Beranda > drabble, fanfiction, whyenda_arinka > [Drabble Collection] Broken

[Drabble Collection] Broken

Another drabble collections (still there’s only three drabbles tho :1 ). This time, won’t tell you guys where I got these inspiration (stalk me, you might know loljk). So, enjoy~

 

‘Slowly fading away, you’re lost and so afraid. Where is the hope, in the world so cold?’

 

Soojung tercengang ketika ia berbalik dan tidak mendapati siapapun di belakangnya. Tidakkah ia memberi isyarat pada teman-temannya tadi bahwa ia akan berhenti sebentar untuk meminum airnya? Tidakkah mereka merasa sedikit lelah karena ia sendiri bahkan hampir tidak kuat lagi untuk berjalan. Tapi ke mana mereka semuanya sekarang? Seolah menghilang begitu saja di tengah hutan membuatnya panik dan ketakutan.

 

Ya, ia dengan teman-temannya memutuskan untuk menyusuri hutan, sedikit refreshing setelah apa yang menimpanya dua bulan yang lalu. Kecelakaan cukup hebat yang membuat Soojung kehilangan pita suaranya atau dengan kata lain ia bisu sekarang. Dulu, ia terkenal sebagai gadis periang yang baik hati dengan suara seindah lonceng gereja. Namun sekarang, hampir semua orang meninggalkannya. Bahkan teman-temannya yang ia kira akan tetap setia di sampingnya.

 

Tubuh Soojung bergetar. Kedua sudut bibirnya tertarik keatas, seolah ia tengah tertawa. Gadis itu menggelengkan kepalanya kecil lalu meraih senter kecil yang ada di kantong jaketnya, menyoroti segala arah tak pasti. Ia sendiri tak mengerti apa motifnya melakukan hal itu di tengah hutan yang mulai gelap ini. Jelas ia tak punya harapan untuk selamat dari hutan dengan pohon yang tingginya melebihi tinggi gedung pencakar langit di Seoul dengan senter kecilnya.

 

Soojung mulai merasa kedinginan hanya berbekal jaketnya dan celana training panjang. Sarung tangannya yang biasanya mampu menghangatkannya bahkan terasa tak berguna. Mungkin bukan karena suhu di sekitarnya yang menurun, tapi karena hatinya yang sudah beku. Walau begitu, gadis itu terus berjalan tak pasti. Seiring dengan langkah yang ia ambil, harapannya untuk bertahan hidup pun terasa semakin menipis. Bagaimana ia memiliki harapan kalau ia hilang di tengah hutan, ketakutan dan kedinginan? Soojung pun menyunggingkan sebuah senyum sebelah yang penuh dengan kepedihan.

 

‘Kalau memang harus berakhir di sini sendiri, maka berakhirlah,’

 

—————–

 

‘Your heart is full of broken dreams, just a fading memory and everythings gone but the pain carries on.’

 

Sehun hanya bisa duduk diam menatap lautan yang terbentang di hadapannya dari atas tebing, seolah menyatu dengan langit sore yang berwarna kuning kemerahan. Sungguh pemandangan yang indah nan memenangkan jiwa. Namun sayangnya tetap saja percuma bagi seorang Oh Sehun. Entah berapa kali ia menatap bentang alam di hadapannya, tetap saja ia tak terpengaruh. Seolah ia tenggelam dalam pikirannya sendiri.

 

Senyum kegetiran terpampang di wajah rupawan itu kala ia memutar kembali hal-hal yang terjadi padanya dalam tiga bulan terakhir. Tiga bulan yang lalu, baru saja ia memenangkan kompetisi dance antarsekolah yang terbilang bergengsi. Ia meraih juara pertama dan dielu-elukan oleh semua siswa di sekolahnya, bahkan siswa sekolah lain. Hidupnya bagai di atas angin saat itu. Ia memperoleh pujian dari mana saja, walau ia tetap rendah diri dan berkata bahwa menari adalah nafasnya.

 

Namun karena kecelakaan yang menimpanya dua bulan lalu, ia kehilangan kemampuannya untuk menggerakkan kakinya sebagaimana mestinya. Dokter memvonisnya lumpuh total yang membuatnya kehilangan segala mimpinya. Tidak hanya mimpinya, tapi juga nafasnya. Bagi seorang dancer, kaki merupakan salah satu bagian tubuh yang sangat penting. Dan menari adalah nafasnya.

 

Mengingat hal itu membuat dada Sehun sesak, seolah paru-parunya kehilangan oksigen dalam jumlah yang sangat banyak dalam waktu yang singkat. Layaknya ‘nafasnya’, mimpinya yang pergi meninggalkannya pergi begitu saja. Meninggalkannya dengan rasa sakit yang luar biasa dan Sehun sendiri tak tahu sampai kapan ia bisa bertahan. Lelaki itu menatap ke bawah, menatap laut yang tenang di bawahnya dengan nafas tertahan.

 

—————–

 

‘Lost in the rain again, when will it ever end? The arms of relieve seems out of reach.’

 

Jongin berdiri diam di tengah halaman belakang vila milik keluarganya di puncak dengan kedua tangan yang ia masukkan ke dalam kantong celananya. Ia menutup kedua matanya, membiarkan udara pagi yang sejuk menyapanya mencoba menenangkan pikirannya. Namun hal itu tentu saja tak berguna baginya dengan pikirannya yang kacau balau.

 

Senyum penuh kepahitan tersungging di wajah tampannya ketika ia merasakan titik-titik air hujan turun secara perlahan. Titik air hujan pun mulai menyerbunya yang masih tak bergeming dari posisinya saat itu. Andai ia baik-baik saja, mungkin Jongin akan berada di balik jendela kamarnya, duduk di depan kanvas yang putihnya mulai ternodai warna-warni cat untuk menggambarkan apa yang dilihat indra penglihatannya. Namun sayangnya tidak semudah itu. Tidak ketika ia bahkan tak mampu untuk menggerakkan kedua tangannya lagi.

 

Senyuman di wajah Jongin pun tergantikan oleh kerutan di kedua alisnya tatkala bayangannya kembali pada kejadian dua bulan yang lalu. Kejadian di mana ia kehilangan fungsi otot kedua tangannya untuk bergerak. Kejadian yang menghancurkan mimpinya. Kejadiannya yang secara tidak langsung juga menghancurkan dirinya. Menghancurkan segalanya. Menghancurkan hidupnya. Serta mimpinya.

 

Lelaki itu menarik nafas dalam dan masih tak bergeming walaupun ia sudah basah kuyup karena derasnya hujan yang mengguyur pagi kelabu itu. Jongin menghela nafas ketika menyadari bahwa mau tak mau ia harus mengubur mimpinya sebagai pelukis. Karena ia sadar bahwa ia tak tahu apakah ada keajaiban yang bisa membantunya. Dan sekalipun ada, ia tidak tahu apakah ia mampu meraihnya karena keajaiban itu terasa sangat jauh dari gapaian kedua tangannya yang tak bisa bergerak ini.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: