Beranda > drabble, fanfiction, whyenda_arinka > [Drabble] Choose The Rain

[Drabble] Choose The Rain

Title: Choose The Rain

Length: Drabble

Genre: AU, Family

Rating: G

Casts: f(x) Luna & Victoria

Disclaimer © Artists are owned respectively to their company. Artist’s names are borrowed and used only in a fictional way. Any event occured is pure coincidence.

Idea © Whyenda Arinka

———————————————–

“Aku pulang,” ucap Luna lesu.

“Selamat datang,” balas Victoria dari dapur.

Luna hanya diam sambil melepas kedua sepatunya lalu menutup pintu dengan pelan dan berjalan menghampiri Victoria di dapur. Kakak perempuannya itu tengah memasak sesuatu yang lezat, terbukti dari aroma menggiurkan yang memenuhi rongga hidungnya dan membuatnya hampir meneteskan air liurnya.

Gadis itu meletakkan tasnya di atas meja makan lalu duduk menelungkupkan kepalanya di atas tangannya yang ia lipat di meja, tak mengindahkan hasratnya untuk mencicipi makanan buatan Victoria.

Mendengar keributan kecil yang dibuat adiknya, Victoria pun menoleh sebentar dari kegiatannya mengaduk sayur buatannya di panci. Ia mengerutkan keningnya mendapati adiknya membenamkan wajahnya di atas lipatan tangannya lalu segera mematikan kompornya dan menghampiri adiknya itu.

“Ada apa, Lun?” tanyanya sambil mengelus puncak kepala Luna yang sedikit basah. Ternyata di luar sedang hujan, ia sampai tidak sadar.

“Unnieeeeeeeee~” rengek Luna dengan nada putus asa.

“Kenapa, sayang?” tanya Victoria lembut lalu menempatkan dirinya di kursi di samping Luna.

“Unnie ingat pementasan drama akhir tahun di sekolah?” tanya Luna yang dijawab anggukan kecil oleh Victoria.

Bagaimana ia tidak ingat akan acara yang akan diadakan dua bulan lagi di sekolah adiknya itu? Terlebih Luna ikut andil dalam pementasan drama itu sebagai pengisi suara tokoh utama wanita untuk part menyanyi.

“Suzy bilang ia tidak bisa ikut karena ada acara keluarga di Busan, unnie~” cerita Luna sambil memainkan sendok dan garpu yang sudah ditata rapi oleh Victoria.

Victoria menaikkan sebelah alisnya sebelum bertanya, “Lalu?”

“Dan aku ditunjuk untuk menggantikan Suzy~ Unnie bagaimana kalau aku gagal? Pementasan drama tinggal dua bulan lagi dan aku tidak tahu dialog pemeran utama selain beberapa bagian sebelum ia bernyanyi,” lanjut Luna dengan nada yang sangat putus asa.

Keheningan menyelimuti keduanya untuk sesaat. Victoria terlihat memikirkan sesuatu, entah apa itu. Sepertinya ia ingin menenangkan adik kesayangannya itu.

“Unnie, bagaimana kalau aku mengundurkan diri saja?” tanya Luna kemudian.

Victoria tersenyum tipis melihat keadaan adiknya yang tengah dilemma itu. “Kenapa?”

“Karena aku hanya akan menghancurkan drama itu nantinya, unnie. Aku tidak tahu bagaimana harus berakting. Jangankan berakting, dialognya saja aku tidak tahu,” keluh Luna, kini menatap Victoria dengan tatapan memohon.

Victoria menatap Luna sejenak sebelum mengalihkan tatapannya ke jendela yang mempertontonkan derasnya hujan di luar sana. “Pilihlah hujannya, Luna,”

Luna mengerutkan keningnya lalu mengikuti arah pandangan Victoria pada hujan di luar sana. “Pilihlah hujannya? Maksudnya, unnie?”

“Iya, pilihlah hujannya,” ulang Victoria lalu menatap Luna.

“Apakah hujan akan berhenti bila kau menginginkannya untuk berhenti, Luna-ah?” tanya Victoria yang dibalas gelengan kecil dari Luna sebelum melanjutkan, “Nah, kenapa tidak kau saja yang memilih bermain dengan hujan kalau begitu?”

Luna terdiam sejenak mencerna ucapan Victoria, “Kamu sudah berjalan sejauh ini dan memilih untuk berbalik hanya karena hujan. Apa itu tidak konyol? Bukankah lebih baik kalau kau membuat hujan menjadi menyenangkan dengan bermain dibawahnya?” tambah kakaknya sambil menyunggingkan sebuah senyum.

Luna tersenyum lebar mengetahui maksud kakaknya. Memang tidak ada salahnya untuk mencoba. Toh kalau aku mau belajar dan latihan aku pasti bisa, pikirnya.

“Aigo unnie, gomawo~~~” seru Luna yang segera menghambur memeluk Victoria.

Victoria terkikik pelan sambil menepuk-nepuk pelan punggung adiknya lalu berseru, “Sekarang kau ganti baju dan makan atau kau tidak akan dapat jatah makan nanti malam!”

“Yes, Ma’am!” seru Luna segera menegakkan tubuhnya dengan tangan menempel di pelipis kanannya kemudian melesat menuju kamarnya.

“Hei tasmu ketinggalan!” teriak Victoria yang tak didengarkan adiknya itu.

“Tsk! Jangan salahkan aku kalau tas ini berakhir di tong sampah,” keluh Victoria menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkacak pinggang.

F I N

engggg aku ga tau ini apa. pokoknya gara2 baca salah satu buku di perpus pusat dan baca kalimat “Pilihlah hujannya,” bikin tanganku gatel mau nulis ini dan—wala! jadilah ff ga jelas ini heh -__-

thank you for reading😀

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: