Beranda > fanfiction, ficlet, whyenda_arinka > [Ficlet] The Last Stop

[Ficlet] The Last Stop

Title : The Last Stop
Length : Ficlet (876 words)
Rating : G/PG-13 (author sendiri agak bingung -.-)
Genre : Romantic, Angst
Casts : SNSD Kwon Yuri, SHINee Choi Minho, Kwon Rin Rin (OCs)

Disclaimer : All the casts belong God and their self. And this story, belong to me.

===========
(Author POV)

Ia terbangun ketika merasakan silaunya mentari pagi menyusup di celah kedua matanya yang tertutup rapat. Ia tersenyum lebar lalu kembali memejamkan kedua matanya. Dihirupnya udara pagi yang segar. Mencoba memenuhi rongga paru-parunya dengan udara yang ada, seolah ia tak akan menghirupnya lagi. Dibukanya kedua matanya lagi lalu mengepalkan kedua tangannya di udara.

“Semangat!” serunya ceria.

Ia bangkit dari tidurnya dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Ia memiliki banyak kegiatan yang harus ia lakukan hari ini. Tentunya dengan senyuman dan semangat.

*

“Jadi, mau kemana kita?” tanya seorang pria yang duduk di bangku belakang kemudi ketika ia memasuki mobil yang menjemputnya.

“Sebentar,” ucapnya lalu merogoh tas tangannya dan mengeluarkan selembar kertas yang berisikan beberapa daftar.

“Wow, Yul..” gumam pria itu sedang gadis yang dipanggil Yul hanya tersenyum lebar.

“Kau.. merencanakan semuanya?” tanyanya kemudian.

“Yep!” jawab gadis itu mengamati kertasnya.

“Seperti bukan Kwon Yuri,” guraunya yang dibalas senyum tipis oleh gadis di sampingnya.

“Baiklah. Menurut daftar, tujuan pertama kita adalah.. taman bermain! Go! Go! Go!” seru Yuri bersemangat.

“Well, baiklah, tuan putri.” Ucap pria itu sambil tertawa kecil itu mulai menjalankan mobilnya dengan senyum lebar.

*

“Whoa Yul! Kau benar-benar bersemangat sekali untuk hari ini!” seru pria itu diantara kerumunan orang banyak.

Ia merangkul bahu Yuri untuk menjaga agar ia tidak terpisah dengan gadis itu. Sementara Yuri sibuk dengan sebuah lolipop di tangannya sambil melihat beberapa wahana yang mungkin menarik baginya.

“Minho, ayo kita ke tempat selajutnya!” seru Yuri menarik tangan pria yang merangkul bahunya. Pria itu menaikkan sebelah alisnya.

“Err.. Yul, kau yakin?” tanya Minho terlihat bingung.

“Aku bosan,” ujar Yuri.

*

“Pemberhentian kedua.. Namsan Tower?” tanya Minho setelah memberhentikan mobilnya di parkiran.

Yuri mengangguk-angguk kecil. Dengan semangat, ia melepas sabuk pengamannya lalu beranjak keluar mobil diikuti Minho. Ia meraih lengan Minho dan mengamitnya memasuki Namsan Tower. Mereka menaiki Namsan Tower hingga ke lantai paling atas dan menikmati pemandangan kota Seoul dari sana.

“Yul.. kau aneh hari ini,” ucap Minho. Matanya menatap Yuri intensif sementara yang ditatap hanya tersenyum tipis dan mendorong pipi Minho agar tak melihat ke arahnya lagi.

“Aku hanya ingin menghabiskan waktu seharian denganmu. Aku.. ingin terlihat seperti pasangan yang lain,” jawab Yuri pendek. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyum tipis yang sedikit dipaksakan.

See? Kau benar-benar aneh.” Gumam Minho.

“Tolong jangan hancurkan moodku hari ini, Minho,” ucap Yuri. Dan Minho hanya bisa menghela nafas panjang.

“Okay. Yul,” panggil Minho kembali menatap Yuri.

“Hmm?” gumam Yuri lalu menatap Minho.

Saengil chukkae,” ucap Minho. Yuri tersenyum lebar.

“Kukira kau lupa,” ujarnya diiringi senyum jahilnya. Minho hanya tertawa kecil lalu mengacak-acak rambut Yuri.

“Ayo kita ke tempat selanjutnya. Tempat terakhir,” ajak Yuri sambil membenarkan rambutnya dengan bantuan Minho.

“Tempat terakhir?” tanya Minho. Entah kenapa, kata-kata itu terasa janggal di telinganya.

Ne. Kkaja!” seru Yuri lalu menarik tangan Minho menuruni Namsan Tower.

*

The last stop, Haeundae beach~~!” seru Yuri sesampainya di pantai.

Ia merentangkan tangannya lebar-lebar, mencoba meraih angin pantai dalam dekapannya. Sementara itu, Minho hanya tersenyum kecil melihat tingkah Yuri. Ia mendekati gadis itu dan meraih pinggangnya dalam dekapannya. Diciumnya puncak kepala gadis itu sayang.

Mereka berdua terdiam selama beberapa saat hingga akhirnya Yuri melepas lengan Minho dan menariknya mendekati bibir pantai. Ia menyiprati air dengan Minho. Aksi itu membuat Minho membalasnya dan akhirnya, mereka bermain air di pinggir pantai.

“Minho-ah, sudaah~ aku cape~” seru Yuri manja. Minho terkekeh lalu menghentikan aksinya dan mengikuti Yuri duduk di pinggir pantai. Yuri bersandar pada bahu Minho.

Sunset,” gumam Yuri kecil. Minho menoleh menatap Yuri lalu tersenyum kecil. Dilingkarkannya tangannya di pinggang Yuri.

“Minho..” panggil Yuri kecil.

Ne?”

Saranghae.. yongwonhi,” ucapnya kemudian.

Na do saranghae,” balas Minho lalu mengecup puncak kepala Yuri.

Minho meletakkan kepalanya di atas kepala Yuri sambil menutup kedua matanya, menikmati sinar matahari yang hangat serta angin pantai yang segar. Lama mereka diam dalam posisi seperti itu, hingga akhirnya Minho menyadari bahunya basah. Ketika ia melihat, bahunya telah dipenuhi darah.

“Yul..” panggil Minho. Hening, tak ada jawaban dari Yuri.

“Yul. Kwon Yuri, iroena,” panggilnya lagi. Namun hasilnya tetap sama, tak ada jawaban.

“Kwon Yuri!” panggil Minho lagi. Kali ini ia meraih bahu Yuri hingga gadis itu menghadapinya.

Matanya membulat kaget. Wajah gadis itu putih pucat. Bibirnya berwarna biru. Tubuhnya sangat lemas, tidak bersemangat seperti tadi. Dan hidungnya mengeluarkan darah banyak, membuat pria itu cemas.

“Kwon Yuri! Demi Tuhan, ini tidak lucu. Bangun Yuri! Yul!” seru Minho mengguncangkan bahu gadis itu. Namun gadis itu tetap tak bergeming. Diraihnya pergelangan tangan Yuri, dan matanya membulat. Ia tidak menemukan denyut nadinya.

“Yuriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii~!” teriaknya kencang lalu mendekap Yuri.

*

Ia berdiri terpaku menatap gundukan tanah yang masih basah dihadapannya. Hampir semuanya telah pergi meninggalkannya, kecuali seorang gadis. Seorang gadis yang berjongkok di hadapan batu nisan bertulisakan ‘Kwon Yuri’ dengan air mata yang masih belumlah kering. Dielusnya nisan itu sayang. Ia adalah adik angkat Yuri, Kwon Rin Rin.

“Rin Rin-ah,” panggilnya pelan. Gadis itu hanya bergumam kecil menanggapinya.

“Sebenarnya, apa yang terjadi?” tanyanya kemudian. Gadis itu menghela nafas.

Unnie.. sakit.. kanker otak stadium 3,” gumamnya kecil berusaha menahan kesedihannya.

“Yul.. sakit? Tapi.. kenapa–”

Unnie hanya tidak ingin diperlakukan layaknya orang sakit,”

“Yul..”

Mian, oppa. Unnie melarangku untuk memberitahukannya pada siapapun,”

“Termasuk aku?”

Gadis itu mengangguk kecil. Ia berdiri dan beranjak meninggalkan makam kakaknya. Meninggalkan Minho sendiri.

Good bye, unnie. Hiduplah dengan damai,” gumamnya kecil sebelum akhirnya meninggalkan pemakaman.

=FIN=

Well, saengil chukkae, Yul unnie~! FF birthday macam apa ini?? -.-”
Kalau ga suka pairingnya, ga usah ngebash!

  1. Im SooJung
    10 Juni 2011 pukul 9:44 pm

    Sad ending T.T
    Yul onnie… D,X

    Mengharukan, hiks..hiks.. MinYul jjang \m/

    • 11 Juni 2011 pukul 3:21 pm

      iya sad end >< ga tau kenapa kepikirannya begini <— author aneh😄

      thanks ya udah baca dan komen😀

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: