Beranda > whyenda_arinka > Drabble Collections

Drabble Collections

Disclaimer © Artists are owned respectively to their company. Artist’s names are borrowed and used only in a fictional way. Any event occured is pure coincidence.

Idea © Whyenda Arinka

.

.

.

Home; HaeSica; AU, Angst, Romance; 459w [warning! written in english and unbeta-ed]

Donghae is in deep thought. He hung his head so low while walking with no where to go. His mind wandering around, trying his best to remember something. No, he’s not trying to remember where his home is. He could remember it clearly even the shortcuts to take. And he know that his parents might be worrying him because he hadn’t came home yet since this morning. But he just doesn’t feel like going home. There’s something else that bothering him.

Its 8 in the evening while he still walking in some random street, tightening his jacket as wind blowing a little harder. And here come the feeling that confuses him these past few days. The empty feeling that bother him the most. Like there’s a hole deep inside his heart. A hole that he doesn’t even know how could it be there since…..the day she left him.

He know he was a jerk that time for hurt her and didn’t begged her to stay. But ever since that day too, he feels like everything he does was wrong. Everything around him seems never be the same. Like his world turn into a total mess. Totally wrong in his eyes. He feels like he’s in a place where he not belong to. Its not like he’s in the right place. He feels like he’s a guy that has no place to go. A guy with no where to go. A guy with no home.

He stopped from his walk when he notice a can of soft drink rolling toward him. He bent down to take it and notice a pair of familiar brown flat shoes stop in front of him. He look up and a beautiful face comes into his sight. A face he hadn’t saw for few days. A face without he realized it, he miss the most. A face with a beautiful pair of eyes that attract him very much. A pair of eyes where he lost into his  own world. A pair of eyes that never fail to calm his heart. And seeing he—himself in that beautiful round eyes, make him  feels like home. Then a realization hit him.

“Jessica…” he murmured as he stand up straight.

She—Jessica Jung—was about to take her  soft drink from Donghae but then he pulled her into his chest, wrapped her shoulder as he burry his face in her shoulder.

“I miss you..” he said softly, “Please, come back,”

Yes. He realize that she is his home. She is where he belong to,so as her.

 

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

.

.

.

This Moment; HaeSica; AU, Fluff, Romance; 653w

 

“I want you to know, with everything I won’t let this go,”

——-

Donghae menatap Jessica yang tengah sibuk memasak makan malam mereka. Ia baru saja pulang dari kantornya. Hari ini ia pulang sedikit lebih awal daripada biasanya dan ia  memutuskan untuk mengejutkan istrinya. Namun ia justru terlena dengan pemandangan yang tersuguhkan di hadapannya. Ia merasa tengah melihat malaikat berada di rumahnya, memasakkannya makan malam. Pria itu tersenyum simpul, setengah tidak pecaya wanita yang sangat ia cintai itu kini miliknya seutuhnya. Dan mau tidak mau, ia terhanyut oleh pikirannya sendiri, oleh  kenangan yang menyeruak begitu saja.

 

Donghae ingat, pertama ia bertemu Jessica bisa dibilang hanyalah sebuah pertemuan biasa. Ia tidak sengaja menabrak gadis itu di salah satu coffee shop langganannya. Sangat klise memang, tapi dari sanalah mereka mengenal satu sama lain kemudian berubah menjadi teman dekat. Namun lama-lama, bunga cinta mulai bersemi diantara keduanya dan mereka pun memutuskan untuk menjalin hubungan.

 

Hubungan mereka berjalan lancar diawal. Namun tak lama, mulai banyak pertengkaran kecil disana-sini menghiasi jalinan kasih mereka. Awalnya mereka mengambil sisi positif dari pertengkaran kecil mereka sebagai salah satu cara untuk memahami satu sama lain, hingga akhirnya sebuah kesalahan fatal dilakukan Donghae dan membuat Jessica tidak bisa memaafkannya lagi. Jessica pun memutuskan hubungan sepihak.

 

Donghae ingat, ia melakukan segala cara, apapun itu agar Jessica kembali padanya. Agar Jessica mau bersamanya lagi. Ia berusaha menunjukkan pada Jessica bahwa ia tidak mau semuanya berakhir begitu saja.

 

“Jess, aku mohon,” pinta Donghae menahan lengan Jessica yang tidak mau menatapnya sama sekali. Gadis itu menatap ke arah lain, “Please,”

 

Namun tetap saja Jessica tak mau mendengar Donghae dan pergi meninggalkannya. Meninggalkan Donghae yang hanya menatap punggung Jessica yang semakin menjauhinya.

 

Donghae bahkan ingat dengan jelas bagaimana ia hampir putus asa meminta Jessica kembali padanya hingga membuatnya terlihat seperti orang yang tidak terurus sama sekali. Wajahnya terlihat kusut, sekusut pakaiannya yang tidak disetrika. Ia bahkan  hampir tak ada bedanya dengan gelandangan.

 

“Donghae!?”

 

Ia teringa  ketika ia dan Jessica tak sengaja berpapasan di taman yang sering menjadi tempat mereka menghabiskan sore. Ia benar-benar sudah tidak berbentuk lagi saat itu. Sedang Jessica-nya pun terlihat kehilangan cahayanya.

 

“Jessica, please. I’m sorry, I’m sorry, I’m sorry,” ucap Donghae berulang kali kala itu. Ia berlutut di depan Jessica sambil menggenggam kedua tangan gadis itu.

 

“Please, Jessica, I’m nothing without you. I’ll do everything. Anything but please–come back to me. I beg you,” mohonnya. Tentu saja hal yang ia lakukan itu mengundang tatapan pengunjung yang lain.

 

“Do-Donghae, berdiri,”  ucap Jessica, ia merasa risih menjadi tontonan pengunjung yang lain.

 

“Tidak. Tidak sampai kau mau memaafkanku,” tolak Donghae mengecup punggung tangan yang dulu sering ia genggam.

 

“Iya, aku maafkan tapi tolong, berdirilah,” entah ada angin apa, Jessica pun memaafkannya membuat Donghae beranjak dari posisinya.

 

“Thank you,” gumam Donghae yang segera merengkuh Jessica.

 

“Please don’t ever leave me again. I’ll do everything, really. Anything, even, just so this moment will never go. Just for the moment you’re mine will never end,” bisik Donghae di telinga Jessica.

 

“Babe?”

 

Panggilan Jessica membuyarkan Donghae dari lamunannya dan menegakkan tubuhnya, kaget.

 

“Hei,” sapa Donghae sambil tersenyum kikuk.

 

 “Kamu kenapa hanya diam saja kalau sudah pulang?” tanya Jessica segera meraih dasi suaminya dan melonggarkannya.

 

“Well, tadinya aku berniat untuk memberimu kejutan. Tapi sepertinya, justru kamu yang memberiku kejutan,” gumam Donghae mengecup Jessica membuat wanita itu terkekeh kecil.

 

Teringiat akan kenangannya dulu, Donghae pun meraih istrinya ke dalam pelukannya sebelum berbisik di telinga Jessica, “I won’t let this moment go…ever,” dan mengeratkan pelukannya.

 

“Ya, ya, ya aku tahu. Sekarang lepaskan aku! Kau bau, tahu!” seru Jessica berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Donghae.

 

“Tidak mau~”

 

 

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

.

.

.

Little Angel; Jongin, Jungah, Sehun, Krystal; AU, family, fluff; 659w

 

Jongin memakirkan mobilnya di garasi mobilnya sambil sesekali melirik ke arah motor ninja 250R putih yang terparkir di dekat teras rumahnya dengan tatapan heran, karena ninja putih itu biasanya belum terparkir di sana saat ia pulang. Biasanya beberapa saat setelah ia pulang. Sungguh pemandangan yang membuatnya heran.

Pria yang tak lama lagi akan berkepala tiga itu kemudian melenggang keluar dari mobilnya dan berjalan ke arah rumahnya. Dari luar ia bisa mendengar suara jerit tawa anak kecil yang membuatnya mengembangkan senyumnya secara refleks. Jantungnya berdegup kencang, tak sabar bertemu dengan pemilik jerit tawa merdu itu.

“Aku pulang~” sapanya ketika memasuki rumahnya.

“APPAAAA~~!!” jerit suara anak kecil dengan lantang diikuti derap langkah cepat. Tak lama kemudian, muncul seorang anak perempuan berumur 6 tahun yang berlari dan loncat ke arah Jongin yang membuka kedua tangannya lebar-lebar. Gelak tawa masih tersisa dari mulut mungil gadis itu kala Jongin memeluknya dan menggendongnya lalu menghujaninya dengan ciuman di wajahnya.

“Ah, selamat datang, hyung,” sapa seorang pria yang lebih muda beberapa tahun dari Jongin, muncul dari arah gadis kecil itu berlari tadi.

“Hai, Sehun-ah,” sapa Jongin dengan senyum lebar, “Di mana Krystal?”

“Di dapur, hyung, mencuci piring,” jawab Sehun pelan.

“Appa!” seru gadis mungil dalam dekapan Jongin menarik perhatiannya, “Sehun ahjussi nakal~” adunya manja.

“Aih jinja,” gerutu Sehun kesal membuat Jongin terkekeh.

“Jungah-ya, jangan begitu pada Sehun ahjussi. Ayo minta maaf,” ucap Jongin berusaha membujuk buah hatinya membuat gadis kecil itu menggembungkan pipinya kesal.

“Aigo anak app  lucunya~” goda Jongin sambil mencubit pipi anaknya yang kini terkikik geli. Senang dengan perhatian yang diberikan ayahnya.

“Appa, tadi ada teman baru di sekolah!” Jungah pun kemudian bercerita mengenai harinya di sekolah. Sambil mendengarkan cerita anaknya, Jongin pun berjalan memasuki rumahnya menuju ruang makan diikuti Sehun. Di sana, ia menemukan Krystal yang tengah menata makanan di atas meja makan. Dengan sigap, Sehun membantu Krystal menata meja makan.

“Oh ya appa! Tadi aku dan Krystal ahjumma pulangnya dijemput Sehun ahjussi! Lalu bu guru kira Sehun ahjussi itu appa lho. Krystal ahjumma pipinya langsung merah trus Sehun ahjussi cuma senyum-senyum seperti orang gila, appa,” cerita Jungah bersemangat membuat Jongin tertawa geli sementara wajah Sehun dan Krystal memerah seperti kepiting rebus.

“Tuh sudah dapat restu dari gurunya Jungah,” celetuk Jongin pada Sehun dan Krystal.

“Aish oppa!” seru Krystal menatapnya dengan tatapan tajam yang membuat Jongin justru tertawa.

“Ahjussi, ahjumma~ cepat berikan aku adik~~~~” dan rengekan Jungah berhasil membuat pasangan tersebut membeku diiringi tawa Jongin yang semakin renyah.

“Ya ampun anak ini,” keluh Sehun kesal.

“Ahjumma! Ahjumma!” seru Jungah teringat sesuatu, “Besok bawa Minseokie dan Kyungie ke sini ya? Ah, aku juga kangen Sica ahjumma~”

“Ara, besok ahjumma bawakan mereka ke sini sekalian Donghae ahjussi,” ucap Krystal setengah kesal membuat Jungah terkikik geli.

“Oppa, makanannya sudah siap. Makanlah, ara? Jungah sudah makan tadi, tinggal tidur. Oh ya, biarkan saja piring di tempat pencucian. Tak perlu dicuci, biar aku yang cuci besok pagi. Ara?” instruksi Krystal pada Jongin. Semenjak istri Jongin meninggal setelah melahirkan Jungah, Krystal seperti seorang ibu rumah tangga yang mengurus rumahnya dan Jungah. Namun hanya sebatas itu. Terkadang, kakak tertua mereka, Jessica, pun ikut membantu.

“Iya, aku tahu cerewet. Sudah sana pulang! Nanti Sica noona marah padaku lagi,” ujar Jongin.

“Ckckck kau ini, hyung. Sudah dibantu malah mengusir,” gerutu Sehun.

“Ya sudah aku pulang dulu. Bye, oppa, bye Jungah,” pamit Krystal sambil mencium pipi Jongin lalu kening Jungah, “Tidur yang nyenyak, sayang.”

Jungah mengangguk lalu mencium pipi Krystal sebelum wanita itu melenggang pergi.

“Bye hyung, selamat malam princess,” pamit Sehun kemudian mencium puncak kepala Jungah sebelum mengikuti Krystal keluar rumah.

Jongin dan Jungah mengantar mereka sampai pintu depan sebelum akhirnya Jongin membawa Jungah ke kamarnya dan menidurkannya di kasur King Size-nya lalu menyanyikannya lagu pengantar tidur. Menurut Jongin, Jungah masih belum membutuhkan kamar sendiri. Lagi pula kasurnya terasa sangat besar kalau hanya ia yang tidur sendiri.

“Good night, my little angel.”

 

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

.

.

.

Go Home; KaiHun; AU, Fluff, Romance; 440w [warning! Yaoi]

 

‘I won’t go home without you,’

—————–

Sehun menyandarkan punggungnya ke tembok dengan mata terpejam erat serta dada yang naik turun, berusaha mengatur nafasnya setelah latihan dance bisa dibilang cukup intens. Tangan kanannya yang tengah memegang botol berisi air mineral ia angkat dan ia teguk beberapa kali isinya, berusaha melepaskan dahaga yang menguasainya.

Berbeda dengan Sehun yang terlihat kelelahan, sosok lelaki berkulit sedikit lebih gelap darinya yang tengah berdiri di tengah ruangan dan menari dengan gerakan yang sangat (super duper amat sangat very, kalau kata Sehun) powerful, smooth, dan terkontrol seolah tak ada rasa lelah yang mendera walau ia mulai latihan bersamaan dengan Sehun tadi.

“Jongin-ah~” panggil Sehun pada satu-satunya orang yang tersisa di ruang latihan ini selain dia, namun ia harus menelan kekecewaan karena tak ada respon.

Sehun menggembungkan kedua pipinya dengan kedua alis yang saling bertautan sambil menatap wajah lelaki yang ia panggil Jongin tadi melalui kaca. Lelaki itu terlihat fokus dengan gerakannya, seolah ia sendiri yang berada di dalam ruangan tersebut. Namun fokusnya segera terpecah pada Sehun ketika lagu yang ia putar berhenti dan kekehan pun keluar dari bibirnya.

“Kenapa Sehunnie?” tanya Jongin kemudian berbalik dan berjalan menuju tasnya yang berada di samping Sehun untuk mengambil minumnya.

“Ayo pulang~” ajak Sehun (yang lebih terdengar seperti rengekan).

Jongin menggeleng kecil sebelum menjawab, “Kau pulang saja duluan. Aku masih ingin meneruskan membuat koreografi untuk lagu tadi. Kontesnya tinggal seminggu lagi,”

Sehun cemberut mendengarnya kemudian kembali merengek, “Tapi kau kan kosong selama seminggu, Jonginnie~ ayo pulaaaang~” tangannya meraih tangan Jongin yang menggantung di sisi tubuhnya dan menggoyang-goyangkannya kecil. Persis seperti anak kecil membuat Jongin tertawa kecil.

“Astaga Sehun-ah, ada apa denganmu?” tanya Jongin heran.

“Aku tidak mau pulang tanpa Jonginnie,” jawab Sehun sambil mendorong bibir bawahnya ke depan dan menggembungkan kedua pipinya membuat Jongin menarik salah satu alisnya heran.

“Kenapa?” tanya Jongin lagi kini berjongkok di depan Sehun sambil menepuk puncak kepalanya pelan.

“Rumah terasa sepi tanpa Jonginnie~” rengek Sehun, “Seolah aku tidak ada di rumah,” tambahnya bergumam sambil memandang lantai membuat kedua sudut bibir Jongin terangkat ke atas.

“Baiklah,” ucap Jongin kemudian, “Kita pulang sekarang, oke?”

Kemudian Jongin mengelus pipi Sehun dan mengecup puncak kepalanya sebelum akhirnya bangkit dan mengemasi tasnya membuat Sehun tersenyum lebar sehingga matanya berbentuk bulan sabit. Jongin tertawa kecil melihatnya. Bohong kalau ia tidak menyukai senyum itu. Ia mencintai senyuman itu dengan segenap hatinya, terlebih bila ia alasan senyum itu terkembang di wajah Oh Sehun.

“Ayo~” ajak Sehun yang sudah bangkit kemudian mengamit lengan Jongin.

 

xxxxxxxxxxxxxxx

DOOOOONEEEEE~!!! ogod what have i done to my life????? i wrote ’em all in the middle of exam. fml i’m so done with my self /.\

enggggg thanks for reading~ :1

  1. 31 Juli 2013 pukul 12:28 pm

    This moment drabble…. I LOVE IT~~~ ;;
    so romantic and fluffy😄

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: