Beranda > drabble, fanfiction, whyenda_arinka > HaeShik Drabble Collections

HaeShik Drabble Collections

Di sini saya posting banyak drabble (ga sebanyak itu sih XD) sebagai permohonan maaf karena ga ngepos apa2 selama hampir setahun /)__(\

Minggu Pagi; fluff, domestic!Haesica, romance; 121w

———-

Jessica menyukai pagi yang tenang, terlebih bila itu minggu pagi. Namun berbeda dengan Jessica, Donghae justru menyukai minggu pagi yang penuh dengan kehangatan dan keceriaan. Jessica menyukai minggu pagi dengan kopi hitam pekat-nya di atas meja. Donghae menyukai minggu pagi yang ditemani dengan berbagai macam musik yang sedang populer memenuhi seluruh ruangan. Jessica menyukai minggu pagi dengan semangkuk sereal favoritnya untuk sarapan. Donghae menyukai minggu pagi dengan sarapan kue panekuk dan sirup coklat di atasnya. Walau mereka memiliki kesukaan yang berbeda untuk sebuah minggu pagi, ada kalanya mereka melewatinya hanya dengan berbaring malas-malasan di atas kasur, berselimut tebal dan berbagi kehangatan satu sama lain dalam sebuah pelukan yang nyaman. Dan tentu saja, yang terakhir merupakan minggu pagi yang sangat mereka sukai.


Opposite Attract; AU, Fluff, Romance; 868w

———-

Jung Sooyeon adalah seorang pelukis muda berbakat yang cukup terkenal sedangkan Lee Donghae merupakan seorang penulis muda yang karyanya cukup digandrungi remaja Seoul. Banyak orang yang bilang kalau mereka tidaklah cocok. Lihat saja, dari mana kecocokan seorang pelukis yang hanya tahu bagaimana cara melukis (dan atau menggambar) dengan seorang penulis yang selalu merangkai kata-kata indah dalam buku-buku yang ia terbitkan? Tidak ada sama sekali. Tapi kenyataanya justru jauh berbeda dari apa yang mereka katakan.

Seperti ketika Sooyeon tidak tahu harus memberi judul apa untuk karyanya, atau ketika seseorang bertanya kepadanya akan maksud dari lukisan yang telah dibuatnya. Maka di saat itulah Donghae datang. Memberikannya kata yang tepat, merangkaikan kalimat dan deskripsi yang sesuai yang dengan lukisannya tersebut.

“Karya yang sangat indah sekali seperti biasanya, Nona Jung,” ucap seorang pria berbadan tinggi nan tegap, bahkan lebih tinggi dari dirinya sendiri. Pria itu adalah Choi Siwon pewaris tunggal Choi Corp. yang sekaligus penggemar karya milik Sooyeon. Hampir seluruh karyanya tertata apik di kediaman Choi.

“Terima kasih, Tuan Choi,” ucap Sooyeon sedikit membungkuk sebagai tanda rasa terima kasihnya akan pujian yang dilontarkan pria jangkung tersebut.

“Tapi maaf, kalau boleh jujur, saya sangat menyukai sekali karya anda yang ini, Nona Jung. Kira-kira makna dari lukisan ini apa ya? Karna jujur, saya sangat menyukai komposisi warnanya yang sangat kontras, tapi menyatu sekali. Selain itu, dari komposisi warna tersebut tidak memberikan kesan kuat seperti kebanyakan pelukisan yang lain. Lukisan anda ini, cenderung memberikan kesan yang lembut dan menenangkan dengan warna-warna yang menyala seperti ini.” Ungkap Siwon panjang lebar, kedua matanya yang dibingkai kacamata itu terus memperhatikan lukisan Sooyeon takjub.

Sementara yang ditanya hanya tersenyum tipis sebelum menjawab, “Ah, itu… sebenarnya saya sendiri masih bingung menjelaskan maknanya sampai tadi malam,” dengan sedikit tawa ringan di akhir kalimatnya. Kepalanya ia miringkan ke sebelah kanan dengan kening berkerut (kalau diperhatikan baik-baik), tanda bahwa ia terngah berpikir sejenak. Atau lebih tepatnya, berusaha menemukan kalimat yang cocok.

“Saya rasa, anda membutuhkan pasangan anda,” melihat pelukis muda di hadapangannya itu menampakkan gestur yang biasanya ia lakukan ketika berpikir, Siwon pun memberikan saran. Dan tentu saja Choi Siwon hafal karena hal ini selalu terjadi tatkala Sooyeon ditanyai makna atau sekedar judul dari lukisannya sendiri.

“Ah anda benar, Tuan Choi. Permisi saya harus mencari Donghae dulu,” ucap Sooyeon menyadari sesuatu, hendak beranjak tetapi ditahan Siwon.

“Saya rasa tidak perlu, Nona Jung. Pasangan anda sudah berjalan kemari,” tahan Siwon sambil menunjuk ke arah Donghae yang berjalan mendekati mereka menggunaan tatapan matanya.

“Selamat siang, Tuan Choi,” sapa Sehun menghampiri Sooyeon dan Siwon, yang membalas sapaannya dengan sebuah anggukan kecil.

“Donghae, Tuan Choi ingin tahu makna dibalik lukisan ini,” ucap Sooyeon segera memburu Donghae.

“Kau ini kebiasaan sekali Sooyeon,” desis Donghae kesal dan membuat keduanya bertukar argumen kecil mereka.

Di sisi lain, Siwon yang menyaksikan pasangan di hadapannya itu tersenyum kecil memaklumi. Bisa dibilang, ini bukanlah pemandangan yang asing baginya. Sekalipun ia bukanlah sahabat dari keduanya, tapi setiap kali ia mengunjungi pameran lukisan milik Sooyeon, hal yang tengah terjadi di depannya selalu terjadi ketika (lagi-lagi) ia menanyakan makna atau judul lukisan buah tangan Sooyeon. Dan tidak ada orang lain yang mampu memahami isi pemikiran Sooyeon selain Donghae, begitu pula sebaliknya.

“Begini, Tuan Choi, lukisan ini memiliki makna opposite attract, di mana warna-warna ini semua saling berlawanan satu sama lain namun mereka justru saling menarik satu sama lain. Sama seperti kedua kutub magnet yang berlawanan namun saling tarik-menarik,” jelas Donghae singkat.

“Sebentar Tuan Lee, bukankah itu judul terbaru buku anda yang baru rilis minggu lalu?” tanya Siwon pada Donghae dengan kening berkerut.

“Ya, Tuan Choi. Opposite Attract memang judul buku terbaru saya yang diluncurkan minggu lalu karena memang lukisan ini sebenarnya terinspirasi dari buku saya. Ah tidak, tidak, kami mendapatkan inspirasi yang sama lalu kami bekerja sama. Saya membuat sebuah buku dan Sooyeon melukis isi dari buku saya,” jawab Donghae yang diikuti anggukan kecil Sooyeon.

“Ah, pantas saya sempat mendengar akan ada edisi khusus dari buku anda tersebut dengan cover berbeda. Apakah lukisan ini cover buku anda?” tanya Siwon lagi, sekarang ia merasa seperti seorang wartawan yang tengah mewawancarai salah satu orang penting di Korea Selatan.

Namun kali ini, Sooyeon yang menjawab, “Ya. Di buku edisi khusus tersebut memiliki cover lukisan saya yang berjudul sama, Opposite Attract. Selain itu, di buku tersebut pun berisi kisah dibalik pembuatan buku juga lukisan ini. Dan buku edisi khusus Opposite Attract tersebut diluncurkan hari ini, di sini juga.”

“Wah, saya jadi merasa sangat beruntung sekali karena sudah mengetahui terlebih dahulu isi dari buku edisi khusus tersebut padahal saya belum membacanya,” ucap Siwon tersenyum lebar.

“Tidak apa, Tuan Choi. Anda adalah pelanggan setia kami,” kata Donghae membalas senyum lebar Siwon, begitu pula Sooyeon.

“Kalau begitu, saya ambil lukisan ini sekalian buku anda, Tuan Lee,” putus Siwon bersemangat membuat Sooyeon dan Donghae tersenyum lebar, “Ah, sepertinya semenjak kalian menikah, penggemar kalian harus siap-siap dengan kolaborasi yang saya yakin akan membuat mereka terkejut.”

“Anda bisa saja, Tuan Choi,” kata Sooyeon tersipu.

Ketiganya pun tertawa. Dan ya, apa yang orang lain tidak ketahui adalah keduanya, Lee Donghae dan Jung Sooyeon (yang sekarang sudah menjadi Lee), justru pasangan yang sempurna. Atau lebih tepatnya, saling menyempurnakan satu dan yang lain. Because, opposite do attract.


Marry Me?; Romance, Fluff; 649w

———-

Jessica melonggarkan kemejanya sambil menggerutu menggunakan satu tangannya sedang tangannya yang lain menuang air mineral ke dalam gelas. Setelah kemejanya longgar, ia menarik blazernya lepas dari tubuhnya dan membuangnya begitu saja ke sembarang arah di kamar hotelnya yang cukup luas ini. Kemudian ia pun berjalan menuju sofa yang berada di depan TV setelah sebelumnya mengambil gelas berisi air putih tersebut dan menghempaskan dirinya di sana, tepat di samping seorang pria yang masih mengenakan kemeja dan dasinya. Jas hitam pria itu tergeletak di lengan sofa dan membuat Jessica semakin geram.

“Kenapa sih kamu harus ikut segala, Hae? Ish rapatnya jadi lama kan!? Dan sekarang aku harus lembur untuk merivisi proposal ditambah lagi ada rapat tambahan untuk besok! The hell CEO Lee Donghae!?” rentet Jessica setelah menyerahkan gelasnya pada Donghae dengan kesal.

“Dan kenapa kau sampirkan jasmu seperti itu, hah!? Bagaimana kalau kusut? Astaga Donghae! Kau hanya membawa satu jas! Demi Tuhan, apa kau ingin membunuhku?” seru Jessica lagi dengan wajah yang memerah karena marah.

“Ya Tuhan, Jessica apa kau sedang PMS? Jangan khawatir soal revisi, aku pasti akan membantumu. Kalau jas ini, ayolah di sini ada jasa laundry! Pasti kita bisa minta tolong seseorang untuk menyetrikanya,” ucap Donghae berusaha menenangkan Jessica yang meledak-ledak.

“Baiklah! Terserah kamu saja!” balas Jessica ketus, “Dan kau tidak perlu membantu revisiku! Aku bisa mengerjakannya sendiri dan itu MEMANG tugasku.”

“Whoaaa! Ada apa dengan ‘itu MEMANG tugasmu’, hm?” tanya Donghae merasa aneh dengan Jessica yang memberi penekanan pada kata ‘memang’.

“Aku hanya memperjelasnya untukmu. Itu saja,” jawab Jessica yang kini menatap acara TV, sengaja menghindari tatapan Donghae.

“Jess,” panggil Donghae menarik dagu wanita di sampingnya dengan ibu jari dan buku jari telunjuknya lembut berusaha membuat Jessica menatap kedua matanya sebelum bertanya, “Ada apa denganmu?”

Jessica hanya menatap manik mata Donghae dalam diam, mengelak menjawab pertanyaan pria di hadapannya. Kemudian ia menurunkan tatapannya dan menggeleng pelan diikuti kedikan kedua bahunya yang merosot setelahnya. Jelas sekali ia enggan menjawab pertanyaan yang diajukan Donghae padanya.

“Hei~ ada apa memang?” tanya Donghae lagi, kini kedua telapak tangannya menangkup wajah kecil Jessica, “Kamu tahu kamu bisa menceritakan semuanya padaku, Sica.”

“Aku….” mulai Jessica ragu-ragu, “Aku harus menyelesaikan pekerjaan satu ini~ saja agar bisa dipromosikan, Donghae-ya~”

Akhirnya Jessica mengucapkan apa yang mengganjal di hatinya. Apa yang selama ini ia kejar, yang berusaha ia raih sampai-sampai ia melupakan Donghae walau hanya terkadang (selain di kantor tentunya). Dan mendengar alasan Jessica, Donghae pun tertawa kecil dengan kepalanya yang menggeleng-geleng pelan membuat Jessica menggembungkan kedua pipinya. Hal ini tentu membuat Donghae gemas hingga mencubit pipi halus nan mulus itu dan menimbulkan rengekan manja dari Jessica.

“Itu salahmu~” ucap Donghae dengan nada menggodanya.

“Bagaimana bisa ini salahku!?” protes Jessica kembali menggembungkan kedua pipinya.

“Coba kalau kamu terima promosi yang kutawarkan padamu kemarin, pasti kamu tidak harus pergi ke luar kota seperti ini untuk OTS dan rapat sialan tadi,” ucap Donghae sedikit terkekeh.

“Promosi?” ulang Jessica yang dibalas anggukan dari Donghae, “Promosi apa?”

“Promosi jadi Ny. Jessica Lee,” jawab Donghae enteng tersenyum lebar lengkap dengan deretan giginya yang putih membuat Jessica terkejut.

“Ap-apa?” kaget Jessica.

Dan entah dari mana, Donghae tiba-tiba sudah memiliki sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua berisi sebuah cincin emas putih dengan sebuah ukiran simple. Melihatnya pun membuat kedua mata Jessica berkaca-kaca, setengah tidak percaya dengan yang sedang dilakukan seorang Lee Donghae.

“Marry me please, Jessica Jung?” pinta Donghae lembut.

“D-Donghae…” lirih Jessica, tak tahu harus berkata apa.

“Pretty please with cherry on top?” tambah Donghae membuat Jessica tersenyum simpul.

“Sure,” jawab Jessica akhirnya.

Donghae pun mengambil cincin emas itu dan menyematkannya di jari manis milik Jessica yang panjang dan lentik dengan senyum mengembang. Setelah itu ia mengecup kedua punggung tangan Jessica sayang.

“Setelah ini, tepatnya setelah kita menikah, terserah kamu mau tetap bekerja atau tidak. Tapi kumohon, Sica-ya, jangan terlalu sibuk seperti ini. Arraseo?”

“Arraseo! Aku janji ini yang terakhir!” janji Jessica yang disambut kecupan hangat dari Donghae di keningnya.


NoNoNo; fluff, romance; 399w

———-

Ia berdiri sendiri di balkon kamarnya. Kedua iris matanya yang berwarna coklat gelap itu menatap jauh entah ke mana seakan tidak mungkin untuk digapai. Walau hanya punggungnya yang bisa dilihatnya, tapi seorang Jessica Jung yakin bahwa pria yang berdiri di balkon kamar mereka tengah mengangis sendiri. Ia tidak mungkin salah dengan setiap tarikan nafas yang dalam dan bagaimana ia menghembuskannya dengan berat, Jessica yakin ia tengah menangis sekarang. Tanpa suara, sendirian, dan di tengah keheningan malam yang pekat. Meninggalkannya tidur sendirian, setidaknya itu yang dipikir oleh pria yang berdiri di balkon itu.

Melihat seorang Lee Donghae yang biasanya kuat dan selalu melindunginya, menangis sendiri seperti ini membuat Jessica sedih. Donghae selalu ada ketika ia menangis, air mata yang menyisakan jejak di kedua pipinya, mengembalikan yang selalu ia bilang senyum favoritnya di wajah Jessica ketika ia bersedih. Tapi Donghae selalu menyembunyikan kesedihannya, tangisnya dari Jessica. Selalu menangis sendiri, menyembunyikan semuanya sendiri. Tidak pernah mau berbagi dengan Jessica.

Dan akhirnya, Jessica tidak tahan lagi dengan tingkah Donghae. Ia merasa seperti pasangan yang buruk untuk Donghae. Bukankah sepasangan kekasih selalu berbagi semua kesenangan juga kesedihan? Juga hal yang baik maupun buruk dan saling membantu satu dengan yang lain memperbaiki sikap masing-masing? Pikir Jessica sambil melangkah mendekati Donghae dan memeluknya dari belakang, ditenggelamkannya wajahnya di bahu Donghae.

“Seharusnya kamu membangunkanku,” gumam Jessica.

“Maaf, aku tidak tega mengganggu tidur nyenyakmu dan membangunkanmu,” ucap Donghae beralasan.

“Tapi aku tidak bisa tidur tanpamu yang memberiku kehangatan~ aku kedinginan~” rengek Jessica.

Donghae tidak mengatakan apapun, hanya diam dengan tangannya mengelus tangan mulus Jessica yang berukuran lebih kecil dari tangannya di atas perutnya.

“Kamu butuh tidur, Jess,” ucap Donghae memecah kesunyian diantara mereka.

“Hatiku sakit melihatmu seperti ini, Hae. Menangis sendiri… bukan berarti kamu seorang pria, kamu tidak boleh menangis, honey. Kadang-kadang, kamu juga perlu menangis. Kamu tidak sempurna, begitupula aku. Tapi kamu bisa bersandar padaku seperti aku yang selalu menjadikanmu sandaranku. Itu yang membuat kita sempurna, kan?” bisik Jessica pelan tapi cukup untuk didengar oleh Donghae.

“Aku tahu, sayang. Aku minta maaf. Aku hanya-” Donghae melonggarkan pelukan Jessica padanya dan berbalik menghadapnya, “Aku tidak mau membebanimu.”

“Jangan katakan hal itu pada pasanganmu, Hae. Kita bukanlah beban terhadap satu sama lain karena kita saling peduli. Jadi, itu bukanlah sebuah beban, honey,” ucap Jessica tersenyum kecil.

Donghae membalas senyum Jessica dan mengecup keningnya lembut, “Kamu benar, sayang. Aku minta maaf. I love you.”

“I love you too, honey.”


Your Type; Romance, Fluff, AU; 891w

———-

Jessica berbalik di kasurnya dengan mata tertutup. Keningnya berkerut dan ia kembali berbalik dalam tidurnya. Sepertinya ia tidak bisa tertidur. Menyerah, wanita itupun membuka kedua matanya lalu menendang selimutnya hingga terjatuh ke lantai. Ia menoleh ke samping kirinya, melirik ke arah jam di atas meja kecil di samping kasurnya yang menunjukkan pukul 11:30P.M sebelum akhirnya mengerang kecil. Perlahan ia pun bangkit dari tidurnya sambil mengusap kedua matanya. Ia mengantuk, tapi kedua matanya enggan untuk menutup.

Kedua mata sipit Jessica mengedarkan pandangannya ke kamarnya, berharap dapat menemukan sesuatu yang bisa membantunya tertidur. Namun diantara keheningan malam itu, telinganya menangkap suara aneh dari luar kamarnya. Ia pun menajamkan pendengarannya sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar kamar mengambil minum. Mungkin ia hanya berhalusinasi.

Ketika akhirnya Jessica membuka pintu kamarnya, wanita itu hampir saja terlonjak kaget akan lampu ruang makan yang masih menyala. Dengan hati-hati, ia berjalan mengendap-endap ke arah ruang makan. Ia bahkan sempat mengambil tongkat baseball milik teman seapartemennya untuk berjaga-jaga. Ia sudah mengangkat tinggi tongkat baseball tersebut, bersiap memukul siapa saja yang berani menyelinap ke apartemennya saat ia memasuki ruang makan dan menemukan seseorang duduk di meja makan dengan begitu banyak kertas berserakan dan sebuah laptop menyala. Rambut coklat orang tersebut berantakan begitu juga dengan kaos hitamnya yang kusut. Sebuah kacamata bertengger di batang hidungnya yang membuat Jessica kesulitan bernafas.

“Sica?” panggil orang itu dengan nada keheranan karena Jessica masih mengangkat tongkat baseballnya tinggi.

“Uhm.. Hai…Donghae?” balas Jessica kebingungan.

“Apa yang kau lakukan dengan tongkat baseballku?” tanya Donghae meletakkan kertas yang ia pegang sementara tangannya yang satu melepas kacamatanya.

“Itu.. Aku kira….ada yang menyelinap…?” jawab Jessica dengan tanda tanya di akhir kalimatnya membuat Donghae tertawa sambil menggelengkan kepalanya.

“Maaf. Apa aku mengganggumu tidurmu?”

“Tidak, Donghae. Seharusnya aku yang meminta maaf karena mengganggumu bekerja.”

Donghae hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Jessica dan mengangguk sekali sebelum kembali meneliti kertas-kertas yang berada di atas meja makan. Melihat Donghae yang kembali menyibukkan dirinya dengan pekerjaannya, Jessica pun berlalu menuju dapur untuk mengambil minum.

“Donghae-ah, mau kubuatkan kopi?” tanya Jessica menoleh ke arah Donghae yang kini menoleh menatapnya.

“Kalau kau tidak keberatan, silahkan,” jawab Donghae diikuti senyum kecil membuat Jessica refleks membalas senyum itu.

“Kerjaanmu di kantor pasti banyak ya, sampai kau bawa pulang?” tanya Jessica memecah keheningan sambil membuat kopi untuk Donghae.

“Tidak juga,” ucap Donghae kecil, “Hanya perlu mengecek beberapa hal karena Kepala Manajer bilang ada yang salah.”

“Eh? Ada yang salah?” ulang Jessica sedikit menoleh ke arah Donghae kemudian kembali menuangkan air panas ke gelas berisi kopi.

“Mmm. Staffku ada yang salah memasukkan data. Tidak terlalu fatal sih. Untungnya belum sampai ke CEO,” jelas Donghae yang kini mengetik di laptopnya.

Jessica menganggukkan kepalanya sambil berjalan ke meja makan dan meletakkan kopi untuk Donghae sebelum berkomentar, “Kau Kepala Manajer Keuangan sih, jelas saja itu tugasmu karena Kepala Manajer kantormu tidak tahu staffmu yang mana yang melakukan kesalahan.”

Donghae hanya tertawa sambil mengambil kopinya yang masih panas, “Terima kasih,” ucapnya pada Jessica untuk kopinya yang dibalas anggukan kecil.

“Memang ini tidak bisa dikerjakan di kantor besok, Hae-ya?” tanya Jessica penasaran.

“Bisa saja,” Donghae tersenyum kecil sambil menatap Jessica, “Tapi aku sedang mengejar posisi Kepala Manajer yang sebentar lagi pensiun jadi kalau bisa ini cepat selesai karena besok masih banyak laporan yang harus kupelajari.”

“Kepala Manajer?” ulang Jessica yang dibalas anggukan oleh Donghae, “Tapi…posisimu saat ini kan sudah hebat, Donghae?”

Donghae hanya mengedikkan bahunya sekali membuat Jessica menggelengkan kepalanya. Temannya ini memang gila kerja. Ia sedikit heran dengan apa yang sebenarnya dicari Donghae? Uang? Sepertinya tidak mengingat pria itu baru saja membeli mobil Mercedes keluaran terbaru. Pasangan? Dengan wajah yang tampan dan gaji nominal puluhan juta, ia yakin Donghae akan mendapatkannya dengan mudah. Bahkan tetangganya yang baru saja menikah mengaku akan mengejar Donghae kalau kenal dengannya lebih dulu dari suaminya. Jabatan? Dengan otaknya yang encer dan sikap giat kerjanya, bahkan posisi direktur pun ia pasti bisa dapatkan. Lalu apa lagi?

“Donghae-ya?” panggil Jessica yang hanya dibalas Donghae gumaman, “Kamu kerja seperti ini sampai larut malam untuk apa sih? Selain mengejar posisi Kepala Manajer, ya!”

Akhirnya Jessica menanyakan juga hal yang mengganjal di pikirannya mengingat ini bukan kali pertamanya ia mendapati Donghae masih terbangun di tengah malam dengan kertas berserakan di depannya juga laptop yang setia menemaninya bekerja.

“Untuk dapetin kamu,” jawab Donghae enteng.

“Oh,” ucap Jessica otomatis kemudian tersentak kaget ketika berhasil memproses jawaban Donghae, “Hah? Apa? Aku?”

“Iya,” ucap Donghae melepas kacamatanya dan menatap Jessica, “Kamu pernah bilang kalau tipe idamanmu orang yang mapan, kan? Well, mungkin aku belum, tapi aku sedang berusaha.”

“T-tapi.. kamu sudah lebih dari mapan,” gumam Jessica pelan.

“Not yet,” gumam Donghae membuat Jessica kesal.

“Fine! You’re not even close to my type!” gerutu Jessica.

“Huh?”

“My type’s not just that you know!? They should makes my heart skipped a beat when I’m around!”

“Don’t worry,” Donghae menyeringai kecil, “I fulfilled that qualification already.”

“Why are you so full of yourself?” cibir Jessica sambil mencuatkan bibir bawahnya.

Donghae terkekeh sambil bangkit dari duduknya dan mencondongkan tubuhnya ke arah Jessica yang duduk di depannya, “So this is not enough?” tanyanya sebelum mengecup keningnya.

Menerima perlakuan manis dari Donghae, Jessica merasakan darahnya naik hingga ke wajahnya dan membuat kedua pipinya bersemu merah. Terdengar kekehan Donghae yang sudah kembali pada posisinya semula di depan Jessica dengan kertas yang masih berserakan di atas meja membuatnya menundukkan wajahnya.

“Oh, someone’s blushing because I kissed her temple~”

“Shut up!”


In The Morning; fluff; 724w

———-

Jessica terbangun pagi itu dengan perasaan jengkel yang luar biasa ketika mendapati kasur di sampingnya kosong. Padahal wanita itu berharap pasangannya akan sadar dengan tingkahnya semalam yang tidak menunggunya pulang dan justru meninggalkannya tidur duluan. Jessica sadar bahwa pasangannya bukanlah orang yang bisa mengumbar kata-kata sweet nothing begitu saja sekalipun mereka hanya berdua, tapi kesal juga kalau punya kekasih yang tidak peka sama sekali seperti ini. Apa setiap arsitek tidak sensitif sama sekali pada pasangannya?

Setidaknya menungguku bangun kan bisa, dumal Jessica sambil berjalan menuju kamar mandi untuk berbenah diri dan berangkat ke kantor. Tapi toh, ia merasa sedikit bebas pagi itu karena tidak harus memasak sarapan pagi yang biasanya memakan waktu. Bukannya ia akan terlambat ke kantor, tapi berangkat pagi sesekali dan menghindari macetnya Seoul di pagi hari membuatnya merasa fresh.

Namun langkahnya terhenti ketika melewati meja rias yang berisi parfum, bedak, figura fotonya dan kekasihnya tersenyum bahagia, serta secarik kertas yang dilipat dua. Benda terakhir yang sebenarnya menarik perhatian wanita itu dan mengganti haluan dari kamar mandi pada meja rias-tepatnya kertas yang terlipat manis itu. Jessica mengambil kertas itu dan ia bisa menerawang tulisan yang tidak terlalu rapi terpatri di sana menggunakan tinta hitam. Tulisan itu adalah tulisan yang ia hafal dengan baik layaknya telapak tangannya sendiri.

Aku tahu kamu marah, Sica. Aku tahu kamu marah karena aku terlalu sering menghabiskan waktu di perusahaan hingga larut. Aku tahu kamu marah karena aku jarang menghabiskan waktu bersamamu. Tapi setiap hari aku bekerja juga untukmu, Sayang. Aku memang selalu pergi ke perusahaan untuk mendesain bangunan dan rumah untuk mereka pulang. Tapi satu yang perlu kamu ketahui, setiap malam aku pulang ke kamu karena memang hanya kamu rumahku. Hanya kamu yang bisa membuatku benar-benar merasa di rumah. Jangan marah lagi ya, Sayang. Senyummu membuat rumah kita semakin nyaman lho😉 –Donghae.

P.s: Dinner Cassis, 7p.m? I’ll pick you up. Promise😉

Dan garis tipis di wajah Jessica pun melengkung ke atas membuat kedua matanya berbinar terang di pagi yang -awalnya- muram itu. Wanita itu buru-buru menghampiri nakas di samping kasur King Size di mana ia meletakkan Iphone 5s nya dan mengirim Line pada pasangannya, Donghae. ‘I love you, Honey’ ketiknya singkat dan mengirimnya yang tak berapa lama kemudian menampilkan jam terkirimnya pesan tersebut. Tak ia sangka, tulisan ‘Read’ kecil muncul di samping pesannya dan membuat senyumnya semakin lebar. Ketika Jessica akan beranjak untuk benar-benar pergi mandi, ponsel berwarna putih itu berdering menandakan adanya panggilan masuk dengan display foto Donghae yang tersenyum dengan sangat tampan membuat jantung Jessica berdebar.

“Morning, Baby,” suara berat Donghae menyapanya dari seberang sana sesaat setelah ia menggeser jarinya dari kiri ke kanan. Mendengar panggilan dari Donghae untuknya membuat kedua pipinya memerah. Donghae memang jarang memberinya panggilan selain ‘Sayang’.

“Morning, Honey,” balas Jessica pelan kemudian duduk di kasur dan menyandarkan punggungnya di headboard.

“I miss you already,” gumam Donghae di seberang sana pelan namun berhasil ditangkap Jessica dan membuatnya terkikik kecil.

“I remember how beautiful and calm you look when you were sleeping this morning,” Donghae mengucapkan serentetan kata-kata tersebut seolah kalimat sebelumnya tidak cukup untuk Jessica.

“Hon, kamu sehat ‘kan?” tanya Jessica sedikit mengernyit walau hatinya kini jungkir balik. Karena Donghae memang jarang mengucapkan kata-kata cheesy seperti ini, ingat?

“But you’re happy, right?” Donghae bertanya balik pada Jessica membuat wanita itu mengangguk otomatis namun segera mengiyakan ketika sadar kalau Donghae tidak bisa melihatnya.

“I’ll change as long it could bring you happiness more,” ucap Donghae lagi membuat Jessica hampir menitikkan air matanya.

“I’m sorry,” lagi-lagi Donghae yang berucap. Sepertinya pagi ini he’s in the mood to talk membuat Jessica tersenyum kecil.

“I’m sorry too because I’m too selfish for wanting you for me only,” akhirnya Jessica pun angkat bicara.

“I love you, Jessica Jung,” ucap Donghae lagi dari seberang sana membuat Jessica ingin meloncat-loncat kegirangan di kasurnya karena memang Donghae jarang mengucapkan 3 kata itu padanya (juga!).

“I love you too, Donghae-ya,” balas Jessica dengan senyumnya yang sangat lebar.

“Aku kerja dulu ya, Sayang. Kamu siap-siap ke kantor ya. Hati-hati di jalan,” wanti Donghae.

“Iya, Honey. Kamu juga yang bener ya kerjanya,” ucap Jessica jahil. Ia bisa merasakan di seberang sana Donghae tersenyum lembut untuknya. Ah, ia jadi rindu Donghaenya.

“Don’t forget that I’ll pick you up at 7 p.m. Love you.”

“Love you too.”

Dan setelah itu Jessica pun bersiap-siap untuk bekerja dengan semangat. Kelewat semangat, malah.


She’s Not You; Mild Angst, Romance; 761w

———-

Donghae memasukkan kedua tangannya di saku celana jeans hitamnya sambil menatap langit malam yang bertaburan bintang. Kedua kakinya melangkah lambat-lambat menyamakan langkah kaki gadis yang berjalan di sampingnya. Keduanya jatuh dalam keheningan malam yang menyelimuti mereka. Mereka terdiam dalam pikirannya masing-masing.

Mau tidak mau, Donghae terpikir oleh seseorang yang memenuhi pikirannya walau mereka telah lama berpisah. Teringat bagaimana mereka juga sering menghabiskan waktu berdua dalam keheningan seperti ini. Hanya saja, keheningan yang mereka alami dulu tidak seperti ini yang terkesan canggung. Tiba-tiba gadis tersebut berhenti melangkah dan menghadap Donghae. Rupanya mereka telah sampai di depan gedung apartemen gadis itu tepat ketika Donghae menyadari sesuatu.

“Sudah sampai. Sampai di sini saja, Donghae-ah. Terima kasih,” ucap gadis itu dengan senyumnya yang manis dan membungkuk kecil membuat Donghae tertegun.

“Uhm, Yoona-ah,” panggil Donghae pada gadis itu akhirnya.

“Ne?”

“Terima kasih juga tapi, maaf bisakah semuanya sampai di sini saja?” tanya Donghae dengan rasa bersalah. Tapi ia tidak bisa membohongi dirinya lagi, juga Yoona. Ia merasa ia sudah menyakiti Yoona. Ia gadis yang baik, manis, ramah, ceria dan Donghae tidak bisa memaafkan dirinya sendiri kalau gadis itu tersakiti oleh sikapnya yang kurang ajar selama ini.

Dan keheningan pun menyelimuti keduanya lagi, meninggalkan pertanyaan Donghae tergantung begitu saja diantara keduanya. Donghae tidak mau melakukan ini semua-pergi dengannya, jalan-jalan, menemani ke toko buku, mengantar kuliah- kalau tidak dipaksa oleh teman-temannya untuk move on.

“Tidak apa, Donghae. Aku tahu kamu masih belum bisa lepas dari bayang-bayang dia kan?” tanya Yoona membuat Donghae kaget.

“E-eh.. itu..-“

“Aku tahu kok kalau dari awal semua ini percuma dan kamu hanya mengikuti kata temanmu kan? Tidak apa-apa. Aku juga masih belum bisa move on kok,” tambah Yoona menenangkan Donghae.

“Aah, maaf kalau begitu,” gumam Donghae menatap jalan di bawahnya.

“Aku juga minta maaf tidak bisa membantumu move on,” ucap Yoona yang hanya dibalas anggukan oleh Donghae, “Sebaiknya kamu kejar lagi dia, Donghae. Aku yakin kalian masih ada harapan.”

“Entahlah, Yoong, kurasa tidak mungkin,” gumam Donghae pasrah.

“Astaga, Donghae! Kalau kau tidak mengejarnya sekarang juga, aku akan cerita pada teman-temanmu kalau kau lelaki yang kurang ajar! Cepaaaatt!” seru Yoona sambil mendorong Donghae.

“Baiklah, baiklah. Aku pergi dulu~”

“Semoga berhasil! Hwaitingggg~!”

Dan dengan itu, Donghae pun berlari meninggalkan gedung apartement Yoona menuju tempat yang ia hafal dengan sangat baik. Ia sangat hafal dengan tempat itu bahkan hingga ke setiap sudutnya. Bahkan kalau pun ia terdampar di suatu tempat yang sangat asing, ia mungkin masih lebih hafal jalan untuk kembali ke tempat itu daripada ke rumahnya sendiri. Home is where your heart belong they said, so be it that one place.

Tak lebih dari sepuluh menit, Donghae sudah berada di dalam lift yang membawanya naik ke lantai tujuh. Lelaki itu mengatur nafasnya karena ia terus berlari sampai ke dalam lift. Bahkan tidak sedetikpun ia memperlambat langkahnya. Sebuah senyum kecil tapi tulus terkembang di bibirnya ketika ia memperhatikan lift yang ia gunakan. Beberapa kenangan kembali menyeruak ke dalam pikirannya dan membuat jantungnya berdegup kencang.

Dengan sebuah dentingan lembut, lift yang ditumpangi Donghae pun berhenti kemudian pintu besi itu terbuka. Donghae melangkahkan kakinya keluar dan berlari kecil mendekati salah satu pintu apartemen. Walau ia bingung menyusun kalimat alasan mengapa ia ada di sini, tapi ia tidak memungkiri bahwa ia tidak sabar melihat wajah yang lama ia rindukan. Wajah yang ia lihat terakhir kali ketika mereka memutuskan untuk berpisah. Ketika sampai di depan pintu berwarna coklat yang familiar itu, Donghae segera mengetuknya dengan perasaan tak menentu.

“Donghae?” panggil orang yang membuka pintu tersebut kaget.

“Kau kebiasaan membuka pintu tanpa memastikan siapa yang berada di depan pintumu, Sica-ah. Bagaimana kalau yang mengetuk tadi orang jahat?” tanya Donghae dengan senyum kecil tersungging di wajahnya karena kebiasaan perempuan di depannya yang tidak berubah sama sekali.

“Untuk apa kamu di sini? Tega sekali meninggalkan Yoona sendiri,” tuduh Jessica tak menghiraukan pertanyaan Donghae. Mendengarnya, lagi-lagi Donghae tersenyum kecil karena Jessicanya belum berubah.

“Hei, bukan aku yang memutuskan untuk berpisah dan meninggalkanku begitu saja ya,” ucap Donghae dengan nada bercanda.

“Apa sih,” gerutu Jessica memukul lengan Donghae, “Aku serius Donghae! Kenapa kau meninggalkan Yoona?”

“She’s not you, Sica. No matter what I do to her and vice versa, it doesn’t feel the same when I’m with you,” ucap Donghae akhirnya.

Setelah ia mengatakan alasannya, Donghae merasa beban di tubuhnya dan mendapati lengan Jessica memeluk lehernya serta nafas hangat gadis itu di ceruk lehernya. Menyadari Jessica yang kini memeluknya, Donghae pun tersenyum sebelum melingkarkan kedua tangannya di pinggang Jessica dan mencium sisi kepalanya.

“I miss you, Donghae. I miss you,” lirih Jessica, “I’m sorry.”

“I miss you too, Sica,” balas Donghae, “I love you,”


Foto; au, fluff, romance; 370w

———-

Donghae senang mengambil gambar menggunakan kamera SLR-nya. Membekukan setiap momen, setiap memori yang terjadi di hidupnya dalam sebuah gambar dengan berbagai ukuran. Entah itu memori yang menyenangkan, memori yang menggelikan, memori yang mengharukan, bahkan memori yang menyedihkan sekalipun. Semuanya ia abadikan, terlebih bila gadis itu objek fotonya. Senyum indah yang menghiasi wajah cantiknya, tawa lepas yang menjadi candu untuknya, kerutan di keningnya, juga bulir air mata yang membingkai pipi halusnya. Semua ia simpan dengan rapi dalam sebuah album.

“Hanya hobi,” jawabnya bila ada yang bertanya kenapa ia terus memotret.

Karena suatu saat, ia yakin ia akan mendapat kesempatan untuk menunjukkan hasil jepretannya. Untuk mengingat semua yang telah terjadi dalam hidupnya. Seperti sekarang, misalnya. Ia sedang berdiri di tengah-tengah sebuah ruangan berukuran 4×6 meter. Kedua matanya ia sapukan ke seluruh dinding yang sudah dipenuhi ratusan (ribuan, mungkin) foto. Foto seseorang tersenyum dengan manisnya. Foto seseorang tersipu malu namun tetap terlihat cantik (semakin cantik, kalau menurut Donghae). Foto sekelompok gadis tertawa lebar dengan fokus pada seorang gadis. Foto gadis yang sama menangis haru, terlihat dari senyum tersungging di sana walau kedua pipinya basah dan mata memerah. Juga foto gadis itu menangis menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang terlihat basah karena air matanya. Semua berisi foto gadis yang sama. Gadis yang mampu mencuri perhatian Donghae, mencuri fokus objek pada lensa kameranya, mencuri jantungnya, bahkan dunianya dan menjadikan dirinya sebagai dunia bagi seorang Lee Donghae. Seorang gadis bernama Jessica Jung.

Ia tersenyum puas mengamati hasil karyanya selama bertahun-tahun. Kemudian ia menarik tangan kirinya yang ia masukkan ke dalam saku celananya, mengamati penunjuk waktu yang melingkari pergelangan tangannya. Sebuah senyum yang semakin lebar terulas di bibirnya. Ia pun menegakkan tubuhnya dan membenahi posisi berdirinya menghadap pintu kala sebuah ketukan terdengar dari sana.

“Masuk,” titahnya pelan, namun bisa terdengar sampai ke luar.

Perlahan pintu itu terbuka diikuti gadis yang menjadi fokus ribuan foto yang menghiasi dinding memasuki ruangan tersebut. Kedua matanya terbuka lebar tatkala ia menelusuri setiap foto yang tertempel di dinding berisi potret dirinya. Dirinya dengan temannya, dirinya dengan orang tuanya, dirinya dengan keluarganya, juga dirinya dengan Donghae. Air mata mulai berjatuhan membanjiri kedua pipinya.

“Selamat ulang tahun, Sayang,” ucap Donghae lalu mengangkat SLR-nya dan kembali memotret Jessica yang menangis terharu lalu berlari memeluknya.


TARAAAAAAA~~~!! Iya aku tau pake bingits kok kalo aku hiatusnya kelamaan pake banget ehheeee~ ya mau gimana lagi ya? ngg muse-ku agak berubah. agak melenceng belakangan ini hahaha. padahal banyak kok ide buat Haeshik tapi—yaaa itu. banyak tapinya hahaha😄 yg ga ada laptop lah. males nulis lah. laptop rusaklah. eh seriusan laptop aku rusak huhuhu. ga bisa nyala sama sekali ;A;

by the way, aku mau ngucapin Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi kalian yang merayakannya! aku minta maaf ya untuk semua kesalahanku (apalagi yg hiatus hampir setahun /)__(\ )

anyway, semoga kalian suka sama drabble collections ini ya!? ngg jangan nungguin aku update kapan karena aku juga ga tau bakal bisa update kapan soalnya laptopku aja ga mau nyala huhuhu ;AAA;

  1. vankaka
    11 Agustus 2014 pukul 5:44 am

    Daebak!!
    author pintar banget buat karangan
    memang HaeSica saling melengkapi ya :3
    Keep writing ^^

  2. jessica sonelf
    12 Agustus 2014 pukul 10:31 pm

    Aaaaa cerita nya seru2 bangeet dan so sweet🙂
    Halo salam kenal thor ^^ ditunggu karya author yg lainnya🙂

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: