Beranda > fanfiction, oneshot, whyenda_arinka > [Oneshot] A Chance

[Oneshot] A Chance

Title : A Chance
Length : Oneshot
Genre : Romantic, Sad, Family, Friendship
Rating : G
Casts : SNSD Kim Taeyeon, Super Junior Park Jungsoo(Leeteuk), Super Junior Kim Heechul, SNSD Kwon Yuri.
Cameo : SNSD Jessica Jung, Super Junior Kim Young Woon(Kangin)
Pairing : TaeTeuk, Slight YulHee, Slight TaengSic(?)

Disclaimer : Own nothing but the story

a/n : judul sama isi cerita aneh. ga nyambung sama sekali -__- sebenernya ini ff birthday buat Taeyeon, tapi telat. ini aja ngerjainnya kebut2an (?) lol😄 typo di sana-sini. maklum author males ngedit /plaaak XDDD POVnya tetep si author sableng yang sotoy ini😄 enjoy🙂

==========

Taeyeon sedang sibuk memilih beberapa sayuran di supermarket. Ia terlihat sangat serius memilih sayur. Setelah menemukan sayur yang dirasa sesuai, ia beralih ke rak bumbu dan mulai memilih bumbu yang ia butuhkan. Ia terus mondar-mandir di sekitar supermarket untuk mencari bahan yang akan ia masak diikuti oleh seorang pria yang sedari ia melangkah memasuki supermarket, terus membuntutinya.

“Kau akan masak apa saja sih? Kenapa banyak sekali bahan yang kau beli? Hanya Heechul kan yang datang?” tanya pria itu. Sesekali ia membantu Taeyeon mengambil bumbu yang terletak di rak paling atas yang tak bisa dijangkaunya.

“Kalau hanya Heechul oppa, mungkin aku tidak akan seheboh ini. Ia membawa temannya nanti,” jawab Taeyeon, “Tolong ambilkan kecap itu, oppa,”

“Ooh. Siapa?” tanyanya lagi, tangannya meraih sebuah botol kecap di samping kanannya dan memberikannya pada Taeyeon.

“Trims, oppa. Entahlah. Tapi Heechul oppa bilang, mulai nanti malam temannya itu akan menginap di rumah untuk sementara waktu,” jawab Taeyeon.

“Kenapa?” tanyanya.

“Dia dipindah tugaskan ke sini, mendadak katanya, jadi tidak sempat mencari kontrakan,” jawab Taeyeon.

“Laki-laki, atau perempuan?” ia bertanya lagi.

Taeyeon menatap pria di sampingnya dengan sebelah alis terangkat, “Memang kenapa, oppa?”

“Kalau laki-laki, menginap saja di rumahku,” putusnya tiba-tiba.

“Kenapa menginap di rumah oppa kalau laki-laki?” tanya Taeyeon bingung. Ia menatap pria di sampingnya.

“Kau itu perempuan. Kau tinggal sendiri lagi. Heechul masih tugas di luar kota, Kangin masih wamil, siapa yang akan menjagamu kalau laki-laki itu tinggal di rumahmu? Bagaimana kalau dia orang jahat? Bagaimana kalau dia melakukan sesuatu padamu?” cecarnya. Wajahnya terlihat sangat serius.

“Ya Leeteuk oppa! Kau berlebihan! Lagipula, kita kan masih belum tahu temannya Heechul oppa itu laki-laki atau perempuan,” gerutu Taeyeon. Ia berjalan menuju kasir untuk membayar semuanya diikuti pria bernama Leeteuk itu.

“Huh. Kau ini. Akan kubunuh Heechul kalau sampai temannya itu laki-laki,” gumam Leeteuk, “Biar aku saja yang bayar,” ia mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya dan memberikannya pada petugas kasir.

“Terima kasih,” ucap Taeyeon pada petugas kasir, “Dan aku tidak akan memaafkanmu, oppa.” Balas Taeyeon pada Leeteuk.

Keduanya keluar dari supermarket dengan dua kantong plastik besar di tangan masing-masing. Derasnya hujan serta dinginnya angin yang menggigit kulit menyambut mereka. Taeyeon bergidik kedinginan.

“Aish! Aku lupa bawa payung lagi!” berang Taeyeon.

“Pakai ini,” gumam Leeteuk mengangsurkan hoodie yang tadinya ia pakai.

“Gomawo, oppa,” ucap Taeyeon.

“Ne. Kita ke café dulu sekalian berteduh ya!? Daripada kau sakit dan basah kuyup. Kebetulan café di seberang punya temanku,” usul Leeteuk kemudian.

“Ne. kkaja,” setuju Taeyeon.

Keduanya pun buru-buru menyebrang jalan ketika tidak ada kendaraan yang melintas dan segera memasuki ruangan café yang bernuansa ceria. Di dalam terasa hangat. Dindingnya berwarna warni, mulai dari biru, kuning, hijau, pink. Namun ada yang berbeda, tiap warna yang mendominasi diberi sekat sebuah kaca buram, seakan memberikan privasi kepada pengunjung.

Leeteuk berjalan menuju meja yang berada di samping kaca transparan dan menarik salah satu kursinya untuk Taeyeon. Ia mempersilahkan gadis itu duduk lalu ia pun menarik kursi di depan Taeyeon untuk dirinya sendiri dan menghempaskan dirinya di atasnya.

“Thanks, oppa,” ucap Taeyeon.

“Ne. Kau mau pesan apa?” tanya Leeteuk ketika seorang waitress menghampiri mereka.

“Uhm–capuccino saja oppa,” jawab gadis itu sambil membolak balikkan buku menu, kemudian menutupnya kembali dan menyerahkan pada waitress.

“Capuccino 2,” ucap Leeteuk pada sang waitress lalu menyerahkan buku menu tanpa membukanya selembar pun.

“Taeng–” panggil Leeteuk.

Taeyeon yang tengah menatap hujan yang membasahi kaca di sampingnya, menoleh menatap Leeteuk, “Ne, oppa?”

“Heechul benar-benar tidak memberitahumu siapa temannya yang akan menginap itu?” tanya Leeteuk serius.

“Tsk, oppa. Kenapa sih kau begitu mempermasalahkannya? Heechul oppa bilang–surprise,” jawab Taeyeon terlihat gerah dengan pembicaraan mereka.

“Tapi–” kata-kata Leeteuk segera terputus ketika seorang waitress datang membawa pesanan mereka, “Terima kasih,” ucap Leeteuk.

Taeyeon mengambil capuccinonya dan menyeruputnya sementara Leeteuk melanjutkan ucapannya, “Taeng–pokoknya kalau teman Heechul itu laki-laki, dia akan menginap di rumahku,”

“Oppa, kau tidak bisa begitu. Bagaimana dengan Heechul oppa nantinya?” tanya Taeng.

Leeteuk sudah membuka mulutnya untuk menjawab namun Taeyeon segera memotongnya, “Aku akan mengunci pintu kamarku setiap malam ketika tidur, bagaimana? Aku tidak akan terlalu dekat dengannya. Sebisa mungkin aku tidak akan berinteraksi dengannya, KALAU dia laki-laki. Bagaimana, oppa? Kau sudah tenang?”

Leeteuk mendesah, “Itu bisa diatur memang, Taeng–tapi––aku tetap tidak tenang. Atau aku juga menginap di rumahmu?”

“Yah oppa! Kau ada-ada saja. Apa kata tetangga nanti? Kau jangan aneh-aneh oppa!” seru Taeyeon kesal. “Sebenarnya, apa sih yang membuatmu terganggu, oppa? Toh itu kan teman Heechul oppa,” tanyanya kemudian.

Hening mencekam diantara keduanya. Leeteuk terdiam menatap cangkir capuccino sementara Taeyeon menatap Leeteuk, menunggu jawaban dari pria di hadapannya itu. Hingga beberapa detik berlalu, masih tak ada jawaban yang keluar dari bibir Leeteuk. Taeyeon mendesah kecil lalu kembali menatap sepinya jalanan karena derasnya hujan yang turun. Beberapa orang menyemut di halte bus untuk berteduh.

“Taeng–” panggil Leeteuk yang segera membuat gadis itu menoleh padanya. Leeteuk menatap kedua mata gadis itu, “Aku tahu mungkin ini entah kesekian kalinya aku meminta––maukah kau menjadi pacarku?” tanyanya.

Taeyeon terdiam menatap Leeteuk. Sorot matanya tiba-tiba berubah menjadi sendu, “Oppa–kau tahu–” “Aku tahu, tapi tidak bisa kah kau memberiku kesempatan? Aku tidak akan seperti–”

“Aku mengerti, oppa. Tapi–itu masih susah untukku. Maaf,”

Leeteuk menghela nafas panjang. Disandarkannya punggungnya pada sandaran kursi. Ia memandang keluar melalui kaca yang terguyur air hujan. Sedang Taeyeon menatap cangkir capuccinonya dengan tatapan sedikit sendu. Ia terbayang akan masa lalunya. Masa lalu yang pahit.

Bisa dibilang, Taeyeon trauma dengan hubungan cinta. Dan pertanyaan Leeteuk tadi, memang entah sudah yang keberapa kali ditujukan padanya dan entah sudah yang keberapa kalinya ia tolak untuk sebuah alasan yang sama. Trauma. Ya, ia memiliki trauma yang cukup membekas, walaupun bukan ia yang mengalaminya. Ia hanya salah satu korban.

Dulu, ketika ia kelas 1 SMA, kedua orang tuanya bercerai karena sang ayah selingkuh. Saat itu, Heechul, kakak pertamanya sudah berkuliah sementara Kangin, kakak keduanya masih duduk di bangku kelas 3 SMA. Heechul menjadi sering mabuk-mabukan, merokok, pulang malam, dan sebagainya. Sedang Kangin, ia berubah menjadi anak berandal. Berkelahi dengan siapapun, kebut-kebutan, bahkan hampir terjerumus dengan obat-obatan terlarang andai saja Leeteuk tidak mencegahnya. Dan ibu mereka, sakit-sakitan hingga akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir ketika Taeyeon hampir lulus SMA. Walau begitu, mereka menolak tinggal dengan ayah mereka. Sekali lagi, Leeteuk yang membantu mereka.

Park Jungsoo, atau yang akrab disapa Leeteuk, adalah teman seangkatan sekaligus tetangga Heechul–dengan kata lain juga tetangga Taeyeon dan Kangin. Mereka satu universitas namun beda jurusan. Leeteuk mengambil jurusan manajemen bisnis, sedang Heechul mengambil desain grafis. Keduanya kini telah bekerja. Dan Leeteuk yang banyak membantu keluarga Taeyeon dari keterpurukan pasca perceraian kedua orang tuanya serta kematian sang ibu.

Akibat dari semua itu, Taeyeon tidak percaya dengan yang namanya cinta. Walau begitu Leeteuk bersikukuh untuk membuka mata Taeyeon. Ia ingin Taeyeon sadar bahwa tidak semua hubungan cinta berakhir seperti itu. Dan sama seperti kekukuhan hatinya, Taeyeon juga tetap tidak mau percaya. Atau lebih tepatnya, ia masih belum siap untuk terlibat dalam suatu hubungan cinta.

*

“Thanks oppa. Maaf aku benar-benar merepotkanmu hari ini,” ucap Taeyeon ketika ia sudah sampai di rumahnya dan Leeteuk mengantarnya pulang.

Mereka baru pulang ketika hari menjelang malam, sekitar setengah 6 sore karena harus menunggu hujan reda.

“Tidak masalah. Nanti aku juga datang, tak apa kan? Aku sudah bilang pada Heechul tadi,”

“Ah. Ne, oppa. Aku akan masak yang enak untukmu nanti, juga Heechul oppa dan temannya itu,”

“Baiklah. Aku akan bersiap-siap dulu lalu aku segera ke sini untuk membantumu memasak,” putus Leeteuk, “Dan–sebaiknya kamu mandi dulu, Taeng. Jangan-jangan masakanmu nanti tercampur bau badanmu yang belum mandi,” gurau Leeteuk. Ia tertawa renyah.

“Aish oppa ini! Tentu saja aku akan mandi dulu,” gerutu Taeyeon sebal. Ia mengerucutkan bibirnya kecil, membuat tawa Leeteuk semakin renyah saja.

“Kalau begitu aku pulang dulu. Nanti aku kembali lagi. Annyeong,” pamit Leeteuk. Ia mengusap puncak kepala Taeyeon sayang sebelum akhirnya berlalu.

“Annyeong, oppa.” Balas Taeyeon.

Gadis itu segera melangkah masuk dan menaruh belanjaannya di dapur. Rumah itu kosong karena memang penghuninnya hanya tinggal ia, Kim Taeyeon seorang. Kakak pertamanya, Kim Heechul, kini telah bekerja di sebuah majalah fashion cukup terkenal di Korea Selatan sebagai seorang pengamat desain. Saat ini ia sedang di pindah tugaskan di Busan. Sedang kakak keduanya, Kim Youngwoon atau yang akrab disapa Kangin, setelah lulus kuliah dengan susah payah, ia memutuskan untuk segera wamil. Ia sendiri, Kim Taeyeon, adalah seorang mahasiswi di Seoul University jurusan manajemen. Ia sering membunuh waktu luangnya dengan kerja part-time di perusahaan Leeteuk, sekalian mencari pengalaman.

Taeyeon mengeluarkan bahan-bahan yang ia beli, memisah-misahkannya agar ia lebih mudah ketika memasak nantinya. Ia menaruh bumbu sesuai takarannya pada setiap menu yang akan ia buat. Daging yang ia beli tadi, segera ia cuci dan rebus agar lebih cepat matang serta empuk nantinya. Ia tersenyum kecil setelah dirasa semuanya cukup. Ia pun berbalik meninggalkan dapur guna membersihkan dirinya sendiri.

Sekitar lima menit kemudian, ia telah kembali lagi ke dapur dengan pakaian yang telah ia ganti dan tentunya tubuh yang wangi. Ia mengikat tinggi rambutnya walau ada beberapa yang menjuntai ke bawah, membingkai wajah imutnya untuk ukuran wanita berumur 23 tahun. Baru saja ia mengeluarkan beberapa alat untuk memasak, pintu belakang yang memang terletak di pojok dapur terbuka dan muncullah sosok Leeteuk dengan setelan kemeja kotak-kotak biru putih serta dalaman putih polos dan jeans hitam.

“Annyeong, Taeng-ah,” sapa Leeteuk.

“Annyeong, oppa,” balas Taeyeon.

“Siap untuk memasak?” tanya Leeteuk.

“Ne!” seru Taeyeon semangat.

“Berapa lama waktu yang tersisa sampai Heechul tiba?” tanyanya kemudian mengambil sebilah pisau dan mulai memotong daun bawang sesuai petunjuk Taeyeon.

“Hmm, kurasa sekitar satu jam lagi. Cukup lah untuk membuat empat menu,” jawab Taeyeon kalem.

“Baiklah. Hwaitaeng!” kekeh Leeteuk.

“Ya oppa!” seru Taeyeon yang kemudian ikut tertawa.

Keduanya berkutat dengan bahan-bahan serta bumbu yang tadi dibeli oleh Taeyeon. Mereka meracik bumbu, memotong daging, menumis beberapa sayur, dan memanggang daging ayam diselingi canda tawa hingga satu jam terlewati tanpa mereka sadari.

“Nah. Selesai~” seru Taeyeon senang. Ia baru saja menata menu terakhir di atas meja makan. Leeteuk berdiri di sampingnya.

“Hmm. Sekarang aku berharap Heechul segera datang agar aku bisa segera menyantapnya,” celetuk Leeteuk.

“Ya! Tunggulah sebentar lagi, oppa,” ucap Taeyeon mengingatkan Leeteuk.

“Ara, ara,”

Din! Din!

Suara klakson mobil dari luar rumah membuat mereka menoleh kaget. “Itu pasti Heechul,” sambut Leeteuk senang.

“Aigo oppa! Aku belum ganti baju!” seru Taeyeon panik. Ia melihat baju yang ia kenakan, sabrina kuning dengan celana setengah tiang.

“Kau ganti baju saja dulu, biar aku yang menyambut Heechul dan temannya itu,” usul Leeteuk. Ia mendorong tubuh Taeyeon pelan menuju kamarnya.

“Ne, tolong ya oppa,” pinta Taeyeon sebelum melesat memasuki kamarnya dan mengganti pakaiannya.

Taeyeon hampir mengobrak-abrik lemarinya mencari pakaian yang cocok untuknya. Sedari tadi ia hanya memikirkan makanan apa saja yang akan ia hidangkan sampai-sampai melupakan pakaian apa yang sekiranya ia butuhkan untuk dikenakan menyambut teman sang kakak. Ia berpikir keras di depan pintu lemari bajunya yang terbuka lebar. Matanya menelusuri tumpukan baju serta beberapa dress yang tergantung rapi.

Tak lama, senyum lebar tersungging di bibirnya. Ia menemukan atasan babydoll berkerah serta rok rample berwarna putih. Dengan segera diambilnya kedua pakaian itu dan menukar pakaiannya. Ia memoleskan make up tipis di wajahnya.

Setelah ia rasa cukup, ia segera keluar menuju ruang tamu. Jujur saja, ia merasa sedikit gugup. Selain karena kerinduannya pada Heechul–hampir lima bulan mereka tidak bertemu, ia juga mengira-ngira seperti apa teman sang kakak yang akan menginap di rumahnya itu. Apakah laki-laki seperti yang ditakutkan oleh Leeteuk, atau justru–perempuan.

“Annyeong hasseyo,” sapanya ketika ia memasuki ruang tamu.

Di sana, ia hanya menemukan Leeteuk yang sedang mengobrol dengan seorang gadis berkulit coklat. Keduanya terlihat terlibat dalam perbincangan yang seru namun terputus ketika mendengar sapaan Taeyeon, membuat gadis itu terheran-heran.

“Ah, Taeyeon-ah, ini Yuri–Kwon Yuri, teman Heechul yang akan menginap di sini,” ucap Leeteuk memperkenalkan gadis berkulit coklat di sampingnya pada Taeyeon.

“Annyeong, Taeyeon imnida,” ucap Taeyeon memperkenalkan dirinya.

“Annyeong Taeyeon-ssi, Kwon Yuri imnida. Terima kasih sudah mau menerimaku, maaf merepotkan,”

“Ah anni, tak apa kok Yuri-ssi, kau kan teman Heechul oppa. Lagipula, aku tinggal sendiri di sini,” ucap Taeyeon, senyum lebar menghiasi wajahnya, “Ke mana Heechul oppa?” tanyanya kemudian.

“Ke toilet,” jawab Leeteuk, “Taeng-ah, tunjukkan aku di mana kamar Yuri-ssi, biar aku bawakan barang-barangnya,”

“Aigoo, tidak usah repot-repot, Leeteuk-ssi, saya bisa sendiri,” sergah Yuri.

“Ah, gwenchana. Tidak repot kok,”

“Ayo biar kuantar,”

Taeyeon pun mengantar Yuri ke kamar yang telah ia siapkan sedari kemarin dengan Leeteuk di belakang mereka membawa koper Yuri.

“Nah Yuri-ssi, ini kamarmu. Anggap saja rumah sendiri,” ucap Taeyeon.

“Kau jangan sungkan meminta sesuatu pada Taeyeon, Yuri-ssi,” tambah Leeteuk diikuti anggukan Teyeon.

“Ah, kamsahamnida. Aku jadi tidak enak merepotkan kalian,” ucap Yuri.

“Gwenchana. Ngomong-ngomong, aku sudah memasak tadi, ayo kita makan,” ajak Taeyeon.

“Ah iya! Hampir saja lupa. Aku juga membantu Taeyeon tadi. Kkaja, Yuri-ssi,” ajak Leeteuk menarik Yuri menuju ruang makan mendahului Taeyeon.

Taeyeon yang melihat Leeteuk menarik Yuri menuju meja makan tersenyum kecil. Leeteuk memang selalu bersemangat bertemu orang baru. Ia ingat sekali bagaimana tadi Leeteuk sempat khawatir bila teman oppanya adalah laki-laki, namun sekarang kekhawatirannya lenyap begitu saja. Namun di sisi lain, entah kenapa ia merasa sedikit aneh. Ada sebagian kecil dari dirinya merasa sakit–dan ia sendiri tak tahu mengapa.

“Taeng-ah,” panggil seseorang dari belakang Taeyeon.

Gadis itu berbalik dan mendapati sosok pria bertubuh jangkung berdiri menjulang di depannya. Sosok pria yang sangat ia rindukan. Sosok pria yang lima bulan terakhir tidak ia jumpai, bahkan mereka hampir lost contact. Ialah kakak tertuanya, Kim Heechul.

“Oppa~ aigoo~ bogoshipoyo~” seru Taeyeon yang langsung memeluk sang oppa, melepas kerinduannya.

“Ne, na ddo bagoshipo, Taeng-ah,” ucap Heechul balas memeluk Taeyeon.

“Taeng-ah,” panggil Heechul sambil melepas pelukannya pada Taeyeon.

“Ne, oppa?” tanya Taeyeon.

“Kau kok tidak tambah tinggi-tinggi sih?” tanya Heechul menggoda adiknya.

“Aish oppa!” seru Taeyeon kesal. Ia menggembungkan kedua pipinya.

“Hahaha. Bercanda. Tapi ada bagusnya kau tidak terlalu tinggi, jadi tak ada yang menyaingi oppa. Hahaha,” gurau Heechul.

“Tsk, terserahmulah, oppa,” gerutu Taeyeon.

“Taeng-ah! Chul-ya! Ayo ke sini!” seru Leeteuk dari ruang makan.

“Sepertinya Leeteuk oppa sudah lapar. Ayo oppa,” ajak Taeyeon.

“Aish! Sebenarnya, siapa sih yang punya rumah? Kita atau dia?” gerutu Heechul yang hanya disambut tawa oleh Taeyeon.

Keduanya berjalan menuju ruang makan. Di sana, Leeteuk sudah duduk di samping Yuri, terlihat tidak sabar ingin segera menyantap makanan lezat yang tersaji di hadapannya itu.

“Ya! Palli~ palli~” seru Leeteuk.

“Park Jungsoo, kau ini kenapa sih?” tanya Heechul gusar sambil menarik kursi di depan Yuri dan mengenyakkan dirinya di sana.

“Karena Taeng menjanjikanku makanan yang lezat,” jawab Leeteuk enteng.

Taeyeon tertawa mendengarnya. Ia mengambil piring dan menyidukkan nasi ke dalam piring lalu memberikannya pada Heechul. Lalu ia pun melakukan hal yang sama untuk Yuri dan Leeteuk, barulah ia mengambil untuk dirinya sendiri.

“Nah, silahkan di makan. Ini masakan buatanku dan Taeng. Kalau ada yang terasa aneh, salahkan aku karena aku yang tidak pandai memasak,” ucap Leeteuk sedikit bergurau diiringi tawa yang lain.

*

Tidak terasa sudah dua bulan Yuri tinggal bersama Taeyeon, sementara Heechul sendiri segera kembali ke Busan esoknya setelah mengantar Yuri. Heechul menitipkan Taeyeon dan Yuri pada Leeteuk, yang tentu saja menerimanya dengan senang hati. Yuri dan Taeyeon pun semakin hari semakin akrab saja. Setiap malam, mereka selalu duduk di depan televisi untuk menonton acara yang ada sambil bercerita tentang apa saja yang terjadi dengan mereka. Bahkan terkadang, mereka lebih seru bercerita hingga membiarkan televisi menonton mereka, bukan mereka yang menonton televisi.

Namun sejak sebulan kemarin, Taeyeon sangat sibuk sekali dengan kuliahnya dan pekerjaannya di perusahaan Leeteuk. Ia sering pulang larut malam hingga membuatnya jarang bisa berbagi cerita dengan Yuri. Masih bisa membersihkan diri saja sudah beruntung, terkadang ketika ia sampai di rumah, ia pasti langsung tertidur.

Dan pagi itu di hari sabtu di mana ia libur dari kantornya serta kebetulan ia tidak ada jadwal kuliah, ia memutuskan untuk mengajak Yuri jalan-jalan mengingat ia jarang jalan-jalan dengan Yuri. Lagipula, ia bosan bila hanya berdiam diri di rumah tanpa melakukan apapun.

Setelah Taeyeon membersihkan dirinya, ia segera pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Namun ia terkejut ketika melihat di meja makan telah tersaji sandwich tuna serta segelas susu putih.

“Pagi Taeng-ah,” sapa Yuri dengan senyum lebar.

“Eh, pagi, Yul,” balas Taeyeon.

“Kau lapar? Makan saja sandwich tunanya, itu aku buat khusus untukmu,” ucap Yuri. Gadis itu sudah berdandan cantik dengan kemeja biru jeans dan dalaman putih bergambar foto seorang artis serta celana jeans biru.

“Ah, gomawo, Yul-ah. Ehm, kau mau pergi?” tanya Taeyeon.

“Ne, aku ada urusan sebentar,” jawab Yuri dengan senyum manis menghiasi wajahnya.

“Dengan siapa? Perlu kuantar?” tanya Taeyeon lagi, tersirat kecemasan di wajahnya. Maklum saja, Yuri belum terlalu tahu seluk beluk kotanya ini, ia takut gadis itu akan tersesat.

“Tidak perlu, Taeng-ah, kau pasti butuh istirahat setelah lelah bekerja dan kuliah. Ada Leeteuk oppa yang mengantarku kok,” tolak Yuri dengan halus. Seketika raut wajah Taeyeon berubah menjadi sedikit shock.

“Ah, begitu. Kencan?” goda Taeyeon memaksakan sedikit senyum.

“Anniya. Tidak sama sekali kok,” sanggah Yuri.

“Kencan juga tak apa kok,” goda Taeyeon lagi dengan senyum yang masih ia paksakan.

“Hello~ Gud morning, girls~” sapa seseorang dari pintu depan. Leeteuk.

“GOOD morning, oppa,” balas Taeyeon memberi penekanan pada kata ‘good’, bermaksud mengoreksi Leeteuk.

Yuri tertawa kecil mendengarnya, “Morning oppa,” ia membalas sapaan Leeteuk.

“Sudah siap berangkat?” tanya Leeteuk pada Yuri yang disambut anggukan sekali.

“Taeng-ah, aku pergi dulu ya dengan Yuri. Kau tak apakan ditinggal? Atau kau ingin ikut?” tanya Leeteuk. Taeyeon yang tengah mengunyah sandwichnya segera menelannya.

“Anniya, oppa. Aku di rumah saja,” tolak Taeyeon halus sambil menyunggingkan sebuah senyum.

“Yakin kau tak ingin jalan-jalan? Mumpung libur lho~” tawar Leeteuk.

“Yah oppa, nanti aku akan pergi kok, tenang saja,” ucap Taeyeon.

“Dengan siapa?” tanya Leeteuk dengan tatapan menyelidik.

“Uhm, Sunny dan–Tiffany,” jawab Taeyeon berbohong. Ia bahkan tidak mungkin mengusik kedua temannya yang tentu sudah pasti akan menghabiskan hari sabtu dengan kekasih mereka masing-masing, Sungmin dan Siwon.

“Baiklah kalau begitu. Oppa tinggal dulu, ya!? Hati-hati. Telepon oppa kalau ada apa-apa,” ucap Leeteuk lembut sembari mengelus puncak kepala Taeyeon.

“Ne~~” jawab Taeyeon.

“Annyeong, Taeng-ah. Hati-hati ya~” pamit Leeteuk.

“Ne,”

“Kami pergi dulu ya, Taeng~” pamit Yuri.

“Ne, ne. Semoga kencan kalian menyenangkan,” jawab Taeyeon yang lebih terdengar seperti gumaman yang tentu saja tidak didengar oleh Leeteuk ataupun Yuri.

Tiba-tiba Taeyeon merasa sedih tanpa alasan yang jelas. Mungkin karena aku tidak bisa pergi dengan Yuri, batin Taeyeon. Ia pun memutuskan untuk jalan-jalan sendiri ke pusat kota atau kemanapun. Dengan segera ia menyelesaikan sarapannya dan mencuci bekas makanannya. Ia mengganti pakaiannya dengan sebuah kaos berlengan panjang berwarna coklat dengan jaket tebal tanpa lengan berwarna coklat serta mini skirt dengan warna yang serupa.

Taeyeon mengenakan sepatu boot coklatnya yang menutupi kakinya hingga lututnya sebelum akhirnya menutup pintu rumahnya dan menguncinya. Ia segera meninggalkan rumahnya dan pergi ke manapun kakinya melangkah. Ia tidak ingin mengendarai bus atau taxi, ia ingin menikmati udara pagi hari yang masih bersih.

Selama ia berjalan, pikirannya berkelana dengan kejadian tadi pagi. Leeteuk menjemput Yuri karena ada urusan. Walaupun Yuri mengelak mereka tengah kencan, tapi sebagian hatinya entah mengapa takut kalau keduanya benar-benar berkencan. Ia menghela nafasnya mengingat sejak hari pertama Yuri tiba, Yuri memang langsung akrab dengan Leeteuk. Ia bahkan sering menemukan Yuri tersenyum pada layar ponselnya sendiri. Ketika ia bertanya, jawabannya hampir selalu sms dari Leeteuk. Tiba-tiba ia merasa gelisah tanpa sebab.

Kakinya terus melangkah sementara pikirannya melayang entah kemana hingga akhirnya ia menyadari ia tengah berada di daerah Myung-dong yang terkenal dengan pusat perbelanjaannya. Ia memang tidak berada di pusatnya, namun di daerahnya sini memang cukup ramai dengan butik-butik di sepanjang jalan. Ia berhenti dan menoleh ke arah butik tempat di mana ia berhenti.

‘The Wedding Dress––a beautiful wedding dress for you’ begitu tulisannya yang langsung membuat Taeyeon tersenyum kecut. Ia mengalihkan panangannya ke dalam butik tersebut daripada harus melihat papan namanya. Namun hal itu justru membuat kedua matanya terbelalak. Seorang petugas dari butik itu terlihat tengah mengukur tubuh seorang wanita berkulit coklat, sepertinya wanita itu akan membuat baju pernikahan. Yang membuatnya semakin kaget adalah pria di samping wanita itu yang juga tengah diukur. Keduanya adalah Leeteuk dan Yuri.

Entah kenapa, Taeyeon merasa sangat terpukul. Dadanya terasa sesak sekali. Dan tanpa aba-aba, air matanya jatuh membasahi pipinya, menganak sungai dengan derasnya. Kakinya kaku. Hatinya terasa seperti hancur berkeping-keping. Pikirannya kacau seketika. Ia tak bisa berpikir hal lain selain lari sejauh mungkin. Lari sekencang yang ia bisa. Berlari ke manapun kakinya membawanya berlari.

Taeyeon berhenti di sebuah taman dengan nafas terengah-engah. Air mata masih membasahi kedua pipinya. Matanya memerah dan sembab. Keringat mengucur dari pelipisnya serta lehernya. Ia sudah tak kuat lagi berlari. Ia berjalan menuju bangku kayu panjang yang tersedia dan duduk di sana. Ia menunduk dalam dan kembali membiarkan air matanya jatuh membasahi bumi.

Ia tak tahu mengapa ia tiba-tiba menangis. Yang ia tahu hanyalah dadanya terasa sesak, selain itu, hatinya terasa sangat sakit. Pikirannya sangat kacau. Ia tak bisa berpikir dengan jernih. Tubuhnya pun terasa lemas setelah berlari sangat jauh sekali tadi. Kakinya bergetar kecil karena terlalu lelah. Bahunya berguncang hebat menahan isak tangisnya.

“Taeyeon?” panggil seseorang.

Taeyeon menengadahkan kepalanya ketika mendengar namanya dipanggil seseorang. Ia mendapati seorang gadis sebayanya dengan rambut coklat panjang berdiri di hadapannya dengan tatapan heran yang langsung berubah panik ketika melihat ia menangis.

“Sica–” panggilnya lirih dengan suara serak.

“Aigo Taeng-ah~ wae geurae? Na gwenchana?” panik gadis yang dipanggil Sica oleh Taeyeon tadi.

Sica segera menempatkan dirinya di samping Taeyeon dan memeluk Taeyeon dalam dekapannya. Gadis itu mengelus kepala Taeyeon dengan sayang untuk menenangkannya. Raut wajahnya benar-benar panik menemukan Taeyeon dalam keadaan seperti itu. Ini kedua kalinya ia menemukan Taeyeon yaang biasanya terlihat tegar dan bersemangat, menangis serta terlihat lemah.

Sica adalah teman sekelas Taeyeon ketika mereka duduk di bangku SMA. Rumah mereka pun tidak jauh, hanya berjarak sekitar 3 rumah. Mereka pun berada di universitas yang sama. Namun karena jurusan yang berbeda serta Taeyeon yang juga mengambil kerja part-time di perusahaan Leeteuk, membuat keduanya jadi jarang bertemu.

“Shh Taeng-ah. Kita pulang saja ya? Yuk. Jangan di sini,” ajak Sica yang hanya dibalas anggukan oleh Taeyeon.

Sica membimbing Taeyeon untuk berdiri dan menuntunnya menuju rumahnya. Sica tetap membiarkan Taeyeon berada dalam pelukannya. Ternyata Taeyeon sedari tadi berlari hingga taman yang berada tidak jauh dari rumahnya, sehingga Sica tidak perlu repot mencari angkutan umum untuk membawanya pulang.

Di rumah Taeyeon, gadis itu menceritakan semua yang terjadi padanya–masih dengan berderai air mata. Dan Sica, masih enggan melepas pelukannya pada Taeyeon walau dengan senyum kecil tersungging di bibirnya.

“Taeng-ah, coba kau dengarkan aku,” ucap Sica. Ia menarik wajah Taeyeon agar sejajar dengan wajahnya.

“Dengar, kau tahu kenapa kau merasa dadamu sesak?” tanya Sica yang hanya dibalas gelengan kecil oleh Taeyeon, “Taeng, kau jatuh cinta! Kau jatuh cinta pada Leeteuk oppa!” serunya kemudian membuat Taeyeon terhenyak.

“Benar, kan? Sudah kuduga cepat atau lambat kau akan merasakannya. Tinggal menunggu waktu untuk menyadarinya,” ucap Sica.

“Tapi–aku terlambat, Sica–” ujar Taeyeon sendu.

“Yeah~ sayang waktu tidak berpihak pada kalian,” muram Sica.

“Taeng-ah, sebaiknya kau katakan pada Leeteuk oppa tentang perasaanmu,” usul Sica.

“Uhuh, lalu menghancurkan kebahagiaan Yuri, begitu? Kau gila, Jung Jessica!” ucap Taeyeong sarkastik.

“Bukan seperti itu maksudku. Kau hanya mengatakan perasaanmu padanya, tapi kau tidak perlu memintanya untuk membalas perasaanmu. Cukup menyatakannya, mengerti? Setidaknya, itu akan membuatmu lega,” terang Sica.

Taeyeon terdiam mendengar penjelasan Sica. Ia menimang-nimang, perlukah ia melakukannya? Tapi perkataan Sica ada benarnya.

“Masih banyak pria lain diluar sana, Taeng-ah,” hibur Sica.

*

“Aku pulang,” sapa Yuri. Gadis itu memasuki rumah Taeyeon dan berjalan menuju dapur.

“Ah, kau sudah pulang Yul. Kebetulan sekali aku baru saja selesai memasak makan malam. Ayo makan,” ajak Taeyeon.

“Wah~ sepertinya enak. Gomawo, Taeng-ah,” ucap Yuri.

“Ne. Mana Leeteuk oppa? Dia tidak mampir?” tanya Taeyeon lalu duduk di kursi meja makan.

“Tidak. Oppa langsung masuk ke rumahnya tadi,” jawab Yuri yang mengikuti Taeyeon duduk di kursi meja makan.

“Ooh,” gumam Taeyeon, “Yul–” panggilnya kemudian.

Yuri yang sedang mengunyah makanannya menoleh menatap Taeyeon dengan alis terangkat, mengisyaratkan ‘apa?’ pada Taeyeon.

“Kamu dari mana dengan Leeteuk oppa? Sepertinya senang sekali. Kencan kan?” goda Taeyeon lagi dengan senyum jahil walau hatinya sedikit sakit.

Yuri segera menelan makanannya sebelum menjawab, “Ah itu. Anni. Aku tidak kencan kok dengan Leeteuk oppa,” sanggah Yuri.

“Lalu?” tanya Taeyeon. Ia bingung mengapa Yuri selalu menyangkal akan hubungannya dengan Leeteuk.

“Aku hanya mengurus keperluan–ah, Taeng! Aku belum cerita padamu ya kalau aku dilamar seseorang?”

Taeyeon mengulum senyum, “Oh ya? Siapa pria tampan yang melamarmu?” tanya Taeyeon semakin merasakan sesak di dadanya.

“Hmm. Rahasia. Nanti kau akan tahu sendiri,” jawab Yuri lalu mengedipkan sebelah matanya.

“Aih kau ini,” gerutu Taeyeon pura-pura sebal Yuri menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi sebenarnya, ia sudah tahu semuanya. Siapa orang yang melamar Yuri. Sekali lagi, hatinya terasa sakit.

“Tunggu saja. Seminggu lagi, kami akan segera menikah,” ucap Yuri membuat Taeyeon tersedak makanannya.

“Aigo Taeng-ah, na gwenchana?” tanya Yuri yang segera menghampiri Taeyeon dan menepuk-nepuk punggungnya pelan. Ia mengangsurkan segelas air mineral padanya.

“G-gwenchana Yul. Aku hanya kaget,” jawab Taeyeon setelah meminum airnya, “Gomawo,”

“Huh? Kaget? Kenapa kaget?” tanya Yuri bingung.

“Uhm, kau–cepat sekali sudah mau menikah seminggu lagi padahal kau baru saja memberitahuku. Nanti siapa yang akan menemaniku kalau kau menikah?” tanya Taeyeon menutupi keterkejutannya.

“Aigo~ tenang saja Taeng-ah. Semuanya bisa diatur,” jawab Yuri mengembangkan senyumnya yang terkesan misterius, membuat Taeyeon mengerutkan keningnya bingung.

“Oh ya, Taeng, Heechul oppa akan ke sini besok. Ia mengambil cuti sekitar dua minggu,” ucap Yuri.

“Mwo? Cuti dua minggu? Lama sekali,” gumam Taeyeon yang hanya dibalas senyum lebar oleh Yuri.

“Kenapa oppa tidak memberitahuku?” tanya Taeyeon heran.

“Entahlah, Taeng,” jawab Yuri mengedikkan bahunya lalu beranjak mencuci piring bekas makanannya. Ia sudah selesai makan.

Taeyeon mengerutkan keningnya sekali lagi. Ia bingung. Sangat bingung. Pertama, Yuri yang akan menikah seminggu lagi dengan seseorang yang sengaja disembunyikan darinya–dan entah kenapa ia yakin itu adalah Leeteuk. Kedua, oppanya akan pulang besok dan cuti dua minggu. Untuk apa? Untuk menghadiri pesta pernikahan Yuri dan Leeteuk? Cukup libur sehari saja apa tidak cukup? Mengapa harus sampai dua minggu? Taeyeon merasa, Yuri menyembunyikan sesuatu darinya.

*

Keesokan paginya, Taeyeon terbangun dengan kantung mata yang menghitam. Tidak benar-benar hitam, memang. Tapi itu cukup menandakan bahwa gadis itu tidak bisa tidur. Atau mungkin, sesuatu mengusik jam tidur malamnya.

Taeyeon bangkit dari kasurnya dan segera menuju kamar mandi untuk mmbersihkan dirinya lalu berjalan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Dan sama seperti kemarin, ia terhenyak kaget mendapati 4 buah omelet berisi daging telah tersaji di meja makan. Yang menambah kekagetannya, di kursi meja makan telah duduk Heechul dan Leeteuk yang sepertinya sibuk mendiskusikan sesuatu.

“Pagi, Taeng-ah,” sapa Yuri yang pertama kali menyadari kedatangan Taeyeon. Ia baru saja keluar dari dapur dengan sekotak susu putih berukuran 1 liter.

“Nah, akhirnya dongsaengku yang paling cantik sudah bangun,” ucap Heechul dengan senyum lebar. Taeyeon segera menghampiri Heechul dan memeluknya sayang. Ia merasa tenang dalam pelukan sang oppa.

“Ahh, mesra sekali hubungan kakak-adik ini,” celetuk Yuri dengan senyum lebar. Taeyeon menyunggingkan senyum lebarnya sementara Heechul mengelus puncak kepala Taeyeon.

“Sepertinya aku harus membiasakan diri,” tambah Yuri membuat Taeyeon mengerutkan keningnya.

“Hahaha. Sepertinya begitu, Yul. Taeng itu sangat manja pada Heechul dan Kangin,” ucap Leeteuk menyetujui.

“Aish oppa!” seru Taeyeon kesal. Ia melepaskan dirinya dari pelukan Heechul lalu duduk di samping Leeteuk karena Yuri sudah lebih dulu duduk di samping Heechul. Ia memukul lengan Leeteuk pelan.

“Kan memang kau manja, Taeng,” Heechul menyetujui ucapan Leeteuk.

“Ya oppa!” seru Taeyeon lagi.

“Sudah, sudah. Ayo kita makan dulu,” ajak Yuri lalu mengambil nasi untuk Heechul.

“Gomawo,” ucap Heechul dengan senyum manis pada Yuri yang juga membalasnya.

Taeyeon yang menatap tingkah Heechul dan Yuri dengan bingung. Kenapa mereka? Tanyanya aneh. Apa maksud Heechul oppa dan Yuri?

“Taeng-ah, ikut aku yuk? Aku mau mencari kue untuk pesta pernikahan nanti. Kau mau membantuku?” tanya Yuri.

“Uhm. Ne,” jawab Taeyeon.

“Jangan! Biar aku saja,” sergah Heechul membuat Taeyeon menaikkan alisnya bingung.

“Oppa apa tidak lelah setelah daritadi pagi menyetir dari Busan ke sini? Sebaiknya oppa istirahat saja,” ucap Yuri.

“Tidak. Sama sekali tidak. Masa aku tidak ikut campur tangan mengurusi ini semua? Justru aku yang seharusnya campur tangan,” ujar Heechul.

“Baiklah, terserah oppa saja,” ucap Yuri pasrah.

“Teuki-ah, kau mau kan mengambil undangannya?” tanya Heechul pada Leeteuk.

“Ne, nanti biar aku yang ambil,” jawab Leeteuk dengan senyum mengembang.

“Taeng, kau temani Leeteuk ambil undangan sekalian menyebarkannya, ya!?” pinta Heechul pada Taeyeon.

“MWO?” kaget Taeyeon yang ternyata sudah tidak tertarik dengan pembicaraan sejak Heechul ingin menemani Yuri. Ia tidak memperhatikan dan justru asik memakan sarapannya.

“Kau mau kan menemaniku mengambil undangan dan menyebarkannya?” tanya Leeteuk.

“Aku?” ulang Taeyeon menunjuk dirinya sendiri.

“Ne, memang ada lagi yang bernama Taeng di sini selain kau?” tanya Heechul sarkastik. Ia sedikit gemas dengan tingkah dongsaengnya yang paling bungsu itu.

“Namaku bukan Taeng, oppa! Namaku Kim Taeyeon,” elak Taeyeon berusaha melucu yang langsung disambut tawa Leeteuk dan Yuri.

“Aish kau ini! Terserahmu sajalah,” gerutu Heechul, pundung.

*

“Oppa–” panggil Taeyeon pada Leeteuk yang tengah sibuk mengemudi ketika mereka dalam perjalanan mengambil undangan.

“Ne?”

“Chukkae,” ucap Taeyeon lirih. Ia merasa hatinya sedikit pedih.

“Chukkae? Untuk apa?” tanya Leeteuk heran. Sesekali ia melirik Taeyeon yang duduk di sampingnya bingung.

“Aku tahu kok oppa. Seminggu lagi–kau––kau–” Taeyeon terbata, ia tak sanggup mengucapkannya.

“Seminggu lagi? Pernikahannya Yuri kan? Memang kenapa?” tanya Leeteuk.

“Iya. Seminggu lagi pernikahan Yuri. Tepatnya pernikahan oppa dengan Yuri,” jawab Taeyeon membuat Leeteuk terkejut dan segera menginjak rem.

Mobil Leeteuk berhenti mendadak di pinggir jalan. Untung saja jalanan sepi, kalau ramai, mungkin akan terjadi kecelakaan serta kemacetan lalu lintas. Sementara itu Leeteuk segera menarik rem tangan dan menatap Taeyeon heran. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Taeyeon.

“Aigo oppa, jangan berhenti mendadak!” seru Taeyeon yang kaget. Hampir saja dahinya menyapa kerasnya dashboard mobil Leeteuk.

“Pernikahanku? Dengan Yuri?” ulang Leeteuk heran.

“Ne, oppa. Aku kemarin tidak sengaja melihat kau tengah mengukur baju bersama Yuri di butik,” tambah Taeyeon.

Leeteuk terdiam sebentar mengingat kejadian kemarin. Ia tidak tahu kalau di butik itu ada Taeyeon. Seingatnya, Taeyeon masih anti dengan hal yang semacam itu. Atau mungkin Taeyeon tidak sengaja lewat dan melihatnya dari luar? Tanya Leeteuk dalam hati. Tiba-tiba sebuah ide terbersit di pikirannya. Ia tersenyum kecil, memamerkan kedua lesung pipinya.

“Ooh, itu. Haha,” tawa Leeteuk membuat Taeyeon bingung.

“Kok oppa malah tertawa sih!?” tuntut Taeyeon bingung.

“Kau lucu, Taeng,” seru Leeteuk masih tertawa. Taeyeon mengerutkan keningnya.

“Maksudnya?” tanya Taeyeon bingung.

“Nanti saja setelah kau melihat undangannya. Undangan pernihakan Yuri––denganku,” jawab Leeteuk lalu kembali mengemudikan mobilnya menuju tempat percetakan undangan.

Selama perjalanan mereka habiskan dalam diam. Padahal biasanya, mereka pasti akan mengobrol dengan santai diselingi canda tawa. Leeteuk yang merasa tidak terlalu nyaman dengan suasana yang tercipta–walau sedikit geli juga, menyalakan tape radio dan mulai bernyanyi mengikuti lagu.

“Ayo kita turun,” ajak Leeteuk setelah sampai di sebuah percetakan undangan.

Leeteuk turun diikuti Taeyeon yang segera memasuki percetakan tersebut. Leeteuk terlihat berbicara pada seorang petugas yang kemudian pergi ke belakang untuk mengambil sesuatu sementara Taeyeon melihat beberapa undangan yang terpajang.

Tak lama kemudian, seorang petugas menghampiri Leeteuk dan memberikannya setumpuk undangan berwarna coklat. Leeteuk mengangguk lalu mengucapkan terima kasih pada petugas itu dan menghampiri Taeyeon. Ia mengambil salah satu undangan dan menyerahkannya pada Taeyeon untuk di buka. Undangan itu ditujukan untuknya, Park Jungsoo.

Taeyeon yang menerima undangan itu kaget melihat nama Leeteuk tertera sebagai tamu, bukanlah sebagai pengundang. Taeyeon cepat-cepat membukanya dan membacanya dengan cepat. Matanya bergerak dari kiri ke kanan dan semakin lama semakin membesar.

Kim Heechul––Kwon Yuri’s Wedding Party
–––2011, 17th March–––
–––Citizens Hall Room–––

“O-Oppa–” panggil Taeyeon kaget.

“Untung saja aku tidak punya rasa pada Yuri. Haha,” tawa Leeteuk.

“Mian, oppa. Aku kira–itu–oppa akan–”

“Lupakan. Kau tahu hanya kau yang memiliki hatiku, Taeng,” potong Leeteuk menyunggingkan senyum manisnya pada Taeyeon.

Taeyeon yang mendengar ucapan Leeteuk merasa jantungnya berdetak sangat cepat. Pipinya terasa sangat panas. Ia yakin sekali kalau pipinya sekarang sudah berubah warna menjadi warna merah terang.

“Taeng-ah, kau kenapa? Pipimu merah,” tanya Leeteuk khawatir. Reflek, ia menyetuh pipi Taeyeon.

“A-anniyo, oppa. G-gwenchana,” jawab taeyeon sedikit gugup. Ia segera memalingkan wajahnya, malu tanpa alasan yang jelas.

Leeteuk yang menyadari sikap Taeyeon yang sedikit janggal, hanya tersenyum kecil. Entah kenapa hatinya terasa ringan.

A week later..

Di salah satu Ballroom di pinggiran kota Seoul, tengah digelar resepsi pernikahan Kim Heechul dan Kwon Yuri. Resepsinya memang sederhana karena tidak terlalu banyak yang mereka undang. Hanya saudara, teman, serta beberapa relasi. Walau begitu, tetap saja acara itu terasa sangat istimewa. Selain bersatunya dua insan yang saling mencinta, bisa dibilang acara itu juga acara reuni keluarga Kim karena Kangin meminta cuti sebentar dari wamilnya untuk menghadiri resepsi pernikahan sang kakak sekaligus melepas rindu.

Taeyeon yang mengetahui bahwa Kangin sengaja mengambil cuti tidak mau menyia-nyiakan waktu dengan sang oppa tersayangnya itu walau hanya sedikit. Dari kedua kakaknya, Taeyeon memang lebih dekat dengan Kangin. Selain jarak usia keduanya yang tidak terlalu jauh, Kangin memang sangat menyayangi Taeyeon. Taeyeon bahkan sampai menangis ketika Kangin pulang sehari sebelum acara.

Taeyeon menghirup udara segar di luar gedung. Ia sengaja memisahkan diri dari teman-teman maupun teman sang kakak di dalam. Ia merasa sedikit pengap dengan udara di dalam dan memutuskan untuk keluar sebentar. Dengan hati-hati, ia duduk di sebuah bangku taman, berusaha tidak merusak gaun putihnya.

“Kenapa kau di sini sendiri, Taeng?” tanya seseorang dari belakangnya.

Taeyeon menoleh dan mendapati Leeteuk berdiri di belakangnya dengan tuxedo hitam. Ia terlihat sangat tampan hari ini, membuat kedua pipi Taeyeon bersemu merah. Leeteuk terkekeh melihat pipi Taeyeon yang bersemu.

“Sebegitu tampannya kah aku hingga membuat kau tersipu malu, Taeng?” goda Leeteuk lalu duduk tepat di samping Taeyeon.

“Huh! PD sekali kau oppa,” gerutu Taeyeon namun hatinya tidak memungkiri apa yang dikatakan Leeteuk.

“Taeng–” panggil Leeteuk menatap Taeyeon intensif.

“Ne?”

“Aku tidak peduli apakah kau sudah mulai bosan atau bahkan muak dengan pertanyaanku ini–” Leeteuk mengambil nafas sebentar, “Yang jelas, aku tidak akan pernah berhenti menanyakannya sampai akhirnya kau mau menerimaku. Mau kah kau menjadi kekasihku, Kim Taeyeon?” tanya Leeteuk.

Taeyeon menundukkan kepalanya. Jantungnya berdegup dengan sangat cepat. Ia bingung.

Tiba-tiba Leeteuk meraih tangan Taeyeon, menggenggamnya dengan erat, “Taeng, aku tahu mungkin kau masih trauma. Tapi aku mohon, biarkan aku membantumu menghilangkan traumamu itu. Satu-satunya jalan menghilangkan trauma adalah dengan menantang trauma itu sendiri, Taeng. Jebal~”

“A-aku––ne, oppa. Aku–mau,” jawab Taeyeon kemudian.

Senyum sumringah Leeteuk terkembang ia menatap ke dalam mata Taeyeon yang memancarkan kesungguhan di dalamnya, “Gomawo, Taeng-ah,”

Taeyeon mengangguk kecil dengan senyum tersungging di bibirnya. Leeteuk meraih Taeyeon dalam dekapannya. Dikecupnya puncak kepala Taeyeon dengan sayang. Ia berjanji dalam hati untuk menjaga Taeyeon dan tidak ingin melepasnya walaupun untuk sedetik saja.

=FIN=

yeah~ I know the ending was suck. totally suck. or maybe the whole ff was suck? whatever /plaak <— author careless😄

btw, thanks guys udah mau baca😀

  1. 16 Maret 2011 pukul 4:21 pm

    so sweet! Bang leeteuk so sweet!! Apa lagi pas bagian dia ngomong ‘kau hanya kau yang memiliki hatiku taeng’
    dhuaaaar! Taeteuk jadi beneran dong .__. Nge ship setengah mampus dahh!
    HeeYul nikah xD onnie iparrr😀 chukkae! *gandeng tangan hyuk sambil noel2 pengen nikah* xD /plakk
    sicachu tetep yuaa,dimana2 eksis! Wkwkwk.

    • 16 Maret 2011 pukul 10:01 pm

      yg bagian itu, sebenernya kurang kata ‘tahu’ (HaeSica: ‘TEMPE!’ -__-), jadi harusnya “Kau TAHU hanya kau yang memiliki hatiku, Taeng,” hehehe. soalnya lagi males ngedit sih. ntar aq edit ulang <— authorpemalas XDD
      saya aminin TaeTeuk is real! wakakaka😄
      jangan cuma ditoel2. seret aja langsung sekalian ke KUA! hoakakaka /digorokHyukngajarinkagabener XDD
      TaengSic~<33 duo ahjumma~~<33 /digamparTaengSic😄 kan emang Sica yg paling care sama Taeng. dy aja khawatir banget Taeng suka ngeluh sakit kepala ampe ditulis di surat yg di photobook Phuket(ato apalah itu namanya. saya pelupa ga ketolong -__- XD) hohoho. selain itu, Sica emang lebih jago dalam kasi advice ke org2 .__. (bilang aje biasnya emang Sica XDD)

      thanks ya beb udah baca~ chuuu~ :* (anggap saja itu dari Hyuk /digampar XDD)

  2. 18 Maret 2011 pukul 4:19 am

    edit sana! *tenda winda*
    ahhhh mereka tu pasangan leader yang cocok :3 makanya aku suka.
    Si monyet berat! Susah mau diseret ke KUA! Bantuin gihhh *dicekek hyuk gara2 dikatain monyet*
    iya! Aku baca! Uri sicachu perhatian banget! Unnieee *peluk2 sampe gepeng*
    baca punyaku juga ya😄

    • 27 Maret 2011 pukul 4:34 am

      iyeee~ ude di edit~ sante lho~ (??) hahaha XDDD
      tarik pake tronton beeeb si monyetnyaaaa~ /dicakarHyuk XDD
      haha. iya kan iya kaaaan? dy juga nyuruh Seo banyakin makaan~ aish Sicakuuu~ /digorokGorjess XDD
      udah koq beb :3

      thanks yah beb udah baca and comment😀

  3. Yoonbum
    11 Oktober 2011 pukul 5:09 pm

    bagus onniee
    sangking traumanya si taeng nggak nyadar kalau dia suka sama si teuki kekeke
    huaaaa ada yulhee couple… onnie bikin banyak banyak ff tentang yulhee couple dong hehehehe😀
    polosnya taeng kirain teuki sama yuri nikah hehehehe padahalkan si heenim sama yuri kekekeke

    ok i wanna read your another story again kekeke😀

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: