Beranda > fanfiction, oneshot, whyenda_arinka > [Oneshot] 7 Years Of Love

[Oneshot] 7 Years Of Love

Title : 7 Years Of Love
Length : Oneshot
Genre : AU, Romance, Hurt, Comfort, Family
Rating : PG
Casts : Donghae/Jessica; Yoona, Soojung(Krystal), Lee Hyukjae

Disclaimer © Artists are owned respectively to their company. Artist’s names are borrowed and used only in a fictional way. Ane event occured is pure coincidence.

Idea © Whyenda Arinka

——————————

Jessica menarik turun hoodienya hingga menutupi sebagian wajahnya. Langkah cepatnya bergema di lorong kecil nan gelap tersebut. Gadis itu merasakan bulu kuduknya berdiri, merasa takut berada di tengah kegelapan malam sendirian. Namun mau tak mau ia harus pergi ke supermarket terdekat karena kehabisan bahan makanan. Tadinya ia kira ia bisa bertahan dengan bahan makanan yang tersedia mengingat besok adalah hari terakhirnya di negara di mana ia tengah menuntut ilmu saat ini, Korea Selatan.

Tiba-tiba Jessica menegakkan punggungnya dengan posisi kuda-kuda yang tak kentara, bersiap-siap mengerahkan jurus Taekwondo yang sempat ia pelajari sedikit saat merasakan sebuah telapak tangan menepuk bahunya pelan namun cukup membuatnya kaget. Gadis itu menoleh sedikit untuk memastikan ia tidak melancarkan jurusnya pada orang yang salah. Dan langkahnya tepat karena, di belakangnya tengah berdiri seorang pria yang lebih tua beberapa bulan darinya. Pria itu menunjukkan ekspresi kekhawatiran dan bertanya-tanya di wajahnya. Ia tersenyum lega.

“Jess, kau dari mana malam-malam begini?” tanya pria itu. Nada penuh kecemasan terdengar di sana.

“Hehe. Kau sempat membuatku kaget, Donghae oppa,” celetuknya sebelum menjawab, “Aku membeli makanan instant,” tangan kirinya terangkat sedikit untuk menunjukkan belanjaannya yang memang hanya sedikit.

“Kenapa malam sekali? Bagaimana kalau ada apa-apa denganmu?” tanya pria itu, Donghae, terlihat khawatir.

“Kan ada oppa,” ucap Jessica sekenannya membuat Donghae mengembangkan senyum lembut kemudian mengusap puncak kepala gadis itu dengan sayang.

“Dasar kau!” katanya diikuti tawa renyah keduanya.

Keheningan malam itu terpecah tatkala terdengar suara gemuruh langit di atas sana. Awan gelap bergulung. Sangat hitam dan pekat. Menutupi sinar bintang-bintang dan bulan. Membuat malam yang sudah gelap semakin senyap.

“Ayo kuantar pulang. Sebentar lagi hujan turun. Kau tidak rela kan melihat oppa yang kau cintai ini kehujanan?” ajak Donghae kemudian melingkarkan lengannya di bahu Jessica dan menarik gadis itu bersamanya.

Keduanya berjalan dalam gelapnya malam dengan disinari lampu temaram layaknya sepasang kekasih. Dan nyatanya—mereka memang sepasang kekasih—-dulu. Dulu ketika mereka masih sepasang pelajar di Seoul High. Dulu sebelum kelulusan tiba beberapa hari yang lalu. Dulu sebelum mereka memilih untuk melanjutkan kehidupan di jalan yang berbeda.

“Aku masuk wamil besok,” ucap Donghae memecah kesunyian.

Diam. Tak ada respon dari Jessica. Walau begitu, Donghae bisa merasakan bahwa tubuh gadis dalam lengannya itu sedikit kaku. Lebih dari itu, ia bahkan sadar bahwa jauh di dalam hati gadis itu, sesuatu bergejolak di dalam sana. Seolah tidak bisa menerimanya. Begitu pula dengannya. Gejolak yang ia yakini, sama dengan gejolak dalam hatinya.

“Keberangkatanku juga besok, oppa,”

Hening kembali menyelimuti keduanya. Keheningan yang penuh makna. Keheningan yang akan mereka simpan dengan baik. Keheningan yang selalu mereka ingat. Keheningan yang berlangsung tak lama, namun selalu ingin mereka pertahankan. Keheningan yang selalu menyelimuti keduanya. Keheningan milik mereka.

Tiba-tiba, gemuruh kembali menyela keheningan yang tercipta diantara keduanya. Namun kali ini, sang gemuruh membawa serta butir-butir air ke bumi bersamanya. Membasahi apa saja yang dijatuhinya, begitu pula Donghae dan Jessica yang masih berjalan beriringan. Dan lama kelamaan, rintik-rintik air tersebut semakin deras membawa hawa dingin yang menyelimuti keduanya yang tanpa perlindungan apapun.

“Ayo lari, Jess! Rumahmu sudah dekat, kan!?”

Jessica mengangguk dua kali menjawab ajakan Donghae dan keduanya segera berlari menuju rumah Jessica yang berjarak sekitar 150 meter di depan mereka dalam kegelapan serta diiringi rinai hujan yang mengguyur mereka. Membuat keduanya basah kuyup dalam sekejap namun tak dihiraukan oleh keduanya.

Sesekali petir menyambar membuat Jessica menutup kedua telinganya sambil berlari. Bunyi petir yang saling bersahutan membuat telinganya sakit. Ia memang tidak pernah menyukai suara petir sekalipun ia menyenangi hujan. Dengan perasaan tak terkendali, gadis itu mempercepat lajunya hingga sampai di rumahnya dan segera memasukinya tak mempedulikan dirinya yang basah kuyup diikuti Donghae.

“Jess!” seru Donghae yang segera menarik gadis itu dalam pelukannya, mencoba menenangkan gadis itu. Mengetahui ketakutannya akan suara petir.

“Sssh~ kau aman dari petir-petir itu,” ucap Donghae menenangkannya, mengusap punggungnya, “Ada aku di sini, arra?”

Jessica yang membenamkan wajahnya dalam dada bidang Donghae menengadah menatap pria itu. Dipandangnya wajah tampan yang tengah menyunggingkan senyum hangat untuknya, untuk menenangkannya. Kedua mata yang lembut itu menangkapnya. Membuatnya merasa lemas. Seakan ia telah melelah, bisa jatuh sewaktu-waktu bila lengan Donghae tidak menopangnya.

Donghae sendiri seolah terhipnotis menatap kedalam mata Jessica. Seolah kedua bola mata itu mengurungnya di dalam sana. Memaksanya masuk lebih dalam, menyelami mata jernih gadis dalam pelukannya. Dan perlahan, ia merasakan adanya dorongan dalam dirinya untuk mendekati wajah Jessica. Memberinya kecupan di bibir merah gadis itu…

‘A kiss won’t hurt—’ they said in their mind but, they didn’t know if their smack leads them more than just a kiss…

7 Years Later…

Donghae menghentikan mobilnya di pinggir jalan tepat di seberang sebuah rumah kecil yang masih tertutup. Sepertinya penghuni di dalam rumah tersebut masih belum memulai aktivitas di luar rumah mereka. Tapi bukan pemilik yang sekarang yang mengusik pikirannya. Namun orang lain. Seorang gadis yang sudah tujuh tahun tidak ia temui. Tepat malam sebelum ia memulai kewajiban militernya. Dan tanpa perintah, ia memutar kembali kenangan terakhir mereka.

“Teach me how to move on while my heart won’t and never can forget you, Jess,” bisiknya lirih.

Drrt.. drrt.. Tiba-tiba getaran ponselnya membangunkannya dari lamunannya. Membangunkannya dari mimpi indahnya akan kenangannya tujuh tahun yang lalu. Dengan sedikit rasa kesal, ia melirik layar mungil telpon genggamnya yang menampilkan tulisan ‘Hyuk calling’ sebelum menekan tombol berwarna hijau.

“Hmm?” gumam Donghae tak jelas dengan pandangan masih tertuju pada rumah di seberang jalan.

“Yah! Di mana kau!? Bukannya kau harusnya sudah sampai, huh!?”

Mendengar teriakan Eunhyuk—sahabatnya yang juga partner bisnisnya—sudah berteriak-teriak tentang keterlambatannya, ia segera menyalakan mesin mobilnya, “Ya, ya. Aku sedang di jalan se—” kata-katanya terpotong ketika ia melirik ke seberang rumah untuk terakhir kalinya sebelum pergi. Ia melihat seorang wanita yang terlihat lebih muda darinya dengan dua orang anak kembar berada di depan pintu rumah membuatnya terdiam sejenak.

“Hae? Donghae? Lee Donghae!” teriakan Eunhyuk dari seberang menyadarkannya.

“Hyuk! Aku ada urusan mendadak. Kau urusi semua sendiri, oke!? Bye,”

Pip. Dan dengan itu ia memutuskan sambungannya dengan Eunhyuk. Ia tidak memperdulikan reaksi sahabat karibnya itu ketika mereka besok bertemu. Karena baginya, ada sesuatu yang lebih penting untuknya. Sesuatu yang mengusiknya. Yaitu pemandangan wanita yang mirip dengan pemilik hatinya di depan rumah itu, menggandeng dua anak kecil yang terlihat kembar ke dalam sebuah BMW putih. Wanita itu memang mirip dengan Jessicanya, walau belum tentu wanita itu adalah Jessicanya. Tidak mungkin Jessica semuda itu sudah memiliki anak, kecuali…

Deg. Donghae merasakan detak jantungnya hampir copot. Ia terdiam memikirkan semuanya. Merangkai semuanya. Semua kemungkinan yang ada hingga yang tidak mungkin terjadi. Dan ia bisa merasakan rasa bersalah menyelimutinya. Tapi ia segera menggelengkan kepalanya—tidak percaya dengan apa yang ia pikirkan. Akhirnya ia memutuskan untuk membuntuti keluarga kecil itu demi memenuhi rasa penasarannya.

.

Donghae membetulkan letak kacamata hitamnya sambil berusaha terlihat tengah berjalan santai di belakang wanita dengan dua anak kembarnya. Mencoba mendengar percakapan ketiganya. Walau begitu, ia tetap susah untuk menguping sedikit pembicaraan mereka sementara ia harus menjaga jarak dan tetap waspada. Tanpa ia sadari, ia merasa ingin berada di tengah-tengah mereka, menjaga mereka. Melindungi mereka. Donghae menghela nafas, berusaha membuang jauh-jauh pikiran gila itu.

“Eomma aku mau pipis~” rengek salah satu dari si kembar.

Donghae segera berusaha terlihat seperti pengunjung yang lain sementara ekor matanya mengawasi wanita itu. “Aigo~ nae ttal, ayo eomma antar ke toilet,” wanita itu menarik tangan anak yang tadi merengek.

Mendengar suara wanita itu, jantung Donghae berdetak dengan cepat. Suara itu, sangat lembut. Merdu. Hangat. Juga membuat hatinya merasa damai dan tentram. Suara yang ia ingat sekalipun tidak ia dengar selama tujuh tahun. Suara yang selalu menyapa lembut telinganya. Suara yang selalu memenuhi gendang telinganya. Ia hampir lupa bagaimana caranya bernafas ketika mendengar suara khas gadisnya.

“Yoona-ah, kau ingin pipis juga?” tanya wanita itu pada kembar yang lain.

“Anni eomma. Aku tunggu di sini saja,” tolak anak kecil yang lain.

“Uhm, kau duduk di kursi itu saja ya!?” titah lembut wanita itu lalu menuntun si kembar ke bangku yang berada di dekat Donghae membuat pria itu sedikit kelabakan tapi tetap berusaha tenang.

“Jangan kemana-mana, arra!? Tunggu di sini sampai eomma kembali,” wantinya yang diikuti anggukan patuh dari salah satu si kembar yang tengah duduk di bangku besi. Wanita itu tersenyum, “Kkaja, Soojung,”

Wanita itu pergi membawa kembar yang lain—Soojung—yang ingin buang air kecil. Sedang Yoona, tengah terduduk dalam diam sambil memperhatikan sekelilingnya. Ia sempat memperhatikan Donghae yang terus berdiri di sebuah stand yang memajang alat-alat olahraga, namun perhatiannya teralih pada penjual es krim yang berjarak dua meter di depannya dengan penuh minat. Sayang ia sedang tidak boleh ke mana-mana atau ia akan kena marah sang ibu. Ia tidak ingin membuat ibunya khawatir.

Donghae kini memperhatikan salah satu dari si kembar yang tengah duduk di bangku besi tak jauh darinya. Ia menatap gadis kecil berumur sekitar enam tahun itu dengan saksama. Rambutnya hitam seperti rambutnya dan terlihat sangat lembut seperti rambut Jessica. Rahangnya lonjong dan menampilkan kesan tegas, sama seperti rahang Jessica. Begitu pula dengan bibir gadis itu. Sama persis seperti bibir Jessica. Tapi mata, hidung serta alis gadis itu sama persis dengan miliknya.

Jantungnya hampir berhenti berdetak. Paru-parunya terasa sesak seakan ia kekurangan pasokan oksigen. Perutnya terasa sangat aneh. Seolah berjuta kupu-kupu sedang berterbangan di dalam sana. Ia merasa tertampar. Benarkah? Pikirnya bertanya-tanya. Ia terdiam sejenak menatap gadis kecil di bangku, itu kemudian menyadari pandangannya yang tertuju pada penjual es krim. Dan entah kenapa, ia merasa harus membelikannya untuk gadis kecil itu.

Yoona kecil menatap lesu pada penjual es krim di hadapannya. Ingin sekali ia menyongsong stand es krim itu dan merasakan satu. Rasa strawberry. Tapi ia tidak ingin sang ibu marah. Kemudian ia melihat sebuah cone berisi es krim berwarna pink menghalangi pandangannya. Sebuah tangan terjulur memegang es krim tersebut. Ia mengikuti tangan panjang tersebut dan mendapati pria yang tadi berdiri di depan stand alat-alat olahraga sedikit membungkuk untuk menyamakan tinggi dengannya. Di tangannya yang lain, tergenggam cone es krim berwarna pink juga dengan senyum lebar nan hangat tersungging di wajahnya. Dan kali ini, pria ini melepas kacamata hitamnya.

“Ambil lah, adik kecil,” ucap Donghae lembut. Dengan ragu-ragu, Yoona mengambilnya.

“K-Kamsahamnida, ahjussi,” gumamnya lirih kemudian segera menjilat es krimnya dengan antusias.

Entah kenapa, melihat gadis kecil itu menjilat es krimnya dengan senang membuatnya tersenyum kecil. Ada rasa senang yang menyusup di dalam dadanya yang ia sendiri tidak mengerti dari mana datangnya. Yang ia tahu, gadis kecil di hadapannya itu senang dan ia juga senang.

“Ahjussi, kenapa tidak dimakan esnya?” tanya gadis kecil itu polos.

Donghae baru menyadari ia belum menikmati es krimnya yang hampir meleleh. Ia tersenyum kemudian menjilat es krimnya sementara gadis kecil di hadapannya kembali sibuk dengan es krimnya. Kini bibir dan pipinya yang tembem belepotan es krim. Ia tertawa kecil.

“Wae geurae, ahjussi?”

“Anni,” jawab Donghae pendek. Ia merogoh sakunya kemudian menarik sapu tangan berwarna putih kesukaan Jessica. Ia tersenyum tipis.

“Siapa namamu, adik kecil?” tanyanya sambil mengelap pipi tembem gadis kecil di hadapannya.

“Yoona. Lee Yoona,” jawab anak itu riang membuat tangan Donghae berhenti sejenak untuk beberapa detik.

“Nama yang bagus,” pujinya tulus, “Kenapa kau sendirian di sini?” tanyanya lagi berusaha mencari informasi.

“Eomma mengantar Soojung, adik kembarku pipis, ahjussi,” jawabnya pendek.

“Adik kembar? Ah~ jadi ada dua gadis lucu ya!? Eommamu pasti senang,” komentarnya sementara Yoona mengangguk-angguk riang.

“Lalu, siapa nama eommamu?” tanyanya lagi dengan jantung yang berdetak sangat keras.

“Jessica Jung, ahjussi,” jawab Yoona polos. “Jessica Jung Sooyeon,”

Deg. Kalau jantungnya saat ini berhenti berdetak, mungkin ia percaya. Ia merasa dunia berputar sangat cepat. Kenangannya bersama Jessica dulu dengan segera berputar di otaknya. Gambar di mana Jessica keluar dari rumahnya tadi pagi bersama sepasang anak kembar. Anak-anaknya. Anak-anak mereka. Ia tidak tahu harus apa saat ini. Rasa bersalah, senang, bahagia, haru, bercampur jadi satu di dalam hatinya. Di matanya, Yoona kecil memang terlihat mirip dengan dirinya. Dan kenyataan itu, membuatnya merasa tertohok.

“Eomma!” teriakan Yoona di sampingnya membuat Donghae kembali ke realita. Gadis itu melompat dari duduknya, “Itu eommaku, ahjussi,” seru gadis kecil itu riang.

“Ahjussi, terima kasih untuk es krimnya. Aku pasti akan membayarnya ketika kita bertemu lagi,” ucap Yoona sedikit membungkuk sebelum berlari menyongsong sang ibu.

Donghae mengikuti arah malaikat kecilnya berlari menyongsong Jessicanya. Melompat-lompat riang menceritakan sesuatu pada sang ibu yang terlihat kebingungan. Donghae bisa merasakan hatinya berteriak, berteriak ingin kembali. Dan ia rasa ini adalah waktu yang tepat. Ia pun bangkit menghampiri kekasih hatinya dan dua buah hatinya.

Jessica tersenyum lega ketika mendengar teriakan melengking anak sulungnya. Tak lama kemudian, Yoona berlari menghampirinya sambil melompat-lompat riang menceritakan seorang ahjussi yang berbaik hati membelikannya es krim membuat Jessica sedikit khawatir. Soojung, anak bungsunya segera merengek ingin es krim juga setelah mendengar cerita sang kakak. Jessica mengernyitkan keningnya, bingung.

“Jess,” panggil sebuah suara berat nan lembut memanggilnya.

Suara itu, tidak terdengar asing di telinganya. Suara itu yang dulu selalu berhasil menenangkan hatinya. Suara yang selalu ia ingat dengan baik dalam otaknya bersama memorinya yang lain. Tersimpan rapi. Selalu memastikan bahwa ia masih mengingat semuanya. Dan ketika ia menengadahkan kepalanya, ia mendapati sosok yang tidak ia temui selama tujuh tahun. Sosok yang ia cintai dulu—hingga sekarang.

Kedua matanya melebar. Ia tidak tahu harus apa. Pandangannya kabur. Semua terasa kosong baginya ketika keduanya bertukar pandang lagi setelah sekian lama. Ia tidak menghiraukan orang-orang di sekitarnya selain pria di hadapannya. Ia tidak menghiraukan keramaian di sekitarnya begitu pula teriakan anak sulungnya dan rengekan anak bungsunya. Ia merasa, pusat kehidupannya hanya pada pria di hadapannya.

“D-Donghae..” lirih Jessica. Air matanya yang menggenang di pelupuk mata, sudah hampir jatuh.

“H-How—” dan belum sempat Jessica menyelesaikan kata-katanya, Donghae sudah membungkamnya dengan bibirnya sendiri. Ia tidak bisa menahan dirinya lagi. Perasaannya mengambil alih seluruh kerja otaknya.

With his hand wrapped around her waist while his other hand hold her nape, he kiss her passionately and hungrily. A possessive and demanding kiss. Within’ seconds, she responded to his kiss, letting he know how she miss him and—how much she love him. Left the twins gasped.

“Soojung-ah! Tutup matamu!” jerit Yoona sambil menutup mata adiknya menggunakan telapak tangannya.

“Ya! Kau juga Yoong!” seru Soojung yang juga menaruh telapak tangannya di depan kedua mata sang kakak.

Keduanya terdiam, bingung harus apa melihat sang eomma err—dicium seorang ahjussi yang tidak mereka kenali sama sekali, terlebih Soojung. “Eo—Eommaaaaa~” panggil si kembar kompak membuat Donghae dan Jessica tersadar.

Buru-buru Jessica melepaskan bibirnya, berusaha mendorong Donghae yang justru mengeratkan pelukannya di pinggang Jessica. Ia membenamkan wajahnya di leher Jessica, melepas kerinduannya pada gadisnya. Wanitanya.

“D-Donghae,” panggil Jessica lirih, berusaha mendorong Donghae, “M-My daughters—”

“Sssh~” Donghae meletakkan telunjuknya di bibir Jessica lalu menempelkan keningnya pada kening Jessica, “They’re my daughters too, right? Our little angles?”

Donghae menatap Jessica dalam, meminta wanita di hadapannya jujur walau ia tahu, memang Yoona dan Soojung adalah anaknya. Dan Jessica mengangguk. Ingin sekali rasanya ia melompat saat itu juga. Berteriak sekencang-kencangnya namun ia tahan. Di kecupnya kening Jessica kemudian melepaskan dirinya dari Jessica walau ia tidak ingin dan berjongkok untuk menyejajarkan dirinya dengan kedua anak kembarnya.

“Hey, kiddo,” sapanya pada si kembar yang masih menutupi kedua mata satu sama lain. Donghae tertawa kecil melihat tingkah kedua buah hatinya kemudian menarik tangan mungil kedua malaikat kecilnya.

Ia menatap kedua anak kembarnya dengan perasaan yang tak bisa ia gambarkan. Ia segera merengkuh kedua malaikatnya dalam pelukan hangat. Bulir air mata mulai menuruni kedua pipinya kemudian menarik dirinya dari pelukan si kembar. Ia menatap keduanya dengan lembut. “Poppo appa, ne?” pintanya.

Yoona dan Soojung menatap satu sama lain dengan bingung. Keduanya kemudian menatap Jessica yang juga berderai air mata seperti ahjussi di hadapan mereka. Jessica mengangguk kecil pada si kembar yang kemudian mereka patuhi. Keduanya mengecup pipi Donghae dan kemudian kembali masuk dalam pelukan hangat Donghae. Pelukan hangat yang belum pernah mereka rasakan selama enam tahun. Pelukan hangat seorang ayah.

Donghae mengangkat kedua anaknya kemudian menatap Jessica sementara Jessica segera meraih Yoona dan menggendongnya. “Yoona-ah, Soojung-ah,” panggilnya pada kedua putrinya yang segera menatapnya menuntut penjelasan, “A-ahjussi ini, Donghae. Lee Donghae. Appa kalian,” dan dengan itu air mata si kembar menggenang. Soojung segera melingkarkan tangannya di leher Donghae, membenamkan wajahnya di leher sang ayah. Mencoba merasakan kehangat seorang ayah yang belum pernah dirasakannya.

Yoona yang berada dalam gendongan Jessica menjulurkan tangannya ke arah Donghae. Jessica yang mengerti keinginan putri sulungnya untuk memeluk sang ayah segera mendekat pada Donghae dan Yoona segera melakukan hal yang sama seperti Soojung. Donghae pun menarik Jessica dalam pelukannya.

“I’m so sorry, Jess,” bisik Donghae.

“No—it’s all my fault too, after all,”

.

“Eomma~ Appa~ kami berangkat!” teriak si kembar dari ambang pintu, bersiap melompat ke dalam mobil dengan supir menunggu di balik kemudi.

“Hati-hati ya~ jangan nakal di sekolah!” wanti Jessica berjalan dari dapur menghampiri kedua anaknya.

“Ssst~” desis Donghae pada kedua anaknya yang segera menaruh perhatian pada ayah mereka, menunggu rencana jahil Donghae, “Pulang nanti, kalian ke rumah Eunhyuk ahjussi dulu, ara!? Sunny pasti kangen kalian,” ucap Donghae yang segera diikuti anggukan antusias keduanya.

“Ne, appa!” seru keduanya bersemangat.

“Ehem,” dehem Jessica yang bersandar di daun pintu dengan bersedekap, menatap suami dan anaknya dengan tatapan curiga.

“Ehehehe~” kekeh ketiganya dengan ekspresi yang sama membuat Jessica memutar kedua bola matanya.

“Ayo cepat berangkat. Kalian nanti terlambat,” titah Jessica.

“Ne!” seru si kembar kompak, “Bye eomma, appa~” lalu melambai pada kedua orang tuanya dan melompat memasuki mobil yang segera berjalan meninggalkan pelataran rumah.

Jessica terkaget ketika Donghae dengan jahilnya melingkarkan tangannya di pinggang mungilnya sambil mengelus perut ratanya. Ia merasa aneh karena merasakan banyak kepakan sayap di dalam perutnya.

“Y-Yah!” seru Jessica kaget.

“Hmm~ baby~ anak-anak pergi sekolah,” gumam Donghae sambil mencium tengkuk Jessica membuat Jessica merinding.

“Then..?” tanya Jessica mencoba tenang.

“Si kembar kemarin minta adik lho~” ucap Donghae di telinga Jessica. Blush.

Mendengarnya, Jessica merasakan pipinya memerah. Ia pun menelan ludahnya dengan susah payah. Ia tahu sekarang apa mau Donghae. Dan sebelum ia sempat kabur, Donghae sudah menggendongnya bridal style dengan senyum penuh kemenangan tercetak di wajahnya yang lama-lama berubah menjadi seringai setan.

“Now, you’re all mine this daaaaay~” seru Donghae sambil berjalan menuju kamar mereka.

“Ya-Yaah!”

FIN

Muahahaha~ admit it that you love the last part! :p XDD
And with this ff I apologize to you all because I couldn’t updated for almost a month, right?
Oh well, hope this one make it up for you guys >w<
Also~ sorry again cause maybe I wouldn’t able to update again sooner. But I’ll try my best, okay!? Tehehe😄

Thanks for reading ^^

  1. 3 Oktober 2011 pukul 4:46 am

    Kirain Sica nikah sama orang lain..😄
    Bagus chingu, feel-nya dapet banget meskipun ceritanya pendek! *namanya juga ficlet*

    Oke deh! Sekarang baca yang ‘Back’ dulu ah..

  2. elfishy
    3 Oktober 2011 pukul 12:43 pm

    bikin deg deg pas sica keluar dengan seorang anak kembar. dikiranya anak siapa yaampun.

    sukaaaa banget ini cerita nya bikin greget.
    love yaaaaaa

  3. 3 Oktober 2011 pukul 1:52 pm

    Hwaa .. Kira’in sica oennie gak mau nerima oppa donghae lagi .. Hwaaa bagus .. Bikin HaeSica lagii … 🙂

  4. 4 Oktober 2011 pukul 8:56 am

    annyeong winda,, wahh ini pertama kalinya aku berkunjung dimari,, hehee..
    waww,, donghae hebat yahh,, bisa punya anak kembarr #YADONG
    ehh,, yoona ama krystal benren pngen dicubit ityuuu,, saling tutup mata,, haesica ngajarin anaknya yg gak gak nihh,, ehmmm,, kok lama bgt dongek ninggalin sica,, trus slama 7th itu sica blg apa dong ke anaknya ttg appanyaa?? afterall,, bagus kok ffmu,, feelnya dapet bgt, sisi romantisnya juga lumayan bikin deg degan,, tapi ada yg kuraaaanggg,,, endingnyaa bikin penasaraaan itu,, aku mau ngintip dong,,, LOL

  5. Liah icesica4ever
    5 Oktober 2011 pukul 11:59 pm

    Ternyata anaknya hae,
    kirain orang lain..
    Hae maen cium aja, tingkah si kembar bikin ketawa….
    Itu yg part terakhir bikin pikiran yadong..hehe
    tapi ceritanya bagus chingu😀

  6. Siti JoJo Sunny
    7 Oktober 2011 pukul 7:11 am

    huaaaa senangnya hatiku membaca ffmu yg haesica *kyak iklan yah😀
    wah wah wah seru nih ceritanya,tpi kasian yah sica eon 6tahun mengurus anak kmbar tnpa suami :((

    tpi yg penting happy ending🙂
    ih haepa kamu dah gak tahan yah.
    hahahhahhahaha😀

  7. 7 Oktober 2011 pukul 9:27 pm

    Aigo, ff’nya aq suka chingu…. Castnya OK bgt!,,, alur critanya jg rapi, jadi enak ngebayangin’ny… hhehe… Duh, Jdi senyum2 gaje nih ngeliat(?) kluarga kecil Haesica, ahh so swiiit gitu deh…

  8. 8 Oktober 2011 pukul 2:52 pm

    Suka sukaa xD
    ini blog paling aku suka ^^
    ceritanya bagus, jadi ceritanya haesica uda nikah gitu ya ?
    kalo boleh saran ya, yang inggris di artiin juga dong ._. #plak

  9. 24 November 2011 pukul 5:29 am

    wahh kenapa gak dilanjutin ndaaa??
    NC NC NC !! *otak yadong*
    sumpah feel nya dpt bgt…
    Unnie es, sama yeobo ikan guee cucok bgt….
    Wlopun gue bukan haesica shipper,, tp…. Aaaaaaaaaa pusing mo komen apa guee…
    Dibuat sequel bgus ndaaaa
    wait the next

  10. Ruthsica
    8 Januari 2012 pukul 12:28 am

    Ini FF daebak banget, aku suka banget,apalagi kata2 b.Inggrisnya dapet b anget feelnya^^

  11. 16 Maret 2012 pukul 6:57 am

    huaaaaa…….
    akhirnya nemu blog yang banyak ff haesica :*
    aku reader baru thor ^^ salam kenal

    ff’nya bagus ih!!
    suka banget ^^b
    suka suka sukaaaaa ^^b

  12. 20 April 2012 pukul 8:05 pm

    Aigoo …
    Dikira siapa yang nepuk pundak sica Onnie??
    Kukira orang jahat ekhh nyatanya haeppa …
    Aihhh bisa”a ketakutan sica Onnie di manfaatin haeppa !
    Nakal juga kau oppa !! Hahaha

    Ekhh anak mereka krystal n yoona ??
    Anak kembar ??
    Emm, iyya sihh mereka mirip ..
    So sweet deh pas mereka ketemu lagi ..
    Walau haeppa sedikit ga sopan siih. Masa cium sica Onnie di depat anak”a n di tempat umum ? -_-”
    aduhh

    Ending lucu ..
    Hahaha
    Emangnya si kembar ngomong gitu yya oppa ?? #nanyakekrystalnyoona. engga tuh oppa kata mereka .!?
    Itu kemauannya haeppa ajjh kalii ?? Hahahaha

  13. viola
    3 Oktober 2012 pukul 5:51 pm

    Aaaaawa……
    Keren banget yang jelas kerren banget aku ga bisa ngomong lagi cuma keren yang bisa aku bilng
    sequel dong eon…

  14. E_sparkyu
    6 Juli 2013 pukul 9:06 pm

    wah daebakkk
    keren bgt ceritanya
    q suka
    haesica akhirnya bertemu kembali
    sweeettttttt

  15. 24 September 2013 pukul 4:48 pm

    Kiranya jessica kawin ama org lain pas katanya 2 ank kembar

  16. 20 Maret 2014 pukul 3:01 pm

    B a g u s ! ! Hahaha sorry ya if aku bru comment hehe * new reader

  17. Ika si yeoja yeoppeo
    26 Maret 2014 pukul 7:56 pm

    Aduh senangnya happy ending..
    Tapi qw sedikit bingung dgn jalan ceritanya#emang lola
    tapi tak apalah daebakk thor😀

  18. vankaka
    11 Agustus 2014 pukul 11:10 am

    aku kira sica udh nikah sama orang lain
    ternyata anaknya hae.
    kapan mereka ngelakuin? kok bisa? *plak
    ketularan yadongnya hae-,-
    NICE!! ^^

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: