Beranda > fanfiction, whyenda_arinka > [1/4] The Journey Of Love Story

[1/4] The Journey Of Love Story

Title : The Journey Of Love Story
Length : 1 of 4
Genre : Romantic, Angst, Friendship
Rating : High––for a little sexual action (every chap has different rating)
Main Casts : Super Junior Lee Donghae, SNSD Jessica Jung
Other Casts : (In this chapter) SNSD Kwon Yuri, SNSD Im Yoona

Disclaimer : Only own the plot

A/N: aku udah ngingetin ya di atas kalo ratingnya High. jadi ada sedikit adegan yang rada menjurus hal-hal yang––yah, you know. tapi cuma dikit doang. sumpah. karena aku ga bisa bayangin jauh-jauh -.- by the way, happy reading🙂

=============

Sabtu malam merupakan malam yang santai bagi seorang Jessica Jung. Walau begitu, ia justru merasa jengah. Pasalnya, ia sudah terduduk diam sendirian selama hampir setengah jam sejak jam delapan tadi di dalam pub yang penuh hingar bingar tersebut. Pacarnya yang terakhir baru saja pulang meninggalkannya karena alasan ibunya. Lame excuse for a 25th years old boy(alasan basi untuk cowok berumur 25 tahun), batinnya gusar. Jangan kaget dengan maksud pacarnya yang terakhir. Ia memiliki belasan kekasih di luar sana yang ia sendiri bahkan hampir lupa setiap namanya. Atau, mungkin dia tidak benar-benar ingin mengingatnya––kecuali sebuah nama.

Gadis itu menegak segelas kecil tequillanya. Ia menatap keseliling pub yang dirasanya mulai membosankan, without any reason. Tch, decaknya dalam hati. Matanya terus beredar menyusuri setiap sudut yang dapat dijangkau oleh mata sipitnya yang indah sambil sesekali mengabaikan lambaian pria hidung belang yang tertangkap matanya. Tiba-tiba, mata tersebut berhenti di dekat sudut pintu masuk tepat ketika ponsel mungilnya bergetar.

‘Tempat biasa, please. I need you, right now.’

Begitu membaca isi pesan tersebut, ia tersenyum–atau lebih tepatnya, menyeringai–tangannya mengetik dengan lincah di layar sentuh ponselnya tersebut. Ekor matanya sesekali melirik ke arah dekat sudut pintu di mana seorang pria dan seorang wanita yang sebaya dengannya terlihat tengah terlibat dalam perbincangan yang cukup serius.

‘Wait me in a minute.’

Jessica berdiri dari duduknya dan berjalan meninggalkan bar. Ia masih memiliki kesadaran, sebenarnya. Namun entah kenapa ia justru sengaja berjalan sedikit sempoyongan layaknya orang mabuk. Ia berjalan mendekati salah satu sudut pintu masuk di mana seorang pria dan wanita melakukan perbincangan yang serius–bisa dikatakan hampir berdebat. Tiba-tiba, Jessica mengalungkan tangannya di leher pria itu dari samping.

“Baby~ is that you? Hmm?” tanyanya, membuat suaranya seolah-olah ia sudah mabuk.

Tanpa tendeng aling-aling, gadis itu mendaratkan bibirnya ke bibir sang pria, membuat wanita–yang tadinya tengah berbicara serius dengan sang pria––terkejut. Mulutnya menganga melihat kejadian di depannya. Yang membuatnya lebih shock, pria tersebut justru membalas ciuman Jessica.

“See? I’d found someone to replace you(Lihat? Aku sudah menemukan seseorang untuk menggantikanmu). Bye~” ucap pria itu dingin setelah melepas ciumannya pada Jessica dan merangkul pinggang gadis itu.

“Another toy(mainan lagi)?” bisik Jessica di telinga pria itu ketika mereka berjalan menuju parkiran, meninggalkan pub yang semakin meriah saja.

“You know, right?” jawab sang pria lalu tertawa puas diikuti Jessica.

“By the way, Sica, you come just in time(Ngomong-ngomong, Sica, kau datang tepat pada waktunya),” ucapnya menatap Jessica lekat.

“Yeah, I know. I always knew it,” ujar Jessica kembali tertawa. Tawa yang lebih lembut.

“You didn’t brought your car, right?” tanya Jessica yang dibalas gelengan kecil si pria serta sebuah seringai yang selalu diingat olehnya dengan sangat baik. Salah satu senyum yang paling ia suka–kalau seringai merupakan bagian dari senyum.

“I’ll bring you home,” tukasnya sebelum Jessica sempat mengeluarkan suara.

Keduanya lalu hanyut dalam tawa. Kejadian itu, bukanlah yang pertama kali bagi mereka. Entah kejadian tersebut telah terulang untuk yang keberapa kalinya. Keseratus kali, mungkin? Atau lebih? Yang jelas, Jessica dan pria itu selalu menjadikan satu sama lain sebagai alasan. Reason to break up with each other lovers, eventough they are lovers. Confusing, eh? They even had no idea, when it will be not happens again.

*

Ting. Bel lift berdentang lembut. Layar digital yang tertera di atas lift menunjukkan angka 5. Pintu lift tersebut bergeser terbuka diikuti seorang pria paruh baya keluar dari dalam lift meninggalkan Jessica dan pria yang sedari tadi bersamanya semenjak dari pub, berdua. Beberapa detik kemudian, pintu lift tertutup. Tiba-tiba pria itu mengecup daun telinga Jessica dilanjutkan bibir mungilnya. Rupanya mereka masih sadar akan situasi.

Ting. Bel lift kembali berdentang lembut. Kali ini, layar digital tersebut menunjukkan angka 9. Spontan, keduanya menghentikan aksi mereka dan membenarkan diri mereka sendiri. Sekali lagi, pintu lift itu bergeser terbuka dan kedua orang itu pun keluar. Keduanya masih berada dalam lengan satu sama lain.

“Shit!” umpat Jessica pelan ketika ia menatap ke depan lorong. Sekitar seratus meter darinya, berdiri seorang pria tepat di depan pintu apartementnya.

“An uninvited guest(Seorang tamu tak diundang),” gumam pria di sampingnya.

“I didn’t expected he would back(Aku tidak mengira ia akan kembali)!” gerutu Jessica kesal.

Pria itu menoleh pada Jessica yang memicingkan matanya menatap sosok pria yang sibuk mengecek jamnya sambil sesekali memencet bel pintu apartementnya.

“I’ll handle it for you(Akan kuatasi untukmu),” ucapnya. Jessica menoleh dengan tanda tanya besar tercetak jelas di wajahnya.

“Just follow me,” bisiknya di telinga Jessica.

“AHH!” erang Jessica saat ia merasakan punggungnya membentur dinding lorong yang dingin dan keras.

Belum selesai rasa sakit yang mendera punggungnya, ia merasakan tekanan yang kuat di bibirnya diikuti jilatan serta hisapan yang membuatnya mengerang secara spontan. Walau begitu, ia menikmatinya. Tangannya pun naik di leher pria itu dan mengalungkannya di sana, sesekali memijitnya–meminta lebih.

“Ah! Dongh–ahmm~” desahnya saat pria itu menggigit bibir bawahnya dan memasukkan lidahnya ke dalam mulutnya.

“Ah~ Donghae~” desahnya makin tak beraturan ketika ia merasakan tangan hangat nan kokoh milik Donghae menekan pahanya lembut dan semakin naik.

Kini bibir Donghae menjelajahi tengkuk jenjang milik Jessica. Membuat gadis itu semakin mendesah tak beraturan dengan nafas yang setengah-setengah.

“S–Sica?” panggil seseorang membuat Jessica menoleh ke arah asal suara tersebut.

“Put.some.act.now.” bisik Donghae di tengah lumatannya.

Jessica memejamkan matanya sebentar sebagai tanda mengerti serta sebuah anggukan tak kentara lalu tangannya turun ke bahu Donghae, mencoba mendorongnya namun gagal. Sebenarnya, ia tidak benar-benar ingin mendorong Donghae menjauh dari dirinya. Just an act. Lagipula, kecupan Donghae di tengkuknya benar-benar membuatnya lemas. Is he really acting? Batinnya bertanya-tanya.

“Oh, hon–ahh~ it’s–ehmm–ah! Doesn’t–”

“It’s okay, Sica. It’s explain anything for me(Ini menjelaskan segalanya bagiku). We’re over,” potong pria itu lalu berjalan melewati Donghae dan Jessica yang masih make out, menuju lift dan pergi sesegera mungkin meninggalkan pemandangan yang membuat hatinya gerah.

“Uhm~ Donghae~ ah~ he–he’s gone–mm–” ucap Jessica terpotong-potong.

“So?” tanya Donghae tanpa menghentikan aksinya.

“Y–you can–”

“I can’t,” potong Donghae.

“W–wha–”

Belum sempat Jessica menyelesaikan pertanyaannya, Donghae telah menarik gadis itu. Ia menggendongnya bridal style. Matanya tak bisa lepas dari mata indah di hadapannya.

“Let’s continue it–” ucap Donghae lembut.

“As always,” gumam keduanya bersamaan lalu tertawa renyah.

Namun tawa itu kembali hilang dan tergantikan dengan desahan Jessica atas perlakuan Donghae tepat setelah keduanya memasuki apartemen Jessica dan pintu di belakang mereka tertutup. Dan sekali lagi, mereka menghabiskan malam itu bersama.

*

Sabtu, pukul 8 pagi. Hari sudah beranjak siang dengan matahari mulai meninggi dari ufuk timur. Sebagian besar orang telah kembali dengan aktifitas masing-masing di pagi hari. Pergi berbelanja, menuntut ilmu, mencari nafkah, atau sekedar bersantai–menikmati udara di pagi hari yang cerah. Namun sepertinya, aktifitas tersebut tidaklah berlaku pada dua insan yang masih berbaring nyaman dalam pelukan satu sama lain di atas kasur–Donghae dan Jessica.

Sinar matahari yang mencoba mengintip masuk ke dalam kamar seolah tak berarti bagi keduanya. Bahkan ketika sang surya semakin meninggi dan memancarkan sinarnya yang teramat kuat hingga menyeruak ke dalam kamar melalui serat-serat tirai yang menutupi jendela-jendelanya, keduanya tetap terpejam.

Sebenarnya, keduanya telah bangun. Hanya saja, mereka serasa enggan membuka kedua mata dan beranjak dari pelukan masing-masing yang hangat–yang menurut mereka bahkan lebih hangat dari sinar matahari di luar sana. Keduanya semakin mengeratkan pelukan masing-masing. Hingga akhirnya, Donghae menyerah. Kelopak matanya perlahan membuka menatap sekelilingnya yang telah cukup terang sekalipun tirai kamar tersebut belumlah tersingkap. Diliriknya jam dinding yang menunjukkan pukul 9.45 lalu beralih pada gadis dalam pelukannya. Senyumnya tercetak tanpa ia sadari.

Tangannya bergerak mememainkan helaian rambut lembut gadis itu. Menimbulkan gerakan menengadah dari sang pemilik rambut coklat lebat dalam dadanya. Wajah yang terlihat mengantuk. Wajah yang selalu ia simpan dalam memori otaknya. Kedua mata mereka saling bertaut. Seolah bercerita tentang mimpi indah yang semalam mereka dapatkan.

“Morning, baby,” sapanya.

“Morning,” balas Jessica lalu menguap kecil.

“Jam berapa ini?” tanya Jessica kemudian. Gadis itu memutar kepalanya ke belakang untuk melihat jam dinding.

“9.45.” jawabnya singkat.

“Mmm~” gumam gadis itu tak jelas, “Aku akan membuatkanmu sarapan,”

Jessica sudah akan beranjak dari lengan kekar Donghae ketika pria itu menahan perutnya, menariknya kembali dalam dada bidangnya dan mengusapnya lembut.

“Nanti dulu,” bisik Donghae tepat di telinga Jessica, membuat gadis itu sedikit geli. Ia dapat merasakan begitu banyak kupu-kupu berterbangan di perutnya.

“Aigo~ apa lagi?” tanyanya dengan pipi yang memerah membuat senyum Donghae semakin lebar. Dikecupnya rahang bawah Jessica lembut.

“Aku ingin sarapan yang lain,” ucapnya lembut.

“Mwo? Anni! Hush!” tolak Jessica lalu menjauhkan dirinya dari Donghae.

Ia menarik selimut tipis untuk membungkus dirinya sendiri lalu menarik sebuah kemeja putih yang berceceran di lantai beserta pakaiannya yang lain. Ia tak tahu milik siapa itu, yang jelas bisa ia pakai untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkannya di pagi hari lalu segera memasuki kamar mandi yang ada di kamarnya.

Tiga menit kemudian ia keluar dengan sebuah kemeja putih yang sangat longgar di tubuhnya–jelas sekali itu kemeja milik Donghae–serta hot pantsnya. Ia menghela nafas berat ketika melihat Donghae yang masih berbaring di ranjangnya hanya berbungkus bedcover dengan kedua tangannya di bawah kepalanya sendiri. Seringai lebar tercetak di bibirnya ketika ia keluar dari kamar mandi.

“Tsk. Cepat mandi!” seru Jessica lalu segera keluar kamar menuju dapur.

Dapur di apartementnya terletak dekat sekali dengan kamarnya. Hanya sebuah ruangan yang berfungsi sebagai ruang tamu dan ruang televisi saja yang memisahkannya. Selain itu, ada sebuah meja panjang yang menyatu dengan dapurnya. Kadang-kadang ia makan di sana. Apartementnya kecil, memang. Namun karena ia tinggal sendiri, apartement itu justru terasa sedikit terlalu luas baginya. Mungkin karena faktor sepi.

Gadis itu berjalan menuju kulkas stainless steelnya yang memiliki dua pintu. Dibukanya kedua pintu kulkas tersebut lalu mengeluarkan sekaleng kornet, tujuh butir telur, selada air, tomat, serta sekotak susu segar. Ia memulai kegiatannya di pagi hari itu, menyiapkan sarapan.

Ia memang tidak pandai memasak, namun ketika hari Sabtu tiba, itu seperti sebuah kewajiban baginya. Lagipula, ia membuatnya untuk dirinya dan Donghae. Toh hanya sandwich ini, pikir gadis itu merasa tenang.

Jessica bersenandung kecil sambil menggoreng kornet terakhirnya. Sekitar empat kornet dan satu telur mata sapi telah siap di atas piring yang telah berisi sepuluh potong roti tawar, selada dan potongan tomat. Ia sudah mengambil sebutir telur untuk ia goreng ketika tiba-tiba sepasang lengan kokoh melingkari pinggang mungilnya. Hampir saja ia menjatuhkan telur dalam genggamannya karena kaget.

“Ya! Kau membuatku kaget!” seru Jessica kesal. Seketika, rongga hidungnya dipenuhi aroma segar dari tubuh Donghae.

Dasar pria gila. Sehabis mandi, dengan santainya ia hanya menggunakan boxer selututnya yang berwarna putih tanpa atasan apapun, sekalipun kaos oblong. Topless, in another word.

“Hmm~ I miss sandwich that you make every Saturday morning for me,” bisik Donghae lalu mengecup bahu Jessica yang sedikit terbuka karena longgarnya kemeja Donghae.

TING TONG. Bel apartement berbunyi. Jessica menoleh kecil ke arah pintu diikuti Donghae.

“I’ll get it,” ucap Donghae lalu melepas lengannya dari pinggang Jessica.

“Put clothes on your top first(Pakai atasanmu dulu), Hae,” titah Jessica.

Sambil lalu, Donghae mengambil kaos putih polosnya yang tergeletak di ambang pintu kamar Jessica dan menggunakannya sementara ia sendiri terus berjalan menuju pintu apartemet untuk membuka pintu.

“Aa–”

“Oh, hi girls–” sapa Donghae ketika mendapati dua orang gadis yang sekilas terlihat mirip, berdiri di ambang pintu.

“Wow, oppa. Lama tak berjumpa,” ucap salah satu dari kedua gadis itu.

“Yup. Come in, girls–” ujar Donghae mempersilahkan kedua gadis itu masuk, “Sica! YoonYul’s here,” serunya kemudian.

Ia berjalan menuju pantry di mana Jessica tengah menaruh piring berisi bahan-bahan sandwichnya di atas meja bersama sekotak susu berukuran satu liter. Empat buah piring dengan gelas di sampingnya pun telah tertata rapi di sana.

“Morning, kiddo,” sapa Jessica pada YoonYul.

“Morning? It’s noon already, eonni,” protes Yoona yang telah duduk di salah satu kursi.

“Silly Yoong, don’t you know it’s still ‘morning’ in their dictionary(tidakkah kau tahu ini masih pagi di kamus mereka)?” ujar Yuri yang duduk di samping Yoona, bermaksud menggoda Donghae dan Jessica.

“You know, right? Then, why are you both came in this ‘morning’(Lalu, kenapa kalian berdua datang ‘sepagi’ ini)?” Donghae asked. He decided to look irritated(Ia berusaha terlihat terganggu).

“To––tease you(Untuk––mengganggu kalian)!” seru keduanya kompak. “We miss our parents!” lanjut keduanya mengeluarkan puppy eyes.

Donghae membuat gerakan seperti ingin muntah yang mendapat lemparan bantal dari Yoona dan Yuri dari seberang meja. Jessica menggelengkan kepalanya melihat kekacauan kecil yang dibuat oleh kedua sepupunya dan Donghae.

“Okay guys, stop it all RIGHT NOW and take your breakfast!” seru Jessica menengahi ketiganya.

“YES MOM~” seru ketiganya kompak.

Mereka mulai mengambil sepotong roti yang diisi selada air, tomat, telur atau kornet sesuai selera masing-masing, mayonase dan menumpuknya dengan sepotong roti lagi. Mereka menikmati sarapan pagi mereka sambil bercakap.

“Eonni, oppa, aku selalu heran dengan hubungan kalian,” buka Yoona setelah menelan potongan pertamanya lalu kembali menggigit rotinya.

“Heran bagaimana?” tanya Jessica penasaran, begitupula Donghae.

“Look. Kalian berdua player. Kalian jarang bertemu. Kalian sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Kalian sering jalan dengan pria atau wanita lain. Yang mengherankan, kalian berdua mengetahuinya tanpa ada reaksi yang berarti. Is that normal?” asked Yuri.

“Satu lagi. Setiap orang pasti tidak akan percaya kalau hubungan kalian sudah dimulai sejak SMA. Kurang lebih–”

“5 years ago,” sahut Donghae dan Jessica bersamaan memotong ucapan Yoona.

Ya. Kalau kalian bukan orang terdekat pasangan ini, mungkin kalian tidak menyangka bahwa hubungan mereka telah berjalan selama 5 tahun––dengan cara yang tidak normal. Tapi kenyataannya, hubungan mereka tetap biasa-biasa saja. Tanpa percekcokan. Tanpa masalah. Mulus tanpa hambatan, sampai saat ini setidaknya.

“See? It’s totally awesome! Aish! How I wish I could have a relationship like you both!” ujar Yuri.

“Oppa, oppa! Eonni, eonni! Bagaimana caranya? Otte?” tanya Yoona.

Yoona dan Yuri melayangkan tatapan ingin tahu pada keduanya. Donghae dan Jessica menatap satu sama lain sambil mengulum senyum.

“Secret,” jawab keduanya singkat.

“Hiyaaa! How dare you!” seru Yuri kesal sambil menunjuk keduanya menggunakan garpu di tangan kanannya yang disambut tawa renyah oleh Donghae dan Jessica.

“Finish your breakfast, Yul or else–” ancam Jessica.

“Sigh. Arraseo, eomma,”

“Good girl,”

“Mom–” panggil Yoona membuat Jessica memutar kedua bola matanya. YoonYul tertawa, “How about my–”

“It’s done. You can try it two days again,” potong Jessica membuat kedua mata Yoona berbinar.

“And––how about the decoration, dad?” tanya Yoona pada Donghae.

“Well–” Donghae menelan makanannya, “You should look it by yourself––a month again,”

“That’s my day!” seru Yoona kesal.

Yoona menggebungkan kedua pipinya membuat Donghae, Jessica, dan Yuri tertawa.

*

Hari Jumat sore, Donghae tengah berjalan menuju apartementnya dengan tangan kanannya memijit lehernya, merasakan lelah yang teramat dengan tangan kirinya menjinjing sebuah tas. Ia baru saja pulang dari kantornya. Belakangan, ia benar-benar sibuk dengan urusan kantornya hingga ia tidak sempat ‘bermain-main’. Bahkan menghubungi Jessica sekedar mengucapkan selamat pagi pun, ia hampir tidak bisa. Dua hari sekali. Baginya, gadis itu selalu menjadi prioritas utamanya.

“Oppa!”

Seruan seorang gadis menghentikan kegiatannya yang tengah menempelkan jempolnya pada layar biru kecil di atas knop pintu apartementnya. Ia menoleh dengan tatapan bingung terlebih ketika gadis itu tiba-tiba menghampirinya dan mengamit lengannya manja. Ia berusaha melepas gadis itu dari lengannya.

“J–Jwosonghamnida, agasshi. Nuguseyo?” tanyanya hati-hati. Ia masih berusaha melepaskan diri dari gadis itu.

“Aih, oppa! Masa kau sudah lupa? Hmm?” gadis itu justru menggoda Donghae. Tangannya mengelus wajah Donghae lembut.

Donghae semakin bingung dibuatnya. Ia memang seorang cassanova kelas atas. Banyak gadis yang pernah menjadi kekasihnya. Ia juga akui sering membawa gadis berbeda ke apartementnya–walaupun begitu, ia berani bersumpah mereka tidak pernah melakukan apapun. Tapi ia juga masih ingat bahwa ia sudah memutuskan semua gadis-gadisnya kecuali Jessica–tentu saja.

Tangannya semakin berusaha menjauhkan gadis itu darinya. Ia meremas sedikit bahu sang gadis dan menatap gadis itu dari ujung kaki hingga ujung kepala–barangkali ia teringat siapa gadis itu. Tapi nihil. Ia benar-benar tidak mengingatnya. Atau bahkan tidak berusaha mengingatnya sama sekali–dulu.

“Okay. First of all, I don’t know who are you. Well–may be in the past time, I am. But now, I totally forget about–who you are. And also, watch out your behave, girl. A beautiful girl like you just didn’t–(Okay. Pertama, aku tidak tahu siapa kamu. Well–mungkin dulu aku mengenalmu. Tapi sekarang, aku benar-benar lupa tentang siapa kamu. Dan juga, jaga sikapmu. Seorang gadis yang cantik sepertimu tidak–)”

Donghae menghentikan ucapannya ketika gadis itu tiba-tiba saja menempelkan bibirnya pada bibir Donghae. Menghisapnya kuat dan mencoba mencari celah untuk memasuki rongga mulutnya. Ia berkelit dan mendorong gadis itu dengan kuat ke tembok–

BRUKK

Donghae baru saja akan mencaci maki atau bahkan menampar gadis itu ketika sebuah suara benda terjatuh di lantai karpet menghentikan aksinya. Pria itu menoleh dan mendapati sebuah kue tart yang hancur berkeping-keping di lantai serta––Jessica yang berdiri dengan wajah shock.

Gadis itu hanya tertegun dengan apa yang baru saja terjadi di hadapannya. Bayangan itu terus terputar ulang di otaknya–membuatnya mematung tanpa gerakan apapun. Ia memang terbiasa melihat tingkah Donghae yang sering merayu gadis lain. Atau mungkin berpelukan dengan gadis manapun––but not kissing. Itu sudah menjadi kesepakatan mereka. Or at least, not in front of each other. But this? This is was a french kiss––in front of her! She can’t hold on it anymore.

“J–Jessica–”

“We–We’re over–”

“What!?”

Dan belum sempat Donghae meraih tangan Jessica, gadis itu telah berlari terlebih dahulu meninggalkan Donghae yang juga dalam keterkejutan. Donghae berbalik lalu menatap gadis yang terlihat masih merasa sedikit kesakitan–mungkin akibat kerasnya pria itu mendorongnya ke tembok, tadi. Ditatapnya gadis itu dengan tatapan tajam dan sama sekali tidak bersahabat.

“YOU, B**CH! GET YOUR STUPID ASS OFF OF HERE AND DON’T EVER COME BACK! OR ELSE, I’LL KILL YOU!”

Setelah itu, Donghae segera melesat menuju tangga darurat. Meloncati beberapa anak tangga sekaligus, berharap ia bisa mencapai lobby tepat pada waktunya sehingga ia bisa menahan Jessica untuk menjelaskan segalanya. But unfortunately, time was unfair to him(Namun sayang, wakti tidak adil padanya). The time he reached the lobby was the time when Jessica drove her car out of his sight(Tepat ketika ia sampai di lobby, Jessica mengemudikan mobilnya pergi dari pandangannya).

Donghae terjatuh dan bertumpu pada lututnya. Ia bisa merasakan tubuhnya melemas. Matanya panas. He even can’t feel his heart was still in the place where it should be(Ia bahkan tidak bisa merasakan hatinya masih di tempat seharusnya ia berada). All he can felt was–empty. Ia sadar telah melakukan kesalahan besar. He knew that he has lost his everything. He lost her. And honestly–it hurt him badly.

-TBC-

WOW! dobelyu-ow-dobelyu! akhirnya ada juga tulisan ‘TBC’ di akhir ceritaku! /plak😄
hmm. ide ini, tiba-tiba muncul. ngisahin Donghae sama Jessica itu pasangan yang totally j**k. yah–karakternya macam di atas itulah😄 dan soal kisah cinta mereka yang rada––eeew~ itu jangan salahkan saya. kadang2, pikiranku menggila cuma gara2 HaeSica! they really drive me crazy! ouoooo~ /gila /plaaks😄

oke. gimana englishnya? kacau yah? ancur yah? IKR. tehehe XDD yaah––anggap saja kita tengah sama2 belajar. ayo dong correct me if I’m wrong. okay!?😄

PS: Lindaaa~ ini udah aku edit. udah aku tambahin translatenya. ada beberapa yang engga sih /plaaak😄 gimana? ada yang nggak tahu artinya? tanyain aja😀

after all, thanks for reading guys😀

  1. gorjess_spazzer
    31 Mei 2011 pukul 9:37 pm

    So?? Cerita nya ini maksudnya Donghae-Jessica itu pacaran. Udah 5 tahun yg lalu. Tapi, karena masing2 punya kesibukan. Mereka sepakat boleh pacaran sama Namja/Yeoja lain, tapi tidak boleh sampai melakukan Kiss apalagi lebih.. Gitu yah??o.O
    ..
    Terserah deh!
    ..
    Yang pasti..
    Ff nya kereeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeennnnnnnn bangettz>.<
    Lanjutkan!!
    Fighting!!!!!!^^

    • 5 Juni 2011 pukul 6:29 am

      Anni~ jadi, mereka dari SMA sampe sekarang pacaran, udah lima tahun dengan cara–yang seperti itu. hhe
      ngebingungin yak!? mian /bow

      kalo dilanjutin sih pasti. tapi–ga bisa update chap 2 secepatnya. teasernya dulu aja ya~😄

      thanks for reading and comment😀

  2. Liah icesicaforever
    1 Juni 2011 pukul 10:28 am

    Woow, hbat!!
    Hbngn yg d lalui dg cra gtu bsa than 5 thn,,..
    Lnjtkan chingu!
    haesica forever,,,
    ^^

    • 5 Juni 2011 pukul 6:31 am

      tehehe. yeah–begitulah😄
      dilanjutin sih pasti, tapi ga bisa ngupdate chap 2 sekarang. teasernya dulu ya~ hhe

      thanks for reading and comment😀

  3. 1 Juni 2011 pukul 6:51 pm

    waaah FF nya kereeeen. cepat lanjutin yaa😀
    tapi pas ada adegan yang ‘begitu’ aku lewat gapapa kan? hehehe
    tapi overall FFnya bagus, menarik banget^^
    lanjutiin yaaaa!😀

    • 5 Juni 2011 pukul 6:32 am

      hahaha. gapapa kok. tapi sebenernya gada adegan yang kelewatan. cuma agak nyerempet doang (apa bedanya?) /plaaks XDD
      hehehe. teasernya dulu ya😄

      thanks for reading and comment😀

  4. Kim_Sone YulSica
    2 Juni 2011 pukul 6:49 pm

    ommo
    HaeSica pacarannya serem .
    But I like it *yadong*

    tuh cewe nyebelin bgd sich maen sosor aja .
    blm pernah d lempar linggis tuh .

    Great job .
    Lanjuut chinggu^^

    • 5 Juni 2011 pukul 6:45 am

      puahahaha. dasar eonni! jangan2 serem2 tapi mupeng lagi /plaaaks /disepak😄

      kayaknya, tuh cewek emang belom pernah ngerasain ada linggis nyasar di kepalanya, eon. kita lemparin yuk eon!? /plak wkwkwk😄

      pasti dilanjut kok eon, tapi sekarang teasernya dulu ya~😄

      thanks eon for reading and comment😀

  5. 11 Juni 2011 pukul 4:38 am

    Gaya pacaran’nya keren, mau coba ahh~
    #plakk

    HaeSica.. Boleh lah xD

    Semangat !! \m/

    • 11 Juni 2011 pukul 3:33 pm

      TIDAAAAAAAAAK~! Gaya pacaran seperti itu tidak diperuntukkan bagi pasangan yang belum menikah!😄

      ne~ kamsahamnida~ ^^

  6. 14 Juni 2011 pukul 4:58 pm

    pasangan yg aneh ._.
    Seru kok lanjutkan ya unn🙂

  7. va elfhisy wife
    15 Juni 2011 pukul 2:52 pm

    wooooo
    gaya pacaran mereka it’s so fantastic
    haha
    love haesica yaaaaa
    who is she? kenapa dia langsung cium hae gitu?
    ergghhh kasian nae unni wooo
    lanjut lanjut please

  8. raa
    24 Juni 2011 pukul 1:08 am

    bner2 aneh gaya pcaranny, tp seru jg si kyakny #plak
    lanjuttt..

  9. 18 Juli 2011 pukul 1:11 pm

    Wow, chingu.. crita ini emang pass bgt di maenin ama haesica… hmm, aq jg suka wktu yoonyul manggil haesica mom-Daddy… Keke, oyah aq baru nongol lg nih chingu, wah ternyata banyak ff yg terlewtkan. Nice ff! I love it…

    • 22 Juli 2011 pukul 1:07 pm

      ehehehe. makasih.
      emang abis dari mana aja chingu? 0.o
      makasih ya udah baca dan komen😀

  10. DELI dewi
    12 Desember 2012 pukul 5:22 pm

    gimana coba mereka berpacaran seperti itu?bener-bener pasangan aneh,,
    penulisanya bagus^^

  11. Kim Ah Ra
    8 Februari 2013 pukul 11:45 pm

    daebak ^^ aku jadi penasaran sama terusannya.

  12. Tasya • Leo William Recipon (RP)
    23 Mei 2013 pukul 3:56 pm

    i don’t found any wrong phrases in there.. we still learning so i’m not so sure :3

  13. vankaka
    17 November 2014 pukul 4:03 pm

    keren! di chapter awal udh ada konflik.. panas dah
    ini cara pacaran paling sangar
    next next next!!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: