Beranda > drabble, fanfiction, whyenda_arinka > [Drabble] When Jessica’s Pregnant

[Drabble] When Jessica’s Pregnant

Title: When Jessica’s Pregnant

Length: Drabble

Genre: AU, Romance

Rating: G

Casts: Super Junior Lee Donghae, SNSD Jessica Jung

Disclaimer © Artists are owned respectively to their company. Artist’s names are borrowed and used only in a fictional way. Ane event occured is pure coincidence.

 

Idea © Whyenda Arinka

————————————————

Donghae tengah sibuk memeriksa beberapa laporan di laptopnya dengan serius ketika iPhone-nya bergetar pendek dua kali, menandakan sebuah pesan masuk. Ia melirik layar benda mungil tersebut yang berpendar sebentar sebelum kembali memfokuskan pandangannya pada laptopnya. Dipencetnya beberapa tombol sebelum akhirnya tangannya beranjak meraih benda mungil yang tadi sempat menarik perhatiannya dan membuka pesan yang baru saja masuk.

‘Donghae-ya~’

Begitu bunyi pesan dari pengirim pesan bernama Sooyeonnie.

‘Wae?’

Balasnya pandek dengan senyum simpul terukir di bibirnya sebelum akhirnya kembali berkutat dengan laptopnya. Ia mulai membuka beberapa file baru namun kembali terusik ketika ponselnya kembali bergetar pendek-pendek. Ia menghela nafas sebelum mengambilnya.

‘Kau pulang kapan? :(‘

Senyum kembali merekah di bibir pria berumur 26 tahun itu. Diliriknya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya diikuti senyum yang semakin lebar.

‘Sebentar lagi. Ada beberapa dokumen yang harus aku cek. Kau ingin kubelikan sesuatu?😉’

Donghae pun kembali pada laptopnya, menelusuri dokumen-dokumen yang tadi sempat ia buka untuk dicek kembali. Setelah dirasa tidak ada yang salah, ia menyimpan data-data tersebut lalu mematikan laptopnya dan bersiap-siap pulang. Tepat sebelum ia meninggalkan ruangan kantornya, ponselnya berbunyi dan pria itu mengeluarkan benda tersebut dari kantong celananya.

‘Aku mau kue brownies, otte?’

Untuk sesaat, Donghae terhenyak. Tangan kanannya yang hendak meraih knop pintu menggantung di udara membaca pesan dari istrinya tersebut. Sudah sejak sebulan mereka mengetahui bahwa Sooyeon hamil dan belakangan ini wanita yang tengah hamil muda itu sedang mengalami masa ngidam. Hal ini cukup membuat Donghae pusing, namun masih bisa ia atasi tapi tidak yang satu ini. Istrinya yang sangat ia cintai sedang ngidam kue brownies jam setengah sepuluh malam. Toko kue mana yang buka semalam ini? Terlebih istrinya sangat selektif dalam hal kue. Ia hanya mau kue dari toko kue langganannya dan–ouch toko itu sudah tutup setengah jam yang lalu.

‘Tapi Sooyeon, tokonya kan sudah tutup setengah jam yang lalu. Jus mangga saja ya?’

Donghae segera menyesali tawarannya mengingat tidak ada toko buah yang masih buka saat ia menyadari bahwa istrinya tidak suka jus yang dijual di coffe shop mana pun. Mangganya tidak terasa dan esnya terlalu banyak, begitu komentarnya tempo hari. Saat ini, tidak ada hal lain yang ingin Donghae lakukan selain memberikan dirinya sendiri sebagai umpan hiu di tengah laut sana. Ugh pabboya~

‘Aku. Maunya. Brownies. Tidak membeli brownies, tidak boleh masuk rumah!!!’

Tubuhnya terasa lemas saat itu juga. Memberi tanda titik hampir di awal kalimat dan memberi tanda seru sebanyak tiga kali di kalimat terakhir berarti sudah tidak ada tawar menawar lagi. Harga mati. Dengan kata lain, SOoyeonnya hanya mau brownies. Tidak jus mangga. Bahkan tidak pula buah mangga kesukaannya. Matilah aku~

.

“Aku pulang~” ucap Donghae dengan nada lelah. Kedua tangannya ia rentangkan. Tangan kanan membawa bungkusan dan tangan kiri membawa suitcase, berharap istrinya menyambutnya dengan pelukan hangat.

“Donghae! I missed you!” pekik Sooyeon lalu mengecup pipi Donghae dan mengambil bungkusan di tangan kanannya.

Donghae masih terdiam di depan pintu dengan sedikit kesal karena ia tidak mendapat pelukan selamat datang sementara Sooyeon berjalan (setengah berlari tepatnya) menuju ruang makan dan membuka bungkusan di tangannya dengan bersemangat.

“Yay brownies!” girang Sooyeon sambil mencomot satu potong kue brownies dan memakannya.

Melihat istrinya tengah memakan sepotong kue brownies dengan bahagia, Donghae menghela nafas lega. Setidaknya perjuangannya untuk mendapatkan sekotak brownies tidak sia-sia. Ia pun berjalan mendekati sang istri yang sibuk menikmati kue browniesnya dengan senyum terukir di wajahnya. Namun setelah melahap potongan kedua, Sooyeon berhenti dan menutup kotak brownies tersebut sebelum akhirnya pergi.

“Sooyeon?” panggil Donghae ketika melihat istrinya pergi begitu saja.

“Ne?”

“Kenapa tidak dihabiskan?”

“Sudah kenyang,” jawab Sooyeon pendek kemudian beranjak menuju kamar mereka.

Mendengar jawaban pendek sang istri, entah kenapa amarah Donghae memuncak seketika. Ia mati-matian membeli kue itu, memohon-mohon pada penjaganya yang akan pulang untuk menjualkan satu kotak saja padanya, mengemis layaknya orang gila hanya demi itu? Hanya demi istrinya memakan dua potong kue dan selesai?

“Kalau begitu kenapa tadi minta?” tanya Donghae dengan nada yang mulai meninggi.

“Lalu kau mau melihat aku muntah karena terlalu banyak makan?” tanya Sooyeon balik, ikut kesal.

“Tapi aku mendapatkannya dengan susah payah! Tokonya sudah tutup ketika kau minta dan kau hanya makan dua potong, Sooyeon!? Dua potong!!!” teriak Donghae membuat Sooyeon terkejut, “Kau seharusnya tidak mengancamku tidak boleh pulang kalau belum dapat jika kau hanya ingin makan dua potong kue brownies sialan itu!!!”

Teriakan Donghae pun membuat kedua mata Sooyeon berkaca-kaca. Satu demi satu bulir air mata jatuh menuruni pipinya. Detik berikutnya, wanita itu berlari ke kamar dan membanting pintunya dengan keras membuat Donghae tersentak kaget. Namun pria itu masih mengatur nafasnya akibat amarahnya yang memuncak dan masih belum stabil. Ditendangnya kursi meja di dekatnya sebagai pelampiasannya hingga akhirnya amarahnya pun mereda. Donghae mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya, mencoba menghilangkan sisa-sisa amarahnya.

Sedetik kemudian, pikirannya yang tadi dipenuhi oleh amarah berganti dengan rasa takut. Takut karena ia telah membuat istrinya berlinang air mata dan berlari ketakutan meninggalkannya. Meninggalkannya. Meninggalkannya sendiri di ruang makan yang kosong, sepi, dan hampa. Tidak…

“Tidak. Sooyeon. No, don’t,” gumam Donghae menyeret kedua kakinya untuk berjalan menuju kamarnya.

“Sooyeon!” teriaknya sambil membuka pintu demi mendapati sebuah koper yang setengah terisi di atas ranjangnya. Sooyeon berada di depan lemari, menarik setumpuk baju dan memasukkannya asal ke dalam kopernya.

“Baby, don’t. Please,” mohon Donghae menahan lengan Sooyeon yang segera menepisnya.

“Let me go, Donghae!” teriak Sooyeon.

“I-I’m sorry, baby. Please forgive me,” mohon Donghae kini memeluk Sooyeon dari belakang, berusaha menghentikan istrinya yang sedang mengemasi baju-bajunya.

“Please,” bisiknya di telinga wanitanya, air mata membanjiri pipinya. “I’d rather go through everything in this world than lose you. Baby please forgive me,”

Sooyeon terisak,”P-Promise me you won’t do that again?”

“Promise, beautiful. I promise,” bisik Donghae.

Sooyeon menghela nafas sebelum akhirnya mengangguk kecil. Donghae melepas pelukannya dan membalikkan tubuh Sooyeon agar menghadapinya. Ia tersenyum simpul sambil menghapus sisa air mata di pipi istrinya.

“I’m sorry I ruin your face with this tears,” bisik Donghae pelan kemudian mengecup kening Sooyeon.

“It’s okay,” balas Sooyeon, berbisik.

Donghae tersenyum sebelum mengecup bibir Sooyeon pelan dan membungkusnya dengan kedua tangannya.

FIN

  1. 29 Januari 2013 pukul 7:53 am

    me first?

    whoaa chingu cerita nya dewasa bgt😀 sica ngidam, trus ngambek, mau kabur ehh gak jadi kabur. wkwkwkk :p

    keep writing chingu (y)

    oiya, kalo ada waktu kunjungi wp ku sideofardeliaini.wordpress.com🙂 -emank ada apaan? kagak ada apaapa, hihihi :D-

  2. 30 Januari 2013 pukul 6:26 pm

    donghaenya kebakar emosi^^ but good FF. i can imagine when sooyeonnie crying and leave dongahe alone kkkkk~~~ keep writing ne^^

  3. 1 Maret 2013 pukul 11:25 pm

    hahhaa…ngidamnya aneh, aigoo Donghae-2x bakalan repot terus tuh, wkwkkwwk…
    btw, boleh ikut ngerepotin si Donghae kah…ahhh like banget klo bikin org repot hehhee…Donghae jgn marah-2x trus lah… :p

  4. siti jojo
    9 Maret 2013 pukul 4:22 am

    yg sbr yah haepa,wanita hamilkan sensitive.
    apalagi sicanya lagi hamil muda gtu.ckck-,-

  5. 17 Maret 2013 pukul 11:06 am

    b.inggris nya donghae bagus ya#plakk
    mungkin kalau aku jadi donghae,udah gue cekik jessie,ngeselin banget udah susah dapet malah digituin,,,
    good suka-suka-suka^^

  6. shin min gii
    21 Mei 2013 pukul 10:53 pm

    ebuset sadis bener sicanya., masa g boleh pulang kalo g dapat brownies? Terus ini bertengkar juga karna brownies? .-. Haha., bagus ceritannya., dan manis

  7. 13 Agustus 2013 pukul 2:40 am

    Demi apapun karya-karya unni emang bagus-bagus nggak nyesel nemu blog ini/? /gak

  8. vankaka
    15 September 2013 pukul 11:09 pm

    aaaaargh!! knp so sweet bingiiit!!
    request dong, HaeSica Marriage Life. klo bisa perjdohan ya!!
    keep writing!! figthing!!

  9. nayy
    1 Desember 2013 pukul 10:39 am

    endingnya sweeettt🙂

  10. 5 Juli 2014 pukul 12:30 pm

    Mau punya suami kaya donghae… ceritanya manis

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: