Beranda > fanfiction, oneshot, whyenda_arinka > [Oneshot] The Arranged Marriage

[Oneshot] The Arranged Marriage

Title : The Arranged Marriages
Length : Oneshot
Rating : G
Genre : Romantic, Family, Friendship, Comedy
Casts : Super Junior Kim Kibum, Lee Yoona(SNSD Im Yoona), Super Junior Lee Donghae

Disclaimer : semua milik Tuhan. Tapi saya penulisnya(?).

A/N : Kenapa marga Yoona jadi Lee instead of Im? Cause––you’ll find it by yourself after read the whole story😉

=============
(Author’s POV)

“Yoona, bisa appa bicara sebentar?” tanya seorang pria berumur pertengahan pada anak gadisnya yang tengah menonton tv.

“Ne,” jawab gadis itu lalu beranjak mematikan tvnya dan menghampiri sang ayah yang duduk di ruang tamu.

“Waeyo, appa?” tanyanya kemudian setelah menghempaskan dirinya di kursi yang berhadapan dengan sang ayah.

“Begini, kau tahu kalau harabojimu pernah memiliki janji dengan temannya?” tanya sang ayah.

“Tidak, janji apa itu, appa?”

“Harabojimu pernah berjanji untuk menjodohkan anaknya dengan temannya itu. Tapi anak harabojimu, appa, dengan temannya saat itu sesama jenis, jadi tidak mungkin menjodohkan kami,” jelas pria itu.

“Lalu?” tanya anak gadisnya. Ia merasakan firasat buruk sekarang.

“Lalu, harabojimu dan temannya itu merencanakan untuk menjodohkan kedua cucu mereka,” jawab sang ayah.

Gadis itu, Lee Yoona, mengerjap-ngerjapkan kedua matanya beberapa kali. Ia mencoba mencerna apa yang dikatakan ayahnya. Ia mecoba mengingat-ingat hari apa itu, berharap itu adalah tanggal lahirnya dan ayahnya tengah membual padanya. Atau, ia berharap hari itu adalah april mop. Tapi sayangnya, tidak ada satupun dari harapan gadis itu yang nyata. Hari itu bukan hari ulang tahunnya, bahkan april mop telah lewat sepuluh bulan.

“Appa.. bercanda kan? Maksud appa, aku.. sudah di..jodohkan?” tanyanya berusaha memastikan.

“Mian, sayang, appa tidak berbohong. Kamu sudah dijodohkan dengan cucu dari teman harabojimu,” jawab sang ayah.

Gadis itu mematung. Ia merasa dunianya runtuh. Ia memang belum memiliki kekasih ataupun tambatan hatinya untuk saat ini. Tapi tetap saja, gadis mana yang ingin dijodohkan dengan seseorang? Terlebih, mungkin adalah orang yang sama sekali belum pernah ia kenal sebelumnya.

Ia berdiri dari duduknya. Ingin rasanya ia meneriaki ayahnya, tapi ia bukanlah tipe gadis pembangkang. Akhirnya ia pun pergi meninggalkan ayahnya sendiri di ruang tamu. Yang ada di pikirannya saat itu hanyalah lari. Lari ke mana pun kakinya membawanya pergi. Lari ke mana pun sejauh kakinya mampu berlari.

Pikirannya benar-benar kacau saat itu. Ia merasa tidak terima akan perjanjian itu. Kenapa harus ia? Kenapa bukan orang lain saja? Kenapa harus ada perjanjian itu? Apa yang harus ia lakukan? Siapakah pria yang akan dijodohkan dengannya? Dan pertanyaan apa, siapa, kenapa, dan bagaimana yang lainnya.

Ia berhenti di sebuah taman bermain yang tak jauh dari rumahnya. Pandangannya kosong menatap taman bermain yang sepi itu. Dilangkahkannya kakinya yang jenjang menuju sebuah ayunan yang berayun pelan tertiup angin. Ia pun duduk di sana dalam diam. Tatapannya masihlah kosong. Ia masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan sang ayah tadi.

Tanpa ia sadari, seseorang telah duduk di ayunan yang berada di sampingnya. Orang itu ikut berayun-ayun kecil disampingnya. Tatapannya terus terarah padanya, seakan ia mengerti akan tabiat gadis yang juga berayun-ayun kecil di sampingnya.

“Ada masalah?” tanyanya kemudian mengagetkan gadis di sampingnya.

Gadis itu kembali ke dunia nyatanya dan menoleh ke sampingnya ketika mendengar sebuah suara di dekatnya. Ia menatap seorang pria awal dua puluh tahun yang duduk di samping ayunannya sejenak. Tanda tanya besar seolah terpatri di wajah manisnya. Sejak kapan pria itu duduk di ayunan yang berada di sampingnya? Kenapa pria itu bisa berada di sana bersamanya?

“Aku melihatmu berlari keluar rumahmu dengan keadaan yang kacau. Kukira kau ada masalah, lalu aku membuntutimu. Jadi?” jelas pria itu.

Gadis itu menghela nafas sejenak. Pria itu, Kim Kibum, adalah tetangganya. Sahabatnya sejak ia lahir. Umurnya memang sebaya dengan oppanya, tapi mereka sering bermain bersama karena ia tidak memiliki teman lain selain oppanya di perumahannya.

“Aku.. dijodohkan,” jawabnya lirih.

“Kau tidak bisa menerimanya?” tebak Kibum diikuti anggukan kecil darinya.

“Well, kalau begitu kita sama,” ucapnya kemudian.

“Jinja? Dengan siapa, oppa?” tanyanya kaget.

“Aku tidak tahu, Yoona-ah. Yang kutahu, appa dan umma telah menjodohkanku dengan seseorang,” jawabnya kalem. Sebuah senyum manis bertengger di bibirnya. Tatapannya terarah sepenuhnya pada gadis yang ia sudah anggap yeodongsaengnya sendiri.

“Oppa.. terima?” tanya gadis itu lagi yang dijawab gelengan kecil dari orang yang ditanyainya.

“Tapi aku tak bisa menolaknya,” ucap Kibum datar.

Gadis itu mengangguk-angguk mengerti. Keadaannya sama persis dengan Kibum. Sama-sama dijodohkan dengan seseorang yang belum ia kenal. Mereka sama-sama tidak terima, tapi kenyataanya, mereka juga tidak bisa menolaknya.

“Yoona-ah, apa mungkin, kalau kita sudah punya kekasih sendiri-sendiri, perjodohan yang kita terima dibatalkan?” tanya Kibum kemudian.

“Maksud oppa?” tanya Yoona.

“Mungkin, kalau kamu sudah punya tambatan hati, apa mungkin perjodohanmu dengan orang lain masih berlanjut?” jelas Kibum.

Gadis itu berpikir sejenak. Ide Kibum ada benarnya. Mana mungkin perjodohan sialan itu masih akan diteruskan kalau ia ternyata telah memiliki seseorang? Sudah pasti, orang yang dijodohkan dengannya akan menolaknya, bukan!? Yang menjadi masalahnya sekarang adalah, siapa? Siapa yang mau berpura-pura menjadi kekasihnya? Ia menghela nafas panjang.

“Kurasa, sudah pasti dibatalkan, oppa. Tapi masalahnya, siapa yang mau?” bingung gadis itu.

“Kalau begitu, aku mau,” jawab Kibum.

Ia berbalik menatap gadis itu yang balas menatapnya dengan tatapan kaget. Ia sadar bahwa bagi gadis itu, ini terasa aneh. Gadis itu selalu menganggapnya layaknya oppa kandungnya, begitu pula sebaliknya. Tapi, apa salahnya demi menggagalkan perjodohan sialan itu? Ia bahkan tidak menutupi kenyataan bahwa hanya gadis yang berada di hadapannya inilah yang mampu menarik perhatiannya.

“Agar perjodohan ini dibatalkan, kenapa engga?” ucap Kibum menatap Yoona penuh arti.

“Sebegitu tidak setujunya kah oppa akan perjodohan oppa itu?” tanyanya kaget.

“Ya. Aku tidak suka dengan perjodohan yang mengekangku seperti itu,” jawab Kibum.

“Baiklah, aku terima. Deal?”

“Deal!”

Keduanya tersenyum lebar dengan kedua kelingking mereka saling bertautan. Mereka merasa, permasalahan mereka selesai. Setidaknya, untuk saat ini, keduanya tidak perlu memusingkan perjodohan sialan itu. Mereka berharap perjodohan itu segera dibatalkan. Yah, harapan seseorang bisa saja terkabul, bisa saja tidak.

*

“Umma~” panggil Yoona manja. Ia tengah membantu ummanya di dapur saat ini.

“Hmm?” gumam sang ibu yang tengah sibuk memotong wortel tipis-tipis.

“Umma, kalau aku sudah punya namjachingu, apa mungkin perjodohanku dibatalkan?” tanyanya hati-hati, namun ibunya hanya tertegun mendengar pertanyaan anak bungsunya.

“Memang nae ttal sudah punya namjachingu?” goda sang ibu kemudian, berharap itu hanyalah gurauan anaknya.

“Ne. Tentu saja aku punya, umma,” jawab gadis itu yakin. Ibunya berhenti memotongi wortelnya.

“Sebaiknya kamu lihat dulu siapa yang dijodohkan denganmu,” jawab sang ibu akhirnya.

“Ah, umma~” rengeknya yang tak ditanggapi oleh sang ibu.

“Umma, kenapa harus aku yang dijodohkan dengan cucu temannya haraboji? Kenapa bukan Donghae oppa saja?” protes gadis itu kemudian.

“Hei miinah~ aku dengar ada yang menyebut-nyebut nama si tampan ini, ada apa?” celetuk seorang pria yang baru saja memasuki rumah melalui pintu belakang yang memang berdekatan dengan dapur.

“Cih,” gumam Yoona mendengar celetukan oppa satu-satunya itu.

“Nih yeodongsaengmu,” jawab sang ibu kalem sambil memasukkan wortel yang telah dipotong-potong ke dalam panci berisi air mendidih.

“Ah, nae yeodongsaeng, waegeurae?” tanya Donghae menatap sang adik sambil melipat kedua tangannya di atas pantry.

“Aku bertanya pada umma, kenapa harus aku yang dijodohkan dengan cucu temannya haraboji dan kenapa bukan oppa saja yang dijodohkan?” protes gadis itu pada oppanya yang membuat tawa Donghae meledak sebagai respon.

“Dengarkan aku ya, yeodongsaengku yang paling cantik karena memang kaulah satu-satunya adikku,” ucapan Donghae terhenti sejenak karena adiknya mencubit lengannya gemas, “karena, aku pria normal,” lanjutnya enteng. Yoona menaikkan sebelah alisnya heran.

“Apa hubungannya dengan oppa adalah pria normal?” cetusnya tak mengerti.

“Aigo~ begini, yeodongsaengku sayang, cucu temannya haraboji itu cucu tunggal, berarti dia berjenis kelamin pria, bukan? Karena itulah oppa bilang kalau oppa itu lelaki NORMAL,” jelas Donghae dengan memberi penekanan pada kata terakhir membuat tawa sang ibu meledak.

“Aish!” gerutu Yoona sebal.

“Sudah, kau terima saja,” saran Donghae pada adiknya.

“Tidak bisa! Aku sudah punya namjachingu!” elak Yoona ketus.

“MWO? Siapa namjachingumu? Pasti tidak jauh lebih baik dengan pria yang dijodohkan denganmu,” ejek Donghae.

“Tentu saja JAUH LEBIH BAIK!” tekan gadis itu sebal.

“Memang oppa tau siapa ‘orang itu’?” tanyanya kemudian.

“‘orang itu’?” ulang Donghae bingung sementara adiknya memutar kedua bola matanya.

“Oh~ tentu saja oppa tahu!” seru sang oppa setelah mengetahui maksud si adik.

“Siapa, oppa?” tanyanya penasaran.

“Ra-ha-si-a.” jawab Donghae dengan memberikan penekanan pada setiap suku katanya, membuat sang adik menggembungkan kedua pipinya sebal.

“Lihat saja siapa dia besok, manis,” seru Donghae mencubit pipi kiri si adik dan melesat pergi ke kamarnya.

“Ya, oppa! Appeu!” seru si adik namun sia-sia.

“Umma~ apa yang dikatakan Donghae oppa itu.. benar? Mereka akan ke sini besok?” tanyanya kembali merajuk pada sang umma.

“Mereka tidak akan ke sini, kita juga tidak akan ke sana. Tapi kami mengadakan janji untuk makan malam di sebuah restoran besok. Jadi, pastikan kau tidak ada acara dengan namjachingumu itu, arasseo!?” jawab sang ibu mendikte anak bungsunya.

“Tapi umma–”

“Tidak ada tapi, sayang,” potong sang ibu membuat anak gadisnya itu kembali menggembungkan kedua pipinya.

“Ayolah, kau harus kenal dulu pada mereka. Atau setidaknya, mengetahui persahabatan yang terjalin diantara keluarga kita dengan keluarga mereka. Kalau tidak salah, seumuran dengan oppamu, berapa? Dua puluh tiga tahun ya? Ah, lama sekali, bukan?” jelas sang ibu sambil sedikit bersenandung.

Gadis itu hanya mendengus sebal dan berlalu menuju kamarnya, meninggalkan ibunya yang menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak bungsunya. Tapi beliau memakluminya dan akhirnya kembali dengan kesibukannya, memasak makan malam.

*

“Ahjumma, Kibum oppa di mana?” tanya Yoona pada seorang wanita yang tengah duduk sambil membaca majalah di teras rumahnya. Beliau adalah mrs. Kim, tetangganya.

“Di kamarnya, ada apa sayang?” jawab mrs. Kim ramah.

“Ada deh. Aku ke kamarnya oppa ya, Jumma!?”

Tanpa perlu mendengar persetujuan dari wanita paruh baya itu, ia segera melesat ke dalam rumah menuju kamar Kibum. Wanita itu hanya tersenyum kecil dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia cukup terbiasa dengan kelakuan gadis itu, bahkan wanita itu telah menganggapnya seperti anak sendiri.

“Oppa~” panggil gadis itu manja ketika ia membuka pintu kamar Kibum oppanya.

Kibum yang tengah duduk di tepi kasurnya sambil memetik gitar kesayangannya, segera menoleh ke arah pintu kamarnya yang menjeblak terbuka diikuti seorang gadis manis memasuki kamarnya. Ia tersenyum kecil lalu menyenderkan gitarnya pada tembok kamarnya.

“Hmm? Wae, Yoona-ah?” tanyanya sambil menepuk-nepuk kasur kosong di sampingnya, menyuruh gadis itu duduk di sampingnya.

Dengan segera, gadis itu menghempaskan dirinya di kasur Kibum, tepat di samping pria itu. Ia merebahkan dirinya begitu saja dan menghela nafas panjang. Kibum ikut merebahkan dirinya di samping gadis itu, matanya tak bisa lepas darinya.

“Umma bilang, besok aku akan bertemu dengan orang yang akan dijodohkan denganku,” jawab gadis itu sambil menggembungkan kedua pipinya. Ia menoleh menatap balik pria di sampingnya.

“Oppa, ayo kita pergi besok~ mungkin kalau aku bilang akan pergi dengan oppa, umma dan appa akan membatalkan acara besok~” rengeknya.

Kibum menatap langit-langit kamarnya dengan kening yang sedikit berkerut, seolah mengingat-ingat acaranya hari esok. Ia ingin sekali menuruti keinginan gadis di sampingnya itu, tapi ia terngiat sesuatu. Teringat bahwa ia telah berjanji untuk menemani kedua orang tuanya menemui teman mereka.

“Mian, jagi, besok aku sudah janji menemani umma dan appa bertemu teman beliau,” tolaknya halus.

Gadis itu mengerucutkan bibirnya, terlihat tidak puas dengan jawaban yang diberikan Kibum. Sudah jelas, ia tidak bisa lari dari kenyataan. Kenyataan memang harus dihadapi, bukan? Dan kali ini, ia tak bisa mengelak lagi.

“Yah, mungkin kalau aku mengenalnya dan memberitahu orang itu bahwa aku sudah punya namjachingu, mungkin dia akan meminta perjodohan ini dibatalkan,” ucapnya kemudian.

“Mianhamnida, jagi,” gumam Kibum.

“Gwenchana, oppa,” balasnya tersenyum.

Kibum bangkit dari tidurnya dan mengelus puncak kepala gadisnya sayang.

*

“Umma, kenapa Donghae oppa tidak ikut?” rajuk Yoona ketika melihat Donghae hanya duduk bersantai di depan tv dan menggonta-ganti channel tv dengan tidak minat.

“Aku ada janji kencan dengan yeojachinguku! Bwee~” ejek Donghae membuat adiknya menggembungkan kedua pipinya kesal.

“Memang ada yang mau kencan denganmu, oppa?” cetusnya kemudian.

“Tentu saja ada! Memang ada yang mau menikahi anak kecil sepertimu?” balas Donghae terkekeh.

“Ya! Aku hampir lulus sekolah atas, oppa!” serunya sebal.

“Memang ada gadis normal yang mau denganmu?” cetusnya lagi lebih sengit.

“Hahaha. Ada, Jung Sooyeon contohnya,” jawab Donghae bangga.

“Cih. Ratu es berjalan saja kau bilang normal,” cibir adiknya.

“Sirik ya, yeojachinguku cantik!?” balas Donghae sedikit tidak terima.

“Sudah! Sudah! Kalian ini! Ayo berangkat, Yoona! Donghae, jaga rumah! Jangan macam-macam dengan Sooyeon,” titah sang ibu menengahi adu mulut kakak beradik itu.

“Beres, umma. Semua pasti baik-baik saja. Umma akan segera menimang cucu!” celoteh Donghae asal.

“Lee Donghae!” seru sang ibu lalu mencubit lengan anak lelakinya gemas.

“Hehehe, bercanda, umma,” kekeh Donghae.

“Ya sudah, ayo berangkat. Awas ya, Donghae, jangan macam-macam,” wanti sang ayah.

“Ne, ne. Hati-hati di jalan, umma, appa, dan yeodongsaengku, terima saja ‘orang itu’ daripada kau menyesal melihatku sibuk dengan Sooyeonku,” seru Donghae pada adiknya yang telah mengenyakkan diri di jok belakang.

“Bawel!” gerutu sang adik membuat Donghae terbahak.

“Bye, oppa, jaga rumah yang benar!” seru gadis manis itu ketika mobil perlahan meninggalkan Donghae yang berdiri di pelataran rumah mereka.

Gadis itu menghela nafas berat. Ia bisa merasakan jantungnya yang berdegup dengan sangat cepat seolah ia baru saja berlari mengelilingi perumahannya. Ia mengatur nafasnya yang ia rasakan memburu. Ia tak tahu kenapa, ia merasa gugup untuk hal semacam ini.

“Gugup, dear?” tanya sang umma memecah keheningan.

Gadis itu mengangguk dengan sedikit kikuk membuat tawa kedua orang tuanya meledak. Ia mengerutkan keningnya, heran akan reaksi yang diterimanya dari kedua orang tuanya itu. Ia mencoba mengatur nafasnya, menarik dan menghembuskan oksigen yang ada untuk membuatnya rileks.

“Sampai, sayang. Ayo kita keluar,” ajak sang umma.

Ia bisa merasakan jantungnya berdegup dengan sangat kencang. Tiba-tiba ia merasa sangat gugup. Haruskah ia mengenal seseorang yang telah dicalonkan untuknya dan menerimanya? Bisakah ia menerimanya? Sejak ia menerima tawaran Kibum oppanya, entah mengapa, ia selalu terpikir akan Kibum. Haruskah ia mengakhiri kepura-puraannya dengan Kibum? Mampukah ia?

“Ayo, dear. Jangan membuat mereka menunggu,”

Kini ummanya telah membuka pintu mobil yang berada di sisi kirinya dan menariknya keluar dengan sedikit paksa dari mobil. Ia menghela nafas berat. Dengan langkah berat, ia mengikuti sang umma memasuki restoran mewah.

“Umma, aku.. aku–”

“Sudah, kamu kenalan saja dulu,” potong sang ibu.

Gadis itu menghela nafas berat lalu mengikuti sang ibu memasuki sebuah ruangan yang diberikan sekat khusus, ruangan yang lebih privat, sepertinya. Ruangan itu hanya terdiri dari sekitar lima meja dengan jarak yang cukup jauh satu sama lain dengan jumlah sekitar 5 sampai 10 kursi per meja.

Gadis itu menghela nafas panjang ketika menemukan ayahnya duduk di salah satu meja yang berada di pojok ruangan tersebut. Ayahnya tengah sibuk berbincang dengan dua pasangan yang sebaya dengan beliau. Ia menyipitkan kedua matanya, mencari sosok pria muda yang mungkin seumuran dengannya, tapi nihil. Ia menatap dua pasangan yang seumuran dengan kedua orang tuanya itu, ia merasa kenal dengan sosok itu.

“Ah, Yoona-ah, kau cantik sekali~” seru wanita yang tadinya tengah berbincang dengan ayahnya.

Wanita itu berdiri diikuti pria di sampingnya dengan senyum mengembang dan tangan yang direntangkan, hendak memeluknya. Gadis itu melangkah dengan sedikit ragu. Benarkah?

“Yoona-ah?” panggil sebuah suara yang ia kenal dari belakangnya.

Gadis itu menoleh dan terkejut mendapati seorang pria seumuran dengan oppanya telah berdiri di hadapannya. Pria itu mengenakan tuxedo hitam, sangat pas sekali untuknya. Ia terlihat sangat manis. Mulutnya terbuka namun segera ia tutup dengan kedua tangannya, begitu pula dengan seorang pria itu. Mereka saling mengedipkan kedua mata mereka seakan tidak percaya dengan penglihatan mereka.

“Ah, kalian ini, lucu sekali. Seperti lama tidak bertemu saja,” gurau ayah Yoona.

“Iya, padahal kan, tadi siang kau baru saja dari rumah dan bertemu Kibum, Yoona-ah,” tambah wanita yang lain tak bukan adalah nyonya Kim.

“Tunggu dulu. Umma, maksudnya.. Kibum oppa..”

“Iya. Orang yang dijodohkan denganmu oleh kakekmu itu anak kami Kim Kibum,” jawab tuan Kim.

“Kalau begitu, umma tidak perlu khawatir karena yeojachinguku adalah Lee Yoona,” jawab Kibum seraya merengkuh bahu Yoona dan membuat gadis itu tersipu malu.

“Nah, kalau begitu, masih mau menolak, Yoona-ah?” tanya nyonya Lee menggoda anak bungsunya yang langsung mendapat gelengan kepala dari gadis itu.

“Anni. Aku.. terima, umma,” gumam gadis itu lirih.

“Aigo~ senangnya~” seru nyonya Kim dengan nada senang.

“Kamsahamnida,” bisik Kibum lalu mengecup kening gadis dalam rangkulannya.

“Ah~ melihat pasangan muda selalu membuatku iri,” kelur nyonya Lee, membuat Kibum dan Yoona tersipu malu.

**

Yoona terbangun ketika merasakan kasurnya berbunyi decitan kecil. Ia merasa seakan kasurnya mendapat beban dua kali lipat dari tubuhnya. Perlahan, ia merenggangkan tangannya dan membuka kedua matanya. Ia dapat merasakan sinar matahari yang menyilaukan matanya, membuatnya bertanya-tanya mengapa jendela kamarnya bisa terbuka. Dikerjap-kerjapkannya kedua kelopak matanya beberapa kali hingga matanya terbiasa dengan silau matahari yang memasuki kamarnya.

“Morning,” sapa suara berat di sampingnya membuatnya terduduk tegap.

Ia menoleh dan mendapati seorang pria berumur awal dua puluh tahun duduk di sampingnya, di atas kasurnya. Senyum lebar menghiasi wajahnya. Ia terpaku dengan mata yang membulat, menandakan bahwa gadis berambut lurus sebahu itu kaget.

“KELUAR!” jeritnya sedetik kemudian.

Dada Yoona itu naik turun seakan baru saja berlari cepat dengan jarak lima ratus meter jauhnya. Nafasnya memburu sedang wajahnya memerah karena marah. Matanya yang membulat dengan sempurna melayangkan tatapan tajam pada pria dihadapannya seolah siap membunuh pria itu.

Namun pria itu hanya terkekeh sebagai reaksi akan sikap gadis yang baru bangun itu. Ia seolah terbiasa dengan sikap gadis itu. Ia bahkan mengabaikan tatapan membunuh yang diberikan gadis itu.

“Ya, kau harus mulai bisa bangun pagi dan bersikap sopan pada calon suamimu, arasseo!?” celetuk pria itu membuat Yoona membuang muka dengan sebal.

“Kau hanya calon, bukan suamiku. Sana pergi! Hush! Hush!” seru Yoona sambil mengibas-ngibaskan telapak tangannya di hadapan pria itu.

“Tsk, tsk. Kau ini,” gerutu si pria dan beranjak dari kasur gadis itu namun hanya berdiri di samping kasurnya.

“Ya! Kau tidak dengar? Keluar dari kamarku!” seru Yoona lagi.

Ia bangkit dan mendorong pria itu keluar dari kamarnya. Namun pria itu tetap tak bergeming, justru tawanya meledak seiring usaha Yoona untuk mendorongnya keluar kamar.

“Panggil aku oppa, mrs. Kim,” ujar si pria.

“Anni! Dan aku masih bermarga Lee!” tolak Yoona. Ia masih berusaha mendorong pria itu keluar dari kamarnya.

“Kalau begitu, aku tidak mau keluar,” ucap pria itu.

“Aish!” gerutu Yoona. Ia berhenti mendorong pria itu dan menatapnya sebal.

“Hei kiddos! Jangan terlalu sering bertengkar! Masa pengantin baru sudah bertengkar,” celetuk sebuah suara di ambang pintu kamar.

“Oppa! Itu masih lama!” seru Yoona membuat dua pria yang berada di kamarnya tergelak.

“Donghae-ya, lihatlah yeodongsaengmu, pemarah dan angkuh,” ucap pria yang berdiri di samping Yoona. Ia merangkul bahu Yoona yang langsung di tepis namun gagal.

“Well, tapi kau menyukainya kan, Kibum?” goda pria yang berada di ambang pintu kamar, Donghae.

“Ya, ya! Kalau kalian ingin berbicara, sebaiknya duduk di ruang tamu,” gerutu Yoona yang berada dalam rangkulan Kibum.

“Ow, Kibum-ah, kurasa cintamu terbalas,” celetuk Donghae ketika melihat wajah adik tersayangnya memerah.

“Ah, I see,” gumam Kibum lalu mencubit pipi Yoona yang berada dalam rangkulannya.

“Ya! Keluar! Palli!” seru Yoona berusaha mendorong Kibum.

“Kim Yoona, tega sekali kau pada suamimu,” goda Donghae.

“Oppa~ margaku masih Lee!” seru Yoona seraya menggembungkan kedua pipinya membuat Donghae dan Kibum tergelak.

*

“Pagi umma, appa,” sapa Yoona ketika duduk di ruang makan keluarganya.

“Aih dongsaengie-ya, mana sapaan untukku dan suamimu?” tanya Donghae yang baru datang diikuti Kibum di belakangnya.

Mendengar pertanyaan oppanya, Yoona tersenyum masam dengan wajah yang memerah malu. Kedua orang tuanya serta Donghae dan Kibum tergelak melihat ekspresinya itu.

“Umma, bagaimana Kibum oppa bisa masuk ke kamarku?” tanya gadis itu manja. Ibunya tertawa kecil mendengar pertanyaan anak bungsunya.

“Itu salahmu, umma sudah membangunkanmu tapi kau tak mau bangun. Begitu Kibum yang membangunkanmu, kau langsung bangun,” jawab sang ibu kalem membuat yang lainnya tertawa menggoda Yoona.

“Nah, lihat? Yeodongsaengku ini hanya mau dibangunkan suaminya,” cetus Donghae membuat tawa yang lain meledak.

“Calon suami, oppa!” seru Yoona sebal.

“Wah, jadi kamu mengakuinya, ­­Yoona?” goda sang ayah membuat pipi anaknya memerah.

“Ya! Ya! Ya!”

=FIN=

  1. IceFishy Linda
    21 Mei 2011 pukul 4:25 pm

    Jleb i want haesica, gatau napa baca ini sakit ati aku win #lebe amet baca aja kaga wkwk, eh win uda ada part 4 ff saya di kofalo😀

    • 30 Mei 2011 pukul 9:27 pm

      yaelah neng. emang ini lu kira ff apaan? ada slight haesica-nya lho kalo baca. superduper slight /plaaaaaaks XDDD

      haha. iya udah aku baca, udah aku komen lhooo~ <– bangga LOL😄

  2. 23 Mei 2011 pukul 7:06 pm

    kyaaaaaaaa~ keren onni, ffnya ^^
    I love YoonBum couple~ mami Yoong polos banget disini😉
    papi Bum juga jahil amat =,=
    boleh request YoonBum lagi ga onn?😉

    • 30 Mei 2011 pukul 9:29 pm

      nee. kamsahamnida /bow😀
      eeeh? Bum jahil gimana? /bingung😄
      YoonBum lagi?? hmm, aku jarang2 sih ada ide buat YoonBum, tapi ntar kalo ada pasti ditulis😄 /plak

      thanks ya udah baca and komen😀

  3. va elfhisy wife
    15 Juni 2011 pukul 1:44 pm

    huaaaa yoonbum love yaaaa
    aih aih mereka pada polos polos
    ternyata mereka yang dijodohin aihhh suka sukaaaaaaa
    bikin yoonbum lagiiiii

  4. Yoonbum
    11 Oktober 2011 pukul 8:23 pm

    huaa huaa bagus banget ffnya hehehe
    ternyata betul feeling saya hahahahatapi mereka berdua polos banget ya hahahha
    kibum jahil banget…. apalagi donghae jahil banget hahhaha… ada haesica juga ya hahaha tapi numpang lewat aja hahahah😀
    huaaa saya sedikit gemas dengan couple ini di ff ini hahaha😀

  5. 27 Desember 2011 pukul 8:04 pm

    YoonBum… *nangis terharu* my Zombie OTP T,T
    Hahaha saya suka banget baca hubungan akrabnya Yoona-DongHae-KiBum. Kayaknya erat banget. Lucu juga liat KiBum yang jail suka nggodain gitu. Saya bisa bayangin ini, bener bener pas dengan karakternya!
    Aigooo~ ‘Ratu Es Berjalan’ hahaha, Yoong harus kenalan dulu tuh sama calon kakak iparnya :p
    Makasih sudah bikin fic ini ya chingu (walopun saya telat bgt bacanya), bikin saya tetep inget bagaimana dukung YoonBum sebagai my lovely zombie OTP :’)

  6. vankaka
    1 September 2013 pukul 8:16 am

    aaaarghg!! daebak..
    ada HaeSica & YoonBum!! SEQUEL!!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: