Beranda > fanfiction, ficlet, whyenda_arinka > [Ficlet] A Sweet Farewell

[Ficlet] A Sweet Farewell

Title : A Sweet Farewell

Length : Ficlet

Genre : Canon Modified, Romance, Hurt, Comfort

Rating : G

Casts : Donghae/Jessica; Heechul/Tiffany

 

 

Disclaimer © Artists are owned respectively to their company. Artist’s names are borrowed and used only in a fictional way. Ane event occured is pure coincidence.

 

Idea © Whyenda Arinka

——————————

 

“Ah~ akhirnya kita bisa berkumpul lagi~” senandung Heechul dengan girang. Ia segera mengenyakkan dirinya duduk bersila dengan punggung merapat ke dinding. Senyumnya terkembang sangat lebar.

 

“Hyung, memang ada apa? Kenapa hanya kita bertiga saja?” tanya Donghae yang ikut duduk di samping Heechul.

 

Jessica, yang juga duduk bersila di sisi lain Heechul, menganggukkan kepalanya berulang kali. Menunjukkan persetujuan akan pertanyaan yang dilontarkan Donghae. Ia menatap Heechul yang sudah ia anggap layaknya oppanya sendiri. Sebuah senyum lebar dengan begitu banyak arti tersirat di sana. Ia sampai bingung bagaimana harus menjabarkannya. Senyum bahagia kah? Tapi salah satu sudutnya tertarik sedikit lebih ke atas. Bahkan matanya pun menyiratkan sesuatu yang sulit untuk digambarkan. Entah itu oleh Jessica ataupun Donghae.

 

“Hah kalian ini! Sebentar lagi aku akan memulai kewajibanku sebagai pria Korea, apa kalian tak ingin melihat dan berkumpul denganku untuk yang terakhir kalinya!?” protes Heechul panjang lebar.

 

“Hyung~” rajuk Donghae yang tak suka mendengar kalimat terakhir Heechul.

 

“Oppa! 2 tahun itu hanya sebentar. Kita pasti bisa berkumpul lagi,” protes Jessica yang disetujui Donghae.

 

“Iya. Lalu setelah itu, Donghae akan memulai kewajibannya. 4 tahun lagi kita baru bisa berkumpul lagi seperti sekarang ini. Ayolah~”

 

“Tapi 4 tahun tidak sebanding dengan persahabatan kita,”

 

Hening sesaat menyelimuti ketiganya. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Bisakah? Bisakah mereka tetap seakrab ini nantinya? Bisakah setelah 4 tahun mereka berpisah, mereka kembali sedekat ini? Masih mungkinkah mereka bertemu lagi setelah 4 tahun berlalu? Pertanyaan-pertanyaan tersebut mau tak mau menghampiri mereka. Membuat dada mereka sesak.

 

“Sebenarnya, ada yang ingin aku sampaikan pada kalian,” ucap Heechul memecah keheningan.

 

“Hanya kaliann berdua,” tekan Heechul pada dua dongsaengnya.

 

Mendengarnya, Donghae dan Jessica segera menegakkan duduk mereka sambil menatap Heechul dengan penuh perhatian sementara Heechul memutar posisi duduknya menghadap keduanya. Ia duduk di depan Donghae dan Jessica dengan tampang serius.

 

“Dengar. Aku akan pergi memenuhi kewajibanku selama 2 tahun. Aku yakin kalian sudah mengetahuinya,” Heechul berhenti sejenak untuk menarik nafas, “Dan aku mohon pada kalian, untuk tetap seperti ini,” lanjutnya.

 

“Maksudku, kalian harus tetap menjaga kontak, arasso?” tambahnya.

 

“Arasso,” ucap Donghae yakin diikuti anggukan dari Jessica.

 

“Donghae,” panggil Heechul sambil menatap Donghae yang membalas tatapannya, “Aku mau kau jaga Jessica baik-baik. Jangan sampai ada orang yang menyakitinya,”

 

“Oppa~” terdengar protes kecil yang berasal dari Jessica, namun tak digubris Heechul.

 

“Apalagi kau. Kau tidak boleh menyakitinya, mengerti!?” titah Heechul yang diikuti anggukan patuh dari Donghae.

 

“Dan Jessica,” kini Heechul mengalihkan tatapannya pada Jessica yang berusaha tegar. Senyum manisnya terkembang pada gadis yang sudah ia anggap layaknya adiknya sendiri itu, “Kau juga harus menjaga Donghae, arasso!?” titahnya sekali lagi.

 

Jessica mengangguk kecil berulang kali. Takut bila ia mengeluarkan suara, suaranya akan pecah dan berubah menjadi tangisan. Ia tak ingin membuat oppa yang selama ini ia sayang dan hormati melihatnya tak rela meninggalkannya. Bukannya ia tidak senang Heechul menjalani kewajibannya, hanya saja, susah melepas kepergian seorang sahabat yang sudah layaknya saudara sendiri. Walaupun hanya sebentar, perpisahan tetap saja perpisahan.

 

“Kau juga harus memperhatikannya dengan lebih. Kau tau sendiri kan dia rapuh,” kekeh Heechul.

 

“Hyung~” rajuk Donghae lagi. Nadanya benar-benar seperti anak kecil sementara Jessica tertawa kecil mendengarnya.

 

Oh~ betapa ia akan merindukan kedua adiknya ini nanti. Kedua adiknya yang manja. Kedua adiknya yang jahil. Kedua adiknya yang sangat kekanak-kanakan. Kedua adiknya yang patuh padanya. Kedua adiknya yang sangat pengertian padanya. Kedua adiknya yang sangat ia sayang. Ia menghela nafas berat.

 

Kemudian, ia tersenyum tipis sebelum kembali berkata, “Intinya kalian harus saling menjaga. Aku hanya ingin, ketika aku kembali nanti, tidak ada yang berubah dalam persahabatan kita,”

 

“Kalau pun ada, aku berharap itu adalah semakin dekatnya kalian satu sama lain,” tambahnya sambil bangkit dari duduk bersilanya.

 

Dengan senyumnya yang masih terkembang—bahkan semakin lebar saja, Heechul mengulurkan kedua tangannya untuk mengusap puncak kepala Donghae dan Jessica penuh kasih. Seolah senyum dan gerak-geriknya mengucapkan kata perpisahan. Perpisahan yang tidak akan berlangsung lama. Namun tetap saja, menyakitkan.

 

“Jaga diri kalian baik-baik,” pesannya sebelum melangkah pergi, “Annyeong,”

 

Dan dengan itu, Heechul melangkahkan kakinya meninggalkan ruang latihan itu. Namun baru dua langkah ia meninggalkan ruangan, ia berbalik menjulurkan kepalanya ke dalam ruangan.

 

“Oh ya! Jessica?” panggilnya pada gadis yang selalu ia annggap kembarannya.

 

Jessica menoleh ke arah pintu. Salah satu sudut matanya baru saja meneteskan sebulir air bening yang segera  diusapnya. Ia mengernyit sedikit melihat adiknya menangis, “Ye, oppa?”

 

“I LOVED you,” ucapnya kemudian benar-benar pergi meninggalkan ruangan itu.

 

Meninggalkan Jessica yang kini tak bisa membendung tangisnya. Gadis itu menangis dalam diam sambil memeluk lututnya. Ia merasa kosong saat ini. Bukan karena ia juga mencintai Heechul, ia justru merasa bersalah karena tak dapat membalas perasaan oppanya lebih dari perasaan seorang dongsaeng pada kakaknya. Tapi lebih karena ia merasa kehilangan oppa yang selalu ia sayang dan banggakan.

 

Menjadi satu-satunya orang yang menyaksikan bagaimana gadis yang dicintainya menangis tanpa suara, membuat hati Donghae pilu. Ia merasa hatinya hancur berkeping-keping layakya kristal. Berserakan di mana-mana menyebabkan  lecet yang sangat perih di sudut lain hatinya. Ia kini merasa sesak seiring air matanya ikut mengalir. Kemudian, ia teringat perkataan hyungnya bahwa ia harus menjaga Jessica.

 

Dengan sedikit ragu, ia menepuk pelan bahu Jessica dan menariknya sedikit untuk menghadapnya. Ia bisa melihat dengan jelas kedua pipi yang memerah dibanjiri air mata. Mengalir tanpa henti. Tanpa perintah, ia melingkarkan lengannya pada pinggang mungil Jessica sementara gadis itu sendiri segera melingkarkan lengannya di lehernya. Jessica kini menangis di bahu Donghae.

 

“Sshhh…” desis Donghae mencoba menenangkan Jessica. Namun gadis itu justru semakin terisak.

 

“Sica.. hyung pasti kembali. Mungkin ketika hyung nanti kembali, hyung bisa.. mencintaimu lagi,” ucap Donghae mencoba menenangkan Jessica. Dikecupnya puncak kepala gadis itu dengan penuh sayang.

 

Seketika isak Jessica terhenti. Gadis itu melonggarkan pelukannya dan menengadah menatap Donghae yang menatapnya lembut. “Maksudmu?” tanyanya membuat Donghae bingung.

 

“Eh? Kau.. tidak menangis karena hyung pergi?” tanya Donghae kebingungan, “Kau tidak menangis karena.. hyung tidak.. mencintaimu lagi?” tambahnya.

 

Jessica terdiam sejenak, terlihat mencerna pertanyaan Donghae. Tiba-tiba ia tertawa keras. Sangat keras sampai-sampai ia membenamkan wajahnya dalam bahu Donghae untuk meredam tawanya. Kedua tangannya meremas baju Donghae kuat, seolah berusaha menahan tawanya. Ia bahkan hampir terbatuk karenanya.

 

“Sica?” panggil Donghae khawatir sambil menepuk-nepuk punggung gadis itu pelan.

 

Di pikirannya, berkecamuk berbagai hal. Bagaimana kalau Sica terlalu sedih? Bagaimana kalau Sica kehilangan kesadarannya karena terlalu sedih? Bagaimana kalau Sica merasa sangat terpukul? Aigoo. Dan mau tak mau, pikiran yang mengusiknya tersebut membuatnya merasa semakin hancur.

 

“Donghae-ah~” panggilan dari Jessica menyadarkannya dari lamunannya.

 

Ia menunduk sedikit dan tersenyum tipis. Tangannya menyentuh pipi Jessica lembut dan mengusap air mata yang tersisa. “Uljimayo,” pintanya lirih dengan senyum sedih.

 

“Donghae,” panggil Jessica, “Kenapa berkata begitu? Kenapa mengira aku juga mencintai Heechul oppa?”

 

Donghae salah tingkah. Ia terlihat gugup, “Jadi.. kau menangis bukan karena itu? Kau.. tidak mencintai Heechul hyung?”

 

“Ne~” jawab Jessica, “Aku memang mencintai Heechul oppa,”

 

Sejenak Donghae kembali merasa dirinya dihantam godam yang sangat besar berkali-kali. Hatinya yang telah hancur, seolah hilang disapu angin. Nafasnya terasa sesak. Seolah tak ada oksigen tersisa di sekitarnya. Ia berusaha memaksakan sebuah senyum yang sangat menyedihkan.

 

“Tapi rasa cintaku pada Heechul oppa, tidak pernah bisa lebih dari rasa cinta seorang dongsaeng pada oppanya,” tambah Jessica membuat hati Donghae terasa lega seketika. Lapang. Benar-benar lapang seolah tanpa beban sama sekali.

 

“Syukurlah,” ucapnya tanpa sadar. Senyum lebarnya terkembang tanpa perintah.

 

“Eh? Wae?” tanya Jessica heran.

 

Salah tingkah lagi. Seketika Donghae merasa kikuk. Tidak seharusnya ia mengucapkan syukur di saat seperti ini. Tidak di saat hyungnya baru saja meninggalkannya dan Jessica untuk memenuhi kewajiban militer. Tidak di saat Jessica menangisi kepergian Heechul hyungnya. Tapi, ia sendiri tak mampu membendung kebahagiaan yang ia rasakan.

 

“Donghae-ah?” panggil Jessica membangunkannya dari lamunannya. “Why?” tanya gadis itu lagi meminta penjelasan.

 

“Because.. err.. because..” gugup Donghae. Ia berusaha mencari alasan, tapi tak satu pun bisa ia jadikan alasan, “Because.. I.. love you..?”

 

Blush. Pipi keduanya bersemu merah. Namun kemudian, tawa keduanya meledak tatkala melihat wajah satu sama lain yang sama-sama memerah. Well, itu adalah salah satu cara menyatakan cinta yang aneh, memang. Tapi Donghae bersyukur. Setidaknya, Jessica tidak marah padanya, eh?

 

Tiba-tiba Donghae mendaratkan keningnya di kening Jessica dan menatapnya lembut. Barulah Jessica sadar bahwa tangannya masih tergantung di leher Donghae sedang tangan Donghae sendiri masih melingkari pinggang kecil Jessica.

 

“Eh.. Donghae..” ucap Jessica menaruh telapak tangannya di dada bidang Donghae, mencoba memberi ruang diantara mereka.

 

“Sica..” panggil Donghae pelan. Ditatapnya kedua mata Jessica dalam.

 

“Y-Ye?”

 

“I love you,” ungkap Donghae sekali lagi. Wajahnya memanas. Ia yakin bahwa pipinya kini memerah. Namun ia tersenyum ketika menyadari wajah Jessica pun memerah.

 

“I–I.. I love you.. too?”

 

Donghae tersenyum manis pada Jessica yang juga membalasnya dengan senyum malu-malu. Ia senang perasaannya selama ini terbalas. Perlahan, ia mendekatkan wajahnya pada wajah Jessica hingga ujung hidung keduanya bertemu. Saling bersentuhan.

 

“I love you, Sica. I really am,” dan dengan itu, Donghae menekan bibir Jessica dengan lembut menggunakan bibirnya.

 

.

 

Heechul melangkah ringan meninggalkan ruang latihan di mana ia meninggalkan Donghae dan Jessica berdua, dengan senyum lebar. Ia merasa sudah sedikit lega sekarang. Sedikit, berarti masih ada yang mengganjal dalam hatinya. Tapi setidaknya, sudah berkurang sedikit daripada sebelumnya.

 

“Annyeong, oppa,” sapa suara lembut dari arah kirinya. Ia menoleh dan mendapati Tiffany tengah melambaikan tangan kanannya ke arahnya dengan senyum lebar bak malaikat tercetak di wajahnya. Untuk sesaat,  ia merasa hatinya berdesir lembut.

 

“Annyeong, Fany-ah,” balasnya riang.

 

“Oppa dari mana?” tanya Tiffany sedikit berbasa-basi.

 

“Nae?” ulangnya sambil menunjuk dirinya sendiri yang dibalas anggukan kecil Tiffany. Ia tersenyum misterius sebelum menjawab, “Dari ruang latihan. Mengucapkan sepatah-dua patah kata untuk Donghae dan Jessica sekalian mengucapkan salam perpisahan,”

 

Senyum Tiffany hilang mendengarnya. Begitu pula dengan senyum di dalam matanya. “Oppa?”

 

“Neh?”

 

“Oppa.. mengatakannya?” tanya Tiffany pelan.

 

“Ne,” jawab Heechul singkat, “Tapi aku tak ingin repot-repot menunggu jawabannya,”

 

“Wa-wae?”

 

“Memang aku orang bodoh yang membutuhkan jawaban untuk pernyataan yang tidak ada jawabannya?”

 

“Eh?”

 

“Fany-ah, I loved her,”

 

“Lo-loved?” kaget Tiffany, “You.. didn’t love her anymore?”

 

“No I didn’t,”

 

“Tapi—oppa—”

 

“Fany-ah, dengarkan aku,” pinta Heechul meletakkan kedua tangannya di bahu Tiffany, meminta gadis itu menatap kedua matanya, “Kau harus melepaskan apa yang bukan milikmu untuk mendapatkan apa yang menjadi milikmu. Dan aku melepaskannya karena sejak awal, ia memang ditakdirkan bukan untukku, aratchi?”

 

Perlahan, Tiffany mengembangkan senyumnya dan mengangguk kecil. Ia kagum melihat ketegaran seorang Kim Heechul. Sejak dulu ia memang mengaguminya. Walaupun ia bisa merasakan perih yang dirasakan oleh Heechul, tapi di sisi lain ia merasa bahagia.

Perlahan, Heechul melepas bahu Tiffany dengan senyum lebar. Ia ingin pamit dan pergi dari hadapan gadis itu sebelum ia tak ingin pergi. Tapi di dalam hatinya, ia merasa ada sesuatu yang perlu ia katakan. Hanya saja, ia bingung. Bagaimana caranya? Haruskah? Tapi untuk apa? Ia tenggelam dalam pikirannya sendiri.

 

Merasa kejanggalan sang oppa, Tiffany bertanya, “Oppa? Wae geurae?”

 

“Uhm~ Tiff?” Heechul berhenti sejenak untuk menyusun kata-kata, “Kurasa—aku sudah menemukan apa yang seharusnya menjadi milikku,”

 

Tiffany mengangkat sebelah alisnya, berusaha menutupi kesedihan yang tiba-tiba menyelimutinya. Tapi matanya tidak bisa berbohong. Di sana, tergurat jelas kesedihan yang entah mengapa, membuat Heechul tersenyum penuh kemenangan, “Tapi sayang, aku tidak bisa memilikinya untuk saat ini,”

 

“Oh, oppa~ kau pasti akan memilikinya nanti ketika kau kembali 2 tahun lagi,” ucap Tiffany berusaha menghibur walau ia sendiri merasa sakit.

 

“Thanks, Fany-ah,” ucap Heechul sambil tersenyum manis.

 

“Tiffany?” panggil Heechul walau ia sadar itu tak perlu. “I’m sorry—”

 

“Untuk apa oppa?” tanya Tiffany heran.

 

“Karena aku harus membuatmu menungguku selama 2 tahun,” jawab Heechul membuat kedua bola mata Tiffany melebar.

 

“I love you, Stephanie Hwang Miyoung,” ungkap Heechul, “Wait me, will you?”

 

Mendengarnya, senyum di mata Tiffany merekah begitu pula di bibirnya walaupun ada genangan air mata di pelupuknya, “I will, oppa. I will,”

 

Heechul tersenyum kemudian mengulurkan tangan kanannya untuk mengusap air mata yang membasahi pipi Tiffany. Perlahan, ia sedikit menunduk dan mengecup kening Tiffany lembut.

 

“I love you, Hwang Miyoung,”

 

 

…Kau harus melepaskan apa yang bukan milikmu untuk

mendapatkan apa yang menjadi milikmu…

Bong Chandra

FIN

 

Yihaaaa~ ini ff kupersembahkan khusus untuk our Heenim dan kak In yg kemaren kapan request HeeFany😄

 

Heenim-ah~ selamat menjalankan kewajibanmu. Kami semua pasti merindukanmu. Jangan pikirkan keadaan kami, yang terpenting adalah keadaanmu. Jaga kesehatanmu di sana. Karena hidup di sana pasti akan berat untukmu. Kkk~ jika kewajibanmu sudah selesai, kembali lah menjadi Heenim yang biasa. Kami pasti menunggu J

 

Heenim-ah, thanks you so much for always took care of our Donghae and Sooyeonnie. This time, its my turn to take care of them for you. Saranghaeyo, Kim Heechul😀

 

@ Kak In:

Oh well, I know you kind of.. unsatisfy? Uhm—I do. I’m so sorry. It just—well, blame my mind that can’t imagine HeeFany perfectly. Or maybe my fingers that can’t type it properly? Err—sowy~ /using Jessie’s aegyo :3

 

Thanks for reading😀

  1. 9 September 2011 pukul 5:27 am

    Keren chingu!
    Haesica and Heefany🙂
    Gak nyangka Heenim suka Jessica, tapi untung ada Tiffany.. Eh tuh si Jessica ma Donghae malu2 kucing😀
    Daebak! Bravo!

  2. doLpHin_siC ^^
    9 September 2011 pukul 2:56 pm

    UaA~so sWeEt!?

  3. Liah icesica4ever
    10 September 2011 pukul 3:38 pm

    Keren chingu,
    ada haesica and heefany !!
    ‘Kau harus melepaskan apa yang bukan menjadi milikmu untuk mendapatkan apa yang menjadi milikmu’
    aku suka kata2 itu,😀

  4. 16 September 2011 pukul 3:49 pm

    WAH.. SO SWEET~~~!! *kabur naik ddangkoma*😄

  5. Susangorjess
    4 Oktober 2011 pukul 1:36 pm

    Co cwittt HAESICA Bner2 bikin aku ngiri dhee… Malu malu gmana getoo, wkwkwk
    hmmm, heechul oppa bner2 sayang yah ama mereka?? Tpi kykna skrg heesica udah jrg yahh?? D thnx to heenim d album mr simple aja ga ada thx to bwt sica, mlah kyu yg ngucpin, u,u

  6. Siti JoJo Sunny
    7 Oktober 2011 pukul 7:42 am

    ye ye ye haesica again.
    I love so much haesica.
    couple yg nyata bagiku.

    chullpa disini keren deh,membiarkan perasaannya untuk mnyatukan haesica.
    daebak deh chullpa.

    waw HeeFany so sweet deh^^

  7. 6 Desember 2011 pukul 2:24 pm

    owww chul ahjussi… you’re so sweeeeeeeeetttt >_<
    HaeSica bkin senyum2 nih pas nyatain perasaan masing2 U,u
    kirain bakal sad ending *galau lgi gw kalo sad ending -,-* untung Uncle chul dpt fany :") seenggakny habis wamil gak bkal jdi jomblo ngenes kyk poconggg (?)😄

  8. ciciparamidha.
    19 Juni 2013 pukul 4:37 pm

    kereeenn…. Heechul oppa daebak…. Aku se7 dgn kata2 itu… Kita harus melepaskan apa yg bukan milik kita dan mengambil apa yg sudah seharusnya jd milik kita…

  9. E_sparkyu
    7 Juli 2013 pukul 9:13 am

    wah feelnya dapet bgt
    terharu n seneg bacanya
    yeyyy haesica & heefany
    daebakkk

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: