Beranda > fanfiction, ficlet, whyenda_arinka > [Ficlet] What’s up, Sunshine Boy?

[Ficlet] What’s up, Sunshine Boy?

Title : What’s up, Sunshine Boy?
Length : Ficlet (1285 words)
Genre : Friendship, Comedy(maybe?)
Rating : G
Cast : all Fahrenheit members

Disclaimer : I don’t own Fahrenheit members(except Yalun /kicked –kidding). I only own the plot of the story.

========
(Yiru’s POV)

CUT! Hen hao, Da Dong. As usual, perfect! Good job!” teriak sutradara.

Xie xie, xie xie,” ucap Da Dong pada kru-kru dan sutradara sambil membungkuk.

Jiro Wang Dong Cheng. 27 tahun. Tampan, ramah, baik hati, berbakat dalam bidang musik serta akting. Mudah bergaul dan memiliki banyak teman. Saking banyaknya, mungkin seluruh orang di penjuru Taiwan adalah temannya.

Aku menghela nafas panjang. Da Dong baru saja menyelesaikan syuting iklan bagiannya. Sedangkan aku? Sutradara menyuruhku untuk istirahat dan menunggu Da Dong selesai syuting dikarenakan aku melakukan banyak kesalahan. Mengulang-ulang adegan, dan semacamnya. Yeah, aku akui, kemampuan aktingku memang tak sebanding dengan Da Dong.

“Ayo ge! Sekarang giliran kita,” ajak seseorang sambil menepuk bahuku. Aku menoleh dan menemukan Yalun menatapku dengan senyum manisnya seperti biasa. Aku kembali menghela nafas dan beranjak dari dudukku.

“Sudah kau perhatikan baik-baik tadi Da Dong berakting? Lakukan sepertinya. Paham?” ujar sutradara dengan tatapan mengancam. Aku mengangguk dengan sungguh-sungguh.

“Kita pasti bisa, ge!” bisik Yalun. Aku mengangguk kecil dan menarik bibirku, menyunggingkan sebuah senyuman.

*

“Jadi, di konser nanti, Yalun akan bermain piano. Da Dong bermain gitar. Chun dengan drumnya, lalu.. err, Yiru, apa yang akan kau tunjukkan untuk konser kalian nanti?” tanya manajer. Aku terdiam sementara yang lain menatapku dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.

Alat musik apa yang akan aku mainkan? Bass ?Yang benar saja! Memegang gitar saja aku tak becus, bagaimana bisa aku mencabik bass? Saxophone? Siulanku saja mampu membuat seekor burung tergeletak tak berdaya, mau mencoba meniup saxophone? Ada kali saxophone-nya menggandakan diri dengan tak sempurna. Dengan kata lain, terbelah. Atau bahasa kasarnya, hancur berkeping-keping.

“Sudah, kau pikirkan saja dulu alat musik apa yang bisa kau mainkan, Yiru. Yalun, ayo segera latihan.” Ucap manajer kemudian.

Hao.” Balas Yalun yang langsung beranjak keluar ruangan.

“Ayo kita lihat Yalun latihan, Yiru!” ajak Chun diikuti anggukan Da Dong yang terlihat bersemangat. Aku mengangguk kecil lalu beranjak keluar ruangan bersama Chun dan Da Dong mengekori Yalun menuju ruang latihan.

Aaron Yan Ya Lun. 22 tahun. Tampan, tipe-tipe pria pujaan gadis-gadis. Berbakat dalam bidang musik. Bersuara emas. Handal dalam permainan piano. Serta berotak encer. Sedikit pemalu dan egois memang, tapi dia selalu berpikiran rasional. Benar-benar pujaan para gadis, bukan?
*

“Huh? Kau mau pulang, Chun?” tanyaku kaget. Chun mengangguk kecil tanpa menoleh padaku. Tangannya sibuk melipat dan menata bajunya dalam koper kecil. Apa dia akan lama di Brunei?

“Ada apa di Brunei? Kenapa membawa koper? Apa akan lama di Brunei?” tanyaku beruntut. Chun segera menghentikan kegiatannya. Ia menoleh menatapku. Alisnya terangkat sebelah.

“Wow, calm down, Yiru. Aku ada bisnis di Brunei. Tidak lama sih, hanya saja bawaanku sedikit banyak. Biasalah, oleh-oleh untuk keponakanku,” jawabnya kemudian dalam satu tarikan nafas lalu kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.

Goh Kiat Chun atau akrab disapa Wu Chun. 29 tahun. Tampan, ramah, baik hati. Sangat berbakat di bidang akting. Rajin berolah raga –bisa kau lihat dari bentuk tubuhnya yang tegap dan proporsional––. Memiliki bisnis gym di Brunei, bernama Fitness Zone. Tidak hanya Fitness Zone, mungkin. Banyak, kurasa. Dan satu lagi, awet muda. Lihat saja wajahnya, masih terbilang sangat imut untuk pria hampir berkepala tiga.
“Aku berangkat dulu ya, Yiru. Bye,” pamit Chun sambil berlalu.

Bye. Hati-hati di jalan, Chun!” teriakku yang hanya dibalas lambaian singkat olehnya. Punggungnya semakin menjauh dan menghilang di balik sebuah pilar(?).

*

“Hei Yiru, kenapa kau? Muram sekali! Lihatlah! Matahari sampai sembunyi di balik awan karena melihatmu muram!” canda Da Dong sehabis latihan. Perlu diingat, Da Dong akan unjuk gigi dalam bermain gitar. Sekedar mengingatkan, ok?

“Berlebihan,” komentar Yalun.

“Hmmm,” gumamku tak jelas.

“Yah, kau ini. Masa begitu saja sudah muram sih? Ayo dong semangat!” seru Da Dong sembari mengepalkan tangannya ke atas diikuti kepalanya yang menengadah. Menurutku, ia tampak seperti orang sedang berorasi. Mungkin?

“Hah! Kau malah melamun. Ayo kepalkan tanganmu ke atas!” serunya lagi lalu mengambil tanganku dan menariknya ke atas seperti tingkahnya yang tadi.

Tsk! Lemas sekali sih!” decak Da Dong kesal.

“Kau ini bukannya menghibur, malah memperlakukannya seperti itu,” komentar Yalun.

Ia duduk di sampingku lalu mengangsurkan sebotol air mineral dingin padaku. Kuambil botol tersebut dan membuka tutupnya.

Xie xie,” gumamku lalu menegak isinya hingga tersisa setengah.

“Aku menghiburnya kok!” seru Da Dong membela diri. Yalun menggeleng-gelengkan kepalanya, terlihat pasrah (?) dengan pembelaan Da Dong.

“Ada apa sih, ge?” tanya Yalun kemudian sambil menyikutku. Da Dong menatapku penuh rasa ingin tahu. Aku menghela nafas pendek.

“Hanya bingung,” jawabku seadanya.

“Bingung? Ayo pegangan padaku!” seru Da Dong mengulurkan tangannya.

Tsk!” decak Yalun. Disingkirkannya tangan Da Dong sambil melayangkan ‘death glare’. Da Dong cengengesan tidak jelas menerima ‘death glare’ dari Yalun dan aku tersenyum kecil.

“Jangan hiraukan Da Dong, ge,” sergah Yalun kemudian. “Kau bingung kenapa, ge?” tanyanya lagi.

Aku terdiam sejenak, menimang-nimang kata yang harus kulontarkan(?).

“Aku.. tidak tahu harus apa.. saat konser nanti.” Jawabku.

“Harus apa? Tentu saja kau harus bernyanyi dan menari bersama kami!” seru Da Dong lagi. Tangannya sibuk memperagakan salah satu dance kami.

“Wang Dong Cheng!” seru Yalun dengan tatapan galak. Da Dong menghentikan aktifitasnya dan nyengir.

“Kau pasti memiliki sesuatu yang beda, ge.” Ucap Yalun membesarkanku.

“Seperti?” tanyaku dengan nada pesimis.

“Berbicara cepat?” usul Da Dong yang langsung membuat sebuah handuk kecil melayang dan mendarat sukses di wajah tampannya. Sudah bisa dipastikan, pelakunya tak lain dan tak bukan adalah Yan Ya Lun.

“Yan Ya Lun! Kau menutupi wajah tampanku!” seru Da Dong yang kemudian melempar kembali handuk kecil tersebut pada Yalun, berharap mendarat di wajahnya juga. Namun sayang, harapan memanglah hanya harapan. Haduk malang itu justru mampir di bahu Yalun diiringi gelak tawa Yalun serta dumalan Da Dong.

“Oh, ayolah Yiru. Kau pasti punya sesuatu. Percayalah padaku,” ujar Da Dong menyemangatiku diikuti anggukan Yalun.

“Tapi apa?” tanyaku frustasi.

“Hanya kau yang tahu,” ucap Da Dong sambil menepuk bahuku sedang Yalun tertunduk lesu mendengar ucapan Da Dong.

“Hei! Yiru, you are our rapper! You must be had something different!” seru Da Dong kemudian. Aku mengangkat sebelah alisku.

“Err, b-box. Bukankah kau pernah melakukannya? That’s cool man!” tambah Da Dong. Ia meninju dadaku pelan, ungkapan rasa kagum dan kawan-kawannya(?).

And I still remember how good you are at DJ-ing,” tambah Yalun. Aku terdiam menatap mereka.

“Tunggu apa lagi? Ayo latihan!” ajak Da Dong yang telah beranjak dari duduknya. Ia mengulurkan tangannya padaku yang langsung kusambut tangannya dengan senyum lebar.

*

CUT! Good job, Yiru!” seru sutradara terdengar puas.

“Dan akhirnya, syuting kita kali ini selesai!” tambah sutradara diikuti tepuk tangan riuh seluruh kru.

“WOOHOOOO~!” seru Chun, Da Dong, dan Yalun. Mereka menghampiriku dan memelukku senang. Kami berjingkrak-jingkrak senang. Akhirnya syuting iklan yang hampir memakan waktu dua minggu ––karena kecerobohanku, tentu saja–– selesai juga.

“Yiru, pertahankan aktingmu. Kau juga berbakat,” celetuk sutradara kemudian. Aku mengangguk kecil, sedikit malu mendengarnya.

    See

, Yiru? Kau juga pasti bisa!” ujar Chun.

GO YIRU! GO YIRU! GO! GO!” sorak Da Dong dan Yalun kompak.

*

Aku turun dari panggung dengan senyum puas. Kudekati Chun, Da Dong, dan Yalun lalu ber-high five ria, merayakan kesuksesan konser kami, Xiang Ru Fei Fei. Konser yang berjalan dengan meriah.

“Akhirnya konser kita berjalan dengan lancar,” ucap Chun terdengar lega.

Yeah!” seru Da Dong.

“Kau punya sesuatu yang berbeda dan hebat ‘kan, ge?” celetuk Yalun sambil menyikut perutku. Aku tertawa renyah diikuti yang lainnya.

“Chen Yi Ru! Tetaplah bersemangat! Tetap tersenyum! Atau aku akan menggantikan posisimu sebagai mood maker!” seru Da Dong diiringi tawa Chun dan Yalun.

“Kau tidak akan bisa, Wang Dong Cheng! Karena aku adalah Sunshine Boy!” balasku sambil tertawa bersama member yang lain.

**
(Author’s POV)

Chen Yi Ru. 28 tahun. Tampan, ramah, baik, dan suka tersenyum. Mood maker of boyband Fahrenheit. Seorang pekerja keras dan ulet. Memiliki julukan Shinshine Boy selain karena memenangkan acara ‘Sunshine Boy’ di Kanada, juga karena senyumnya yang selalu membuat orang yang melihatnya tersihir untuk ikut tersenyum. Keep smiling, Calvin Chen Yi Ru.🙂
=FIN=

seharusnya di post tanggal 10 november kemaren ==”
sheng ri kuai le, Yi Ru gege! keep up your sunshine smile!😄
maap ffnya gajeh. buatnya ngebut and ngaco abis —

thanks for reading🙂

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: