Beranda > fanfiction, oneshot, songfic, whyenda_arinka > [Songfic/Oneshot] Jigeumchoroem–Just Like Now

[Songfic/Oneshot] Jigeumchoroem–Just Like Now

Title : Jigeumchoroem–Just Like Now
Lenght : Songfic/Oneshot
Genre : Romance
Rating : PG-13
Casts : Super Junior Lee Donghae, SNSD Jessica Jung
Cameo : rest SNSD members
Pairing : HaeSica. Slight TaeNy(If you noticed it lol -__- XD)

Disclaimer : Own nothing but the plot.. maybe? Sigh. Or maybe not, I guess -__-”

A/N : Canon modified. Diambil dari lagu Just Like Now-nya Donghae ft. Ryewook–fyi, one of Ost. It’s Okay Daddy’s Daughter’s drama. Like scrambled pragraph. Liriknya ada yg aku loncat2in (author suka loncat2 sih lol XD) kidding~ soalnya emang sengaja aku buat gitu. Biar pas. Hehehe.😄 POVnya juga masih POV author yang sotoy ini .__. (reader: bosen!)😄 happy reading, guys~😀

==========
That it’s gonna be okay. That it’s gonna be over right away. That as time goes by, it’s gonna fade away. I’ve been living with that belief

“Oppa~ kenapa mereka berkata seperti itu? Kami bahkan baru saja debut, tapi kenapa mereka sudah mengatakan hal yang tidak benar tentang kami?”

Seorang gadis berambut coklat bertanya pada pria yang lebih tua beberapa tahun darinya dengan suara pecah. Bulir-bulir air mata jatuh membasahi pipinya. Matanya merah begitu pula dengan pipinya. Ia menangis hebat. Gadis itu adalah Jessica Jung, salah satu member girlband yang baru saja debut, Girl’s Generation atau yang akrab di telinga dengan nama Seo Nyuh Shi Dae dengan julukan Ice Princess. Bila orang luar melihatnya menangis seperti ini, tentu mereka akan kaget melihat ‘gunung es’ menangis.

“Ssh~ tak apa, Sica-ah, mereka begitu karena mereka tidak tahu kehebatan kalian. Percayalah, seiring berjalannya waktu, semua akan berhenti dengan sendirinya,” pria itu, Lee Donghae–salah satu member boyband Super Junior yang sudah lama debut, menenangkan Jessica.

Donghae menarik Jessica dalam pelukannya untuk menenangkan gadis itu. Ia mengusap punggung gadis itu dengan lembut. Sesekali ia mengelus puncak kepala gadis itu dengan sayang. Mengecupnya beberapa kali sekedar memberi kedamaian pada gadis itu, juga menunjukkan bahwa ia peduli padanya.

“Jinja?” tanya Jessica mendongakkan kepalanya.

“Ne. Percayalah,” jawabnya pasti dengan senyum lebar di wajahnya.

Mendengarnya, Jessica tersenyum lebar dan kembali menyandarkan kepalanya dalam dada bidang Donghae sedang Donghae kembali mengelus puncak kepalanya dan mengecupnya berulang kali.

*

Sometimes because of my bad behaviour. I’ve hurt you. Now little by little. I promise you that I’ll change

“Yoboseyo,” sapa Donghae setelah menekan tombol hijau di ponselnya dan mendekatkannya ke telinganya.

“Yoboseyo, oppa~” balas suara di seberang.

“Ne, Sica-ah, wae geurae?” tanyanya kalem. Ia berusaha bersikap biasa saja–tanpa sebab. Padahal, ia ingin sekali segera meloncat-loncat atau pergi menghampiri gadis itu–di mana pun ia berada.

“Apa kabarmu, oppa?” tanya gadis itu kemudian. Ia bisa menangkap nada gembira di dalamnya, namun itu membuatnya merasa semakin sakit.

“Aku baik-baik saja. Kau sendiri?” tanyanya balik. Ia masih berusaha menjaga agar nadanya terdengar sedatar mungkin.

“Aku baik. Oppa~?”

“Ne?”

“Na gwenchana?”

“Gwenchana, wae?”

“Anni. Kau terdengar sangat––berbeda. Wae geurae, oppa? Kau ada masalah?”

“A–anniyo~ mungkin hanya terlalu lelah saja,”

“Aigoo~ oppa, kau seharusnya banyak istirahat–––ehmm, apa aku mengganggumu, oppa?”

“Sebenarnya–ne. Kau menggangguku,”

“Jinja? Mi–mianhae, oppa. Baiklah, aku tutup dulu ya. Besok aku telepon lagi. Annyeong, oppa~ jangan lupa jaga kesehatan,”

“Hmm. Annyeong,”

Klik. Ia segera mematikan sambungannya. Hatinya semakin terasa perih sekarang. Sangat perih. Namun itu adalah konsekuensi yang harus ia hadapi demi melihat gadis itu tersenyum lagi seperti dulu. Dan tanpa sengaja, ia kembali teringat ketika gadis itu baru saja debut sebagai SNSD. Walaupun mendapat banyak tanggapan positif dari masyarakat, namun tidak sedikit juga komentar negatif yang mereka terima. Dan ketika gadis itu mengetahuinya, ia menangis dalam pelukannya. Satu hal yang paling tidak pernah ia inginkan, melihat gadis itu–Jessica Jung, menangis ataupun bersedih.

Dan belakangan ini–entah berasal dari mana, tersiar kabar akan kedekatannya dengan gadisnya itu. Awalnya ia ingin mengungkapkan kebenaran hubungan mereka di depan publik. Namun begitu melihat begitu banyak komentar negatif, hatinya terasa sakit. Lagi–ia membayangkan bagaimana nantinya gadis itu akan kembali menangis. Kali ini, tentu saja karenanya.

‘Aish! Na jeongmal pabbo saram. Nan pabbo bada jeongmal pabbo, Sica,’ pikirnya, ‘Mianhae, Sica-ah,’

Ia merutuki dirinya yang begitu bodoh membuat gadisnya sendiri sakit. Ia menyadari betapa bodohnya ia justru membuat gadis yang sangat ia sayang menangis. Ia bisa membayangkan gadis itu kini menggerutu sambil memukul kepalanya sendiri–merutuki diri sendiri. Dan hatinya semakin merasa sakit membayangkan hal itu.

Ia menatap wallpaper ponselnya yang berisi fotonya dengan gadisnya, tersenyum lebar. Ia merasa merindukan senyum itu. Tiba-tiba jarinya bergerak memencet angka 2–speed dial untuk gadisnya. Tak lama, ia telah tersambung dengan gadisnya.

“Sica-ah?” panggilnya segera.

“Ne, oppa? Waeyeo?” balas Jessica di seberang.

“Mianhae,” ucapnya.

“Mwo? Untuk apa?” tanya gadis itu merasa bingung.

“Yang tadi––aku–aish! Bogoshipoo~” ia mengucapkan kalimat terakhir dengan nada manja. Ia sadar bahwa ia tidak pernah bisa jauh dari gadis itu.

Terdengar suara tawa kecil di seberang, membuat senyum di bibirnya mengembang sangat lebar, “Na ddo, oppa. Bogoshipoyo~”

Dan begitulah, pembicaraan mereka berlanjut tentang apa saja kegiatan mereka di hari kemarin juga hari esok. Mereka bahkan telah membuat janji untuk sekedar jalan-jalan. Di dalam hati Donghae, ia berjanji tidak akan membuat Jessica menangis lagi. Ia berjanji untuk berubah. Karena ia sadar bahwa kebahagian Jessica adalah dirinya, begitupula sebaliknya.

*

Even on cold nights, even on lonely nights. You were always there for me. But where are you (now)?

Donghae terdiam di balkon kamarnya. Sesekali ia merapatkan jaket yang dikenakannya karena udara malam yang berhembus menggigit kulitnya. Walau begitu, ia tak memperdulikannya dan tetap bertahan di balkon sambil memandangi bintang di langit. Langit malam itu cerah dengan bertaburan bintang. Sangat indah, walau tanpa bulan.

Ia merasa sangat kesepian sekali malam itu. Biasanya, ia tidak pernah sendiri di malam hari. Selalu ada Jessica di sampingnya. Memberinya kehangatan juga kebahagiaan. Sekalipun melalui sambungan telepon. Tapi sekarang, tidak ada kehangatan serta kebahagiaan dari Jessica. Tidak semenjak gadis itu disibukkan dengan kegiatannya di Jepang.

Ia merindukan sosok Jessica. Tawanya, senyumnya, candanya, suaranya, perhatiaannya, bahkan kecerewetan gadis itu yang tidak ada bedanya dengan seorang ahjumma. Walau begitu, ia menyukainya. Lebih dari itu, ia sangat menikmatinya. Ia adalah seseorang yang haus perhatian, dan Jessica selalu ada memberinya perhatian––dulu.

Kini, ia merasa benar-benar sendiri. Ingin sekali rasanya ia melakukan sambungan internasional hanya untuk mendengar suara malaikat gadisnya. Namun ia sendiri takut. Takut bila ia mengusik jadwal gadis itu. Takut bila ia mengganggu waktu istirahatnya. Ia tersenyum getir.

‘Bogoshipo, Sica~’ batinnya.

*

So much that I can see only you. So much that I can love only you. Only you can make my heart. Running toward you, breathing because of you

Donghae tersenyum manis dari bangku penonton yang sangat sepi itu. Di atas panggung sana, berdiri sembilan orang gadis yang tengah tertawa-tawa bahagia. Mereka sedang melakukan rehearsal untuk konser SMTown nanti malam. Senyum yang terkembang di bibirnya semakin lebar seiring dengan tawa seorang gadis di mana matanya terpaku–Jessica Jung.

Ia tidak pernah bosan memandangnya. Merasakan sensasi yang menggembirakan dalam dirinya. Merasakan kupu-kupu berterbangan di perutnya. Merasakan detak jantungnya yang berpacu berkali-kali lipat lebih cepat daripada biasanya. Dan matanya, seolah tak bisa lepas dari gadis itu. Seakan hanya gadisnyalah yang ada di matanya.

Bahkan matanya tetap tertuju pada Jessica hingga gadis itu turun dari panggung dan menghampirinya di bangku penonton, ikut duduk di sampingnya dengan peluh di wajahnya. Ia tersenyum, meraih handuknya sendiri dan mengelap peluh di wajah gadisnya. Wajah Jessica memerah mendapatkan perlakuan seperti itu darinya. Kini jantungnya kembali berpacu lebih cepat dari sebelumnya. Senyumnya kembali terkembang. Sensasi itu tidak pernah hilang sampai sekarang.

“Oppa~” panggil gadis itu.

“Ne?” tanyanya menaruh handuknya di sisi bangku yang lain yang masih kosong.

“Kenapa kau melihatku terus sedari tadi?” tanya gadis itu balik, membuat senyum Donghae kembali mengembang.

“Because––I can see only you,” bisik Donghae lembut membuat wajah Jessica kembali memerah padam. Sekali lagi, detak jantungnya tidak terkontrol. Ia sangat menyukai momen-momen ini.

“So cheesy,” gerutu Jessica membuat tawanya keluar.

Tapi benar, ia memang tidak pernah bisa melihat gadis lain seperti ia melihat Jessica. Jantungnya pun tidak pernah bisa berdetak sangat cepat jika bukan karena Jessica. Hanya gadis itulah yang mampu membuatnya kembali merasa hidup sepeninggal sang ayah. Hanya gadis itulah yang bisa membuatnya kembali menjalani hidupnya dengan sejuta harapan.

*

Always stay just like that, just like that. And say that you love me, love me like this. Always smile just like that, just like that. And say that you’re happy, you’re happy like this

Donghae memasuki ruang latihan member SNSD dengan hati-hati, ia bermaksud memberi kejutan pada gadisnya. Di sana ia mendapati kesembilan member SNSD yang sedang beristirahat. Taeyeon yang terlihat sibuk dengan kertas-kertas yang ia yakini berisi jadwal kesembilan gadis itu bersama Tiffany. Sooyoung dan Yoona duduk tidak jauh dari Taeyeon, menikmati makanan dengan lahap. Hyoyeon menegak minuman dari botolnya, terlihat sangat kelelahan. Sunny sibuk dengan PSP di tangannya.

Di sisi seberang ruangan, Seohyun terlihat tengah mengulang beberapa gerakan dengan posisi masih duduk–tangannya saja yang bergerak-gerak. Sedang Yuri yang duduk di sebelah Seohyun tengah memainkan ponselnya. Dan gadisnya, terlihat menyandarkan kepalanya di bahu Yuri sambil bermain dengan ponselnya juga serta mendengarkan musik dari iPodnya. Ia tersenyum lebar melihat wajah gadisnya yang terlihat serius.

“Opp–” ia segera memutar kepalanya ke sumber suara dengan tangan di bibirnya, memberi isyarat untuk diam.

Sooyoung yang tadinya ingin menyapa Donghae hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, mengurungkan niatnya untuk menyapa salah satu sunbaenya itu. Beberapa member juga sempat melihat ke arahnya, namun segera mengangguk mengerti setelah ia memberi isyarat untuk tetap diam.

Perlahan, ia berjalan mengendap-endap mendekati Jessica dan berdiri di belakangnya. Ia melihat apa yang tengah dilakukan gadinya–melihat-lihat foto mereka. Senyum kembali mengembang di bibirnya. Terlintas ide jahil di otaknya.

Dengan segera ia meraih ponsel gadis itu, membuat sang pemilik terduduk kaget dan berbalik menghadapnya. Kedua mata Jessica membulat. Bibirnya dikerucutkan dengan kesal sementara ia tertawa melihat reaksi lucu dari gadisnya. Sebuah reaksi yang sesuai dengan perkiraannya.

“Oppa~ kembalikan ponselku~” rajuk Jessica.

“Anniyo~” elak Donghae. Ia sibuk meninggikan ponsel di tangannya dari tangan Jessica yang menggapai-gapai.

“Oppa~” rajuk Jessica lagi dengan nada manja.

“Anni~ mehrong~” elak Donghae lalu menjulurkan lidahnya dan berlari keluar diikuti Jessica.

Member SNSD yang lain hanya menggelengkan kepala mereka melihat tingkah pasangan tersebut. Bukan sesuatu yang tidak biasa bagi mereka. Justru sangat biasa. Mereka bahkan telah memperkirakan sebelumnya bahwa Donghae pasti akan datang dilanjutkan dengan aksinya menjahili Jessica. Dan mereka, seperti biasa tak mengacuhkannya.

Di koridor gedung SM Ent., Jessica berlari mengejar Donghae yang membawa kabur ponselnya. Senyum penuh kemenangan tercetak jelas di wajah Donghae sedang Jessica di belakangnya berlari dengan ekspresi yang sangat memohon. Memohon agar ponselnya dikembalikan.

“Oppa~” panggil Jessica. Gadis itu menghentikan larinya tepat di hadapan Donghae yang masih menyunggingkan senyum jahilnya. Kedua tangannya ia sembunyikan di balik punggungnya.

“Ada yang bisa saya bantu, Miss?” tanyanya manis.

“Ponselku–” rajuk Jessica.

Senyum Donghae berubah menjadi kerutan di keningnya, “Ponsel anda?” ulangnya.

“Oppaaa~” rajuk Jessica manja.

“Neeee?” balas Donghae kembali menyunggingkan senyum jahilnya.

“Ponselkuuuu~” ucap Jessica manja.

“Aku tidak membawanya tuh~” ujarnya lagi.

Jessica kembali mengerucutkan bibirnya sebal. Donghae yakin gadis itu benar-benar kesal padanya. Tawanya meledak seketika melihat tingkah Jessica yang menggemaskan. Dan tanpa bisa dicegahnya, ia menempelkan bibirnya di bibir gadis itu cepat. Pipi Jessica memerah, membuat senyumnya semakin lebar.

“Aish oppa~ kembalikan ponselku~” mohon Jessica. Gadis itu meraih tangan kiri Donghae ke depan, namun tak ada ponselnya di sana. Ia pun menarik tangan kanan Donghae ke depan. Sekali lagi, ponselnya tidak ada.

“Oppaaaa~” mohon Jessica.

“Tapi aku tidak membawa ponselmu. Kau lihat sendiri~” jawab Donghae.

Tawanya kembali meledak melihat kedua pipi Jessica yang menggembung menggemaskan. Sangat lucu. Ia mencubit pipi Jessica gemas, membuat gadis itu mengerang kesakitan.

“Aigo~ baiklah–sepertinya aku bisa membantumu menemukan ponselmu,” ucap Donghae akhirnya membuat senyum Jessica mengembang.

Senyum lebar Donghae tergantikan dengan tatapan penuh tanya, “Apa itu di belakang telingamu, Pretty Sica?” tanyanya.

Ia menjulurkan tangannya ke belakang telinga kiri Jessica sementara gadis itu sedikit menundukkan kepalanya, membiarkan tangan Donghae menggapai belakang telinganya.

“Ah~ lain kali, jangan lupa kalau kau menyelipkan ponselmu di balik telingamu, cantik,” ucap Donghae kemudian.

Ia menarik tangannya yang telah menggenggam ponsel Jessica dan menunjukkannya di depan gadis itu. Jessica segera meraih ponselnya lalu memukul lengan Donghae pelan. Ia menggembungkan pipinya sebentar kemudian tertawa bersama Donghae.

“Saranghae, Jung Sooyeon,” bisik Donghae lembut.

“Na ddo saranghaeyo, Lee Donghae,” balas Jessica.

Donghae tersenyum manis mendengarnya. Ia berharap ia bisa selalu mendengar gadisnya mengucapkan kata-kata itu padanya. Ia berharap bisa selalu melihat tawa gadisnya itu. Ia juga berharap, Jessica akan terus mencintainya dan tetap bahagia bersamanya.

*

Sometimes when I’m down. Sometimes when I’m tired. As my tears drop, I think of you. Not until now I realized. The love that you showed me

Donghae berbaring di atas kasurnya dalam diam. Kedua tangannya ia lipat di bawah kepalanya. Matanya tidak mau terpejam barang sedetikpun. Padahal waktu telah menunjukkan tengah malam lewat. Tapi entah kenapa, rasa kantuk belum juga menyapanya. Mungkin ia terlalu banyak pikiran.

Ia menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih bersih. Mengingat segala hal yang pernah terjadi dalam dirinya. Ketika ia masih berumur 5 tahun. Ketika ia mulai masuk sekolah. Ketika ia SD, SMP, bahkan SMA. Ketika ia meninggalkan kampung halamannya. Ketika ia memulai masa traineenya. Ketika ia mengenal Jessica. Ketika ia memulai debutnya. Ketika–ayahnya meninggal. Semua berputar dalam otaknya bagai sebuah film. Sebuah film yang menceritakan kehidupannya.

Ia ingat dengan sangat jelas ketika ia masih menjadi seorang trainee, ia merasa sangat lelah. Tidak jauh beda dengan trainee yang lain yang merasa stress, terkadang ia pun ingin sekali kabur. Namun Jessica pasti mencegahnya. Menenangkannya. Memberinya semangat. Ia tersenyum sendiri mengingatnya.

Lalu sebuah kenangan kembali hadir dalam otaknya. Kenangan ketika akhirnya ia mengetahui ayahnya telah berpulang pada sang Pencipta. Ia benar-benar merasa sangat kehilangan. Ia merasa kehilangan arah dan tujuan. Dan sekali lagi, Jessica membantunya. Membimbingnya menemukan lagi arah dan tujuannya. Ia mungkin tidak bisa berada di sini kalau saat itu tidak ada Jessica. Senyum simpul kembali menghiasi wajahnya.

Betapa ia rindu pada gadis itu. Pada gadisnya, Jessica Jung. Sudah hampir seminggu ini mereka tidak bertemu karena kesibukan gadisnya promosi di Jepang. Ia merasa bersyukur mengenal dan memiliki gadis itu bersamanya. Jessica yang selalu ada untuknya. Menghiburnya. Memperhatikannya. Menyayanginya. Ia merasa ia bukanlah apa-apa tanpa cinta dan kasih sayang yang selalu gadis itu berikan padanya.

‘Gomawo, nae Sica-ah. Saranghaeyo,’ batinnya dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.

*

When you look at me, when you love me. I can’t give you for anything in this world. Now stay in my embrance like this

Malam itu, Donghae terduduk di sebuah taman sendirian. Waktu telah menunjukkan pukul dua belas lewat lima, namun orang yang ditunggunya masih belum datang–membuatnya sedikit khawatir. Tidak, ia tidak khawatir sesuatu terjadi pada orang yang ia tunggu mengingat ia menunggu di taman yang memang berada di gedung apartement di mana orang tersebut tinggal. Ia justru khawatir bila orang yang ditunggunya tertidur dan melupakan janji mereka. Ia benci dilupakan.

“Oppa!” panggil seseorang di belakangnya.

Ia segera berdiri dan berbalik demi melihat siapa yang memanggilnya. Senyum penuh kelegaan segera terkembang begitu orang yang memanggilnya adalah orang yang ia tunggu sedari tadi. Ia segera berjalan menghampiri orang itu, atau tepatnya–gadisnya.

“Mianhae oppa aku terlambat. Taeng terus bertanya,” mohon gadis itu.

“Gwenchana,” ucapnya.

Ia meraih wajah gadisnya lalu mengecup keningnya dengan sayang. Entah sudah berapa lama mereka tidak bertemu dan itu membuat Donghae hampir mati karena ia merindukan sosok gadisnya yang selalu ada untuknya itu. Bahkan ia sering meloncat-loncat tidak jelas setiap malam demi mendengar suara malaikatnya.

Jessica menatap Donghae yang sibuk menyusuri wajah gadis itu dengan kesepuluh jarinya. Menyentuh keningnya, menelusuri alisnya, hidungnya, kedua pipinya, bibirnya, hingga dagunya. Betapa ia sangat merindukan gadisnya. Merindukan tawanya. Candanya. Tingkahnya. Sifatnya. Segalanya. Ia tersenyum lalu menatap kedua mata indah yang sedari tadi menatapnya. Tiba-tiba ia merasa gugup.

“I miss you,” gumamnya lembut. Tangan kanannya mengelus pipi gadis itu sayang.

“Miss you too, oppa––I love you,” ucap Jessica kemudian. Donghae tersenyum lebar mendengarnya dan segera menarik gadisnya ke dalam pelukannya. Mendekapnya erat. Begitu pula Jessica yang membalas pelukan Donghae.

Ia mengusap rambut Jessica yang tergerai dengan indahnya lalu mengecup puncak kepalanya. Terkadang, ingin sekali ia menghabiskan seluruh waktu yang ia miliki hanya untuk bersamanya. Melakukan aktivitas bersama-sama layaknya pasangan yang lain. Namun dengan status yang ia miliki saat ini, tidak mungkin ia bisa melakukannya. Mengingat ia juga memiliki begitu banyak fans yang terobsesi dengannya.

“Jigeum ireoke nae pume isseojwo(Now stay in my embrance like this),” bisiknya lirih di telinga Jessica.

*

Love love love, love love love. And now again, I’m gonna. I’m gonna love you. Always just like now

Donghae menutup kedua mata Jessica dengan kedua tangannya. Dengan hati-hati ia menuntun gadis itu menuju sebuah tempat. Sebenarnya, tempat itu bukanlah sebuah tempat spesial. Bahkan mungkin, tidak ada hal spesial sama sekali di sana bagi orang lain. Namun tidak bagi mereka. Tempat itu merupakan tempat spesial mereka.

“Yak! Sampai~” seru Donghae lalu melepas kedua tangannya.

Jessica membuka kedua matanya perlahan. Ia mengedipkan kelopak matanya beberapa kali, mencoba membiasakan matanya dengan sinar yang terang benderang hingga akhirnya ia bisa melihat dengan jelas. Sebuah lapangan bola yang ditumbuhi rumput hijau pendek terhampar di depannya. Perlahan senyum gadis itu terkembang seiring ingatan akan apa saja yang pernah terjadi ketika ia berada dalam lapangan tersebut.

Donghae melingkarkan tangannya di pinggang Jessica, “Kau ingat saat kita berlari saling berebut bola di sana? Kau menedang kakiku dan aku menjambak rambutmu?” tanyanya di telinga gadis itu dengan senyum manisnya.

Jessica mengangguk kecil. Bagaimana ia bisa melupakan kenangan seindah itu?

“Kau ingat ketika kita jatuh tertidur beralas rerumputan lembut dengan peluh yang mengalir deras?” tanyanya lagi dibalas dengan anggukan lagi oleh Jessica.

“Ingat ketika aku atau kau marah, kita akan datang ke sini lalu menendang bola dengan sekuat tenaga memasuki gawang hingga jaringnya berlubang karena terlalu kerasnya menendang?” sekali lagi Jessica hanya mengangguk.

“Ingat sepatu bola yang kita perebutkan dan akhirnya kita hanya memiliki sebelah saja? Kau bagian kanan dan aku bagian kiri?”

“Ne, oppa. Aku juga ingat kita pernah bermain sepak bola dari hujan turun hingga akhirnya reda,” tambah Jessica. Ia meletakkan kepalanya di dada bidang Donghae.

“Dan setelah itu aku terserang pilek sedang kau flu,” kali ini Donghae tertawa diikuti Jessica.

“Mau bermain lagi? Kalau kau berhasil mencetak gol lebih dulu dariku, aku punya sesuatu untukmu,” tanya Donghae membuat Jessica mendongak menatapnya dengan senyum lebar.

“Siapa takut?” tantang Jessica.

Dan akhirnya, keduanya turun ke lapangan untuk bermain bola. Mereka mengingat kenangan masa lalu mereka. Menendang bola. Mengejek. Memukul. Mengganggu. Dan yang lainnya. Ketika Jessica akan mencetak gol, Donghae segera menerjang gadis itu hingga terjatuh ke tanah. Ia mengelitiki gadis itu. Keduanya kini sibuk bergelut di atas tanah. Tawa keduanya membahana di sana.

“Ya oppa! Biarkan aku mencetak gol! Hahaha~” jerit Jessica sambil melancarkan serangan pada Donghae yang mengelitikinya tanpa ampun.

“Haha. Arra, arra,” ucap Donghae.

Ia menghentikan aksinya dan terduduk diikuti Jessica. Gadis itu mengerucutkan bibirnya sebal, membuat Donghae tersenyum simpul. Ketika Jessica akan berdiri, ia segera menahannya–membuatnya menerima tatapan penuh tanda tanya.

“Aku ingin, kau juga mengingat hari ini sama seperti ketika kau mengingat kenangan kita dulu,” mulainya.

Jessica memiringkan kepalanya sedikit menatap Donghae, “Maksudmu, oppa?” tanyanya bingung.

Donghae tersenyum lalu merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah di dalamnya. Dibukanya kotak itu di hadapan Jessica, “Jessica Jung Sooyeon, aku tahu aku hanyalah pria biasa yang tidak memiliki apa-apa selain cintaku untukmu. Oleh karena itu, maukah kau menikahi pria malang ini?”

Jessica tersentuh, air matanya menggenang di pelupuk matanya, “A–aku––tentu aku mau, oppa,”

Donghae tersenyum lalu menyelipkan cincin perak yang ada di dalam kotak kecil itu. Ia menatap Jessica masih dengan senyum khasnya. Di raihnya Jessica dalam pelukannya. Memeluknya dengan erat.

“You’re like a queen of beautiful I just can’t be without you, girl,” senandungnya lirih tepat di telinga Jessica.

“And I’m gonna love you always, just like now,” ucapnya lalu menarik wajah Jessica agar sejajar dengannya.

Perlahan, ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Jessica lalu mencium bibir merahnya. Ia menciumnya lama dan dalam seakan tak ingin melepasnya walau hanya sedetik. Senyum terukir dari bibir keduanya di sela-sela ciuman mereka.

=FIN=

tiap denger nih lagu, ya ini cerita yg selalu kebayang. hahaha. setelah lama bingung menuangkan ke dalam bentuk tulisan, akhirnya terlaksana juga. hahaha XDD

so~ how it is? hope you like it😀

btw, senin author udah uts nih. mian ya ga bisa sering2 update lagi~
(readers: biasanya juga kaga pernah update -__-“)😄
don’t miss me yaaa~ /kabursebelomditimpukgalon XDD

thanks for reading😀

  1. 1 April 2011 pukul 2:27 pm

    uwoo.. suka suka suka😄
    pokokny trik suka dah ama semua FFmu yg HaeSica😄
    paling suka scene yg lagi d lapangan ntu😀
    sweeeettt…..

    • 2 April 2011 pukul 10:34 am

      hihihi. gomawoyo Trik~ aigooo~ *peluk Trik ampe gepeng*kabur dri Kyu* XDD

      aah~ sama! itu juga scene yg paling aq suka😄 wkwkwk😄

      thanks ya chingu udah baca~ :3

  2. gorjess_spazzer
    3 April 2011 pukul 5:17 pm

    sukaaaaa…..*triak pke Toa*
    bnyk2 z dc eon,, buat ff ttg HaeSica.. n,n

    • 6 April 2011 pukul 3:06 pm

      *sumpelin kuping pake ikan (?)*😄

      hahaha. makasih saeng~
      pasti aq banyak2 buat HaeSica kok :3

      makasih ya saeng udah baca and commet🙂

  3. raa
    6 April 2011 pukul 5:07 pm

    bguss…😀
    kena bgt antara crta ma lirikny d^^b

    • 12 April 2011 pukul 1:59 pm

      omoo~ jinja? padahal itu ada bbrpa yg stuck trus aq asal /kaco😄

      makasih juga chingu udah baca and komen😀

  4. 14 April 2011 pukul 9:29 pm

    eaaaa always suka sama ff HaeSica mu beb😀
    ngebayangin mereka berdua beneran .___.
    cocok pisan!
    ayo dong jadiaaan /plakk

    • 15 April 2011 pukul 9:10 pm

      ihihihihi~ makasih bebeeeeeb~ /lemparHyuk :3
      oh jelas~ mereka pasangan yang—epic! hahaha (kayak apaan aja -__-) XDDD
      yah~ daku sih mencurigai mereka ada something~ tapi itu urusan mereka~ wkwkwk XDD

      thanks beb for reading and comment~😀

  5. 1 Juni 2011 pukul 8:25 pm

    sukaaaaaaa bangeeeet!
    seneng ya jadi jessica disini hehehe

    • 5 Juni 2011 pukul 6:40 am

      ehehehe. thanks. tiap denger lagu Just Like Now selalu kebayang ini, makanya aku tulis😄
      ahahaha. seneng gimana? 0.o

      thanks for reading and comment😀

  6. 12 Juni 2011 pukul 8:59 pm

    oh my good is good ff
    it’s so romantic
    ya ommmoo~
    keren cingu suer deh
    ahhhh saya suka ff mu tentang haesica nya
    the best

  7. 12 Juni 2011 pukul 9:00 pm

    oh my good is good ff
    it’s so romantic
    ya ommmoo~
    keren cingu suer deh
    ahhhh saya suka ff mu tentang haesica nya
    the best love yaaaa

  8. vankaka
    1 Desember 2014 pukul 1:17 am

    HaeSica beralih profesi, jadi pemain bola tuh.. hahah
    keren! manis banget

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: