Beranda > fanfiction, oneshot, whyenda_arinka > [Oneshot] Wordless

[Oneshot] Wordless

Title : Wordless
Length : Oneshot
Genre : AU, Romance
Rating : G
Casts : Super Junior Lee Donghae, Girls’ Generation Jessica Jung, Ririn(OC)

Disclaimer © Artists are owned respectively to their company. Artist’s names are borrowed and used only in a fictional way. Ane event occured is pure coincidence.

Idea © Whyenda Arinka

 

Donghae melangkahkan kakinya dengan gontai menuju sebuah bangku yang terletak di bawah pohon rindang kemudian menghempaskan tubuhnya di sana dengan lemas serta bibir yang dikerucutkan—tanda bahwa ia tengah kesal. Dari sudut matanya, ia bisa melihat keheranan tersirat jelas di wajah ayu gadis seumurannya. Buku yang tadinya tengah ia baca segera ditutup lalu memutar posisi duduknya agar menghadapnya. Reflek, Donghae pun menolehkan kepalanya dan berhenti mengerucutkan bibirnya, menariknya ke bawah.

Seolah mengerti gerak dan emosi matanya, gadis itu segera meraih Donghae dalam dekapannya. Donghae bisa merasakan punggungnya ditepuk dengan pelan, membuatnya merasa nyaman dan rasa kesalnya perlahan berkurang seiring ia membenamkan wajahnya di bahu gadis itu.

“Jess, aku lelah,”

“Kau bisa berhenti kalau kau mau,”

Donghae melepas pelukan hangat gadis dengan nama kecil Jess itu kemudian menatap ke dalam matanya. Bagi sebagian orang, mata itu mungkin sangat tajam layaknya mata pisau yang baru saja diasah. Dingin, kosong, mengerikan. Tapi baginya, mata itu hidup. Mata itu berbicara. Seperti saat ini misalnya, mata indah itu menenangkannya. Menyemangatinya namun juga tersirat kekhawatiran. Sepasang mata indah itu memang benar-benar hidup di matanya.

“Mungkin kau benar. Aku lelah harus berteriak terus ketika berhadapan dengannya. Kami saling berhadapan tapi kami saling berteriak. Bahkan aku hanya perlu menatapmu sebentar dari kejauhan untuk memintamu mendekat, Jess,” keluhnya seperti seorang anak kecil. Tangannya yang tak bisa diam memainkan jemari Jessica.

Mendengarnya, gadis itu tertawa kecil sebelum bertanya, “Kau tahu kenapa kalian selalu berteriak ketika kalian bertengkar?”

Donghae menatap ke dalam mata Jessica yang seolah menyembunyikan sebuah jawaban kemudian menggeleng dengan wajah polosnya membuat gadis itu tersenyum tipis, “Itu karena hati kalian jauh. Kalian harusnya lebih sering menghabiskan waktu bersama untuk mengenal satu sama lain,”

“Tapi ia tidak mau memberiku waktu walau hanya sebentar,” keluh Donghae.

“Dan kau tak ingin mengorbankan sedikit waktu untuknya,” ucap Jessica.

“Percuma, Jess. Aku pernah meninggalkan latihan basket sekali hanya untuk menjemputnya tapi apa? Dia justru menolak,” bela Donghae sambil menggembungkan kedua pipinya, “Ingat ketika aku ijin eomma pergi kerja kelompok hanya untuk mengajaknya kencan tapi ia tak mau meninggalkan les pianonya hingga akhirnya aku justru main di rumahmu? Tidakkah itu mengesalkan?”

“Kau tidak membuat janji dulu dengannya, Hae,”

“Sudah, Jess. Dia memang tak mau meninggalkan jadwalnya barang sedetik pun,” gerutunya.

Jessica menghela nafas berat, sadar Donghae sendiri tak mau dibantah. Lebih baik bungkam baginya daripada menjelaskan pada lelaki di sampingnya itu. Toh masih ada lain hari untuk menjelaskannya, pikirnya sambil mengelus punggung Donghae yang kini menyandarkan kepalanya di bahunya—berusaha membuat Donghae sedikit tenang.

 

Dengan tergesa-gesa, Jessica berlari keluar dari rumahnya ketika ia mendengar suara teriakan-teriakan dari luar. Ia bisa mendengar suara teriakan Donghae yang bercampur dengan suara teriakan seorang gadis. Ia sempat bersyukur eommanya dan Lee Ahjumma(eommanya Donghae), sedang di Busan menjenguk Donghwa—hyungnya Donghae yang baru saja mengabarkan kalau istrinya melahirkan.

Ketika gadis itu membuka pintu rumahnya, pemandangan yang ia lihat pertama kali adalah Donghae yang berdiri di depan seorang gadis(kekasihnya) dengan wajah keduanya yang jelas sekali menunjukkan mereka sedang bersitegang. Donghae bahkan masih menyampirkan ranselnya di bahu kiri dan helmnya di tangan kanan. Motor sportnya terparkir tak jauh dari keduanya.

“H*CK RIRIN! BERAPA KALI HARUS KUKATAKAN KALAU AKU TAK BISA?”

“BOHONG! KAU MEMBAWA RANSELMU! AKU TAHU KAU AKAN PERGI, HUH!?”

“D*MN! I SWEAR I JUST GET MY ASS BACK HOME!”

“YOU THINK I’LL BELIEVE IT? I’M NOT STUPID LEE DONGHAE!”

Sebelum semakin menjadi, Jessica segera berlari ke arah keduanya, “Guys, stop please,” mohonnya. Namun sayang keduanya terlalu sibuk dengan teriakan masing-masing, tak menggubris Jessica sama sekali.

“WHO SAID YOU STUPID? AND I’M NOT LYING!”

“YES YOU ARE!”

“G-guys–” panggil Jessica yang segera dipotong Donghae dengan teriakannya, “I SWEAR AM NOT!”

“JUST TELL ME THE TRUTH, DONGHAE!”

“I SWEAR I TOLD–”

“OH MY GOD FOR THE THIRD TIMES, GUYS PLEASE SHUT THE H*LL UP, CAN’T YOU!?” teriak Jessica akhirnya, tak tahan dengan teriakan yang membuat telinganya berdenging.

“WHAT!?” seru keduanya.

“Hal sekecil ini bisa dibicarakan dengan baik-baik, kenapa harus berteriak-teriak seperti ini sih!?”

“Ask her. She started it,” cibir Donghae.

“What the h*ck, Donghae!? You the one who pissed me off!” kesal Ririn tak terima.

“STOP!” seru Jessica ketika Donghae membuka mulutnya untuk membalas ucapan Ririn.

“Ayolah~ kita bisa membicarakannya tanpa harus adu mulut seperti ini,” ucap Jessica putus asa.

“Yeah~ selama dia bisa percaya denganku, tak masalah,” timpal Donghae.

“Bagaimana aku mau percaya kalau kau sendiri tak pernah ada di rumah?” tanya Ririn sarkastik.

“D*mn, Ririn! I’m a basketball player!” kesal Donghae, “You should understand me on the first place!”

“And you should make me sure too!” balas Ririn.

“What the–”

“Stop it there!” seru Jessica, sekali lagi memotong ucapan Donghae, “So what do you guys want from each other?”

“Let’s just break up, Ririn,” ucap Donghae menatap Ririn lekat, keseriusan tergambar jelas di matanya.

Ririn balas menatap Donghae kemudian menghela nafas, “Guess, it’s the best for us,” setuju gadis itu, “I’m leaving,”

Dan dengan itu, Ririn pergi meninggalkan pekarangan rumah Donghae, meninggalkan Jessica yang menatap kepergian Ririn dengan rasa tak enak sedang Donghae justru menatap Jessica dengan tatapan yang tak biasa kemudian menghela nafas.

Ia berbalik dan mengambil helm putih yang bertengger di jok belakang motor sportnya lalu menyerahkannya pada Jessica sambil ia sendiri mengenakan helm birunya. Mengerti akan keinginan Donghae, Jessica segera mengenakan helm putihnya lalu menyusul Donghae yang sudah menaiki motor sportnya.

Dalam perjalanan, Jessica hanya memejamkan kedua matanya rapat-rapat sambil meremas sisi jaket kulit Donghae karena laju motor yang dikendarai lelaki itu diatas rata-rata. Ia bahkan yakin kecepatan motor sport itu telah mencapai kecepatan maksimal.

 

Donghae menopang kedua lengannya di atas lututnya sambil sesekali menyeruput kopi kalengan yang sempat ia beli di minimarket tadi. Tatapannya tertuju pada seorang gadis yang sibuk berjalan di bibir pantai dengan bertelanjang kaki, Jessica. Gadis itu tersenyum sambil menendangi air yang menyapa kakinya, membuatnya tersenyum.

Seolah teringat akan sesuatu, ia menarik tasnya lalu mengeluarkan sebuah kamera SLR dan membidik Jessica. Senyumnya yang indah dengan latar belakang matahari yang bersiap kembali ke peraduan ditambah angin yang memainkan helaian rambut gadis itu, membuat Donghae tak bisa mengentikan jarinya untuk membidik Jessica.

Setelah dirasanya cukup, Donghae melihat hasil bidikannya dan tersenyum puas. Baginya, pantai selalu bisa membuatnya merasa tenang. Tapi terkadang, bila ia hanya datang sendiri ke pantai, ia merasa tak lengkap. Baginya, yang melengkapi keindahan pantai hanya satu orang, Jessica.

“Yah!”

Sebuah seruan di dekat telinganya membuat Donghae terkaget dan menengadahkan kepalanya. Didapatinya Jessica berdiri di sampingnya dengan kedua tangannya di pinggang, tatapan tak senang tersirat di sepasang mata cerah itu. Ia tersenyum kemudian menarik salah satu tangan gadis itu agar duduk di sampingnya. Ditunjukkannya hasil potretnya pada gadis itu kemudian membiarkannya membawanya untuk melihat hasil jepretannya yang lain.

Ia kembali menatap ke depan, ke arah lautan lepas yang berwarna orange kejinggaan. Gradasi warna yang cerah dan hangat, membuat hatinya perlahan menghangat. Belum lagi dengan angin laut yang berhembus dengan kuatnya, memberinya rasa tenang tersendiri. Seolah meniup pergi beban dalam hatinya.

“Jess,” gumamnya.

“Hmm?” balas Jessica yang masih sibuk melihat hasil jepretan Donghae.

“Kau bilang, ketika kita marah kemudian berteriak, itu karena hati kita saling jauh,” mulai Donghae kemudian berhenti sejenak.

Seolah mengerti maksud Donghae, gadis itu segera mengalihkan pandangannya dari layar SLR ke Donghae yang juga tengah menatapnya, “Lalu bagaimana dengan dua orang yang sedang jatuh cinta?” tanyanya pelan.

Jessica tersenyum dan menjawab, “Tentu saja mereka berbicara dengan nada yang lembut karena hati mereka dekat. Saaaaaangat dekat,”

“So, when they’re fell in love deeper, they don’t have to talk at all?” tanya Donghae lagi, kali ini terdengar seperti bisikan.

Dan Jessica, membenarkan pertanyaan Donghae menggunakan matanya yang masih beradu dengan kedua mata Donghae. Perlahan, Donghae semakin mendekat ke arah Jessica kemudian memiringkan sedikit kepalanya dan menyentuh bibir gadis itu menggunakan bibirnya. Mengecupnya pelan dengan sedikit menekannya sebelum akhirnya melepasnya dan menempelkan keningnya di kening Jessica, kembali menatap kedua mata indah itu.

Like this? Tanya Donghae menggunakan matanya yang dibalas oleh Jessica dengan anggukan kecil diikuti senyum yang perlahan terkembang. Donghae pun tersenyum melihat senyum Jessica kemudian mengusapkan keningnya dengan kening Jessica.

Yes. They don’t have to shout at each other just to let the other know what’s on their heart. All they do is only look at each other and with a little gestures, the others already knew what they want.

 

FIN

Mwahahaha~ lama ga nulis~ yooo ff baru ff baru~ diobral~ diobral~ lol XDD

Jujur, ide ini aku dapet dari Paulo Coelho dalam tulisan berjudul, ‘Why we shout in anger?’ di [http://paulocoelhoblog.com/2012/01/09/30-sec-reading-why-do-we-shout-in-anger/].

Awkward ga sih endingnya? Lama ga nulis jadi kagok u.u
Kesannya rusuh ga? Cepet banget sih ini buatnya. Gada sejam coba -______-

Yah~ at least I made a new one lol /dikemplang😄

Thanks for reading😀

  1. Liah gorjess
    17 Januari 2012 pukul 3:46 pm

    Daebakk !😀
    tapi hae abis putus nyamber yg lain?
    Ga kecepeten?hehe.
    Intinya daebak dah😀

  2. Siti JoJo Sunny
    18 Januari 2012 pukul 4:17 pm

    hua ff haesica lagi nih.
    haha haesica memang jodoh.
    haesica is real.

    karena cinta tak perlu bnyak kata”🙂

  3. driceny
    20 Januari 2012 pukul 5:08 pm

    huahahaha
    ceritanya simple,
    tapi sukkaaaaa banget…

  4. HaesicaSeokyuTaeteukSunSunHyoyuk
    22 Januari 2012 pukul 11:08 am

    Aku suka simple tapi nyentuh

  5. Christina
    24 Januari 2012 pukul 6:56 pm

    setuju!
    mereka tak butuh bicara karena hati mereka sudah saling bicara! #apaan sih?#

  6. 25 Januari 2012 pukul 5:40 pm

    Eonn !😀
    Daebak , aku suka sih😀
    Cuma nih ya eonn aku cuma mau bilang aja ._. jgn marah ;3
    eonn kalo nulis subhanallah dikit banget -.-
    ditambahin kek😄
    bahasa inggrisnya di translate indo juga (??)😄
    sekalian belajar english ^^

  7. 4 Februari 2012 pukul 11:34 pm

    Kaget awalnya, kupikir mereka pacaran. Gak taunya…. Tapi untunglah akhirnya jadi juga. Well, aku suka Jessica disini. Gak sedingin biasanya.

  8. Leader Niingz
    15 Maret 2012 pukul 7:38 am

    kereennn.. aku suka bgt sama ff author yang satu ini..
    FF nya Haesica yang banyak yahh🙂

  9. 20 April 2012 pukul 4:38 pm

    Annyeong ….
    Auhtor , saya Jung ryemi .
    Hehehe

    Aihh ku kira donghae pacaran sama sica ..
    Nyatanya bukan toh cuma sahabat !!😥
    Ga nyangka haeppa punya pacar kaya gitu …
    Kasihan !! Seharusnya dari awal ajjh oppa sama sica Onnie …
    Tapii endingnya aku suka ..
    Sesuai keinginan …
    Yah memang aku akui alur ceritanya terlalu cepat …
    Hahaha
    Tapii tetep bagus kok …
    Mian aku baru comment, baru muncul lagi di sini ..
    Hehehe

  10. DELI dewi
    12 Desember 2012 pukul 5:59 pm

    ngeri banget pacarnya donghae,,,
    mata jessica emang sesuatu,,,

  11. ciciparamidha.
    10 Juni 2013 pukul 5:15 pm

    romantiss…

  12. 12 Juli 2013 pukul 6:57 pm

    huweee~~
    terharu skali baca ff ini :’)
    Sweet bgt, sukses yah buat author dan keep write another good stories

  13. 25 Juli 2013 pukul 6:30 pm

    I am extremely impressed together with your writing talents as smartly as with the layout to your blog.
    Is that this a paid topic or did you customize it your self?
    Either way keep up the nice quality writing, it is rare
    to look a great blog like this one today..

  14. 10 Agustus 2013 pukul 1:15 pm

    DAEBAK.. 10 jempol bwt author,,

  15. vankaka
    7 Agustus 2014 pukul 9:16 pm

    Simple but Incredible😀

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: