Drabbles

ini pesenannya kak @choileecious di twitter. enjoy~

The Departion[Siwon/Hyunkyung; Canon-modified; 350w]

Hyunkyung berjalan menarik kopernya dengan langkah pendek dan lambatnya. Berat baginya meniggalkan tanah kelahirannya ini sekalipun demi melanjutkan study-nya. Tidak hanya itu, ia juga berat harus meninggalkan karir yang hampir diraihnya. Teman-temannya yang selalu berada di sampingnya. Juga ia, sosok pria yang juga berjalan lambat-lambat di sampingnya, menyejajarkan langkahnya. Pria yang merupakan tambatan hatinya, Choi Siwon. Dengan kepergiannya ini, berarti ia tidak lagi bisa memilikinya.

Diliriknya pria di sampingnya. Wajahnya keras dan penuh wibawa, seolah tanpa beban. Tapi ia yakin, di dalam hati pria itu tersimpan rasa sakit yang mendalam mengenai kepergiannya. Mengetahui itu, mau tak mau ia pun merasa semakin sakit. Merasa hatinya hancur berkeping-keping. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa, dan itu membuatnya semakin terpuruk saja.

Langkah keduanya pun terhenti di depan pintu boarding pass. Keheningan masih menyelimuti mereka diantara kesibukan lalu lalang lautan manusia yang berada di bandara. Keduanya menyapu pandangan mereka ke berbagai penjuru, seolah saling menghindari pandangan satu sama lain. Kalau bisa, mungkin mereka akan mengorbankan segalanya untuk menghentikan waktu mengingat masih banyak yang harus dibicarakan. Sayangnya tidak.

Keduanya masih terdiam dalam keheningan yang mereka ciptakan sendiri hingga akhirnya pengmuman mengenai keberangkatan pesawat tujuan New York bergema. Inilah saatnya, batin Hyunkyung menghela nafas pendek sementara Siwon merutuk waktu yang berjalan terlalu cepat baginya dalam hati.

“Aku…pergi dulu,” ucap Hyunkyung pelan sebelum menarik kopernya dan mulai berjalan.

“Tunggu…” Siwon dengan cepat menahan lengan Hyungkyung sebelum gadis itu sempat memasuki boarding pass dan meninggalkannya yang mungkin untuk selamanya. Tidak sebelum ia sempat mengucapkan kata-kata terakhirnya.

“Hyunkyung-ah,” panggilnya pelan setelah gadis itu berbalik menatapnya, “Aku—-aku minta maaf. Kau tahu… aku tidak bermaksud untuk—”

“Aku tahu,” potong Hyunkyung kemudian tersenyum kecil. Tersirat pengertian dan kesedihan di dalamnya, “Aku juga minta maaf,” tambahnya.

“I’ll miss you,” gumam Siwon menatap ke dalam mata Hyunkyung, menunjukkan keseriusan di dalamnya.

“I’ll miss you too,” balas Hyunkyung masih menyunggingkan senyuman kecil yang perlahan melebar dengan sangat indah.

“I’ll be waiting for you,” tambah Siwon.

“I’ll be back. I promise,”

Dan dengan itu, Siwon menarik Hyunkyung ke dalam pelukannya untuk memberi pelukan perpisahan dan mengecup puncak kepala gadis itu sebelum akhirnya melepaskan kepergiannya.

 

*

 

Place to hold on tight [Heechul/Tiffany; AU; 205w]

Heechul tersenyum penuh kemenangan ketika seseorang menjerit tertahan dan menarik tangannya sebagai tempat berlindung—atau setidaknya, sebagai pegangangan mengingat ia tengah berada di Haunted House bersama seorang Tiffany Hwang. Kalau boleh jujur, ia sangat menikmati bagaimana takutnya gadis berambut merah itu berulang kali memeluk tangan kanannya dengan sangat erat dan menyembunyikan wajah ayunya di bagian belakang bahunya ketika berbagai jenis hantu bermunculan. Pria itu rela mendengar lengkingan yang mampu memekakan telinga siapapun demi mendapati Tiffany berpegangan padanya. Entah itu menjadi sandaran, menjadi tempat menangis, atau bahkan menjadi tempat bersembunyi. Ia rela, sungguh. The feeling of being needed, he miss it—indeed.

“Oppa! Jangan pernah bawa aku ke sana lagi! No way!” jerit gadis itu ketika mereka berhasil keluar dari tempat terkutuk—setidaknya bagi seorang Tiffany Hwang—dengan nada menuntut.

“In one condition,” jawab Heechul enteng yang ditanggapi Tiffany dengan menaikkan salah satu alisnya, “Come to me whenever you need me. Let me be the first to know whatever happens to you.”

Mendengar syarat Heechul, Tiffany tersenyum. Senyum yang sangat tulus dengan sebuah eye smile (yang Heechul yakin tidak pernah diperlihatkan gadis itu pada siapapun sebelumnya) lalu berkata, “Sure. Why not?” dan dengan itu Tiffany mengamit lengannya pada lengan Heechul dengan erat seolah tak ingin melepasnya.

 

*

 

Home [Donghae/Jessica, Luhan—mentioned Kai&Sehun; AU; 751w]

Donghae terduduk diam menatap wanita yang terbaring lemas di hadapannya hampir layaknya sebuah mayat. Bedanya, wanita di hadapannya masih bernafas walau sangat pelan dan lemah dengan dibantu berbagai selang untuk menopang hidupnya. Hanya bunyi ‘beep’ saja yang memenuhi ruangan itu. Terasa sangat sepi dan hampa. Namun Donghae tetap bertahan.

Klek.

Pintu ruangan terbuka pelan diikuti seorang pria menyelipkan dirinya masuk dalam celah pintu yang sempit. Tapi Donghae seolah tidak peduli dengan suara pintu yang terbuka. Pandangannya tetap tertuju pada wanita yang terbaring lemas di hadapannya, seolah tertidur dengan sangat nyenyaknya.

“Ayah,” panggil pria itu yang ternyata adalah anak Donghae.

Pria paruh baya itu menoleh ke arah suara yang memanggilnya dan menyunggingkan senyum tipis lemah. Kedua bola matanya mengikuti gerak-gerik anak tertuanya yang menarik sebuah kursi dengan sangat hati-hati dan meletakkan di dekat Donghae sebelum akhirnya menghempaskan dirinya di sana. Ia tersenyum kecil yang menyiratkan kepedihan tatkala sang ayah menepuk pundaknya pelan kemudian kembali memandang ibunya.

“Apa kabar ibu, Yah?” tanyanya pelan sambil memandang ke wajah damai ibunya. Kegetiran terpancar jelas di kedua bola matanya mengingat kejadian yang membuat ibunya harus terbaring lemas di kasur rumah sakit ini 3 bulan yang lalu.

Donghae menoleh menatap anaknya kemudian kembali mengalihkan tatapannya pada wanitanya sambil menyunggingkan sebuah senyum kecil, “Seperti yang kau lihat, Luhan. Masih tidur dengan tenangnya. Kau tahu hobi ibumu kan? Kekeke~” jawab Donghae, melontarkan sedikit banyolan tentang hobi istrinya yang diikuti sebuah tawa kecilnya.

Anak tertuanya, Luhan, menyunggingkan senyum kepedihan. Tentu ia ingat dengan hobi sang ibu yaitu tidur. Tak ayal ia pun kadang susah terbangun di pagi hari. Namun bukan hal itu yang membuatnya tersenyum perih. Kenyataan bahwa sang ibu terbaring lemah tak berdaya di kasur dan sang ayah yang setia menunggunya di rumah sakit namun tetap ceria dan menceritakan cerita lucu membuatnya tak mengerti mengapa sang ayah tetap saja terlihat biasa seolah tanpa beban.

“Sica-yah,” ucap Donghae mengelus telapak tangan istrinya kemudian meremasnya lembut, “Luhan datang menjengukmu, sayang. Tidak kah kau rindu dengannya? Hmm?” tanyanya sambil menatap Sica dalam, seolah wanita itu sadar. Hal ini membuat hati Luhan semakin perih.

“Annyeong, eomma,” sapa Luhan menyunggingkan senyuman pahit. Ia sedikit berharap, ibunya akan membuka kedua matanya tiba-tiba dan membalas sapaannya. Namun harapan tinggalah harapan. Ibunya tak bergeming akan sapaannya membuatnya ingin menumpahkan air matanya saat itu juga, namun ia tahan. Kelopak mata sang ibu bergerak, seolah berkedip. Tapi tetap saja ibunya tak siuman.

Luhan benar-benar ingin menangis saat itu juga namun ia tahan sebisanya melihat sang ayah membelai lembut puncak kepala ibunya dan mengecup keningnya penuh kasih sayang seolah ibunya baru saja membalas sapaannya. Mungkin ia telah salah untuk datang mengunjungi kedua orang tuanya di rumah sakit, batinnya. Tapi ia tak mampu membendung rasa rindunya pada keduanya. Dan ia pun teringat.

“Yah, Ayah tidak mau pulang?” tanya Luhan pelan.

Donghae menggeleng, “Tidak, nak. Ayah di sini saja menemani ibumu. Kasian dia sendirian,” jawabnya lalu menyunggingkan sebuah senyuman.

“Tapi yah, Kai dan Sehun rindu ayah. Kasian juga mereka berdua ingin kemari tapi… ayah tau bagaimana kedua anak itu,” ucap Luhan menghela nafas lemas mengingat tingkah kedua adik kembarnya.

Terdengar tawa kecil keluar dari mulut Donghae, “Bawa saja mereka ke sini. Mungkin bisa membuat ibumu tersenyum. Dia pasti juga rindu dengan kedua adik kembarmu,” tambahnya.

Luhan menghela nafas lelah. Inilah bagian tersusah yang pernah ia lakukan, membujuk ayahnya untuk pulang. Setidaknya sebentar saja.

“Ayah jangan begitu. Ayah juga harus pulang ke rumah, yah,” desak Luhan.

Donghae kembali menatap istrinya dalam-dalam. Berbagai kenangan menyusupi otaknya. Kenangan-kenangan yang telah mereka lalui bersama. Entah itu kenangan bahagia ataupun kenangan yang memilukan. Kenangan ketika mereka pertama bertemu. Ketika ia mulai mendekati istrinya. Kenangan ketika keduanya kencan untuk pertama kali. Ketika mereka bertengkar karena salah paham. Atau kenangan ketika mereka menikah. Donghae ingat Jessica adalah wanita yang paling cantik dalam gaun pengantin berwarna putih suci. Kenangan ketika anak pertama mereka, Luhan, lahir. Kenangan ketika Luhan beranjak dewasa. Kenangan ketika Kai dan Sehun lahir. Semuanya berputar begitu saja dalam otak Donghae. Ia kembali menyunggingkan senyum yang seolah tak pernah lelah terukir di sana.

“Rumah…” gumam Donghae kemudian menatap anak sulungnya dalam-dalam, “Ibumu adalah rumah ayah, nak. Kalau ayah harus kembali, itu berarti ayah harus kembali pada ibumu,” lanjut Donghae lalu menepuk bahu Luhan dan meremasnya pelan.

Mendengar jawaban ayahnya, Luhan tertegun. Dalam hatinya, ia mengagumi cinta sang ayah pada ibunya yang luar biasa. Ia bahkan tak tahu bagaimana melukiskannya dalam kata-kata. Kemudian ia sadar, cinta sang ayah pada ibunya memang tidak terlihat, namun dapat dirasakan. Begitu pula sebaliknya. Layaknya angin yang berhembus, tak dapat dilihat namun dapat dirasakan.

F I N

what is this i just wrote? ;; i know its crappy >_____<
maap yah kak In nunggu lama. berapa bulan? 1 bulan yak? lebih? astagfirullah. maap kakaaaaak~ ;__; udah nunggu sebulan, drabble, hancur pula. mana ada yg angsty hueeeee T___T maap kakaaaaakk~~ ;< sebagai bonus, aku haesica satu deeeeeh~~ hehehe~😄

  1. 28 Juni 2012 pukul 5:27 am

    WYNDAAAAAAAAA thank you so much much much!! <3<3 Kkkk

    WonKyung nya ngena banget hahaha, feelnya dapet, Ih aku jadi nyesek sendiri ;A;

    HFnya wakakakakaka pairing paling anehku yg kedua lol singkat padat jelas dan lucu ih, aku suka kkkkk

    haesicanya kenapa begini? Kenapa sad? Donghae ;A;

    once again, Thank you Wyn hahaha ilu<3 xD

  2. 9 Juli 2012 pukul 8:14 pm

    Bagus banget ceritanya!! bakat jadi penulis tuh. kata katanya juga bagus.
    pinter banget ngegambarin suasana, jadi berasa ada di dalem cerita xD
    Update soon yah!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: