Beranda > fanfiction, oneshot, whyenda_arinka > [Oneshot hancur(?)] Surprise!

[Oneshot hancur(?)] Surprise!

Title : Surprise!
Length : Oneshot
Genre : AU, Romance, Family, Comedy
Rating : G
Casts :Super Junior Lee Donghae, SNSD Jessica Jung, EXO-M Xi Luhan, Junghae(OCs), Super Junior Zhoumi, f(x) Victoria Song, EXO-M Tao
Cameo : Super Junior Cho Kyuhyun, Super Junior Lee Sungmin, Super Junior Lee Hyuk Jae, SNSD Im Yoona, SNSD Lee Sunkyu, SNSD Tiffany Hwang (mereka cuma nebeng nama .____. /plak XD)

Disclaimer © Artists are owned respectively to their company. Artist’s names are borrowed and used only in a fictional way. Ane event occured is pure coincidence.

Idea © Whyenda Arinka

——————————

Donghae menghentikan Audi A5 putihnya di garasi rumahnya. Setelah mematikan mesin mobilnya, ia menghela nafas sejenak sebelum akhirnya keluar dan masuk ke dalam rumahnya. April 18, 23:32 PM. Batinnya sebelum ia memutar knop rumahnya dan masuk. Sesuai dugaannya, istrinya–Jessica—setengah tertidur di ruang makan rumah mereka yang mungil namun asri. Wanita berumur 42 tahun itu terlihat tersenyum senang melihatnya sudah pulang. I’m sorry, babe—-

“Donghae-ah, kau sudah pulang~” sambut Jessica pelan menghampiri Donghae lalu mengecup pipinya dan melonggarkan dasi yang dikenakannya.

“Kau dari mana saja? Apa pekerjaan di kantor begitu banyak?” tanya Jessica pelan namun Donghae memasang wajah keras, tak menjawab pertanyaan Jessica.

“Kau lelah? Ingin kubuatkan teh atau kopi? Atau––”

“Tidak bisakah kau diam,” ucap Donghae dingin menepis tangan Jessica yang akan mengambil dasi yang masih melingkar di lehernya.

“D-Donghae-ah..” panggil Jessica terkaget.

“Bukankah sudah kukatakan untuk diam!? Apa kau tak mengerti?” seru Donghae dengan nada tinggi.

“A—”

“Satu lagi, bukan urusanmu aku dari mana!” tambahnya memotong Jessica.

Mendengarnya, Jessica merasa matanya panas seiring dengan gemuruh dalam hatinya yang membuncah layaknya gunung berapi yang meletus. Perlahan air matanya turun diikuti jeritan murkanya pada Donghae. Pertengkaran di antara keduanya pun tak terelakkan.

*

Sementara itu Luhan yang memang belum bisa tidur, merasa terganggu dengan teriakan Donghae dan Jessica—-orang tuanya. Dengan kesal, ia menarik bantal yang ditindihi kepalanya untuk menutupi telinganya, guna mengurangi teriakan-teriakan nyaring yang memecah keheningan malam itu. Namun tetap saja, teriakan kedua orang tuanya terdengar jelas oleh indra pendengarannya.

“Ugh! Tidak bisakah mereka menunda pertengkaran bodoh mereka hingga besok!?” gerutunya pelan.

“Oppa…”

Suara halus dan rendah seorang gadis sayup-sayup menghampiri gendang telinganya, menarik perhatiannya diantara teriakan kedua orang tuanya. Dengan segera, ia berbalik dan mendapati wajah manis gadis yang terpaut jarak 4 tahun darinya terjulur dari luar kamarnya. Dengan segera ia bangkit dan membuka lebar pintu kamarnya lalu menarik gadis itu masuk dengan lembut.

“Hei, Junghae,” sapanya lalu menutup kamarnya rapat-rapat, mencoba meredam suara-suara amukan kedua orang tuanya.

“Kau belum tidur?” tanya Luhan pelan setelah mendudukkan Junghae di kasurnya, dipegangnya kedua bahu gadis yang terlihat ketakutan itu.

“Aku.. takut, oppa,” jawab Junghae lirih kemudian bertanya, “Appa dan umma kenapa?”

Luhan mengulas senyum sebelum menjawab dengan lembut, “Ada sedikit salah paham, jangan takut, oke? Kau tidur saja, oppa temani,”

Junghae mengangguk kecil kemudian berbaring di kasur sang oppa. Luhan sendiri dengan sigap menarik selimut untuk menutupi tubuh adiknya setelah ikut berbaring di samping Junghae yang segera memeluknya, membenamkan wajahnya di dada Luhan. Sembari melantunkan lagu pengantar tidur lirih, ia mengelus kepala Junghae dengan sayang.

BUGG!

Suara seperti benda terjatuh membuat Luhan maupun Junghae terkejut. Keduanya saling menatap satu sama lain dengan kedua pasang bola mata mereka membulat besar seakan ingin keluar dari tempatnya. Terlihat ketakutan dan kepanikan di dalam mata Junghae.

“O-oppa.. umma..” lirih Junghae terbata membuat Luhan tercengang.

“Kau tunggu di sini ya!? Apapun yang terjadi, tetap diam di kamar oppa. Arasso!?” titah Luhan diikuti anggukan sang adik.

Perlahan Luhan bangkit dan berlari keluar kamarnya untuk menghampiri ayah dan ibunya yang tengah bertengkar di lantai bawah. Beberapa anak tangga ia loncati begitu saja dan melesat mencari sumber suara ribut-ribut kedua orang tuanya demi mendapati tangan sang ayah yang terangkat. Hendak menampar pipi halus sang ibu. Melihat hal itu, Luhan segera berlari menghampiri sang ayah dan menahan tangan yang mulai terayun tersebut. Mengambil posisi diantara ayah dan ibunya.

“Jangan pernah appa menampar umma, semarah apapun appa pada umma,” desis Luhan penuh amarah.

Donghae memang ayah kandungnya, tapi Donghae yang Luhan kenal bukanlah Donghae yang ia lihat saat ini. Donghae yang Luhan kenal semenjak ia mulai mengenal dan memahami sekitarnya adalah Donghae yang sangat lembut, baik, dan penyayang. Bahkan untuk membunuh seekor lalat pun, ia tak tega apalagi memukul siapapun. Tentu saja berbeda dengan apa yang tersaji tepat di depan matanya saat ini.

“Kau anak ingusan sudah mau ikut campur urusan ini, heh? Kau masih hijau sudah sok mengurusi urusan orang yang lebih tua darimu, hah!?” bentak Donghae sambil menepis tangan Luhan dan mengangkatnya lagi, hendak memukulnya.

Luhan yang dibentak oleh Donghae tercengang. Semarah apapun sang ayah, tidak pernah ia mengeluarkan kata-kata kasar. Dan sekalipun sang ayah pernah, kata-kata kasar itu tidak pernah ditujukan pada siapapun. Setidaknya, tidak di depan orang itu. Ia tidak mengerti ada apa dengan sang ayah, mengingat ayahnya bukanlah peminum minuman keras dan ia pun tak mencium akohol dari ayahnya.

Luhan menunduk dan memejamkan matanya dengan kuat saat melihat tangan Donghae berayun untuk memukulnya. Sedetik, dua detik, ia tidak merasakan sakit apapun. Sebaliknya, ia mendengar suara ibunya, “Jangan pernah kau menyakiti anakku. Aku, yang susah payah melahirkannya saja tidak pernah memukulnya! Bahkan mencubitnya pun tidak! Jadi jangan coba-coba kau menyakitinya! Dan jangan harap kau bisa selama aku masih hidup!”

Segera ia membuka kedua matanya dan melihat Jessica telah berdiri di depannya, menahan tangan Donghae. Luhan yakin seratus persen kalau ibunya menangis karena amarahnya yang telah membuncah. Terlebih saat ibunya menjerit pada sang ayah dengan nada pecah dan bergetar. Ia bisa melihat dengan jelas wajah ayahnya yang tercengang dengan mata yang penuh akan rasa bersalah. Namun sedetik kemudian, ia menepis tangan ibunya.

“Aku pergi,” gumam Donghae kasar kemudian berjalan keluar rumah dengan langkat cepat dan panjang.

“Donghae! Kamu mau ke mana!? Donghae!” panggil Jessica yang menangis berusaha mengejar Donghae namun ditahan oleh Luhan.

“Umma, sudah biarkan bajingan itu pergi!” seru Luhan kesal memeluk sang ibu.

“Luhan! Apapun yang terjadi padanya, ia tetap ayahmu!” marah Jessica sambil terisak memukul dada Luhan pelan, berusaha meronta.

“Maaf, umma,” gumam Luhan mengeratkan pelukannya pada sang ibu yang kini menangis semakin keras.

*

“Oppa~” sebuah lengkingan memenuhi daun telinga Luhan, cukup untuk membuatnya terjaga dari alam bawah sadarnya. Perlahan ia membuka matanya yang segera disambut terangnya cahaya matahari yang menerobos pengelihatannya, membuatnya enggan membuka kelopak matanya untuk memulai hari baru. Toh hari ini tidak ada kuliah, pikirnya santai berusaha kembali terbuai di alam mimpinya, tak mengindahkan guncangan yang ia rasakan.

“Ummaaaa~ oppa tidak mau banguuuuun~”

Mendengar teriakan manja adiknya, Luhan segera membuka kedua matanya sambil menahan terangnya sinar matahari menggunakan lengannya. Barulah ia sadar bahwa semalam ia tidak tidur di kamarnya, melainkan di sofa ruang keluarga. Dan kejadian semalam kembali terputar di benaknya dalam fastforward. Setelah ayahnya pergi semalam, ibunya menangis hingga tertidur dan ia menemani sang ibu sampi terlelap. Karena terlalu lelah, ia memutuskan untuk tidur di sofa ruang keluarga sekalian berjaga-jaga kalau ayahnya pulang.

“Luhan-ah, ayo bangun! Cuci muka dan sikat gigi dulu sana lalu antarkan Junghae sekolah,” titah ibunya dengan halus.

Mendengarnya, Luhan pun bangkit duduk dari tidurnya dan mengangguk sambil menguap, “Ne~” dan beranjak menuju kamar mandi.

*

“Yoboseyo oppa?” sapa Victoria pada ponselnya yang ia tempelkan di teliganya.

“….”

“Ah~ ne, ini aku sedang bersiap-siap,” ucapnya sambil memasukkan beberapa baju ke dalam travel bag jinjingnya yang berukuran cukup besar. Sesekali ia melirik ke ambang pintu diam-diam di mana suaminya, ZhouMi, berdiri sambil menggendong buah hati mereka, Tao, yang juga diam-diam mengamati dirinya membuatnya mengulas senyum kecil.

“….”

“Arasso, oppa! I’ll wait for you,” lanjutnya pada orang di seberangnya ponselnya.

“….”

“Ne, jub jub~” tutupnya riang kemudian kembali sibuk memilah-milah baju untuk ia bawa.

Di sisi lain, ZhouMi memperhatikan istrinya yang terlihat sangat senang pagi itu. Ia merasa sedikit janggal dengan senyum Victoria pagi itu. Terasa ada yang aneh. Ia menghela nafas kecil lalu kembali mengalihkan perhatiannya pada Tao yang berada dalam gendongannya yang kini mengulurkan kedua tangannya yang mungil ke arah wajahnya. Tangannya yang mungil kini menepuk-nepuk kedua pipinya dengan cengiran terbentuk di mulutnya yang sesekali menggumam, “Ba..ba..ba!” dengan riangnya. ZhouMi tersenyum lalu mencubit pipi Tao dengan gemas.

“Gege, aku pergi dulu ya,”

Suara manis Victoria terdegar di telinga ZhouMi diikuti sebuah kecupan kilat di pipinya. Tanpa sempat ia menyadarinya, Victoria sudah berlalu meninggalkan kamar mereka. Dahinya berkerut melihat sebuah travel bag jinjing yang dibawa istrinya itu lalu membuntuti Victoria menuju ruang tamu.

“Mau ke mana?” tanya ZhouMi halus.

ZhouMi menurunkan Tao dari gendongannya yang segera berlari kecil dengan kaki mungilnya, menabrukkan dirinya pada kaki jenjang Victoria dan membuat wanita itu membungkuk menggendongnya. Ia tersenyum kemudian menciumi pipi Tao yang terkikik senang.

“Aku ada urusan sebentar,” jawab Victoria sambil terus menciumi anaknya dengan sayang, “Gege bisa kan jaga Tao sebentar? Mungkin nanti malam aku baru pulang,” tambahnya membuat ZhouMi membelalakkan matanya kaget.

“Apa tidak bisa pulang lebih cepat?” mohon ZhouMi.

Bukannya ia tidak bisa atau tidak mau menjaga buah hati mereka, hanya saja, ia tidak yakin ia bisa mengurus Tao sebaik Victoria. Terlebih, mendengar istrinya pergi sampai malam membuatnya risih. Ke mana ia akan pergi? Dengan siapa? Ia khawatir? Tentu saja. Ia merasa ia harus mengetahui ke mana istrinya pergi.

“Hh~ aku tidak tahu, gege. Bahkan aku tidak yakin bisa pulang nanti malam,” jawab Victoria dengan nada penuh penyesalan.

Kali ini ZhouMi membulatkan kedua matanya kaget. Ia bahkan sudah tidak dapat menggambarkan lagi bagaimana perasaannya saat ini. Berbagai pertanyaan langsung bermunculan di otaknya, membuatnya bingung harus bertanya yang mana terlebih dahulu. Ada urusan apa? Kenapa terlihat begitu penting? Kenapa sampai tidak yakin bisa pulang malam ini? Dan pertanyaan kenapa lainnya, yang tanpa ia sadari telah membakar hatinya.

“Kenapa tidak usah pulang saja sekalian,” ucap ZhouMi dingin kemudian menarik Tao dari gendongan Victoria secara paksa.

“Gege—-” Victoria baru akan memberi penjelasan ketika suara klakson mobil terdengar dari luar sana, memotongnya.

“Dui bu qi, ge. Aku harus pergi sekarang. Hati-hati di rumah dan jaga Tao baik-baik, zhi dao ma!?” pinta Victoria dengan nada bercanda, namun ZhouMi hanya diam dan menatap tajam ke arahnya membuatnya menghela nafas kecil.

“Baiklah, aku pergi dulu. Zai jian,” pamitnya kemudian mengecup pipi ZhouMi singkat diikuti Tao yang menggapai-gapai ingin digendong lagi.

Victoria berbalik dan berjalan menuju pintu keluar rumah mereka diiringi seruan “Ma..Ma..Ma~” milik Tao yang menyadari ibunya akan pergi. Kedua tangan mungil Tao menggapai-gapai kemudian kepalanya menoleh ke arah ZhouMi sambil terus berseru, “Baa~ Ma..ma!” seolah memberi tahu ayahnya bahwa ibunya akan pergi. Tapi kemudian, Victoria berhenti di ambang pintu lalu menolehkan kepalanya ke arah suami dan anak lelakinya.

“Oh ya, aku pergi dengan Donghai, ge,” katanya pelan kemudian melangkah keluar rumah, menghampiri Audi A5 yang berhenti di depan pelataran rumah mereka.

ZhouMi berjalan keluar demi melihat istrinya memasuki Audi tersebut, menghilang dibaliknya. Entah keduanya mengobrol sebentar atau apa, tapi mata tajamnya melihat istrinya itu mendekat ke arah Donghae sebelum akhirnya mobil putih itu melesat meninggalkan rumahnya. Meninggalkannya yang frustasi, marah, dan kesal. Dengan segera, ZhouMi kembali memasuki rumahnya dan membanting pintu sangat keras. Hal itu tentu saja membuat Tao yang kaget, menangis keras dalam gendongan ZhouMi. Tapi sepertinya ia tidak terlalu peduli.

*

Malamnya di kediaman Lee, Luhan tengah sibuk memainkan rubriknya yang disaksikan oleh adiknya, Junghae yang ingin tahu bagaimana caranya bermain rubrik. Gadis itu selalu berdecak kagum ketika sang kakak berhasil mengembalikan rubrik kekeadaannya seperti semula sekalipun ia telah mengacak-acaknya berulang kali.

“Whoaaa oppa! Kenapa kau selalu bisa!? Aku benci melihatnya, huh!?” keluh Junghae lalu memalingkan wajahnya.

“Hehehe. Akui saja kau kesal karena kau tidak bisa kan? Hmm?” goda Luhan sambil memencet hidung adiknya itu.

“Yaaaa oppaaaaa!” jerit Junghae yang tak digubris Luhan, “Ummaaaaaaaaaaaaaaaaaaa~” jeritnya lagi.

“Hei, hei, Luhan, jangan begitu pada adikmu,” seru Jessica yang datang membawa nampan berisi tiga gelas keramik dan sepiring cookies.

Junghae dengan segera melepaskan tangan kakaknya yang menjepit hidungnya kemudian bangkit dan berlari ke arah sang ibu, bersembunyi di belakangnya lalu menjulurkan lidahnya pada sang kakak yang dibalas dengan hal serupa membuat Jessica menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah kedua anaknya.

“SSShhh~ sudah sudah,” ucapnya menengahi.

“Oppa tuh, umma!” seru Junghae.

“Apa? Apa?” pancing Luhan, menggoda adiknya.

“Tuh kan umma~” rengek Junghae.

“Sssh~ su—”

TING TONG!

Bel rumah berbunyi memotong ucapan Jessica diikuti teriakan Junghae dan Luhan yang berebut untuk membuka pintu, “Aku yang buka!” “AKU!” “AAAAHH~ OPPAAAA~”. Teriak mereka sambil melesat ke pintu depan dan membukanya bersamaan.

“Kan aku yang buka oppa!”

“Bukan, aku!”

“KIDS!” seruan Jessica yang kini berada di belakang Junghae dan Luhan membuat keduanya bungkam.

“Finally,” ucap suara di ambang pintu yang baru saja disambut pertengkaran Junghae dan Luhan.

“Oh, ni hao, Zhoumi Shushu~ [Oh, halo, paman Zhoumi~]” kompak Luhan dan Junghae menyapa tamu mereka yang tak lain adalah Zhoumi.

“Gege!” sapa Jessica diikuti senyuman kemudian mendekati pria jangkung itu, “Zhu ni sheng ri kuai le, [Aku ucapkan selamat ulang tahun untukmu,]” tambahnya kemudian memeluknya.

“Ah, xie xie, Sica, [Ah, terima kasih, Sica,]”ucapnya membalas pelukan Jessica. “Wo ye zhu ni sheng ri kuai le. [Aku juga ucapkan selamat ulang tahun untukmu] Maaf telat,”

“Mei wen ti, [Tidak apa-apa,] gege,”

Perlahan, keduanya saling melepas pelukan satu sama lain dan tersenyum tipis. Dan tiba-tiba ganti Junghae yang memeluk Zhoumi, membuatnya hampirjatuh terjengkang karena kaget tapi kemudian membalas pelukan erat keponakannya itu sambil mengelus rambutnya.

“Happy birthday, shushu[paman]~” gumam gadis itu sedikit tidak jelas.

“Thank you, Junghae-ah,” ucapnya kemudian melepas pelukan gadis itu dengan senyum lebar.

“Sheng ri kuai le, shushu,” kini giliran Luhan yang menyelamatinya.

“Hao, xie xie, Luhan,” balasnya, berterima kasih.

“Shushu, Tao mana?” tanya Junghae kemudian.

“Dia di mobil, sedang tidur,” jawabnya sambil menunjuk mobilnya yang terparkir di halaman depan.

Luhan berjinjit sedikit lalu berjalan mendekati mobil sang paman diekori sang adik.

“Ah sayang~” keluh Junghae sambil menggembungkan kedua pipinya.

“Ngomong-ngomong, ayo masuk dulu, ge,” Jessica pun mempersilahkan Zhoumi untuk masuk dan duduk di ruang tamu rumahnya.

“Thank you, Sic,”

“Tumben gege main ke sini. Ada apa?”

“Uhm, Victoria…ada di sini?” tanya Zhoumi to the point.

“Vic unnie?” ulang Jessica diikuti anggukan Zhoumi yang kemudian ia balas dengan anggukan kecil, “Anni. Vic unnie tidak ke sini sama sekali,” lanjutnya.

“Mwo? Bagai—–”

“SHUSHUUUUU! TAO MENANGIS~” teriakan Junghae yang menggelegar memotong kata-kata Zhoumi diiringi tangisan seorang anak kecil yang tak lain dan tak bukan adalah Tao. Dengan segera Zhoumi bangkit dari duduknya.

“Yah, Junghae! Kau membuat Tao kaget!” terdengar suara Luhan mendekati rumah bersamaan dengan tangisan Tao yang juga terdengar semakin keras.

“Mian,” rengek Junghae, “Tao-ah, uljimayoo~” lanjut gadis itu.

“Maaaa ma ma maaaa~” tangis Tao dengan tangan mungilnya menggapai-gapai Zhoumi dalam gendongan Luhan.

“Shushu, Victoria yima na li ma? [Paman, bibi Victoria di mana?]” tanya Junghae menyadari ada yang kurang dari anggota keluarga pamannya.

“Karena itulah shushu kemari, untuk bertanya apakah yima mu ke sini atau tidak,” jawab Zhoumi sambil mengayun-ayunkan Tao dalam gendongannya yang sibuk menangis.

“Kenapa shushu bisa berpikir yima ada di sini?” tanya Luhan kemudian, merasa janggal.

Zhoumi menghela nafas berat sebelum menjawab, “Tadi pagi yima mu pergi dengan baba[ayah]mu, itu kenapa shushu kira dia di sini,”

Mendengarnya, seketika wajah Luhan mengeras sementara Jessica mengerutkan keningnya kaget. Junghae menaikkan sebelah alisnya.

“Maaf, gege, tapi Donghae bahkan tidak pulang dari semalam,” ucap Jessica membuat Zhoumi terbelalak kaget.

“Shen me? [Apa?] Donghae…tidak pulang? Dari semalam?” ulang Zhoumi diikuti anggukan kecil Jessica, “Tapi…tadi pagi ia menjemput Victoria…”

“Kurang ajar,” geram Luhan dengan kedua tangan mengepal.

“Luhan…” wanti Jessica.

Melihat perubahan sikap Luhan, Zhoumi pun penasara dan bertanya, “Ada apa?”

“Semalam dia pergi begitu saja setelah hampir memukul umma dan aku,” jawab Luhan dengan nada rendah namun terkesan penuh amarah, seperti geraman seekor anjing yang betemu musuhnya.

“Luhan!” seru Jessica. Baginya, masalah seperti ini tidak seharusnya diketahui orang luar.

Mendengar jawaban Luhan, Junghae tersentak kaget begitu pula dengan Zhoumi. Seolah tidak mempercayai apa yang barusan ditangkap indra pendengaran mereka.

“U-umma, oppa,” gumam Junghae pelan.

“Jadi, di mana sekarang Donghae?” tanya Zhoumi langsung, merasa amarahnya ikutan memuncak.

Namun sayang, Luhan hanya menggelengkan kepalanya tanda tak tahu. Ia sudah hampir putus asa kemudian beralih menatap Jessica yang terlihat masih berpikir, mengira-ngira di mana suaminya kini berada.

“Villa…” gumam Jessica, “Mungkin Donghae oppa dan Victoria unnie ada di sana,” tambahnya pelan.

“Baiklah. Kita ke sana sekarang juga,” tegas Zhoumi.

“Ne,” jawab Jessica danJunghae bersamaan.

“Biar aku yang bawa mobilnya, shushu,” tawar Luhan yang kemudian dilempari kunci Mercedes oleh Zhoumi.

*

“Sica, kau yakin Donghae di sini bersama Victoria?” tanya Zhoumi saat mobilnya yang dikendarai Luhan berhenti di pekarangan villa mungil keluarga Lee. Ia merasa was-was saat melihat keadaan villa yang gelap gulita tanpa ada cahaya kecuali sebuah ruangan.

“Aku yakin, gege. Sekalipun kami jarang mengunjungi villa ini, penjaga villa tetap menyalakan lampu ruang tamu, dapur, dan taman,” jawab Jessica.

“Kalau begitu, ayo kita turun sekarang,” ucap Luhan kemudian membuka pintu Mercedes milik Zhoumi.

“Junghae-ah, bangun sayang. Kita sudah sampai,” kata Jessica pelan sambil mengguncang tubuh anak bungsunya pelan, berusaha tidak membangunkan Tao yang terlelap dalam gendongannya.

Tiba-tiba pintu di sebelah kirinya dibuka oleh Zhoumi yang menjulurkan kedua tangannya, “Sini biar aku yang gendong Tao,” ucapnya.

Setelah semuanya keluar dari Mercedes hitam milik Zhoumi, Luhan berjalan di depan dengan Junghae bergelayut di lengannya setengah mengantuk dan sesekali menguap. Di belakang mereka, Jessica mengikuti dalam diam sedang Zhoumi berjalan di belakang Jessica dengan gelisah sambil menggendong Tao. Ketika sampai di depan pintu, Luhan menarik nafas panjang sebelum meraih knop pintu dan memutarnya.

Sesaat setelah pintu villa keluarga Lee terbuka, seluruh lampu di villa tersebut menyala secara tiba-tiba diikuti suara teriakan dan terompet yang membahana. Balon-balon berterbangan, memenuhi langit-langit ruang tamu begitu pula dengan kertas-kertas konfeti.

“HAPPY BIRTHDAY!” seru semua yang ada di ruang tamu membuat Luhan, Jessica dan Zhoumi menganga lebar. Bahkan Junghae yang tadinya setengah sadar segera tersadar. Di dalam ruang tamu villa keluarga Lee, telah berisi Donghae, Victoria, Kyuhyun, Yoona, Sunny, Sungmin, Tiffany, Eunhyuk dan yang lainnya. Mereka berteriak dan meniup terompet dengan semangat.



“OEEEEEEEKKK!!”

Tentu saja suara bising tersebut membuat Tao kaget dan terbangun dari mimpinya membuat suasana yang kembali hening kemudian dipenuhi tawa. Melihat anaknya menangis, Victoria segera berlari ke sisi Zhoumi dan mengambil Tao untuk menenangkannya.

“Aigoo~ maafkan mama, sayang,” ucap Victoria menimang-nimang Tao yang perlahan mulai tenang.

“Uhm…bisa jelaskan apa maksudnya ini semua?” tanya Luhan memecah keheningan yang tercipta.

Semua orang yang berada di ruang tamu melirik Donghae yang tengah tersenyum dengan amat sangat lebar. Senyum yang justru membuat Luhan merinding, pasalnya ia sangat mengenal senyum miliknya ayahnya itu. I guess I know… -____-, batin Luhan.

“Well, bisa kau lihat sendiri, appa membuat sebuah pesta besar untuk merayakan hari ulang tahun kalian,” jawab Donghae, masih dengan senyum super lebarnya yang kini membuat Junghae merinding juga.

“Errr… appa—–sudah bangkrut ya sampai menjadi satukan pesta ulang tahun kami?” tanya Junghae polos membuat senyum Donghae pudar seketika dan mengundang tawa dari teman-temannya.

“ADAAAWW!” jerit Junghae kesakitan ketika ia merasakan kakinya diinjak sang kakak dan pinggangnya dicubit sang umma.

“APPAAAAA~ UMMA DAN OPPA JAHAAAAATT~~ TnT” rengek Junghae yang segera berlari memeluk appanya, mengundang tawa yang lebih keras lagi dari yang lainnya.

Dan malam itu, mereka habiskan di villa mungil milik keluarga Lee untuk merayakan ulang tahun keempat orang yang mereka sayangi, Jessica, Zhoumi, Luhan dan Junghae. Rupanya, Donghae memang sengaja bertingkah untuk mengerjai istri dan anak-anaknya. Sedang ia membawa Victoria, juga sekalian untuk merayakan ulang tahun Zhoumi. Alasan Victoria meninggalkan Tao dengan Zhoumi adalah sebagai alat pancing dan….rencana mereka sukses.

“Happy birthday, wifey~ sorry I’m late,” ucap Donghae sambil melingkarkan tangannya di pinggang kecil Jessica, menyandarkan keningnya di kening istrinya.

“Thank you, hubby,” balas Jessica mengulas senyum.

Perlahan, keduanya saling mendekatkan wajah satu sama lain. Ketika bibir mereka hampir bersentuhan, tiba-tiba lengkingan khas anak bungsu mereka membuat keduanya menjauhkan diri masing-masing walau Donghae masih melingkarkan tangannya di pinggang Jessica.

“Appa! Ulang tahunku kan masih tanggal 21 nanti!” seru Junghae merajuk.

“Dasar anak kecil! Masih untung dirayakan,” cibir Luhan yang dibalas Junghae dengan menjulurkan lidahnya.

“Hahaha. Tidak apa-apa kan? Happy 15th birthday, daddy’s little angle~” ucap Donghae kemudian mengecup kening anak bungsunya itu.

“And happy 19th birthday, daddy’s hero,” ucap Donghae pada Luhan lalu memeluknya dengan tangannya yang bebas dan mengacak-acak rambut anak laki-lakinya sayang.

“Huff~ kenapa appa harus ulang tahun sendirian di bulan Oktober?” kini giliran Donghae yang merajuk membuat istri dan kedua anaknya tertawa.

Di sisi lain, Victoria berusaha merayu suaminya yang sedikit merajuk. Sekalipun ia tahu semuanya hanya untukmerayakan hari ulang tahunnya, ia tetap saja merajuk. Atau mungkin tepatnya, melakukan balas dendam kecil-kecilan.

“Gege, dui bu qi~” rengek Victoria, memegang lengan Zhoumi yang sibuk menggendong Tao. Pura-pura bermain dengan buah hati mereka. “Gegeeee~ >_____<”

“Popo,” ucap Zhoumi singkat membuat Victoria melongo.

“Huh? O__O”

“Popo,” ulang Zhoumi.

Victoria pun mengangguk dan mengecup pipi Zhoumi singkat, “Sudah :3”

“Bukan di situ =3=” protes Zhoumi.

“Lalu?”

“Di sini,” ucap Zhoumi sambil menunjuk bibirnya membuat Victoria mendengus kesal lalu menjepit hidung mancung Zhoumi dan menariknya.

“Awawawaw~” ringis Zhoumi sementara Tao yang berada dalam gendongannya tertawa gembira sambil menepuk-nepukkan kedua tangannya.

Vic: n_____n

Zhoumi: -______-

Tao: O/v\O

 

F I N

*awkward *awkward *awkward

uhm, hii~ I’m back, I guess? hehehe😄

well, ini hancur, rusuh, geje dan—oh apapun lah itu namanya /.\ anyway, semoga kalian terhibur yaaa :3

HAPPY BIRTHDAY JESSICA JUNG!

HAPPY BIRTHDAY ZHOUMI!

HAPPY BIRTHDAY LUHAN!

and to me, tomorrow .____.

thank you for reading guys ^^

  1. IceFishy
    20 April 2012 pukul 11:02 am

    Eon,Prok Prok!
    Bikin Kaget aja,Aku fikir HaePpa Selingkuh sama Victoria……
    eh,taunya suprise

    • 22 April 2012 pukul 9:28 am

      Huehehe~ bikin kaget kah? Kkk~ makasih ya udah mau baca ^^

  2. 20 April 2012 pukul 4:58 pm

    Surprise banget bacanya ! Bener-bener gak nyangka ternyata itu cuma kejahilan Donghae, gak ngebayangin Donghae sekasar itu -_______- oh ya baru inget yah ultah Sica, Luhan dan Mimi itu deketan !

  3. 20 April 2012 pukul 5:11 pm

    Aiihh ku kira Donghae serius kaya gitu !!
    Ternyata engga toh !!!
    Wow ….
    Padahal udah rada sedih pas Donghae kaya gitu !!
    Tapii lumayan lega deh ternyata cuma kejailan Donghae doang !!
    Oiia, kenapa ga sekalian ajjh sii Sehun ??
    Pas tanggal 12 april kemarin ???
    Hahaha
    Lebih heboh lagii deh !!
    Tapii aku akui ini sedikit gaje di pertengahan !!
    Trus ku kira juga haeppa selingkuh sama vic Onnie …

    Oiia, saengil chukkaehamnida yya buat besok ….
    Di tunggu karyanya yang lain …
    Oiia, sekalian, mampir yya ke blogku juga *promote*
    http://always9angels.blogspot.com
    Khamsahamnida and saengil chukkae🙂

  4. Siti JoJo Amigo
    20 April 2012 pukul 5:55 pm

    ehm sudah dikira itu semua kejutan>,<
    hah anak haesica dah pada gedhe yah?
    tak bisa membayangkannya😀

    waw couple baru vic dan zhoumi.
    ehm ada pasangan yempil tuh?😀

    yah happy birthday sica,zhoumi,luhan n junghae \(^_^)/

  5. 20 April 2012 pukul 7:12 pm

    GYAAAA KYA LUHAAAAANNNN~
    OMG haha kirain donge kenapa gitu kok jadi kasar banget. oke, tapi ngerjainnya keterlaluan -_-

    …dan kenapa i spotted jub jub di situ…………………….

    i’m starting to ship ZhouToria because of you😡 you’re taking responsible because of this

    endingnya kenapa rada error gitu wakakak malah pake emot😄

    thanks for writing this wynda iluuuuu :*

    • 22 April 2012 pukul 9:24 am

      Ada apa dg Luhan? *ubek2 Luhan (?)
      Well; aku juga mikir begitu. Tapi…welll…. (?)

      Yah…entah kenapa aku ingin memasukkan jub jub di sana. Dan masuklah kata2 keramat itu, kak (?)😄

      Ga tau juga kenapa aku buat endingnya begitu😮 bahaha /plak😄

      Meheheh. Ilu too kakaaaaak :* ^^

  6. IceFishy
    21 April 2012 pukul 4:31 pm

    Eon bsa Buatin ak FF HaeSicaSung ga?

    • 22 April 2012 pukul 9:20 am

      InsyaAllah aku coba bikin ya kalo ada ide🙂

  7. Love is Kyutoria
    22 April 2012 pukul 9:09 am

    Prok Prok Prok~
    Mari Bershower….

  8. Kim_Sone YulSica
    22 April 2012 pukul 9:50 pm

    aku bener” udah ketipu nih. Aku kira hae oppa selingkuh ma vic. Tp ternyata. .
    Kereen saeng~

  9. 27 April 2012 pukul 1:30 am

    Kenapa gak bilang kalo udah update ff unnie T_T
    well ini keren kok:)
    bgt malah~
    yg lain ditungguuuu

  10. 27 April 2012 pukul 8:58 am

    awalnya mengejutkan eh pas inget lagi judulnya. ehmm ketahuan kan kalo itu tuh bohong ahaha
    keren keren~ lucu banget

  11. 29 April 2012 pukul 2:56 pm

    dari judulnya aja udah ketahuan. tapi bagus kok \m/ eh jebakan Donghae keterlaluan ya masa dia bentak-bentak istri dan anaknya -____-
    wew ada bahasa mandarin, lumayan buat belajar ahahaha.
    ditunggu ff selanjutnya ya.

  12. YouKnowSH?
    3 Mei 2012 pukul 9:00 am

    Wkwk pas pertama baca shock!

    Eh Ternyata…😄

  13. 7 Juli 2012 pukul 1:40 pm

    Suka, baru nemu blog ini dan aku suka bhasa yg digunain. diksi dan sudut pandangnya jg oke, daebak
    cuma ada sekalimat yg bikin bingung di ‘tambahnya sambil memeluknya’ ya kurang lebih seperti itu kalimatnya. nya disini jd ngebingungin karena aku sbg yg baca bingung siapa sebenarnya yg di peluk. oke cuma itu aja
    keep writing ^^

  14. 9 Juli 2012 pukul 8:21 pm

    bagus ceritanya. aku selalu suka sama FF kamu thor. feel nya ituloh ngenaaa banget! kata katanya baku jadi gampang dimengerti. tapi kayaknya itu ada typo deh, jessica umurnya 42 ? kok jess manggil vic ‘unni’? vic udah tua dong? tapi kok anaknya masi bayi? mungkin itu umurnya jess harusnya 24 yah?

  15. zals
    4 Januari 2013 pukul 10:53 am

    sica eonni tua bgt.. gk papa deh yg penting masih sma hae oppa…

  16. vankaka
    18 November 2014 pukul 11:16 pm

    DAEBAk!! keren banget, suer..
    itu surprise bikin marah,
    pesta buat 4 orang sekaligus, ng-irit atau pelit? hahah

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: