Beranda > drabble, fanfiction, whyenda_arinka > Drabble Collections

Drabble Collections

The Invisible Leader
[Leetek/Yesung]

 

Leeteuk membuka kedua matanya perlahan. Pandangannya sedikit kabur, namun ia masih bisa menangkap bahwa ia masih di kamarnya yang ia tiduri bersama Donghae. Dan tiba-tiba, ia merasa kepalanya sangat pusing. Dirabanya keningnya yang terasa dingin dan mendapati sebuah handuk basah yang mulai menghangat bertengger di sana.

“Ouch!” geramnya pelan saat kepalanya terasa semakin pusing ketika ia terduduk dari posisi tidurnya.

Perlahan ia bangkit dari kasurnya dan berjalan sempoyongan keluar kamarnya. Pandangannya memang tidak sekabur ketika ia bangun, tapi justru berputa-putar membuatnya pusing. Ia menggapai tembok atau barang yang berada dalam jangkauannya untuk membantunya berjalan. Ia mendengar suara kecil dari dapur dan mendekatinya.

“Ah, hyung! Kau sudah bangun rupanya!” seru suara dalam milik Yesung yang segera memapahnya ke meja makan dan mendudukkannya di kursi yang ada.

“Neh. Aku tidur berapa jam, Yesung-ah?” tanyanya sambil memijit sisi keningnya.

“Sekitar 3 jam, hyung. Wae?”

“Mwoya!? Ini jam berapa?” tanyanya panik.

“Kau ini kenapa, hyung? Kalau kau mengkhawatirkan Eunhyuk dan Donghae, mereka sudah berada di Sukira bersama Sungmin dan Ryeowook. Shindong bahkan berada di sana,” jelas Yesung berusaha menenangkan hyung tertuanya.

“Aish! Siapa saja yang di dorm?” tanya Leeteuk kemudian.

“Kau dan aku saja, hyung,” jawab Yesung sambil berjalan ke dapur.

“Mwo? Yang lain ke mana? Kyuhyun?” tanya Leeteuk kembali panik.

“Dia sedang berkunjung ke Konna Beans, hyung. Apa salahnya?” jawab Yesung sembari berjalan menuju Leeteuk dengan semangkuk ramen dan segelas air di kedua tangannya.

“Ini, hyung. Kau makanlah dulu,” titah Yesung kemudian kembali ke dapur setelah meletakkan mangkuk dan air di depan Leeteuk.

“Ah~ ne. Gomawo,” ucap Leeteuk sambil mengaduk ramennya yang ternyata ada beberapa sayuran sebagai tambahan.

“Yesung-ah, aku akan menyusul EunHae, arasso?” ucap Leeteuk di tengah-tengah jeda makannya.

“Arasso. Tapi habiskan makananmu dulu, hyung,” kata Yesung kemudian menaruh satu pack obat penurun panas di meja. “Kalau sudah, minum obat baru kita menyusul EunHae,”

“Arasso~” gumam Leeteuk sedikit tak setuju tapi tak bisa menolak juga.

 

“Mwoya? Biar aku saja yang menyetir!” seru Leeteuk ketika Yesung akan duduk di jok pengemudi mobilnya.

“Yah, hyung! Kau masih punya tanggungan menjaga member Super Junior dan mengikuti Wamil!” balas Yesung sedikit sarkastik, “Memang aku tidak tahu kepalamu masih pusing, huh?”

Leeteuk pun menghela nafas kesal, membenarkan ucapan Yesung dalam hati kemudian menyerah dan duduk di jok penumpang di sebelah dongsaengnya itu.

Jarak dorm mereka ke gedung KBS sebenarnya tidak terlalu jauh, namun karena Yesung menyetir kelewat santai atau lambat, perjalanan pun terasa sangat jauh membuat Leeteuk mengantuk. Terlebih, pengaruh obat penurun panas yang diminumnya ttadi memberi efek kantuk yang membuatnya terlelap dengan cepat.

Melihat Leeteuk hyung-nya sudah terlelap, Yesung mengeluarkan ponselnya dan menyentuh beberapa tombol di layar sentuhnya sebelum menempelkannya di telinga kanannya. Terdengar nada sambung dari sana diikuti suara sapaan dari seberang.

“Yoboseyo, kau sudah selesai?” tanya Yesung sambil memutar setir membuat mobil Leeteuk yang ia kemudikan berputar berbalik arah.

“Neh, kalau begitu bisa kau segera ke dorm? Aku perlu bantuanmu. —Ne, gomawo,”

Dan dengan itu, Yesung mengakhiri sambungannya lalu kembali fokus pada jalanan di hadapannya sambil menambah laju kecepatan mobil Leeteuk yang dikendarainya.

 

“Sebentar, Siwon-ah! Biar aku betulkan dulu posisi bantalnya,” seru Yesung pelan berlari ke kasur yang biasanya ditiduri Leeteuk dan membenarkan letak bantalnya.

Di ambang pintu kamar, Siwon sedang menahan berat tubuh Leeteuk yang terlelap. Setelah selesai, Yesung kembali menghampiri Siwon dan membantunya memapah hyung mereka ke kasurnya. Dengan perlahan, keduanya menidurkan Leeteuk di atas kasur.

“Aku masih menyisakan sedikit ramen di panci, tadi. Kalau kau mau, panaskan saja,” ucap Yesung menawari Siwon.

“Gomawo, hyung! Tau saja aku lapar!” seru Siwon girang lalu memeluk hyungnya sebentar sebelum melesat ke dapur.

Yesung hanya tersenyum kecil melihat tingkah Siwon lalu menatap Leeteuk yang masih terbuai di alam mimpi. Ia tersenyum miris melihat keadaan hyungnya kemudian menarik selimut menutupi tubuh Leeteuk. Diambilnya handuk kecil yang masih tergeletak di dalam baskon berisi air dingin. Setelah itu ia peras untuk menghilangkan air dalam serat handuk, lalu di taruhnya handuk itu di kening Leeteuk.

“Istirahatlah, hyung. Kau harus segera sembuh,” gumam Yesung.

Yesung kembali menarik selimut sampai menutupi bahu Leeteuk lalu bergumam, “Sleep tight, hyung,” sebelum meninggalkan kamar Leeteuk.

***

Irony
[Donghae/Jessica/Kyuhyun]

 

Donghae berjalan dengan langkah yang ringan dan senyum lebar menggantung dengan indahnya di bibirnya. Sebuket mawar putih ia genggam di tangan kirinya. Dengan kemeja kotak-kotak berwarna merah dipadu dengan warna hitam dan putih serta jeans hitam, ia terlihat sangat tampan. Tak lama kemudian, ia berhenti di sebuah bangku yang terletak di pinggir sebuah taman. Ia duduk dengan santainya sambil sesekali mencium mawar putih yang ia bawa. Di ceknya pergelangan kirinya yang menunjukkan pukul setengah empat sore, ‘Sebentar lagi,’ pikirnya. Kemudian ia mengeluarkan benda tipis berwarna hitam dari saku jeansnya. Di sentuhnya benda tersebut kemudian muncul layar dengan tulisan, ‘Baiklah, besok akan kutunggu di taman jam setengah empat sore🙂 -Sica’. Senyumnya semakin lebar saja setelah membaca pesan tersebut. Tapi satu yang sepertinya tidak ia sadari. Pesan itu, masuk ke kotak pesannya sebulan yang lalu.

30 menit berlalu dan tidak ada tanda-tanda kemunculan Sica. Donghae merasa sedikit khawatir, tapi ia masih berpikir positif. ‘Biasalah, cewek kalau berdandan pasti memakan waktu yang lama,’ begitu pikirnya.

30 menit berikutnya kembali berlalu tanpa tanda-tanda kemunculan Sica membuat Donghae semakin cemas. Kali ini ia mulai mengambil tindakan. Berulang kali ia menghubungi nomor gadis itu, tapi nihil. Selalu operator yang menjawab bahwa nomor yang ia hubungi sudah hangus. Dengan kata lain, nomor itu sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya. ‘Bodoh! Jelas-jelas Jessica mengirimiku sms menggunakan nomor ini semalam! Tolol!’ makinya dalam hati. Ia semakin terlihat panik. Rambutnya yang semula tersisir rapi, kini berantakan karena berulang kali ia mengacak-acaknya.

15 menit kemudian kesabarannya habis, Donghae sudah akan beranjak untuk menjemput Jessica ketika sebuah suara menghentikan aksinya.

“Hyung?”

Donghae menoleh ke arah sumber suara sebelum tersenyum lebar dan balas menyapa, “Ah, Kyu!”

Pria bernama Kyuhyun itu terlihat terkejut melihat Donghae. Ia memperhatikan Donghae dari atas ke bawah. Memperhatikannya seolah ia terkejut Donghae melakukannya lagi. ‘Donghae hyung…’ ucapnya dalam hati dengan tatapan iba.

“Hyung.. Kau.. Menunggunya.. Lagi?” tanyanya dengan nada prihatin.

“Lagi? Kau ini kenapa Kyu? Kenapa pertanyaanmu aneh sekali?” tanya Donghae balik, setengah tertawa. Tapi kemudian ia mengernyit ketika hatinya merasakan sesuatu yang mengganjal. Merasakan sakit yang menyayat hati.

“Hyu–”

“Ah, Kyu! Kau tahu di mana Jessica? Ia berjanji akan menemuiku sejam yang lalu tapi tidak datang-datang juga. Kuhubungi nomornya pun, justru operator bodoh yang menjawabnya,” celoteh Donghae panjang lebar membuat Kyuhyun merasakan perih dan sesak di dalam hatinya.

“Kyu? Kau tau di mana Jessica, kan? Kau tetangganya, kan?” tanya Donghae ketika tak mendapat respon dari Kyuhyun.

Kyuhyun tercenung mendengar pertanyaan seniornya. Hatinya miris melihat tingkah sang senior yang sudah ia anggap layaknya saudaranya sendiri seperti ini. Perlahan, ia melangkah mendekati Donghae yang menatapnya dengan tatapan ingin tahu.

“Hyung..” ucapnya kemudian menepuk bahu Donghae penuh simpati, “Jessica sudah pergi…” lanjutnya sehalus mungkin.

Dan tiba-tiba, sebuah bayangan terputar jelas di otaknya. Bayangan seorang gadis berambut coklat panjang tengah melambai padanya di seberang jalan. Senyumnya lebar dan cerah, mengalahkan cerahnya sinar matahari. Suara indahnya melantunkan namanya, memenuhi daun telinganya. Gadis itu bernama Jessica. Berjalan dengan ringannya, setengah berlari membuatnya terlihat seperti menari. Namun pemandangan indah itu terganti menjadi sebuah peristiwa. Peristiwa pahit yang merenggut senyum secerah mataharinya tatkala sebuah mobil berkecepatan tinggi melaju menghantam tubuh Jessica. Tubuh mungil itu terlempar beberapa meter jauhnya dan tentu saja, gadis itu meninggal di tempat.

“Tidak!” seru Donghae kemudian, menjatuhkan buket mawarnya.

“Hyung..” panggil Kyuhyun khawatir.

“Kau bercanda, Kyu! Itu pasti hanya mimpi! Aku bahkan semalam mimpi itu!” teriak Donghae tak percaya. Senyumnya hilang. Wajahnya tanpa ekspresi. Kosong. Seolah tak ada tanda-tanda kehidupan.

“Hyung aku serius!” seru Kyuhyun.

“Bercandamu sungguh keterlaluan, Cho Kyuhyun!” geram Donghae tak terima.

“Sungguh, hyung! Demi Tuhan aku tidak bercanda ataupun berbohong!” teriak Kyuhyun mulai meneteskan air matanya. Kehilangan sahabatnya sudah membuatnya cukup tertekan dan kini seniornya bertingkah layaknya sahabatnya masih ada membuatnya hampir gila.

“Hyung, kumohon percaya padaku,” kali ini Kyuhyun mengatakannya sambil terisak.

Melihat seorang Cho Kyuhyun terisak, membuat Donghae tersadar bahwa tak mungkin ia berbohong. Perlahan, air mata pun mulai menggenang di pelupuk matanya dan turun dengan derasnya di pipinya layaknya sungai yang mengalir.

“T-tidak mungkin.. Dia berjanji padaku, Kyu!” teriak Donghae parau.

“Tapi kenyataannya dia sudah pergi, hyung!” balas Kyuhyun berteriak dengan suara serak.

“Tidak.. Jessica..” ucap Donghae dengan suara parau.

“Hyung.. Ssudahlah..” isak Kyuhyun.

“Jessica..” gumam Donghae. Bahunya bergetar hebat.

“JESSICAAAAAA!!!” teriak Donghae.

 

Kejadian, itu selalu terulang setiap seminggu sekali. Setiap orang melihat pemandangan kedua pria yang sama-sama mencintai seorang gadis cantik bernama Jessica Jung yang meninggal secara tragis karena korban tabrak lari sebulan yang lalu dengan tatapan prihatin. Tak sedikit pula yang meneteskan air matanya. Walau begitu, tak ada satupun orang yang dapat menghentikan keduanya. Kehilangan orang yang dicintai memang sangat menyedihkan terlebih bila perasaan tersebut belum sempat tersampaikan.

***

When The Rain Pouring
[Donghae/Jessica]

 

Sore itu, cuaca di Seoul terlihat mendung. Awan hitam bergantung di langit yang tadinya cerah, menutupi sinar sang surya. Walau begitu, jalanan utama di kota itu tetap saja padat. Justru semakin ramai karena banyak yang berpikir bahwa hujan akan segera turun dan mereka haruslah pulang secepat mungkin.

Di salah satu jendela apartemen yang menjulang tinggi, seorang wanita berambut coklat mengawasi jalan yang padat di bawahnya. Menatap kemacetan yang terjadi dengan rasa syukur karena ia telah sampai di apartementnya yang nyaman dan hangat, tidak terjebak macet di bawah sana.

Tak lama kemudian, butiran-butiran kecil air mulai jatuh membasahi apapun yang berada di bawahnya. Lama-lama, butiran itu semakin deras. Hujan turun dengan sangat deras sebagai gantinya. Perlahan, keramaian di jalan pun memecah. Sebagian segera menyingkir, mencari tempat berteduh. Beberapa segera memacu laju kendaraan mereka, menerjang derasnya hujan. Hingga akhirnya jalanan pun sepi akan lalu lalang kendaraan. Hanya beberapa mobil saja yang melintas.

“Jess,” sebuah suara berat diikuti sepasang lengan melingkari perutnya mengusik pikirannya.

Wanita itu, Jessica, sedikit tersentak ketika merasakan sesuatu yg lembut menyapa tengkuknya sebentar. Ia menoleh dan tersenyum kecil sebelum bergumam, “Hae,”

“Hmm?” pria itu, Donghae, membalas gumamannya sambil membenamkan wajahnya di leher Jessica. Mengusapnya sedikit, membuat wanita itu merasa sedikit geli.

“Kau mau teh hangat? Aku buatkan untukmu, tadi,” tawarnya sambil melonggarkan tangan Donghae sedikit dan berbalik menatap pria itu.

“Tentu,” jawab Donghae kemudian melingkarkan tangan kirinya di bahu Jessica sementara wanita itu melingkarkan tangan mungilnya di pinggangnya dan berjalan menuju dapur.

 

Donghae duduk di pantry sembari memandangi punggung Jessica yang tengah menuangkan teh ke dalam cangkir sebelum berbalik dan menyuguhkannya pada Donghae. Ia kemudian duduk di kursi kosong di samping Donghae yang telah ditarik pria itu. Ia tersenyum kecil sebagai tanda terima kasih lalu mengambil tehnya dan menyusul Donghae yang telah menyeruput teh miliknya. Ia bisa merasakan kehangatan menjalar dalam tubuhnya.

“Thank you,” bisik Donghae di telinganya membuat wanita itu bergidik kecil kemudian mengecup pelan pipinya.

“Itu memang tugasku, kan?” ucap Jessica diikuti senyum manis lalu menyandarkan kepalanya di bahu Donghae yang reflek memeluk pinggang mungilnya.

Keheningan menyelimuti keduanya diiringi suara derasnya hujan di luar apartement mereka.

“Jess,” panggil Donghae kemudian.

“Hmm?” gumam Jessica sebagai balasan.

“Kau ingat ketika pertama kali kita bertemu?” tanya Donghae sambil tersenyum simpul kemudian menyandarkan kepalanya di atas kepala Jessica.

“Tentu saja,” jawab Jessica kemudian mengulas senyum manis, “Saat itu aku baru pulang dari kampus dan hujan turun, membuatku gelisah,” lanjutnya.

“Dan aku datang tepat pada waktunya untuk menawarimu tumpangan,” tambah Donghae disetujui Jessica dengan anggukan kecil.

“Awalnya aku ragu untuk menerima tumpanganmu karena kau seniorku, kau tau?” tanya Jessica kemudian tertawa kecil.

“Yeah. Tapi aku memaksa,” lanjut Donghae. “Gara-gara itu kita hampir basah kuyup,” tambahnya.

Keduanya melanjutkan tawa mereka kemudian beralih ke topik lain seputar kenangan-kenangan mereka ketika hujan tiba. Saat keduanya akan pergi kencan dan hampir batal karena hujan. Saat keduanya tak dapat pulang kuliah karena hujan turun dengan derasnya. Dan kenangan-kenangan lainnya hingga akhirnya Jessica tertidur.

“Kau ingat ketika akhirnya kau menyerah dan mengikuti kemauan ibuku untuk menginap di rumah?” tanya Donghae mengingat kenangan mereka.

“…..” hening, tak ada jawaban keluar dari mulut Jessica.

“Jess?” panggilnya lalu sedikit menoleh untuk memandang Jessica.

Donghae tersenyum ketika melihat kedua mata Jessica terpejam rapat. Ia tak heran melihat wanita itu sudah terlelap. Mengenang kisah mereka dulu sebelum memasuki bahtera pernikahan memang selalu menjadi dongeng yang indah bagi istrinya. Dikecupnya sisi kanan kening Jessica kemudian bergumam, “Sleep tight, baby,” lalu mengankat tubuh ringan istrinya dan memindahkannya ke kasur di kamar mereka.

“Sweet dream, honey,” bisiknya sebelum melingkarkan tangannya di tubuh Jessica dan ikut menyelam ke dunia mimpi bersama.

***

Feels Like Home
[Donghae/Jessica]

 

Donghae membuka pintu kamarnya dengan perlahan, sebisa mungkin tidak menimbulkan suara hingga terbukalah celah kecil antara daun dan pintu kamarnya sendiri. Layaknya pencuri yang ulung, ia menyelinap dengan gesit di antara celah kecil yang tercipta lalu kembali menutup pintu kamarnya dengan perlahan pula.

Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamarnya dan terhenti di ranjangnya yang berukuran king size. Di atas kasurnya, di dalam balutan bed cover yang hangat, seorang wanita terlelap. Rambutnya yang panjang berwarna coklat gelap terurai dengan poninya yang sedikit menutupi sebagian wajahnya. Di matanya, pemandangan itu layaknya seorang malaikat tengah tertidur di ranjangnya. Dan malaikat itu adalah Jessica Jung.

Perlahan, senyum lebar terkembang di wajahnya seiring dengan kenangan-kenangan yang menyeruak dalam otaknya. Kenangan ketika ia merasa dalam suatu kesulitan yang benar-benar membuatnya tak nyaman, ia pun menyampaikan keluh kesahnya pada Jessica yang ditanggapi dengan sebuah senyum yang menenangkan serta memberikannya sebuah penyelesaian yang begitu simple dan membuatnya lega. Ketika ia merasa membutuhkan bahu untuk menangis, Jessica selalu ada dan menenangkannya. Ketika ia membutuhkan sebuah pelukan untuk sekedar membuatnya hangat, dan Jessica memberikannya sebuah pelukannya yang tidak hanya memberikan kehangatan tetapi juga kenyamanan.

Ia tersenyum ketika ia memandang ke dalam mata Jessica. Indah, sangat indah. Seolah mata itu berkelap-kelip, memancarkan cahaya layaknya bintang yang menyinari langit malam. Menyinari hatinya, membuat harinya terasa sangat bercahaya. Tidak hanya itu, mata itu—mata Jessica—membuatnya merasakan kenyamanan juga. Merasa menatap kedua bola mata itu benar. Merasa tenang. Right, he just felt right. Feels like home.

Tanpa ia sadari, sembari memutar kenangan-kenangannya, ia telah berjalan mendekati wanitanya. Ketika sadar, ia telah berada berada di atas kasur, membungkus tubuh Jessica dalam pelukannya.

“Hmm, feels like home,” gumam Jessica tersenyum yang membuatnya juga tersenyum lalu mengecup puncak kepalanya, “Yeah, feels like home. Sleep tight, princess,”

***

Fantasy
[Donghae/Sooyeon]

 

Donghae berhenti sejenak ketika merasakan sepatunya menginjak sesuatu dan menundukkan kepalanya. Dilihatnya sebuah kain berwarna hijau lembut yang kini kotor karena bersentuhan dengan alas sepatunya, tak sengaja terinjak olehnya. Ia membungkuk untuk mengambilnya dan merasakan aroma buah yang menyegarkan memenuhi indra penciumannya. Di salah satu pojok kain kecil itu bertuliskan inisial ‘SJ’ yang membuatnya sedikit mengernyit.

“Ya! Tunggu aku!”

Sebuah suara melengking nan lembut memenuhi rongga telinga Donghae, membuatnya mengadahkan kepalanya menatap lurus ke depan. Sekitar lima meter dari posisinya berdiri saat ini, seorang gadis terlihat sibuk mencari sesuatu dari tas selempangnya yang berwarna coklat dengan sedikit khawatir. Dan tiba-tiba saja, ia tersadar akan sesuatu lalu tersenyum senang layaknya anak kecil yang baru saja diberikan permen coklat kesukaannya.

“Sooyeon-ah!” serunya dan gadis yang tadinya tengah merogoh tasnya menoleh ke arah Donghae.

“Ne, oppa?” balas gadis bernama Sooyeon itu.

“Kau mencari ini?” tanya Donghae sambil melambaikan sapu tangan berwarna hijau lembut di tangannya dan berjalan mendekati gadis itu. Seketika, raut wajah Sooyeon berubah sumringah dan mengangguk cepat.

“Ini—aku tak sengaja menginjaknya,” ucap Donghae, “Mianhae,”

“Gwenchana, oppa. Gomawo~” seru Sooyeon senang.

“Neh,” angguk Donghae dengan senyum manis tersungging di bibirnya.

“Sooyeon-ah,” panggilnya kemudian membuat Sooyeon sedikit menengadah untuk menatap Donghae.

“Ne, oppa?”

“Aku suka bau sapu tanganmu,” komentarnya.

“Jinja?” tanya Sooyeon dengan senyum lebar.

“Ne,” ucap Donghae meyakinkannya.

Tiba-tiba, Donghae sedikit maju lalu melingkarkan tangannya di pinggang mungil Sooyeon, “It smell like you,” tambahnya di telinga gadis itu kemudian menjilatnya sedikit. Tak hanya itu, Donghae pun mengecup leher jenjang Sooyeon beberapa kali dan sesekali menjilatnya.

“Hmm.. really?” tanya Sooyeon lagi.

“Yes—and I love it,” jawab Donghae kemudian melumat bibir Sooyeon yang segera membalasnya.

“Oppa~”

“Hmm?”

“Aku duluan ya?”

“Huh?” tanya Donghae kaget kemudian mengerjapkan kedua matanya beberapa kali dan mendapati Sooyeon yang berdiri sekitar lima langkah jauhnya dari dirinya sambil melambai kemudian berlari meinggalkannya dan bergabung bersama teman-temannya.

Donghae berdiri dalam kebingungannya lalu tersadar bahwa ia baru saja berfantasi yang aneh-aneh. Ia menghela nafas kemudian menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk menghilangkan pikiran kotornya sambil bergumam, “What a fantasy,”

*****

 

 

huahahahaaa~ drabbles lagiii~😀
ini hasil nyuri2 waktu😄

thanks for reading😀

  1. Liah gorjess
    17 Januari 2012 pukul 4:27 pm

    Aww, so sweet semua haesicanya..
    Tapi miris sica unnie mati, yg drable ke 2😦
    paling suka yg ke 3..
    Moment back hug paling sweet mnurutku. Haha
    awalnya udah rada benci haesica gara” liat komen fans hae yg ngbash sica, tapi ga jadi ah, baca ffmu mengurungkan niatku! Hehe😀
    *curcol

  2. Siti JoJo Sunny
    18 Januari 2012 pukul 3:34 pm

    wah bener dah haepa mikirnya.
    hha.
    ehm haesica after married tuh.
    drabblenya seru chingu.
    apalagi yang haesica.
    so sweet🙂

  3. 20 Januari 2012 pukul 4:19 am

    Daebbak HaeSica! Poor Teuki oppa TT

    Yg paling tragis drabble kedua! Sedih bgt TT

  4. driceny
    20 Januari 2012 pukul 4:56 pm

    dikira drabble yang ke-2 bakal gimana gitu, eh ternyata sicanya meninggal. tragis lagi.
    paling suka yang when the rain pouring… walaupun simple tapi keromantisannya dapet banget.
    suka deh pembawaan kamu di ff. cara menulisnya bagusss.. suka!

  5. Christina
    24 Januari 2012 pukul 6:54 pm

    akhirnya ada postingan baru!
    aku paling suka yg irony.
    feel-nya dapet banget.
    cara chingu nggambarin karakter tokohnya kuat.
    i like it.
    aku tunggu potingan selanjutnya.!

  6. 25 Januari 2012 pukul 5:54 pm

    So sweet TT_TT
    eonnie sadis TT_TT
    ceritanya sad ending mulu TT_TT

    Boleh komen kan ?🙂
    Menurutku eonn , ini ceritanya bener2 nyentuh kok. Cuma jujur ._. aku ‘kurang’ ngerasa feelnya , mungkin aja sih aku yang gak peka atau gmn aku gak tau ya🙂

    Terus eonn , menurutku eonnie kalo update jarang2 gimana gitu eah xD
    But to me its okay🙂
    Aku masih tetep setiah xD (y)
    Bales komen kita lah ya eonn ^^
    iam waiting you reply my comment😀

  7. 20 April 2012 pukul 5:45 pm

    Aiih …
    Aku suka semua drabble nya ….
    Yang leeteuk-yesung so sweett …
    Yesung perhatian banget sama teukie ..
    Yang kedua tragis bangett siih !!!!!
    Yang ke tiga ke empatt so sweeetttt dehh …
    Aihhhh
    Yang terakhir lucu !!
    Dasar haeppa pikirannya !!
    Hahahahaha
    Berharap ajjh niih !!
    Hohoho

  8. Kim_kyuna
    20 September 2012 pukul 1:54 pm

    Keren!!
    yg ke-2 tragis banget u,u

    Thor bikin yg kyusica donk
    hehe

    Sebenernya aq ska smua couple jessica,karna pasti smua’a cute

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: