang makan. Sekilas kulihat eomma tengah memasak untuk makan malam dibantu yeodongsaengku.

Kususuri lorong rumahku hingga ruangan ke tiga, kamarku. Kuputar gagangnya lalu mendorong pintu dan masuk ke kamar. Kututup kembali pintu kamarku dan melempar tasku ke atas meja belajarku yang kosong. Aku beranjak ke kasurku dan merebahkan diriku. Pikiranku melayang pada saat-saat belakangan ini, tepatnya 5 bulan yang lalu di mana aku mulai menyadari apa yang kurasakan pada sahabatku sendiri yang kini menjadi yeoja chinguku.

Aku menghela nafas panjang dan tersenyum simpul. Ketika bersamanya memang sangat indah. Bermain bersama, bertukar cerita, saling menjahili. Rasanya hari-hari kami hanya dipenuhi tawa riang, hingga akhirnya aku merasa aku memiliki perasaan yang lain. Rasa ingin berada di sampingnya selalu, rasa ingin melindunginya. Apa itu yang di namakan cinta? Bahkan sampai sekarang pun aku masih meragukan perasaan itu bisa disebut sebagai rasa cinta.

Namun entah setan apa yang merasukiku 2 bulan lalu, aku menyatakan perasaanku padanya. Awalnya aku takut bila perasaanku ini tak berbalas. Aku takut hal ini justru menghancurkan hubungan kami. Tetapi bayanganku salah, rasaku padanya terbalas. Dan seperti ini lah kami, tetap menjalani hari-hari seperti biasanya walau terasa sedikit lebih canggung dari biasanya.

Aku menghela nafasku sekali lagi. Apa benar ini yang namanya cinta? Lalu, mengapa aku tak pernah merasakan debaran aneh ketika bersamanya? Mengapa aku biasa saja bila ia dekat dengan namja lain? Apakah benar yang kurasakan saat ini adalah rasa cinta?

Entah kenapa, pertanyaan itu selalu bermunculan di benakku semenjak 2 bulan yang lalu, di mana seharusnya setiap pasangan sedang mesra-mesranya. Begitu kata mereka. Tapi aku benar-benar tak tahu.

Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarku lalu membukanya sedikit. Sebuah kepala terjulur masuk menatapku.

oppa, cepatlah ganti baju. Makan malam sudah siap,” ucapnya.

Aku mengangguk dan beranjak sedangkan yeodongsaengku menutup pintu kamarku untuk memberiku privasi.
*
“Young Saeng-ah, kita ke taman hiburan yuk,” ajaknya ketika minggu pagi kami bertemu.

Aku mengangguk kemudian menggandengnya pergi ke taman hiburan. Sepanjang jalan kami mengobrol banyak hal dan tangan kami saling bertaut. Selayaknya pasangan pada umumnya memang, namun entah mengapa bagiku tetap terselip kecanggungan di antara kami. Tak jarang kami hanya saling terdiam.

Bahkan ketika di taman hiburan pun kami masih tetap merasa canggung, atau mungkin hanya aku saja yang merasa canggung? Kami menaiki setiap wahana yang ada. Ini bukan pertama kalinya kami mengunjungi taman hiburan ini. Entah sudah keberapa kalinya kami ke sini, dan menurutku kunjungan yang kali ini terasa berbeda.

Tidak, tidak, tidak karena aku bersama yeoja chinguku saat ini. Namun karena rasa canggung yang entah mengapa selalu menyelimuti kami semenjak 2 bulan yang lalu. Seberapa kuat aku mencoba menepisnya, namun rasa canggung itu justru semakin terasa.

“Young Saeng-ah, kau tak apa?” tanyanya khawatir.

“tak apa, kau masih ingin main?” tanyaku. Ia menggeleng pelan.

“aku capek,” keluhnya. Aku tersenyum.

“pulang?” tawarku.

Ia mengangguk dan kami pun berjalan pulang. Entah kenapa perjalan pulang ini kami hanya terdiam satu sama lain. Tak ada satu pun dari kami yang mau memecah keheningan, seolah kami ternggelam dalam keheningan, tenggelam dalam pikiran kami. Padahal aku sendiri tidak sedang memikirkan sesuatu.

“ehem,” aku dan ia berdehem bersamaan.

“emm, kau mau..” lagi-lagi kami berbicara bersamaan.

“kau duluan,” ucapnya.

no, ladies first,” elakku dan melempar senyuman manis.

well, sebaiknya kita bicara di cafe, bagaimana?” tanyanya meminta persetujuanku.

Aku mengangguk lalu kami memasuki cafe terdekat dan memilih tempat duduk untuk berdua yang berada di dekat jendela. Seorang pelayan segera menghampiri kami, menyerahkan buku menu. Aku memesan ice cappucino sedangkan ia memesan lemon tea.

“jadi, ada apa?” tanyaku setelah pelayan meninggalkan kami.

“ehm, Young Saeng-ah, apakah kau merasa ada sesuatu yang aneh semenjak 2 bulan yang lalu?” tanyanya.

Aku menelengkan kepalaku, menaikkan sebelah alisku, berusaha menangkap arah pembicaraan ini. Ketika aku hendak buka mulut, seorang pelayan datang membawa pesanan kami. Hening menyelimuti kami hingga pelayan itu pergi.

“Young Saeng?” panggilnya menunggu tanggapanku.

Aku menyandarkan punggungku dan menghela nafas panjang. Berusaha menyusun kata-kata yang tepat.

“yah, aku tahu kau merasakannya. Aku pun juga sama,” jawabku kemudian.

Ia menghela nafas dan menyandarkan punggungnya sepertiku.

“kau merasa canggung?” tanyanya lagi. Aku mengangguk.

“Young Saeng-ah, apa menurutmu ini semua benar?” tanyanya.

Aku diam, berkelut dengan pikiranku. Menimbang-nimbang semuanya. Mencoba merasakan segalanya.

“entahlah, tapi kurasa kita menjadi aneh seperti ini,” jawabku diikuti helaan nafas.

“boleh aku bertanya satu hal?” tanyanya. Aku mengangguk.

“benarkah kau mencintaiku?” tanyanya.

DEG. Entah kenapa jantungku berdetak cepat seolah mengejar sesuatu. Atau mungkin dikejar sesuatu? Entahlah, aku merasa jantungku tengah dikejar waktu. Waktu yang selalu menagih akan adanya kebenaran.

“entahlah, aku merasa senang bersamamu, tapi aku tak pernah merasakan adanya debaran. Aku ingin melindungimu, namun aku tak merasa cemburu bila kau di dekat namja lain,” jawabku jujur.

Ia menghela nafas panjang, seolah ia sedang membawa beban yang sangat berat. Ia memejamkan matanya sebentar. Melihatnya aku menjadi merasa bersalah. Merasa bersalah karena telah membohonginya. Well, aku memang tak sengaja melakukannya. Namun tetap saja, kan?

mianhae,” ucapku kemudian.

gwenchana, aku sendiri juga merasakan hal yang sama,” ujarnya.

Aku menatapnya dengan tatapan tak percaya. Jadi selama ini, kita sama-sama saling berbohong? Membohongi perasaan masing-masing? Atau dikelabuhi oleh perasaan masing-masing?

“Young Saeng-ah, aku merasa senang menghabiskan waktuku bersamamu. Namun bukan sebagai namja chingu, tetapi sebagai sahabat. Mianhae,” tambahnya.

Kami menghela nafas, seolah sebuah beban telah terangkat dari bahu kami. Seolah kami bebas dari sebuah kekangan yang membelenggu hati kami. Membelenggu kebebasan kami. Aku tersenyum padanya.

“jadi?” tanyaku.

“uhm, sebaiknya kita kembali seperti dulu,” jawabnya.

“kurasa itu lebih baik,” ucapku setuju diiringi tawanya.

Dan inilah kami, kembali menjadi sepasang sahabat. Sahabat yang akan selalu bersama dalam suka maupun duka. Sahabat yang akan saling menyayangi satu sama lain. Sahabat yang saling berbagi. Sahabat yang saling melindungi.

Rasa senang ketika bersama-sama, rasa saling menyayangi, dan rasa ingin melindungi itu wajar. Namun bukan berarti rasa itu bisa diartikan sebagai sebuah rasa cinta.

=FIN=

sama seperti 3 ff sebelumnya, SEHARUSNYA, ff ini publish tanggal 3 november ==”
yaaah, telat berapa minggu niih? haha. saengil chukkae Otter terlucu (?) /kicked XDD

thx for reading😀

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: