Beranda > whyenda_arinka > [Oneshot] Breakeven

[Oneshot] Breakeven

Title: Breakeven

Length:Oneshot

Genre: AU, Family, Angst, Romance

Rating: G

Casts: Super Junior Lee Donghae, SNSD Jessica Jung, EXO M Luhan, SNSD Im Yoona, f(x) Krystal Jung, EXO K Oh Sehun

a/n: Terinspirasi dari Breakeven-nya The Script, jadi silahkan didengarkan selama membaca ini (walaupun yang kupake buat fic ini versi coverannya <a href=”https://www.youtube.com/watch?v=WKcVt1Cn5BI&list=UUplkk3J5wrEl0TNrthHjq4Q”>Max sama Kurt Schneider</a> hhehehe~) ^___^ happy reading~

Disclaimer © Artists are owned respectively to their company. Artist’s names are borrowed and used only in a fictional way. Any event occured is pure coincidence.

Idea © Whyenda Arinka

.

.

.

I’m still alive but I’m barely breathing~

Just pray to a God that I don’t believe it~

‘Cause I got time while she got freedom

‘Cause when a heart breaks no it don’t break even

Donghae terhenyak di sofa single ruang keluarga. Matanya menatap selembar kertas yang berisi lirik lagu milik The Script berjudul Breakeven. Di kanannya, tak jauh dari sofa yang tengah ia duduki, sebuah grand piano berwarna hitam berdiri dengan elegan. Seorang gadis berumur 18 tahun dengan rambut panjang berwarna hitam memainkan jemarinya di atas tuts hitam putih tersebut mengiringi gadis yang lebih tua dua tahun darinya menyanyi. Kedua gadis itu adalah Krystal dan Yoona, kedua adik perempuannya walau salah satu dari mereka merupakan adik tirinya.

Di sofa lain yang berada di hadapannya, duduk seorang wanit berambut coklat tua —warna rambut yang ia sukai dan itu terlihat cocok di wanita itu— dengan seorang pria tampan. Sang wanita yang duduk sembari menyandarkan kepalanya di bahu pria itu adalah adiknya yang lain, Jessica. Lebih tepatnya kakak perempuan dari Krystal, namun karena umurnya lebih muda dari dia maka Donghae lah anak tertua di sini.

Diiringi nyanyian Yoona, entah mengapa membuatnya merasakan rasa sakit di ulu hatinya. Dan kenyataan ia harus membantu adiknya itu menyanyikan beberapa bait membuatnya semakin pilu. Karena memang itulah kenyataan yang tengah ia alami. Kenyataan yang ia jalani. Ia masih hidup, tapi terasa susah untuknya bernafas.

Dan ya, ia ingin sekali tidak mempercayai realita yang tengah ia jalani ini. Ia berharap bahwa ini hanyalah mimpi buruk yang tengah ia mimpikan. Namun ia tetap saja terbangun dengan kenyataan pahit ini. Dan Yoona menanyikan lagu ini entah kenapa membuat perasaannya semakin hancur berantakan. Karena kini yang ia lakukan hanyalah melewati harinya tanpa berusaha membuatnya berarti. Berbanding terbalik dengan pemilik hatinya.

Mungkin saja ia masih bisa hidup sesuai dengan realita yang ada kalau semuanya tidak seperti ini. Kalau ibunya tidak menikah lagi dengan pria lain. Dengan pria yang tak lain dan tak bukan merupaka ayah dari Jessica dan Krystal. Dan mungkin —mungkin— bila setahun yang lalu bukan pernikahan ibunya dengan ayah barunya, itu adalah tahun di mana ia menikahi kekasih hatinya. Mungkin. Mungkin.

Her best days will be some of my worst

She finally met a man that’s gonna put her first

While I’m wide awake she’s no trouble sleeping

‘Cause when a heart breaks no it don’t break even… even… no

Sebuah undangan berwarna putih bersih berhiaskan tali-tali berwarna emas dan perak di sekelilingnya menarik perhatian Donghae. Di sana tertera nama wanita yang masih memiliki hatinya juga sebuah nama. Sebuah nama namun bukan namanya. Di  pojok kanan atas benda mungil yang simple itu tertulis tanggal yang menunjukkan tanggal acara tersebut berlangsung. Dua minggu lagi. Dan hari itu bukanlah hari terbaiknya, hanya itu yang ia yakini.

Bisa jadi hari itu menrupakan salah satu hari terburuknya. Kenapa? Karena pemilik hatinya akhirnya menemukan pria lain. Pria lain yang dapat memberikannya segala sesuatu yang lebih daripada yang bisa ia beri. Memberikannya apa yang ia butuhkan. Memberikannya apa yang ia inginkan. Lebih dari apapun yang pernah ia beri. Meninggalkannya sendiri dengan segala rasa perihnya. Dengan segala kehancurannya.

Donghae menghela nafasnya pelan dengan mata yang sedikit berat. Karena ketika ia mulai memejamkan matanya, semua kejadian yang terjadi selama setahun ini akan segera berputar di balik kelopak matanya dan membuatnya tak tenang. Akhirnya ia pun memutuskan untuk semakin menyibukkan dirinya dengan pekerjaannya.

Matanya kini berputar ke segala arah berharap dapat menghilangkan kantuknya sebelum akhirnya tertumbuk pada Jessica yang tertidur di bahu tunangannya, Luhan. Dan senyum perih pun mau tak mau ia sunggingkan ketika Luhan memergokinya menatap Jessica. Ya benar, ketika salah satu hati hancur yang lainnya tidak terkena imbasnya.

And what am I supposed to do when the best part of me was always you

And what am I supposed to say when I’m all chocked up and you’re okay?

I’m falling to pieces, yeah

I’m falling to pieces

Kali ini Donghae mulai ikut bernyanyi bersama Yoona. Adiknya itu mengeluh berulang kali ketika mengetahui kakak dan adik tirinya pintar bermusik. Atau setidaknya mereka memiliki suara yang indah untuk menyanyi. Itulah kenapa ia setiap malam berada di ruang keluarga, membantu Yoona memperbaiki suaranya diiringi permainan piano Krystal. Namun pilihan lagu adiknya malam ini menghancurkan hatinya lebih parah dari sebelumnya. Tapi toh ia tidak bisa menyalahkannya. Tidak, ia tak bisa menyalahkan siapapun.

Ia berusaha keras agar suaranya tidak terdengar parau. Bukan hanya karena ia sedari tadi diam saja, tapi karena ia bisa merasakan ia siap untuk menumpahkan air mata lagi. Ya, ia hancur. Hatinya hancur. Dirinya hancur. Namun tak ada yang bisa ia lakukan untuk memperbaiki keduanya. Tidak, tidak ada.

They say bad things happens for a reason

But no wise words gonna stop the bleeding

‘Cause she’s moved on while I’m still grieving

And when a heart breaks no it don’t break even… even… no

Ia ingat komentar teman sekantornya ketika ia bilang rencana pernikahannya gagal. Calon istrinya pergi bersama pria lain. Mereka bilang, semua adalah takdir yang akan membawanya pada hal yang jauh lebih baik lagi. Tapi siapa yang bisa bohong bahwa kata-kata itu tidak dapat membuatnya merasa lebih baik? Yeah, no wise words gonna stop the bleeding, batin Donghae pilu.

And what am I gonna to do when the best part of me was always you

And what am I supposed to say when I’m all chocked up and you’re okay?

I’m falling to pieces, yeah

I’m falling to pieces, yeah

I’m falling to pieces

I’m falling to pieces

Donghae tidak habis pikir, kenapa Yoona memilih lagu ini. Ia merasa berulang kali tertohok oleh lirik lagu ini. Apa adiknya mengetahui apa yang tengah ia alami? Tapi seingatnya ia hanya memberi tahu bahwa ia akan menikah tahun lalu namun mengundurnya ketika tahu ibunya akan menikah lagi. Tidak sekalipun ia mengatakan bahwa pemilik hatinya akan menikah dengan orang lain.

Sekali lagi ia melirik ke arah Jessica yang kini tengah berbincang dengan Luhan. Kedua tangan mereka saling bertautan. Pemandangan yang sangat manis sekali. Keduanya tengah berbicara serius. Satu yang ia yakin, pembicaraan mereka pastilah menyangkut rencana mereka berdua. Dan tidak satupun dari rencana mereka baik untuknya. Tidak. Dan sekali lagi ia tersenyum pahit. Bedanya, ia kini menunduk seolah lirik lagu di tangannya lebih menarik.

You got his heart and my heart and none of the pain

You took your suitcase, I took the blame

Now I’m tryna make sense of what little remains, no~

‘Cause you left me with no love, with no love to my name

“Oppa!” teriakan Yoona mengagetkannya. Tidak hanya ia, Luhan dan Jessica yang tadinya terlihat sibuk dalam dunia mereka pun kini ikut menatapnya.

“Ne?” tanya Donghae menatap Yoona dan Krystal bergantian yang memasang wajah kesal.

“Kau harusnya menyanyikan part yang tadi!” gerutu Yoona kesal.

“Eh?” bingung Donghae lalu menatap kertas di tangannya.

“Ini, oppa, ini,” Yoona menunjuk salah satu bait di kertasnya, “Harusnya kau tadi menyanyikannya, tapi kau malah diam saja!”

“Ah, maaf Yoona-ah, Soojung-ah,” ucap Donghae kemudian memberikan cengiran khasnya pada kedua adiknya.

“Ya sudah. Kita ulang pada part Donghae oppa ya,” Krystal akhirnya memberikan solusi dan Yoona pun kembali pada posisinya di samping Krystal.

Donghae pun mulai menyanyikan bait yang ditunjukkan Yoona tadi. Tanpa sadar ia memberi banyak emosi pada nadanya. Bait ini mau tidak mau mengingatkannya kembali pada kejadian yang terjadi padanya selama setahun belakangan ini. Juga kejadian sebelum ibunya menikah dengan ayahnya. Kejadian yang membuatnya hancur seperti sekarang.

“Ini tidak akan berhasil, Donghae-ah,” ucap wanita itu dengan nada pasrah.

“Tapi kenapa? Kenapa Jessica? Apa karena ayahmu akan menikah dengan ibuku semuanya harus dibatalkan? Semua rencana kita? Pernikahan kita??” tanya Donghae dengan emosi yang membuncah.

“Kalau iya memang kenapa!?” balas Jessica dengan nada tinggi, “Aku bertemu dengan ibumu beberapa kali dari ayah. Ia wanita yang baik. Ia adalah ibu yang cocok untuk Krystal. Krystal masih membutuhkan seorang ibu! Aku mohon jangan egois! Yoona pun membutuhkan sosok seorang ayah! Hidup Yoona ke depan masih panjang! Ia masih harus menyelesaikan SMA lalu kuliah! Apa kau tega membiarkan ibumu menanggungnya semua sendiri!? Mengertilah Donghae.”

“Aku akan membiayai sekolah Yoona, Sica. Ia adikku. Sudah seharusnya aku membiayainya. Kenapa? Kau takut uangnya tidak cukup untuk hidup kita? Aku akan bekerja lebih giat untuk mendapatkan promosi agar jabatanku naik. Kita masih bisa bersama!” seru Donghae, ia mulai kehilangan harapan.

“Dan menghancurkan kebahagiaan orang tua kita? Menghancurkan harapan Krystal untuk memiliki ibu baru? Menghancurkan harapan Yoona mendapatkan kasih sayang seorang ayah? Apa kamu tega, Donghae?” tanya Jessica yang lebih terdengar seperti sebuah tuntutan. Hal itu berhasil membuat Donghae bungkam.

“Sudahlah. Ini semua tidak akan berhasil. Aku pergi,” ucap Jessica sesaat setelah suara seorang pria memanggilnya.

Jessica pun pergi meninggalkannya setelah mengecup pipinya dan berbisik, “Goodbye. I love you.”

I’m still alive but I’m barely breathing

Just pray to a God that I don’t believe in

‘Cause I got time while she’s got freedom

‘Cause when a heart breaks no it don’t break

No it don’t break, no it don’t break even, no~

Donghae berdiri di samping meja bundar bersisi berbagai macam minuman dalam gelas berkaki. Tangan kanannya memegang gelas berisi minuman berwarna merah terang sedang tangan kirinya ia masukkan ke dalam sakunya. Kedua matanya tak bisa lepas dari pasangan pengantin baru yang tengah berdansa di tengah ruangan bersama beberapa pasangan yang lain yang datang hari itu. Ia menyunggingkan senyuman kecil ketika melihat sang pengantin wanita tersenyum lebar mendengar apapun yang dikatakan pengantin prianya. Dia memang masih hidup namun susah untuk bernafas. Tapi setidaknya ia sudah mulai bisa menerima kenyataan dan menjalani hidupnya sebaik-baiknya.

“Oppa!” seruan Yoona dan Krystal mengagetkannya.

“Hei!” sapanya namun alisnya terangkat heran melihat seorang lelaki berdiri di belakang Krystal dan menggenggam tangan adik tirinya erat.

“Soojung-ah, itu siapa?” tanya Donghae dengan nada jahil.

“Tentu saja pacarnya oppa,” jawab Yoona membuat Krystal memukul lengannya.

“Appo!” seru Yoona kesakitan, “Ya, Sehun-ah! Kenapa kau mau sih pacaran dengan Krystal?” tanya Yoona bersungut kesal.

“Entahlah, noona. Aku juga tidak—APPO! YA Soojungie!” jawaban Sehun pun terpotong oleh teriakan kesakitannya karena Krystal menginjak  kaki pria itu  dengan heelsnya yang tinggi.

Donghae menggelengkan kepalanya melihat tingkah adik tirinya itu dengan kekasihnya. Sedikit heran kenapa mereka berdua bisa bertemu dan menjalin hubungan kekasih. Ia mengingat di belakang otaknya untuk meminta cerita yang lengkap dari Krystal nantinya. Sepertinya seru untuk didengarkan.

“Sudahlah Sehun! Ayo kita berdansa daripada dijahili oppa dan unnie!” kesal Krystal kemudian menarik Sehun menjauh.

“Permisi hyung, noona,” pamit Sehun sedikit membungkuk sebelum ia ditarik Krystal ke tengah ruangan dan bergabung dengan pasangan yang lain.

“Mereka berdua itu lucu,” gumam Donghae terkekeh sendiri kemudian menegak minumannya.

“Oppa,” panggil Yoona yang menatap pasangan yang tengah berdansa membuat Donghae menoleh pada adiknya, “Apa oppa tidak sedih atau malu didahului Sica unnie? Oppa kan lebih tua dari Sica unnie, tapi justru Sica unnie yang menikah duluan.”

Mendengarnya, Donghae tersenyum kecil sebelum menjawab, “Bagaimana denganmu? Tidak malu didahului Soojungie?”

“Aish oppa!” seru Yoona mencubit lengan Donghae yang mengaduh kesakitan, “Aku serius nih!”

“Oppa juga serius, Yoona-ah,” ucap Donghae menghela nafas.

Untuk sesaat, tidak ada satupun dari kakak beradik itu yang mengucapkan kata-kata. Terlalu sibuk bertanya-tanya dalam hati mereka atas pertanyaan yang diajukan Yoona tadi. Pandangan mereka tidak lepas dari pasangan yang tengah berdansa di tengah ruangan. Jessica dan Luhan. Krystal dan Sehun. Kedua orang tua mereka.

“Mungkin karena memang Luhan jodoh Jessica, Yoona. Tidak ada yang tahu kapan seseorang bertemu jodohnya.” Ucap Donghae akhirnya, memecah kesunyian diantara mereka.

“Tapi tahun lalu oppa bilang akan menikah,” mulai Yoona, “Lalu karena umma akan menikah juga, oppa bilang akan mengundurnya hingga tahun ini. Tepat hari ini lagi.”

Mendengarnya, Donghae hanya bisa bungkam. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Rencana hanyalah rencana. Ia bukan Tuhan yang bisa memutuskan apakah rencananya bisa berjalan lancar atau justru seperti ini. Tidak ada satupun yang berjalan dan justru menghancurkan hatinya. Tidak ada yang tahu pasti akan hal itu.

“Apa yang bisa kulakukan kalau calon pengantinku melarikan diri dan memilih menikah dengan pria lain, Yoona-ah?” tanya Donghae dengan nada bercanda, namun jauh dalam hatinya ia meringis kesakitan.

“Kau tidak berusaha mengerjarnya oppa?” tanya Yoona kaget menatap oppanya yang menggeleng, “Kau tidak berusaha memenangkan hatinya lagi? Membawanya pergi? Atau apapun?”

Namun jawaban yang diterima gadis itu hanya berupa gelengan kepala lemah dari kakak laki-lakinya membuatnya merasa simpati.

“Kenapa?” akhirnya hanya satu kata tanya itu saja yang bisa dikeluarkan Yoona.

“Karena, itu bukan cara oppa mencintai seseorang Yoona-ah,” jawab Donghae, “Oppa akan tetap menghormati keputusannya, sekalipun itu ia harus meninggalkan oppa. Oppa juga akan tetap mencintainya dan tidak berusaha melupakannya karena memang oppa tidak bisa. Dengan melihatnya bahagia, itu lebih dari cukup.”

Yoona menyunggingkan senyum lebarnya pada kakak lelaki satu-satunya itu dengan perasaan bangga dan memeluknya dari samping.

“Kau memang yang terbaik, oppa!”

Namun tetap saja seruan Yoona yang penuh dengan nada bangga untuknya itu tidak mampu membuat hatinya kembali utuh. Hatinya masih hancur berkeping-keping dan sepertinya, ia hanya bisa menunggu sampai waktu benar-benar menyembuhkannya. Entah kapan, ia tidak tahu.

And what am I supposed to say when I’m all chocked up and you’re okay?

I’m falling to pieces, yeah

I’m falling to pieces, yeah

No its don’t break even

No its don’t break even

No its don’t break even

Epilog.

“Masuk,” ucap Donghae ketika ia mendengar suara pintu kantornya diketuk. Sedikit heran ada urusan apa hingga sekertarisnya mengetuk pintu kerjanya di jam makan siang seperti ini. Biasanya Taeyeon memilih untuk makan siang bersama teman-temannya dan tidak mengganggunya sama sekali.

Suara pintu tertutup diikuti langkah kaki mendekatinya membuat Donghae buru-buru menyelesaikan kegiatannya menandatangani berkas di tangannya. Apakah berkas ini dibutuhkan secepatnya? Kenapa Taeyeon tidak memberitahunya? Pikir Donghae heran dengan gerakan sedikit terburu-buru.

“Ada apa Ta—”  ucapan Donghae terhenti ketika ia menengadah dan tidak mendapati Taeyeon berdiri di hadapannya melainkan seorang pria seumurannya.

“Hi, Donghae,” sapa pria itu ramah.

“Hei, Luhan. Duduklah,” ucapnya mempersilahkan Luhan duduk di kursi di depannya setelah balas menyapanya.

“Ada apa?” tanya Donghae berusaha santai walau ia merasa tenggorokannya sedikit tercekat. Ia meneguk air putihnya lalu membenarkan posisi duduknya agar lebih tegap.

“Aku ke sini ingin membicarakan soal kita,” jawab Luhan tenang.

“Kita?” ulang Donghae, hanya untuk meyakinkan pendengarannya sementara hatinya merasa tidak nyaman.

“Ya. Aku, Jessica dan kau,” ucap Luhan menatap Donghae dengan saksama.

“Tidakkah semuanya sudah jelas, Luhan? Hanya ada kau dan Jessica. Tidak ada lagi aku dan Jessica.” kata Donghae berusaha menghindar namun Luhan menanggapinya dengan gelengan kecil.

“Aku ingin meluruskan semuanya sebelum pernikahan kami berlangsung seminggu lagi,” mulai Luhan, “Sebelumnya aku minta maaf karena telah mengambil Jessica darimu. Aku memang mencintainya, tapi aku melepaskannya semenjak aku tahu kalian berdua saling berhubungan.”

“Tapi takdir lebih memilihmu untuk bersama Jessica daripada aku,” sela Donghae tenang, seolah ia tak memiliki masalah apapun akan hal itu. Berbanding terbalik dengan hatinya yang bergemuruh.

“Itu semua murni keinginan Jessica. Berulang kali aku menentangnya, tapi ia terus memohon padaku.” Lanjut Luhan pelan.

“Dan kau mengabulkan permintaannya,” tambah Donghae kemudian menghela nafasnya, “Sudah kan hanya itu?” tanya Donghae yang hendak beranjak dari duduknya untuk membuka pintu ruang kerjanya. Berniat mengusir Luhan.

“Masih ada lagi,” jawab Luhan menghentikan gerakan Donghae, “Jessica masih mencintaimu, Donghae. Sangat mencintaimu.”

“Apapun yang aku lakukan tidak akan pernah bisa membuatku menggantikan posisimu di hatinya. Namun aku berjanji akan menjaganya dan mencintainya sepenuh hatiku sampai nafasku berhenti.”

Dan dengan itu, Luhan pun pergi meninggalkan Donghae dengan hati yang berkecamuk. Ia sendiri bingung. Ia merasa sedih, sakit, terpukul, namun ia merasa lega. Lega karena ia tahu, Jessica bersama pria yang akan menjaganya dan mencintainya. Ia tahu Jessica bersama pria yang siap mengisi harinya dengan kebahagiaan dan akhirnya Donghae menyadari sesuatu. Maybe his heart broken into pieces but as long Jessica is happy, its okay for him. 

F I N

Endingnya geje ya? Ah ga tau deh. Aku agak ga sreg sama endingnya tapi udah males ngedit /plaaaakk hahahahahahahahahahaahahahahahahahawjbkajs

Di sini, Luhan seumuran dengan umur Donghae sekarang dan Jessica tiga tahun lebih muda dari mereka~

Dan OH! AKHIRNYA ONESHOT!!!! HEAVEN~ /le dancing away happily

Anyway, thank you for reading~ /smooches

p.s: Hai kak In~ o/ bagaimana? semakin frustasi? atau kesal dengan Donghae? atau malah mungkin bahagia? :1 anyway, ini pesanan anda~ huahahahahaha

  1. 15 Juli 2013 pukul 3:12 pm

    Wyndaaaaaaa!!
    Hatiku break into pieaces ;-; (?)
    seneng sih liat donghae menderita tapi liat jejes ama cowok lain </3
    dan aku sama sekali gak dapet feel luhansica, msh dapetan krissica /plaks -_-

    dan itu pacarnya krystal kok sehun kok gak kai(?) tp untung donge cuma sodaraan ama yuna –/

    tapi bagus kok bagus, ah tapi tetep </3 ah bingung mau komen apalagi, mau benerin hati dulu(?)
    anyway makasih yah makasih /xoxo attack/

    • 15 Juli 2013 pukul 6:16 pm

      /tangkis semua xoxo attack/
      Muahahajahajajajahajajaj hatinya break into pieces nih yeee /toel2

      Lah emang ga niat ngasih feel luhan jejes emang. Kan sorotan utama si donge, jadi lebih berusaha kasih feel ke dongenya yg falling to pieces~ lol
      Kkk torn into pieces juga nih ceritanya muakakakakaks

      Kenapa bukan kaiii? Kenapa sehuuuunn??? Karena i can’t put kai n kryssy in one picture like how i put her with sehun~ kryssy terlalu wah buat jongin. Kayak queen and her peasant muahahahahaha~ /dilempar fansnya jongin

      Yasudahsana~ benarkan dulu hati kau~ kkk thank you kak udah baca~ :3

  2. 15 Juli 2013 pukul 6:56 pm

    Woww, ini keren. Ada sedikit typo sih, tapi tetep keren ;;)

    Jadi si hae am yoona itu saudara kandung? Aaa, dapet bgt feel nya, mereka bener2 kayak saudara.

    Trs si taeng kemana ya.. Cuman numpang nama ajah, hahaha.

    Bagus banget (y) walaupun sad ending dan agak gantung, hihi.

    Keep writing🙂

  3. 31 Juli 2013 pukul 12:23 pm

    Donghae mellow bgt disini /etapi dy emang slalu melow yag -__-a
    Tapi, gara2 Jessica partnya dikittt banget, jd agak ga ngefeel haesica ama lusica.a
    BUT!! Donghae yang patah hati sepatah2nya, bisa dinikmati dan didalami dengan baik(?) kok!😀
    Another great story!~~~~

  4. Areca
    22 Juni 2014 pukul 9:46 pm

    Sad ending ey 😥

  5. vankaka
    7 Agustus 2014 pukul 9:31 pm

    HaeSica😥
    ohmygod! kenapa LuSica?-_- kenapaaaaa?!
    keep writing aja lah

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: