Beranda > fanfiction, oneshot, whyenda_arinka > [Oneshot] Inception

[Oneshot] Inception

Title: Inception

Length: Oneshot

Genre: AU, Mild Angst, Character Study (BIG FAIL), Character Death, Hurt

Rating: PG-15 (buat curse words and some english)

Cast: SNSD Jessica Jung, EXO M Lu Han (minor), f(x) Krystal Jung (mentioned only), Super Junior Lee Donghae (mentioned only)

Disclaimer © Artists are owned respectively to their company. Artist’s names are borrowed and used only in a fictional way. Any event occured is pure coincidence.

Idea © Whyenda Arinka

.

.

.

Jessica sedang memeriksa e-mailnya dan mengonfirmasi beberapa hal yang ia perlukan saat ibunya mengetuk pintu kamarnya dengan sebuah senyum hangat bertengger di wajah yang tetap cantik walau termakan usia. Wanita yang tengah mengenakan kacamata itu pun mengalihkan tatapannya dari layar datar berukuran empat belas inchi di hadapannya tersebut pada ibunya dan membalas senyum wanita paruh baya itu.

“Makan dulu, Sica-ah. Lihat badanmu sudah kurus begitu. Kau sebenarnya makan tidak sih?” titah ibunya sedikit menuntut.

Jessica memang sudah tidak tinggal serumah lagi dengan kedua orang tuanya semenjak ia mulai bekerja. Dengan penghasilan yang tetap dan lebih dari cukup, ia akhirnya membeli sebuah apartemen yang terletak cukup dekat dari tempatnya bekerja juga sebuah city car untuk memudahkan transportasinya. Walau begitu, ia masih sering menginap di rumah kedua orang tuanya ketika adiknya, Krystal, ada kegiatan juga pada weekend. Setiap hari Jumat setelah pulang dari kantornya, ia segera menuju rumah kedua orang tuanya.

“Iya, eomma. Sica urus ini dulu sebentar ya,” ucap wanita itu, masih enggan meninggalkan inboks e-mail yang khusus ia buat untuk urusan pekerjaannya.

“Luhan di bawah, Sayang. Jangan buat dia menunggu lama, ya,” wanti sang ibu sebelum akhirnya menutup pintu kamar anak sulungnya tersebut.

Mendengar nama Luhan, Jessica terhenyak sesaat. Lu Han. Pria yang namanya hanya terdiri dari dua suku kata dan berasal dari negara Cina itu cukup membuat wanita berumur 31 tahun itu kehilangan selera untuk melakukan berbagai macam hal. Bahkan untuk melanjutkan mengecek e-mail dari sekertarisnya saja ia sudah tidak berminat, apalagi makan? Membayangkan makanan apapun saja tiba-tiba membuatnya merasa muak, sekalipun makanan kesukaannya. Tidak peduli itu masakan yang dibuat ibunya atau tidak. Wanita itu menghela nafas gusar dan menutup layar laptopnya dengan sedikit keras sehingga menimbulkan suara yang menyayat hati.

Jessica membenci Luhan. Tidak bisa dikatakan benci sebenarnya, hanya saja ia tidak suka akan kenyataan bahwa ia dan Luhan dijodohkan. Ayolah, Luhan adalah pria baik, pengertian, penyayang, sabar, mudah bergaul juga tampan dan kelewat mapan. Wanita mana yang tidak tertarik? Tentu saja wanita bodoh atau yang sudah bersuami dan memiliki anak. Lalu kenapa Jessica membenci kenyataan bahwa ia dijodohkan dengan pria idaman semua wanita single? Alasannya simple. Ia tidak ingin terikat. Tidak semenjak seseorang telah pergi dan tidak mungkin kembali lagi.

“UNNIE~ AYO MAKAAAAN~” terdengar suara Krystal yang memanggilnya untuk segera turun.

“Ne~” balas Jessica setengah hati dan beranjak dari duduknya.

Wanita itu akhirnya melangkahkan kakinya untuk meninggalkan kamarnya. Namun sebelum wanita itu melangkahkan kakinya melewati ambang pintu, ia menoleh ke arah nakas di samping kasurnya untuk memandang sebuah frame foto seorang lelaki dan perempuan tersenyum lebar membuat Jessica tersenyum miris sebelum bergumam,  “I’m sorry.”

.

.

.

Jessica menarik ritsleting jaket kulitnya ketika angin malam berhembus sedikit kencang. Saat ini ia tengah berjalan-jalan di taman dekat rumah orang tuanya bersama Luhan. Tentu saja atas paksaan orang tuanya ia kini mau berjalan di samping Luhan, untuk membicarakan tentang pernikahan mereka. Ugh menjijikkan, keluh Jessica dalam hati. Dan sedari tadi, ia hanya mengangguk dan menanggapi seperlunya saja atas cerita lucu yang dilontarkan Luhan akan teman-teman kerjanya. Sebenarnya, Jessica mau saja berteman baik dengan Luhan tanpa harus memberinya perlakuan dingin seperti ini kalau bukan karena keinginan orang tuanya.

“Ah, kau kedinginan ya, Jess?” tanya Luhan ketika melihat wanita di sampingnya mengeratkan jaket kulit yang dikenakannya lalu menawarkan, “Kita duduk saja, bagaimana?”

“Baiklah,” setuju Jessica pendek lalu keduanya segera menuju bangku taman terdekat dan duduk di sana.

“Jess,” panggil Luhan pelan setelah beberapa menit berlalu berselimutkan keheningan yang cukup menyiksanya.

“Hm?”

“Aku tahu kamu tidak suka dengan perjodohan ini,” mulai Luhan menatap Jessica yang memandang hamparan langit di atas mereka, “Dan aku juga tidak berharap kamu menyukainya ketika aku mengetahuinya pertama kali. Aku juga menolaknya.

“Tapi aku berharap kita bisa berteman dan saling mengenal satu sama lain. Aku selalu berharap setidaknya kamu adalah wanita yang baik dan bisa terbuka. Aku tidak meminta wanita yang harus cantik atau bisa memasak, bisa bersih-bersih, suka anak kecil dan sebagainya seperti yang kebanyakan pria lain inginkan. Sejujurnya, bisa dibilang kamu mendekati apa yang aku mau. Hanya satu yang kurang darimu tapi aku sadar tidak mungkin kamu mau memenuhinya. Maaf bila aku memberatkanmu.”

Jessica hanya terdiam mendengar penuturan Luhan dengan tatapan yang masih menatap bintang di atas sana. Sebenarnya, baru kali ini keduanya benar-benar bicara mengenai masalah perjodohan mereka ini. Di awal mereka bertemu, mereka sepakat untuk tidak menganggap ini sebagai perjodohan tetapi lebih ke hubungan antara teman baik biasa. Setidaknya mereka kenal satu dan yang lain.

“Dia…lelaki yang ada di dalam frame di nakas kamarmu, kan? Dia juga ada di laci meja kantormu. Di belakang cermin di kamar mandi apartemenmu,” gumam Luhan yang kini menundukkan kepalanya, menatap sepatunya, “Maaf kalau aku lancang.”

Wanita di samping Luhan itu hanya tersenyum tipis dan menggeleng kecil, kini tatapannya sudah beralih pada tanah kosong di depannya. “Tidak, Luhan. Harusnya aku yang minta maaf karena aku harus mengecewakanmu.

“Aku mau saja berusaha, tapi aku tidak yakin itu akan berhasil. Aku sudah berusaha semampuku tapi nyatanya semuanya sia-sia. Semakin aku berusaha, semakin susah untuk melepaskannya. Dan semuanya pasti berakhir dengan aku membandingkannya denganmu. Maaf aku memang kurang ajar.”

Dan mereka kembali jatuh dalam keheningan malam yang semakin larut. Keduanya terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing. Perasaan ragu, gelisah, bimbang, tidak tentu, pahit, sakit dan rasa segan, semuanya bercampur jadi satu memenuhi suasana di sekitar mereka. Membuat kecanggungan yang tadinya tidak ada seolah telah memenuhi mereka sejak awal.

“Luhan-ah,” panggil Jessica lirih yang kini menatap ayunan yang bergerak pelan tertiup angin. Luhan menatap wanita di sampingnya sambil bergumam memintanya melanjutkan apa yang ingin disampaikan Jessica, “Kalau aku akhirnya menyetujui ini semua—hal tentang kita, maksudku—apa yang kemudian akan kamu lakukan setelah kita menikah?”

Pertanyaan yang terlontar dari mulut mungil Jessica mau tidak mau membuat hati Luhan sedikit berdesir seolah angin sejuk baru saja berhembus di sana. Namun kemudian ia memukul dirinya sendiri secara mental dan mengingat bahwa sekalipun ia bisa memiliki tubuh Jessica dengan sah secara hukum nantinya, tetap saja hati wanita itu bukan untuknya—tidak akan pernah menjadi miliknya.

“Aku berniat untuk kembali ke Cina, Sica. Aku akan melanjutkan perusahaan ayah di sana,” jawab Luhan diikuti senyum kecil mengembang di bibirnya sebelum bertanya, “Apa kamu keberatan?”

Jessica menggeleng dengan senyum kecil menggantung di sana, menambah harapan Luhan. Tapi tetap saja instingnya sebagai seorang pria pada wanita yang memiliki posisi penting di hatinya tak bisa dibohongi. Masih saja ada yang sedikit mengganjal pada senyum itu. Pada tatapan wanita di hadapannya, meskipun ia sendiri tidak yakin—atau tepatnya, tidak tahu apa itu.

“Pasti menyenangkan tinggal di Cina. Aku selalu ingin pergi ke Cina,” ucap Jessica, “Apa aku boleh tetap bekerja, Luhan-ah?”

Luhan terdiam untuk sesaat menimbang-nimbang pertanyaan Jessica, “Aku tidak terlalu mempermasalahkan apa kamu mau bekerja nantinya atau tidak, Sica-ah. Tapi aku lebih memilih kamu di rumah saja. Atau mungkin pekerjaanmu kamu bawa saja ke rumah, aku tidak masalah. Oh, atau kamu boleh bekerja, tapi jam pulangmu tidak boleh lebih malam dari jam pulangku. Bagaimana?”

Jessica menatap kedua mata Luhan yang terlihat bersinar terang ketika ia membicarakan kehidupan yang akan nantinya mereka jalani kalau mereka benar-benar menikah dan perlahan, dengan sangat pelan, kedua sudut bibir wanita itu mulai tertarik ke atas. Membentuk sebuah senyuman tipis yang memiliki banyak arti tersirat di sana. Walau begitu, hal tersebut tetap membuat Luhan semakin bersemangat membicarakan rencana yang sepertinya telah ia susun dengan sangat matang.

‘Maaf…’

.

.

.

Jessica tengah duduk di salah satu bar di sudut kota Paris malam itu. Ia tengah menghadiri acara after-party setelah menghadiri peragaan busana musim gugur milik Prada tadi walau sebenarnya ia tidak terlalu suka dengan pesta semacam ini. Namun, apalah yang bisa ia lakukan? Ia terpaksa berada di sini sebagai formalitas karena ide yang ia sumbangkan beberapa bulan yang lalu diterima oleh pihak Prada. Ugh menyebalkan, gerutu wanita itu kesal.

Tiba-tiba terdengar suara keras seorang pria dan beberapa wanita yang berjalan mendekatinya. Suara pria itu terdengar cukup jelas di telinga Jessica ditengah hingar bingar pesta yang ramai tersebut. Namun tidak hanya itu saja yang membuat Jessica menggelengkan kepalanya kesal, tapi karena pria tersebut juga membicarakan kehidupannya baik kerja maupun pribadi. Sungguh memuakkan.

“AND! The fact she’s not in any relationship will only bring her career at its best, really! Jessica will nail it perfectly if only she accept that promotion!” teriak pria itu kini duduk di samping Jessica, “Right, babe?”

“Fuck off, Pete!” gusar Jessica menegak orange juicenya.

“OMG Jessie! Did you turned down that offer? Oh come on darling, that’s like the best offer ever and you turn it down? Are you out of your mind? Do you want me to slap some sense back to your mind?” tanya seorang wanita sebayanya di kursi yang lain.

“No, Pam! I just still can’t decide whether to take it or not!” jawab Jessica, terlihat risih sementara Pete di sisi lainnya terkekeh setengah mabuk.

“If I were you, Jess, I’ll accept it immediately!” sahut wanita yang lain, “Work as an editor from one of the best magazine ever plus you offered to work in France! Jessica, France, Jess! Like seriously? We’re talkin’ bout France and how dare you still can’t decide it???”

“I’d love to take it, Sarah, I really am. I just—I don’t know,” lirih Jessica.

“It’s okay, Sica. Take your time. I know you can’t leave your family back in South Korea.”

“Thanks , Tiff.”

“OKAY, GIRLS!” Pete berseru membuat Jessica dan beberapa wanita yang mengerumuninya menutup telinga mereka, “Let’s stop about this job offer and PARTYYYYYYYYYYYYYYYYYY~!”

“Think about it again, Jess, don’t take the wrong move, okay? After all, family is number one,” Tiff, atau Tiffany berucap sambil menepuk bahu Jessica. Berharap ia dapat membantunya menentukan pilihan yang dibalas Jessica dengan sebuah senyum kecil.

‘I hope so…’

.

.

.

Jessica berjalan pelan memasuki komplek pemakaman yang luas dan menuju salah satu gundukan yang terlihat masih basah walau tanggal terakhir yang tertera di nisan tersebut bertuliskan lima tahun yang lalu. Wanita itu tersenyum pahit sambil berlutut di samping batu nisan itu dan mengusapnya pelan seolah benda itu adalah benda yang sangat rapuh.

“Aku tidak yakin kenapa aku berada di sini. Mungkin ini akan menjadi hari terakhir aku mengunjungimu karena setelah ini aku akan pergi. Pergi meninggalkan negara ini.

“Iya, aku tahu kalau kamu di sini, kamu pasti akan menentangnya. Kamu pasti tidak mengijinkanku pergi. Kamu pasti akan memarahiku. Kamu pasti akan menahanku untuk tidak pergi, bahkan memohon-mohon. Tapi kamu tidak di sini dan kamu tidak bisa menentangku. Kamu tidak di sini dan memarahiku. Kamu tidak bisa menahanku. Tidak bisa memohon padaku untuk tidak pergi dan keputusanku ini sudah bulat untuk pergi. Tidak ada seorang pun yang bisa menahanku. Tidak ada.

“Aku tahu kamu memintaku untuk tetap bahagia. Untuk tetap tersenyum. Aku tersenyum kok. Aku selalu tersenyum. Sayang kamu tidak bisa melihatnya, tapi aku saat ini tersenyum! Dan kamu bilang aku tidak boleh menutup hati untuk merasakan kebahagiaan, bukan? Mungkin kalau kamu masih di sini, kamu akan berteriak dan berkata bahwa aku saat ini sedang menutup hatiku untuk merasakan kebahagiaan. Tapi Sayang, bukankah kamu sendiri yang bilang setiap orang memiliki caranya sendiri, memiliki definisinya sendiri atas rasa bahagia? Setiap orang memiliki batasan sendiri atas apa yang membuatnya bahagia. Bagiku, saat ini hanya ini dan kamu yang membuatku bahagia. Kamu sudah pergi, jadi hanya satu hal ini saja yang dapat membuatku bahagia. Kalau kamu ingin aku bahagia, aku sedang mengejarnya. Selamat tinggal.”

Dan setelah mengucapkan hal yang mengganjal di hatinya, Jessica mencium puncak batu nisan bertuliskan Lee Donghae itu sebelum akhirnya beranjak pergi meninggalkan gundukan tanah tersebut. Berjalan perlahan, dengan sangat berat hati meninggalkan komplek pemakaman menuju mobil hitam yang sudah menunggunya.

Jessica mengeluarkan ponselnya ketika benda mungil itu bergetar di sakunya dan menerima panggilan masuk.

“Ya, tolong kamu kirim semuanya satu jam setelah pesawat saya lepas landas. Kalau mereka bertanya jangan dijawab apapun. Pastikan mereka menerimanya. Ya, jangan katakan itu dari saya. Terima kasih.”

Setelah memasukkan ponselnya kembali, Jessica memasuki mobil hitam tersebut dan duduk di sana sebelum berkata, “Bandara.”

.

.

.

Siang itu, Bandara Internasional Incheon terlihat sedikit lenggang. Orang-orang berlalu lalang dengan langkah santai walau ada beberapa yang sedikit tergesa-gesa. Jessica sendiri termasuk santai mengingat pesawatnya lepas landas setengah jam lagi dan ia sudah berada di boarding pass menunggu untuk masuk ke dalam pesawat yang akan membawanya meninggalkan Korea Selatan entah sampai kapan. Mungkin sampai ia siap untuk kembali. Atau justru tidak kembali sama sekali. Seperti inception, batin Jessica sambil tersenyum kecil.

Seolah teringat akan sesuatu, Jessica mengeluarkan kembali benda mungil berwarna putih dari sakunya dan menyentuh layar kecil yang berikon buku telpon. Setelah beberapa saat jarinya menarik ke atas kontak ponselnya, ia menyentuh sebuah nomor dan menempelkannya di daun telinganya.

“Halo, Sica?”

“Hi, Luhan. Apa aku mengganggumu?”

“Ah, tidak. Kebetulan aku sudah selesai.Ada apa?”

“Ada sesuatu yang ingin kubicarakan sekarang.”

“Hm, bagaimana kalau aku menjemputmu di kantor sekalian kita makan siang?”

“Di telpon saja bisa, Luhan-ah? Aku tidak yakin kamu bisa menjemputku.”

“Kenapa? Tidak lama kok. Kita makan di fast food dekat kantormu tidak masalah, Si—”

“Aku di bandara, Luhan. Pesawatku berangkat 30 menit lagi.”

“APA?”

“Aku di banda—”

“Ke mana?”

“Luar negri, Lu.”

“Berapa lama?”

“Entahlah.”

5 menit. 5 menit lamanya keduanya terdiam, tidak berusaha mengeluarkan suara apapun. Bahkan bergerak pun tidak. Luhan kaget dengan informasi yang diucapkan Jessica, ia tidak tahu reaksi apa yang harus ia berikan. Haruskah ia menangis? Haruskah ia menahan Jessica? Atau haruskah ia marah? Entahlah ia sendiri tidak mengerti. Di sisi lain, Jessica menunggu reaksi Luhan. Bibir bawahnya ia jepit diantara kedua barisan gigi depannya.

“Jadi, benar-benar tidak ada kesempatan sama sekali untukku?”

“Maaf, Lu, aku benar-benar minta ma—”

“Kenapa?”

Satu pertanyaan dari Luhan itu membuat Jessica bungkam. Ia bingung. Bingung untuk menjawab yang mana terlebih dahulu. Karena satu kata tanya itu mewakili semua pertanyaan yang Luhan inginkan jawaban darinya.

“I’m numb, Lu. No matter how hard nor times I try, I still can’t.”

“I just want to be by myself.”

“Do you leave Dad, Mom and Krystal behind?”

“Yes.”

“Sica?”

“Hm.”

“I’ll be here whenever you need me, okay? I know you want no one at the moment but I just want you to know that you can count on me and I’ll always be free for you.”

“Just—please take care of my family.”

“I will.”

“Bye, Lu. I’m sorry.”

“Goodbye, Jess. I love you.”

Tepat setelah ia memutus sambungannya dengan Luhan, pengumuman yang menyatakan bahwa pesawat yang ditumpanginya akan segera lepas landas berbunyi.

‘See ya again, Seoul.’

.

.

.

.

.

“Home sweet home~” nyanyi Jessica setelah melepas killer heels-nya dan menghempaskan tubuhnya di kasur King Size-nya. Walau ia tinggal sendiri, Jessica memiliki kasur berukuran besar agar ia bisa berguling dengan leluasa di kasurnya.

Wanita itu melirik meja riasnya yang berisi berbagai macam kosmetik, botol parfum dan juga dua jam digital kecil. Yang satu menunjukkan waktu di Paris sedang satunya lagi menunjukkan waktu di Seoul. Dan 3A.M adalah jam yang menunjukkan waktu di Seoul saat ini. Sebuah senyum tipis terkembang di bibirnya membayangkan kedua orang tuanya dan adiknya tertidur dengan pulasnya.

Tiba-tiba, ponsel putihnya berdenting lembut menandakan ada sebuah notifikasi baru. Jessica mengambilnya dari tas kerjanya dan membuka panel notifikasi. Tertulis di sana bahwa ia memiliki satu e-mail masuk dari ID bernama Luhan. Walau e-mailnya tidak pernah dibalas, pria itu tetap mengiriminya setiap saat.

Di sini jam 2 malam, Sica. Aku tidak bisa tidur >___< Terlalu dingin di sini walau aku sudah mematikan AC dan mengenakan kaos kaki juga jaket. Atau aku demam ya? Aish bodohnya aku ini ;( Kau jaga diri juga ya! Di Paris pasti dingin sekali D: Aku akan mengunjungimu kalau sempat😀 (berapa kali aku menjanjikanmu ini tapi tidak sekalipun aku benar-benar pergi? Kau benar-benar bodoh, Lu! :@) Kamu tidak merindukan Korea, Sica-ya? Korea merindukanmu lho~ (Cina ingin sekali dikunjungi olehmu~ >o<!!) Orang tuamu juga rindu padamu😮 Oh! Krystal berulang kali menelponku! Ia curiga kalau aku menculikmu~ TToTT Lagipula, kalau aku memang menculikmu, aku tidak akan memberitahunya kok! :p oops! >w<

Tapi Jess, kadang-kadang aku bertanya. Kalau aku sempat mengejarmu waktu itu. Kalau aku sempat menahanmu waktu itu, memohon padamu, apa mungkin kamu ada di sampingku saat ini? (Luhan bodoh! Kamu bicara apa sih!? :@) Beneran deh, Jess. Kalau aku sempat saat itu, apa mungkin saat ini kamu tidur di sampingku ya? Hahaha, aku terlalu banyak berharap. Mungkin lebih tepatnya kamu di sampingku, tapi tidak benar-benar di sampingku. Ah, aku mulai melantur. Mungkin efek dari obat tidur yang kuminum tadi ^^;; Bye, Sica-ya~ Aku merindukanmu~ Sangat merindukanmu~

Ps: Donghae juga merindukanmu! Ayo kita kunjungi dia bersama-sama! Aku mulai mengenalnya sekarang~ ^___^

.

.

.

F I N

Karena ternyata seorang Wynda pun bisa mengalami dilemma hebat selain sekedar dilemma antara makan Chocolate cake atau Cheese cake? Makan dulu baru mandi atau mandi dulu baru makan? Nulis ff dulu atau bikin plotnya dulu? Pakai Jessica atau Krystal? Donghae dulu apa tidur dulu? Main Temple Run 2 atau The Sims Freeplay dulu? Membuang 31 gems (yang precious /apasih) atau skip aja padahal udah 8juta sekian skornya (walau endingnya ga pake gems dan ga jadi pecahin challenge-nya gara2 kehabisan waktu padahal gems masih 200 sekian) pas main Temple Run 2? Beli Bugati Veyrone atau Audi R8 di Asphalt 7 (walau endingnya ga jadi beli gara2 kurang duitnya T^T)? /leleleleleleeee kenapa jadi curhat????/ oops! Hhehehe~

Tapi, terima kasih semuanya yang masih tetap baca2 cerita di blog ini seaneh dan se-gak mutu apapun ceritanya hhehe~🙂

  1. DhaniWKW
    22 Oktober 2013 pukul 7:51 pm

    ini ceritanya ngegantung sumfaahh!!
    hansicanya gimanaaa? sequel kalo bisaaa><

  2. ryta esha
    31 Oktober 2013 pukul 5:28 am

    yaaaaaa….. harusnya kan sica nerima luhan… ukh… pabbo sica… -_-

  3. sssc
    14 Juni 2014 pukul 4:02 am

    kenapa endingnya gantuung? sequel dong xD

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: