Beranda > fanfiction, ficlet, whyenda_arinka > [Ficlet] In The Next Life

[Ficlet] In The Next Life

Title : In The Next Life
Length : Ficlet
Genre : AU, Romance
Rating : G
Casts : Donghae/Jessica
Other Casts : OC Yang Jun Hwa/Tuan Yang

Disclaimer © Artists are owned respectively to their company. Artist’s names are borrowed and used only in a fictional way. Ane event occured is pure coincidence.

Idea © Whyenda Arinka

——————————

“Sica, promise me, please. Promise me that in the next life, don’t forget me. Don’t forget your love for me. And don’t ever forget that you are mine. Only mine,”

“I promise, Donghae. I promise,”

And with that, they jumped to the darkness from the highness. Leaving everything behind them. Leaving everyone behind them. Leaving anything that ever happened to them..

[Daegu, August 23rd, 2313]

Hari ini, di stadion olah raga Daegu, penuh dengan ribuan orang yang memadati tribun penonton. Sebagian besar menggunakan kaos dengan atasan berwarna biru dan lambang singa di dada kanan mereka. Sebagian lagi membawa spanduk bertuliskan dukungan kepada tim kesebelasan kesayangan masing-masing. Ya, saat ini tengah berlangsung pertandingan sepak bola antara tim kesebelasan dari Daegu dan Seoul.

Di tribun timur pada barisan ketiga dari bawah, seorang gadis berambut coklat tua dengan topi biru menutupi puncak kepalanya terlihat sibuk menyerukan tim kesebelasan favoritnya sembari kedua tangannya menepukkan dua balon lonjong berwarna putih dan biru. Ia terlihat sangat bersemangat sekali mendukung tim kebanggaannya.

“Jessica-ssi?” seorang pria paruh baya memanggilnya dengan ragu-ragu.

Merasa namanya disebut, ia menoleh dan mendapati seorang pria paruh baya dengan atribut biru putih yang sama dengan miliknya menatapnya dengan ekspresi takjub. Memberikannya senyum familiar yang ramah dan hangat yang segera dibalasnya dengan senyum lebar nan bersahabat walau matanya menyiratkan sedikit keterkejutan.

“Oh, tuan Yang. Annyeong hasseyo,” sapanya sedikit membungkuk dalam duduknya.

“Jadi, apa kata orang itu benar ya? Nona Jung, pengacara Korea Selatan yang terkenal akan kepiawaiannya dalam menangani kasus, sangat mencintai olah raga sepak bola?” tanya pria bermarga Yang tersebut masih dengan senyum hangatnya.

“Hahaha. Begitulah tuan,” jawab Jessica sekenannya, penuh rasa hormat.

“Ah, jangan terlalu formal begitu. Bagaimanapun, saya masih berhutang banyak pada anda karena telah menolong saya tempo hari,” sergah tuan Yang.

“Itu sudah kewajiban saya membantu klien saya,” ucap Jessica.

“Hahaha,” tawa renyah tuan Yang terdengar diikuti tawa gadis itu, “Sepertinya kita mendukung tim yang sama ya, nona Jung,” ucapnya kemudian.

“Ne, tuan. Sangat kebetulan sekali,” setuju Jessica.

“Aigoo~ dasar pengacara. Sudah kukatakan, tak perlu formal seperti itu,” geleng tuan Yang yang disambut tawa kecil Jessica, “Panggil saja aku ahjussi. Toh pamanmu teman lamaku,”

“Ne, ahjussi,”

“Terdengar lebih baik,” senyum tuan Yang.

“Jadi, nona Jung, kenapa anda rela dari Seoul ke Daegu dan menonton pertandingan? Saya rasa, pertandingan ini disiarkan di televisi lokal,” tanya tuan Yang kemudian membuat Jessica menampakkan senyum lebarnya.

“Biar kutebak,” ucapnya lagi dan terhenti sejenak sambil memperhatikan pengacara muda di hadapannya, “Lee Donghae, bukan?”

Blush. Semburat merah muda dengan segera menggantikan warna putih di pipi gadis muda itu. Mendengar nama striker andalan kesebelasan Seoul disebut, entah kenapa selalu membuat jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Selain itu, ia juga merasa geli dari dalam perutnya. Seolah, jutaan kupu-kupu mengepakkan sayapnya di dalam sana. Namun di sisi lain, ia seperti pernah mengenalnya sebelumnya.

“A-ahjussi,” gugupnya diikuti tawa canggung membuat tuan Yang tertawa.

“Aigoo nona Jung, apakah itu alasan anda mencintai sepak bola?” godanya.

“A-ani, ahjussi,” elak Jessica, “Tapi dia salah satunya,” tambahnya dengan pipi yang memerah padam.

“Ah~ sudah kuduga,” komentar tuan Yang sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tapi nona Jung—anda sudah pernah bertemu dengannya? Dengan Lee Donghae?” tanya tuan Yang yang kini terdengar serius.

Seketika ia merasa kosong. Bagaimana tidak? Hal itu tak pernah ia pikirkan sebelumnya. Ia memang mengidolakan sosok Lee Donghae, tapi tidak pernah terbersit di otaknya untuk bertemu. Tidak. Bahkan sebagai seorang fans pun tidak. Mengingat dirinya mendengar nama itu disebut saja, sudah membuatnya nervous, bagaimana bila bertemu?

“Be-belum, ahjussi,” gelengnya kecil dengan senyum kecil, “Saya rasa, saya tidak yakin bila saya bertemu dengannya,” tambahnya diikuti tawa kecil nan merdu.

“Aigoo~ kenapa tidak yakin?” tanya tuan Yang heran, “Seharusnya kalian berdua bertemu dan saling kenal,” lanjutnya terdengar sedikit berambisi.

“Eh? Kenapa?” tanya Jessica bingung.

“Ah, ini—tidak banyak yang tahu. Hal ini selalu diusahakan tertutup dari telinga media,” mulai tuan Yang. Ia melirik kesekitarnya yang masih sibuk dengan permainan kedua tim kesebelasan di bawah sana, “Tapi—nona Jung—tahukah siapa orang yang diidolakan oleh Lee Donghae?” tanyanya pelan.

Jessica menaikkan sebelah alisnya. Setahunya, sosok Lee Donghae yang selalu diberitakan media sebagai striker terbaik yang pernah dimiliki Korea Selatan, tidak pernah mengatakan siapa orang yang ia idolakan. Dan dengan sedikit rasa sesal yang tidak jelas berasal dari mana, ia menggeleng kecil membuat senyum tuan Yang terkembang. Tanda tanya segera memenuhi otaknya.

“Anda, nona Jung,” ucap tuan Yang membuat Jessica mengedipkan kedua matanya beberapa kali, tidak percaya akan pendengarannya. “Striker kebanggaan Korea Selatan, Lee Donghae, mengidolakan seorang pengacara piawai Korea Selatan, Jessica Jung Sooyeon,” tambah tuan Yang memperjelasnya untuk Jessica dengan senyum yang lebih hangat daripada sebelum-sebelumnya.

“B-bagaimana—ahjussi tahu?” tanya Jessica kaget. Ia bisa merasakan tubuhnya yang bergetar.

“Tentu saja saya tahu, nona Jung. Tidak mungkin kan seorang ahjussi tidak mengenal keponakan yang ia rawat sejak bayi?” jawab tuan Yang membuat kedua mata Jessica melebar dengan kaget.

Lee Donghae. Kehilangan kedua orang tuanya sejak berumur sepuluh tahun dan selama ini diurus oleh keluarga Yang. Keponakan tuan Yang? Yang Jun Hwa. Kliennya yang kasusnya ia urus sekitar sebulan yang lalu. Betapa sempitnya dunia ini.

“Ah, anda terlihat terkejut sekali, nona Jung. Gwenchana?” tanya tuan Yang sedikit khawatir.

“G-gwenchana, tuan,” elak Jessica.

“Aigoo nona Jung, anda kembali formal,” protes tuan Yang menggelengkan kepalanya.

“Oh, jwosonghamnida, t—ahjussi,” gugup Jessica.

*

Jessica terduduk di salah satu café di dekat stadion Daegu. Kedua telapak tangannya membungkus cangkir kopi di atas meja sementara kedua matanya menatap tuan Yang yang memaksanya menemaninya menikmati kopi di café tersebut. Banyak sekali yang diceritakan tuan Yang padanya.

Tiba-tiba terdengar denting lembut dari arah pintu kaca diikuti sosok pria muda yang memasuki café dengan tas selempang tersampir di bahu kanannya. Sosoknya yang tegap dengan wajah tampan saja sudah pasti menarik perhatian banyak orang. Terlebih, ia adalah salah satu pemain andalan dari tim kesebelasan Seoul. Tentu saja banyak pengunjung—bahkan karyawan café—yang saling berbisik mengaguminya, tidak terkecuali Jessica yang membeku seketika.

Berada satu ruangan dengan Lee Donghae, adalah pertama kali yang terjadi dalam hidupnya. Memperhatikannya dari dekat. Wajahnya. Rambutnya. Senyumnya. Langkah tegapnya. Gaya berpakaiannya. Entah kenapa membuat Jessica merasakan deja vu. Ia tidak mengerti kenapa. Bahkan, getaran di dalam hatinya pun terasa tidak asing.

“Ahjussi,” sapa Donghae pada tuan Yang dan segera mengambil posisi di samping pria paruh baya itu.

“Ah, kau sudah tiba rupanya, Hae,” ucap tuan Yang menepuk bahu Donghae yang hanya mengangguk takzim dengan senyum sungkan.

“Ini—ahjussi ingin mengenalkanmu pada sosok yang selama ini kau idolakan,” tambah tuan Yang sembari melambaikan tangannya pada Jessica yang terduduk di depan Donghae.

Untuk pertama kalinya, kedua mata mereka saling bertemu. Seakan ada koneksi di dalamnya, keduanya terjatuh sangat dalam. Merasakan kehangatan yang terpancar di dalam sana. Merasakan tatapan yang familiar. Merasakan sepasang bola mata yang entah kenapa, tidak asing bagi keduanya. Seakan, keduanya sudah pernah bertemu sebelumnya.

Namun kemudian, kontak mereka harus terputus tatkala terdengar dering ponsel milik tuan Yang yang segera bangkit dan menjauh meninggalkan keduanya untuk menerimanya. Seketika, kecanggungan menyelimuti mereka. Berbagai pertanyaan berkecamuk di dalam pikiran mereka. Siapa? Kenapa tidak asing?

“Lee—”

“Jess—”

Mulai keduanya lalu terhenti sejenak dan tertawa.

“Kau duluan,” ucap Donghae.

“Anni. Kau saja,” tolak Jessica halus.

Donghae menghela nafas sejenak sebelum akhirnya tersenyum dan mengulurkan tangannya, “Lee Donghae,”

Sedikit ragu-ragu, Jessica menyambutnya dan berkata, “Jes—sica Jung…”

Keduanya membulatkan kedua mata masing-masing ketika merasakan seperti adanya sengatan listrik kecil. Walau begitu, tidak satupun dari mereka berusaha melepaskan genggaman satu sama lain. Dan sekali lagi, mereka merasakan sesuatu yang tidak asing. Kulit mereka yang saling bersentuhan. Genggaman yang memberi rasa nyaman. Genggaman yang tidak ingin terlepas begitu saja. Semuanya terasa familiar.

“Kids!” seruan seseorang membangunkan keduanya yang segera melepaskan genggaman satu sama lain. Ganjil rasanya ketika keduanya membiarkan genggaman mereka terlepas.

“Aku ada urusan sekarang. Aku harus segera pergi,” ucap tuan Yang sambil mengambil jaket hitamnya yang disampirkan di kursi café, “Kalian—tidak apa kan bila kutinggal? Maaf ya,”

“Gwenchana, ahjussi,” ucap Donghae mencoba meyakinkan sang paman.

“Baiklah. Aku titip nona Jung padamu, Donghae. Arasso?” dan kemudian tuan Yang segera beranjak meninggalkan café tersebut.

Keheningan yang diselimuti rasa canggung terlihat jelas diantara keduanya. Keduanya saling menghindari tatapan masing-masing. Seolah takut mereka akan tenggelam dalam mata indah milik keduanya.

“Sica,”

Sekali lagi, terkejut. Donghae, entah kenapa ingin memanggil gadis di hadapannya dengan panggilan itu. Panggilan itu, tanpa bisa ia cegah, muncul begitu saja dari otaknya. Dan entah bagaimana, panggilan itu terdengar sangat familiar baginya. Rasanya, ia seperti pernah mengucapkannya berkali-kali dulu. Tapi—kapan?

Di sisi lain, Jessica pun merasakan hal yang sama. Ini adalah pertama kalinya seseorang memanggilnya seperti itu. Namun, telinganya seolah sangat familiar dengan panggilan itu. Ia merasa, pernah mendengar panggilan itu ditujukan padanya dulu. Tapi—kapan?

“Sorry,” gumam Donghae kemudian.

Jessica menggeleng, “Tak apa,” ucapnya tersenyum manis, “Ada apa, Donghae-ssi?” tanyanya.

Donghae menatap Jessica dengan intens, “Apa kita—pernah bertemu sebelumnya?” mulainya. Perlahan, tatapannya menyiratkan kebingungan, “Apa kita—pernah saling kenal?”

Pertanyaan yang sama. Pertanyaan itu juga memenuhi otak Jessica. Pertanyaan yang memenuhi otak keduanya. “M-molla,” jawab Jessica bingung.

Donghae mengerutkan keningnya dalam kebingungan. Hal yang sama, dilakukan oleh Jessica. Tapi ketika melihat Jessica—wajahnya, rambutnya, matanya, senyumnya, tingkah lakunya, suaranya, caranya berbicara—entah kenapa terasa tidak asing sama sekali baginya. Ia merasa, pernah mengenal gadis itu sebelumnya. Dan hatinya, menggetarkan sebuah dawai yang getarannyapun sangat familiar baginya.

“Well—entah kita pernah saling kenal atau tidak—tapi menurutku, aku merasa pernah kenal denganmu,” ucap Donghae kemudian, “Senang mengenalmu lagi,” tambahnya.

“Ne. Aku juga, Donghae-ssi,”

“Donghae—just Donghae,” koreksi Donghae.

“Bada,” ucap keduanya bersamaan.

Keduanya tertawa renyah. Sepertinya, mereka sudah terbiasa dengan keadaan yang memang familiar bagi keduanya.

“Sepertinya, kita memang saling mengenal dulu,” ucap Jessica kemudian.

“Yes. I guess so,” setuju Donghae.

Tiba-tiba, ia bangkit dari duduknya dan pindah duduk di samping Jessica. Diraihnya telapak tangan gadis itu dan digenggamnya dengan erat. Secara otomatis, keduanya saling mengaitkan jari satu sama lain seolah tak ingin terpisah. Erat. Hangat. Keheningan menyelimuti mereka yang kini saling bertukar pandang.

“I think.. We really close to each other, before,” gumam Jessica.

“Yes, we were,” angguk Donghae.

“Sica,” panggil Donghae pelan, “Do you believe me if I say that—our destiny are ties to each other? Do you believe me if I say that you are my des—anni, my Jesstiny?” tanyanya pelan tanpa melepaskan pandangannya dari dua manik mata coklat nan indah milik Jessica.

“I—don’t know,” jawab Jessica menggumam, “But I guess—you’re right,”

Senyum Donghae terkembang seketika. Senyum kanak-kanak yang sangat menggemaskan. Dan Jessica—sangat menyukainya. Senyum yang entah kenapa ia kenali dengan baik. Dibalasnya senyum Donghae.

“I know its too fast but—I love you,” ucap Donghae lalu mengecup pipi Jessica dengan kilat, “I love you and I know—you’re mine. Only mine,”

…Because a true love never has an ending…

FIN

ngahahaha. how’s it? geje? ancur? parah? kaco? kecepetan?

I know. soalnya aku aja buatnya 1,5 jam doang! bruakakak /guling2😄

anyway, thanks for reading ^0^

  1. 23 Agustus 2011 pukul 2:44 pm

    Keren.. Meskipun pendek, feel-nya dapet banget!

    Chingu, request FF Kyusica lagi dong? Menurutku kalau chingu yang bikin, feel-nya dapet.. I like it!

  2. doLpHiN_siC ^^
    23 Agustus 2011 pukul 6:09 pm

    Hahaha cHingu ini bgUs crita’a tp lbih enak klo ad posternya lebih gmana gtu!?
    Hehehe

  3. 24 Agustus 2011 pukul 3:23 am

    1.5 jam bisa bikin sebagus ini? wow…daebak!
    keren. berasa masuk ke dalem cerita. great job

  4. Liah icesica4ever
    24 Agustus 2011 pukul 1:43 pm

    Renkarnasi y?
    Sngkat,pdat,dan jelas !
    Plus sweet~ ,
    chingu bkin ff kyusica dong…haesica dh kbnyakan!
    Hehe.

  5. icelfishy wife
    24 Agustus 2011 pukul 6:37 pm

    yeah destiny nggak ada yang bakal nyangka kalo mereka bakal ketemu kaya gitu.

    daebak
    love it
    keren kata kata ah suka banget

  6. Siti JoJo Sunny
    7 September 2011 pukul 12:42 pm

    ehm jdoh emanx gak kmana y!
    Haesica memang berjdoh.
    aduwh cuit cuit ada sinyal” cnta dri haesica.
    Yang adjussi jdi mak comblang.
    bgus bgus^^

  7. Susangorjess
    4 Oktober 2011 pukul 1:55 pm

    Wawwww.. Reinkarnasi mrka ttp berjodoh yawww,, wkwkwk HAESICA emang slalu jadi couple teromantis dhe, u,u
    hmmmm,, jadi deg degan aku bcana,, heheee..

  8. vankaka
    9 Agustus 2014 pukul 7:31 pm

    oh my-_-
    baru kenal langsung jalin hubungan
    daebak!!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: